top of page
  • Akhi

Strategi Komunikasi dalam Keluarga



Dalam hal ini, kita akan membicarakan bagaimana strategi komunikasi menghadapi perubahan-perubahan dalam keluarga. Sekurang-kurangnya ada tiga strategi. Kita hanya dapat memberikan pengantar sangat singkat.


Pertama, dengan cara baseline communication strategy, strategi komunikasi yang sangat mendasar, yang disebut juga dengan istilah monitoring communication. Di sini keluarga harus mempunyai saat-saat tertentu untuk berbincang, memonitor perubahan-perubahan yang terjadi di dalam keluarga, dan membicarakannya secara terbuka. Misalnya, si istri melihat suaminya berdandan atau berhias yang berbeda dari kebiasaannya dahulu. Kini, dia senang membeli harum-haruman. Istri sudah mulai meneliti suami, dan dalam waktu tertentu ia perlu melakuakan review, meninjau kembali pola-pola hubungan mereka selama ini.


Hal ini tampak sederhana, tetapi banyak keluarga mengalami krisis karena tidak sanggup lagi melakukan monitoring communication. Bahkan pada banyak keluarga, masalah itu diabaikan, atau disimpan dalam hati. Mungkin ada rasa cemas, takut menyinggung perasaan, dan khawatir dianggap membongkar borok-borok lama dan sebagainya. Akhirnya mereka menyimpannya di dalam hati, yang kemudian berakumulasi dalam waktu yang lama. Sehingga ketika perubahan itu betul-betul terjadi, ketika krisis muncul, mereka tidak siap. Keluarga itu pun berantakan.


Termasuk base line communication strategy adalah memelihara communication climate, iklim komunikasi. Tak ada salahnya, misalnya, apabila di tempat tidur kita tempeli tulisan "berterus teranglah agar terang terus". Ini salah satu bentuk base line communication climate. Ciptakan iklim komunikasi dalam suasana ngobrol. Dan, sekarang, banyak keluarga yang tidak merasakan kenikmatan untuk mengobrol. Suami datang dari pekerjaan dalam keadaan lelah. Keinginan yang pertama adalah tidur, bukan untuk mengobrol dengan istri, atau karena sibuk membaca makalah hampir setiap malam. Tidak ada lagi kesempatan untuk berkencan dengan istri, tidak ada communication climate. Paling tidak ciptakanlah iklim untuk berkomunikasi.


Saya akan sebutkan contoh-contoh strategi menciptakan communication climate, untuk menghidupkan kembali keakraban berkomunikasi dengan keluarga, terutama bagi keluarga yang mulai kehilangan kenikmatan mengobrol, bagi keluarga-keluarga sibuk. Beruntung lah bila Anda mempunyai suami yang "ahli komunikasi". Dia berunding dengan Anda. Misalnya ketika dia melihat perubahan terjadi, ia mengusulkan kepada Anda untuk mengadakan waktu khusus buat berbincang-bincang. Dia akan berkata kepada Anda, "Dulu waktu kita berpacaran, rasanya obrolan tidak pernah habis, selalu ada saja yang dibicarakan. Kita membicarakan apa saja, apakah itu persoalan penting atau tidak penting. Perhatian kita bukan kepada isi, tetapi pada kenikmatan mengobrol bersama." Lalu suami Anda mengusulkan agar ada waktu khusus, dalam satu minggu, ada satu hari yang dijadikan hari-hari pacaran, ada "wakuncar", waktu berkunjung pacar. Kemudian Anda berdua pergi ke satu tempat, meninggalkan anak-anak, menggunakan malam itu khusus untuk pacaran, mengobrol sepuas-puasnya. Itulah salah satu upaya menciptakan communication climate. Mula-mula memang kaku, tidak tahu yang harus diomongkan. Tetapi bayangkanlah bahwa Anda berdua sedang pacaran. Insya Allah, keluarga itu akan hangat kembali.


Kedua, intimate communication strategy. Dalam pacaran, memang komunikasi selalu terasa mesra. Tetapi, dalam perkembangan komunikasi itu semakin lama semakin gersang. Unsur emosi di dalamnya makin berkurang. Orang-orang makin terlibat dalam matter-of-factcommunication, yang perlu-perlu saja. Ngobrol itu harus melibatkan emosi (perasaan). Emosi itu ternyata penting sebagai bumbu kehidupan. Kita tidak bisa menikmati kehidupan tanpa emosi.


