Warisan intelektual

untuk perkhidmatan

dan pencerahan pemikiran

Quotes
0
Articles
0
Videos
0
Audios
0

Jalan Rahmat

Misi Kami

Di Jalan Rahmat, kami berusaha menghadirkan kembara intelektual itu. Perjalanan dan pengelanaan beliau mengarungi ‘jagat’ semesta itu. Ada dokumentasi karya beliau. Puluhan buku, ratusan artikel, ribuan ceramah. Ada rekaman audio dan video. Ada pula karya-karya para guru bangsa, baik sahabat karib Allah yarham, para intelektual sezaman, maupun karya-karya para ulama besar yang mempengaruhi jagat kembara intelektual beliau. Jalan Rahmat adalah sebuah digital library yang ingin menghadirkan kembali semangat intelektual itu.

Jalaludin Rakhmat - Tauziah
Digilib

Donasi dan Beasiswa

Donasi dan Beasiswa untuk sekolah, madrasah, klinik, dan ragam kegiatan lainnya.

tauziyah

Digital Library

Kumpulan Ceramah, Artikel, Buku, Video dari para Guru Bangsa.

healthcare

Jalan Kecintaan

Warisan terutama dan teramat berharga dari Allah yarham adalah mengantarkan kami dan kita semua pada jalan menuju kerinduan dan kecintaan Sang Rahmatan lil ‘alamin. Itulah makna Jalan Rahmat yang sesungguhnya.

