top of page
  • Akhi

Sukses Tidak Sama dengan Bahagia


Sukses berasal dari bahasa Latin successus, dari bentuk past participle succedere, mengikuti dari dekat atau menyusul., atau datang sesudahnya. Sukses adalah sesuatu yang datang sesudah kita melakukan tindakan tertentu. The American Heritage Dictionary of the English Language menyebutkan makna sukses:

  1. Mencapai sesuatu yang diinginkan, direncanakan, atau diusahakan.

  2. a). Memperoleh kemasyhuran atau kemakmuran: "Sukses dihitung paling manis oleh mereka yang tidak pernah sukses" (Emily Dickinson). b). Tingkat perolehan tersebut.

  3. orang yang sukses.

  4. (kuno) hasil atau akibat.


Sukses berkaitan dengan hasil usaha atau akibat dari usaha untuk meraih apa yang kita inginkan. Boleh jadi ada perbedaan antara orang-orang yang berlainan tentang apa yang diinginkan. Ibu rumah tangga dalam cerpen Sapardi ingin memperoleh penghasilan tambahan untuk menghidupi keluarganya. Eksekutif muda ingin mengembangkan perusahaannya serta mengalahkan para pesaingnya. Inul tentu ingin mempertahankan popularitasnya. Matt Biondi ingin memperoleh medali dalam olimpiade. Mahasiswa ingin memperoleh gelar; walaupun ia mengatakan dengan bangga bahwa ia ingin menguasai sains dan teknologi. Dosen ingin mencerdaskan bangsa; walaupun ia menyembunyikan keinginannya untuk mendapat gaji tetap-betapa pun kecilnya dengan kerja yang sedikit. Jemaah menghadiri pengajian karena ingin meningkatkan iman; walaupun sebagian di antaranya datang ke sana untuk mencari hiburan. Mubalig ingin menyampaikan penjagaan hati; walaupun ia lebih ingin untuk menjaring infak bagi kepentingan perusahaannya.


Bila orang sudah berhasil memenuhi keinginannya, ia merasa bahagia. Karena "bahagia" adalah memperoleh yang kita inginkan, maka dengan mudah kita menyamakan sukses dengan kebahagiaan. Jika kita ingin bahagia, kita harus sukses. Untuk mencapai sukses, kita harus berjuang keras. No gain without pain. Karena itu, ironisnya, sukses lebih dekat dengan pergulatan daripada kenikmatan. Lebih berkaitan dengan striving ketimbang thriving.


Malangnya lagi, kenikmatan sukses itu hanya berlangsung sebentar Ada euforia -rasa senang yang luar biasa - ketika medali sukses dikalungkan di leher kita; tetapi setelah itu, kita dihantui oleh disforia - kesedihan, ketakutan, kecemasan. Seringkali sukses malah menghancurkan kehidupan normal yang dinikmati oleh orang-orang biasa seperti kita. Kita mengorbankan hal-hal yang indah dalam kehidupan - seperti kasih sayang, persahabatan, keimanan untuk mengejar dan mempertahankan sukses.


Penderitaan seperti itu dilaporkan oleh salah seorang peserta dalam kuliah toxic success yang disampaikan Dr Paul Pearsall. Peserta itu seorang perempuan pemain bola basket profesional. Ia bermain di the National Womens Basketball Association, punya mobil yang nilainya lebih mahal dari puluhan rumah, di samping punya rumah impian dan perhiasan yang harganya ribuan dolar:


"Jika Anda ingin berbicara tentang kehidupan yang menarik, lihatlah kehidupanku. Aku tidak pernah memimpikan apa yang sanggup aku capai, dan semua pengalaman yang telah kujalani. Aku berada pada puncak permainanku, tapi merasa seakan-akan berada di dasar kehidupan. Setiap malam aku menangis kalau sendirian. Aku telah memberikan seluruh masa mudaku untuk sampai ke sini, dan sekarang aku bertanyatanya apakah semua itu ada artinya? Kadang-kadang aku bersembunyi di sudut ruang latihan dan menangis terisak-isak. Semua mengira aku orang ceria. Tetapi aku hanyal berpura-pura. Ayahku mati sebelum pernah melihat aku bermain dalam pertandingan nasional, dan aku tidak pernah dekat dengan dia. Sekarang ibuku sakit parah tetapi aku tidak punya waktu untuk menolongnya demi suksesku dalam. pertandingan bola basket. Aku tidak pernah berpikir untuk punya anak karena setiap hubungan yang aku jalin berakhir dalam kehancuran. Aku tidak punya cukup waktu atau energi untuk memperhatikan hubungan intim. Bahkan aku berpikir keberhasilanku membuat lelaki lari.


Pelatihku mengatakan bahwa aku punya kemampuan fisik yang hebat dan jika kebahagiaanku setengah saja dari kesehatanku, aku akan merasa senang sekali. Aku harus bekerja keras berjam-jam setiap hari, hanya supaya aku tetap bugar dan untuk bisa bersaing dengan pemain-peman yang lebih muda. Mereka makin lama makin cepat dan mereka bersedia mengorbankan apapun untuk menggantikan posisiku. Kami berlatih berjam-jam tanpa henti, dan tidak seorang pun berani mengeluh karena mengeluh berarti tidak memberikan perhatian penuh pada keberhasilan tim. Kami harus 'meninggalkan semuanya' di lapangan. Dan kami melakukannya, sehingga kami tidak menyisakan apa pun untuk kegiatan di luar lapang. Aku bermain golf atau tenis untuk waktu santaiku tetapi pertandingan ini pun menjadi sebuah pertempuran. Tampaknya aku harus selalu menang. Aku merasa bersalah kalau bersantai-santai. Kayaknya, aku harus melakukan sesuatu yang lebih untuk memperoleh kekuatan baru. Aku takut mencurahkan perhatian pada apa pun yang bermakna dalam kehidupanku karena hanya akan membuat aku sedih saja. Aku kira Anda akan berkata bahwa aku adalah contoh paripurna tentang sindrom sukses toksik. Aku kaya secara materi, tetapi miskin secara rohani. "


Jika pemain basketball ini diminta untuk mengungkapkan deritanya dengan satu kalimat, ia akan berkata: Too busy to love, too tired to care. Pandanglah di sekitar Anda, adakah Anda temukan orang-orang yang begitu bersemangat untuk mencapai sukses sehingga mereka tidak punya waktu lagi untuk mencintai keluarganya atau memberikan perhatian bagi kebahagiaan dirinya (paling tidak).


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

29 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page