• Akhi

Yang Tidak Dicintai Tuhan


Dalam Al-Quran, tidak ada kata "membenci", tapi yang ada adalah kata "tidak mencintai". Sebelum kata yuhibbu, diawali dulu dengan kata 'la'. Innallaha là yuhibbu (sesungguhnya Allah tidak mencintai). Yang tidak dicintai Tuhan kadang-kadang merupakan orang atau perbuatan.


Pertama, mu'tadin, orang-orang yang melakukan sesuatu dengan melewati batas. Dalam Al-Quran disebutkan, Perangilah orang yang memerangi kamu. Janganlah kamu melewati batas. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang melewati batas (QS Al-Baqarah: 190). Dalam perintah perang pun, kita tidak boleh melakukan hal-hal yang melewati batas. Di dalam peperangan Islam, misalnya, kita tidak boleh menyerang atau mengejar musuh yang sudah lari, merusak tanaman, mengganggu perempuan, atau mengganggu orang-orang yang sedang beribadah.


Kedua, dalam Al-Quran, di antara orang-orang yang tidak dicintai Allah adalah orang-orang yang berlebihan. Apa saja yang berlebihan tidak dicintai oleh Allah. Ayat ini berkenaan dengan perintah makan dan minum: Makan dan minumlah kamu, tapi jangan berlebih-lebihan karena Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan (QS Al-A'râf [7]: 31).


Jalaluddin Rumi bercerita tentang orang yang dalam hidupnya hanya mengejar makanan. Rumi menggambarkan dengan mengatakan, "Orang itu hanya taat pada satu perintah Tuhan, yaitu: Makan dan minumlah kamu. Tapi ia tidak menaati kalimat yang berikutnya."


Dalam Al-Quran, ada cerita bahwa suara yang paling jelek di hadapan Allah adalah suara keledai. Sesungguhnya suara yang paling jelek adalah suara keledai (QS Luqmân [31]: 19). Menurut Rumi, yang dimaksud dengan paling jelek suaranya bukanlah yang paling keras suaranya. Ketika Allah menciptakan seluruh makhluk dan ruh ditiupkan ke dalam diri mereka, semuanya hidup. Kalimat pertama yang mereka ucapkan adalah memuji Allah Swt., bertasbih kepadaNya. Tapi ketika semua bertasbih, keledai tidak bertasbih. Dia diam saja. Suatu saat ketika seluruh binatang diam, keledai itu berteriak. Orang-orang bertanya, "Mengapa keledai itu?" Ternyata keledai itu berteriak karena lapar. Kata Rumi, "Suara yang paling jelek di sisi Allah adalah orang yang hanya bersuara ketika perutnya lapar, atau ia hanya bersuara ketika membela kepentingan dirinya."


Dalam kebiasaan kita pun, orang-orang akan bersuara keras hanya ketika membela kepentingan dirinya, tapi ketika berbicara tentang kepentingan bangsa, suaranya jadi melemah, bahkan tidak bunyi sama sekali. Itulah orang yang berbicara keras dan buruk.


Ketiga, di antara orang yang tidak dicintai Allah dalam Al-Quran, adalah orang-orang yang zalim.


Jika luka menimpa kamu maka sungguh luka yang sama telah menimpa kaum (yang memerangi kamu). Dan hari-hari kemenangan itu kami gilirkan di antara manusia. Dan supaya Allah tahu orang-orang yang benar-benar beriman di antara kamu dan supaya ia mengambil saksi-saksi kebenaran dari antara kamu. Dan Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim (QS Ali Imran (13): 140).


Zalim adalah orang yang berbuat tidak adil. Lawan dari kezaliman adalah keadilan. Ayat di atas diturunkan setelah Perang Uhud. Inilah peperangan yang menjatuhkan banyak korban di pihak Nabi Saw. Pada Perang Badar, yang terjadi sebelumnya, pasukan Nabi Saw. yang berjumlah sekitar tiga ratusan orang saja berhasil mengalahkan musuh yang berjumlah ribuan orang. Pada Perang Uhud, dengan jumlah bala tentara yang lebih besar, Nabi Saw. mengalami kekalahan. Sebab utama dari kekalahan itu bukanlah karena musuh datang dengan kekuatan yang lebih besar, tetapi karena para pejuang keadilan datang dengan kesetiaan yang lebih kecil. Di Badar, 313 sahabat Nabi berdiri kukuh dengan kesediaan untuk syahid dan kesetiaan kepada Nabi. Hari kemenangan diberikan kepada mereka. Di Uhud, sebagian sahabat yang diperintahkan Nabi bertahan menjaga celah Uhud, meninggalkan celah itu hanya karena tergiur dengan barang rampasan perang.


Sebagian sahabat lainnya lari tunggang-langgang ketika musuh melakukan serangan tak terduga melalui celah Uhud yang tidak terjaga. Banyak sahabat yang melakukan desersi. Ada di antara mereka yang melarikan diri sambil berteriak, "Muhammad sudah terbunuh. Kembalilah kalian kepada saudara-saudara kalian dan keyakinan kalian yang dulu (kemusyrikan)" Sebagian lagi malah berkata, "Bisakah salah seorang di antara kita diutus untuk menemui Abdullah bin Ubayy (tokoh munafik) agar ia bisa menghubungi Abu Sofyan untuk mengampuni kami." Sebagian lain lagi melarikan diri ke bukit-bukit, dan bahkan lebih jauh dari itu (Tarikh Thabari, Tarikh Khamis, Tarikh Ibn Hisyam).


Ketika Anas bin Nazar, paman Anas bin Malik, melihat orang-orang yang melarikan diri, dia berteriak agar orang "Muhammad sudah mati." Anas menjawab, "Jika Muhammad mati, Tuhan tetap hidup dan tidak mati. Jika Muhammad pun sudah mati, marilah kita persembahkan hidup kita untuk kebenaran." Para deserter tidak menghiraukannya. Anas menuruni bukit dan dibunuh oleh musuh. Dia jatuh sebagai salah seorang syuhada, yang dicintai Allah. Tentang Anas dan para syuhada lainnya, Allah bersabda: Supaya ia mengambil saksi-saksi kebenaran dari antara kamu. Orang-orang yang setia kepada Nabi Saw. disebut Al-Quran sebagai syuhada, saksi-saksi kebenaran. Orang orang yang lari tunggang-langgang disebut Al-Quran sebagai orang-orang yang zalim. Kezaliman apa lagi yang lebih besar daripada berpaling dari Rasulullah Saw. pada saat-saat yang paling kritis. Dan Allah tidak mencintai orangorang yang zalim.


Tentu kezaliman kepada Rasulullah Saw.-misalnya, dengan mengabaikan sunnahnya, melalaikan perintahnya, atau merendahkan kemuliaannya adalah kezaliman yang paling besar. Tetapi setiap hari kita menyaksikan kezaliman-kezaliman terhadap sesama kita. Siapa saja menjadi zalim ketika ia tidak setia lagi pada komitmennya. Seorang sahabat menjadi orang zalim-menurut Al-Quran-bukan saja pada saat ia menyakiti sahabatnya, tetapi bahkan ketika ia meninggalkan sahabatnya dalam kesempitan. Teman sejati adalah teman dalam kesempitan. A friend in need is a friend indeed. Seorang pengikut menjadi orang zalim, ketika ia mengkhianati pemimpinnya, apalagi di saat ia menghadapi tantangan besar di hadapannya. Seorang istri menjadi orang zalim yang dibenci Tuhan, ketika ia meminta cerai kepada suaminya yang baru di-pehaka, setelah bertahun-tahun ia hidup bersamanya dalam kecukupan. Se orang pasangan menjadi orang zalim ketika ia berbuat selingkuh sebagai balas dendam atas perbuatan pasang annya yang dianggap buruk.


Keempat, Allah juga tidak mencintai orang-orang yang sombong, pongah, dan suka membanggakan diri. Janganlah kamu palingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai semua orang yang sombong lagi membanggakan diri. Berjalanlah kamu dengan rendah hati, dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah suara keledai (QS Luqman (13): 18-19).


Menurut Jalaluddin Rumi, kita hanya dapat mendekati Tuhan dengan merendahkan diri kita, dengan meruntuhkan tembok kesombongan kita. Ketika Tuhan berkata, "Bersujudlah kamu dan dekatilah (Aku)," Dia mensyaratkan kerendahan hati untuk dekat kepada-Nya. Ketika bersujud kita meletakkan tempat kotoran di atas organ yang paling mulia (kepala). Dalam Matsnawi, Buku Kedua, kuplet 1192-1211, Rumi berkisah tentang seorang lelaki yang kehausan di atas tembok yang tinggi. Di bawah tembok ada sungai kecil dengan air yang jernih. Untuk menggapai air itu, ia meruntuhkan batu-batu satu demi satu. Setiap batu-bata yang jatuh mencipratkan air. Bunyi cipratan air itu terdengar ke telinganya seperti kata-kata mesra dari sahabat yang tercinta. Makin sering ia mendengar bunyi gemercik air, makin bersemangat ia menjatuhkan batu-batu.


Dari air pun suara keras dijeritkan

"Apa untungnya batu-bata itu kaujatuhkan?"


Si haus itu berkata: wahai air, karena ada dua faedah

Sehingga tidak mungkin dari pekerjaan ini aku berpindah


Faedah pertama ialah kala gemercik air kedengaran

Bunyinya semerdu rebab bagi orang kehausan


Suara itu bagiku telah menjadi terompet Israfil nanti

Ketika dengan satu tiupan dihidupkan yang sudah mati


Atau suara itu seperti gemuruh guntur di musim semi

Sehingga taman-taman merias diri dengan hiasan asri


Atau bagaikan hari-hari pembagian bagi fuqara

Atau bagaikan pesan pembebasan bagi narapidana


Atau bagaikan tarikan napas Al-Rahman

yang tanpa mulut berembus ke Muhammad dari Yaman


Atau bagaikan wewangian Ahmad, Sang Utusan

yang tercium para pendosa saat pensyafaatan


Atau bagaikan semerbak harum Yusuf yang jelita

yang menyentuh jiwa Ya'qub yang kurus karena derita


Faedah lain: untuk setiap batuan yang kuruntuhkan

dengan air yang mengalir aku makin didekatkan


Karena makin banyak batu-bata yang patah

Tembok tinggi makin bertambah rendah


Merendahkan tembok mengantarkan aku kepada tirta

Untuk menyatu aku harus berpisah dengan batu-bata


Seperti melakukan sujud, batu-bata runtuhkanlah

Sebab untuk dekat Dia, "Bersujudlah dan mendekatlah"


Selama tembok ini menjulang pongah jemawa

Selama itu ia menjadi penghalang rebah kepala


Tidak mungkin bersujud pada Air Kehidupan

Sebelum melepaskan diri dari jasad kebumian


Walhasil, kita tidak akan bisa melanjutkan perjalanan mendekati Allah Yang Mahakasih sebelum kita menghilangkan hal-hal yang dibenci Tuhan: melewati batas, berlebih-lebihan, melakukan kezaliman, dan menyombongkan diri. Semuanya itu berasal dari jasad kebumian, dari unsur penciptaan yang berasal dari tanah lumpur![]



KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

74 views0 comments