Warisan intelektual

untuk perkhidmatan

dan pencerahan pemikiran

Quotes
0
Articles
0
Videos
0
Audios
0

Jalan Rahmat

Misi Kami

Di Jalan Rahmat, kami berusaha menghadirkan kembara intelektual itu. Perjalanan dan pengelanaan beliau mengarungi ‘jagat’ semesta itu. Ada dokumentasi karya beliau. Puluhan buku, ratusan artikel, ribuan ceramah. Ada rekaman audio dan video. Ada pula karya-karya para guru bangsa, baik sahabat karib Allah yarham, para intelektual sezaman, maupun karya-karya para ulama besar yang mempengaruhi jagat kembara intelektual beliau. Jalan Rahmat adalah sebuah digital library yang ingin menghadirkan kembali semangat intelektual itu.

Jalaludin Rakhmat - Tauziah
Digilib

Donasi dan Beasiswa

Donasi dan Beasiswa untuk sekolah, madrasah, klinik, dan ragam kegiatan lainnya.

tauziyah

Digital Library

Kumpulan Ceramah, Artikel, Buku, Video dari para Guru Bangsa.

healthcare

Jalan Kecintaan

Warisan terutama dan teramat berharga dari Allah yarham adalah mengantarkan kami dan kita semua pada jalan menuju kerinduan dan kecintaan Sang Rahmatan lil ‘alamin. Itulah makna Jalan Rahmat yang sesungguhnya.