Banyak keluarga sekarang, telah kehilangan unsur emosi itu. Kita sekarang hanya berbicara matter-of-fact saja, straight to the point. Padahal dalam kehidupan sehari hari diperlukan komunikasi yang sangat akrab. Banyak keluarga yang tidak sanggup mengekspresikan perasaan. Walaupun sepele, misalnya di Barat, ada ungkapan I love you. Itu penting. Tapi, di sana, lama kelamaan I love you tidak mempunyai getaran emosional lagi, tinggal basa basi saja. Kita pun dalam keluarga perlu mengucapkan rasa cinta yang disertai getaran emosional.


Oleh karena itu, kita harus berlatih mengekspresikan emosi kita. Ada sebuah buku bagus, yang barangkali bisa melatih mengembangkan emosi. Buku itu berjudul Don't Say Yes When You Want to Say No, ditulis Dr. Fensterheim, seorang psikiater yang juga seorang penasihat pernikahan. Tidak mungkin kita membicarakan buku itu di sini secara teperinci.


Ketiga, revitalizing communication strategy. Dalam agama, kita mengenal up-and-down dalam perasaan beragama. Ada saat-saat perasaan agama itu direvitalisasikan, misalnya dengan melakukan ibadah haji. Kita melakukan revitalisasi terhadap perasaan beragama kita dengan haji, atau ketika menghadiri majelis-majelis zikir dalam pengertian yang khusus atau ketika kita mengadakan upacara-upacara keagamaan lainnya.


Seperti beragama, berkeluarga juga memerlukan revitalisasi. Hubungan keluarga kita sudah cenderung rutin ini, sewaktu-waktu harus digairahkan kembali, dengan cara apa? Misalnya, pertama, dengan cara surprise (kejutan), hal ini memerlukan kreativitas dari kedua belah pihak. Bagaimana masing-masing pihak mampu mengejutkan pihak yang lain dengan kejutan yang membahagiakan.


Ada sebuah cerita yang menggambarkan suasana seperti ini. Ada sepasang suami istri, yang masing-masing ingin memberikan hadiah pernikahan, yang merupakan kejutan bagi pihak yang lain. Istri itu mempunyai rambut yang tergerai panjang, tetapi tidak mempunyai sisir yang bagus untuk menyisirnya. Ia mempunyai suami yang memiliki jam yang tidak ada talinya. Menjelang ulang tahun pernikahannya, kedua belah pihak ingin memberikan hadiah yang memberikan kejutan bagi pihak yang lain. Si suami berpikir bahwa tidak ada hadiah buat istrinya yang berambut panjang itu kecuali sisir yang bagus. Dia tidak mempunyai apa-apa, maka dia menjual jamnya untuk membeli sisir. Istrinya pun ingin membuat kejutan yang sama. Ia ingin membeli tali jam tangan buat suaminya, tapi tidak punya apa-apa kecuali rambutnya yang panjang. Maka, dijuallah rambutnya yang panjang untuk membeli tali jam tangan suaminya. Ketika kedua-duanya bertemu, keduanya tidak ada yang bicara, tak sanggup berkata-kata, keduanya berpelukan dengan berurai air mata. Dan keluarga yang sudah hampir pudar itu menghangat kembali. Itu surprises.


Selain surprise, kita bisa mengadakan celebration, acara-acara keluarga, semisal ulang tahun pernikahan, ulang tahun keluarga, dan lain-lain. Sebagian orang mungkin mem-bid'ah-kannya karena berasal dari Barat. Menurut pendapat saya, ulang tahun tidak bid'ah, tidak berasal dari Barat. Orang-orang kampung juga dulu sering mengadakan acara "mendak tahun", ada haul dalam bentuk lain. Jadi, ulang tahun bukan kebiasaan Barat sebab itu hanya teknik-teknik untuk menghidupkan kembali komunikasi dalam kehidupan keluarga, revitalizing communication.[]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam)dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

- www.scmbandung.sch.id

- www.smpbahtera.sch.id

- www.smpplusmuthahhari.sch.id

- www.smaplusmuthahhari.sch.id


45 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page