• Akhi

Tanda-tanda Orang yang Shalatnya Diterima Allah


Sudah sering kita dengar bahwa shalat adalah tiang agama, bahwa shalat adalah amal yang paling dahulu diperiksa di hari kiamat. “Bila shalatnya baik, baiklah seluruh amalnya; bila shalatnya rusak, rusak jugalah seluruh amalnya; “begitu kata Rasulullah saw. Sesekali mungkin kita merenung, baikkah shalat yang kita lakukan? Sewaktu-waktu mungkin kita bertanya, apakah shalat kita diterima Allah swt? Bukankah Allah pernah berfirman bahwa celakalah orang-orang yang shalat? Bukankah Rasulullah pernah berkata bahwa ada orang yang shalat dan shalatnya dilipat Tuhan seperti pakaian pada hari kiamat, dan dilemparkan ke wajahnya? Allah tidak menerima shalatnya.

Siapakah di antara kita yang shalatnya diterima Allah? Siapakah di antara yang hadir sekarang ini yang shalatnya tidak akan dilemparkan ke wajahnya? Apakah tanda-tanda orang yang shalatnya diterima Allah? Marilah kita renungkan firman Allah dalam sebuah hadis Qudsi. Jawaban Allah tentang ciri-ciri orang yang diterima shalatnya: إِنَّمَا أََتَقَبَّلُ الصَّلاةَ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعُضْمَتِيْ وَلَمْ يَستَطِلْ بِهَا عَلىَ خَلْقِى وَلَمْ يَبِتْ مُصِرّاَ عَلىَ مَعْصِيَتِيْ وَقَطَعَ النَّهَارَ لِذِكْرِى وَرَحِمَ الْمَسَاكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَالأَرْمَلَةَ وَرَحِمَ الْمُصَابَ . ذَلِكَ نُوْرُهُ كَنُوْرِ الشَّمْسِ أَكْلأُهُ بِعِزَّتِى , وَاسْتَحْفشظُهُ مَلَئِكَتِى وَأَجْعَلُ لَهُ فِى الظَُلُمَاتِ نُوْراً وَالْجَهَالَةِ عِلْماً , مَثَلُهُ عَلىَ خَلْقِى كَمَثَلِ الْفِرْدَوْسِ فِى الْجَنَّةِ . ( سيد سابق: إسلامنا ) “Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri dengan shalatnya karena kebesaran-Ku, yang tidak menyombongkan diri kepada makhluk-Ku, yang tidak mengulangi maksiat kepada-Ku, yang mengisi sebagian siang dengan berdzikir kepada-Ku, yang menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan, wanita yang ditinggalkan suaminya, dan yang mengasihi orang yang ditimpa musibah. Cahayanya bagaikan cahaya matahari. Aku lindungi dia dengan kekuasaan-Ku. Aku perintahkan malaikat menjaganya. Aku jadikan cahaya dalam kegelapannya. Aku berikan ilmu dalam ketidaktahuannya. Perumpamaannya dibandingkan dengan makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di surga.” (Sayid Sabiq, Islamuna, hl. 119) Dari hadis qudsi di atas, dapat kita simpulkan tanda-tanda orang yang diterima shalatnya, sebagai berikut: Pertama: Dia yang merendahkan diri dengan shalatnya karena kebesaran-Ku. Shalat yang diterima ialah shalat yang dilakukan dengan penuh tawadhu’ karena kebesaran dan keagungan Allah. Ini tampak pada kekhusyukan seluruh jiwa raga orang yang shalat. Ia merasa bahwa ia berdiri di hadapan Allah yang menguasai alam semesta. Diratakannya dahinya di atas tanah dengan hati bergetar karena ia tahu bahwa ia bersimpuh di muka Rabbul ‘alamin, yang menghidupkan dan mematikan dia. Suatu hari Rasulullah melihat ada orang yang mempermainkan janggutnya ketika shalat. إَنَّمَا هَذَا لَوْ خَشَعَ قَلْبُهُ لَخَشَعَ جَوَارِحُهُ . Andaikan orang ini khusyuk hatinya, akan khusyuk jugalah seluruh tubuhnya. Karena itu, sebelum shalat, yang harus diluruskan lebih dahulu adalah hati. Hati itu seperti pohon, kata Al-Ghazali. Bila dahannya rindang, burung-burung pun senang hinggap di atasnya. Bila hati bercabang, pikiran-pikiran dan nafsu pun senang bermain-main di dalamnya. Hadis ini menyatakan bahwa tawadhu’, merasakan kebesaran Allah swt., adalah syarat pertama untuk mencapai kekhusukan. Rasakan bahwa ketika Anda shalat, Anda tidak lagi berada di dunia ini. Anda mi’raj menemui Zat yang Mahabesar. Rasakan bahwa ketika Ansa shalat, Allah mengawasi segala gerak-gerik Anda, mendengarkan permohonan Anda, menyaksikan ruku’ dan sujud Anda. Masukkan ke dalam hati dahsyatnya pertemuan dengan Penguasa alam semesta. Putuskan semua cabang hati yang berkaitan dengan dunia ini. Kata Rasulullah saw: صَلُّوْا صَلاَة مَوَدَّعٍ “Shalatlah shalat perpisahan.” Shalatlah shalat yang mengucapkan selamat tinggal kepada dunia ini. Kekhusyukan tidak akan pernah tercapai bila kecintaan kepada dunia menguasai hati. Allah tidak akan terasa bila urusan dunia menjadi pusat perhatian. Diriwayatkan bahwa Ali bin Husein, bila beliau wudu, pucat wajahnya, seakan-akan menghadapi sesuatu yang menakutkan. Ketika ditanya apa gerangan yang menimpanya ketika wudu, ia menjawab: أَتَدْرُوْنَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ أُرِيْدُ أَنْ أَقُوْمَ “Tahukah kamu, di hadapan siapa aku akan berdiri?” Ali bin Husein ingin mengingatkan kita bahwa pada waktu shalat, kita berhadapan dengan Allah Yang Mahabesar. Seorang di antara tabi’in, Khalaf bin Ayyub, membiarkan lalat yang hinggap pada tubuhnya ketika ia shalat. Ketika ditanya bagaimana ia bisa tahan menghadapi gangguan lalat, Khalaf menjawab, “Aku dengar, penjahat-penjahat tahan dicambuki cemeti raja, dan bangga atas ketahanan mereka. Mengapa aku tahan terhadap lalat, padahal aku berdiri di hadapan Allah Rabbul Alamin.” Inilah orang-orang yang tawadho’a biha li’uzmati, yang merendahkan diri karena kebesaran-Ku. Inilah orang-orang yang shalatnya di terima Allah. Karena merasa rendah di hadapan Allah, hilang jugalah kesombongannya terhadap sesama manusia. Semua makhluk tidak berarti di depan Rabbul ‘Izzati. Oleh karena itu, ciri yang kedua tadi orang yang diterima shalatnya ialah: Kedua: Dia tidak menyombongkan diri kepada makhluk-Ku. Tawadhu’-nya dalam shalat melahirkan rendah hati dalam pergaulannya dengan sesama manusia. Kekuasaan tidak menyebabkan ia sombong karena ia tahu bahwa kekuasaan adalah amanat Allah. Kekayaan tidak menyebabkannya memperbudak orang lain karena ia tahu bahwa harta hanyalah titipan Allah. Pengetahuan tidak membuatnya tinggi diri sebab ia tahu bahwa pengetahuannya tidak seberapa dibandingkan dengan luasnya ilmu Ilahi. Orang yang shalatnya diterima tidak akan merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Rasulullah bersabda: لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ خَرْدَلَةٌ مِنْ كِبْرٍ “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada perasaan sombong walaupun hanya sebesar debu saja.” Tidak masuk ke dalam golongan yang diterima shalatnya kalau ia bertingkah laku sombong dan takabur terhadap sesamanya. Ketiga: Dia tidak mengulangi maksiat kepada-Ku. Dalam hidup, sekali waktu kita pernah jatuh ke dalam maksiat, kecil atau besar. Mungkin pernah kita palsukan angka dalam kwitansi. Mungkin pernah kita berdusta kepada orang lain. Mungkin kita pernah menyakiti hati tetangga. Mungkin pernah kita memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri. Bahkan mungkin pernah kita menyebabkan orang lain menderita dalam hidupnya. Sebelum shalat, kenanglah kembali segala kesalahan yang sempat kita ingat. Merintihlah di hadapan Allah , dan ucapkan “Rabbighfirli. Ya Tuhanku ampunilah dosaku.” Setelah shalat jangan ulangi lagi maksiat yang pernah kita lakukan. Shalat yang diterima ialah shalat yang mengubah perilaku orang, yang menyebabkan menjauhi fahsya’ dan munkar, kejelekan dan dosa. مكَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْداً . “Barangsiapa shalatnya tidak menyebabkan dia menjauhi kekejian dan kemungkaran, shalatnya hanya akan menambah dia jauh dari Allah saja.” Shalatnya bukan menjadi alat taqarrub, melainkan malah menjadi taba’uud (menjauhkan diri dari Rabbul-alamin). Karena itu, bila selesai shalat orang berdusta lagi, bila setelah sajalah disimpan ia memutar balik angka lagi, bila pulang Jumatan digunakannya jabatan untuk memeras orang lain, maka “shalatnya akan dilipat seperti kain buruk yang dibantingkan ke wajahnya.” لُفَّتْ كَمَايُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلْقُ فَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُهُ Karena itu, bila selesai shalat tidak lagi terharu melihat penderitaan orang lain, tidak mau memberi pertolongan kepada mereka yang memerlukan, tenggelam dalam kesenangan dirinya, maka ia termasuk dalam golongan yang disebut oleh Allah. فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ . الّّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَ “Celakalah orang yang shalat, yang lalai dalam shalatnya. Yang ingin dipandang, yang tidak mau memberikan pertolongan.” Keempat: Dia mengisi sebagian siangnya untuk berzikir kepada-Ku. Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.,”Ya Rasulallah, syariat Islam sudah banyak pada diriku. Ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang teguh untuk selanjutnya.” Nabi Muhammad saw, menjawab: لاَيَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِاللهِ “Usahakanlah lidahmu selalu basah menyebut nama Allah. Jangan biarkan lidahmu kering tanpa menyebut nama Allah. Berzikir bukan saja disyariatkan setelah sembahyang, melainkan juga pada setiap saat, ketika berdiri, duduk, dan berbaring.” Pada satu majelis saja sahabat menemukan Rasulullah membaca istighfar seratus kali. Imam Bukhari memulai kumpulan hadisnya dengan innamal a’malu binniyyat, dan mengakhirinya dengan hadis: Ada dua kalimah yang dicintai Allah Ar-Rahman, yang ringan dalam lisan tetapi berat dalam timbangan: سُبْحَانَ اللهِ بِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ Dengan itu Bukhari seakan-akan menginginkan kita bahwa setelah shalat kita dianjurkan banyak berzikir kepada-Nya. “Ketahuilah, hanya dengan zikir kepada Allah, tenteramlah hati” (Qs.Ar-Ra’d[13]:28). Kelima: Dia menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan, wanita yang ditinggalkan suaminya, dan mengasihi orang yang mendapat musibah. Shalat yang diterima Allah tampak bekasnya dalam kehidupan orang yang melakukannya. Islam bukan saja datang untuk menegakkan akidah dan ibadah, melainkan juga membela manusia yang lemah; fakir miskin, orang yang kehabisan bekal, janda yang ditinggalkan suaminya, dan orang yang menderita. Orang kaya yang membuat sudut kecil di rumahnya untuk shalat tahajud di malam hari, tidak diterima shalatnya bila ia membiarkan tetangganya mati kelaparan, bila tidak tersentuh hatinya oleh penderitaan orang lain, bila acuh tak acuh saja terhadap masalah kemiskinan bangsanya. “Tidak akan masuk surga orang yang kenyang, padahal tetangganya kelaparan di sampingnya.” Kata Rasulullah saw. Jika kelima ciri tersebut dijalankan, maka Allah berfirman: “Cahayanya bak cahaya matahari. Aku lindungi dia dengan kebesaran-Ku. Aku suruh malaikat menjaganya. Aku berikan cahaya ketika ia kegelapan. Aku berikan ilmu ketika ia kebingungan. Orang semacam itu seperti firdaus di surga.” *** SUMBER buku Khotbah-khotbah di Amerika karya Jalaluddin Rakhmat. Penerbit Remaja Rosdakarya Bandung, tahun 1993; halaman 49-56.


7 views0 comments

Recent Posts

See All