top of page
  • Writer's pictureAkhi

Tobat Nasional


Anda mungkin pernah mendengar kisah salat Istisqa' di Andalusia, Spanyol Islam. Musim kemarau panjang menimpa khilafah Islam di Dunia Barat. Selain kehancuran tanaman akibat kekeringan, berbagai musibah lain terjadi. Raja menyelenggarakan salat Istisqa' di pusat pemerintahan. Sebagaimana lazimnya, raja harus berkhutbah. Tetapi, begitu ia naik mimbar, suaranya hilang. Tidak sepatah kata pun keluar. Ketua Majelis Ulama Andalusia menyelamatkan raja dengan mengambil alih mimbar. Ajaib, ulama besar itu pun mendadak bisu. Salat yang dimaksudkan untuk menghilangkan musibah menambah musibah baru: para petinggi negara tidak bisa bicara. Di tengah- tengah keheningan yang mencekam, seorang pemuda berdiri di mimbar, mengucapkan salam, dan mulai berkhutbah. Bicaranya lancar, bahasanya fasih, dan topiknya menarik. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa semua musibah yang menimpa negeri Islam itu terjadi karena kesalahan raja dan para penguasa. Ia meminta raja dan semua pejabat bertobat. Ia menyebut satu demi satu kesalahan mereka. Ia meminta mereka mengakuinya di hadapan rakyat dan Tuhan. Raja, seperti mewakili para penguasa lainnya, menangis keras. Khatib berkata, "Bila penguasa bumi sudah takut kepada Tuhan, akan ridhalah Penguasa Langit." Bersamaan dengan aliran air mata raja, hujan pun perlahan-lahan turun, makin lama makin deras.


Kisah ini segera saya ingat ketika M. Amien Rais bertabligh akbar di Masjid Al-Azhar, Jakarta. Amien menyebut musibah satu demi satu. Ia meminta para pemimpin untuk bertobat. Ia mengimbau pemerintah untuk menunaikan amanat yang dibebankan kepada mereka. Ia memperingatkan para penguasa untuk bersikap rendah hati dan mengurangi arogansinya. Pada acara tabligh akbar itu hujan tidak turun, seperti di Andalusia dahulu. Amien sudah menggantikan posisi pemuda, tetapi tak seorang pun menggantikan posisi raja dan ulama. Tidak kita dengar ada raja atau ulama menangis di sana. Walaupun kita tahu, ada banyak raja dan ulama yang mendadak bisu ketika menjelaskan musibah. Marilah kita anggap seruan Amien untuk tobat nasional itu sebagai khutbah Istisqâ'. Apa reaksi para pemimpin Islam pada ajakan Amien? Tidak satu tetes air mata pun jatuh. Seorang petinggi negara keheranan, bagaimana mungkin mengumpulkan semua orang untuk bertobat. Rupanya, bagi beliau, tobat nasional adalah mengumpulkan semua orang di tanah lapang di seluruh negeri dan berteriak bersama, "Aduh Gusti, ampuni kami semua." Petinggi lainnya mempertanyakan dalil Alquran dan Hadis untuk membenarkan tobat nasional. Dalam Alquran tidak ada tobat nasional. Yang ada tobat nasuha. Pesan Amien tampaknya disalah-pahami.


Para sufi menyebut tobat sebagai stasiun pertama dalam perjalanan menuju Tuhan. Semua langkah yang kita lakukan akan sia-sia bila tidak dimulai dari stasiun tobat. Tobat, kata Ibn Qayyim al-Jawziyyah, adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah, dengan meninggalkan jalan orang-orang yang dimurkai Tuhan dan jalan orang-orang yang tersesat. Tobat tidak akan terjadi tanpa memperoleh petunjuk untuk kembali kepada jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim). Orang tidak akan kembali kepada jalan lurus bila tidak menyadari dosa-dosanya, dan bila tidak mengulangi perbuatan dosanya. "Karena itu," masih kata Ibn Qayyim, "tobat tidak sah kecuali dengan menyadari dosa, mengakuinya, dan berusaha mengatasi akibat-akibat dari dosa yang dilakukannya." (Madárij as-Salikin, 1: 179).


Jadi, dengan menggunakan rujukan itu, tobat nasional artinya kembalinya bangsa ini ke jalan yang lurus, meninggalkan perilaku berbangsa yang dimurkai Tuhan. Pada tahap pertama, kita harus mendaftar dosa-dosa yang kita lakukan sebagai bangsa. Kita harus menyadari bahwa di samping dosa-dosa individual, seperti merampas hak orang lain, kita juga terlibat dalam dosa-dosa kolektif. Kitaꟷdalam bahasa Amien Raisꟷsudah menjadi bangsa berdarah dingin. Kita tidak tersentuh dengan derita anak bangsa kita yang dipancung di negeri orang tanpa peradilan, pengadilan, dan keadilan. Kita juga sudah menjadi bangsa yang penakut. Kita belajar untuk tidak berbicara yang benar. Kita mengembangkan keterampilan bahasa yang menyembunyikan realitas pahit dalam kemasan manis. Paling parah dari semuanya, kita menjadi bangsa pecinta dongeng. Apa saja cerita yang dibuat oleh orang berkuasa, betapapun tidak masuk akalnya, menjadi keyakinan kita. Agar tobat nasional sah, setelah kesadaran akan dosa, kita harus melanjutkannya pada tahap kedua: membuat pengakuan. Pengakuan adalah syarat utama tobat. Dengan pengakuan, kita bergerak dari wujud yang rendah ke wujud yang tinggi.


Menurut para sufi, manusia adalah gabungan sifat Tuhan, binatang, binatang buas, dan setan. Keinginan untuk bertobat dan mengaku salah datang dari pancaran sifat Tuhan. Kesombongan lahir dari sifat kebinatang-buasan (sab'iyyah). Karena kesombongan, orang pantang mengaku salah. Mereka khawatir pengakuan salah dapat menjatuhkan martabatnya (juga kedudukannya). Dari sifat setan, manusia memperoleh kemampuan untuk mencari pembenaran bagi kesalahan. Alih-alih mengakui salah, ia mengembangkan berbagai alasan untuk membenarkan kesalahannya. Dengan pengakuan, manusia menyembuhkan dua penyakit utama pedosa: takabur dan pembenaran.


Dengan pengakuan, manusia menaklukkan sifat-sifat sab'iyyah dan syaythaniyyah ke bawah kekuasaan sifat rabbaniyyah. Ia memperbanyak sifat-sifat emas dan memperkecil sifat-sifat tembaga. Jalaluddin Rûmî berkata, "Ada ribuan serigala dan babi dalam wujudmu: baik dan buruk, indah dan jelek. Sifat manusia ditentukan oleh sifat yang dominan. Jika emas lebih banyak dari tembaga, manusia menjadi emas." JR wa mā taufīqī illā billāh, 'alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb


Allâhumma shalli 'alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ'atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).


6 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page