Latest Post

TANGGUNG JAWAB INTELEKTUAL MUSLIMSeptember 5, 2026“Allah tidak memberikan ilmu kepada seorang ‘alim, kecuali Allah menuntut darinya perjanjian yang telah dituntut kepada para Nabi” Nabi Muhammad Saw. Dapatkah kita melihat atau meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang? Dapatkah kita melongok sejarah masa datang —a glance at tomorrow’s history? Dapat, kata Ali Syariati—tokoh yang boleh dianggap sebagai cendekiawan Muslim yang “mengislamkan” masyarakat kampus di Teheran, dan mengantarkan mereka kepada Revolusi Islam di Iran. Ia mengibaratkan masyarakat sebagai sebuah kerucut. Pada puncak kerucut, ada kelompok berpendidikan tinggi. Jumlahnya sedikit, dan bergabung dengan elit lainnya. Di bawah, dengan diameter lingkaran yang lebih besar, adalah massa rakyat. Kelompok terpelajar berada jauh di atas massa; mereka tidak termasuk massa. Tetapi, selain kedua kelompok ini, pada setiap zaman ada kelompok yang berbeda dengan massa (sehingga tidak dapat dikelompokkan bersama mereka), tetapi juga tidak sejalan dengan pemikiran dominan kaum terpelajar. Mereka adalah kaum terpelajar yang “menyimpang”. Mereka mengumandangkan pemikiran baru yang bertentangan dengan pemikiran populer di zamannya, berbeda dengan Zeitgeist. Menurut Syariati, kita dapat melihat masa depan dengan memperhatikan sifat-sifat kelompok ketiga ini. Pada Abad Pertengahan, kaum terpelajar terdiri atas para pendeta dan ahli-ahli agama. Mereka belajar di gereja untuk menemukan kebenaran agama, kemudian membimbing umat dengan tradisi-tradisi keagamaan yang berlaku di zaman itu. Pada zaman itu muncullah beberapa pendeta —dan orang-orang terpelajar—yang menyimpang dari tradisi intelektual zamannya. Di saat kawan-kawannya memuja Tuhan, mereka memuja sains. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah Kepler, Galileo, Copernicus, atau Michael Servetus. Zaman kemudian berbalik. Kaum terpelajar sekarang memuja sains. Tokoh-tokoh agama dicemoohkan, dan ateisme menjadi Zeitgeist yang baru. Sains dianggap hanya berurusan dengan hal-hal empiris, dapat diukur dan diverifikasikan. Agama—karena tidak empiris dan tidak dapat diukur—harus dikesampingkan. Ideologi kelompok terpelajar yang baru ialah memuja sains, mematuhinya sebagai pedoman hidup, dan mengabaikan tuntunan dan dogma-dogma agama. Inilah yang terjadi sekarang. Tetapi, di kala kebanyakan kaum terpelajar memuja sains, muncul kelompok intelektual yang mengkritik sains dan mengajak orang kepada kepekaan agamawi. Mereka dibesarkan dalam tradisi sains; banyak di antara mereka memenangkan hadiah Nobel. Termasuk di dalam kelompok ini ialah Guenon, penulis Crisis of the Modern World, Alexis Carrell, pengarang L’homme, c’est inconnu, dan tokoh-tokoh tak asing, seperti Max Planck, Georges Gurvitch, Einstein, Boris Pasternak, pengarang Dr. Zhivago. Banyak tokoh mulai berbicara tentang perasaan keagamaan, dan beberapa ahli fisika dengan yakin mengatakan, “Kita sedang berjalan menghampiri ambang agama.” Perasaan keagamaan mereka berbeda dengan perasaan keagamaan massa; perasaan keagamaan yang berada di atas sains —keyakinan keagamaan yang suprasains. Menurut Syariati, masa depan dunia akan diwarnai oleh kelompok ini. Ia berkata, “Mazhab pemikiran masa depan —berbeda dengan mazhab kaum terpelajar kini —adalah mazhab pemikiran yang agamawi— suatu keyakinan keagamaan yang tidak lebih tinggi daripada sains.” Kita tidak tahu apakah ramalan Syariati itu tepat. Sejarahlah yang akan membuktikannya. Yang menarik kita ialah kenyataan. bahwa dewasa ini gerakan-gerakan Islam di dunia, umumnya, dipimpin oleh kaum intelektual. Masjid-masjid hampir digeser oleh kampus sebagai markas pemikiran dan pengembangan Islam. Ilmuwan-ilmuwan yang dididik Barat kembali dengan kecintaan kepada Islam. Mahasiswa-mahasiswa menunjukkan penghayatan yang lebih mendalam atas Islam, ketimbang para pendahulunya, Dengan gaya Syariati, kita dapat mengatakan bahwa Islam mereka berbeda dengan Islam orang kebanyakan; Islam mereka adalah Islam yang suprasains. Bila dahulu kaum intelektual mencemooh Islam sebagai lambang keterbelakangan, dan merasa bangga meniru Barat, kini muncul kaum intelektual yang fasih berbicara tentang Islam dan mengkritik Barat. Mahasiswa-mahasiswa sudah mulai membicarakan al-Ghazali, al-Maududi, Sayid Quthb, Mutahhari, dan pemikir-pemikir Islam lainnya. Bolehkah kita mengatakan bahwa zaman baru buat Islam sudah menyingsing. Akan lahir masyarakat yang memiliki keyakinan keagamaan yang suprasains. Kelompok Islam yang baru ini jelas tidak berada di bawah kerucut, tetapi juga tidak di atas kerucut; mereka adalah embrio masa depan Islam. Kecenderungan untuk menentang Zeitgeist bukan saja tampak pada pemikiran, tetapi juga pada cara-cara berperilaku (mannerism). Berhadapan dengan mereka adalah kelompok lain yang lebih besar—yang cenderung mendukung status quo atau mempromosikan westernisasi. Antara kedua kelompok ini terjadi konflik nilai—tampak atau tersembunyi. Pada dinamika interaksi ini, di manakah letak posisi kaum intelektual Islam? Sebagai manusia yang dikaruniai oleh Allah dengan kelebihan ilmu, maka apakah tanggung jawab mereka untuk membentuk masyarakat kampus yang tegak di atas nilai-nilai Islam? Secara khusus, tujuan tulisan ini ialah (1) membuktikan bahwa intelektual Muslim adalah hommes engages, manusia yang terikat dengan kewajiban menerapkan nilai-nilai Islam, (2) menjelaskan — dengan merujuk kepada Al-Quran kewajiban, moralitas, dan metode kaum intelektual Muslim, dalam memikul tanggung jawab di atas. Intelektual Muslim sebagai Hommes Engages “Di dalam bahasa Inggris, kata intelektual dikenakan kepada sejenis pribadi tersendiri yang telah mengalami kecerdasan dan kehalusan budi lewat pendidikan budaya. Orang boleh tinggi tingkat kesarjanaan dan sangat ahli di dalam lapangan pekerjaannya, tetapi selama ia tidak punya minat ataupun peka kepada rangsang-rangsang budaya, ia belumlah berhak dinamakan intelektual. Di dalam masyarakat berbahasa Inggris, orang akan tercengang mendengar sebutan intellectual ditujukan kepada orang yang sama sekali tidak menaruh perhatian kepada perkembangan budaya bangsanya,” tulis sastrawan Subagio Sastrowardoyo. Bila kita mengambil pengertian intelektual seperti dalam bahasa Inggris, maka seorang ilmuwan Muslim yang tidak menaruh perhatian kepada perkembangan umat Islam, tidaklah layak disebut sebagai intelektual Muslim. Mereka yang hanya sibuk dengan tugasnya di kampus sebagai pengajar, peneliti, dan petugas administratif; mereka yang tidak terpanggil untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan kampus; mereka yang tidak peka terhadap gairah masyarakat kampus untuk menyerap nilai- nilai Islam; mereka yang memandang Islam sebagai konvensi sosial, dan bukan sebagai elan vital dalam perubahan sosial, tidaklah dapat disebut sebagai intelektual Muslim. J.M. Burns menyebut intelektual sebagai “Pengabdi gagasan-gagasan, pengetahuan-pengetahuan, dan masyarakat. Ia berusaha sungguh-sungguh mengejar suatu cita-cita, mengembangkan pe ngetahuan dan memperjuangkan nilai-nilai yang dianutnya. Pada diri intelektual, ada semangat menemukan, menyusun, menguji, melakukan sintesis (semangat ilmiah). Pada dirinya, juga ada semangat mengkritik, mencari jalan keluar, memberikan pedoman, menunjukkan arah, memperjuangkan nilai-nilai yang berorientasi ke depan (semangat seorang moralis).” Burns menyebut kepemimpinan intelektual sebagai suatu transforming leadership, yang menjadikan gagasan sebagai kekuatan moral. Dengan kata lain, intelektual adalah ilmuwan yang menjadi ideolog. Oppenheimer menjadi ideolog ketika ia memperjuangkan penghentian penelitian nuklir. Leon Kass menjadi ideolog ketika ia meninggalkan penelitian rekayasa genetik yang dianggapnya membahayakan kemanusiaan, dan beralih kepada pengembangan bioetika. Sakharov menjadi ideolog ketika memprotes penindasan atas hak-hak asasi di negerinya, Al-Ghazali tidak lagi menjadi sufi ketika ia mengirimkan surat-surat protes kepada penguasa di negerinya. Ibnu Taimiyah bukan semata-mata ahli fikih ketika ia memimpin perlawanan terhadap tentara Mongol. Kiai Sentot, Kiai Maja, Imam Bonjol, Kiai Giri Kedaton, dan lain-lain, menjadi intelektual ketika mereka mengubah umat yang pasif, meniupkan ruh jihad, dan menanamkan kepercayaan diri di samping mengajarkan syariat Islam. Kalau setiap orang terpelajar tidak menjadi intelektual, apakah ada keharusan bagi ilmuwan Muslim untuk menjadi intelektual? Perlukah ada pembagian tugas antara yang semata-mata mengembangkan ilmu, dan mereka yang terikat pada perjuangan Islam? Saya berpendapat, bagi ilmuwan Muslim tidak ada alternatif lain selain menjadi intelektual Muslim, karena alasan-alasan berikut: 1. Kepada setiap Muslim dibebankan kewajiban sebagai da’i. Ketika menafsirkan ayat “Katakanlah, inilah jalanku, menyeru menuju Allah di atas keterangan, aku dan orang yang meng- ikutiku…” (QS 12:108), Ibnu Katsir menulis: “Allah SWT berfirman kepada Rasul-Nya Saw. agar menyampaikan kepada manusia bahwa inilah jalan hidupnya, perilakunya, dan sunnahnya; yaitu menggajak kepada kesaksian bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah yang Esa, dan Dia tidak berserikat, mengajak kepada Allah, berdasarkan keterangan, keyakinan dan bukti. Begitu pula, setiap orang yang mengikuti Nabi harus menyeru seperti seruan Rasulullah Saw., berdasarkan keterangan, keyakinan, bukti ‘aqli dan syar’i.” 2. Islam mengingatkan kepada orang-orang berilmu untuk menyampaikan kebenaran, melanjutkan khitthah para Rasul, “Supaya mereka memberikan peringatan kepada kaumnya ketika mereka kembali kepadanya, mudah-mudahan mereka dapat memelihara dirinya (dari kejahatan)” (QS 9:122); “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari orang yang diberi kitab untuk menjelaskan kepada manusia dan tidak menyembunyikannya” (QS 3:187); “Janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, dan barangsiapa menyembunyi kannya, berdosalah hatinya.” (QS 2:283) 3. Ilmuwan Muslim memperoleh ilmunya dengan mempergunakan sumber daya masyarakat Muslim. Mungkin ia belajar dengan biaya keluarganya yang Muslim, mungkin ia diongkosi pemerintah dengan menyisihkan program lain yang diperlukan masyarakat Muslim. Tanggung jawab ilmuwan kepada masya rakat, lahir sebagai konsekuensi di atas: Pada kesempatan lain, saya pernah mengkritik Bridgaman: “…orang-orang seperti Bridgaman lupa bahwa perkembangan ilmu bukan hanya dibiayai swasta atau perseorangan, tetapi juga oleh pemerintah yang memperoleh dana dari masyarakat. Sekian juta uang rakyat dipakai untuk membiayai seorang sarjana setiap tahun. Milyaran rupiah uang rakyat digunakan untuk membiayai universitas, lembaga-lembaga penelitian, dan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan lainnya. Sains bukan lagi urusan perseorangan, tetapi juga urusan sosial. Karena itu, hanya ilmuwan “robot” yang hati nuraninya tidak terusik untuk membaktikan ilmunya bagi peningkatan kualitas hidup masyarakatnya. Hanya ilmuwan “menara gading” yang terbenam di laboratorium, dan melepaskan masyarakat di sekitarnya. Lebih-lebih, hanya ilmuwan “Frankenstein” yang memanfaatkan sumbangan masyarakat buat mengembangkan ilmu yang menindas masyarakat.” Dengan argumentasi yang sama, kita dapat mengatakan bahwa bukanlah ilmuwan Muslim, bila ia tidak berusaha menghidupkan nilai-nilai Islam di lingkungannya, padahal ia dibesarkan oleh umat Islam. Tanggung Jawab Intelektual Muslim Bila kita membicarakan tanggung jawab, kita harus merujuk kerangka etis tertentu. Pada bagian ini, tentu saja harus mengacu kepada sumber-sumber nilai Islam, untuk menentukan apa saja kewajiban intelektual, Islam, bagaimana akhlaknya dalam melak. sanakan kewajibannya, dan metode apa saja yang sesuai dengan kedudukannya sebagai intelektual. Dalam Bab “Ulul-Albab: Profil Intelektual Muslim”, saya menyebutkan ulul-albab sebagai istilah yang digunakan Al-Quran untuk intelektual Muslim. Kata ulul-albab disebut sebanyak enam belas kali dalam Al-Quran. Di sini saya hanya akan mengambil sifat-sifat ulul-albab yang terdapat di dalam Surat ar-Ra’d, ayat 20-24: “Orang-orang yang menepati janji Allah, dan mereka tidak memungkiri janji. Dan orang-orang yang memperhubungkan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diperhubungkan, dan mereka takut kepada Tuhan mereka, dan takut akan perhitungan yang keras. Orang-orang yang sabar, karena mengharapkan keridhaan Tuhan mereka, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, bagi mereka adalah akibat (yang baik) di kampung (akhirat), (yaitu) surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan anak-anak mereka, sedang malaikat masuk kepada mereka dari tiap-tiap pintu. (Lalu mengucapkan): Salam atas kamu, karena kamu telah sabar, maka sebaik-baiknyalah akibat di kampung itu (surga).” Dari ayat-ayat di atas, Dr. Muhammad Mahmud Hijazi menyebutkan delapan sifat ulul-albab. Menurut saya, dua sifat pertama menunjukkan kewajiban, tiga sifat berikutnya menunjukkan akhlak, dan sifat-sifat terakhir merinci metode ulul-albab dalam melaksanakan kewajibannya. Butir-butir ini juga yang saya anggap mendasari pembicaraan tentang tanggung jawab intelektual Muslim dalam menerapkan nilai-nilai Islam. Kewajiban Al-Quran menyebut dua kewajiban intelektual Muslim: memenuhi janji Allah dan menyambungkan apa yang Allah perintahkan untuk menyambungkannya. Perjanjian Allah ini disebut sebagai mitsaq. Dr. Muhammad Mahmud Hijazi mendefinisikannya sebagai “apa yang mengikat diri mereka dalam hubungan antara mereka dengan Tuhan mereka, antara mereka dengan diri mereka, dan antara mereka dengan manusia yang lain.” Seorang intelektual harus memilih commitment-nya, keterikatan pada nilai-nilai; seorang intelektual Muslim ialah ia yang memilih untuk committed dengan nilai-nilai Islam. Memenuhi mitsaq berarti tetap setia pada commitment yang telah dipilihnya. Menyambungkan apa yang diperintahkan Allah, meliputi segala hal, dan bukan hanya silaturrahim. Termasuk di dalamnya “menggabungkan iman dan amal cinta kepada Allah dengan cinta kepada manusia,” menghubungkan kelompok-kelompok Islam yang bertentangan, sehingga tumbuh ukhuwah Islamiah, menghubungkan umat dengan imam mereka, menghubungkan ulama diniah dengan ulama ukhrawiah, menghubungkan ilmu dengan agama, menghubungkan ibadah dengan muamalah. Di sini, intelektual Muslim berfungsi sebagai integrator, katalis, pemersatu, muwahhid. Adalah tanggung jawab