Latest Post

Wara’: Amal yang Paling UtamaOctober 13, 2026Waktu itu, Bang Buyung ꟷsemoga Allah merahmatinyaꟷ baru saja pulang umrah. Ia mengajak saya untuk berbincang tentang agama di restoran Jepang di Hotel Le Meridien, Jakarta. Sambil dengan santai menyeruput teh di cangkir kecil, Abang bercerita tentang pengalaman umrahnya. “Abang sering pergi ke luar negeri. Di Inggris, jika kita menginjak kaki orang, sebelum kita minta maaf, ia lebih dahulu berkata, Sorry! Di depan Ka’bah, ketika Abang sujud di Maqam Ibrahim, serombongan orang mendesak posisi Abang sehingga miring menjauhi Ka’bah. Sebagian malah ada yang menendang kepala Abang. Tidak seorang pun mengatakan, Sorry. Abang saksikan jemaah dari berbagai negeri, kebanyakan dari negara-negara Dunia Ketiga, maaf, seperti kurang beradab. Mereka tidak bisa antri dengan tertib. Mereka saling dorong, saling sikut, saling desak untuk memperebutkan kesempatan mencium Hajar Aswad atau mengambil tempat di masjid yang suci. Para pedagang di sekitar masjid mematok harga yang mahal tanpa pelayanan yang ramah. Para penjaga masjid membentak tamu-tamu Tuhan dengan suara yang keras. Dan seterusnya. Perilaku peziarah di Tanah Suci seakan-akan merepresentasikan umat Islam di negerinya. Negara-negara Islam menduduki ranking tertinggi dalam korupsi, tindakan kekerasan, penindasan pada perempuan, kerakusan para elit, dan kebodohan orang alit. Untuk pengajian kita yang pertama, tolong jawab mengapa agama besar seperti Islam tidak berhasil mendidik umatnya untuk berakhlak mulia.” Saya tidak bisa menjawab. Bukan karena pertanyaan itu berasal dari ahli hukum yang mempersembahkan hidupnya untuk keadilan, tetapi memang karena saya tidak punya jawabannya. Akhirnya, saya bawa pertanyaan itu ke majelis-majelis pengajian saya yang lain. Di al- Markaz al-Islami Makassar, seorang dokter (atau doktor) menjawab pertanyaan saya dengan bercerita, “Kami pernah menyelesaikan suatu proyek besar. Usai proyek, kami ternyata (memang disengaja dan direncanakan) memperoleh kelebihan uang. Kami bagikan uang itu kepada para peserta proyek. Semuanya menerima… kecuali seorang Hindu Bali. Ia menolak dengan mengatakan bahwa ia sudah digaji sebelumnya sesuai dengan kontrak-kerjanya. Sementara teman-teman Muslim saya tak menolak tawaran itu.” Saya katakan, “Pak Dokter bukan menjawab pertanyaan Bang Buyung. Bapak bahkan memperkuat pertanyaannya. Mengapa agama yang besar ini tidak berhasil mendidik umatnya untuk berakhlak mulia.” Di berbagai majelis, saya sampaikan pertanyaan yang sama. Pertanyaan itu malah dijawab dengan pertanyaan lagi. Bahkan ada yang menyebut ayat Al-Quran, lalu bertanya, “Mengapa orang yang khusyuk dalam salatnya juga khusyuk dalam mengambil hak orang lain? Mengapa salatnya tidak mencegah pelakunya dari kekejian dan kemunkaran? Mengapa ada pengajar agama yang tidak segan-segan mengambil duit jemaah dan menggunakan uang zakat dan infak untuk memperkaya dirinya?” Ah, Anda bisa menambahkan contoh-contoh lainnya dalam kehidupan Anda. Dari renungan yang panjang, dari pembacaan kembali teks-teks suci, dari khazanah para Sufi, saya menemukan jawabannya. Mereka seenaknya melakukan dosa, karena mereka percaya amal-amal salehnya, terutama ibadah-ibadah ritualnya, akan menghapuskan dosa-dosa itu. Bisa saja di sini disebutkan ratusan hadis penghapus dosa. Melakukan puasa, haji, zikir, salat, baca Al-Quran, dan doa akan menghapuskan dosa masa lalu dan masa yang akan datang. Jadi, berbuat dosalah, lalu kamu putihkan dengan beribadah sebanyak-banyaknya. Jadi, berbuat maksiatlah, nanti kamu bersihkan maksiatmu dengan istighfar yang banyak. Inilah paradigma yang populer. Maka, agama pun menjadi pembenaran dan penghibur bagi pelaku pelaku kezaliman. Maka, agama pun menjadi pameran kesalehan untuk menutupi akhlak yang buruk. Dalam paradigma ini, fokus keberagamaan adalah melakukan ibadah dan amal saleh. Inilah agama yang menina-bobokan pengikutnya dalam akhlak yang buruk. Inilah agama yang tidak berhasil mendidik pengikutnya untuk berakhlak baik. Buku ini (Jangan Bakar Taman Surgamu) ditulis untuk mengantarkan Anda pada paradigma baru. Dosa-dosa akan menghapuskan pahala amal-amal saleh Anda, bukan sebaliknya. Menyakiti orang akan menghilangkan pahala puasa, haji, zikir, baca Al- Quran dan doa, bukan sebaliknya. Makan yang haram akan menghilangkan dampak positif salat, bukan sebaliknya. Dalam paradigma ini, fokus keberagamaan adalah menghindari dosa. Inilah agama yang akan mendidik pengikutnya untuk berakhlak baik. Dua Rukun Takwa Menghindari dosa dan melakukan ibadah dua-duanya adalah komponen takwa. Ada dua rukun takwa: pertama, menjauhi apa yang dibenci atau dimurkai Tuhan. Dengan kata lain, menjauhi keburukan. Kedua, melakukan apa yang dicintai dan diridhai Tuhan, yakni, melakukan kebaikan. Selama ini, untuk bertakwa, kita fokus pada berbuat kebaikan: melakukan salat, mengeluarkan zakat, menjalankan puasa, mengerjakan ibadah haji dan umrah; ditambah dengan berzikir, salat malam, baca Al-Quran, bayar infak, hadir di pengajian, dan sejenisnya. Semuanya itu rukun kedua takwa. Mana yang lebih baik? Mana yang harus didahulukan? Rukun yang pertama! Menjauhi keburukan. Imam Ali berkata, “Ijtinâb as-sayyi’ât aulâ min iktisab al-hasanât. Menjauhi keburukan harus didahulukan dari melakukan kebaikan.” Dalam hadis lain, disebutkan, “Bersungguh-sungguhlah dan rajin-rajinlah beramal. Jika tidak sanggup beramal baik, janganlah berbuat maksiat. Karena orang yang membangun dan tidak merusaknya, walaupun perlahan-lahan, bangunannya akan tinggi juga, tetapi orang-orang yang membangun sambil merusak bangunannya, ia tidak akan menjadi tinggi.” Dengan contoh yang sangat menyentuh, Nabi Saw bersabda, “Ibadah sambil makan yang haram seperti mendirikan bangunan di atas pasir atau air.” Atau hadis lain dari Imam Ja’far ash-Shadiq, “Akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak madu.” Pada suatu hari, Nabi Musa melewati orang yang sedang menangis, merintih memohon ampunan. Ketika Musa kembali ke tempat yang sama, ia masih menemukan orang itu sedang menangis. “Tuhanku, hamba-Mu menangis karena takut kepada-Mu,” kata Kalimullah. Tuhan menjawab langsung. “Wahai Musa, seandainya otaknya mengalir bersama linangan airmatanya sekalipun, Aku tidak akan mengampuninya, karena ia sangat cinta dunia.” Bukankah kecintaan kepada dunia bertakhta dalam hatimu? Apakah engkau putus asa dari kasih sayang Tuhan? Maukah kamu mengaku terus terang bahwa selama hidup ini, kamu digerakkan oleh kecintaan kepada dunia. Jadi, kalau kamu menangis bertobat, dengan airmata bercampur darah sekalipun, Tuhan tidak akan memaafkan kamu. Ini paradigma buku ini. Jika hatimu menjerit karena hadis di atas, bacalah hadis qudsi yang lain. Tuhan berkata kepada Musa, “Hai Musa, tahukah kamu bahwa ada seorang hamba-Ku yang dosa-dosa dan kesalahannya mengisi seluruh sudut langit. Tapi Aku ampuni dia. Aku tidak peduli dengan dosa-dosanya.” “Ya Rabb, kaifa la tubâlî? Tuhanku, kenapa Engkau tidak peduli?” Karena satu perkara mulia yang ada pada diri orang itu, yang Aku cintai. Karena kecintaannya kepada mukmin yang miskin. Ia bergaul dengan mereka, menyamakan dirinya dengan mereka, tidak menyombongkan dirinya di atas mereka, dan ketika ia berbuat begitu, Aku ampuni dosa-dosanya. Aku tidak peduli.” Setelah dengan susah payah kamu jatuh lagi pada dosa, berbuatlah baik, tidak dengan amal-amal yang hanya menguntungkan dirimu, tapi dengan amal yang menyebarkan kasih sayang kepada sesamamu, rahmatan lil-‘âlamîn. Ini paradigma buku ini. Ini pesan utama buku ini! Arti Warak Menjauhi keburukan dalam tasawuf disebut warak. Menurut kamus bahasa Arab, seperti Mu’jam al-Ma’ânî al-Jâmi’, warak (Arab: wara’) berarti menjauhkan diri dari dosa dan mengendalikan diri untuk tidak melakukan yang samar-samar (syubuhat) serta tidak berbuat maksiat dalam menjalankan ketakwaan. KBBI menjelaskan warak dengan penjelasan yang keliru dan memberi contoh dengan kalimat yang benar: warak/wa.rak/a Isl patuh dan taat kepada Allah: kita harus ꟷberpantang segala larangan. Di antara perintah-perintah Tuhan yang pertama kepada Nabi yang mulia pada awal kenabian adalah warak: berpantang dari segala larangan, menjauhi segala keburukan. Itu rukun takwa yang pertama. Segera setelah membesarkan asma Tuhan, Nabi diperintahkan untuk “membersihkan pakaianmu” dan “dari perbuatan buruk menjauhlah” (silakan lihat Qs al-Muddatstsir : 4-5). Ibn Qayyim al-Jauziyah memasukkan warak dalam salah satu stasiun awal dalam perjalanan menuju Allah. Menurut Ibn Qayyim, dalam ungkapan Arab, pakaian menunjukkan jiwa atau hati. Untuk orang yang setia dan tulus, orang Arab berkata: Pakaian dia bersih. Untuk orang yang berbuat dosa dan berkhianat: Pakaian dia kotor. Dalam tafsir mimpi, pakaian berarti hati. Jika Anda bermimpi memakai pakaian kotor, hati Anda sedang keruh, kelam, penuh dengan noktah-noktah dosa. Jika pakaian Anda sobek-sobek, hati Anda sedang carut-marut. Jika Anda bermimpi sedang mencuci pakaian, bersyukurlah. Anda sedang menjalani proses penyucian diri. Sebagaimana pakaian dibersihkan dengan air, maka hati dibersihkan dengan warak. Sekarang, cucilah jiwamu dan hatimu dengan warak. Kedekatan dengan Tuhan hanya dicapai dengan proses penyucian diri. Lâ yamassuhu illâ al-muththahharun. Bagaimana mungkin langkah kamu ringan untuk mendekati Dia jika seabrek dosa meremukkan punggungmu? Bagaimana mungkin ilmu ilahi datang padamu, karena-kata Imam Syafi’i anugerah Tuhan “lâ ya’tî lil-‘âshi, tidak datang kepada ahli maksiat”. Dengarkan nyanyian Rumi: Semua orang melihat yang tak terlihat Sesuai dengan kejernihan hatinya Dan sesuai dengan seberapa banyak ia mengkilapkannya Siapa saja yang lebih banyak mengkilapkan Ia akan lebih banyak melihat, Lebih banyak lagi yang tak terlihat tampak kepadanya Menggosok cermin hatimu lebih banyak akan memudahkan Cahaya Tuhan masuk dalam hatimu. Membersihkan karat-karat dosa dari kalbumu akan memantulkan kembali cahaya ilahi ke segenap penjuru bumi. Menggosok hati dan membersihkan karat-karat dosa untuk menyerap cahaya adalah warak. Apa Akibat Beramal tanpa Warak, Menurut Al-Quran Sudah banyak perbincangan dan buku tentang hukum-hukum Tuhan dalam Al-Quran. Tapi Muhammad Abdullah Draz ingin meneliti ajaran moral Al-Quran. Sudah waktunya umat Islam memberikan perhatian pada doktrin moral dalam Al-Quran, sesuai dengan misi Nabi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Jika ada kitab-kitab tafsir dengan judul Ahkâm al-Qur’ân, kenapa tidak ada kitab besar yang menghimpun ayat-ayat moral dalam Al-Quran. Abdullah Draz ingin menunjukkan kepada dunia modern keunggulan akhlak Islam. Di Perancis, pada waktu Perang Dunia II, ia mempersembahkan kepada akademia di Sorbonne karya utamanya, La Morale du Coran, dan memperoleh gelar Ph.D. tahun 1947. Pada bagian bukunya yang diberi judul ‘Uqübât akhlaqiyyah salbiyyah, sanksi moralitas negatif, atau hukuman bagi pelaku perbuatan buruk, Muhammad Abdullah Draz menyebutkan akibat- akibat buruk karena tidak menjalankan warak. (Saya hanya menyebutkan surat dan ayatnya dan tidak menyalin kalimat aslinya atau terjemahannya. Saya juga hanya menyalin sebagian dari rujukan ayat. Untuk melengkapinya merupakan pekerjaan rumah buat Anda. Maaf!) Berikut ini adalah hal-hal yang akan terjadi kalau kita beramal tanpa warak: Amal-amal kita akan dihapuskan atau sia-sia: 2:217, 264, 276; 3:22, 117; 5:5, 53; 7:147; 9:17; 52, 53, 69; 11:16; 14:18; 18:105; 24:39; 25:23; 33:19; 39:65; 47:9, 28, 32; 49:2. Kita akan putus asa dari rahmat Allah: 29:23. Allah tidak akan mengampuni dosa kita: 4:137, 168; 47:34. Kita akan dihijab untuk bisa melihat-Nya: 83:15. Allah tidak akan memberikan perhatian kepada kita dan tidak menyucikan kita: 2:174; 3:77. Kita kehilangan cahaya (ruhani): 57:13 Kita dibutakan, dibisukan, dan ditulikan pada hari kiamat: 17:76, 97; 20:124. Kita akan tertipu dan tercela: 8:7, 15; 45:34. Kita masuk neraka jahannam dalam keadaan tercela dan terusir: 17:15. Kita tidak akan punya pembela dan penolong: 42:8. Pintu langit akan ditutupkan kepada kita:7:40. Kita menderita kerugian besar: 2:27, 121; 3:85, 149; 4:119; 5:5, 52; 6:31, 140; dst. Dalam idiom Al-Quran, tanpa warak, kita mengurai tenunan yang sudah kita rajut dengan kuat. Pada ungkapan Nabi yang mulia, dengan ibadah dan amal saleh, kita membangun taman-taman di surga. Tetapi tanpa warak, kita mengirimkan api ke taman-taman itu dan membakarnya. Jika pelukis Yunani ꟷdalam cerita Rumiꟷ melukis tembok dengan panorama yang mempesona, kita akan ikut dengan pelukis Cina yang membersihkan tembok dengan pembersihan yang sempurna. Biarkan tembok hati kita yang bersih itu memantulkan lukisan Yunani dengan cahaya yang lebih gemerlap. Pelukis Yunani itu melakukan rukun takwa yang kedua: amal saleh. Perupa Cina menjalankan rukun takwa yang pertama: warak. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
AKIBAT DOSA TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKATOctober 12, 2026Antara abad kesatu dan kedua Masehi ada sebuah kerajaan di sebelah selatan Jazirah Arabia. Air mengalir ke ibukota dari sumber air yang jaraknya sepuluh hari perjalanan. Mereka membangun sistem irigasi yang canggih. Sejarah mencatat bendungan yang mereka bangun sebagai bendungan Ma’arib. Dari bendungan ini dialirkan air ke rumah-rumah dan kebun-kebun. Negeri itu menjadi negeri yang sangat subur. Begitu suburnya sehingga jika seorang perempuan meninggalkan rumahnya untuk memenuhi keperluannya sambil membawa bakul di atas kepalanya, maka sebelum ia sampai ke tempat tujuannya, bakulnya sudah penuh dengan buah-buahan (yang jatuh dari pepohonan di pinggir jalan). Beberapa orang Nabi diutus untuk mengingatkan mereka agar bersyukur atas nikmat Allah. Namun, mereka berpaling dari peringatan Rasul itu; bahkan mereka menggunakan kemakmuran itu untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Allah kemudian merusakkan bendungan. Air bah dahsyat melanda kota-kota mereka. Kebun-kebun subur berubah menjadi kebun-kebun gersang. Allah mengabadikan negeri ini dalam surah Saba’ 15-19 (lihat Tafsir Al- Durr Al-Mantsur 6:688-689). Negeri Saba’ adalah sebuah pelajaran. Negeri yang makmur berubah menjadi miskin karena dosa-dosa penduduknya. Al-Quran menyebut berbuat dosa itu dengan “berbuat zalim terhadap diri sendiri”. Bila orang berbuat dosa, maka ia menganiaya dirinya sendiri. Bila masyarakat membiarkan perbuatan dosa, maka masyarakat itu menghancurkan dirinya sendiri. Allah menghukum bukan saja dosa individual, tetapi juga dosa kolektif. Berbeda dengan kaum Marxian, yang menganggap materi khususnya penguasaan alat-alat produksi sebagai penentu perubahan sosial: juga berbeda dari kaum Hegelian, yang melihat gagasanlah satu-satunya faktor yang mengubah masyarakat; dan berbeda pula dengan pengikut determinisme teknologis (seperti Toffler) yang menjadikan teknologi sebagai sumber segala guncangan masyarakat; Islam memandang perilaku manusia sebagai peubah yang menentukan jalannya sejarah. Allah tidak akan mengubah satu kaum, sebelum kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka. (QS 13:11) Tulisan ini akan membahas bagaimana dosa sebagai perilaku manusia yang melanggar ketentuan Allah (qadha tasyri’iy) mempengaruhi kemajuan dan kemunduran masyarakat berdasarkar hukum sebab akibat dalam sunnatullah (qadha takwiniy). Sebelum itu, kita akan melihat secara umum kaitan antara dosa dengan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan manusia berdasarkan keterangan dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi. Hubungan antara Dosa dan Kejadian-kejadian Kehidupan Dosa, dalam bahasa Arab, disebut dzanb, jurm, jarimah, itsm, ma’shiyyah (lihat Lisan Al-Arab, pada kata “dzanb“). Menurut Abdul Qadir ‘Audah, dosa adalah “melakukan apa yang dilarang dan tidak melakukan apa yang diperintahkan” (al-tasyri” al-janaiy fi Al-Islam) oleh syara’, baik yang dikenai sanksi pidana maupun tidak. Jadi, dosa adalah setiap pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang bersifat syar’iy. Ketentuan ini kita sebut qadha tasy riiy. Kita tidak dapat mengubah atau mengusulkan perubahan pada qadha tasyri’iy, tetapi kita diberikan kemampuan memilih menaatinya atau melanggarnya. Menaatinya secara umum disebu ibadah dan melanggarnya disebut dosa. Di samping qadha tasri’iy, Allah juga menetapkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta; sejak gerakan galaksi yang besar sampai perubahan sel-sel yang kecil. Perputaran mentari dan gemintang dalam makrokosmos, peredaran darah dan oksigen dalam mikrokosmos diatur oleh hukum sebab-akibat yang ditetapkan oleh Allah yang Mahakuasa. Menurut ajaran Al-Quran, hukumn sebab-akibat ini dapat bersifat fisikal-empiris (berada di alam syahadah) atau supraempiris (berada di alam gaib). Aturan ini disebut qadha takwiniy. Manusia tidak dapat melanggar ketentuan ini. Hukum-hukum sebab-akibat ini tetap berlaku, baik kita setuju atau tidak. Tetapi kita dapat “mempengaruhi” Allah untuk mengubah satu ketentuan dengan ketentuan yang lain, atau meng. hapusnya sama sekali dengan perbuatan kita. Allah menghapus apa yang dikehendakinya dan menetapkan apa yang dikehendakinya. Di sisi-Nya ada Ummul-Kitab. (QS 13:39). Ketaatan terhadap qadha tasyri’iy menyebabkan Allah menetapkan qadha takwiniy yang baik. Sebaliknya, pelanggaran ter hadap qadha tasyri’iy yang kita sebut sebagai dosa dapat mengubah qadha (takwiniy) yang baik menjadi gadha yang buruk. Sedekah dapat menutup pintu bencana, tetapi memutuskan persaudaraan dapat mendatangkan bencana. Berzina, menurut hadis, dapat memperpendek usia dan silaturrahim dapat memperpanjangnya. Dari banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi, Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah menyimpulkan akibat buruk dosa terhadap gadha takwiniy dalam doanya yang terkenal (lihat Jalaluddin Rakhmat, Rintihan Suci Ahli Bait Nabi, hal. 3): Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan pen jagaan Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merusak karunia Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menahan doa Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bala Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mempercepat kebinasaan Efek Dosa terhadap Kerusakan Masyarakat Manusia memiliki sifat-sifat kebinatangan. Nafsu adalah sumber energi yang menggerakkan tubuhnya. Untuk memelihara kemanusiaannya, Allah menciptakan berbagai penjagaan. Salah satu di antara penjagaan itu adalah akal. Dengan akalnya, manusia dapat tidak secara membuta mengikuti hawa nafsunya. Bahkan dengan akalnya, ia dapat mengendalikan nafsu untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Malu adalah penjagaan lain yang diberikan oleh Allah. Bila binatang dapat melakukan apa saja dalam situasi apa saja, maka manusia yang normal harus memperhitungkan situasi untuk melakukan suatu kegiatan. Manusia juga bukan hanya digerakkan oleh nafsu; ia juga bertindak atas dasar rasa malu. Karena itu, Nabi saw. berkata, “Jika engkau tidak malu, lakukanlah apa pun sekehendak hatimu.” (Kanz Al-Ummal, hadis ke-5780). “Seandainya malu itu manusia, pastilah ia manusia yang saleh.” (Kanz Al-Ummal, hadis ke-5781). Akal dan malu adalah dua contoh penjagaan manusia, supaya ia tidak celaka atau jatuh menjadi binatang. Kata Rasulullah saw., “Seorang Mukmin memiliki 72 penjagaan. Bila ia berbuat satu dosa, maka runtuhlah satu penjagaan.” (Al-Bihar 73:362). Semua dosa meruntuhkan penjagaan. Jika masyarakat memandang dosa sebagai hal yang wajar, maka perlahan-lahan masyarakat itu akan berubah menjadi masyarakat binatang. Di antara semua dosa —menurut Ali bin Husayn— yang berikut ini paling cepat meruntuhkan penjagaan: minum arak, bermain judi, saling menyumbang untuk keperluan permainan yang tidak bermanfaat (laghw dan mizah), menyebarkan aib orang lain, dan bergaul dengan orang yang tidak kuat keyakinan agamanya (Ma’ani Al-Akhbar, 370). Syamsuddin Al-Dzahabi dalam Al-Kabair menyebutkan 70 dosa besar. Di sini, kita hanya akan menyebut enam dosa besar saja: syirk, minuman keras, berjudi, zina, kezaliman, dan durhaka terhadap orangtua. Akan kita jelaskan pengaruh dosa-dosa ini terhadap runtuhnya penjagaan masyarakat dan datangnya bencana sosial. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum. *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Runtuhnya Penjagaan Masyarakat Dan Datangnya Bencana SosialOctober 5, 2026Di antara semua dosa menurut Ali bin Husayn yang berikut ini paling cepat meruntuhkan penjagaan: minum arak, bermain judi, saling menyumbang untuk keperluan permainan yang tidak bermanfaat (laghw dan mizah), menyebarkan aib orang lain, dan bergaul dengan orang yang tidak kuat keyakinan agamanya (Ma’ani Al-Akhbar, 370). Syamsuddin Al-Dzahabi dalam Al-Kabair menyebutkan 70 dosa besar. Di sini, kita hanya akan menyebut enam dosa besar saja: syirk, minuman keras, berjudi, zina, kezaliman, dan durhaka terhadap orangtua. Akan kita jelaskan pengaruh dosa-dosa ini terhadap runtuhnya penjagaan masyarakat dan datangnya bencana sosial. Syirk Allah menyebut syirk sebagai kezaliman yang besar (surah Luqman, ayat 13) dan Nabi menyebutnya sebagai salah satu kabair (dosa besar). Apakah yang disebut syirk? Apakah ziarah ke kubur, tawassul kepada arwah yang suci, tabarruk kepada orang-orang saleh, seperti dilakukan kaum Muslim sepanjang sejarah, dapat disebut sebagai syirk? (Untuk menjawab pertanyaan kedua ini Anda saya anjurkan untuk membaca buku Syaikh Ja’far Subhari yang membahas tentang tawassul dan tabarruk). Tidak mungkin kita membuat uraian teologis di sini. Cukuplah di sini kita sebu kan konsep-konsep pokok tentang syirk. Pertama, syirik terdapat pada akidah dan bukan pada perbuatan. Ada orang yang berpendapat bahwa menghormat bendera itu syirik, karena menghormat bendera adalah perbuatan ibadat atau karena bendera adalah benda mati. Walaupun menghormat bendera itu mirip ritus, ia bukan ibadat; karena tidak seorang pun mempunyai keyakinan bahwa bendera itu Tuhan. Menghormati benda mati bukanlah hal yang tercela, bila tidak didasari dengan suatu keyakinan bahwa benda mati itu Tuhan. Nabi menyuruh kita shalat menghormat masjid (tahiyyatul masjid), jenazah, dan tempat-tempat bersejarah (Al-Quran bahkan menyebut Shafa dan Marwah sebagai syiar-syiar Allah dan memuliakannya sebagai tanda takwa kepada-Nya). Ada orang yang berpendapat bahwa bersimpuh kepada orang tua itu syirik, karena perbuatan itu mirip sujud; dan sujud hanya boleh dilakukan kepada Allah saja. Sekali lagi, syirik tidak terletak pada bentuk perbuatan, tetapi pada akidah yang mendasari perbuatan itu. Bila sujud itu dilakukan karena menghormat, maka sujud itu bukan syirik. Bukankah Allah menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai penghormatan atas ilmu yang dimilikinya? Bukankah saudara-saudara Yusuf bersujud kepadanya karena menghormati wibawanya (surah Yusuf ayat 100)? Anda musyrik, walaupun berdiri, bila Anda berhadapan dengan seseorang yang Anda yakini memiliki sifat-sifat ketuhanan (‘uluhiyyah). Salah satu sifat ketuhanan adalah kemutlakan. Hanya Dia-lah yang benar secara mutlak, yang berkuasa secara mutlak, yang berdiri sendiri dalam segala perbuatan-Nya (mustaqil). Inilah konsep pokok kedua tentang syirik. Anda musyrik bila Anda memper lakukan pendapat seseorang sama mutlaknya seperti pendapat Allah SWT, padahal pendapat itu tidak dibenarkan oleh Allah. Termasuk musyrik bila Anda merasa benar dan kemudian memper salahkan Tuhan. Misalnya, sebuah musibah yang terjadi karena kelalaian Anda, Anda katakan musibah itu karena kehendak Allah semata. Anda juga musyrik, bila Anda tunduk secara mutlak kepada kekuasaan di luar Allah SWT. Anda boleh tunduk kepada Rasul, karena Allah memerintahkannya demikian. Anda boleh taat kepada makhluk, bila ketaatan itu dibenarkan Al-Khaliq (terkenal sebuah hadis Nabi yang mengatakan tidak boleh taat kepada makhluk dalam maksiat kepada Al-Khaliq). Berdasarkan hal-hal di atas, kita dapat mengatakan bahwa tawhid artinya membebaskan Anda dari penghambaan kepada penguasa selain Rabb Al-‘Alamin, Tawhid artinya menyerahkan diri sepenuhnya kepada ketentuan Allah (yang tasyri’iy) atau ketentuan siapa pun selama ketentuan itu dibenarkan oleh Allah. Syirk berarti melepaskan diri dari ketaatan kepada Allah. Karena itu, Islam menentang kepatuhan mutlak kepada para tiran, karena kepatuhan seperti itu tidak berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah. Ketika seorang sahabat Nabi menaiki keledainya, memasuki istana Panglima Rustam, dia ditanya, “Manusia macam apa kalian ini?” Sahabat Nabi itu menjawab, “Kami adalah umat pilihan Allah, yang ditugaskan untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah saja; juga dari kezaliman berbagai agama menuju keadilan Islam.” Penghambaan kepada Allah semata membawa kita kepada konsep pokok yang ketiga. Syirk berarti melihat tujuan atau makna hidup di luar Allah SWT. Tawhid berarti menjadikan Allah sebagai tujuan segala perbuatan. Syirik berarti melepaskan dimensi Ilahiah dari gerak dan perilaku kita. Dalam bahasa yang filosofis, syirik adalah vakum eksistensial  —alienasi manusia dari Tuhannya. Sekarang, marilah kita lihat pengaruh syirik —pemutlakan paham atau pendapat, penghambaan kepada tiran, dan alienasi manusia dari Tuhan— terhadap kerusakan masyarakat. Memutlakkan pendapat sendiri sebagai kebenaran yang tidak dapat diganggu-gugat sama saja dengan mengklaim diri sendiri sebagai Tuhan. Perilaku inilah yang melahirkan tiran-tiran di dunia ini dari tiran kecil di dalam rumah tangga sampai tiran besar di negara. Al-Quran menggunakan kata thaghut untuk istilah tiran. Thaghut berasal dari kata thagha, yang berarti “melanggar batas, berbuat sewenang-wenang, kejam, atau menindas”. Jika di rumah tangga seorang ayah menjadi tiran, maka ia akan membuat rumah menjadi neraka. Anak-anak tertekan. Mereka kehilangan inisiatif, pasif, dan sangat bergantung kepada orangtua mereka dalam mengambil keputusan penting dalarn hidup mereka. Mereka kehilangan semangat kritis, dan akhirnya menjadi sangat dogmatis. Kemudian sang ayah sukar menerima pendapat kecuali dari orang yang ia anggap memiliki otoritas. Psikolog menyebut kepribadian seperti itu sebagai otoritarianisme. Suasana seperti itu akan meluas di masyarakat bila masyarakat pun diatur oleh tiran. Apa yang terjadi di rumah tangga akan diperkukuh (reinforced) oleh pranata-pranata sosial. Di sekolah anak berhadapan dengan guru yang selalu benar. Tugas murid hanyalah mengulang apa yang disampaikan oleh guru mereka. Murid tidak dapat menganalisis. Murid tidak dapat menerapkan pengetahuan yang dimilikinya di luar pagar yang sudah dibuat oleh guru. Mereka tidak lagi menjadi rejuvenating agent (agen yang memperbarui masyarakat – dalam istilah Karl Mannheim). Mereka menjadi pendukung status quo. Dalam keadaan seperti itu, masyarakat menjadi statis, stagnan, bahkan “membusuk”. Dalam jangka panjang, masyarakat seperti itu akan jatuh pada dominasi masyarakat lain yang lebih hidup, lebih dinamis, dan lebih terbuka. Mereka sekarang menjadi hamba-hamba yang patuh kepada setiap tiran yang datang. Mereka menjadi kaum musyrik. Menarik untuk kita perhatikan bahwa umat Islam yang dilarang musyrik sering terjebak pada syirik yang berbahaya ini. Kalau mereka tidak memutlakkan pendapat mereka, mereka memutlakkan paham mazhab mereka. Banyak orang Islam yang merasa golongan merekalah yang paling benar dan mengafirkan golongan yang berbeda dengan mereka. Bila ada di antara mereka yang memegang wewenang ̶ misalnya pengurus masjid ̶ maka yang paling dahulu mereka lakukan ialah menyingkirkan orang-orang yang tidak sepaham dari masjid mereka. Yang tidak segolongan dicoret dari daftar khatib atau penceramah, diasingkan dari berbagai kegiatan keagamaan, atau dijadikan bahan gunjingan dalam khutbah. Dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi bila tiran kecil (di masjid) ini berhasil merebut kekuasaan yang lebih besar. Karena itulah Al-Quran menyebutkan orang-orang yang memecah-belah agamanya menjadi berbagai golongan itu sebagai orang-orang musyrik (QS 30:31-32). Yang dimaksud memecah-belah agama bukanlah tumbuhnya berbagai aliran dalam agama, Karena aliran-aliran adalah kenyataan sejarah yang lahir secara alamiah dari perbedaan latar belakang manusia. Memecah-belah agama adalah memutlakkan paham suatu golongan sehingga me nimbulkan perpecahan. Kerugian umat akibat perpecahan sudah dapat kita ketahui bersama. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa umat Islam hanya hancur karena perpecahan di kalangan mereka sendiri. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal menemukan Rasulullah saw, sedang melakukan shalat di atas tempat yang berbatu-batu. Beliau kedengaran terisak-isak. Selesai Rasulullah saw, shalat, Mu’adz bertanya, “Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau shalat seperti ini.” Nabi saw. menjawab, “Aku shalat dengan rasa takut dan harap. Aku menyampaikan tiga permohonan kepada Allah, namun Dia mengabulkan dua dan menolak satu. Aku bermohon agar umatku tidak dibinasakan oleh kelaparan. Dia menerima permohonanku. (Lalu Nabi membaca surah Al-A’raf ayat 130). Aku berdoa supaya musuh-musuh Islam tidak dapat mengalahkan umatku. Dia mengabulkan doaku. (Lalu Nabi membaca surah Al-Fath ayat 28). Aku bermohon supaya umatku tidak mendapat perlakuan keras dari sesama mereka, tetapi Allah menolaknya. (Lalu Rasulullah saw. membaca surah Al-An’am ayat 65).” (Lihat Al-Durr Al-Mantsur 3:287, pada “Tafsir Al-An’am ayat 65”). Minuman Keras Abu Darda bercerita: Kekasihku, Rasulullah saw., berwasiat kepadaku: “Janganlah kamu musyrik kepada Allah walaupun kamu dipotong atau dibakar; janganlah meninggalkan shalat dengan sengaja, karena siapa saja yang meninggalkan shalat dengan sengaja, ia keluar dari agama yang hak; janganlah minum minuman keras, karena meminumnya itu membuka segala kejelekan.” (H.R. Ibn Majah dan Al-Baihaqi). Musthafa Muhammad ‘Ammarah memberikan komentar atas hadis tersebut demikian: “Minuman keras menjadi penyebab kemaksiatan, karena orang yang meminumnya akan kehilangan akal dan kesadarannya, lalu melakukan berbagai kemaksiatan, mempraktekkan semua dosa, meruntuhkan kehormatan dan mengantarkannya kepada kejahatan dan kedurhakaan.” (Al- Targhib wa Al-Tarhib 3:257). Dalam dunia modern, alkoholisme sudah disepakati sebagai masalah sosial yang serius. Kita akan menyadari kebenaran ucapan Rasulullah saw, dengan memperhatikan kutipan ini: Alkohol telah dihubungkan dengan hampir setengah jumlah kematian dan luka-luka parah yang diakibatkan oleh kecelakaan mobil setiap tahun, dan dengan kira-kira 50 persen dari semua pembunuhan, 40 persen dari semua perampokan, 35 persen atau lebih dari semua perkosaan dan 30 persen dari semua peristiwa bunuh diri. Kira-kira satu dari setiap tiga orang yang ditangkap di Amerika Serikat diakibatkan oleh minuman keras. Kerugian ekonomi akibat alkoholisme di- perkirakan lebih dari 25 milyar dolar setiap tahun, umumnya berupa kerugian industri karena ketidakhadiran, rendahnya efisiensi kerja, dan kecelakaan serta biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat orang-orang yang kecanduan minuman keras. Usia rata-rata pecandu alkohol adalah 12 tahun lebih pendek daripada rata-rata usia orang yang tidak minum minuman keras, dan alkohol berada dalam peringkat ketiga dari penyebab kematian di Amerika Serikat sesudah penyakit jantung dan kanker. (Statistik ini didasarkan pada US News and World Report April 1975. Setiap tahun terjadi kenaikan 200.000 kasus alkoholisme di Amerika Serikat, sehingga angka di atas menjadi lebih tinggi pada tahun 1990 sekarang). Banyak upaya telah dilakukan untuk menahan alkoholisme dan hampir selalu gagal secara nasional. Hanya dalam negara-negara Islam kasus alkoholisme relatif dapat diatasi. Perjudian Menurut Al-Quran, minuman keras dan perjudian diperguna kan setan untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara anggota-anggota masyarakat (surah Al-Maidah ayat 91). James C. Coleman, dalam Abnormal Psychology and Modern Life, melukiskan perilaku orang yang sudah tenggelam dalam perjudian: Walaupun ia menyadari bahwa kemungkinan kalahnya besar dan walaupun kenyataannya ia tidak pernah, atau jarang sekali, mengulangi suksesnya yang terdahulu, penjudi berat tetap saja berjudi dengan penuh semangat. Untuk menerus. kan judinya, ia sering menghabiskan tabungannya, menelantarkan keluarganya, tidak membayar tagihan dan meminjam uang dari kawan atau perusahaan yang memberikan pinjaman. Akhirnya ia menulis cek kosong, korupsi, atau cara-cara ilegal untuk memperoleh uang, serta merasa yakin bahwa satu saat nasibnya akan berubah dan ia dapat membayar kembali apa-apa yang sudah diambilnya. Penelitian lain, yang dilakukan Rosten, menunjukkan bahwa umumnya penderita penyakit judi mudah tersinggung, cenderung marah, dan teralienasi dari kawan-kawannya. Walhasil, orang yang sudah terlibat judi tidak dapat lagi mengendalikan akal sehat dan kehilangan rasa malunya. Dengan begitu, ia mudah terjerumus kepada berbagai tindak kejahatan. Yang menyedihkan kita ialah banyaknya kekayaan kaum Muslim yang habis ditelan perjudian. Banyak elit negara Islam menghabiskan uangnya di Monte Carlo, Los Angeles, dan lain-lain. Sementara rakyatnya menghabiskan uang mereka di dalam berbagai jenis undian. Sementara itu, secara mental, perjudian mendidik mentalitas jalan pintas, mematikan kreativitas, dan memasyarakatkan mimpi yang tak terbatas. Dalam beberapa sistem sosial, perjudian adalah alat untuk memindahkan kekayaan orang miskin ke kantong-kantong orang kaya dalam waktu yang cepat. Dengan demikian, perjudian memperlebar jurang kaya dan miskin, menimbulkan konflik, dan akhirnya mendorong disintegrasi masyarakat. Perzinaan Al-Quran menyebut perzinaan sebagai perbuatan keji dan jalan keluar yang paling jelek (Al-Isra’ 32). Selain mendatangkan kemurkaan Allah, perzinaan dapat menyebabkan secara lahir atau gaib keruntuhan penjagaan Allah dan datangnya bencana; baik bencana individual maupun bencana sosial. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Seorang anak Adam tidak melakukan pekerjaan yang lebih keji di sisi Allah daripada membunuh nabi atau imam, merusak Ka’bah yang telah dijadikan Allah sebagai kiblat bagi hamba-hambanya, dan mencurahkan air maninya pada perempuan yang haram.” (Al-Bihar 79:20). “Wahai Ali, dalam perzinaan ada enam bencana, tiga di dunia dan tiga di akhirat. Adapun yang di dunia ialah hilangnya kehormatan, cepatnya kebinasaan, dan terputusnya rezeki. Adapun yang di akhirat ialah pemeriksaan yang berat, kemurkaan Allah, dan kekekalan di neraka.” (Al-Bihar 77: 58). Ketika Ja’far Al-Shadiq r.a. ditanya tentang alasan dihararnkannya zina, dia menjawab, “Karena kerusakan yang ditinbulkannya ̶ yakni, hilangnya hubungan waris, terputusnya nasab karena perempuan tidak tahu siapa yang menghamilinya, dan anak tidak tahu siapa bapaknya, siapa keluarganya (yang bersambung dengannya) dan siapa kerabat (yang dikenalnya).” (Al- Bihar 103:368). Sekarang marilah kita lihat berbagai hasil penelitian para ilmuwan berkenaan dengan dampak perzinaan di masyarakat. Secara ilmiah, perzinaan ialah “hubungan seksual di luar pernikahan”. Ada tiga macam perzinaan: hubungan seksual premarital, hubungan seksual ekstramarital, dan prostitusi. Hubungan seksual premarital adalah “perzinaan yang dilakukan oleh anak-anak muda sebelum pernikahan”. Di Indonesia gejala ini sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Kebebasan bergaul dan pengaruh media pornografis telah mendorong para remaja untuk melakukan hubungan premarital. Belum banyak penelitian dilakukan di sini untuk melihat dampak hubungan premarital. Sarlito, misalnya, menunjukkan peningkatan jumlah “kecelakaan”; yakni, yang hamil sebelum menikah. Hampir dalam setiap kasus, yang paling banyak menderita adalah perempuan. Kehamilan yang tidak direncanakan (unwanted pregnancy) telah mengakibatkan kerusakan pada emosi, pendidikan, hubungan kekeluargaan, keadaan ekonomi, kesehatan, dan keturunan. Banyak psikolog didatangi anak-anak muda yang kebingungan menghadapi perutnya yang makin besar. Mereka takut menghadapi orangtua, mereka mencemaskan pendidikan mereka (bayangkan kecemasan remaja yang baru kelas tiga SMP tetapi sudah hamil), mereka belum siap secara esomional untuk menjadi ibu, mereka tidak akan sanggup menghidupi keluarga. Ketika mereka melahirkan, mereka adalah ibu-ibu muda yang menghadapi faktor risiko yang besar. Kemungkinan kematian baik ibu maupun anak ketika melahirkan cukup besar. Tidak jarang mereka kemudian memilih abortus provocatus.”Dan ketika bayi-bayi yang dibunuh itu ditanya, karena dosa apa mereka harus dibunuh.” (QS 81:8). Di Amerika Serikat, berbagai penelitian membuktikan bahwa hubungan premarital dapat mengurangi ikatan kasih yang di antara kedua belah pihak, menghambat penyesuaian diri di antara mereka, dan mengantarkan mereka pada kemungkinan menderita penyakit kelamin (venereal diseases). “Semua penelitian tentang keharmonisan pernikahan sepakat bahwa mereka yang memasuki pernikahan tanpa hubungan seksual premarital paling besar ke mungkinannya untuk mencapai tingkat keharmonisan keluarga dan paling kecil kemungkinannya untuk bercerai,” tulis Richard Udry dalam The Social Context of Marriage. Jadi ada hubungan antara tingginya tingkat perceraian dengan hubungan premarital. Hal yang sama berlaku bagi orang-orang yang terlibat dalam hubungan seksual ekstramarital; yakni, perzinaan yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah. Di Indonesia, dari beberapa penelitian yang dilakukan Naek Tobing, misalnya, kini kelihatan ada kecenderungan naiknya hubungan ekstramarital. Tentu saja, secara psikologis, “hubungan gelap” seperti itu dapat merusak orang secara psikologis. Perasaan bersalah karena telah mengkhianati pasangan nikahnya dapat berakumulasi. Tidak jarang hubungan ekstramarital memutuskan pernikahan. Secara moral, kesetiaan dan kecintaan yang menjadi semen keluarga telah dihancurkan. Makin meluas hubungan ekstramarital makin rapuh lembaga pernikahan; padahal pernikah. an yang kukuh adalah landasan kekuatan masyarakat. Yang terakhir, prostitusi —walaupun belakangan sudah menjadi kegiatan bisnis yang “menggiurkan”— sebenarnya adalah perbudakan perempuan pada zaman modern. Robert D. Lauer dalam Social Problems and the Quality of Life menyebutkan bagaimana prostitusi merusak kualitas hidup. Pertama, prostitusi merusak kesehatan. Selain berbagai jenis penyakit kelamin— sejak herpes genitalis sampai AIDS para prostitut sering mendapat siksaan fisik dari para langganannya. Untuk melindungi dirinya, mereka meminta bantuan para mucikari atau bodyguard. Pada gilirannya, para pelindung itu lebih mirip sebagai tuan atau nyonya yang memperlakukan mereka sebagai budak-budak belian. Kedua, prostitusi menumpulkan perasaan seksual para pelakunya. Seorang prostitut mengaku di depan peneliti, “Prostitusi bukan saja merendahkan perempuan tetapi juga merendahkan seks. Acap kali saya tidak memahami langganan saya, saya tidak mengerti apa yang mereka peroleh, karena saya merasa tidak memberikan apa apa” (dalam Kate Millet, Women in Sexist Society). Ketiga, karena mereka merasa direndahkan, para prostitut cenderung mengalami gangguan jiwa, mudah bunuh diri atau kecanduan narkotika. Dunia prostitusi tidak jarang bergabung dengan dunia kejahatan. Kezaliman Kezaliman adalah “perbuatan yang menindas orang lain”. Kezaliman dapat berasal dari orang-orang yang memiliki kelebihan sumberdaya finansial atau politikal. Bila Anda pengusaha lalu Anda menarik keuntungan karena membayar karyawan Anda dengan upah yang murah, Anda telah melakukan kezaliman. Tidak perlu menjadi Marxian untuk menyadari proses penindasan seperti ini. Misalkan, pegawai Anda harus memenuhi kebutuhan pokoknya dengan gaji Rp 5.000,000 per jam. Seminggu dia bekerja 45 jam dan seharusnya dibayar Rp 225.000,00, tapi Anda ternyata hanya membayar mereka Rp 15.000. Itu artinya Anda memperoleh keuntungan berlebih sebesar Rp 210.000,00. Itulah darah dan keringat mereka yang Anda pergunakan untuk menikmati hidup Anda. Anda dapat juga melakukan kezaliman politikal. Karena Anda memiliki kekuasaan, Anda merampas hak-hak yang paling dasar dari orang lain. Anda membatasi keinginan mereka untuk mengaktualisasikan dirinya, membungkam mulut mereka, atau menutup peluang bagi mereka untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Anda juga zalim ketika Anda memanfaatkan wewenang yang Anda miliki untuk memperoleh keuntungan yang tidak wajar. Kata Ibnu Khaldun, sepanjang sejarah, para pejabat sering menjadikan kemudahan sebagai komoditas. Dan komoditas seperti itu tidak pernah habis. Mereka dapat menentukan harga sekehendak mereka. Apa yang terjadi bila kezaliman dipertahankan? Masyarakat hanya kuat bila ada ikatan batin di antara para anggotanya. Bila ada segelintir orang memperoleh kemudahan, dan banyak orang mendapatkan kesulitan, masyarakat berada dalam suasana konflik yang disintegratif. Perasaan frustrasi yang meluas karena orang merasa tidak berdaya dapat melahirkan keresahan sosial. Dalam proses waktu, keresahan sosial ini akan berakumulasi dan meledak menjadi faktor yang menghancurkan tatanan yang ada. Tidak jarang kezaliman yang lama runtuh untuk digantikan kezaliman yang baru. Kezaliman, dalam bentuk apa pun, merusak sendi-sendi integrasi sosial. Kezaliman mendehumanisasikan anggota masyarakat. Dalam suasana kezaliman, setiap orang berusaha menzalimi orang lain. Orang merasa menjadi manusia yang bermartabat, bila ia menindas yang lain. Kekerasan kemudian menjadi norma dan kasih sayang menjadi asing. Pada waktu itu, rubuhlah bangsa dan negara. “Sesungguhnya telah kami binasakan generasi-generasi sebelum kamu ketika mereka melakukan kezaliman.‘ (Yunus 13). Kita kutipkan di sini beberapa hadis tentang kezaliman (di. kutip dari Mizan Al-Hikmah 5, Bab “Al-Zhulm”): Jagalah dirimu dari kezaliman (al-haif), karena ia dapat membawa kepada peperangan (al-sayf). Menganiaya yang lemah adalah kezaliman yang terkeji. Allah mewahyukan kepada Dawud a.s.: Katakan kepada orang-orang zalim, janganlah mereka mengingat Aku. Sudah mer jadi kewajiban-Ku untuk mengingat orang yang mengingat-Ku. Dan Aku mengingat mereka dengan melaknat mereka. Tanda orang zalim itu ada tiga; yaitu menginjak yang di bawah dengan kekuasaan, yang di atas dengan kemaksiatan, dan menampakkan kesewenang-wenangan. Penutup Kita sudah menyebutkan akibat tiga dosa besar pada kerusakan masyarakat: syirk, minuman keras, perjudian, perzinaan, dan kezaliman. Kita tidak membicarakan bagaimana Islam memberikan terapi pada orang-orang yang sudah tenggelam dalam dosa. Menyembuhkan masyarakat dari dosa tidak lain dari upaya memperbaiki masyarakat: menghilangkan faktor-faktor yang merusak masyarakat dan mengantarkannya kepada masyarakat ideal yang diridhai Allah SWT. Dan ini semua memerlukan kajian yang luas dan mendalam. JR— Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Laila Majnun: Kekasih dan PencintaOctober 3, 2026Sekarang saya akan mendefinisikan cinta dengan kisah Laila – Majnun. Mungkin cinta bisa dipahami lebih konkret lagi lewat cerita Hakim Nizhami ini. Alkisah, pada zaman dahulu, dari suku Bani Amir, salah satu suku di Jazirah Arabia, ada satu pasangan keluarga yang tidak dianugerahi anak. Mereka mendatangi berbagai tabib agar bisa mendapatkan keturunan. Singkat cerita, akhirnya Tuhan menganugerahkan anak kepada mereka. Anak itu sangat tampan, dicintai oleh setiap orang. Matanya cokelat, rambutnya hitam. la diberi nama Qais. Seperti kebiasaan suku- suku pada zaman itu, anak tersebut dikirim ke sekolah khusus bangsawan. Di sekolah khusus itu, masuk juga anak kepala suku yang lain. Ia seorang perempuan cantik jelita. Rambutnya hitam legam. Matanya pun hitam, sehitam malam hari. Sebab itulah ia dijuluki Laila. Laila dan Qais menjadi teman sekelas. Sejak pertemuan mereka yang pertama, mereka saling tertarik satu sama lain. Dalam perjalanan waktu, api cinta itu timbul, makin menyala. Dan kemudian, bagi mereka, sekolah bukan lagi tempat belajar, melainkan “mahal al-liqa”, tempat pertemuan mereka berdua. Ketika guru sedang memberikan pelajaran, mereka saling memandang. Ketika ada waktu untuk menulis pelajaran, masing-masing menuliskan nama kekasihnya. Tidak ada orang lain. Seluruh dunia ini seakan-akan hilang; seakan-akan dunia ini hanya didiami oleh mereka berdua. Mereka tuli untuk mendengar suara yang lain, selain suara kekasihnya. Akhirnya, orang-orang tahu bahwa di antara mereka berdua ada kisah cinta. Mulailah orang-orang membicarakan mereka sehingga akhirnya pembicaraan itu sampai ke telinga orangtua Laila. Orangtua Laila beranggapan bahwa cinta yang ditampakkan oleh putrinya itu merupakan kejahatan, menodai kehormatan ayahnya sebagai kepala suku. Lalu orangtua Laila datang ke sekolah, meminta agar Laila dikeluarkan. Akhirnya, Laila tidak pernah lagi datang ke sekolah. Begitu Laila “hilang” ꟷdalam tasawuf, ada suatu maqâm yang disebut absence, ketidakhadiran; maqam ini merupakan siksaan yang paling besar bagi seorang pencinta, yakni ketika sang kekasih tidak lagi hadirꟷ berubahlah tingkah laku Qais. Mengetahui Laila tak lagi datang ke sekolah, ia pun akhirnya meninggalkan sekolahnya. Ia mengembara di jalan-jalan, menyebut-nyebut nama Laila, dengan berjalan terseok- seok. Ia menulis puisi untuk Laila dan membacakannya sepanjang perjalanan. Ia tidak berbicara apa pun kecuali tentang Laila. Ketika orang lain mengajaknya berbicara, ia tidak pernah menjawabnya kecuali kalau orang itu membicarakan Laila. Tingkah seperti itu membuat orang-orang menertawakan Qais, bahkan menyebutnya gila. Sejak itulah, nama Qais hilang, digantikan dengan nama Majnun (orang gila). Karena banyak orang mengganggunya, mengalihkan perhatiannya dari Laila, Majnun memutuskan untuk meninggalkan masyarakat sama sekali. la tinggalkan kampung halaman, orangtua, dan sahabat-sahabatnya. Ia pergi ke sebuah puncak bukit di dekat desa Laila. Di bukit itu, ia bangun sebuah gubuk. Dan melalui jendela kecil gubuk itu, ia pandangi rumah Laila. Sepanjang hari, Majnun duduk di depan gubuknya. Di dekat selokan kecil yang mengalir ke rumah Laila, setiap hari ia petik sekuntum bunga. la alirkan bunga itu lewat selokan, dengan harapan di seberang sana Laila menangkap pesan kecintaannya. Ia berbicara kepada burung-burung, meminta mereka untuk terbang ke rumah Laila dan mengatakan kepadanya bahwa Majnun tidak jauh darinya. Ketika angin bertiup dari rumah Laila ke bukit itu, ia hirup angin itu dengan hirupan yang panjang, karena angin itu berasal dari kampung Laila. Kalau ada anjing yang tersesat datang dari kampung Laila, ia pelihara anjing itu baik-baik. la rawat dan ia cintai anjing itu layaknya binatang suci sampai anjing itu meninggalkannya. Apa saja yang datang dari tempat sang kekasih, ia cintai dan sayangi, sama seperti cintanya kepada sang kekasih. Bulan berlalu. Majnun tidak melihat sedikit pun jejak- jejak Laila. Kerinduannya makin bertambah. Ia mulai merasa bahwa ia takkan dapat hidup lagi, tanpa sempat melihat wajah Laila. Kawan-kawannya mendengar penderitaan Majnun. Suatu saat, mereka datang dan membuat rencana untuk mempertemukan Majnun dan Laila. Rencananya sangat bagus. Kawan-kawannya semua menyamar sebagai perempuan yang berkunjung ke rumah Laila. Kita belum bercerita tentang Laila. Sejak meninggalkan sekolah, Laila tidak berbuat apa pun kecuali menyebut nama Qais. Dan aneh, setiap kali mendengar burung berkicau di dekat rumahnya, ia mendengar suara Qais, la juga sering melihat bunga-bunga hutan yang dialirkan lewat selokan. la merasakan seakan-akan bunga-bunga itu adalah surat yang dikirimkan oleh Qais. Ia tidak pernah membicarakan Qais kepada siapa pun, bahkan kepada teman terdekatnya sekalipun. Jadi, kalau kecintaan Majnun diumumkan kepada semua orang, sebaliknya kecintaan Laila disembunyikan dalam-dalam di hatinya. Ia tidak ingin siapa pun mendengar jeritan cintanya. Pada suatu hari, Majnun diantarkan oleh kawan-kawannya mendatangi kamar Laila, dengan menyamar sebagai perempuan. Kawan-kawannya menjaga di luar. Dan entah bagaimana, Laila pun merasakan bahwa pada hari itu akan ada kunjungan dari Qais. Karena itu, ia segera berhias dengan hiasan yang luar biasa. Laila menunggu di dekat pintu. Ketika Majnun masuk, Laila terpukau diam, seakan-akan tak percaya bahwa Majnun betul-betul datang untuknya. Majnun berdiri di pintu untuk beberapa detik, mereguk kenikmatan kerinduan yang sudah sekian lama. Ia tidak berkata apa-apa. Akhirnya, mereka berduaan. Tidak ada yang terdengar, kecuali detak jantung sang kekasih. Mereka saling memandang satu sama lain, tidak sadar akan berlalunya waktu. Pada saat yang sama, salah seorang pembantu di rumah itu memerhatikan ada perempuan tak dikenal berdiri mematung di depan kamar Laila. Segera ia mencurigainya. Akhirnya, pemilik rumah diberi tahu, dan pertemuan itu pun dibubarkan. Sekarang kita bercerita tentang ayah Majnun yang kebingungan oleh perilaku anaknya, apalagi anaknya sudah digelari Majnun, si Orang Gila. Ia berpikir semestinya Qais dikawinkan saja agar kegilaannya hilang. Lalu ia datang melamar Laila. Sebagai kepala suku terhormat, ia berkata kepada ayah Laila, “Saya pikir, ada dua hal yang menentukan kebahagiaan, yaitu anak dan kekayaan. Anak saya sangat mencintai anak Anda, dan kekayaan saya akan saya berikan kepadanya.” Ayah Laila menjawab, “Saya tidak berkeberatan anak saya menikah dengan Qais. Saya tahu, dia anak mulia. Tapi, setiap orang tahu bahwa ia gila. Ia berpakaian seperti pengemis. Mungkin ia sudah tidak mandi selama bertahun-tahun. la hidup bersama binatang dan menjauhi orang banyak. Katakan kepadaku, sahabat, kalau engkau mempunyai anak gadis sepertiku, maukah engkau mengawinkannya dengan orang gila seperti anakmu?” Alhasil, lamaran itu ditolak. Namun, orangtua Qais berusaha untuk menyembuhkan kegilaan Qais. Dalam pikiran mereka, mungkin penyakit Qais akan sembuh dengan pergi haji. Dibawalah Qais untuk pergi haji. Di Baitullah, Majnun berdoa sambil menangis, “Duhai Yang Paling Terkasih, Raja dari segala raja. Engkaulah yang menurunkan rasa cinta. Saya hanya memohon satu hal kepada-Mu. Angkatlah cinta saya setinggi-tingginya sehingga sekiranya saya binasa sekalipun, cinta saya dan kekasih saya tetap abadi.” Mendengar doa itu, bapaknya jatuh pingsan. Alih-alih sembuh, malah kegilaan anaknya bertambah parah. Setelah naik haji, Majnun tinggal di sebuah reruntuhan rumah. Rambutnya panjang. Ia hidup dengan binatang. la nyanyikan kecintaannya kepada binatang-binatang itu. Dari kecintaannya kepada Laila, ia mencintai seluruh binatang yang ada di rimba raya itu. Bahkan, tidur pun ia bersama binatang buas. Binatang buas pun bisa dilunakkan oleh hati yang dipenuhi cinta. Singkat cerita, Laila dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang kaya raya. Ibn Salam namanya. Tapi, Laila mengatakan kepadanya bahwa ia tidak bisa menyentuh Laila sedikit pun karena jiwanya tidak terletak di situ. Sekali lagi, Laila tidak menceritakan cintanya kepada Qais, la sembunyikan cintanya dalam hatinya. Dan suaminya tidak mau mengganggunya. Ia tidak ingin memiliki Laila dengan paksa. Ia berharap, suatu saat Laila akan menyerah. Ketika berita pernikahan Laila sampai kepada Majnun, ia menangis sepanjang hari. la menyanyikan lagu-lagu yang begitu mengharukan. Binatang-binatang pun menangis mendengarnya. la terus-menerus tinggal di reruntuhan. Perasaannya kepada Laila tidak pernah berubah. Bahkan, cintanya semakin bertambah. Kemudian, Majnun mengirim surat ucapan selamat kepada Laila: “Semoga kebahagiaan di seluruh alam semesta diberikan kepadamu. Aku tidak meminta apa pun sebagai tanda kecintaanmu. Aku hanya meminta satu hal: ingatlah namaku, walaupun engkau sudah memilih orang lain sebagai teman dekatmu. Jangan kau lupakan, ada seseorang di tempat lain yang sekiranya tubuhnya dirobek-robek sekalipun, ia akan tetap menyebut namamu: Laila ….” Sebagai jawaban, Laila mengirimkan satu antingnya sebagai tanda kecintaannya. Dalam suratnya, Laila menulis, “Aku tidak pernah ingat satu saat pun dalam hidupku yang kosong dari mengingatmu. Aku sudah menyimpan kecintaanku dalam batinku begitu lama tanpa mampu menceritakannya kepada siapa pun. Sementara engkau teriakkan kecintaanmu kepada seluruh dunia, aku simpan nyala api cintaku jauh di dalam hati, padahal engkau bakar seluruh tempat dengan api cintamu. Aku sekarang menghabiskan waktu dengan seseorang, padahal jiwaku sepenuhnya diberikan kepada orang lain. Katakan kepadaku, wahai Kekasih, siapakah yang paling gila di antara kita dalam bercinta: kau atau aku?” Laila menderita kecintaan dan kerinduan yang tidak tertanggungkan. Akibatnya, ia menderita batuk yang tidak pernah bisa disembuhkan. Laila meninggal dunia. Menjelang akhir hayatnya, ia sempat memandang ke pintu tempat Majnun pernah datang ke kamarnya. Dan… ia pun mengembuskan napasnya yang terakhir. Diam-diam, ia menggumamkan kata: Majnun…. Berita tentang kematian Laila menyebar, dan akhirnya sampai juga ke telinga Majnun. Mendengar berita itu, Majnun pun jatuh pingsan. Beberapa hari ia tak sadarkan diri. Ketika sadar, dengan tertatih-tatih, ia datang ke kuburan Laila. Di situ ia menangis berhari-hari sampai akhirnya Tuhan mengambil nyawanya. Tubuh Majnun tergeletak di kuburan Laila selama setahun. Tidak ada orang yang tahu. Sampai ketika diadakan haul kematian Laila, orang-orang datang ke kuburan, dan menemukan mayat Majnun di atas pusara Laila. Mayat Majnun akhirnya dikuburkan bersama dengan mayat Laila dalam satu kubur, di tempat yang sama. Di tempat yang abadi itulah, keduanya bertemu. Sebagai akhir cerita, ada seorang sufi bermimpi melihat Majnun berada di samping Tuhan, dan Tuhan membelai-belai kepalanya dengan penuh kecintaan dan kasih sayang. Majnun disuruh duduk di samping Tuhan, kemudian Tuhan berkata kepadanya, “Tidakkah engkau malu memanggil Aku dengan nama Laila setelah kau teguk anggur cinta-Ku?” Sufi itu terbangun dalam keadaan cemas, la sudah melihat posisi Majnun. Lalu, di mana posisi Laila? Tuhan kemudian mengilhamkan ke dalam hatinya bahwa posisi Laila lebih tinggi lagi, karena Laila menyembunyikan kisah cintanya dalam hatinya. Belajar Cinta dari Majnun Dalam tingkah laku Majnun itulah, cinta didefinisikan dengan sangat konkret. Misalnya, Majnun mencintai apa saja yang datang dari tempat kekasihnya. Angin, bahkan anjing kudisan pun, ia cintai, karena anjing itu berasal dari tempat kekasihnya. Bagi Majnun, tidak ada kenikmatan yang paling besar selain menyebut-nyebut nama kekasihnya. Orang yang sudah mencintai Tuhan seperti “Majnun mencintai Laila”, mungkin akan dianggap gila oleh orang-orang lain. Salah satu dalil mengapa kita boleh mencium kuburan Rasulullah bisa kita jelaskan dari syair Majnun. Majnun membuat puisi-puisi kerinduannya kepada Laila. Dalam salah satu puisinya, Majnun berkata: Aku melewati rumah, rumah Laila Kucium dinding ini, dinding ini Tidaklah cinta rumah yang memenuhi hati Tapi cinta kepada dia yang tinggal di rumah ini Kepada dia yang berada Di balik dinding ini Sebagaimana Majnun, kalau mencintai seseorang, kita akan menyukai apa saja yang datang dari orang itu, misalnya, pembicaraannya atau suaranya. Karena itu, salah satu cara untuk memperkuat kecintaan kita kepada Allah ialah dengan banyak membaca dan mempelajari Al-Quran. Itu syarat pertama. Kita tidak bisa mencintai Dia kecuali lewat sesuatu yang datang dari-Nya; dan Al-Quran adalah kalam Allah yang datang dari-Nya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, Al-Quran ini adalah hidangan (yang diberikan oleh) Allah. Maka, pelajarilah hidangan itu semampu kamu.” Al-ma’dûbah dalam teks hadis itu adalah makanan yang dihidangkan oleh seseorang sebagai penghormatan kepada tamunya, atau makanan khusus yang diberikan kepada sese- orang yang kita sukai. Al-Quran adalah maʼdûbatullâh, hidangan Allah. Para pencinta yang ingin menikmati kerinduannya kepada Allah Swt. akan membaca Al-Quran atau akan menyuruh orang lain untuk membacakannya. Rasulullah juga sering menyuruh orang membacakan Al-Quran untuknya. Seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, kau suruh aku membaca Al-Quran, padahal ia diturunkan kepadamu.” Nabi bersabda, “Aku ingin mendengarkannya dari orang lain.” Ketika sahabat itu membacakan Al-Quran, Rasulullah menangis terisak-isak. Sahabat itu menghentikan bacaannya karena mendengar Rasulullah menangis. Tapi, Rasulullah menyuruhnya untuk meneruskan bacaan. Itulah tangisan kerinduan. Ada belasan munajat yang disampaikan Imam Ali Zainal Abidin yang isinya ꟷkalau Anda perhatikanꟷ merupakan bisikan-bisikan mesra dari seorang pencinta kepada kekasihnya. Saya akan menyampaikan salah satu munajat penempuh thariqat (munajat al-muridîn). Saya menggambarkannya sebagai contoh bahwa doa ini adalah berupa munajat, bisikan. Aku memohon kepada-Mu, Jadikan daku yang paling banyak mendapat karunia-Mu; Yang paling tinggi kedudukannya di sisi-Mu; Yang paling besar bagiannya dari cinta-Mu; Yang paling utama memperoleh ma’rifat-Mu; Untuk-Mu saja tercurah keinginan-Ku; Kepada-Mu jua terpusat hasratku; Hanya Engkaulah tempat kedambaanku, Tidak ada yang lain; Karena Engkau sajalah, aku tegak terjaga, Tidak karena yang lain; Perjumpaan dengan-Mu, kesejukan hatiku; Pertemuan dengan-Mu, kecintaan diriku; Kepada-Mu, kedambaanku; Kepada cinta-Mu, tujuanku; Pada kasih-Mu, gelora cintaku; Ridha-Mu, tujuanku; Melihat-Mu, keperluanku; Mendampingi-Mu, keinginanku; Mendekati-Mu, puncak permohonanku; Dalam menyeru-Mu, ada damai dan tenteramku; Di sisi-Mu, penawar deritaku, penyembuh lukaku, Penyejuk dukaku, pengobat pedihku. Doa-doa seperti ini disebut munajat, whispers. Tetapi, itu bukan berarti kita tidak boleh berzikir keras. Ada saat-saat ketika kita harus berzikir secara keras, tetapi bukan ketika kita mengungkapkan cinta kepada Allah. Dalam peperangan, misalnya, kita dianjurkan untuk berzikir dengan keras. Karena Tuhan adalah Zat Yang Mahasuci dan hanya bisa didekati oleh orang-orang suci, maka ketika seseorang hendak kembali kepada-Nya, ia harus berada dalam keadaan suci. Karena itu, kata “kembali” dan “bersuci” dalam Al-Quran didekatkan: innallah yuhibb al-tawwabin wa yuhibb al-mutathahhirîn, Tuhan mencintai orang yang terus-menerus kembali dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri (QS Al- Baqarah : 222). Karena itu pula, salah satu riyadhah untuk memperoleh kecintaan Allah ialah memelihara wudhu kita. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Swt. berfirman, “Siapa yang hadas dan tidak berwudhu, ia sudah meninggalkan-Ku. Siapa yang berwudhu, tetapi tidak shalat dua rakaat, ia juga sudah melalaikan-Ku. Siapa yang shalat dua rakaat, tetapi tidak berdoa kepada-Ku, ia juga telah mengabaikan-Ku. Siapa yang hadas, kemudian berwudhu, shalat dua rakaat, dan berdoa kepada-Ku, tetapi Aku tidak memperkenankan doanya, baik urusan agama maupun dunia, berarti Aku sudah meninggalkannya. Dan Aku bukanlah Tuhan yang suka meninggalkan kekasih-Ku.” Saya pernah membaca tulisan Hasan Zadeh Amuli berikut: “Ketahuilah, wahai pembaca budiman. Sesungguhnya, wudhu adalah cahaya. Selalu berada dalam keadaan suci ada- lah alat agar engkau naik menuju alam yang suci, alam al-quds. Inilah aturan yang agung, yang diajarkan oleh agama kita. Kemudian, jika engkau selesai shalat, maka sujud dan bacalah doa pada waktu sujud itu: Allahummarzuqni halawatadz dzikri wa liqâ’ik wal-hudhur ‘indak (Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku manisnya menyebut nama-Mu, indahnya pertemuan dengan-Mu, dan hadir di hadapan-Mu).” Dalam QS Al-A’raf (7): 31 disebutkan bahwa Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Karena itu, kalau ingin memperoleh cinta Tuhan dan belajar mencintai-Nya, kita harus menghindari hal-hal yang tidak disukai-Nya, dan menyukai apa saja yang disukai-Nya. Dalam kisah Laila-Majnun yang lengkap diceritakan bahwa Laila mempunyai sekawanan kambing. Kambing-kambing itu dibiarkan merumput di lapangan. Majnun memeluk kambing-kambing itu dengan pelukan mesra karena mereka kepunyaan Laila. Sampai-sampai Majnun iri hati kepada kambing-kambing tersebut karena mereka bisa berjumpa dengan Laila, sedangkan dirinya tidak. Akhirnya, entah mendapatkan ilham dari mana, Majnun kemudian menyamar jadi kambing. Menjadi kambing sekalipun ia mau asal bisa menatap wajah Laila. la mau meletakkan dirinya dalam keadaan hina sekalipun, asal bisa memandang wajah Laila. Imam Khomeini berkata, “Ibadah yang sebenarnya tidak akan bisa dicapai kecuali dengan menyadari ‘izzah rububiyyah dan dzillah ‘ubûdiyyah.” Maksudnya, ibadah seperti itu tidak bisa diperoleh sebelum kita merasakan kemuliaan Tuhan dan kehinaan diri kita. Dalam QS Al-A’raf (7): 31 itu disebutkan, makan dan minumlah. Dan janganlah berlebih-lebihan. Oleh karena itu, ketahuilah, wahai Kekasih, usaha- kanlah agar engkau mengurangi makan dan minum jika engkau mau belajar mencintai Allah Swt. Jika seseorang banyak makan dan minum yang membuatnya lalai terhadap ibadah, hatinya akan keras, matanya akan jumud (beku). Mata yang jumud artinya mata yang sukar meneteskan air mata. Orang yang kenikmatannya hanya makan dan minum, ruhnya ꟷdi alam ruhaniꟷ berbentuk babi (khinzir). Jadi, puasa adalah latihan untuk mencintai Allah Swt. Rasulullah pernah berkata kepada Aisyah, “Hai Aisyah, rajin-rajinlah mengetuk pintu surga!” “Bagaimana kami harus mengetuk pintu surga?” tanya Aisyah. “Dengan lapar dan dahaga,” jawab Rasulullah. Kita berharap agar pintu surga dibukakan untuk kita. Kita adalah Majnun yang mengetuk pintu rumah Laila dengan lapar dan dahaga. Sayang sekali, kecintaan Tuhan itu tersembunyi dari kita. Kita tidak mengetahui kecintaan Tuhan kepada kita. Jadi, kita tidak tahu apakah pintu itu sudah dibukakan untuk kita atau belum. Namun, Al-Quran memberitahukan kepada kita bahwa ada tanda terbukanya pintu, yaitu “Hai jiwa yang tenteram, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. “Yakni, dalam keadaan cinta dan dicintai.Ridha adalah salah satu bagian dari cinta. Dengan demikian, salah satu tanda terbukanya pintu surga untuk kita adalah jiwa yang tenteram. Jika jiwa kita sudah merasa tenteram, itu pertanda bahwa pintu surga telah terbuka. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
FATAL ATTRACTIONSeptember 30, 2026DALAM Al-Quran dikisahkan tentang Yusuf yang berhasil menepis godaan Zulaikha. Karena keberhasilannya menghindari rayuan “maut”, fatal attraction, Tuhan menganugrahkan kepadanya bukan hanya kenabian tetapi juga kemampuan memahami takwil mimpi. Pandangannya melewati batas-batas dunia lahir dan menembus jauh ke alam batin. Seperti Nabi Yusuf, seorang pedagang kain di sebuah pasar di Baghdad hampir saja jatuh pada jebakan setan. Pada suatu hari seorang perempuan cantik memilih-milih kain dan membeli banyak. Dengan pandangan menggoda, ia meminta pedagang kain itu untuk mengantarkan barang ke rumahnya. Setelah tokonya ditutup, ia bersiap-siap untuk mengantarkannya. Mengenang kecantikan perempuan itu, ia mengganti pakaiannya dan memercikkan wewangian pada tubuhnya. Dengan semangat berkobar, sebetulnya dengan nafsu yang menggelegak, ia berjalan menuju tujuannya. Di pertengahan jalan, seperti Yusuf, ia memperoleh kilatan cahaya, “melihat bukti dari Tuhannya”. Ia sadar bahwa ia sedang bergerak dikendalikan oleh hawanafsunya, digiring ke neraka seperti kerbau dicocok hidung. Ia dihadapkan pada dua pilihan: meneruskan antaran barang itu ke rumah perempuan itu dan jatuh pada godaan atau membatalkan antaran itu dan tidak memenuhi janjinya untuk melayani pelanggan. Ia memilih yang ketiga. Ia masuk ke dalam terowongan air kotor. Ia keluar dengan pakaian yang lusuh dan tubuh yang berbau busuk. Barang diterima, tetapi pemikul barang ditolak. Pedagang kain itu kembali ke tokonya dengan jiwa yang bersih dan roh yang harumnya semerbak. Tuhan menganugrahkan kepadanya kemampuan untuk menakwilkan mimpi. Ia menulis buku Takwil Mimpi, yang menjadi rujukan kaum muslim selama berabad-abad. Nama pedagang kain itu Ibnu Syirin. Al-Ghazali bercerita tentang Sulayman bin Yasar, lelaki yang terkenal paling tampan di zamannya. Bersama sahabatnya, ia berangkat menunaikan ibadah haji. Di kota kecil yang namanya Abwa, mereka beristirahat. Setelah makan bersama, kawannya berangkat ke pasar untuk berbelanja. Sulayman duduk sendirian di kemahnya. Seorang perempuan badawi melihatnya dari atas bukit. Ia turun dan menghampirinya. Ia terpesona betul dengan ketampanan Sulayman. Ia berkata: Senangkan aku. Sulayman mengira perempuan itu menginginkan makanan. Ia berikan semua sisa makanan yang ada. Perempuan itu berkata: Aku bukan menginginkan makanan. Aku mau apa yang biasa dilakukan seorang lelaki pada istrinya. “Iblis telah mengutus kamu kepadaku!,” hardik Sulayman. Kemudian, ia meletakkan mukanya di antara kedua lututnya dan menjerit meraung-raung. Melihat itu, perempuan itu berlari kembali kepada keluarganya. Ketika kawannya pulang, ia melihat mata Sulayman masih sembab dan ia masih terisak-isak. Kawannya bertanya tentang apa yang terjadi. Dengan berat, ia mengisahkan peristiwa perempuan Arab gunung itu. Akhirnya, keduanya menangis. Setelah sampai di Mekah, Sulayman melakukan tawaf, Sa’i, dan menyelesaikan umrahnya. Setelah itu ia pergi ke Hijir Ismail, duduk melonjor sampai kantuk memagutnya. Dalam mimpi ia melihat lelaki tinggi, yang luar biasa tampannya dan yang semerbak harumnya. “Semoga Allah menyayangimu, siapakah Anda?”“Saya, Yusuf”“Yusuf Nabi yang sangat setia!”“Benar”“Dalam peristiwa kamu dengan istri menteri itu ada hal yang menakjubkan”“Tetapi kejadianmu dengan perempuan Abwa itu lebih menakjubkan” Walhasil, kemampuan Anda untuk mengendalikan seks dapat mengantarkan Anda pada kedudukan para Nabi. Rem dalam diri Anda yang kokoh menyelamatkan Anda dari bencana dalam perjalanan menuju Tuhan. Dalam posisi seperti itu, mata batin Anda akan menjadi lebih tajam, sehingga Anda mampu melihat ke alam malakut. Seperti dalam hadis berikut ini, Tuhan akan melindungi dan menolong Anda dalam saat-saat kesempitan. Rasul Allah bercerita, “Ada tiga orang pada zaman dahulu melakukan perjalanan. Pada suatu malam mereka berlindung di dalam gua. Tiba-tiba runtuhlah bebatuan gunung dan menutup pintu gua. Mereka berkata: kalian tidak akan selamat keluar dari bukit ini kecuali kalau kalian berdoa kepada Allah dengan mengenang amal saleh kalian. Seorang lelaki di antara mereka berkata: Ya Allah, Engkau tahu dahulu aku punya ayah bunda yang tua-renta. Aku selalu memberikan minuman kepada mereka di malam hari sebelum keluargaku yang lain dan sebelum hartaku. Pada suatu hari aku terlmbat pulang karena mencari kayu bakar. Ketika aku sampai di rumah, kedua orangtuaku sudah tidur. Aku mengambil air susu untuk mereka; aku dapatkan mereka suadah tertidur dan tidak ingin memberikannya sebelum mereka kepada anak istriku. Begitulah berlangsung semalaman. Dengan cawan susu itu di tanganku, aku menunggu mereka bangun sampai terbit fajar dan anak-anakku kehausan di hadapanku. Ketika mereka bangun, keduanya meminum air susu itu. Ya Allah, jika Engkau tahu aku melakukannya karena mengharapkan ridoMu, bebaskanlah kami dari penjara bebatuan ini. Gua itu pun terbuka sedikit, tetapi tidak memungkinkan mereka semua keluar. Yang berikutnya berkata: Tuhanku, Engkau tahu dahulu aku jatuh cinta sama saudara sepupuku perempuan. Aku mengajaknya berkencan, tetapi ia menolakku. Aku menderita karenanya selama satu tahun. Kemudian ia datang kepadaku dan kuberi dia seratus dua puluh dinar agar mau berkencan denganku. Ia menerimanya sampai ketika aku hampir melakukannya ia berkata; Takutlah kepada Allah, janganlah engkau menggauliku kecuali dengan haq. Aku lepaskan dia dan aku tinggalkan dia, padahal dia orang yang paling aku cintai. Aku tinggalkan uang emas yang kuberikan kepadanya. Ya Allah, jika aku melakukannya semata-mata karena takut kepadaMu, bebaskanlah aku dari tempat ini. Gua itu pun terbuka sedikit, tetapi tidak memungkinkan mereka semua keluar. Berkata yang ketiga: Ya Allah, dahulu aku mempunyai pegawai yang selalu aku bayarkan gajihnya, kecuali seorang di antara mereka. Ia meninggalkan upahnhya yang merupakan haknya. Ia pergi begitu saja. Aku kembangkan upahnya itu sehingga menjadi kekayaan yang banyak. Selang berapa lama ia datang lagi padaku, “Hai hamba Allah, berikan upahku. Aku berkata: Semua yang kamu lihat itu berupa unta, sapi, kambing, dan budak, semuanya milikmu. Dia berkata: Wahai hamba Allah, jangan bermain-main denganku. Aku berkata: Aku tidak bermain-main, ambillah. Ia punmengambil seluruhnya dan tidak menyisakan sedikitpun. Ya Allah, jika aku melakukan semuanya itu karena mengharapkan ridoMu, lepaskanlah kami dari tempat ini. Terbukalah pintu gua itu dan semuanya keluar dengan selamat.” (H.S. Al-Bukhari). Kisah Nabi saw melukiskan tiga orang yang berhasil mengendalikan hawa nafsunya. Orang pertama pasti sudah terdesak oleh kehausan dan kelelahan untuk minum. Ia tahan semuanya demi berkhidmat kepada ibu-bapaknya. Orang kedua sudah tentu telah dipenuhi gairah cinta untuk memuaskan nafsunya. Ia tinggalkan “mangsanya” karena takut kepada Allah. Orang ketiga jelas tergiur dengan kesempatan untuk memanfaatkan upah buruhnya untuk memperkaya dirinya. Ia tampik kesempatan itu demi mengharapkan rido Allah. Ketiga orang itu adalah wali-wali Allah, yang pasti dipenuhi doanya. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
ISLAM MASA DEPANSeptember 29, 2026Kita telah melihat banyak problem yang dihadapi oleh umat Islam yang perlu dipecahkan sungguh-sungguh di zaman sekarang. Dari soal ukhuwwah Islamiyyah yang masih rentan sampai soal kepemimpinan dan keberanian berkurban, ada celah-celah yang pantas segera kita benahi lewat Islam aktual. Glasnost, perestroika, globalisasi, dan semacamnya adalah input bagi umat Islam untuk mengadakan perbaikan dan perubahan-perubahan mendesak dan perlu. Sudah tiba saatnya umat Islam tak hanya jadi penonton tapi pemain yang bergulat dengan segala macam problem dunia. Mampukah umat Islam tampil kembali sebagaimana pada Zaman Keemasan dulu? Sudah siapkah kita untuk memimpin dunia? Saya akan menutup buku ini dengan melihat Islam di masa datang dan apa peran yang dapat dimainkan oleh umat Islam Indonesia yang —menurut saya— memiliki potensi luar biasa di kancah dunia. Masa Depan Islam Baru saja Aljazair melakukan pemilihan umum. Mengejutkan sekali, untuk pertama kalinya apa yang disebut oleh Barat sebagai partai fundamentalis Islam menang. Partai pemerintah kalah. Abbas Madani, pemimpin Partai Keselamatan Nasional, dikenal sebagai tokoh Islam yang berpengaruh. Penduduk Aljazair adalah Sunni, sehingga ini adalah kemenangan kelompok Islam pertama di kalangan Sunni. Tetapi yang mengherankan, negeri-negeri yang mayoritas Sunni menyambut kemenangan ini dengan dingin. Yang antusias menyambutnya justru Iran, yang mayoritas Syi’ah. Apakah artinya ini? Kita melihat ada kecenderungan global untuk kembali kepada Islam sebagai alternatif dari sistem-sistem yang ada. Yang terjadi sekarang adalah konflik antara kelompok yang hendak menampilkan Islam supaya lebih berperan dalam kehidupan modern dan kelompok yang ingin mempertahankan status quo. Kelompok pertama sering disebut fundamentalis; dan di mana-mana mereka mulai merebut hati kaum Muslim. Kelompok fundamentalis ini terdapat dalam berbagai mazhab —Sunni dan Syi’ah. Mereka tidak diikat lagi oleh pandangan sektarian yang sempit. Yang mengikat mereka adalah pandangan hidup Islam, dan bukan soal-soal furu’iyyah yang kecil. Dalam naungan Islam, wawasan mereka terbuka (openminded) dan menghargai perbedaan pendapat —selama mereka berjuang menjunjung tinggi ajaran Islam. Gejala yang sama terjadi di Indonesia— khususnya di kalangan anak-anak muda. Mereka tidak lagi terikat paham modernis atau tradisional. Mereka hanya terikat dengan nilai-nilai Islam universal. Mereka mengembangkan wawasan mereka lewat buku-buku yang mulai deras mengalir. Tidak jarang jamaah sekarang lebih mengerti tentang Islam daripada muballigh. Mereka tidak mempersoalkan mazhab lagi. Mereka hanya memikirkan apa jawaban Islam terhadap masalah modern. Kegiatan yang termasuk dalam bidang ini adalah Islamisasi ilmu pengetahuan, perumusan ekonomi Islam, konsep pembangunan yang Islami, dan sebagainya. Gejala baru ini tentu saja bertubrukan dengan kelompok Islam status quo, yang terbiasa tinggal dalam sekat-sekat mazhab yang sempit. Di Indonesia sekat-sekat ini seringkali lebih sempit lagi. Bukan lagi Syafi’i atau Hanafi, tetapi Muhammadiyah dan NU; dan bahkan lebih sempit lagi kelompok-kelompok sempalan. Saya berpendapat bahwa kelompok sektarian ini akan tergeser dalam waktu yang akan datang. Mereka sekarang ini sedang mengalami krisis. Untuk itu seperti gejala alamiah yang biasa menjelang kematian mereka pun mengeluarkan energi yang terakhir. Mereka aktif menantang sikap terbuka ini dengan mengkafirkan, mencela, dan mencemooh kelompok yang lain. Pengajian diisi dengan sikap membenarkan kelompok sendiri dan membongkar-bongkar aib kelompok lain. Yang menjadi sasaran adalah anak-anak muda itu, yang memang mempunyai masa depan. Inilah sebetulnya latar belakang tumbuhnya kelompok-kelompok sempalan. Kelompok sempalan juga dapat tumbuh karena rasa tidak puas terhadap jawaban atau prestasi Islam status quo. Mereka melihat berbagai krisis pada kelompok Islam yang sudah mapan: krisis ukhuwwah, krisis keikhlasan, krisis pendirian, dan krisis kesetiaan kepada umat Islam. Ketika mereka mencari-cari jawaban, mereka ditawari jawaban-jawaban yang sederhana oleh “imam-imam” kecil. Dalam kerangka inilah kita harus melihat peristiwa Lampung, dan lain-lain itu. Barangkali secara statistik, kesadaran moral agama justru naik. Tetapi arus pembaratan sangat deras. Media massa, lembaga-lembaga sosial memberikan peluang para remaja untuk berhubung an sangat intensif di antara mereka. Mereka dihadapkan pada berbagai rangsangan yang menggunakan teknologi modern. Lihat saja, bagaimana film-film kita lebih “berani”, dan bagaimana pemegang monopoli film impor cenderung mengimpor film yang “jorok”. Pada saat yang sama, pemuda sekarang tidak dapat segera menikah. Mereka harus menyelesaikan studi, mereka harus mencari pekerjaan (yang seringkali tak kunjung ketemu), sehingga mereka harus menangguhkan kebutuhan biologisnya. Sebagian tidak sanggup menahan bendungan. Inilah yang menimbulkan apa yang ditemukan oleh penelitian John Nimpuno, dan lain-lain. Sebagian remaja memperoleh ketenangan dalam ajaran agama. Bagi mereka, makin besar tantangan, makin kuat mereka berpegang pada ajaran agama. Agama menjadi “sanctuary“. Inilah yang menyebabkan muncul pesantren kilat, meningkatnya program pengkajian agama Islam, dan pengajian-pengajian di masjid pun dipenuhi oleh anak-anak muda. Kalau kita menengok kepada gejala tersebut, kita akan mengambil kesimpulan bahwa kesadaran agama justru sedang naik. Cuma kita belum tahu proporsi pemuda yang ke masjid dengan yang ke disco. Mungkin perlu penelitian. Potensi Umat Islam Indonesia Umat Islam Indonesia adalah potensi sumber daya manusia Islam terbesar di dunia. Indonesia adalah negara yang seluruh penduduknya beragama Islam kecuali beberapa persen saja. Dalam sebuah negara demokrasi, seharusnya karena umat Islam mayoritas − Islam menjadi dominan secara kultural, ekonomi, maupun politik. Kemudian, umat Islam juga memiliki sumber daya alam tanah, kebun, dan sebagainya. Umat Islam juga mempunyai sejarah perjuangan yang cukup lama, sehingga tidak berlebihan kalau mereka mengklaim negara ini sebagai hasil perjuangan mereka. Di samping itu, umat Islam mempunyai organisasi-organisasi yang telah berpengalaman dalam membina dan mengembangkan umat. Terakhir, umat Islam mempunyai sejumlah ulama, cendekiawan, pengusaha, politisi yang belakangan ini concern terhadap misi Islam. Pelbagai potensi ini belum seluruhnya dioptimalkan. Sumber daya manusianya secara kualitatif masih sangat tertinggal oleh umat Islam di negara-negara lain. Nilai-nilai Islam tidak menjadi rujukan utama dalam perilaku sehari-hari. Vatiakotis, wartawan Far Eastern Economic Review, pernah berkata, “Saya sering lupa. bahwa saya berada di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.” Mengapa? Karena dia tidak melihat nilai-nilai Islam tersosialisasi di masyarakat. Selain itu, tradisi keilmuan pun belum memasyarakat. Pengetahuan baik keislaman maupun non-keislaman di masyarakat kita masih rendah. Seperti pernah dikatakan Nurcholish Madjid, kita lebih banyak menjadi konsu men ketimbang produsen ilmu. Yang sering menyedihkan kita ialah kenyataan bahwa di samping mempunyai sejarah perjuangan yang panjang, kita pun mempunyai sejarah perpecahan yang panjang juga. Fanatisme golongan seringkali menghancurkan potensi ini. Akibatnya, kita tidak pernah mempunyai pemimpin —baik ulama, cendekiawan, maupun politisi— yang dapat diterima oleh semua golongan, Tidak perlu disebutkan bahwa keadaan ini telah melemahkan juga penggunaan sumber daya alam yang kita miliki. Kita harus menyadari bahwa ulama adalah inti kekuatan umat. Sepanjang sejarah, nilai-nilai Islam dilestarikan dan disebarkan lewat para ulama. Ulama dapat berperan sebagai, pertama, pengawal ajaran Islam, kedua, juru bicara aspirasi dan kepentingan umat Islam, ketiga, rujukan umat dalam mengatasi persoalan yang mereka hadapi, dan keempat, integrator umat yang dapat menyatukan seluruh potensi umat. Tentu saja untuk berperan seperti itu, ulama harus memiliki keluasan pengetahuan seorang filosof, kebersihan pribadi para sufi, militansi prajurit, dan kecerdikan seorang negarawan. Sementara itu, umat harus diajak kembali mengikuti kepemimpinan ulama. Berkaitan dengan kebangkitan umat Islam, maka pertama-tama kita harus mendefinisikan kata “kebangkitan” secara cermat. Apakah kebangkitan itu adalah tumbuhnya kesadaran beragama yang lebih intens atau tampaknya syiar-syiar agama yang bersifat ritual atau diaktualkannya potensi yang ada (misalnya, memper oleh kekuasaan politik dan ekonomi). Menurut saya, kebangkitan yang sebenarnya harus diukur dari sejauh mana kita berhasil mengaktualkan potensi kita (secara ekonomis, politik, dan kultural). JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
PENDERITAAN PARA PENGIKUT KELUARGA RASULSeptember 27, 2026Kita telah mengetahui bahwa cinta harus ditumbuhkan atau dibina. Kata Shakespeare, cinta itu seperti air yang turun dari langit. Hujan itu turun di mana saja yang dia kehendaki. Jadi, cinta itu pun tidak bisa didugaduga. “Dia akan jatuh ke mana saja yang dia kehendaki.” Saya kira, itu tidak benar. Pertama, pernyataannya itu salah dalam premisnya; karena hujan tidak jatuh pada tempat yang tak disangka-sangka. Hujan jarang jatuh di padang pasir. Hujan akan jatuh di tempat-tempat yang mempunyai kelembapan udara tertentu. Sebetulnya, jatuhnya hujan itu dapat diduga. Kedua, cinta itu bisa dibina, bisa ditanamkan. Dan salah satu upaya untuk menanamkan kecintaan kita kepada Rasulullah adalah dengan berusaha mengenal riwayatnya. Dalam hal ini, ada peribahasa Jawa —yang kita kenal— yang terbukti secara ilmiah: “witing tresno jalaran soko kulino”. Permulaan kasih itu lantaran mengenal. Kita cenderung mencintai hal-hal yang kita kenal dengan baik. Kalau Anda melihat seekor kucing yang setiap pagi datang ke rumah Anda, Anda akan mengenal kucing itu dengan baik. Suatu saat, kalau kucing itu mati, saya percaya, Anda kalau tidak meneteskan air mata-akan sedih dengan kematiannya. Itu lantaran kucing tersebut telah Anda kenal dengan baik. Tetapi, kalau kucing itu tidak pernah datang ke rumah Anda, Anda tidak akan merasa sedih. Jadi, kecintaan itu tumbuh dengan subur karena kita mengenal. Karena itu, kita harus mengenal riwayat Rasulullah dengan baik. Kita harus mengenal akhlaknya, perjuangannya, dan sejarahnya. Begitu pula, riwayat keluarga Rasulullah harus kita kenali. Oleh karena itu, usaha-usaha orang munafik dan orang-orang kafir untuk merobohkan tonggak Islam ini ialah dengan mengenalkan Rasulullah dan keluarganya dengan hal-hal yang jelek. Lihat buku-buku orientalis tentang Rasulullah. Mereka menggambarkan Rasulullah dengan sangat menjengkelkan. Pernah saya menulis kritikan atas buku-buku itu di majalah Kiblat, tetapi orang tidak bereaksi. Sebab, waktu itu orang Islam belum mempunyai kekuatan. Ketika Salman Rushdie menulis, baru orang Islam bereaksi; itu pun sebagian saja. Mereka adalah orang-orang yang mencintai Rasulullah dengan tulus; karena orang yang tidak cinta tentu tidak peduli. Sebagaimana kita ketahui, salah satu tanda kecintaan kita kepada seseorang yaitu akan merasa tersinggung kalau orang yang kita cintai diejek atau dicemoohkan. Ujian bagi para Pencinta Mengapa mereka secara sistematis mendiskreditkan Rasulullah? Sebab, mereka tahu bahwa kalau orang Islam sudah kehilangan kecintaan terhadap Rasulullah, runtuhlah seluruh tonggak agama itu. Karena itulah, kita akan berusaha membersihkan nama Rasulullah dari hadis-hadis yang menodai kesucian Rasulullah. Kita akan menolak riwayat yang mengatakan Rasulullah berperilaku seperti anak kecil atau bercakap-cakap seperti orang bodoh. Semuanya itu demi kecintaan kita kepada Rasulullah. Dalam bersikap seperti itu, ternyata banyak juga para ulama yang bereaksi keras. Ada beberapa orang mengatakan di radio bahwa saya sudah berlebih-lebihan dalam menggunakan akal. “Padahal, akal harus tunduk kepada wahyu,” kata mereka. Jadi, tidak masuk akal kalau Rasulullah berperilaku seperti itu. Kita tidak boleh mempertanyakan riwayat-riwayat Rasul. Padahal, sekali lagi, itu kita lakukan dalam rangka mencintai Rasulullah. Untuk mengetahui tulusnya kecintaan adalah dengan ujian. Saya akan menggambarkan dengan analogi bagaimana ujian itu. Dalam psikologi cinta, ada yang disebut coquetry. Wanita kalau sudah mengetahui bahwa seorang lelaki mencintainya —dari indikator-indikator tertentu yang biasanya segera tampak— ia ingin yakin apakah si lelaki itu benar-benar mencintainya atau tidak. Maka, wanita itu akan berperilaku yang dikatakan para psikolog sebagai coquetry, ujian untuk mengetahui kesungguhan si lelaki tersebut. Strateginya tidak akan saya sebutkan di sini; pokoknya dia mempunyai cara untuk menguji. Pada manusia, cara pengujian itu sangat canggih, sangat halus. Pada binatang, pengujiannya kasar. Misalnya, ayam. Kalau mulai dikejar oleh ayam jago —ayam betina sebetulnya mau sama si ayam jago— si ayam betina tidak mau menyerah begitu saja. Ayam betina akan lari, kemudian dikejar. Begitu ayam jago kelelahan dan berhenti, si ayam betina berhenti juga. Kemudian dikejar lagi, dan ayam betina pun lari lagi. Ayam betina menguji dengan cara kasar. Pada manusia, tentu cara itu diperhalus, dipercanggih dengan teknologi dan pengetahuan. Mengapa? Itulah cara alam untuk menguji kecintaan seseorang. Karena itu, kalau orang berkata kepada Rasulullah, “Saya mencintaimu, ya Rasulullah,” Rasulullah berkata, “Bersiap-siaplah menghadapi bala.” Memang, kalau Anda mencintai Rasulullah dan keluarganya, bersiap-siaplah menghadapi ujian dalam hidup Anda. Salah satu di antaranya mungkin Anda akan dicerca, dicemooh, atau dimaki-maki. Apakah Anda bertahan dalam kecintaan itu atau tidak? Kalau membaca riwayat para pencinta Rasulullah dan keluarganya, Anda akan mengetahui bahwa mereka mengalami ujian-ujian yang luar biasa dalam hidup mereka. Misalnya, pada zaman Muawiyah, selama delapan puluh tahun, keluarga Rasulullah dicaci di mimbar-mimbar. Selama delapan puluh tahun, Imam Ali dicaci di mimbar-mimbar. Orang-orang yang tidak mau mencaci maki akan berhadapan dengan penguasa waktu itu. Hujr bin Adi contohnya. Suatu saat, ada seorang khatib yang di akhir khutbahnya mengutuk keluarga Rasulullah. Hujr bin Adi protes. Begitu mendengar khatib mengutuk keluarga Rasul, dia berdiri mengutuk khatib itu. Hujr bin Adi segera ditangkap dan dikubur hidup-hidup. Pernah juga terjadi pada zaman Al-Hajjaj. Di dalam suatu masjid, ketika Al-Hajjaj berbicara mengutuk keluarga Rasul, orang-orang ribut. Apa yang dilakukan Al-Hajjaj? Semua jamaah dalam masjid, kecuali Al-Hajjaj tentunya, dipotong tangannya. Sebab, para jamaah itu tidak mau ikut mencaci maki keluarga Rasul. Ada suatu tradisi waktu itu: kalau orang mau mencaci orang lain, ucapan makiannya adalah “Ya Ali”. Di mimbar-mimbar, makian itu betul-betul ditanamkan untuk membenci Ali sebagai orang yang paling jahat, orang yang murtad. Ada seorang ulama pencinta Imam Ali yang menamai anaknya Ali. Waktu itu, orang yang menamai anaknya dengan Ali, sangat mungkin kehilangan anaknya. Tetapi, anak yang telah menjadi ulama itu pintar. la pernah berkata, “Nama saya bukan Ali, melainkan Uli.” Ditulisnya memang sama: ‘ain-lam-ya. Di antara perawi hadis, hanya ada satu nama Uli, yaitu nama ulama tersebut. Dengan kepintarannya itu, dia selamat dari pengejaran orang, sampai dia menjadi ulama besar. Ada peristiwa lain yang terjadi pada zaman Umar bin Abdul Aziz —kelak dia menjadi khalifah. Pada masa kecilnya, dia mempunyai guru. Gurunya itu seorang pencinta keluarga Rasul, tetapi dia menyembunyikan kecintaannya dengan pertimbangan keselamatan. Karena berilmu, dia dipilih oleh khalifah untuk mengajar anaknya. Suatu saat, Umar bin Abdul Aziz memaki saudaranya, “Hai Ali, hai murtad.” Karena dia terus-menerus mencaci saudaranya, si guru tidak tahan mendengar cemoohan itu; tidak tahan menyembunyikan kecintaannya kepada keluarga Rasul. Dia memanggil muridnya, dan berkata kepadanya, “Kamu tahu siapa Ali bin Abi Thalib yang kamu ucapkan sebagai cacian itu?” Muridnya menjawab, “Dia murtad, orang jahat, … dan lain-lain.” “Ketahuilah, dia ini menantu Rasulullah. Dialah yang berbaring di ranjang Rasulullah ketika Rasulullah hijrah. Dialah yang tentangnya Rasulullah berkata, ‘Aku kota ilmu dan Ali pintunya,” kata sang guru. Maka, berceritalah sang guru memuji Imam Ali dengan panjang lebar sampai-sampai —ketika berbicara tentang hadis-hadis dengan khusyuk— sang guru kehilangan kesadaran akan lingkungannya. Kemudian diceritakanlah oleh Umar bin Abdul Aziz ihwal itu kepada bapaknya. Si guru dipanggil. Apa yang dilakukan oleh ayah Umar bin Abdul Aziz? Karena si guru mengajarkan kecintaan kepada keluarga Rasul lewat lidahnya, yang pertama mendapat hukuman adalah lidahnya. Lidahnya dipotong dan sesudah itu orangnya dibunuh di hadapan muridnya. Setelah berkuasa, Umar bin Abdul Aziz teringat akan gurunya dan merasa berdosa karena menyebabkan kematiannya. Begitu menjadi khalifah, yang pertama dia lakukan adalah melarang khatib mencaci Imam Ali di akhir khutbahnya. Sebelum itu, di akhir khutbahnya, orang mengutuk Imam Ali. Bagian akhir itu, oleh Umar bin Abdul Aziz, kemudian diganti dengan kalimat yang kini kita dengar sering dibacakan para khatib ketika berkhutbah Jumat. Kita harus sampaikan rasa syukur kita kepada Allah dan ucapan terima kasih kepada Umar bin Abdul Aziz yang telah menggantikan kutukan dengan kata-kata yang bagus: “Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat baik, memberi pertolongan bagi kerabat, dan melarang berbuat keji dan mungkar serta zalim. Dia mengajari kamu agar mendapat peringatan” (QS Al-Nahl : 90). Jadi, sepanjang sejarah, para pencinta keluarga Rasulullah selalu dirusak kehormatannya. Oleh sebab itu, saya akan sampaikan kepada Anda-kalau Anda mencintai keluarga Rasulullah “Bersiap-siaplah menghadapi bala (ujian).” Namun, meskipun telah bersiap-siap, kita juga perlu berdoa, “Allahummaghfir liyadz Dzunûbal lati tunzilul bala, ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bala.” JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
MEMAHAMI DEFINISI CINTASeptember 25, 2026Saya tertarik untuk mengutip pembahasan kata cinta dari Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah yang terdapat dalam kitab Madarij Al-Salikîn bain Manâzil lyyaka Na’budu wa Iyyaka Nastaîn. Kitab setebal tiga jilid ini hanya membahas ayat lyyāka na’budu wa iyyaka nastaîn. Pembahasannya itu, ia sebut sebagai madarij al-sâlikîn, tahapan-tahapan yang ditempuh oleh para musafir yang menuju Tuhan; bagaimana bergerak di antara manzilah-manzilah iyyaka na’budu wa iyyaka nastaîn. Ibn Al-Qayyim bercerita tentang manzilah al-mahabbah, stasiun-stasiun cinta, dan perjalanan menuju Allah Swt. Ibn Al-Qayyim memulainya dengan berkata, “Tidak mungkin cinta didefinisikan secara lebih jelas kecuali dengan cinta lagi (La tuhadd al-mahabbah bi haddin awdhah minha).” Karena itu, menurutnya, definisi cinta adalah wujud cinta itu sendiri (fahadduha wujuduha). Dengan demikian, cinta tidak bisa digambarkan lebih jelas kecuali dengan cinta lagi (La tushaf al-mahabbah fi washfin azhhar min al-mahabbah). Yang menarik, ia bercerita tentang asal-usul kata hubb dalam bahasa Arab. Dalam pandangannya, dengan meneliti asal-usul kata hubb, kita akan sampai kepada definisi cinta. Dalam bahasa Arab, setiap akar kata mempunyai hubungan satu sama lain. Arti pertama kata hubb adalah al-shafa’ wa al-bayadh, yang bersih putih. Bagian gigi yang putih bersih disebut dengan habab al-asnân. Habba memiliki satu akar kata dengan kata habab. Arti kedua adalah al-‘uluww wa al-zhuhur, menonjol, tampak. Orang Arab menyebut bagian air hujan yang paling tinggi dan paling atas dengan kata habab, habab al-ma, bagian air yang paling atas. Mereka juga menyebut kata yang sama untuk air yang melimpah di atas gelas. Kata habba-yahubbu- hubban dipakai juga untuk yang menelungkup dan tidak mau bangun-bangun. Mereka menyebut habb al-ba’ir kepada unta yang sedang menelungkup. Jadi, arti ketiga adalah al-luzum wa al-tsubût, terus-menerus berada di suatu tempat. Arti keempat, sesuatu yang merupakan inti sesuatu, dalam bahasa Arabnya disebut al-lubb. Hati nurani dalam bahasa Arab disebut habab al-qalb, jantung hati. Jadi, maknanya adalah asal segala sesuatu. Biji buah-buahan yang menjadi benih disebut habbah. Karena itu, dalam ayat Al-Quran, ada kata habbah yang artinya biji yang tumbuh. Atau seperti terdapat dalam hadis Nabi, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji (habbah) sawi dari rasa takabur.” Pengertian “biji” dalam hadis ini memakai kata habba. Yang kelima, habba berarti memelihara, menjaga, atau menahan (al-hifzh wa al-imsak). Al-imsak artinya menjaga dan menahan. Orang menyebut tutup botol air, yang menahan agar air itu tidak tumpah dan menjaganya agar tidak kotor dan tercemari, dengan hibb al-ma’. Kata Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah, cinta bisa kita definisikan dengan seluruh makna asal dari kata cinta itu. Dengan demikian, ada lima syarat cinta, yaitu sebagai berikut: Al-shafa’ wa al-bayadh, yakni kemurnian, kebersihan, dan ketulusan. Seseorang yang mencintai (seseorang atau sesuatu), cintanya harus bersih dari kecintaan kepada selainnya. Kalau cintanya bercampur, itu bukan cinta. Al-‘uluww wa al-zhuhur, yakni tinggi dan tampak. Dengan demikian, kecintaan kita harus tampak. Namun, Allah mempunyai hak prerogatif untuk menyembunyikan cinta- Nya kepada kita. Pada bagian berikutnya dari tulisan ini, saya akan mengantarkan cinta kepada Tuhan dengan cerita yang terkenal di kalangan sufi, yaitu cerita tentang Laila-Majnun. Cerita Laila-Majnun ditulis oleh seorang sufi bernama Hakim Nizhami, yang katanya sendiri belajar tasawuf langsung dari Nabi Khidir. Dalam konsep mistik Islam, Nabi Khidir memegang peranan yang sangat penting. Menurut riwayat, Doa Kumail juga disebut dengan Doa Nabi Khidir. Konsep Khidir, dalam tasawuf, agak istimewa. Sampai-sampai Henry Corbin menulis khusus tentang konsep Khidir dalam tasawuf Islam. Hakim Nizhami melahirkan enam karya besar dalam tasawuf. Tapi, seluruh kisah sufi itu digambarkan dengan cerita cinta. Antara lain, cerita tentang Laila-Majnun itu.  Al-luzum wa al-tsubût, yaitu keinginan untuk terus-menerus bersama dengan yang dicintai. Sebagaimana unta yang menelungkup dan tidak mau bangun-bangun, seperti itu pula seorang pencinta di hadapan kekasihnya. Habab al-qalb, yaitu menyerahkan seluruh hidup, diri, dan hati kepada orang yang dicintai. Al-hifzh wa al-imsak, yaitu berusaha memelihara cinta, menjaganya, dan merawatnya. Sesudah itu, Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan tiga puluh definisi tentang cinta. Saya hanya akan menyebutkan beberapa, di antaranya sebagai berikut: Cinta adalah ketertarikan yang abadi dengan hati yang gelisah (Al-mahabbah al-ma’il al-da’im bi al-qalb al-ha’im). Itulah sebabnya, orang menyamakan cinta dengan api, seperti dalam ungkapan “Terbakar api cinta”. Salah satu doa para imam ada yang berbunyi: “Bakarlah hati kami dengan kecintaan kepada-Mu.” Cinta adalah mendahulukan sang kekasih dari seluruh rekan yang lain (Al-mahabbah itsar al-mahbub ‘ala jami’ al-mashhub). Cinta adalah menyertai sang kekasih, baik dalam terang- terangan maupun sembunyi-sembunyi (Al-mahabbah muwafaqah al-habib fi al-syahadah wa al-maghib). Cinta adalah menganggap kecil sesuatu yang banyak yang berasal dari dirimu sendiri, dan menganggap banyak se suatu yang sedikit yang berasal dari kekasihmu (Al-mahabbah istiqlal al-katsir min nafsik wa istiktsar al-qalil min habibik). Jadi, kalau seorang pencinta saling mencintai dengan kekasihnya, maka cinta yang sebenarnya akan terjadi kalau masing-masing sudah memberi banyak, tetapi merasa apa yang diberikan masih sedikit. Sebaliknya, sesuatu yang sedikit dari kekasihnya dirasakan sangat banyak, sangat berharga, betapapun kecilnya. Hal ini diwujudkan dalam mahabbah kepada Allah dengan ungkapan lain: “Kau pandang banyak kejahatanmu yang sedikit, dan kau pandang sedikit ketaatanmu yang banyak (Istiktsar al-qalil min jinayatik wa istiqlal al-katsir min tha’atik)”. Jadi, kalau Anda sudah mampu memandang banyak kejahatan Anda, walaupun masih sedikit, dan memandang sedikit ketaatan Anda, meskipun banyak, itu berarti Anda sudah mencapai cinta. Contoh konkretnya, apabila Anda sudah merasa banyak mengeluarkan infak, Anda belum mencintai Tuhan. Imam Ali Zainal Abidin sering dimintai bantuan oleh orang. Setiap kali orang datang meminta tolong kepadanya, Ali Zainal Abidin berkata, “Selamat datang sahabat yang akan menolong memikulkan bekalku di hari akhirat! (marhaban liman yahmil zâdi ilâl akhirah).” Beliau menganggap orang yang meminta bantuan itu sebagai kuli yang memikulkan beban perbekalannya di akhirat. Karena itu, setiap orang yang datang meminta tolong kepadanya, beliau sambut dengan wajah yang cerah. Kita selalu mengernyit setiap kali ada orang yang meminta tolong. Sering kali kita merasa sudah terlalu banyak memberikan bantuan. Bahkan, dengan bangga kita mengeluarkan fatwa, “Sudah, jangan bantu dia. Saya sudah banyak membantunya.” Jika mencintai seseorang, kita akan merasa pemberian kita selalu kecil meskipun sudah memberinya macam-macam. e. Cinta adalah api dalam hati, yang membakar apa saja selain kehendak sang kekasih (Al-mahabbah nar fi al-qalb tahriq mâ siwa murad al-mahbub). Kalau dalam hati seseorang muncul kehendak di luar kehendak kekasih, ia me nundukkan kehendak itu sehingga dalam hatinya hanya ada kehendak sang kekasih. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Cinta SejatiSeptember 22, 2026Yang menguatkan cinta kita kepada Tuhan adalah banyak bertobat. Suatu hari, pada hari Ahad bulan Dzulqa’dah, Rasulullah keluar. Beliau bersabda, “Hai manusia, siapa di antara kamu yang mau bertobat?” Lalu kami menjawab, “Kami semua ingin bertobat, ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Mandilah kamu, kemudian berwudhu dan shalatlah empat rakaat, boleh juga dipisah dengan dua salam. Pada setiap rakaat, bacalah Surah Al-Fatihah 1 kali, Al-Ikhlash 3 kali, serta Al- Falaq dan Al-Nas masing-masing 1 kali; kemudian istighfar 70 kali, dan ditutup dengan Lâ haula wala quwwata illa billah al-‘aliyy al-‘azhim. Baca juga ‘Ya ‘Azîz, ya Ghaffar, ighfir lidzu nubi, wa lil mu’minin wal-mu’minât. Fa innahû la yaghfirudz dzunub illâ antâ (Wahai Yang Mahaperkasa, wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah dosa-dosaku dan dosa seluruh Mukminin dan Mukminat. Sesungguhnya, tidak akan ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau).’ “ Kemudian, Rasulullah bersabda lagi, “Siapa saja dari umatku yang melakukan shalat tobat itu, maka namanya akan disebut di langit, tobatnya diterima, dan dosanya diampuni. Malaikat di bawah Arasy akan memanggilnya dan berkata, ‘Hai seorang hamba, Allah sudah memberkatimu, keluargamu, dan keturunanmu. Kemudian, malaikat yang lain berkata, “Hai seorang hamba, engkau akan mati dalam keadaan iman, dan aku tidak akan mencabut agama dari dalam hatimu selama-lamanya; akan aku luaskan kuburanmu dan akan aku terangi di dalamnya.’ Malaikat yang lain berkata, ‘Hai seorang hamba, engkau sudah membuat ridha kedua orang tuamu. Sebab itu, orangtuamu diampuni dosa-dosanya karenamu, begitu juga keturunanmu. Dan engkau akan berada dalam keluasan rezeki di dunia dan di akhirat.’ Kemudian, Malaikat Jibril berkata, ‘Akulah yang nanti akan datang bersama malaikat maut menjemputmu dengan penuh kasih sayang; kematian tidak akan menakutkanmu; dan ruhmu akan keluar dari jasadmu dalam keadaan selamat.'” Demikianlah pahala atau keutamaan shalat tobat. Tanda Cinta Sejati Alkisah, seorang raja diminta untuk membawa mayat kepada seorang pendeta. Mayat itu menceritakan beberapa kisah kepada raja. Ini salah satunya. Ketika mendengar jawaban raja atas sebuah pertanyaan yang diajukan si mayat, si mayat terkejut, hingga ia melesat dari tangan raja dan bergantung di pohon asap. Lalu raja menurunkannya, membawanya lagi untuk diantarkan ke seorang pendeta. Kemudian mayat itu berkata, “Kasihan kamu ini, bolak-balik terus. Bagaimana jika aku bercerita lagi untuk menghabiskan waktu? Tapi, kamu harus menjawab pertanyaanku. Jika tidak, akan kupecahkan kepalamu. Ceritanya begini: “Ada seorang perempuan cantik jelita. Ia belum mendapat jodoh. la ingin mempunyai suami yang memiliki salah satu dari tiga syarat, yaitu (1) pintar, (2) sakti mandraguna, dan (3) pemberani. Suatu hari, bapaknya pergi. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seseorang. Ketika ia bercerita bahwa anaknya sangat cantik, orang itu mau melamarnya. ‘Apa kamu mempunyai satu dari tiga syarat itu?” tanya si bapak. “Ya, saya orang sakti. Saya bisa membuat kendaraan di angkasa.’ Lalu orang itu membuat kendaraan tersebut untuk membuktikan kesaktiannya kepada si bapak. Bahkan, orang itu mengajaknya berkeliling alam semesta sampai ke black hole. ‘Kalau begitu, saya setuju. Datanglah nanti pada tanggal 7 bulan depan untuk saya nikahkan dengan putri saya.’ “Gadis itu mempunyai seorang kakak yang pekerjaannya berdagang. Dalam perjalanan ke pasar, kakaknya bertemu dengan seseorang. Orang itu juga ingin melamar adiknya. Orang itu mengatakan bahwa ia pintar, mampu memberikan makna kepada seluruh peristiwa yang terjadi di dunia ini. ‘Baik, kalau begitu, datanglah pada tanggal 7 bulan depan untuk saya nikahkan dengan adik saya.’ Saat itu tentu saja belum ada handphone, sehingga si bapak dan si kakak tidak bisa saling berkomunikasi. Kebetulan, pada hari yang sama, ibu gadis itu didatangi oleh calon lain di rumahnya. Ia seorang serdadu pemberani yang suka berperang. Oleh ibunya, pelamar itu pun diterima. “Tepat pada tanggal 7 yang telah ditentukan, seluruh keluarga itu panik. Sebab, ada tiga pelamar yang mau menikahi gadis di keluarga tersebut. Saat sedang panik itu, mendadak si gadis yang diperebutkan menghilang. Bapaknya kebingungan, dan bertanya kepada pelamar yang pintar, ‘Di mana anakku?’ ‘la dibawa oleh seorang raksasa, masuk ke sebuah gua di Bukit Mahameru,’ jawabnya. Lalu ia memberikan petunjuk dengan jelas. ‘Jika begitu, mari kita susul,’ kata si bapak. la meminta bantuan kepada pelamar yang sakti untuk menciptakan pesawat angkasa, sambil membawa pelamar ketiga (yang pemberani) untuk merebut anaknya dari raksasa. “Singkat cerita, mereka menemukan raksasa itu. Tapi, ia tidak mau menyerahkan si gadis begitu saja. Maka, pelamar pemberani itulah yang berhadapan dengan raksasa. Mereka pun berkelahi mati-matian. Akhirnya, raksasa itu terbunuh, dan si putri pun selamat. Persoalannya sekarang, kepada siapakah gadis itu harus diberikan? Ketiga pelamar itu sangat berjasa, dan masing-masing merasa paling berhak menjadi suami si gadis. Kata pelamar yang pintar, ‘Kalau saya tidak memberitahukan tempat persembunyian raksasa, kamu tidak akan berhasil melawannya meskipun kamu pemberani. Walau pun mempunyai kendaraan angkasa, kamu juga tidak akan tahu ke arah mana kendaraanmu harus dikemudikan. Jadi, sayalah yang berhak.’ “Pelamar yang sakti berkata, ‘Meskipun kamu memiliki ilmu dan mengetahui tempat raksasa itu, ilmumu sia-sia saja jika tidak ada teknologinya. Ilmumu tidak bermanfaat kalau tidak ada kendaraan yang mengantarkannya.’ Pelamar yang pemberani pun berkata, ‘Walaupun kamu memiliki ilmu, mengetahui di mana gadis itu, dan kamu mempunyai kendaraan, tetapi jika aku tidak mengorbankan darahku bertarung dengan raksasa tadi, tidak mungkin gadis ini bisa selamat.” “Sekarang, jawablah, Raja. Siapakah di antara ketiganya yang paling berhak atas gadis itu. Jika tidak, kepalamu akan kupecahkan,” kata si mayat. Lalu raja menjawab, “Ilmu itu hanya alat. Kendaraan hanya teknologi. Yang betul-betul mencintai gadis itu adalah dia yang rela mengorbankan nyawanya, menumpahkan darahnya, dan berjuang mati-matian untuk merebut kekasihnya. Dialah yang paling berhak menjadi suami gadis itu.” Ilmu dan teknologi hanya alat semata. Sebetulnya, kekasih Allah bukanlah orang yang paling mengerti tentang Tuhan. Bukan pula orang yang mempunyai wahana untuk menjalankan cara-cara mendekatkan diri kepada Allah. Kekasih Allah yang sebenarnya adalah orang yang mau mengorbankan darahnya untuk Dia; orang yang mau mati-matian menderita untuk Dia. Al-maut ayat al-hubb al-shadiq, kematian adalah tanda cinta yang sebenarnya. Setelah menelusuri hakikat cinta, marilah kita bertanya pada diri: sudahkah kita berusaha mencintai Allah dan Rasul-Nya? JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
PASRAH KARENA CINTASeptember 18, 2026Malam itu, di sebuah bilik pengap penjara Auschwitz terjadi kegemparan. Tiga orang napi melarikan diri. Penguasa penjara meledakkan kemarahannya dengan mengambil sepuluh napi untuk dihukum mati. Franciszek Grajowniczet, salah seorang napi yang diambil tersebut, menjerit, “Duhai istri dan anak-anakku yang malang. Aku takkan melihat mereka lagi.” Mendengar itu, Maximillian Kolbe menggantikan Franciszek. Kolbe beserta sembilan orang lainnya disekap di bawah tanah. Dua minggu kemudian, mereka dikeluarkan dari tempat itu dan sudah menjadi mayat, kecuali Kolbe. Ia masih hidup. Akhirnya, ia pun dibunuh dengan suntikan asam karbolik ke tangannya. Apa yang menyebabkan Kolbe memiliki daya tahan luar biasa? Apa yang mendorongnya untuk menggantikan kawannya? “Rahasia dari kekuatan ekstra untuk bertahan ini, saya kira, ada hubungannya dengan teologi tertentu atau makna tertentu yang diberikannya pada kehidupan. Menurut saya, kemungkinan besar yang menimbulkan keberanian ini adalah keterikatan orang beriman kepada Tuhan; sebutlah kecintaannya kepada Tuhan. Atau paling tidak, kecintaannya kepada keyakinannya,” tulis Celia Haddon dalam The Miraculous Power of Love. “Kekuatan cinta memang menakjubkan. Untuk merangsang kecerdasan, kita memerlukan kasih ibu. Tanpa orang- orang baik di sekitar kita, dalam keluarga dan pergaulan, sebagian di antara kita mati. Tanpa cinta, manusia tidak bisa hidup bahagia. Cinta penting untuk ketenangan jiwa dan raga kita, seperti halnya vitamin, makanan bergizi, olahraga, dan lingkungan yang sehat. Di Barat, masyarakat berusaha menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk semua orang—drainase yang baik, air minum bersih, perawatan kesehatan, jaminan sosial masa tua, bantuan khusus bagi ibu-ibu, anak-anak sekolah, rumah jompo dan rumah sakit. Sebuah struktur negara yang perkasa digunakan untuk melayani kebutuhan pokok manusia yang bersifat fisik. Tapi, kita tidak menemukan cinta di dalamnya,” masih kata Haddon. Kita khawatir bahwa modernisasi telah membawa kita kepada situasi yang sama. Ekonomi kita ditegakkan di atas dasar keuntungan semata. Kita tidak lagi tersentuh dengan derita rakyat kecil yang tanahnya digusur. Kita pura-pura tidak tahu ketika ribuan orang kehilangan mata pencaharian karena ulah kita. Politik, kita bangun hanya untuk kekuasaan. Kita tusuk kawan seiring, kita kecoh lawan, kita singkirkan semua pesaing tanpa belas kasihan. Sistem sosial kita bertopang pada popularitas semata. Sebagai pengganti kasih sayang, kita dewakan kemasyhuran; seperti laron yang harus me ngejar-ngejar cahaya dan mati sebelum atau sesudah menyentuhnya. Keberagamaan kita juga menjadi sejumlah doktrin kering untuk memenggal kepala orang, atau menjadi seperangkat kosmetik untuk menutup borok kita. Kita menjadi Malaikat Zabaniyyah, yang berwajah masam, yang siap memasukkan siapa saja, selain kita, ke neraka. Atau kita termasuk orang yang menjadikan agama sebagai permainan dan hiburan (QS Al-An’am : 70). Upacara-upacara agama, kita selenggarakan seperti menggelar festival tanpa ruh dan kehangatan. Islam berarti pasrah, berserah diri. Karena apa kita pasrah kepada Dia? Karena tuntutan sosial, keuntungan ekonomis, atau melarikan diri dari frustrasi. Bila kita agak “maju”, kita pasrah kepada Dia karena mengharapkan pahala, ganjaran, atau pamrih. Tuhan menjadi sosok yang kita “suruh” untuk memuaskan egoisme kita. Lebih maju lagi, kita berserah diri karena takut siksa, hukuman, dan kekuasaan-Nya. Di atas kita, para filsuf pasrah kepada Dia karena tuntunan akalnya. Agama itu akal. Tidak ada agama buat orang yang tidak berakal. Namun, masyarakat kita kini tengah merindukan keberagamaan yang lain. Bukan hanya akal. Kita ingin pasrah kepada Dia karena cinta. Suatu hari, Dzunun Al-Mishri, pengikut mazhab cinta, berkunjung kepada orang sakit. la mendapati si sakit sedang mengaduh. Dzunun berkata, “Tidak sejati seseorang mencinta apabila ia tidak sabar akan pukulannya.” Si sakit menukas, “Tidak sabar dalam mencinta bila ia tidak menikmati pukulannya.” Dari sudut rumah, ada suara, “Tidaklah men cintai kami secara sejati orang yang masih mengharapkan kecintaan selain kami.” Al-Mutanabbi berpuisi: “Sekiranya aku bisa mengendalikan kejap mataku, aku tidak akan membukanya, kecuali ketika melihatmu.” Kita juga mendapatkan sentuhan cinta Ilahi dalam puisi L.K. Ara, penyair Aceh. Doa Orang Buta Tuhan beri sinar kepada mereka yang awas matanya Tuhan beri cahaya kepada mereka yang memandang dunia dengan mata terbuka Tuhan, kepadaku, kirim saja percik kasih-Mu Tidak untuk membuka mataku Tapi untuk menyiram hatiku Salahkah orang yang pasrah kepada-Nya karena akalnya? Tidak. Dia diberi sinar untuk membuka matanya. Salahkah orang yang pasrah karena takut akan hukuman-Nya atau karena menginginkan pahala-Nya? Tidak. Banyak jalan menuju Dia. Salah satu di antara jalan itu adalah jalan kesucian yang ditempuh para sufi. Mereka yang dikirim percik kasih Tuhan, untuk menyirami hatinya. Inilah keberagamaan yang membuat Anda tulus dan perkasa. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...

Buku Karya KH. Jalaluddin Rakhmat

« ‹ of 2 › »

Videografi

This error message is only visible to WordPress admins

Unable to retrieve new videos without an API key.

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

Audiografi

UJR-MFR

“Jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun”

​KH. Jalaluddin Rakhmat
@katakangjalal

Contact Jalan Rahmat

Jl. Kampus II No. 13-15. Kiaracondong. Bandung


Tip for new players: before depositing anywhere, check which self-exclusion schemes the operator participates in, since some UK users deliberately choose casinos not on gamstop for fewer restrictions — always set your own budget first.