• Akhi

Supaya Kalian Berbahagia


There is a wonderful mythical law of nature that

the three things we crave most in life-

happiness, freedom, and peace of mind -

are always attained by giving them

to someone else

Peyton Conway March


Sore itu, ia datang lagi. Masih berpakaian rapi dan menjinjing tas echolac. Wajahnya masih kuyu. Garis-garis ketuaan memantulkan kelelahan yang berkepanjangan. Kantong-kantong kecil di bawah matanya tampak seperti merekam deritanya yang tanpa henti.


"Ustaz" ia memulai pembicaraan setelah menarik nafas panjang. "Saya sudah berpuasa Senin-Kamis dengan setia. Hampir setiap malam saya salat tahajud. Saya sampaikan doa saya; kadang-kadang dengan air mata yang berlinang. Saya hanya bermohon agar saya tidak bergantung pada obat. Itu saja!" Kawanku itu "mantan" mubalig. Sebetulnya lebih tepat, ia dimantankan oleh jamaahnya. Di tengah-tengah aktivitasnya sebagai mubalig muda, ia terlibat dalam tindakan kekerasan yang melawan pemerintah. Kawan-kawannya ditangkap. la selamat. la tidak masuk penjara. Penjara masuk pada dirinya. Ia dikejar-kejar ketakutan. la jatuh sakit, dirawat di rumah sakit jiwa selama ber bulan-bulan. Karena sakitnya, ia dipecat dari pekerjaan tetapnya. Ia juga dijauhi oleh para jemaahnya. Setelah sembuh, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia berusaha berjualan buku dari kantor ke kantor. Untuk mempertahankan kesehatan mentalnya, ia harus minum obat secara teratur.


la sendiri sudah tidak tahan dengan ketergantungannya pada obat itu. Tetapi sekali saja ia berhenti minum obat, penyakitnya kumat lagi. la menjadi agresif, mengumpat, memaki-maki, dan merusak barang-barang di rumahnya. Hari ketika ia kumat adalah neraka, bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk dirinya. Kali ini ia datang kepadaku setelah musibah beruntun menimpanya. Rencana perkawinan anak perempuannya dibatalkan secara sepihak oleh keluarga laki-laki. Satu-satunya anak laki-lakinya, yang beruntung diterima di universitas negeri, meninggal di tempat KKN (yang ini sih artinya kuliah kerja nyata). Istrinya, ustazah yang mengajar Al-Quran dari rumah ke rumah menderita luka bakar ketika bensin angkot yang dinaikinya meledak. la datang kepadaku karena beberapa saat sebelumnya ia diusir dari sebuah kantor dengan cara yang menyakitkan.


"Saya tidak sanggup lagi memikul derita ini. Kasihan anak-anak dan istri saya. Mengapa Tuhan menghukum saya lebih dari kemampuan saya. Bukankah dalam Al-Quran, Allah berfirman Allah tidak membebani setiap diri lebih dari kemampuannya? Jika ini dibebankan kepada saya karena dosa-dosa saya, bukankah saya telah terus-menerus beristigfar. Saya telah berusaha menjalankan agama semampu saya. Mengapa saya masih juga menderita? Katanya, agama diturunkan Tuhan untuk membawa kita kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan akhirat tidak bisa kita ketahui. Paling tidak kita harus melihatnya dari kebahagiaan di dunia ini.


Pertanyaan, atau sebenarnya keluhan, bahkan protes kepada Tuhan, yang disampaikan kawanku itu mungkin menjadi pertanyaan banyak orang, termasuk Anda. Ketika musibah datang, apalagi beruntun, kita menambah penderitaan itu dengan menyalahkan siapa saja yang bisa kita temukan. Kalau tidak bisa, kita menyalahkan diri kita. Kalau kita beragama, kita menyalahkan Tuhan.


Kalau pada waktu seperti itu saya menasihati kawan saya atau Anda dengan judul bagian ini: Bahagia itu pilihan, ia (juga Anda) akan menentang saya dengan berang: "Apakah aku menderita karena pilihan? Apakah aku sengaja memilih menderita? Gila, siapa sih di dunia ini yang sengaja memilih untuk menderita? Derita itu selalu datang kepada kita tanpa diharapkan. Derita merampas kebahagiaan kita. Sebagaimana derita bukan pilihan, kebahagiaan juga di luar kendali kita. Bedanya, kedatangan bahagia sangat kita harapkan. Bahkan, sepanjang hidup, kita berusaha mencari kebahagiaan.


Dengan tulisan ini, saya ingin membuktikan bahwa baik penderitaan maupun kebahagian kedua-duanya adalah pilihan kita. Karena kita dapat memilih, maka wajib bagi kita untuk memilih kebahagiaan. Kita haram memilih penderitaan. Dengan bahasa guru agama saya di sekolah dasar, kita akan mendapat pahala bila memilih untuk bahagia; dan kita mendapat siksa bila kita memilih untuk menderita. Malang benar mantan mubalig yang menderita pada awal bab ini. Di dunia sudah menderita, di akhirat mendapat siksa pula. "Rugi dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang sangat jelas!" (Al-Haj: 11).