intelektual Muslim untuk menghidupkan semangat persatuan di tengah umat yang berpecah hanya karena perbedaan fikih, menjembatani mazhab yang ber-ikhtilaf, mencari titik temu dari berbagai aliran pemikiran. Di lingkungan universitas, kewajiban ini diwujudkan dalam upaya memadukan iman dengan ilmu, iman dengan amal saleh, ibadah dan muamalah dalam tema-tema keagamaan di kampus-kampus. Di sisi lain, ia berusaha menanamkan semangat saling menghargai pendapat yang tumbuh dalam komunitas-komunitas Islam di kampus, membiasakan terjadinya keragaman pendapat selama berada dalam commitment terhadap Islam. Akhlak Dalam memikul tanggung jawab di atas, intelektual Muslim hanya takut kepada Allah saja. Karena itu, ia bukan saja bersedia menentang Zeitgeist yang dominan, tetapi ia pun sanggup memikul risiko dari siapa saja selain Allah. Erat kaitannya dengan ini ialah ketakutan pada saat ketika ia harus mempertanggungjawabkan usahanya di dunia ini —ia takut pada perhitungan yang jelek. Selain itu, ia pun harus tekun, konsisten, teguh pendirian, tabah, tahan menghadapi ujian, ikhlas karena Allah— “orang-orang yang sabar dalam mencari keridhaan Allah”. Metode Untuk menjayakan usaha-usahanya, seorang intelektual Muslim harus memelihara salatnya. Sudah sering terjadi, intelektual Muslim berbicara fasih di mimbar, tetapi lalai mengerjakan salat. “Mendirikan salat” juga berarti menjadikan tempat salat —mushala atau masjid—sebagai sumber kegiatan. Dari situlah, semua gerakan Islam dimulai. Jadi, cara yang utama untuk menerapkan nilai-nilai Islam adalah membentuk tempat salat, mengisinya dengan program-program keislaman, dan menjadikannya sebagai jantung Islamisasi kampus. Cara kedua ialah menggalakkan infak. Harus diciptakan suasana sehingga gerakan Islam di kampus tidak bergantung dalam hal dana pada lembaga-lembaga resmi. Gerakan Islam harus sanggup mandiri dengan dana yang diperoleh dari infak anggota-anggota gerakan Islam. Al-Quran menyebutkan bahwa usaha menggalakkan infak ini boleh dilakukan secara terbuka (semacam fund raising campaign) ataupun secara tidak kentara. Banyak usaha Islamisasi Islam di kampus terhambat, karena kurangnya pencarian dan pengelolaan dana infak. Cara ketiga, yang sangat sesuai dengan watak seorang intelektual, ialah “menolak yang jelek dengan yang baik”. Ini dapat dijabarkan dengan berbagai perilaku: melawan akhlak tercela dengan akhlak terpuji, menundukkan argumentasi lawan dengan argumentasi yang lebih kuat, menyaingi rival dalam merebut kampus dengan cara-cara yang lebih mulia, menunjukkan kemampuan ilmiah yang lebih tinggi, menandingi promosi materialisme dan keserbabolehan dengan kekuatan akidah dan keteguhan moral. Penutup Dalam pembahasan ini tidaklah ditunjukkan hal-hal yang praktis dan operasional, melainkan sekadar diberikan suatu kerangka konsepsional mengenai tanggung jawab intelektual Muslim. Tulisan ini bukan pula suatu paparan ilmiah, tetapi merupakan pertanggungjawaban bahwa intelektual Muslim memang memiliki tanggung jawab; dan bahwa sikap apatis, pasif, dan netral terhadap perkembangan kehidupan Islam di kampus bukanlah watak intelektual Muslim. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum. KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
DUA WAJAH ISLAMSeptember 4, 2026Ketika media cetak sedang ramai membicarakan kasus Monitor, saya menemui Gus Dur di kantornya. Dengan suara datar, ia mengkritik umat Islam yang mengecam Asrwendo. “Saya baru saja mengirimkan tulisan buat EDITOR. Buat saya Arswendo memang gila, ia melakukan kesembronoan. Tetapi umat Islam juga gila, karena memprotes kasus ini dengan kasar. Jadi gila kasus ketemu kasus gila”, ujar Gus Dur sambil tertawa. Gila, saya pikir, Gus Dur gila. Orang Gila membahas kasus gila dan gila kasus. Beberapa jam sebelumnya, saya dengan bangga membicarakan kasus ini sebagai ekspresi kekuatan politik Islam. Demonstrasi-demonstrasi itu adalah penegasan identitas Islam (halusnya, unjuk gigi). “Bukankah dengan begitu umat Islam dapat menakut-nakuti musuh-musuhnya!”, saya menegaskan. “Tetapi citra Islam sebagai agama pembawa rahmat, agama kebebasan, agama perdamaian menjadi rusak”, jawab Gus Dur masih dengan suara yang datar. Ketika banyak orang kecewa dengan Gus Dur, saya tidak. Kecuali hari itu. Saya meninggalkan kantor PBNU dengan sejumlah pertanyaan. Tidak ada yang lebih menyakitkan kecuali dikecewakan oleh orang yang kita cintai. Ketika kawan-kawan menanyakan pendapat saya tentang tulisan Gus Dur di EDITOR, saya menjawab seenaknya saja, Gus Dur itu orang yang istiqamah. Ia selalu konsisten menentang arus. Ketika kebanyakan umat sedang melakukan Islamisasi, Gus Dus mengemukakan kasus selamat siang. Ketika orang ramai mengecam Syiah, ia mengatakan (secara bergurauꟷmenurut pengakunnya kemudian) bahwa NU secara kultural sudah syiah. Ketika banyak Kyai melihat film sebagai pembawa maksiat, Gus Dur menjadi juri festival film. Ketika di mana-mana orang “berlomba menjadi pahlawan Islam dari Arswendo” ia memilih menjadi “pahlawan Arswendo dari Islam”. Lama setelah itu, ketika protes terhadap Arswendo sudah mereda, saya melihat kembali tulisannya. Ia benar. Islam adalah agama rahmat, kebebasan, perdamaian, dan perbaikan. Sebagai pembela Islam, kita wajib menampilkan Islam dalam citra itu. Bukankah selama ini musuh-musuh Islam menyajikan Islam sebagai agama teror kekerasan, kerusakan dan hal-hal yang bizarre. Banyak tokoh Islam menuntut kebebasan pers dan demokrasi, tetapi kini mereka, mendukung pembredelan surat kabar. Saya tiba-tiba merasa seperti Bismar Siregar. Begitu ia mendengar kasus gila itu, ia langsung berkata, gantung dia. Tetapi waktu itu juga ia teringat akan sikap pemaaf Rasulullah SAW. Ia buru-buru istighfar. Ia menyadari, ia dikuasai emosi sehingga tidak bisa lapang dada dan sabar seperti Nabi. Boleh jadi di tengah gejolak kasus Monitor, saya terbawa emosi sehingga melupakan citra Islam sebagai agama rahmat. Gus Dur telah mengingatkan saya. Anehnya, segera saya membaca istighfar, terbayang lagi adegan demonstrasi yang saya saksikan. Massa yang dengan khusuk menyampaikan shalawat dan salam kepada nabi tercinta. Anak kecil yang pingsan tetapi mulutnya tetap meneriakkan nama Nabi Muhammad. Ustad yang terisak-isak menangis ketika mendengar nama Nabi yang mulia diletakkan di bawah Arswendo. Sayup-sayup dalam kenangan, saya mendengar Husein Fazlullah, Pemimpin Hizbullah Libanon: Bila kaum muslim tidak mendapatkan rasa amanꟷkarena dihina, ditindas, dipojokkanꟷmaka tidak boleh seorang pun memperoleh rasa aman di dunia ini. Pada saat penindasan menimpa kaum muslim, dan ketika mereka bangkit untuk menentangnya, mereka disuruh memaafkan. Mengapa kita harus menyebarkan rahmat kepada para penindas, tetapi tidak kepada orang tertindas. Perlahan-lahan wajah Gus Dur muncul lagi. Tampaknya ada dua wajah Islam. Pertama, wajah ramah, pemaaf dan pemelihara. Inilah wajah yang dipilih Gus Dur. Kedua, wajah yang tegas, keras dan penyerang. Inilah wajah yang dipilih Husein Fazlullah. Karena baik Gus Dur maupun Fazlullah ulama, saya ingin memilih kedua-duanya. Masalahnya bukan yang mana, tetapi bilamana. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
PEREMPUAN DALAM TASAWUFAugust 31, 2026“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna,” (QS. Maryam : 16-17). Dalam surah Maryam, Allah Swt. menghadirkan sosok perempuan Maryam dalam Al-Quran sebagai contoh manusia suci. Pada bagian lain, Allah juga memberikann contoh perempuan suci lainnya, yaitu ‘Asiyah binti Mazahim. Dilihat dari rangkaian keturunan, Maryam termasuk keturunan para rasul yang mulia. Sementara itu, ‘Asiyah binti Mazahim adalah perempuan suci yang dibesarkan di tengah lingkungan yang penuh kemaksiatan. Meskipun ia adalah istri Fir’aunꟷseorang tiran yang memusuhi setiap orang beriman, ‘Asiyah menjadi perempuan suci yang namanya disebut dalam Al-Quran. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. menunjukkan tiga perempuan suci dalam sejarah umat manusia, yaitu Maryam binti Imran, ‘Asiyah binti Mazahim, dan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah Saw. Dalam riwayat lain, Nabi Saw. mengatakan empat perempuan suci, satu lagi adalah Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Dalam surah Maryam ayat 16, Al-Quran bercerita tentang Maryam yang memilih kehidupan suci. Dia mengasingkan diri dalam mihrabnya untuk menjalankan ibadah setiap hari. Dahulu, ketika Maryam masih berada dalam kandungan, ibunya pernah bernazar bahwa anak yang akan dilahirkannya itu kelak ia persembahkan untuk Tuhan. Dalam benak ibunya, bayi yang dikandungnya itu laki-laki. Biasanya, laki-lakilah yang menjadi pendeta, yang berkhidmat di rumah ibadah dan mengkhususkan seluruh hidupnya untuk Allah. Ibunya berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku nazarkan kepada Engkau anak yang berada dalam perutku untuk menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat.” Ternyata yang dilahirkan adalah seorang bayi perempuan. Ibunya kembali berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang bayi perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak keturunannya kepada Engkau dari setan yang terkutuk,” (QS. Ali Imran : 35-36). Maryam lahir dari keluarga suci yang dipilih Allah untuk membimbing manusia kepada kesucian. Dalam Al-Quran disebutkan, “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (QS. Ali Imran : 33-34). Allah Swt. menerima Maryam dengan penerimaan yang baik dan menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik pula. Allah Swt. menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Dalam Al-Quran diceritakan, setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maryam, ia dapatkan dalam mihrab itu makanan. Ketika Zakaria menanyakan dari mana makanan itu, Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah.” Maryam lahir dari keluarga Imran yang suci. Kesuciannya dilindungi Allah Swt. Sayyidah Fatimah sering dinisbahkan kepada Maryam karena ia juga lahir dari keluarga yang suci, yaitu dari keluarga Rasulullah Saw. Membicarakan Maryam berarti membicarakan pula Fatimah Az-Zahra. Para mufasir mengatakan bahwa Fatimah merupakan Maryam bagi umat Rasulullah Saw. Dengan memelajari kehidupan Maryam, kita dapat mengambil pelajaran tentang kedudukan seorang perempuan dalam pencapaian ruhani menuju Allah Swt. Hikmah pertama dari kisah Maryam dan Fatimah adalah bahwa perempuan-perempuan suci biasanya lahir dengan diantar oleh doa dari orangtuanya. Ibunda Maryam berdoa untuk mempersembahkan anaknya kepada Allah Swt. Karena itu, jika ada anak atau cucu yang lahir, kita harus mengantarkannya dengan doa. Alangkah baiknya jika kita mendoakan bayi itu dengan doa Ibunda Maryam, “Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk,” (QS. Ali Imran : 36). Menemukan Amanah Hidup Setelah Maryam besar, ia pun mulai merintis jalan kesucian. “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,” (QS. Maryam : 16). Dalam bahasa Arab, untuk timur digunakan kata masyriq. Masyriq berasal dari kata syaraqa, yang artinya terbit matahari. Hal ini sama dengan kata maghrib (barat) yang berasal dari kata gharaba yang artinya tenggelam matahari. Orang Arab menyebut timur sebagai tempat terbit matahari dan barat sebagai tempat tenggelamnya. Erat kaitannya dengan makanan syarqiya adalah maqam pertama dalam tasawuf, yaitu maqam al-yaqzhah, yang harus dilewati oleh setiap penempuh perjalanan menuju Tuhan. Arti al-yaqzhah adalah bangun dari tidur. Dalam maqam ini, kita disadarkan dari kealpaan kita selama ini. Tiba-tiba, kita merasakan dilahirkan sebagai makhluk yang baru. Kita memulai lembaran-lembaran baru dan menutup buku lama. Seakan kehidupan kita diawali dari nol lagi, seiring dengan kesadaran yang baru tumbuh. Kesadaran itu lahir karena berbagai hal, salah satu di antaranya adalah dengan musibah. Apabila orang terkena musibah, ia akan merenungkan kehidupan ini semua. Kehidupan yang ia jalani secara rutin tiba-tiba tampil dalam bentuk yang baru. Terkadang, ia tidak paham untuk apa semua ini. Maka, mulailah ia berpikir. Lalu, ia akan menemukan amanah hidup yang dipikulnya; misi hidup yang diembannya. “Sesungguhnya, Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab : 72). Manusia seringkali tidak tahu untuk apa kehidupan yang ia jalani itu sebenarnya. Ia tidak begitu jelas ke mana tujuan hidupnya; ia hanya mengikuti rutinitas sehari-hari. Jika ia telah terbangun dari semua ini, dan disadarkan akan pencerahan, dalam tasawuf, ia dikatakan telah memasuki makanan syarqiya. Menurut Al-Quran, umumnya manusia tidak tahu amanah apa yang ia pikul. Al-Quran menyebutnya jahûla, atau sangat bodoh, karena manusia menjalani kehidupannya tidak sesuai dengan amanah yang dibebankan Allah Swt. kepadanya. Maryam menemukan amanahnya sejak kecil, bahwa ia harus mempersembahkan seluruh kehidupannya untuk berkhidmat kepada Allah Swt. Stretegi Tuhan untuk memanggil seseorang ke hadirat-Nya adalah dengan memberinya penderitaan. Melalui penderitaan, orang akan merenung dan memikirkan seluruh kehidupannya. Ketika kita tertawa terbahak-bahak, saat tengah menikmati aneka macam hiburan, kita tidak pernah memikirkan diri kita. Karena itu, kita menyebut orang yang tertawa terbahak-bahak sebagai orang yang lupa diri. Kita tidak pernah menyebut orang yang menangis sebagai orang yang lupa diri. Justru, saat mencucurkan air mata itulah, biasanya kita akan meninjau kembali seluruh perjalanan hidup kita. Jalaluddin Rumi bersyair, “Lihatlah taman bunga mawar itu. Ia belum menerbitkan bunga-bunganya sebelum langit mencurahkan tangisannya. Anak kecil saja tahu bahwa ibunya hanya akan datang setelah ia menangis. Maka, menangislah kamu supaya sang Perawat Agung datang memberikan Susu Keabadian kepadamu.” Tangisan menjadi penting, karena ia menyadarkan kita kepada amanah kehidupan. Ketika orang sudah mengetahui untuk apa hidupnya, semuanya akan berubah. Dunia akan dipandang berbeda dari sebelumnya. Dia melihat segalanya berbeda. Seluruh kehidupannya seakan sudah diarahkan oleh Allah Swt. kepada satu tujuan yang ingin ia capai. Pernah, seorang ibu datang kepada saya dan menceritakan kisahnya. Ia sekian lama membina rumah tangga dengan penuh rukun dan damai. Namun, setelah suaminya memiliki wanita lain, ia berubah menjadi seseorang dengan sikap dan kepribadian yang berbeda. Ia menjadi sangat kasar, bengis, dan lebih mudah marah. Suatu saat, terjadilah pemukulan pada anaknya, sehingga membuat