• Akhi

Tanda-Tanda Komunikasi Suportif


Karena komunikasi suportif adalah "obat" untuk menyembuhkan "penyakit" komunikasi defensif, saya akan menjelaskan komunikasi suportif dalam bentuk apa yang harus kita lakukan ketika kita berbicara kepada anak-anak kita:


Mendeskripsikan

  • Hindari kata sifat dan gunakan kata kerja. Jangan berkata, "Kamu pemalas!" Katakan, "Kamu tidak mengerjakan pekerjaan rumahmu berkali-kali." Sebagai ganti kalimat "Kamu ngelantur", Anda katakan, "Kamu berpindah-pindah topik." Katakan, "Kamu makan belepotan!" Jangan katakan, "Kamu jorok!"

  • Gunakan pernyataan yang spesifik dan konkret. "Saya keluar rumah satu jam saja" lebih baik daripada, "Saya keluar sebentar." "Bantulah kawanmu semampu kamu," lebih jelas daripada "Jadilah kamu orang yang saleh." "Belajarlah lebih rajin!" adalah pernyataan yang abstrak. Lebih konkret adalah, "Ayo, mulai besok, kita membaca buku satu jam lebih lama daripada sebelumnya!"

  • Gunakan "I-Message", pesan-aku. Saya bisa berkata kepada guru saya, "Pembicaraan Bapak tidak sistematis." Ini disebut "you-message". Saya bisa berkata, "Saya tidak dapat mengikuti pembicaraan Bapak." Isi pesannya sama. Yang pertama termasuk komunikasi defensif, messages that hurt. Yang kedua, komunikasi suportif.


Berorientasi masalah

  • Perhatikan sumbangan gagasan dari siapa pun. "Menurut pendapatmu, apa cara terbaik untuk memecahkan persoalan ini?"

  • Berikan kesempatan kepada pembicara untuk menyelesaikan pembicaraannya.

  • Hindari kata-kata yang mengancam, memaksa, menyudutkan.

  • Berikan apresiasi paling tidak pada keberaniannya menyampaikan pendapat.


Spontan

  • Terus terang agar terang terus. Orangtua yang jujur tidak akan mengalami kesulitan dalam meyakinkan anaknya.

  • Hindari segala macam teknik memanipulasi kawan komunikasi kita. Ini berarti tidak berbohong kecuali dalam situasi yang betul-betul terdesak.


Empatis

  • Usahakan secara emosional "mengalami" apa yang dialami anak. Rasakan apa yang dirasakannya, dan letakkan posisi Anda pada posisinya.

  • Berkomunikasilah dengan setiap orang dengan menghadirkan seluruh dirimu. Berikan perhatian tulus. Tunjukkan reaksimu pada kalimat-kalimat yang disampaikannya.


Demokratis

  • Dorong umpan balik (komunikasi dua arah). Lakukan dialog, hindari monolog. Anak harus "dipancing" untuk memberikan umpan balik pada pembicaraan kita. Tanyakan apakah mereka memahami istilah atau kata-kata yang kita gunakan.

  • Berikan kesempatan berbicara yang sama. Periksa apakah Anda tidak kebanyakan berbicara.

  • Tunjukkan penghormatan dan penghargaan kita kepada anak. Kita perlakukan anak sebagai persona, bukan sebagai objek.

  • Tegaskan persamaan dalam bersikap dan berbicara. Perlakukan mereka secara setara.


Provisional

  • Tunjukkan sikap terbuka dan kesediaan untuk menerima perbedaan pendapat.

  • Yakini bahwa pendapat kita bersifat tentatif. Ini berarti kesediaan kita untuk menerima kritik.

  • Bahas setiap masalah dan hindarkan pemihakan pada setiap pendapat. Daripada berkutat pada satu pendapat terus-menerus, usahakan untuk meneliti semua pendapat dengan pikiran yang jernih.[]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam)dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

- www.scmbandung.sch.id

- www.smpbahtera.sch.id

- www.smpplusmuthahhari.sch.id

- www.smaplusmuthahhari.sch.id




32 views0 comments

Recent Posts

See All