Tetapi, apakah mubalig kita memilih untuk dipecat dari pekerjaannya, untuk punya kesulitan ekonomi, untuk kehilangan anak tersayangnya dan lain-lainnya? Tidak, tentu saja. Kita harus membedakan antara musibah dengan penderitaan. Musibah-seperti kehilangan anak, kebakaran rumah, penyakit, kecelakaan, kemelaratan, penghinaan, pengkhianatan berasal dari luar diri kita. Saya tidak pernah terpikir untuk ditusuk dari belakang oleh orang yang hidupnya saya selamatkan. Saya tidak pernah merencanakan untuk dicampakkan dengan penuh kehinaan oleh orang yang selama ini menghormati saya. Tiba-tiba saya ditipu ratusan juta rupiah oleh orang yang saya percayai dengan sepenuh hati. Penderitaan, pada gilirannya, adalah perasaan pedih dalam jiwa kita, boleh jadi karena musibah atau bukan musibah. Musibah, kata para filusuf, adalah realitas objektif. Penderitaan adalah realitas subjektif. Musibah adalah dunia di luar diri kita. Penderitaan adalah pictures in our head.


Jamie Mayerfeld menulis dalam Suffering and Moral Responsibility

Dalam arti objektif, penderitaan sama dengan bencana atau kemalangan. Dalam pengertian ini, makna yang tepat dari penderitaan masih perlu dilengkapi, karena apa yang disebut sebagai bencana atau kemalangan tetap saja samar-samar dan bisa mengundang perdebatan. Tetapi, memang seringkali bencana tidak diragukan lagi. Ada yang dibunuh, keluarga dibantai, rumah yang dibangun seumur hidup terbawa banjir, orang kehilangan pekerjaan dan terlempar sebagai gelandangan, kekurangan gizi, atau menderita penyakit yang melumpuhkan. Kadang-kadang penderitaan hanya menunjukkan pengalaman dari bencana yang objektif, tanpa mempedulikan keadaan psikologis dari orang yang mengalaminya.


Seringkali penderitaan punya makna psikologis. Kali ini penderitaan menunjukkan apa yang dirasakan orang. Secara kasar, menderita artinya merasa tidak enak. Inilah yang dimaksud ketika orang menghibur orang yang ditinggalkan mati oleh keluarga tercintanya karena kecelakaan atau tindakan kekerasan dengan berkata "mereka tidak menderita". Tentu saja, kematian yang mendadak biasanya dianggap sebagai bencana besar, tetapi di sini para korban telah kehilangan kesadarannya sebelum musibah menimpa mereka. Penderitaan, dalam makna ini, adalah apa yang disebut oleh Jeremy Bentham dan Henry Sidgwick ketika mereka menyebut pain (kepedihan) dan Epicurus menyebutnya lupé.


Karena penderitaan, atau lupé, bersifat subjektif, musibah. tidak selalu menimbulkan penderitaan. Kehilangan kaki jelas musibah yang lebih besar dari kehilangan sandal. Tetapi bisa jadi orang yang kehilangan kakinya tidak mengalami penderitaan seperti orang yang kehilangan sandal. Sadi, sufi dan penyair Persia, memperoleh pelajaran yang berharga dari seorang yang kedua kakinya buntung. la berkata:

Aku tidak pernah mengeluh karena kemalangan. Aku tidak pernah menderita karena terlempar dari pusingan langit. Kecuali suatu ketika, kakiku telanjang dan aku tidak punya uang untuk membeli sepatu. Aku datang ke masjid jamik Kufah dalam keadaan yang sangat sedih. Di situ aku melihat orang yang tidak punya kaki. Aku sampaikan rasa syukurku kepada Allah dan mengakui segala kasih sayangnya. Aku tahan keinginanku untuk punya sepatu dengan sabar. Aku gumamkan puisi ini:


Bagi si kenyang ayam bakar tak lebih enak terasa

Ketimbang dedaunan seledri di atas meja

Pada pandangan si miskin yang tak kuasa

Daun lobak dan ayam bakar sama saja


Sa’di merasakan kepedihan dalam hatinya karena kehilangan sepatunya. la menderita. Kepedihannya segera hilang, ketika di masjid Kufah ia menyaksikan orang yang sudah kehilangan kedua kakinya dan tidak menderita. Satli masih tidak punya sepatu. Musibahnya masih ada. Tetapi kini, ia merebahkan diri sujud kepada Tuhan dengan penuh rasa syukur. Apa yang berubah pada Sadi? Yang berubah adalah perasaannya pada musibah yang dialaminya. Sekali lagi, saya ingin menegaskan bahwa musibah objektif, tetapi penderitaan subjektif. Musibah datang di luar kendali kita. Penderitaan terletak pada pilihan kita.


Bersambung pada pembahasan selanjutnya dengan judul musibah dan penderitaan.


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

- www.scmbandung.sch.id

- www.smpbahtera.sch.id

- www.smpplusmuthahhari.sch.id

- www.smaplusmuthahhari.sch.id

26 views0 comments

Recent Posts

See All