anak itu shock berat. Betapa tidak, selama ini ia menganggap ayahnya sebagai seorang idola yang sangat dicintainya. Tiba-tiba, bapaknya itu berubah menjadi seorang monster. Setelah itu, suaminya pergi meninggalkan keluarga. Tidak hanya kaget dan pingsan, ibu itu pun mengalami luka batin yang sangat dalam. Luka itu terus menerus mengganggu hatinya. Setiap hari, ia mengisi waktu-waktunya dengan linangan air mata. Singkat cerita, beberapa tahun kemudian saya berjumpa lagi dengan ibu ini. Kini, keadaannya jauh berbeda dengan saat pertama kali berjumpa. Ia terlihat lebih tegar, lebih bercahaya, dan lebih yakin akan jalan hidupnya. Ia bercerita tentang keberhasilannya menyekolahkan anak-anaknya sampai lulus dari perguruan tinggi tanpa bantuan seorang bapak. Ibu itu bekerja keras membina anak-anaknya seorang diri sampai berhasil. Saya dapat mengatakan bahwa sebenarnya ibu itu sudah menemukan amanah, atau misi yang dibebankan Allah kepadanya. Sesungguhnya, Allah Swt. menitipkan anak-anak itu kepada pemeliharaan ibunya. Ia pun berhasil menjalankan amanah itu dengan baik. Bukankah misi dari seorang ibu adalah membesarkan anak-anaknya, dan membawa mereka pada tingkat kesempurnaan? Itulah yang menyebabkan wajahnya lebih bercahaya dari sebelumnya, karena ia sudah berhasil menemukan amanah hidupnya. Periode itulah yang disebut Maryam sebagai makanan syarqiya, tempat yang memberikan pencerahan pemikiran; tempat yang menyebabkan ia menemukan jati dirinya dan menemukan amanah yang harus dipikulnya. Setelah menemukan tempat itu, Maryam lalu “membuat suatu tirai (yang melindunginya) dari diri mereka,” (QS. Maryam : 17). Tirai dapat diartikan ke dalam dua makna. Makna pertama adalah tirai lahiriah dalam bentuk gorden. Makna kedua adalah tirai batiniah dalam bentuk penjagaan diri dari perubahan masyarakat di sekitar kita. Seseorang yang menjalani kehidupan tasawuf adalah orang yang tidak terlalu terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Lingkungan sekitar kita bisa berubah kapan saja, dan kita tidak bisa mengendalikan perubahan- perubahan tersebut. Kalau kita mencoba agar lingkungan itu berjalan seperti yang kita kehendaki, pastilah sepanjang hidup kita akan selalu kecewa. Buatlah tirai antara diri kita dengan segala sesuatu di sekeliling kita. Kita membangun tirai ruhaniah agar lingkungan sekitar tidak memengaruhi kita. Saya teringat dengan kisah seorang sufi perempuan, Rabi’ah Al-Adawiyah. Suatu hari pada saat musim semi, seorang pembantu Rabi’ah keluar dari kemahnya dan menyaksikan bunga-bunga yang mulai merekah diterpa cahaya matahari. Takjub akan semua keindahan itu, pembantu Rabi’ah berteriak, “Nyonya, keluarlah dan lihat keindahan musim semi ini!” Rabi’ah menjawab, “Tidak. Masuklah ke dalam dan engkau akan lihat keindahan tanpa tirai.” Ketika ada perubahan lingkungan di sekitarnya, seorang sufi tidak akan terpukau dengan perubahan-perubahan itu. Ia akan melihat ke dalam batinnya dan menemukan keindahan yang sesungguhnya. Kedudukan Perempuan terhadap Laki-Laki Dalam Al-Quran, Allah Swt. berfirman, “… dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (QS. Al-Baqarah : 228). Ayat ini seringkali dipakai untuk merendahkan derajat kaum perempuan. Alasannya, karena Al-Quran menyebutkan bahwa laki-laki itu lebih tinggi derajatnya dari perempuan. Menurut Ibnu ‘Arabi, yang dimaksud dengan kedudukan laki-laki lebih tinggi dari perempuan, ialah bahwa perempuan memiliki fungsi reseptif (fungsi menerima) dan laki-laki memiliki fungsi aktif. Laki-laki itu lebih tinggi satu derajat karena ia memiliki kewajiban untuk memberikan mahar, memberikan nafkah, memelihara dan mengurus istrinya. Kedudukan yang dimaksud bukanlah kelebihan derajat secara ruhaniah. Karena laki-laki dan perempuan bisa mencapai kedudukan ruhani yang sama. Ada ayat lain yang menunjukkan laki-laki sebagai seorang pemimpin di atas perempuan. Allah Swt. berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka,” (QS. An-Nisa’ : 34). Kata qawwâmûna (pemimpin) yang dipakai dalam ayat ini juga dapat diartikan dengan “berdiri”. Dalam bahasa Arab, kata qaim-satu asal kata dengan qawwâmûna-berarti pula yang mengurus dan yang menjaga. Kita menyeru Allah sebagai Hayyul Qayyum, artinya Yang Maha Memelihara dan Maha Menjaga. Terjemahan yang pas untuk ayat ini adalah “laki-laki itu berkewajiban untuk menjaga, memelihara, dan mengurus perempuan.” Pada zaman Rasulullah Saw., sebagian perempuan datang kepada beliau setelah mendengar ayat-ayat Al-Quran yang menggunakan kata “kum“. (Dalam bahasa Arab, kum adalah dhamir atau kata ganti untuk laki-laki. Misalnya, pada Surah Al-Baqarah ayat 183, “Kutiba ‘alaikumush shiyâm, diwajibkan atas kamu berpuasa.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa hanya laki-laki saja yang disebut?” Setelah itu, turunlah ayat Al-Quran yang menegaskan bahwa kaum laki-laki dan perempuan, jika mereka berbuat baik dan beramal saleh, akan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Sesungguhnya, Dia tidak membeda-bedakan mereka sama sekali. Memang tidak ada perbedaan dalam pencapaian derajat keruhanian antara laki-laki dan perempuan. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya, laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar,” (QS. Al-Ahzab : 35). Sifat Allah dalam Perempuan Kelebihan perempuan adalah mereka dapat mencapai derajat keruhanian yang tinggi secara lebih cepat daripada laki-laki. Dalam buku The Tao of Islam, Sachiko Murata menjelaskan tentang kelebihan perempuan dalam hal pencapaian ruhani ini. Salah satu sumber yang dikutip Murata dalam bukunya adalah penjelasan Ibnu ‘Arabi dalam kitab Fushûs Al-Hikâm dan Futûhat Al-Makiyyah. Dalam bahasa Inggris, perempuan disebut woman, artinya man yang punya womb, atau laki-laki yang memiliki rahim. Allah telah berfirman dalam hadits qudsi, “Aku adalah Ar- Rahim dan Aku menciptakan engkau, hai rahim. Aku nisbahkan kepadamu nama-Ku sendiri. Barang siapa yang menyambungkan rahim, dia menyambungkan hubungannya dengan-Ku; dan barang siapa memutuskan rahim, dia memetuskan hubungannya dengan- Ku.” Mengacu pada hadits ini, kata rahim yang semula berarti “kasih sayang” kemudian bermakna “kekeluargaan”. Dengan demikian, hadits ini bisa diterjemahkan, “Barang siapa yang menyambungkan kekeluargaan, dia menyambungkan diri kepada Allah.” Menurut Ibnu Arabi, alam semesta dan seluruh isinya adalah penampakan Allah Swt. Tetapi, penampakan-Nya lebih banyak ada pada diri perempuan. Sesungguhnya, Allah memiliki dua sifat, yaitu jalâliyyah dan jamâliyyah. Allah sangat berat siksa- Nya; Allah sangat adil dalam menjatuhkan hukuman; Allah Mahaperkasa; kehendak-Nya tidak bisa ditolak. Tetapi, pada saat yang sama, Allah juga memiliki sifat jamâliyyah. Allah Mahabesar kasih sayang-Nya; Maha Pengampun; dan lebih cepat ridha-Nya daripada marah-Nya. Sifat kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Ketika menceritakan kemarahan Allah, Al-Quran selalu menyebutkan alasannya. Al-Quran selalu menjelaskan sebab mengapa Allah murka. Misalnya, “… lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat- ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas,” (QS. Al-Baqarah : 61). Tetapi, ketika menceritakan sifat kasih sayang-Nya, Al-Quran tidak selalu menyebutkan sebabnya. Allah mewajibkan diri-Nya untuk menyayangi seluruh makhluk. Allah Swt. berfirman, “Kataba ‘ala nafsihir rahmah; Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang,” (QS. Al-An’am : 12). Allah Swt. tidak mewajibkan diri-Nya untuk marah. Dia hanya akan marah kalau ada suatu sebab yang kita lakukan. Misalnya dalam ayat, “Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan,” (QS. Ash-Shaff : 3). Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan marah kalau manusia mengatakan apa-apa yang tidak mereka perbuat. Rahmat Allah itu meliputi segala sesuatu. Ternyata, rahmat Allah paling banyak ditempatkan dalam diri perempuan. Oleh karena itu, dalam bahasa Arab, kata “rahmat” memiliki bentuk perempuan (muannats). Bahasa Arab menambahkan ta marbuthah untuk mengubah bentuk laki-laki (muadzakkar) menjadi bentuk perempuan. Misalnya, kata mar’un yang berarti laki-laki, kalau ditambah ta marbuthah dan menjadi mar’atun yang berarti perempuan. Muslimun berarti Muslim laki-laki dan Muslimatun berarti Muslim perempuan. Sifat jamaliyyah Allah lebih tampak pada diri perempuan daripada laki-laki. Perempuan lebih menonjol dengan sifat kasih sayangnya, penyantunnya, dan pemaafnya. Jika kita ingin mendekati Allah Swt., kita harus menyerap sifat Allah itu ke dalam diri kita. Sifat-sifat Allah paling banyak kemiripannya dengan sifat-sifat perempuan. Oleh karena itu, seorang perempuan akan lebih mudah untuk berakhlak dengan akhlak Allah. Dalam konsep tasawuf, Allah bersifat feminin. Berbeda dengan konsep fikih di mana Allah bersifat sangat maskulin. Dalam paradigma fikih, Allah selalu menghukum kita kalau kita melakukan pelanggaran. Kalau kita memenuhi kewajiban, Allah akan memberi kita pahala. Kita sangat terpengaruh dengan konsep ini sehingga kita sering mendoakan orang-orang yang meninggal dengan doa, “Semoga Allah memberi ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.” Padahal, kita akan celaka jika dibalas sesuai dengan amal yang kita lakukan. Perbuatan baik kita jauh lebih sedikit daripada amal buruk kita. Cinta Perempuan dan Cinta Allah Cinta seorang perempuan berbeda dengan cinta seorang laki-laki. Cinta perempuan itu lebih dekat dengan cinta-Nya. Ketika perempuan menghabiskan satu malam dengan laki-laki, kemudian ia mengandung, ia akan memikul buah satu malam itu selama sembilan bulan. Ada sesuatu yang tumbuh dalam kehidupannya, yang tidak pernah berpisah dari dirinya. Walaupun anaknya meninggal dunia, ia akan tetap menjadi ibu karena satu saat dalam hidupnya ia pernah menempatkan anak itu di bawah jantungnya. Karena cintanya, seorang ibu tidak akan pernah bisa melupakan anaknya. Itulah kecintaan luar biasa yang hanya ada pada hati seorang ibu. Kecintaan seperti itulah yang akan menghantarkannya pada jalan ruhani yang tinggi. Ketika mengajarkan tentang tulusnya kecintaan Tuhan kepada hamba-Nya, Rasul memberikan contoh berupa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan ada seorang anak yang tertinggal di medan perang. Ibunya panik dan lari ke tengah peperangan untuk mengambil anaknya. Keduanya pun sampai pada satu tempat yang terasa sangat panas. Ibu itu lalu menutupkan punggungnya ke arah sinar matahari, melindunginya dari panas terik, lalu menyusui- nya. Melihat peristiwa itu, Rasul meneteskan air mata. Lalu, Rasul bertanya kepada para sahabat, “Menurut kalian, mungkinkah ibu itu akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Mereka menjawab, “Jangankan melempar ke dalam api, sinar matahari saja ia tutupi dengan punggungnya demi anak yang dicintainya.” Beliau lalu bersabda, “Kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya jauh lebih besar daripada kecintaan seorang ibu terhadap anaknya.” Tentu saja, hadits ini sangat membahagiakan. Artinya, karena cinta-Nya yang besar-jauh lebih besar dari cinta seorang ibu kepada anaknya-tidak mungkin Allah melemparkan hamba-Nya ke neraka, sebagaimana tidak mungkinnya seorang ibu melemparkan anaknya ke dalam kobaran api. Namun, tidak semua manusia merasa diri mereka sebagai hamba Allah, sebagian besar masih menganggap diri mereka sebagai hamba nafsu mereka sendiri. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Mitos-Mitos Penyebab KerusuhanAugust 30, 2026Ketika kerusuhan demi kerusuhan terjadi pada waktu kampanye, kita berharap masa kampanye segera berakhir. Kita mengira setelah pemilu, kerusuhan berhenti. Dugaan kita keliru. Kerusuhan yang sebenarnya boleh jadi justru dimulai sejak itu. Mengapa kita keliru? Karena kita menduga berdasarkan asumsi-asumsi yang salah. Misalnya, kita menuding agitasi jurkam telah memanaskan emosi massa, sehingga mereka menjadi beringas dan brutal. Atau kita menyalahkan kampanye berupa pawai, yang cenderung unjuk kekuatan. Atau kita menduga telah terjadi penyusupan dari orang-orang yang berniat menggagalkan pemilu. Karena itu, bila jurkam sudah tidak cuap-cuap lagi, bila pawai dan arak-arakan massa tidak diperkenankan lagi, bila kegiatan penyusupan sudah dihambat, masyarakat kita kembali ke dalam situasi normal. Peristiwa-peristiwa pascapemilu memorakporandakan bukan hanya kantor-kantor kecamatan, tetapi juga bangunan ‘pandangan dunia’ kita. Lalu, hari ini kita membuat asumsi-asumsi baru untuk menjelaskan kerusuhan-kerusuhan di berbagai tempat di Tanah Airꟷkhususnya yang paling banyak disebut media massa, di Sampang, Bangkalan, dan Jember. Kita tidak perlu menjelaskan semua teori tentang penyebab kerusuhan. Yang kita perlukan adalah kemampuan kita untuk melihat semua asumsi dengan sikap kritis. Apa pun analisis yang kita anut, akan mempengaruhi sikap dan tindakan kita. Kerusuhanꟷdalam sosiologi disebut riots atau violence ꟷ memang telah menjadi topik pembicaraan tersendiri dalam sosiologi tentang masalah sosial. Biasanya para ilmuwan memulai tulisan mereka dengan membongkar mitos-mitos yang dianggap menjelaskanꟷpadahal sebetulnya menyesatkanꟷanalisis sosial kita. Ilmu menyebutnya fallacies, kerancuan. Di sini, kita menyebutnya mitos. Marilah kita lihat sebagian kecil dari mitos-mitos itu. Mitos Pertama: Kerusuhan Disebabkan oleh Rekayasa Pihak Tertentu. Ada sejumlah orang yang yakin betul bahwa berbagai kerusuhan itu digerakkan oleh pihak-pihak tertentu (sebetulnya tidak tertentu). Sebutlah ini teori konspirasi ꟷ bisa bersifat internasional, nasional, atau lokal. Seorang pejabat tinggi mengatakan bahwa kelompok tertentu ingin menjatuhkan citra Indonesia di mata dunia. Dengan begitu, para calon investor mancanegara akan berangsur-angsur mundur. Para pedagang, di mana pun, ingin mengembangkan usaha mereka dalam suasana politik yang stabil. Kelompok ini, yang sampai sekarang belum ditunjuk hidungnya, sedang berusaha menimbulkan kesan bahwa Indonesia sedang bergejolak. Sayangnya, teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa kerusuhan belakangan ini terjadi di Jatim dan Madura, dan bukan di Jakarta atau di kota-kota besar yang menjadi surga para investor. Karena itu, seorang pakar politik menunjuk penyebab kerusuhan itu lebih spesifik. Konon, ada orang-orang, ingin yang boleh jadi berasal dari kelompok yang bermacam-macam, ingin menjatuhkan citra NU, atau mempertentangkan NU dengan pemerintah dan golongan Islam yang lain. Menurut Menag Tarmizi Taher, dalam silaturahmi ulama pondok pesantren, pihak ketiga itu bukan hanya menjatuhkan citra NU, tetapi Islam secara keseluruhan. Mereka menghasut massa dengan memanfaatkan cap Islam. Asumsi ini dikemukakan karena pusat-pusat kerusuhan itu adalah tempat-tempat basis nahdliyin dan kantong-kantong Islam. Malangnya, walaupun sambil menyebut Malang sebagai asal kelompok perusuh ini, dengan asumsi ini kita hanya dapat menjelaskan kerusuhan di Jatim dan Madura, atau daerah-daerah NU lainnya. Lagipula, kita sukar diyakinkan untuk menyetujui bahwa ulama besar seperti Kiai Alawy atau Kiai H.M. Nuruddin dengan mudah dipengaruhi oleh kelompok-kelompok itu. Apalagi kalau mereka berasal dari komunitas politik non-Muslim. Ataukah para ulama itu sendiri yang merekayasa kerusuhan? Bisakah kita nisbatkan aktor intelektualis itu kepada mereka? Sulit untuk kita jawab. Integritas para ulama itu dan pemihakannya kepada rakyat tidak mungkin menjadikan mereka dalang kerusuhan. Anehnya, mitos rekayasa ini datang juga dari pihak korban kerusuhan atau yang terlibat dalam kerusuhan. Kerusuhan ini, menurut para korban, dibuat atau paling tidak dipancing oleh tindakan para aparat keamanan. Dengan merujuk pada pengalaman yang lalu, setidaknya pada masa kampanye, banyak bukti menunjukkan aparat disusupkan ke dalam massa. Mereka yang memulai dan mereka yang mengakhiri. Atau para aparat melakukan provokasi yang mengundang kemarahan massa. Masalahnya, untuk apa aparat keamanan menyulut kerusuhan, padahal tugas mereka menjaga ketertiban dan keamanan? Untuk apa, misalnya dalam kampanye PPP, beberapa oknum polisi disusupkan dan melakukan pembakaran? Saya tidak tahu. Banyak jawaban diberikan, tetapi jawaban itu malah melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru. Semua asumsi rekayasa hanya ditunjang oleh sebagian fakta. Kita melihat, di dalamnya ada penyederhanaan masalah yang berlebihan (oversimplifli-cation). Inilah teori kambing hitam. Lebih cocok dipakai untuk mengelabui orang daripada memberikan pencerahan. Salah satu bahaya teori ini ialah mengorbankan pihak yang dijadikan kambing hitam. Kata Emil Dofivat, pengkambinghitaman menyebabkan pengeruhan akal sehat (vernunft truebung) dan menimbulkan histeria massa. Mitos Kedua: Kerusuhan Disulut oleh Rakyat yang tidak Mau Memperhatikan Ketentuan dan Peraturan yang Berlaku. Jadi, para perusuh sebetulnya hanyalah penjahat biasa saja. Mereka itu ‘law-breakers’, para pelanggar hukum. Mereka adalah para pengganggu keamanan yang menggunakan momen apa saja untuk melawan pemerintah. Momen itu bisa berupa pembangunan waduk atau pengumuman hasil pemilu. Asumsi ini jelas tidak menunjukkan penyebab kerusuhan. Ia hanya menceritakan pelaku kerusuhan. Dengan mudah asumsi ini menjadi alat represif, tetapi sangat sukar untuk membimbing kita melakukan tindakan preventif. Kita dapat memperoleh pembenaran untuk mengatasi kekerasan massa dengan kekerasan lagi. “Tidak ada jalan lain yang harus dilaksanakan, kecuali menghalau para perusuh dengan kekerasan. Bila perlu, ditembak,” begitu dilaporkan dari Muspida Jawa Timur. Inilah “terapi dokter gigi”: tidak mencari penyebab penyakit, tapi langsung mencabut organ yang berpenyakit. Cara ini bisa produktif, juga bisa kontra-produktif. Apabila organ yang sakit itu terisolisasi pada satu tempat, kita dapat menghilangkannya begitu kita membuang organ itu. Tetapi, bila penyakit itu sudah merebak ke seluruh tubuh, membabat organ-organ yang sakit berarti sekaligus membuat seluruh sistem tubuh kita. Dan itu bisa mengakibatkan kematian. Bila diterjemahkan dalam kasus kerusuhan, kita mudah saja membabat pelaku-pelaku kerusuhan bila mereka berada hanya pada satu daerah. Tapi, apa yang menjamin kita bahwa kerusuhan itu tidak meluas kepada daerah-daerah yang lain, atau tidak muncul lagi pada waktu yang lain? Mitos Ketiga: Kerusuhan Disebabkan oleh Satu Faktor Tunggal. Dalam literatur sosiologi, pernah bermunculan teori-teori yang menunjuk satu saja penyebab segala masalah sosial. Ada yang menunjuk bahwa perilaku manusia itu disebabkan oleh bawaan sejak lahir. Menurut kaum eugenik, berbagai kerusuhan bisa diselesaikan dengan melakukan rekayasa genetik. Orang-orang yang terlibat dalam kerusuhan sebaiknya dikebiri sehingga tidak menyebarkan keturunan yang buruk. Teori ini sudah lama dimuseumkan dan sudah tidak pantas dibicarakan lagi. Dekat dengan penjelasan eugenik adalah penjelasan rasis. Ada ras atau suku bangsa tertentu yang mempunyai watak panas, agresif, senang tindakan kekerasan. Pernah diduga di Amerika bahwa orang Negro memang cenderung menjadi penjahat. Di Indonesia kita mendengar juga teori bahwa orang Madura memang berdarah panas. Mereka mudah sekali disulut untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan, Penjelasan seperti ini bukan saja tidak ilmiah, tetapi juga tidak bermoral. Kita melakukan stereotyping, dengan melakukan generalisasi berlebihan. Menyebut Madura berdarah panas sama saja seperti beranggapan bahwa orang Padang itu licik, orang Jawa munafik, orang Batak kasar, dan orang Sunda suka kawin. Ada lagi orang yang menunjuk penyebab kerusuhan itu pada kurangnya iman dan ketakwaan. Kerusuhan, keberingasan, kebrutalan, hanya dapat dihilangkan dengan meningkatkan iman. Teori ini sulit dibuktikan kebenarannya dan sangat mudah dibuktikan kesalahannya. Sangat sulit mengukur keimanan. Dengan menggunakan indikator yang bermacam-macam, para peneliti menemukan bahwa tidak ada perbedaan perilaku sosial di antara orang yang taat beragama dengan yang tidak. Lagipula, dalam sejarah, kerusuhan sosial justru banyak terjadi ketika semangat agama sedang mencapai puncaknya. Hanya semata-mata menunjuk iman sebagai faktor penyebab, mengabaikan banyak faktor yang lain. Bila orang beragama menunjuk iman sebagai satu-satunya faktor, kaum Marxian menunjuk ekonomi sebagai satu-satunya sebab. Kerusuhan, konflik, atau masalah sosial lainnya disebabkan oleh perbedaan kepentingan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin, antara penindas dan orang tertindas, antara majikan dan buruh, dan selanjutnya. Kita mirip Marxian, bila kita menuding penyebab berbaga kerusuhan sekrang ini hanya disebabkan oleh kesenjangan ekonomi. Kita tidak ingin menyebut kaum Marxian, atau umat beragama, atau penafsir sosial lainnya sebagai salah total. Kita hanya menganggap keliru siapa saja yang mencari sebab masalah sosial, termasuk kerusuhan, dengan hanya melihat satu faktor saja. Walhasil, sambil bersikap kritis pada berbagai penjelasan yang kita dengar sekarang ini, kita juga harus belajar memandang persoalan tidak sesederhana seperti yang kita inginkan. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
AntipsikiatriAugust 28, 2026Martie tiba-tiba berubah. Ia senang menyendiri. Ia diam membisu, tanpa suara tanpa gerak. Sejam ia diam, tidak seorang pun keberatan. Lima jam membisu, keluarga terdekat mulai bertanya-tanya. Lebih dari dua belas jam, psikiater diminta pendapat. “Mutisme katatonik”, kata psikiater. “Ia harus segera dibawa ke rumah sakit jiwa”.Di luar kemauannya, tanpa pembela, Martie diputuskan untuk “dipenjarakan” (atau dirawat, menurut istilah pelembutnya). Hidupnya sekarang harus mengikuti regimentasi yang sepenuhnya dikontrol psikiater. Ia tidak bebas melakukan apa yang ia kehendaki. Bila ia tidak bisa diatur, ia diberi “obat” (dengan dosis yang dapat membantu Anda coma sehari semalam). Bila masih bandel juga, otaknya diberi kejutan listrik. Atau sebagian organnya diambil – dikerat dengan pisau atau sinar laser. Pemenjaraan ini bisa berlangsung sebulan, setahun, atau puluhan tahun; bergantung pada keputusan psikiater. “Kekuasaan yang diberikan, bahkan dipaksakan, pada psikiatri untuk melepaskan hak-hak dan kebebasan warganegara demi keperluan kedokteran, untuk observasi dan perawatan, tidak ada tandingannya dalam kekuasaan legal maupun dalam masyarakat kita, kecuali, saya kira, pada masyarakat yang membenarkan penyiksaan para narapidana, tulis R.D. Laing dalam Wisdom, Madness, and Folly. Laing dididik sebagai psikiater dan bertugas puluhan tahun dalam profesinya. Ia bergaul akrab dengan para pasiennya. Ia merasa tidak enak dengan kekuasaan berlebihan yang diberikan kepadanya sebagai dokter jiwa. Ia mencoba memperlakukan pasiennya sebagai manusia. Cara-cara perawatan psikiatrik yang lazim sekarang ini dipandangnya tidak manusiawi; malah telah menjadi cara paling efektif to drive someone crazy or more crazy (membuat orang gila atau lebih gila). Ia mengusulkan supaya untuk memahami pasien dari perspektif pasien. Anda harus masuk dalam dunia mereka. Anda menghargai hak-hak mereka selama mereka tidak mengganggu hak orang lain. Apa hak Anda untuk menilai seseorang gila hanya karena Anda tidak memahami perilakunya? Apa hak Anda untuk memenjarakan Martie, hanya karena Martie memilih untuk diam? Bukankah ia tidak menganggu hak Anda untuk bicara? Apa hak Anda untuk memaksa orang lain berbuat seperti yang Anda kehendaki? Pertanyaan-pertanyaan Laing dianggap terlalu nakal. Dunia psikiatri gempar. Laing dianggap sebagai psikiater yang antipsikiatri. Ketika ia membawa pasiennya tidur di rumahnya, dalam satu ranjang yang sama, para sejawatnya menggelengkan kepala. Mereka menuduhnya gila. Laing memberikan beberapa contoh betapa mudahnya psikiater menuduh orang gila, hanya karena ia tidak memahaminya. Tulisan Kierkegaard, The Concept of Dread, disebut Abraham Myerson sebagai contoh utama tentang cara berpikir seorang schizoid. Sejawat Laing di Harvard Pshyciatry Departement mengeluh karena ia tidak sanggup memahami tulisan Hegel. Ketika Laing bertanya apakah rekannya itu akan mendiagnosa Hegel sebagai skizoprenik (sejenis “kegilaan”), ia menjawab, “Tentu saja!”. Pada masyarakat yang gila, orang waras akan disebut gila. Ketika status dan peran mereka menjadi rancu, ketika norma hukum tidak lagi mengatur tetapi diatur, ketika perilaku warga masyarakat tidak lagi dapat diduga, ketika hipokrasi mejadi kebiasaan umum, orang yang berusaha hidup lugas , jujur dan apa adanya akan dianggap gila. Pada masyarakat yang perilakunya sudah diregimentasi menurut ritma pengambil keputusan, yang mengemangkan autoritmia (ritma sendiri) akan dipandang gila. Untunglah tidak banyak orang yang menjadi psikiater, sehingga tidak semua yang dipandang gila itu dibawa ke bangsal psikiatrik. Laing boleh jadi gila; tetapi ia mengingatkan kita untuk berhati-hati menyebut gila kepada orang yang perilakunya tidak bisa dipahami. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
KEPEMIMPINAN: MISI KENABIAN DI BUMIAugust 25, 2026Setelah Rasulullah Saw. meninggal dunia, ada beberapa orang yang ingin mengetahui akhlak Nabi. Lalu mereka datang kepada Umar bin Khathab, yang ketika itu sedang memerintah. Umar menjawab tidak tahu dan ia menyuruh orang ini untuk menemui Bilal. Ketika mereka datang kepada Bilal, dia membawa orang-orang tersebut kepada Imam Ali. Mereka berkata, “Tolong ceritakan kepada kami tentang akhlak Rasulullah!” Imam ‘Ali pun berkata, “Sebelum aku menggambarkan akhlak Rasulullah, coba gambarkan kepadaku kesenangan dan keindahan dunia ini.” Mereka pun tergagap dan tidak bisa menceritakan kesenangan dan keindahan dunia ini. “Aneh sekali,” kata Imam ‘Ali, “Kalian tidak sanggup menceritakan kesenangan dan keindahan dunia, padahal dunia ini digambarkan dalam Al-Quran sebagai ‘… kesenangan dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa….” (QS. An-Nisa : 77). Lalu kalian minta agar aku menggambarkan akhlak Nabi, padahal Al-Quran sendiri mengatakan, ‘Sesungguhnya engkau benar-benar berakhlak luhur dan agung, (QS. Al-Qalam : 4). Melukiskan dunia yang kecil saja kalian tidak sanggup, apalagi melukiskan akhlak Rasulullah yang agung.” Rasanya, saya pun tidak sanggup bercerita tentang nubuwwah atau kenabian yang merupakan salah satu aspek saja dari kepribadian Nabi Saw. Kenabian sendiri memiliki banyak dimensi dan aspek sehingga tidak mungkin bagi saya untuk membicarakan itu semua. Karena itu, saya akan memilih satu aspek saja. Nabi Saw. didefinisikan sebagai bukan filsuf, bukan sufi dan bukan yang lainnya. Saya ingin menyebutkan satu saja dari aspek nubuwwah atau kenabian berdasarkan Al-Quran, Surah Al-Hadid ayat 25. “Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya, Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” Dalam ayat ini diceritakan fungsi kenabian: untuk apa sebenarnya kenabian itu dan apa sebetulnya yang dibawa oleh beliau? Salah satu aspek dari kenabian adalah bahwa Nabi dibangkitkan oleh Allah Swt. untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manusia dan juga agar umat manusia bangkit untuk menegakkan keadilan. Jadi, menurut ayat ini, tugas para nabi dan rasul adalah menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manusia. Dalam pandangan Al-Quran, dunia ini tidak mungkin diatur secara adil kecuali dengan menghadirkan para nabi dan rasul. Mereka itulah yang akan menegakkan keadilan. Dengan demikian, salah satu aspek kenabian adalah menegakkan keadilan, atau isti’mar al-hukumah al-Ilahiyah. Kenabian adalah ekstensi atau perpanjangan tangan dan pemerintahan Allah Swt. di muka bumi. Hanya bagian itu saja yang ingin saya sampaikan di sini. Nubuwwah, dalam artian di sini, bermakna isti’mar al-hukumah al-Ilahiyah. Nabi datang untuk menegakkan al-hukumah al-llahiyah. Untuk itu, Allah Swt. membekali para nabi dan rasul dengan empat hal, yaitu al-bayyinah, Al-Kitab, al-mizan, dan al-hadid. Saya bacakan ini dari Tafsir Al-Furqan, “Untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manusia, Nabi membawa tiga hal: keterangan, kitab, dan timbangan.” Hal itu dilakukan untuk mengantar manusia menuju keadilan secara sukarela dan kemudian menegakkan keadilan dengan besi yang mempunyai kekuatan dahsyat secara paksa. Penulis tafsir ini kemudian mengatakan, “… li man laysa lahu thaw’un ila al-haqq wa raghbatun ila al-qisth al-ladzina yajhaluna aw yatajalahuna lughat al-insani, al- bayyinah wal kitab wal mizan, falyuwajihu bi lughat al-hayawan, al hadid fihi ba’sun syadid.” Menurut para ahli tafsir, termasuk Mujahid dan Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan besi di sini adalah kekuatan senjata yang di dalamnya ada sesuatu yang besar dan dahsyat. Jadi, Nabi Saw. datang bukan hanya membawa al-bayyinah, mizan, dan Al-Kitab saja. Nabi Saw. datang dengan membawa al-hadid atau besi. Kalau kita mengaku sebagai pengikut Rasulullah Saw., maka yang harus kita bawa harusnya sama dengan yang dibawa Nabi Saw., yaitu al-bayyinah, mizan, Al-Kitab, dan kemudian al-hadid. Mungkin, karena al-hadid terletak sesudah waqaf dalam Al-Quran, kata ini biasanya tidak dibahas. Menurut penulis Tafsir Al-Furqan ini, orang yang tidak memiliki keinginan untuk memasuki kebenaran dan tidak dengan sukarela tunduk pada keadilan, kepada yang tidak mengerti dan pura-pura tidak mengerti bahasa manusia, yaitu al-bayyinah, Al-Kitab, dan al-mizan, maka hadapilah mereka dengan bahasa binatang, yaitu besi yang memiliki kekuatan dahsyat. Ketika Nabi menegakkan hukumah (pemerintahan) di muka bumi ini, Anda jangan lupa bahwa Nabi tidak hanya menggunakan al-bayyinah, Al-Kitab, dan al-mizan saja, melainkan juga al-hadid. Sebab, ada saja orang-orang dalam setiap masyarakat ̶ ketika kita hendak menegakkan keadilan  ̶ yang tidak bisa diyakinkan dengan Al-Kitab, tidak bisa diajak kepada keadilan dengan al-mizan. Bagi orang-orang seperti itu, tidak ada cara lain untuk menghadapinya, kecuali dengan bahasa al-hadid yang didalamnya ada kekuatan-kekuatan dahsyat. Pera tiran, kaum mustakbarin, orang-orang yang merasa berkuasa dan bertindak sewenang-wenang biasanya sulit untuk diyakinkan dengan argumentasi, kekuatan logika (quwwah al-manthiq). Kalau mereka tidak bisa ditaklukkan dengan semua itu, mereka harus ditaklukkan dengan logika kekuatan (manthiq al-quwwah). Semua itu dimaksudkan untuk menegakkan pemerintahan Allah di muka bumi. Saya teringat dengan sebuah kisah, mungkin juga anekdot. Dulu, Khalifah Harun Al-Rasyid punya seorang istri bernama Zubaidah. Istrinya inilah yang membangun wadi atau oase Zubaidah berupa air sungai yang mengalir. Daerah ini sekarang terletak di Irak. Sungai ini sangat panjang. Karena air sungai inilah jamaah haji yang menempuh perjalanan jauh bisa minum. Jadi, Zubaidah adalah the first lady, istri yang salehah. Pernah ada seorang ulama yang takjub dengan amal saleh Zubaidah ini. Berapa banyak orang yang sudah minum dari air sungai itu. Betapa besar pahala yang kelak diperolehnya. Setiap tahun ada banyak peziarah yang bisa melepas dahaga dengan minum air sungai itu. Akhirnya, ulama ini tidur, dan dalam mimpinya ia berjumpa dengan Zubaidah. Ia pun bertanya, “Pahala apa yang engkau terima dari Allah sebagai balasan atas amalmu membangun oase ini?” Zubaidah pun menjawab, “Pahalanya sudah diberikan Allah kepada rakyat yang memberikan keringat dan tenaganya untuk membangun oase ini.” Zubaidah hanyalah istri seorang khalifah. Jadi, ia hanya sekadar memberikan perintah saja. Sebenarnya, yang membangun adalah rakyat. Pada suatu hari, Zubaidah bertengkar dengan suaminya. Dalam pertengkaran tersebut, Harun Al-Rasyid melontarkan ancaman, “Engkau harus keluar dari kerajaanku dalam waktu satu hari satu malam!” Asal tahu saja, kerajaan Harun Al-Rasyid pada waktu itu adalah sebuah imperium besar. Imperium Islam sudah membentang mulai dari Sungai Eufrat dan Tigris hingga mencapai kawasan Sungai Gangga di India. Jadi, imperium Islam adalah sebuah kekuasaan yang teramat luas. Sampai- sampai  ̶ pada waktu itu  ̶ para sultan dengan sombongnya berani mengatakan, “Matahari tidak pernah tenggelam di kerajaan-kerajaan Islam. Sebab, kalau matahari tenggelam di sebelah barat, maka ia masih tetap terbit di sebelah timur.” Jadi, diberilah Zubaidah ini waktu satu hari satu malam untuk meninggalkan kerajaan suaminya. Dia yakin bahwa Zubaidah tidak mungkin bisa melakukannya. Benar saja, pada suatu sore, hilanglah Zubaidah ini. Seluruh tentara Harun Al-Rasyid dikerahkan untuk mencarinya, tetapi mereka tidak menemu- kannya. Akhirnya, Zubaidah ditemukan sedang berada di da- lam masjid. Namun, ketika hendak ditangkap, Zubaidah ber- kata, “Tidak! Aku sudah keluar dari kerajaan Harun Al-Rasyid. Kini, aku sedang berada di dalam kerajaan Allah. Ini masjid, ini kerajaan Allah!” Betul saja, Zubaidah tidak jadi ditangkap karena dia memang sudah keluar dari kerajaan Harun Al- rasyid dengan memasuki kerajaan Allah Swt. Ada dua hal menarik dari kisah ini. Pertama, kerajaan Harun Al-Rasyid lebih besar daripada kerajaan Allah. Kerajaan Allah hanya sebatas masjid saja. Kedua, selama ini, kita hanya menegakkan al-hukumah al-Ilahiyah di masjid saja. Dengan cara itu, kita sudah merasa melanjutkan khiththah nabawiyyah atau garis perjuangan Nabi Saw. Sebelum saya melanjutkan pembahasan inti, menarik untuk mengutip ucapan Al-Fakhrurazi dalam tafsirnya mengenai makna Al-Kitab, al-mizan, dan al-hadid. Pertama, ia mengata- kan bahwa Al-Kitab menunjukkan quwwah al-nazhariyyah (kekuatan nalar). Jadi, ketika kita menyeru orang pada keadilan, menegakkan hukum Allah, pergunakanlah terlebih dahulu kekuatan nalar melalui Al-Quran dan kemudian dengan contoh perilaku kita. Sebab, ada orang yang sukar mengerti dengan kekuatan nalar. Dan, al-mizan, menurut sebagian ulama tafsir, berarti pula sunnah Rasulullah Saw., karena perilaku beliau bisa dijadikan timbangan untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan demikian, untuk orang awam kita menggunakan al-mizan. Sementara itu, al-hadid, kata Fakhrurazi, digunakan untuk memberikan peringatan kepada orang-orang yang tidak mau melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Dia menyebut sekitar tujuh mazhab yang berpendapat tentang Al-Kitab dan al-mizan ini. Saya tidak akan menceritakan semuanya kepada Anda. Sebagian ada yang berhubungan dengan tasawuf. Kedua, Fakhrurazi malah mengaitkannya dengan tahap-tahap manusia dalam Al-Quran. Ada orang-orang yang termasuk ke dalam golongan as-sâbiqûn, al- muqtashidûn, dan azh-zhâlimûn. Golongan as-sabiqun adalah orang-orang yang dekat dengan Allah. Mereka tidak bisa beramal kecuali dengan mengamalkan kitab Allah. Bagi mereka itulah diperuntukkan Al-Kitab. Fakhrurazi mendefinisikan as-sabiqin sebagai “orang-orang yang sudah sampai pada kebenaran dan tidak setengah- setengah dalam mengikuti kebenaran itu.” Kepada mereka itulah diajarkan Al-Kitab. Berikutnya adalah al-muqtashidûn, yaitu orang-orang yang yantashifun. Mereka sudah menemukan kebenaran tetapi masih setengah-setengah. Kata yantashifûn berasal dari intashafa- yantashifu, yang bermakna mengambil setengah-setengah. Nah, kepada mereka berikanlah contoh perilaku, yaitu al-mizan. Akan tetapi, kepada golongan azh-zhâlimûn berikanlah al-hadid. Hanya saja, kita sering salah menempatkan dan memilih objek. Kepada golongan azh-zhâlimûn kita sampaikan Al-Kitab. Sudah tentu, yang demikian itu tidak akan digubris dan tidak akan meninggalkan bekas apa-apa. Walhasil, ketika kita sedang menghadapi berbagai macam manusia, gunakanlah cara-cara yang berbeda. Akan tetapi, semuanya itu dimaksudkan untuk menegakkan al-hukumah al-Ilahiyah di dunia. Dan, nubuwwah atau kenabian mempunyai misi menegakkan al-hukumah al-Ila- hiyah atau kepemimpinan di muka bumi. Dalam kalimat Al-Quran lainnya, istilah ini disebut dengan waliy atau imam, dan posisinya disebut wilayah. Al-Quran menegaskan bahwa wilayah adalah hak Allah, hak Rasulullah dan orang-orang beriman. “Sesungguhnya, penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah),” (QS. Al-Ma’idah : 55). Jadi, ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman itu sebenarnya satu garis dan bersambung, yaitu mulai dari Allah sampai kepada Rasulullah, dan kemudian kepada orang-orang beriman. Jadi, sebetulnya kepemimpinan Ilahiyah di muka bumi ini melewati hierarki atau urutan seperti itu. Tentu saja, yang pertama kali dibicarakan adalah adalah al-hukumah al-llahiyah. Akan tetapi, dalam sejarah kepemimpinan umat manusia, yang sering dibicarakan terlebih dahulu adalah kepemimpinan atau imamah, hukumah Islamiyah yang ditegakkan oleh para nabi. Ada satu saat dalam sejarah umat manusia, di mana kita diperintah oleh wakil-wakil Tuhan yang ada di muka bumi. Mereka itu adalah para nabi. Tentu saja, mereka bukan Tuhan. Dengan demikian, masa yang pertama itu bisa kita sebut sebagai masa nubuwwah, yaitu suatu masa ketika pemerintahan Tuhan ditegakkan oleh para nabi. Hanya saja, masa kenabian ini berakhir dengan meninggalnya Rasulullah Saw. Sehabis masa kenabian ini, kepemimpinan Allah di muka bumi tidak berakhir dan dilanjutkan oleh orang-orang beriman. Kita kembali lagi pada yang pertama. Ketika Allah mengangkat pemimpin untuk mengatur dunia melalui al-hukumah al-Ilahiyah dengan menunjuk para nabi, apakah Allah Swt. bermusyawarah dengan makhluk-Nya? Apakah Allah Swt. ̶ sebelum mengangkat Nabi Musa sebagai pemimpin Bani Israil guna menegakkan keadilan ̶ bermusyawarah dan berunding dulu dengan orang-orang Mesir pada waktu itu? Atau dengan orang-orang Madyan? Tentu tidak! Allah sendiri yang memilih dan mengangkat para nabi itu. Dengan demikian, para nabi itu diangkat oleh Allah sebagai imam atau pemimpin. Ketika mengangkat Nabi Ibrahim sebagai imam, Al-Quran menuturkan sebagai berikut, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya, Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku’. Allah berfirman, Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim,” (QS. Al-Baqarah : 124). Mula-mula Allah Swt. menguji Nabi Ibrahim dengan aneka macam ujian. Ada sebagian qira’at yang membaca rabbahu (dan tidak rabbuhu, sebagaimana yang terdapat dalam ayat itu). Artinya, ketika Ibrahim meminta kapada Allah Swt. agar ujian. ‘Ala kulli hal, entah qira’at atau bacaan mana yang dipilih, jelaslah bahwa Ibrahim diuji terlebih dahulu, baru kemudian diangkat sebagai imam. Surat keputusan (SK) pengangkatannya sebagai imam, kalau boleh dikatakan demikian, berasal dari Allah dan tidak berasal dari hasil pemilihan umum. Dalam ayat ini, Allah Swt. berfirman, “Inni ja iluka lin-naas imaman.” Allah menjadi ja’il dan Ibrahim menjadi maj’ul. Karena itu, kenabian atau kepemimpinan yang melanjutkan al-hukumah al-Ilahiyah itu harus berupa ja’lun ilahiyun, sesuatu yang berhak dan harus dilakukan Allah Swt. semata. Jadi, kalau kita menemukan ada salah seorang di antara kawan-kawan kita yang menganggap dirinya imam untuk menegakkan al-hukumah al-Ilahiyah di muka bumi, pertanyaan pertama yang harus kita ajukan kepadanya adalah SK ini. Pengangkatannya sebagai imam haruslah berupa ja’lun ilahiyun, atau-menurut istilah para ulama-harus manshush (harus ada nash-nya). Ia harus mampu menunjukkan ayat Al-Quran dan hadits yang menyatakan bahwa ia memang diangkat sebagai imam. Suatu saat, oleh kelompok-kelompok ekstrem di Bandung, saya diculik, persis seperti Presiden Soekarno dulu. Di tempat itu sudah berkumpul para pemuda aktivis yang saya lihat ruh jihad terpancar terang dari wajahnya. Akan tetapi, ruh akalnya saya lihat memudar. Mereka meminta saya menjadi imam. Katanya, mereka mau membaiat saya sebagai imam. Mereka pun mengancam bahwa kalau saya tidak mau menjadi imam, itu artinya saya pengecut, hanya bisa ngomong saja pada orang lain untuk menegakkan al-hukumah al-Ilahiyah. Namun, ketika dimintai tanggung jawab tidak mau. Mereka mendesak saya. Saya pun menolak habis-habisan. Pertama, saya katakan bahwa saya tidak punya SK pengangkatan dan Anda tidak bisa mengangkat seorang imam yang menjalankan al-hukumah al-Ilahiyah. Sebab, ini adalah al-hukumah al-llahiyah dan bukan al-hukumah ad-dimuqrathiyah atau pemerintahan demokrasi. Kalau pemerintahan demokrasi, maka rakyatlah yang harus memilih. Kalau saya disuruh menjadi imam untuk menegakkan dan menjalankan al-hukumah al-Ilahiyah, saya harus memiliki SK dari Tuhan. Misalnya, harus ada nash yang menyatakan, “Ya Jalaladdin Rakhmat! Inni ja’iluka lin-naas imaman.” Nah, Nabi Ibrahim memperoleh SK pengangkatan langsung dari Allah Swt. Ketika Nabi Zakaria ingin menunjuk pengganti sepeninggalnya, beliau tidak minta pendapat manusia, tidak bermusyawarah dengan kaumnya. Akan tetapi, beliau justru berdoa kepada Allah Swt., “Maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang wali,” (QS. Maryam : 5). Beliau memintanya kepada Allah bukan kepada manusia. Ketika Nabi Isa meninggalkan dunia ini, beliau tidak membiarkan umatnya tanpa petunjuk. Beliau memberitahukan siapa pengganti sesudahnya. Beliau tidak bermusyawarah atau berunding. Atau, Nabi Isa tidak mengatakan, “Saya serahkan pada musyawarah kalian siapa yang bakal melanjutkan penegakan al-hukumah al-Ilahiyah.” Tidak! Tidak demikian. Nabi Isa justru mengatakan, “Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata, ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah ke- padamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang. Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata,” (QS. Ash- Shâff : 6). Inilah sunnah Ilahi yang berlaku sepanjang sejarah. Pada waktu itu, Nabi Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Jadi, Nabi Ibrahim memohon agar keturunannya juga diangkat menjadi imam, bukan hanya beliau sendiri. Lalu, seolah-olah Allah Swt. berfirman, “Boleh keturunanmu Aku angkat juga sebagai imam atau pemimpin, asalkan mereka tidak termasuk orang-orang yang zalim lantaran “janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang zalim.” Zalim adalah istilah dalam Al-Quran yang berarti berbuat dosa sehingga kita pun harus beristighfar dengan mengucapkan, “Ya Allah, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri (inni zhalamtu nafsi).” Jadi, zalim artinya berbuat dosa. Malah, syirik pun disebut kezaliman juga: inna al-syirk lazhulm azhim; sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar. Dengan demikian, berdasarkan Surah Al-Baqarah ayat 124 tadi, kepemimpinan yang satu garis dengan, dan bersambung pada, Allah Swt. itu harus memiliki tiga kriteria atau syarat, yaitu (1) berasal dari keturunan Nabi Ibrahim, (2) manshush atau ada nash-nya, (3) ma’shum atau bersih dari perbuatan dosa. Sesudah zaman para nabi berakhir, harus ada orang-orang yang melanjutkan kepemimpinan ini. Hanya saja, mereka harus me- menuhi ketiga syarat tersebut, jika kepemimpinan mereka melanjutkan tegaknya al-hukumah al-Ilahiyah. Kalau kepemimpinan-kepemimpinan biasa lainnya, seperti kepemimpinan sosial, maka ketiga syarat tersebut tidak perlu ada. Karena itu, pemimpin yang diberi amanat untuk menegakkan al-hukumah al-llahiyah harus memiliki tiga syarat tersebut. Pertama, kepemimpinan itu harus ja’lum Ilahiyun, yaitu harus berdasarkan SK dari Allah Swt. atau manshush. Kedua, dia harus berasal dari dzuriyyah atau keturunan Nabi Ibrahim. Ketiga, dia harus terpelihara dari perbuatan dosa dan tidak berbuat zalim, termasuk tidak pernah menzalimi diri sendiri. Sekarang, saya ingin menyimpulkan. Kita harus melihat nubuwwah atau kenabian sebagai perpanjangan tangan dari pemerintahan Allah di muka bumi. Itu yang pertama. Yang kedua, sesudah Rasulullah Saw. wafat, dunia ini tidak boleh sepi dari pemimpin yang melanjutkan tegaknya al-hukumah al-Ilahiyah di muka bumi. Yang ketiga, para pemimpin yang diberi amanat untuk menjalankan tugas tersebut tidak pernah berbuat dosa atau berlaku zalim. Sekiranya kita semua berniat menegakkan al-hukumah al-Ilahiyah ̶ saya kira harus begitu, kita harus kembali pada khiththah nabawiyyah seperti itu. Untuk mengakhiri pembicaraan ini, izinkan saya membacakan hadits-hadits yang sebenarnya menyuruh kita untuk menegakkan imamah yang melanjutkan al-hukumah al-Ilahiyah, dan satu ayat Al-Quran yang mengisyaratkan ke arah situ. Ayat tersebut berbunyi, “Pada hari ketika Kami penggil setiap kelompok manusia dengan imam mereka…” (QS. Al-Isra : 71). Peristiwa ini terjadi pada Hari Kiamat kelak. Walaupun ada berbagai tafsiran atas kata “imam” di sini, hadits berikut dengan jelas menunjukkan makna imam. Pada suatu hari Rasulullah Saw. berkhutbah, dan kemudian berkata, “Ingatlah maut, karena nanti maut akan mengambil ubun-ubun kamu.” Beliau terus berkhutbah panjang hingga sampai pada, “Tidak bergeser kaki seorang hamba pada Hari Kiamat nanti, kecuali dia ditanya tentang umurnya untuk apa dipergunakan; tentang masa mudanya-untuk apa dihabiskan; tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana ia dibelanjakan; dan tentang imannya-siapakah dia?” Selanjutnya, Nabi Saw. pun membaca ayat Al-Quran tersebut. Begitu pula, kita banyak mengenal hadits-hadits yang sering dibaca oleh kawan-kawan kita yang membentuk jamaah dan kemudian mengklaim dirinya sebagai imam. Hadits-hadits itu misalnya, “Man mata bi ghair imam, mata mitatan jahiliyatan.” Artinya, “Barangsiapa mati tanpa mempunyai imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR Ahmad). Dalam riwayat lain disebutkan juga, “Man mata wa lam ya’rif imama zamanihi, mata mitatan jahiliyatan.” Artinya, “Barangsiapa tidak mengetahui imam zamannya, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” Dari hadits-hadits tersebut, jalaslah bahwa kita semua tentu berharap untuk tidak mati jahiliyah. Oleh karena itu, kita memerlukan imam atau pemimpin. Untuk itu, harus ada pedoman ihwal siapa yang menjadi imam kita. Sebab, kalau jabatan imam itu tidak mempunyai pedoman, maka setiap jamaah nantinya akan menampilkan imamnya masing-masing. Dan, insya Allah, pada Hari Kiamat kelak, kita akan dipanggil oleh Allah Swt. berdasarkan imam kita. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Dakwah dalam Transformasi SosialAugust 24, 2026“Kita memerlukan cinta. Selama lebih dari jutaan tahun dalam perkembangan spesies kita, cinta telah ditanamkan ke dalam diri kita. Seperti monyet dan kera yang memerlukan induk yang mencintai dan kelompok keluarga kecil atau besar, seperti mereka, kita memerlukan kehadiran orang lain. Kita memerlukan perawatan ibu untuk merangsang kecerdasan kita. Tanpa orang-orang yang ramah, baik dalam keluarga maupun sahabat yang akrab, kita tidak bisa bahagia. Sebagian di antara kita malah mati. Tanpa cinta, manusia tidak dapat hidup sehat dan bahagia. Cinta sama pentingnya bagi kesehatan fisik dan mental sama seperti vitamin, makanan bergizi, olah raga, dan lingkungan hidup yang sehat. Di Barat, masyarakat telah berusaha keras dan mengatur sebaik-baiknya agar tercipta situasi yang lebih baik bagi semua orang-sistem pembuangan yang baik, air minum yang bersih, perawatan kesehatan, jaminan kesejahteraan sosial, tunjangan khusus untuk ibu-ibu bagi kepentingan anak, sekolah, rumah bagi lansia, rumah sakit. Sebuah struktur organisasi negara yang besar diciptakan untuk menjamin agar kebu tuhan pokok manusia bisa dipenuhiꟷtetapi kita tidak menemukan cinta di dalamnya. (Celia Haddon, 1990). Celia Haddon sebetulnya menceritakan keadaan masyarakat yang lazim disebut ‘developed countries’, negeri yang berhasil membangun. Pembangunan telah memberikan berbagai fasilitas. Kebutuhan pokok telah terpenuhi. Orang-orang yang lemahꟷorang tua, orang sakit, anak-anak, orang miskin, penganggurꟷdiberikan santunan untuk hidup layak sebagai manusia. Rakyat diberikan kebebasan untuk memilih gaya hidupnya, menyatakan pendapatnya, ikut serta dalam pemerintahan, dan mengembangkan potensi mereka. Pemerintah hadir untuk berkhidmat bagi kepentingan masyarakat. Hukum dibuat untuk melindungi, bukan untuk menindas. Tetapi dengan segala kemudahan itu, negara-negara maju telah kehilangan cinta. Haddon memberi contoh pendidikan, “Banyak dana dan energi telah dihabiskan untuk membiayai pendidikanꟷmembangun gedung baru, kolam renang, kelas-kelas yang lebih kecil, metoda pengajaran yang baru. Tetapi, penelitian telah membuktikan bahwa sebagian besar ternyata sia-sia. Gedung, ukuran sekolah, perbedaan administrasi di dalamnya tidak berpengaruh pada kualitas lulusan. Yang ternyata berpengaruh adalah hal lain yang lebih tidak kentara, sesuatu yang dapat saya sebut sebagai ‘kehangatan institusional’. Penelitian membuktikan bahwa suasana sekolah bukan bentuk luar bangunan atau organisasi yang mempengaruhi murid. Suasana itu tampak pada moril keseluruhanꟷguru yang bersedia memberi waktu ekstra dan perhatian tambahan kepada siswa, yang menekankan dorongan dan pujian alih-alih mengecam, memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada siswa, beserta staf pengajar yang menjadi teladan yang baik.” Kita dapat memberikan gambaran yang sama pada politik dan agama. Struktur politik boleh jadi dibangun untuk menegakkan demokrasi. Tetapi, para penguasa dipilih dengan memanipulasi simbol dan informasi. Politik jadi panggung sandiwara yang tidak menghibur. Mereka memasuki gelanggang politik dengan membawa topeng-topeng. Mereka ‘membujuk rakyat dengan sejumlah janji. Mereka melihat rakyat sebagai tumpukan suara yang bisa dibeli. Pemimpin tidak lagi memimpin, tetapi memerintah. Sementara itu, agama juga menjadi sejumlah ritus dan upacara. Dalam metafora Nabi Saw. “Masjid-masjid mereka ramai tetapi kosong dari petunjuk.” Kesalehan tidak jarang digunakan untuk menyembunyikan keangkuhan dan menutupi penyelewengan. Lembaga-lembaga agama menjadi lembaga-lembaga keuangan yang memperlakukan kasih hanya sebagai komoditas. Teks-teks kitab suci dijadikan amunisi untuk ‘menembaki’ orang-orang yang dianggap sesat. Sebagaimana politik, agama telah kehilangan cinta. “Agama adalah kecintaan yang tulus. Tidak ada agama kalau sudah kehilangan kecintaan yang tulus,” sabda Nabi Saw. Walaupun cerita di atas berkenaan dengan masyarakat yang sudah berhasil membangun, secara perlahan dan pasti masyarakat kita pun menuju ke sana. Banyak orang yang mendefinisikan pembangunan sebagai ‘mengantarkan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern’. Pembangunan bukan saja pertumbuhan ekonomi; ia juga transformasi sosial. Bersamaan dengan modernisasi dan kemakmuran, pembangunan membawaꟷapa yang disebut sosiolog Lyman dengan the Seven Deadly Sins, tujuh dosa maut: ketidakpedulian, nafsu, angkara murka, kesombongan, iri hati, lahap, dan kerakusan. Begitu besarnya dosa modernisasi ini, sehingga sebagian penulis menyamakan kemodernan dengan skizoprenia (Louis A. Sass, 1992). Modernitas menjadi sejenis kepribadian yang dingin, kaku, tanpa arah, dan tidak manusiawi (dehumanized). Akan tetapi, modernitas bukan hanya membawa dosa, ia juga menabur jasa. Agar sistem modern berjalan efektif diperlukan jenis kepribadian yang khas. Alex Inkeles pernah merincinya. Kita hanya menyebutkan sebagian saja. Orang modern siap menjelajah pengalaman baru; terbuka untuk menerima inovasi dan perubahan. Ia siap membentuk dan mempertahankan pendapatnya sambil menghargai perbedaan pendapat. Ia tidak kaku berpegang pada gagasannya. Ia tidak takut berbeda pendapat; juga tidak membencinya. Orang modern berorientasi kepada masa kini dan masa yang akan datang. Ia bersedia menangguhkan pemuasan saat ini untuk masa depan yang lebih baik (delayed gratification). Dengan kedua sisi kepribadian modern ini, marilah kita lihat apa yang dapat dilakukan oleh kegiatan dakwah Islamiah. Transformasi sosial karena pembangunan sudah terjadi. Karakteristik masyarakat modern sudah kita saksikan di negeri kita. Apa peran dakwah dalam transformasi sosial ini? Apa kontribusi dakwah dalam menyelamatkan manusia bukan saja dari tujuh dosa maut tetapi juga dari proses dehumanisasi yang sekarang tengah berlangsung? Apa yang Harus Didakwahkan? Berdasarkan banyak ayat dakwah, kita dapat menyimpulkan bahwa dakwah adalah upaya apa saja untuk membawa manusia ke jalan Allah. Dakwah adalah proses transformasional ketika orang-orang ꟷda’i dan sasaran dakwahꟷ bertukar informasi dan pengaruh. Informasi adalah hal-hal yang bersifat faktual, logis, dan terbuka untuk berbagai penafsiran. Pengaruh adalah upaya untuk memotivasi, mendorong, dan atau mengendalikan orang lain. Da’i menyampaikan informasi tentang Islam. Ia juga berusaha memotivasi, mendorong, dan mengarahkan orang untuk mengamalkan ajaran Islam. Informasi tentang Islam berasal dari Al-Qur’an, Sunnah dan warisan peradaban Islam sepanjang sejarah. Apa yang disebut dengan ajaran Islam tidaklah murni ilahi (divine). Yang kita sebut sebagai ajaran Islam adalah penafsiran kita pada Al-Qur’an dan Sunnah dan pelajaran yang kita peroleh dari pendahulu kita. Kita tidak pernah mengamalkan Islam. Kita hanya mengamalkan apa yang kita pahami sebagai ajaran Islam. Salah satu kekuatan Islam ialah terbukanya Islam untuk interpretasi baru, reinterpretasi, sesuai dengan kondisi sejarah. Dalam setiap babakan sejarah, Islam tampil dalam wajah bermacam-macam. Islam hadir dalam dua visi: temporal dan universal. Yang universal berlaku sepanjang masa. Yang temporal adalah wajah Islam yang lahir ketika menghadapi cabaran semasa. Saya sepakat dengan Dr. Shoroush, yang mengatakan bahwa: Now, since presuppositions are age-bound, can change and do change in fact, religious knowledge, or the science of religion, which is the product of understanding (comprehending) will be in a continous change (flux), and since it is only through those presuppositions that one can hear the voice of revelation, hence the religion itself is silent, and since the interpretation of the text is social by nature and depending on the community of experts, like all learned activities it will an independent dynamic entity; abstracting from individual interpreters, containing right and wrong, certain and dubious ideas, the wrong ones being as important as the right ones from the evolutionary point of view. It is a branch of knowledge, no less no more. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Kemerdekaan di Mata Bung KarnoAugust 19, 2026Ada satu kata yang harus kita ingat, setiap kali kita menghadapi Pemilu. Kata itu ialah Merdeka. Tanpa kemerdekaan tidak akan ada Pemilu.Tanpa kemerdekaan kita tidak dapat memilih pemimpin yang kita kehendaki. Tanpa kemerdekaan kita tidak bisa ikut serta mengatur Negara. Pada pidato 17 Agustus1945, Bung Karno berkata, “Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah-air kita. Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka! Negara Republik Indonesia- Merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita!” Merdeka menurut Bung Karno adalah membebaskan diri kita dari belenggu kekuasaan orang asing. Dalam Negara merdeka, kita bebas menyusun Negara kita –ekonomi, politik, masyarakat, budaya- seperti yang kita kehendaki, bukan seperti yang dikehendaki Negara lain. Menurut Proklamator Kemerdekaan RI, merdeka bukanlah tujuan. Merdeka hanyalah alat agar kita mengelola tanah air, negara dan bangsa Indonesia seperti yang diinginkan rakyat Indonesia, bukan seperti keinginan rakyat negara lainnya. Lalu, untuk apa kita mengelola tanah air, negara, dan bangsa kita? Untuk membahagiakan seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk segelintir orang yang mengatas-namakan rakyat. Simak lagi kata bijak Bung Karno, “Bagi saya kesejahteraan umum itu sumber kebahagiaan rakyat, negara tidak boleh menjadi tempat bagi penggarong atas nama kapital, atas nama komoditi.” Pada pidato 17 Agustus 1965, yang diberinya judul “Capailah Bintang-bintang di Langit”, Bung Karno menyebutkan Trisakti, tiga karakteristik bangsa yang merdeka: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan. Kepada Joko Widodo, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berpesan agar mengabdikan dirinya secara total untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, jika kelak menjadi Presiden Republik Indonesia. Megawati juga berpesan agar Jokowi mengimplementasikan Trisakti Bung Karno, yang baru kita sebut. Dalam tulisan ini, marilah kita lihat apakah kita sekarang bangsa yang merdeka dengan ukuran Trisakti Bung Karno? Karena kini ekonomi mendikte politik dan kebudayaan, marilah kita mengukur situasi kita dalam kriteria kedua saja dahulu: berdikari dalam ekonomi. Indonesia hebat! Negeri kita ini luar biasa! Beberapa ratus meter di bawah Pegunungan Jayapura, ada terowongan yang berkelok ke kiri ke kanan, sepanjang puluhan kilometer, di bawah tanah. Pada setiap tanah yang kita injak di situ ada bongkah-bongkah emas. Saudara berada di tambang emas terbesar di dunia. Pada 2004, tambang ini diperkirakan memiliki cadangan 46 juta ton emas. Pada 2006 produksinya adalah 610.800 ton tembaga; 58.474.392 gram emas; dan 174.458.971 gram perak. Setiap hari, dari bawah tanah, diangkut oleh kereta gantung, disambung dengan conveyor belt, digelontorkan melalui pipa ke kapal induk Amerika. Berapa pemerintah mendapat bagian dari kekayaan yang luar biasa itu. Satu persen saja! Sekali lagi, satu persen saja. 99 persen, sekali lagi 99 persen, dikirimkan ke Negara kapitalis besar dunia: Amerika Serikat. Untuk saudara ketahui, 1 persen itu dari ¼ penghasilan yang dilaporkan kepada pemerintah oleh PT Freeport Amerika! Walaupun mereka menyebutnya PT Freeport Indonesia. Indonesia hebat! Tahukah saudara bahwa setiap hari ribuan ton batubara diangkut dari Kalimantan oleh perusahaan yang berdomisili di Inggris, ribuan kaki kubik gas dialirkan melalui pipa sepanjang 500 km ke Singapura dari sumber gas terbesar di dunia Natuna. Jadi saudara, di Laut Cina Selatan, ada sungai sepanjang 500 km, bukan sungai madu atau sungai susu, tapi sungai gas, sumber enerzi yang menggerakkan dunia. Indonesia Hebat! Tetapi kekayaan yang berlimpah tidak membuat rakyat Indonesia makmur; kekayaan itu diserahkan oleh penguasaha-pengusaha kita kepada perusahaan-perusahaan asing. Rakyat Indonesia mirip pemilik kebun. Semua buah-buahannya diserahkan kepada orang lain. Kita tidak punya kebun lagi. Kita jadi tukang memelihara kebun, yang dibayar dengan sangat murah. Dan kita dipaksa untuk memakan sampah-sampah, kotoran-kotoran kebun itu, yang ditinggalkan oleh para pemilik kebun. Kebun kita dirampok besar-besaran. Kita semua sekarang menjadi buruh-buruh kontrak, yang membanting tulang, memeras keringat, untuk menggendutkan para pemilik modal. Setelah kekayaan Indonesia diambil, nyawa kita pun diambil perlahan-lahan. Sudah raga dirampas, sekarang jiwa pula! Demi keuntungan perusahaan-perusahaan besar itu, para petani di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan seluruh negeri yang tercinta ini diusir dari tempat tinggalnya, diteror setiap hari, dan kalau mereka tetap melawan, ujung-ujung bayonet atau timah besi boleh jadi menyobek-nyobek tubuh mereka. Berapa luas tanah, luas daratan di Indonesia? 195 juta hektar. Kalau peta Indonesia dihamparkan di atas peta dunia, besarnya hamparan negeri ini terbentang sejak kota London, di Inggris, sampai Teheran, di Iran. 195 juta hektar. Lebih dari seluruh Negara Eropa. CATAT, dari 195 juta hektar itu, sekitar 178 juta hektar dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing; perusahaan kelapa sawit, perusahaan minyak dan gas, pertambangan mineral dan batu bara, dan kehutanan. Mereka menguasai 93 persen dari tanah saudara. Sisanya sekarang sedikit demi sedikit diambil mereka untuk pabrik, mal-mal, supermarket, hotel, dan sebagainya. Ketika kita menyanyikan lagu kebangsaan ini, menangislah kalian: Indonesia, tanah airku! Ah, tanah air itu bukan lagi milik kita! Di tengah-tengah kekayaan Indonesia Hebat itu saudara meringkuk dalam penderitaan, gaji saudara dibayar murah, dan saudara harus membayar untuk hak-hak saudara. Saudara harus membayar biaya pendidikan, padahal itu hak semua rakyat. Saudara harus membayar ongkos perawatan dan pemeliharaan kesehatan, padahal itu hak semua rakyat. Saudara bahkan harus membayar keamanan, membayar sampah, bahkan jalan raya yang akan saudara masuki. Negeri kita belum merdeka. Menurut Bung Karno, kita harus melakukan aksi massa, menyadarkan mereka, bahwa tujuan perjuangan kita ialah menumbangkan stelsel kapitalisme, membebaskan negeri ini dari Neokolonialisme, menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang berdikari secara ekonomi. Itu baru namanya merdeka. Pilihlah siapa pun, tetapi dengan kesadaran bahwa kamu ingin memerdekaan negeri kamu dari penjajahan ekonomi, politik, dan budaya! KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Kemerdekaan dan GoncanganAugust 18, 2026Manakah yang lebih bagus: stabilitas atau dinamika; kesetimbangan atau ketimpangan; ekuilibrium atau dis-ekuilibrium? Para politisi memilih yang pertama, para ilmuwan mutakhir mengambil yang kedua. Menurut Hukum Thermodinamika Kedua, semua sistem bergerak ke arah entropi. Makin banyak entropi, makin sulit sistem berubah. Seperti sebuah mesin, makin lama ia bekerja, makin banyak energi yang dikeluarkan, makin aus komponen-komponennya, dan akhirnya hancur. Mobil apa saja, baik BMW maupun Timor, akan berkurang kinerjanya lantaran waktu. Akhirnya, mobil itu mogok, tidak bergerak, tidak berubah. Walhasil, sampai pada titik ekuilibrium. Dalam fisika, ekuilibrium adalah keadaan sistem ketika resultante semua tenaga yang mempengaruhinya sama dengan nol. Bila alam semesta ini sebuah mesin raksasa, ia akan mengalami nasib seperti mobil. Ia akan menjadi seonggok besi tua: stabil dan setimbang. Tak ada apa pun yang dapat mengubahnya. Ia mati. Setelah ribuan tahun, tak perlu sampai jutaan tahun, alam semesta akan berhenti pada satu keadaan, yang disebut Peter Coveney dan Roger Highfield sebagai “saat ketika entropi dan keacakan mencapai tingkat paling tinggi, saat semua kehidupan berakhir.” Anehnya, alam semesta yang kita huni tidak menjadi barang rongsokan. Alih-alih kehancuran, setiap saat kehidupan baru lahir. Kenyataan menolak Hukum Thermodinamika Kedua. Hukum fisika ini membingungkan para ilmuwan, yang menyaksikan proses evolusi yang menggerakkan semua menuju kesempurnaan. Para mufasir ilmiah ala Bucaille sulit mencocokkan “ayat kawniyyah” ini dengan “ayat Qur’aniyyah” yang mengatakan: Yang menciptakan dan menyempurnakan. Anehnya, walaupun Hukum Thermodinamika Kedua ditolak dalam tingkat makroskopis, kita masih berfikir dalam kerangka ini pada tingkat mikroskopis. Kita menganggap masyarakat akan berakhir dalam kehancuran, waktu akan menggiring kita pada kematian, negera ini akan jatuh dalam kebinasaan. Mungkin karena kita menengok tubuh kita: lahir, tumbuh, dewasa, menua, dan mati. Tetapi, sekiranya kita mengamati lebih jeli, kita akan melihat kelahiran baru dalam tubuh kita setiap saat. Menurut fisikawan Deepak Chopra, setiap satu bulan kita berganti kulit (lebih cepat dari ular), liver kita berganti setiap enam minggu. Dan otak kita, dengan seluruh sel yang menyimpan pengetahuan, mengganti kandungan karbon, nitrogen, dan oksigen setiap dua belas tahun. Setiap hari, ketika menarik dan mengeluarkan napas, kita mengeluarkan sel-sel kita dan memasukkan unsur-unsur dari organisme yang lain untuk menciptakan sel-sel baru. “Kita semua,” kata Chopra, “lebih mirip sungai yang terus mengalir ketimbang sesuatu yang beku dalam ruang dan waktu.” Walhasil, Hukum Thermodinamika Kedua hanya berlaku pada sistem tertutup. Alam semesta dan tubuh kita adalah sistem terbuka. Setiap saat, kita berinteraksi dengan lingkungan kita. Untuk sistem terbuka berlaku hukum yang dirumuskan Ilya Prigogyne, pemenang hadiah Nobel itu. Untuk memahami teori ini, ilmuwan harus meninggalkan perspektif kehancuran dan menggantinya dengan perspektif pertumbuhan. Setiap saat, sistem mengeluarkan energi untuk menciptakan struktur yang baru. Prigogyne menyebutnya dissipative structure. Sistem akan berkembang ke arah yang lebih baik bila ia digoncangkan oleh perubahan. Ia naik ke arah struktur yang lebih canggih bila ia dihadapkan pada gejolak (disturbances). Sebelum mencapai keteraturan yang baru, sistem harus mengalami ketidakteraturan. Alam semesta adalah sebuah sistem yang terus memperbaharui dirinya (self renewing system). Dengan apa? Dengan goncangan, kemelut, ketidakteraturan, kekacauan, taufan, dan badai. Mendidihkan air membawa molekul air pada struktur yang lebih menakjubkan, sebagaimana taufan mengubah struktur udara menjadi lebih relevan dengan lingkungan. Masa pubertas adalah masa taufan dan badai yang mengantar jiwa anak ke arah kedewasaan. Otak Anda menjadi lebih cerdas bila berulang kali dihadapkan pada goncangan pemikiran. Para sufi bercerita tentang derita yang harus dialami sebelum mencapai maqâm yang lebih tinggi. Organisasi atau perusahaan akan mengembangkan struktur yang lebih produktif setelah melewati kemelut. Kumpulan berbagai suku bangsa membentuk struktur negara kesatuan Indonesia setelah diguncangkan oleh revolusi. Dalam berbagai situasi ini, yang membantu proses pertumbuhan bukan lagi kesetimbangan, tetapi ketimpangan; bukan lagi ekuilibrium, tetapi disekuilibrium. Ekuilibrium bersifat temporer; dis-ekuilibrium, abadi. Ekuilibrium adalah kematian, sedangkan dis-ekuilibrium adalah kehidupan. Jadi, mengapa kita harus membenci guncangan atau ketakseimbangan? Guncangkan otak Anda untuk meningkatkan kecerdasan; timbulkan gejolak dalam hati Anda supaya mendekati kesucian; hadapi kemelut dalam organisasi supaya ada perkembangan; lihat kerusuhan sebagai wahana kemajuan. Dalam Thermodinamika klasik, ekuilibrium adalah rongsokan besi tua dari sistem yang tertutup. Dalam dissipative structure, ekuilibrium adalah kesementaraan yang harus diguncangkan dalam sistem terbuka. Ketenangan bayi dalam susuan ibunya harus diguncangkan dengan sapihan, supaya ia dapat menikmati beragam makanan dan minuman yang lebih enak. Rûmî berkata, “Ketika manusia masih berupa janin, darah adalah makanannya; ketika ia dilepaskan dari darah, susu menjadi makanannya; setelah disapih dari susu, ia mampu makan yang keras. Kehidupan kita bergantung pada sapihan.” Setelah disapih Belanda, kita menikmati kemerdekaan. Carilah sapihan baru, supaya kita mengembangkan kemerdekaan. Tetapi, apa pun sapihan yang kita pilih, kita harus menanggung keguncangan. Kita harus meninggalkan ketenangan bayi dan menggantinya dengan gejolak remaja. JR— wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
REFLEKSI KEMERDEKAAN : RATU ADILAugust 17, 2026“Sekiranya Belanda memerintah dengan adil, kita tak akan melakukan perjuangan Kemerdekaan. Seandainya Jepang tidak melakukan penindasan, kita tidak akan memproklamasikan Kemerdekaan. Karena itu, ketika mensyukuri Kemerdekaan, syukurilah perbuatan zalim dan penindasan para penjajah kita.” Ucapan ini keluar dari pembicara pada sebuah peringatan syukuran yang diselenggarakan salah satu organisasi pemuda Islam yang besar di Indonesia. Terdengar aneh, mengejutkan dan berlebih-lebihan. Tetapi, ia tidak bercanda. Ia memberikan contoh bagaimana perlawanan terhadap penjajah hanya timbul karena adanya penindasan yang sudah tidak tertahankan lagi, bukan karena didorong oleh konsep-konsep yang abstrak. Berbagai kejadian yang kita sebut sebagai perjuangan Kemerdekaan Indonesia bermula terhadap perlakuan tak adil yang dilakukan para penguasa. Mereka melakukan pemberontakan karena tidak tahan dengan pajak yang terlalu mencekik, atau karena penggusuran tanah yang semena-mena, atau karena lahan-lahan pertanian dikorbankan untuk kepentingan para pemilik modal besar, atau karena kekejaman aparat pemerintah. Tak pernah mereka berontak karena ingin mendirikan Negara Republik Indonesia. Konsep “bangsa” dan “negara” masih asing buat mereka, apalagi nasionalisme. Begitu tidak jelasnya konsep ini bagi kebanyakan pejuang Indonesia dan para pemimpinnya, hingga pada pidato lahirnya Pancasila, Bung Karno harus memberikan kursus singkat tentang Kebangsaan. Ia mengutip para pakar ilmu politik dari Eropa bak sebuah kuliah di depan para mahasiswa baru. Buat kebanyakan Ulama’, yang waktu itu berada di garda depan dalam perlawanan terhadap Belanda, nasionalisme dipahami sangat samar-samar. A. Hasan menuding nasionalisme sebagai ‘ashabiyyah. Bila orang berjuang untuk nasionalisme, ia akan mati jahiliah. Polemik pun bergulir antara tokoh nasionalisme dan para Ulama Islam, dimulai dengan debat ideologi antara A. Hasan dan Bung Karno. Kalau begitu, apakah para pemimpin Islam berjuang untuk mendirikan negara Islam? Tidak juga. Konsep “negara” saja sudah samar-samar, apalagi negara Islam. Konsep negara Islam baru hangat diperbincangkan, dianalisis, dijelaskan, setelah Konstituante terbentuk. Dalam hal ini pun, tak ada kesepakatan di antara Ulama’ Islam. Jadi, sudah dapat dijelaskan, ketika Pangeran Diponegoro menaiki kuda dalam jubah putihnya, atau ketika Imam Bonjol bersama para Ulama’-Ulama’ meledakkan perang bertahun-tahun, atau ketika para Ulama’ Aceh memimpin Perang Sabil, atau ketika Ajengan Zaenal Mustafa dari Tasikmalaya melawan fasisme Jepang, tidak terpikir pada benak mereka upaya untuk mendirikan negara Islam. Mereka juga belum merumuskan bagaimana sistem pemerintahan yang mereka jalankan; Presidensil, kerajaan, parlementer, otokrasi, aristokrasi, ataukah teokrasi. Mereka juga bukan untuk mengusir orang asing semata. Mereka melawan orang asing itu karena mereka melakukan penindasan, kezaliman, dan kekejaman. Siapa saja yang berbuat zalim, tak peduli warna kulitnya, mereka lawan. Dalam banyak hal, mereka menentang sesama bangsa, seperti Amangkurat I membunuhi para Ulama’ di alun-alun. Alih-alih konsep-konsep yang abstrak, yang mengilhami para pejuang kita peribahasa sederhana: Raja adil, raja disembah; raja lalim raja disanggah. Jauh dalam kerak sejarah, kita menemukan konsep Ratu Adil. Konsep itu akrab bukan saja dengan para pemikir yang tercerahkan, tetapi juga dengan rakyat kecil yang mencabuti patok-patok kayu di halaman Pangeran Diponegoro. Entah bagaimana, dalam perjalanan sejarah, sesuai dengan kemajuan zaman, konsep Ratu Adil kini terongok dalam museum antropologi untuk mengacu kepada pemikiran bangsa-bangsa “primitif”. Lalu, kita sibuk mendiskusikan konsep nasionalisme, negara Islam, demokrasi, sosialisme, kapitalisme, dan isme-isme yang lain. Pembicaraan kita makin jauh dari kamus rakyat kebanyakan. Wacana kita menjadi eksklusif dan elitis. Kita sendiri makin lama makin tidak mengerti apa yang kita bicarakan. Tetapi, dalam benak rakyat yang tertindas, ketidak-adilan tidak lagi menjadi konsep yang abstrak. Ketidak-adilan adalah kenyataan hidup yang mereka rasakan. Kita, umat Islam di Indonesia, tidak sepakat dengan apa yang kita perjuangkan. Ada di antara kita yang mati-matian ingin mendirikan negara Islam tanpa dengan jelas menegaskan makhluk yang bernama negara Islam itu. Ada juga yang mengatakan bahwa kita harus menempatkan umat Islam (baca: aktivis Islam) pada posisi-posisi yang strategis. Ada juga yang berjuang sederhana saja: bagaimana caranya agar orang-orang Islam rajin shalat, haji, umroh, dan ngaji. Karena tidak sepakat tentang apa yang kita perjuangkan, maka berbeda-bedalah pandangan kita tentang situasi Islam di Indonesia hari ini. Yang memperjuangkan negara Islam tampaknya sudah meninggalkan perjuangannya. Tidak realistis. Yang menginginkan posisi strategis kini tengah mensyukuri keberhasilan perjuangan mereka. Yang ingin memasyarakatkan ritus-ritus Islam jelas kini melihat kebangkitan Islam di Indonesia. Mengapa kita tidak berbicara dengan bahasa yang dipahami semua orang? Mengapa kita tidak berbicara tentang apa yang dirasakan banyak orang? Mengapa kita tidak merujuk pada apa yang dirujuk para pejuang Kemerdekaan Indonesia, pendahulu kita atau pada gagasan yang disimpan dalam hati rakyat kecil sepanjang sejarah? Siapa di antara kita yang tidak setuju dengan Ratu Adil? JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...

Buku Karya KH. Jalaluddin Rakhmat

« of 2 »

Videografi

This error message is only visible to WordPress admins

Unable to retrieve new videos without an API key.

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

Audiografi

UJR-MFR

“Jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun”

​KH. Jalaluddin Rakhmat
@katakangjalal

Contact Jalan Rahmat

Jl. Kampus II No. 13-15. Kiaracondong. Bandung