KESABARAN SEBAGAI KENDARAAN HIDUP MANUSIA

Allah menyayangi seseorang yang mempergunakan kesabaran sebagai kendaraan hidupnya, dan takwa sebagai bekal kematiannya. (Ucapan Ali bin Abi Thalib tentang orang-orang yang disayang oleh Allah Swt.)

Di dalam Al-Quran, Allah bercerita tentang orang-orang yang disayang oleh-Nya, yang mendapatkan rahmat dari- Nya; yaitu orang-orang yang sabar.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka… (QS 2: 155-157).

Kalimat yang diucapkan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib merupakan untaian kata-kata yang indah. Artinya, Sayidina Ali bin Abi Thalib melihat hidup ini sebagai perjalanan yang amat panjang yang dimulai sejak kita berada di alam ruh sampai kita lahir di dunia ini dan pergi menuju alam akhirat.

Al-Quran menggambarkan hidup ini sebagai satu perjalanan. Masalahnya hanya terletak pada perjalanan mana yang hendak dituju. Perjalanan tersebut hanya ada dua macam; yaitu perjalanan menuju Allah Swt., dan perjalanan menuju selain Allah. Perjalanan yang disebut terakhir ini banyak sekali macamnya. Bahkan kalau Allah menanyakan pilihan hidup Anda ini, Dia menggunakan ungkapan: Hendak pergi ke mana kalian ini? (QS 81: 26).

Dalam bahasa Latin, ungkapan seperti itu disebut dengan quo vadis. Dan biasanya kalau kita menulis sesuatu, misalnya, menulis sebuah artikel, untuk mengungkapkan keheranan kita kepada seseorang yang jalannya menyimpang, kita sering menyebutnya quo vadis. Menurut kepercayaan orang-orang Nasrani, setelah Yesus disalib berminggu-minggu, orang-orang yang sedang berjalan di kota Roma tiba-tiba melihat Yesus berjalan menuju arah tertentu. Orang-orang bertanya: “Quo vadis?” (Mau ke mana Anda?), karena tidak lazim Yesus datang berjalan-jalan di tempat itu. Akan tetapi kemudian dalam tulisan-tulisan kita sering mempergunakan tulisan quo vadis untuk menegur orang yang jalannya menyimpang dari jalan yang biasa dipakai. Al-Quran mempergunakan kalimat: “Hendak pergi ke mana kalian ini?” (fa ain tadzhabun?).

Kita semua sedang pergi, melakukan perjalanan. Persoalannya, hanya Anda harus menentukan ke mana sebaiknya perjalanan Anda? Al-Quran memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan seperti itu, sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Ibrahim a.s.:

Sesungguhnya saya sedang berangkat menuju Tuhanku dan Dia akan memberikan petunjuk kepadaku (QS 38: 99). Jawaban itulah yang seharusnya menjadi milik kita.

Kita semua berjalan menuju Allah Swt. Kita ini kafilah ruhani yang panjang, yang sudah berlangsung puluhan ribu tahun menuju Allah Swt. Anda boleh bergabung dengan kafilah yang menuju Allah ini, atau bergabung dengan kafilah-kafilah yang lain sesuai pilihan Anda. Dan sebagai konsekuensinya, di akhirat nanti Anda akan digabungkan bersama kafilah yang Anda pilih di dunia.

Di dalam Al-Quran, disebutkan ada pelbagai kafilah di hari akhirat yang merupakan pemunculan kembali kafilah-kafilah yang pernah diikuti oleh manusia di dunia. Malah ada juga pemimpin-pemimpin mereka. Seperti yang difirmankan oleh Allah Swt.: Pada waktu itu Kami panggil setiap manusia berdasarkan iman mereka… (QS 17:71). Pada hari itu Allah memanggil manusia berdasarkan kafilahnya; kafilah Allah atau kafilah Thaghut.

Oleh karena itu, sekali lagi hidup ini adalah sebuah perjalanan. Sehingga Sayidina Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Allah menyayangi seseorang yang memilih kesabaran sebagai kendaraannya.” Maksudnya, sabar dalam perjalanan hidup manusia yang menuju Allah Swt., karena kesabaran tidak cocok kalau kita gabungkan kepada perjalanan di luar Allah; walaupun ada juga kesabarannya tapi sangat sedikit. Selain hal itu juga bertentangan dengan definisi kesabaran. Karena definisi sabar menurut Imam Al-Ghazali ialah “memilih untuk melakukan perintah agama, ketika datang desakan nafsu”. Artinya, kalau nafsu menuntut kita untuk berbuat sesuatu, tetapi kita memilih kepada yang dikehendaki oleh Allah, maka di situ ada kesabaran. Tidak ada kesabaran, misalnya, kalau kita ini didesak oleh nafsu lalu memenuhi tuntutan nafsu itu.

Kesabaran terjadi ketika ada konflik. Karena itu pernah dalam suatu pengajian saya, ada seseorang yang bertanya: “Apakah memberikan sedekah kepada pacar itu mendapatkan pahala atau tidak?” Saya jawab bahwa yang dinamakan sedekah itu kalau dalam hati kita ini ada perasaan tidak enak. Apalagi orang Islam yang pemurah biasanya banyak didatangi oleh orang yang meminta sumbangan. Lama- kelamaan hatinya jengkel juga melihat peminta sumbangan yang terus-menerus datang. Sehingga dia khawatir sedekahnya tidak ada pahalanya karena hatinya merasa tidak enak.

Saya berpendapat bahwa di situ ada pahalanya karena di dalamnya ada kesabaran. Sebab walaupun jengkel, nafsu mendesaknya untuk tidak mengeluarkan sedekah, tetapi dia tetap bersedekah. Itu namanya kesabaran. Bahkan dia akan mendapatkan dua pahala; pahala bersedekah dan pahala bersabar. Akan tetapi orang yang memberikan sedekahnya kepada pacarnya tidak menemui kejengkelan itu sehingga tidak diperlukan kesabaran. Mungkin pahalanya cuma satu. Jadi, sabar itu justru ada ketika ada desakan nafsu. Karena itu jadikanlah kesabaran sebagai kendaraan hidup Anda agar disayangi oleh Allah Swt.

Kesabaran ini erat hubungannya dengan al-bala’, dengan ujian. Di dalam Al-Quran disebutkan:

Sungguh Kami akan menguji kalian dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan gembirakanlah orang-orang yang sabar (QS 2: 155).

Jadi, sabar itu selalu berkaitan dengan al-bala’. Dan Allah akan menguji seseorang dari kesabarannya, sebagaimana difirmankan oleh Allah:

Kami akan menguji kalian sampai Kami mengetahui siapa mujahid yang sebenarnya di antara kalian dan siapa yang sabar (QS 47: 31).

Maksudnya ialah bahwa ujian itu untuk mengetahui orang-orang yang sabar. Kalau Anda ingin mengetahui ukuran ketidaksabaran ialah bila Anda memilih apa yang dikehendaki oleh nafsu dan meninggalkan perintah agama. Itu artinya tidak sabar. Sedangkan sabar ialah bila Anda tetap memilih apa yang dikehendaki oleh perintah agama dengan meninggalkan desakan atau tuntutan nafsu. JR

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *