Warisan intelektual

untuk perkhidmatan

dan pencerahan pemikiran

Quotes
0
Articles
0
Videos
0
Audios
0

Jalan Rahmat

Misi Kami

Di Jalan Rahmat, kami berusaha menghadirkan kembara intelektual itu. Perjalanan dan pengelanaan beliau mengarungi ‘jagat’ semesta itu. Ada dokumentasi karya beliau. Puluhan buku, ratusan artikel, ribuan ceramah. Ada rekaman audio dan video. Ada pula karya-karya para guru bangsa, baik sahabat karib Allah yarham, para intelektual sezaman, maupun karya-karya para ulama besar yang mempengaruhi jagat kembara intelektual beliau. Jalan Rahmat adalah sebuah digital library yang ingin menghadirkan kembali semangat intelektual itu.

Jalaludin Rakhmat - Tauziah
Digilib

Donasi dan Beasiswa

Donasi dan Beasiswa untuk sekolah, madrasah, klinik, dan ragam kegiatan lainnya.

tauziyah

Digital Library

Kumpulan Ceramah, Artikel, Buku, Video dari para Guru Bangsa.

healthcare

Jalan Kecintaan

Warisan terutama dan teramat berharga dari Allah yarham adalah mengantarkan kami dan kita semua pada jalan menuju kerinduan dan kecintaan Sang Rahmatan lil ‘alamin. Itulah makna Jalan Rahmat yang sesungguhnya.

Latest Post

Cara Hidup SufiOctober 31, 2026Boleh jadi, sebagian orang mengatakan bahwa tasawuf itu tidak ada dalam Al-Quran. Karena itu, tasawuf termasuk bid’ah. Pernyataan bahwa tasawuf itu tidak ada dalam Al-Quran adalah benar adanya. Bahkan, kata shuf saja tidak ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Tasawuf boleh jadi muncul kira-kira 10-60 tahun sesudah Rasulullah Saw. meninggal dunia. Pada zaman Hasan Al-Bashri, yaitu pada zaman tabi’in, seorang saleh yang bernama Abul Hasan Al- Fusyanji mengatakan, “Hari ini, tasawuf hanyalah sekadar nama, tetapi tidak ada buktinya. Dahulu, pada zaman Rasulullah, tasawuf ada buktinya tetapi tidak ada namanya. Namun sekarang, tasawuf hanya sekadar nama, tetapi tanpa bukti.” Memang, menurut sebagian orang, yang dikenal pada zaman Rasulullah Saw. bukanlah kata tasawuf. Yang dikenal pada masa itu adalah istilah-istilah seperti zuhud dan wara’. Karena itu, ketika Imam Ahmad menulis buku tentang tasawuf, beliau tidak memberi nama kitab itu sebagai Kitab Al-Tashawwuf. Akan tetapi, beliau menamai kitab itu sebagai Kitab Al-Zuhd, atau kitab tentang zuhud. Walhasil, memang terjadi perdebatan tentang asal-usul tasawuf itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata al-shuf, yang artinya “bulu”. Kabarnya, Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Hendaklah kamu memakai baju bulu agar memperoleh manisnya iman dalam hatimu.” Kemudian, kata al-shuf ini diberi akhiran “ya” yang dinisbatkan kepada orang yang memakai baju bulu. Seorang fakir yang memakai baju bulu disebut shufi. Tasawuf: Akhlak untuk Mendekati Tuhan Pendapat lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata ahl ash-shuffah atau ahli suffah. Ahli suffah adalah sekelompok sahabat miskin, yang hijrah ke Madinah dan tidak memperoleh tempat tinggal. Oleh Rasulullah Saw. mereka ditempatkan di serambi masjid. Tempat ini dinamakan shuffah dan orang yang menemaninya disebut ahl ash-shuffah. Dari kata shuffah inilah lahir kata tasawuf, walaupun secara lughawi, dari kata ini sulit lahir kata tasawuf. Memang, nantinya yang menjadi zahid di kalangan para sahabat adalah sebagian alumni ahl ash-shuffah ini. Jadi, sufi adalah orang yang berperilaku seperti ahl ash-shuffah. Pendapat lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata theosophos. Pada umumnya, yang berpendapat demikian adalah para orientalis. Tasawuf berasal dari kata theo, yang berarti Tuhan, dan sophos, yang berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, tasawuf berarti kebijaksanaan yang berhubungan dengan Tuhan. Wallahu a’lam. Kita tidak bermaksud mempertegas ikhtilaf tentang asal usul tasawuf ini. Akan tetapi, sekali lagi, kata tasawuf tidak terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Hanya, dalam perkembangan selanjutnya, tasawuf kemudian mengandung makna baru yang akan saya jelaskan di sini. Jika orang berbicara tentang tasawuf, kata ini bisa mengandung tiga makna. Pertama, tasawuf sering dipahami orang sebagai serangkaian akhlak untuk mendekati Tuhan. Artinya, apabila seseorang berkeinginan untuk mendekati Tuhan, maka serang kaian akhlak yang harus dikerjakan itu dinamakan tasawuf. Definisi ini saya ambil dari para sufi. Bahkan, seorang sufi mutakhir mengatakan, “Yang dimaksud tasawuf itu adalah akhlak yang baik.” Jika yang dimaksud tasawuf adalah akhlak yang baik, tentunya kita semua berpendapat bahwa Al-Quran dan sunnah Nabi Saw. pun mengajarkan tasawuf. Bukankah Nabi Saw. sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak? Tasawuf: Cara untuk Menggapai Makrifat Kedua, tasawuf diartikan sebagai “sebuah cara untuk menggapai makrifat”. Tasawuf adalah cara memperoleh pengetahuan langsung dari Allah Swt. Orang awam menyebutnya sebagai ilmu laduni. Sementara itu, kita hanya melihat hal-hal yang sifatnya empiris saja, dan tidak melihat hal-hal yang bersifat batiniah. Mengapa? Sebabnya, hati kita masih tertutup oleh selubung, yang oleh kaum sufi, disebut hijab. Tasawuf memiliki sejumlah cara latihan batin agar Allah Swt. menyingkapkan hijab tersebut. “Aku singkapkan selimut yang menutupi matamu kemudian pada hari ini matamu menjadi tajam,” (QS. Qaf : 22). Ada kisah tentang Imam Al-Ghazali dengan adiknya, yang bernama Ahmad. Imam Al-Ghazali bertindak sebagai imam masjid. Anehnya, Ahmad tidak pernah ikut shalat berjamaah dengan kakaknya itu. Akan tetapi, suatu saat, ia bermakmum juga di belakang Al-Ghazali. Setelah sampai pada pertengahan shalat, Ahmad keluar dari barisan dan melakukan shalat sendirian. Setelah selesai shalat, orang-orang pun menduga kalau Ahmad sedang terlibat konflik dengan kakaknya itu. Sudah tidak pernah mau shalat berjamaah bersama kakaknya, makmum sekali saja sudah melepaskan diri dari barisan sebelum shalat selesai dilaksanakan dan kemudian melakukan shalat sendirian. “Mengapa engkau tadi munfarid (meninggalkan shalat berjama’ah/shalat sendiri)?” tanya Imam Al-Ghazali. “Pada rakaat kedua tadi, aku melihat darah pada badanmu dan aku tidak tahan melihatnya. Karena itu, aku memutuskan untuk shalat sendirian,” jawab Ahmad. Mendengar ucapan adiknya, Imam Al-Ghazali tersentak, seperti terbangun dari tidurnya. Ternyata, pada rakaat kedua itu, ia teringat dengan buku fikih yang tengah ditulisnya. Kebetulan, ia sedang membahas masalah haid dan nifas, sehingga pada waktu shalat, pikirannya tertuju pada masalah haid dan nifas itu. Ternyata, fenomena ini bisa dilihat dengan ketajaman batiniah sebagaimana yang dialami oleh Ahmad yang bermakmum tadi. Metode untuk mengetahui hal-hal yang bersifat batiniah ini dinamakan tasawuf. Tasawuf: Cara Memandang Realitas Ketiga, tasawuf berkenaan dengan pandangan tentang realitas. Dalam Al-Quran diinformasikan, “Ke mana pun engkau palingkan wajahmu, di sana ada wajah Allah,” (QS. Al-Baqarah : 110). Sebenarnya, inilah yang disebut tauhid sejati, bahwa tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini selain wajah Allah. Memang, kita masih menyaksikan makhluk, sehingga ke mana pun kita tebarkan pandangan, di situ ada wajah makhluk. Kita tidak menyaksikan wajah Allah Swt. Bahkan, kalau mau jujur, kita akan segera mengatakan bahwa ayat Al-Quran tadi keliru. Menurut para sufi, pandangan kita itu masih tertutup hijab. Ibnu ‘Arabi mengatakan bahwa kita masih berada di alam lå Huwa, belum hidup di alam Huwa. Oleh karena itu, yang kita lihat bukan Dia. Jadi, pengertian ketiga dari tasawuf berkenaan dengan pandangan tentang realitas. Sufi memandang suatu keadaan ketika dia meniadakan segala-galanya dan yang ada hanya Allah semata. Dalam hal ini, tasawuf menegakkan agama atas dasar cinta. Itu sebabnya, kalau orang mau bertasawuf, ia harus mengubah caranya beragama: cara beragama yang ditegakkan atas dasar kebencian, harus diubah dengan beragama atas dasar cinta. Kalau kita baca kitab-kitab klasik tentang apa itu tasawuf, para ulama menyebutkan bahwa selain cinta harus ada satu lagi ciri keberagamaan. Ciri ini sering disebutkan ketika seseorang membicarakan masalah tasawuf. Salah seorang sufi yang bernama Ruwaym mengatakan bahwa tasawuf itu ditegakkan di atas tiga landasan. Salah satunya adalah berpegang teguh kepada kefakiran dan berusaha menjadi fakir. Jadi, komponen lain yang menjadi ciri tasawuf adalah kefakiran. Definisi tentang kefakiran ini selalu kita baca apabila kita membicarakan masalah tasawuf. Ma’ruf Al-Kharki, salah seorang sufi besar, pernah ditanya tentang tasawuf. Ia menjawab, “Yang disebut tasawuf adalah mengambil hakikat dan tidak mengharapkan sesuatu yang dimiliki makhluk. Siapa yang belum menemukan hakikat kefakiran di dalam dirinya, ia belum menemukan hakikat tasawuf itu.” Jadi, seseorang bisa dikatakan telah menjadi sufi apabila ia menjadi fakir. Al-Suhrawardi, dalam kitab ‘Awarif Al-Ma’arif, menyebutkan pandangan sebagian ulama tentang tasawuf. Dan, salah satu ciri sufi sejati adalah fakir yang sejati juga. “Sesungguhnya, fakir yang sejati adalah orang yang melindungi dirinya agar tidak memperoleh kekayaan dan takut kekayaan itu masuk ke dalam dirinya lalu menghancurkan kefakirannya, sebagaimana orang kaya melindungi dirinya dari kefakiran yang merusak kekayaannya.” Ia juga mengutip ucapan Abu Abdurrahman Ar-Razi yang ia dengar dari Muzhaffar Al-Kirmizini. Katanya, “Aku bertanya kepada Abu Bakar Al-Mishri tentang kefakiran. Lalu ia menjawab, ‘Orang yang tidak mempunyai dan karena itu tidak dipunyai’.” Sufi: Fakir atau Miskin Saya sudah membawa Anda ke langit ketika berbicara tentang fakir. Fakir di sini adalah pokok tasawuf. Dalam kitab-kitab tasawuf pun selalu ada bab yang membicarakan tentang keutamaan kefakiran dan orang fakir. Sampai sekarang pun, orang sufi di India masih disebut fakir. Sayangnya, kitasering mendapatkan kesalahpahamanantara fakir dan miskin. Ada yang segera mengatakan bahwa kalau kita ingin menjadi orang yang dekat dengan Allah, kita harus menjadi orang miskin. Di sini, definisi fakir disamakan dengan definisi miskin. Padahal, tidak ada satu pun kitab tasawuf, yang menyebutkan definisi kemiskinan ini. Yang mereka sebut hanyalah kefakiran. Tidak ada juga keutamaan orang miskin dan kemiskinan. Dalam istilah tasawuf, fakir tidaklah sama dengan miskin. Akan tetapi, celakanya, orang awam menafsirkan bahwa fakir itu sama dengan miskin. Oleh karena itu, kalau kita ingin menjalani tasawuf, kita harus meninggalkan pekerjaan, meninggalkan kuliah, meninggalkan keluarga, meninggalkan semua hal yang terkait dengan dunia, apalagi demontrasi yang terkait dengan politik. Mereka beranggapan bahwa kita harus pergi ke masjid untuk menghabiskan waktu untuk berzikir. dan berdoa. Bahkan, kalau bisa, makannya pun harus sedikit. Dengan pengertian fakir seperti itu, hadirnya aneka penyakit dalam tubuhnya sehingga tubuhnya menjadi kurus kering, menjadi sebuah keharusan. Walaupun demikian, banyak juga orang yang mau menjalankan tasawuf seperti anggapan yang terakhir tadi. Mereka terpaksa mengorbankan keluarga dan sekolahnya. Ini yang menyedihkan kita semua. Sekarang ini, ada gerakan tasawuf modern, dan saya pernah termasuk orang yang mendukung gerakan ini, misalnya saja Jamaah Tabligh. Apa yang dilakukan Jamaah Tabligh bisa dikatakan sebagai gerakan sufi modern, walaupun mereka tidak menyatakan diri sebagai gerakan sufi modern. Akan tetapi, sayangnya, ada orang ekstrem dalam gerakan ini. Misalnya, ada orang yang senang khuruj, yaitu keluar rumah untuk berdakwah dan membiarkan keluarganya terlantar. Ia menjalankan agama dengan mengorbankan keluarganya. Saya tidak menyalahkan gerakan ini. Akan tetapi, hendaknya kita tidak terjatuh ke dalam hal-hal yang sifatnya ekstrem. la meninggalkan keluarga, sekolah, dan boleh jadi inilah yang Anda anggap sebagai fakir. Sekali lagi, kafakiran tidak sama dengan kemiskinan. Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan fakir? Pada bagian awal sudah saya sebutkan bahwa fakir adalah tidak memiliki apa-apa dan tidak dimiliki apa pun selain Allah. Ungkapan ini sangat mudah dihapal, akan tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Sekarang, apa yang dimaksud dengan tidak punya apa-apa? Secara singkat, kita mengetahui bahwa ada dua macam orang dalam menjalani hidup ini. Yang satu hidup dengan modus memiliki dan yang lain hidup dengan modus menjadi. Tasawuf berusaha menjalani hidup dengan modus menjadi. Oleh karena itu, yang disebut sufi adalah “orang yang tidak memiliki dan orang yang tidak dimiliki.” Kebanyakan orang menafsirkan kefakiran ini dengan tidak punya apa-apa dan hidup miskin. Padahal, telah diungkapkan bahwa fakir tidak sama dengan miskin. Miskin berarti tidak memiliki tempat tinggal. Akan tetapi, dalam fikih, makna fakir dan miskin itu sendiri hampir sama. Meskipun ada sedikit perbedaan, tidak urung perbedaan tersebut masih sering diperdebatkan. Katanya, menurut satu pendapat dalam fikih, orang miskin adalah orang yang hidup melarat tetapi masih punya tempat tinggal. Sedangkan orang fakir adalah orang yang hidup melarat dan tidak punya tempat tinggal. Jadi, orang fakir itu sebenarnya lebih miskin daripada orang miskin. Jika definisinya seperti ini, kita agak kerepotan menghadapi masyarakat modern. Pada umumnya, di kota-kota besar kita menjumpai banyak orang yang tidak punya rumah tetapi kehidupannya makmur. Menurut perkiraan saya, di kota-kota besar di Jerman, seperti Frankfurt dan Berlin misalnya, delapan puluh persen penduduknya tidak punya rumah, sehingga tujuh puluh persen penghasilan mereka dihabiskan untuk alokasi rumah. Ini berarti bahwa mereka termasuk fakir. Di Indonesia sendiri, banyak orang miskin yang mempunyai rumah. Ada juga orang yang mengatakan bahwa miskin itu lebih fakir daripada orang fakir, lantaran fakir ̶ katanya ̶ masih memiliki pekerjaan, walaupun hidupnya sengsara. Dan yang disebut miskin ialah sudah hidup sengsara dan tidak memiliki pekerjaan pula. Agar tidak pusing, marilah kita tinggalkan perbincangan ahli fikih tentang perbedaan antara fakir dan miskin. Dalam perbincangan kita sekarang, makna fakir tidak sama dengan makna miskin. Fakir bukan berarti tidak punya apa-apa untuk kehidupannya. Fakir bukan pula orang yang meninggalkan pekerjaan dan kemudian menghabiskan waktunya untuk beribadah di masjid saja. Definisi fakir yang tadi disebutkan adalah orang yang tidak memiliki dan tidak dimiliki. Artinya, ada orang yang memiliki sesuatu dan ia pun dimiliki oleh sesuatu itu. Umpamanya, ada orang yang memiliki mobil baru dan ia dimiliki oleh mobil tersebut. Akan tetapi, ada pula orang yang memiliki mobil, malah mobilnya adalah mobil mewah, tetapi ia tidak dimiliki oleh mobil tersebut. Fakir menurut Erich Fromm Penjelasan untuk kata-kata abstrak tadi, bisa Anda dapatkan dalam sebuah buku hasil karya Erich Fromm. Salah seorang psikolog keturunan Yahudi dari Mazhab Humanistik. Ia menulis bukunya ini dengan judul To Have or To Be. Katanya, ada dua modus eksistensi atau cara hidup. Modus eksistensi pertama adalah memiliki (to have), dan modus eksistensi kedua adalah menjadi (to be). Erich Fromm pun bertutur sambil mengutip Taurat. Dia bercerita bahwa sebelum Nabi Musa berhak berbicara dengan Allah, beliau diperintahkan untuk tidak memiliki apa-apa. Ia harus meninggalkan tanah airnya. Musa yang sebelumnya pernah tinggal bersama Firaun, sang raja, harus meninggalkan istananya dan pergi ke padang pasir. Dia meningggalkan segala-galanya. Sebelum berjumpa dengan Tuhan, ia pun harus meninggalkan pekerjaannya, yaitu menggembala domba. Kemudian, ia melihat pancaran api yang dilukiskan dalam Al-Quran, “Saya tinggalkan itu semua.” Erich Fromm memberi contoh bahwa bencana yang terjadi pada masyarakat modern ini disebabkan oleh pandangan yang menyatakan bahwa “Anda itu dikatakan ada, kalau Anda memiliki”. To be is to have. Boleh jadi Anda masih ingat bahwa ada seorang filsuf yang mengatakan cogito ergo. sum. Saya berpikir, karena itu saya ada. Jadi, kehidupan diukur dengan kepemilikan. Status Anda diukur dengan jumlah yang Anda miliki. Perjuangan hidup pun adalah perjuangan untuk menambah daftar barang yang Anda miliki. Hidup Anda adalah memiliki. Masyarakat kita disebut sebagai acquistive society, masyarakat yang rakus dan serakah untuk memiliki. Inilah yang disebut sebagai a basis for the having mood, yaitu dasar dari kehidupan memiliki, lantaran memiliki, mempunyai dan mengambil untung dianggap sebagai hak suci bagi setiap individu dalam masyarakat industri. Jadi, sumber kekayaan tidak menjadi soal. Begitu pula, kepemilikan tidak memberinya tanggung jawab. Dalam modus eksistensi ini, hidup itu bermakna dengan menambah daftar barang, benda, dan orang yang kita miliki. Boleh jadi pula, ini hanya akibat dari simplikasi atau penyederhanaan saja. Masyarakat kita adalah masyarakat yang mengukur eksistensi kehidupan dengan jumlah yang dimilikinya. Yang paling menyedihkan, kebahagiaan kita diukur dengan jumlah yang kita miliki. Kita bahagia kalau kita memiliki harta dan barang-barang tertentu. Cita-cita pun bisa dirumuskan dengan kepemilikan. Jadi, cita-cita itu semuanya berpusat pada memiliki sesuatu atau memiliki seseorang. Konon, cinta adalah sesuatu yang luhur tetapi kemudian didegradasikan atau diturunkan tingkatannya menjadi kepemilikan juga. Saya ingin memiliki dia. Lalu, hubungan suami istri ̶ yang seharusnya bersifat transformatif berupa saling menghargai ̶ menjadi hubungan saling memiliki. Biasanya, sang suami memiliki hak mutlak atas istrinya. Dalam sebuah diskusi tentang Psikologi Perempuan, ada seseorang yang menyatakan, “Bukankah,” katanya, “di dalam Islam itu suami memiliki istrinya, sampai-sampai ia diperbolehkan memperlakukan istrinya dengan cara apa pun?” Lalu, dia mengutip peribahasa Sunda yang mengatakan, “Ti luhur sausap rambut, ti handap sausap dampal.” Artinya, bahwa dari ujung rambut sampai ujung kaki, seorang perempuan itu dimiliki oleh suaminya. Ia bebas diperlakukan sesuai keinginan suaminya. Hal terjadi karena sang istri adalah milik suaminya. Konsep memiliki berpandangan bahwa sesuatu atau objek itu bisa kita perlakukan dengan cara apa pun, karena kitalah yang memilikinya. Kita memiliki hak mutlak atasnya. Tentunya, sangat mengerikan kalau setiap suami diberi ajaran oleh orang-orang yang mengerti agama bahwa ̶ begitu dia menikahi istrinya, begitu dia sudah mengucapkan qabiltu zawajaha bi nafsi ̶ pada saat itu pula sang istri menjadi milik suami sepenuhnya. Dengan demikian, mahar pernikahan dianggap sebagai alat pembeli. Walhasil, perempuan sekarang sudah menjadi barang komoditas yang bisa dijualbelikan. Saya katakan, murah betul harga seorang perempuan. Kalaulah mahar itu dipandang sebagai harta perempuan, maka betapa jauh lebih murah harga perempuan ketimbang harga sapi. Sekarang, sapi berharga di atas empat juta, sementara mahar rata-rata ̶ apalagi kalau maharnya hanya Al-Quran saja ̶  berharga ratusan ribu saja. Masya Allah! Jika demikian halnya, suami bisa menggunakan dan memperlakukan istrinya dengan sekehendak hati. Inilah konsep memiliki ̶ berkuasa dan berhak menggunakan apa yang kita miliki menurut kehendak diri.. Pada waktu itu (dalam diskusi kuliah Psikologi Perempuan) saya menjawab dengan sebuah hadits Nabi Saw. yang sangat indah terkait dengan perempuan. Dalam khutbah, sewaktu Nabi Saw. menunaikan ibadah haji untuk terakhir kalinya, di hadapan para jamaah, beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada perempuan dan kalian tidak memiliki mereka sedikit pun.” Nabi Saw. menggunakan kata-kata la tamlikuhunna syai’an. Padahal, bahasa Arab tidak mempunyai kata memiliki. Bahasa Inggris misalnya, punya kata memiliki dan mempunyai. Akan tetapi, ada juga bahasa-bahasa yang tidak “memiliki” atau menggunakan “kata memiliki” untuk menunjukkan “saya mempunyai.” Bahasa Arab termasuk yang tidak punya kata memiliki kecuali yang digunakan Rasulullah Saw. untuk menegaskan hal itu. Biasanya, orang Arab mengatakan ‘indi kitabun, bukan amliku kitaban ̶ untuk menunjukkan bahwa saya. mempunyai sebuah buku. Bahasa Inggris punya kata untuk menunjukkan makna memiliki, misalnya saja dalam kalimat, “I have a book.” Saya mempunyai atau memiliki sebuah buku. Dalam bahasa Inggris, kata memiliki dan mempunyai sangat dominan. Menurut Erich Fromm, kalau kita mempelajari bahasa Inggris dari zaman ke zaman, maka kamus bahasa Inggris modern sekarang ini sangat banyak mengandung kata memiliki. Jadi, berjalan-jalan yang merupakan sebuah aktivitas, diekspresikan dengan “mempunyai berjalan”. I have a walk. Begitu pula halnya dengan kalimat, I have a rest, saya beristirahat; I have a talk, saya berbicara, dan sebagainya. Apa arti dari semua ini? Artinya, pola proses ̶ kalau pekerjaan itu berupa sebuah proses atau aktivitas ̶ sekarang ini diganti menjadi pola bukan proses. Ciri selanjutnya dari modus eksistensi menjadi adalah memandang hidup sebagai sebuah proses, yaitu proses perubahan dari kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Tasawuf menyingkirkan modus eksistensi memiliki dan menggantinya dengan modus eksistensi menjadi. Walhasil, pertama-tama kita tidak melihat kebahagiaan itu pada apa yang kita miliki. Kita melihat kebahagiaan itu pada perubahan yang terjadi di dalam diri kita menuju arah yang lebih baik. Jadi, bukan pada memiliki, akan tetapi pada menjadi. Salah satu ciri modus eksistensi menjadi ̶ yang berbeda dengan dari modus eksistensi memiliki ̶  adalah kita tidak meletakkan kabahagiaan pada apa yang kita miliki, melainkan pada sejauh mana sesuatu itu bisa membantu kita menjadi lebih baik. Imam ‘Ali pernah ditanya tentang zuhud. Zuhud adalah kata pertama yang kelak akan diganti dengan kata tasawuf. Tasawuf tidak ada pada zaman Rasulullah Saw. dan tidak ada pula pada zaman para sahabat. Dulu, untuk mengungkapkan kata tasawuf dipergunakan kata zuhud. Sebelum diganti dengan kata sufi, kata yang pertama kali digunakan adalah zahid. Apakah zuhud itu? Imam ‘Ali menjawab, “Zuhud itu disimpulkan dengan ayat Al-Quran yang berbunyi, ‘Hendaklah kamu jangan berduka cita atas apa yang hilang dari dirimu dan hendaklah kamu jangan terlalu gembira atas apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al-Hadid : 23). Itulah definisi modus esksistensi menjadi: kalau seseorang kehilangan sesuatu, dia tidak berduka-cita dan bersikap biasa-biasa saja, karena kebahagiannya tidak terletak pada apa yang dimilikinya. Sekali lagi, seorang sufi mengarungi kehidupannya dengan modus eksistensi menjadi dan tidak mengukur kebahagiaannya dengan apa yang dimilikinya. Lantas, di mana letak kebahagiaan yang ada dalam dirinya? Kebahagiaan yang ia rasakan tidak terletak pada apa yang dimilikinya, melainkan pada kenikmatan yang dirasakan pada perubahan yang terjadi dalam dirinya. Buku Erich Fromm ini sebenarnya bercerita tentang berbagai contoh pola memiliki dalam belajar, yaitu apa bedanya belajar dengan modus memiliki dan belajar dengan modus menjadi. Begitu juga, apa bedanya beragama dengan modus memiliki dan beragama dengan modus menjadi? Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin membicarakan maksud beragama dengan modus memiliki dan maksud beragama dengan modus menjadi. Beragama dengan modus memiliki itu ditampakkan dengan perasaan bahwa sebenarnya kitalah satu-satunya pemilik kebenaran itu, bahwa kebenaran mutlak adalah keberagamaan kita. Keberagamaan yang lain adalah salah. Hanya kita yang paling benar. Oleh karena itu pula, kita menjadi tersinggung, hati-hati dan tidak enak kalau ada orang beragama tidak sama dengan cara kita beragama. Artinya, kita tidak memiliki keberagamaan seperti dia, atau dia tidak memiliki keberagamaan seperti kita. Keberagaman seperti itu didasarkan pada modus memiliki, dan bukan pada modus menjadi. Sikap merasa paling benar, paling baik, paling saleh, merasa bahwa mazhab kitalah yang paling benar, dan bahwa pendapat kita tentang agama itu mutlak benar, lalu memandang orang lain dengan pandangan merendahkan. Semua itu termasuk ke dalam pola beragama dengan modus memiliki, dan bukan pola beragama dengan modus menjadi. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Memaknai Basmalah: Persfektif SufiOctober 28, 2026Rasulullah Saw. bersabda, “Semua urusan yang tidak dimulai dengan basmalah, maka urusan itu terputus.” Apa yang dimaksud dengan amal yang terputus? Amal yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai ujung, tidak ada tujuannya. Amal yang tidak mempunyai ujung atau tidak mempunyai tujuan adalah amal yang tidak dimulai dengan nama Allah. Sebaliknya, amal yang dimulai dengan nama Allah tidak akan terputus; amal itu akan berakhir dengan nama Allah lagi. Menurut Syekh Jawad Amuli, begitu pula jika amal kita dimulai dengan hamdalah, maka amal itu akan berujung dengan hamdalah pula. Berkenaan dengan hadits di atas, Syekh Jawad Amuli membagi amal-amal tersebut ke dalam dua macam perbuatan baik. Pertama, amal yang baik dari segi perbuatan. Istilah ini disebut dengan hasan al-fi’li. Yang termasuk kriteria hasan al-fi’li misalnya adalah menolong orang lain, membantu orang yang sedang kesusahan, dan berdakwah. Semua perbuatan itu sudah termasuk perbuatan baik. Kedua, amal yang baik dari segi pelakunya atau disebut hasan al-fa’il. Orang yang melakukan suatu perbuatan itu memang terhitung baik dan ia memulai pekerjaannya dengan niat yang ikhlas. Pada Perang Shiffin, tentara ‘Amr bin Ash dan Mu’awiyah mendapatkan kekalahan. Mereka meminta untuk berhukum. Tetapi orang Khawarij menolaknya seraya berkata, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah.” Ketika Imam Ali bermusyawarah, berunding untuk memelihara perdamaian, orang Khawarij marah dan berkata, “Mengapa harus membuat pengadilan, karena semua hukum itu milik Allah.” Imam Ali lalu berkata, “Ucapan orang Khawarij bahwa tidak ada hukum kecuali hukum Allah adalah ucapan yang benar, tetapi diucapkan dengan maksud yang buruk.” Dalam pandangan Imam Ali, ucapan orang Khawarij itu adalah benar dari segi perbuatannya, tetapi tidak benar dari segi maksud orang yang mengucapkannnya. Pada saat itu, Imam Ali menggolongkan kelompok Mu’awiyah dan Khawarij dengan perkataan yang indah, “Orang-orang Khawarij lebih baik daripada orang Mu’awiyah, karena orang Khawarij adalah orang yang mencari kebenaran tetapi tidak menemukannya. Lebih baik orang yang mencari kebenaran walaupun tidak menemukannya daripada orang yang mencari kebatilan dan menemukannya seperti Mu’awiyah.” Basmalah adalah kalimat yang benar dan hasan dari segi fi’li. Jika orang melakukan suatu perbuatan baik yang dimulai dengan basmalah, berarti ia menisbahkan få’il-nya untuk Allah. la menyandarkan pekerjaannya kepada Allah sehingga ia mengubah hasan al-fi’li sekaligus menjadi hasan al-fa’il. Jadi, ada perbuatan yang fi’li-nya baik tetapi fa’il-nya tidak baik, karena tidak berangkat dengan nama Allah. Perbuatan seperti ini dapat dikategorikan terputus atau batal. Suatu perbuatan harus hasan al-fi’li dan hasan al-fa’il; masuk dan keluarnya harus benar. Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang tujuan amal, yaitu kebenaran. Inilah yang dianjurkan Allah kepada manusia dalam amal sehari-hari. “Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS. Al-Isra’ : 80). Al-Quran menceritakan bagaimana agar tempat keluarnya menjadi tempat yang benar; seperti dalam Surah Ath-Thalaq ayat 2-3, “Dan mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu menegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman. kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka olehnya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya, Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesunguhnya, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu…” Orang-orang yang masuk dari tempat yang baik dan mengakhiri pada tempat yang baik adalah orang yang digambarkan dalam ayat di atas. Basmalah berarti kita melakukan suatu perbuatan dengan niat yang ikhlas dengan diiringi nama Allah, agar ketika kita keluar dari tempat itu. dalam keadaan baik. Kita memulai perbuatan dengan al-haq agar ujung amal kita keluar dari al-haq pula. Nama Allah dalam kalimat basmalah adalah nama yang sangat agung yang mencerminkan kesempurnaan. Seperti disebutkan dalam Al-Quran, “Mahaagung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia,” (QS. Al-Rahmân : 78).. Allah Swt. menjadikan nama-Nya sebagai sumber keberkahan. Allah juga memerintahkan kita untuk mensucikan nama-Nya; jangan sekali-kali mencemarinya. Dalam Al-Quran, kita menemukan perintah untuk mensucikan nama-Nya. Allah mempunyai sifat sempurna dan harus dibersihkan dari segala sifat kekurangan. “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,” (QS. Al-A’la : 1). Ketika turun Surah Al-Waqi’ah ayat 74, “Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar,” Rasulullah Saw. bersabda, “Jadikanlah pensucian nama itu di dalam rukuk kamu.” Ketika turun Surah Al-A’la ayat pertama, Rasulullah Saw. bersabda, “Jadikanlah pensucian itu di dalam sujud kamu.” Ada sebuah riwayat di kalangan ‘irfani yang menyebutkan bahwa kata basmalah yang diucapkan oleh seorang hamba mempunyai kedudukan seperti lafadz “kun” yang diucapkan Allah. Maksudnya, ketika Allah berkehendak dengan sesuatu, Dia hanya berkata “kun,” maka jadilah sesuatu itu (lihat Surah Yasin ayat 82). Bagi orang yang sudah mencapai maqam tertentu, ucapan basmalahnya akan sama dengan ucapan kun. Jika ia menghendaki sesuatu, terjadilah apa yang diinginkannya. Sebelum Nabi Nuh pergi meninggalkan kaumnya dengan perahu besar, ia berkata, “Bismillahi majreha wa mursahâ,” (QS. Hud : 41). Dengan ucapan itu, perahu itu pun melaju. Perahu itu bergerak dengan nama Allah. Nabi Nuh memberi contoh bagaimana menggerakkan sesuatu dimulai dengan nama Allah, dan bahwa yang dilakukan Nabi Nuh bukan kehendaknya, akan tetapi oleh kehendak Allah. Puncak dari perjalanan kepada Allah adalah ketika kehendak seorang hamba sudah bersatu dengan kehendak Allah. Ada beberapa tahap perjalanan menuju Allah. Pertama, ketika seseorang mendahulukan kehendaknya daripada kehendak Allah. Kedua, ketika seseorang mendahulukan kehendak Allah daripada kehendaknya. Jika seseorang sudah mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak dirinya, dia tidak dapat membedakan mana kehendak Allah dan kehendak dirinya. Kaki yang dipakainya berjalan adalah kaki Allah, mata yang digunakannya melihat adalah mata Allah, dan tangan yang digunakannya memegang adalah tangan Allah. Dalam hadits qudsi disebutkan, “Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amal sunnah, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya untuk menyentuh, dan Aku akan menjadi kakinya untuk berjalan. Dan jika ia berdoa, Aku akan menjawab doanya.” Jadi, hamba yang sudah dekat dengan Allah, kehendaknya sudah menjadi kun. Ucapan basmalahnya sama dengan kata kun dari Maula-nya, Allah. Pada tahap kedua ini kita coba membuang keinginan-keinginan nafsu. Yang ada dalam diri kita hanyalah keinginan Allah. Kita serahkan diri kita untuk Allah tanpa menyisakan sedikit pun kehendak untuk kita. Ada sebuah kisah di kalangan sufi. Pada suatu hari, Junaid Al-Baghdadi “mi’raj”, naik ke langit. Dalam perjalanannya itu, ketika sampai pada langit pertama, ia melihat ada kumpulan malaikat sedang ruku’, sujud, dan berzikir. Junaid ditanya oleh para malaikat, “Hai Junaid, bergabunglah bersama kami dengan berzikir mensucikan nama Tuhanmu.” Junaid menjawab, “Tidak. Ajakan kalian tidak aku kehendaki.” Lalu ia naik ke tingkat yang kedua. Ia melihat ada kumpulan orang sedang rukuk. Junaid diseru, “Hai Junaid, bergabunglah bersama kami.” Junaid menjawab, “Tidak. Aku tidak ingin bergabung dengan kalian.” Lalu ia naik ke tingkat ketiga. Ia melihat ada sekelompok orang yang sedang sujud. Junaid diseru oleh mereka untuk bergabung. Junaid menjawab, “Aku tidak ingin bergabung denganmu.” Lalu sampailah ia pada suatu tempat yang lebih tinggi lagi. Pada tempat itu, ia mendengar perkataan, “Apa yang kamu kehendaki, wahai Junaid?” Junaid berkata, “Aku berkehendak supaya aku tidak mempunyai kehendak lagi.” Inilah yang disebut sebagai puncak perjalanan tasawuf. Pada tingkat ini, kalimat basmalah mempunyai kedudukan sama dengan kata kun. Jika orang sudah sampai pada tingkat ini (mendahulukan kehendak Allah), ucapannya adalah sebuah kebenaran. Syekh Jawad Amuli menyebutkan contoh orang seperti ini adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Semua perkataan Abu Dzar adalah kebenaran. Bahkan Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Di bawah naungan langit dan di atas permukaan bumi ini tidak ada lidah yang lebih jujur selain lidah Abu Dzar.” Mengapa Abu Dzar sampai pada tahap seperti itu? Karena, ia sudah sampai pada tingkat tawakal kepada Allah. Ia menyerahkan seluruh kehendaknya hanya untuk Allah. Dalam kitab Nur Al-Tsaqalain disebutkan, “Sesungguhnya, basmalah itu lebih dekat dengan nama Allah yang Mahaagung daripada dekatnya hitam mata dengan putihnya. Basmalah adalah nama agung bagi orang yang sudah mencapai derajat tertentu. Allah: Antara Kasih Sayang dan Murka Dalam basmalah itu terdapat asma-asma Allah yang menunjukkan sifat jalaliyyah dan jamaliyyah. Asma yang disebut dalam basmalah adalah Allah, Ar-Rahmân, dan Al-Rahim. Menurut Ar-Razi, asma Allah menunjukkan lafadz al-jalalah. Allah adalah nama zat yang menunjukkan kebesaran-Nya. Dengan kata Allah itu, ditunjukkanlah kekuasaan, ke-Mahabesaran, dan ke- Mahatinggian Allah. Sesudah itu, Allah menyebut Ar-Rahmân dan Ar-Rahim. Dan itulah sifat jamaliyyah (sifat kasih sayang). Allah hanya menggunakan satu nama untuk menggambarkan kebesaran-Nya, yaitu kata Allah. Akan tetapi, untuk menggambarkan kasih sayang-Nya, Allah menggunakan dua nama, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar, lebih banyak, dan jauh lebih tinggi daripada ke-Mahakuasaan-Nya. Kita tahu ada dua wajah Allah. Pertama, wajah Allah yang keras, yang berat siksaan-Nya (syadidul ‘iqab). Inilah yang menunjukkan sifat jalaliyyah. Kedua, wajah lain dari Allah yang Pengasih dan Penyayang; wajah yang selalu siap mendengarkan keluhan dan penderitaan kita; wajah yang setiap malam menunggu kita untuk datang berdialog dengan-Nya; wajah yang selalu melimpahi setiap makhluk dengan anugerah-Nya, walaupun makhluk-Nya itu setiap saat bertambah kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya. Itulah wajah yang dalam istilah tasawuf disebut sebagai sifat-sifat jamaliyyah, yakni sifat-sifat keindahan Allah. Dalam basmalah ditunjukkan bahwa sifat jamaliyyah Allah lebih besar daripada sifat jalaliyyah-Nya. Kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, “Aku ingin murka melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh makhluk-Ku. Akan tetapi, Aku melihat orang-orang tua yang rukuk dan sujud, anak-anak yang menyusu pada ibunya, dan binatang-binatang yang mencari makanan. Maka berhentilah kemarahan-Ku.” Jadi, kasih sayang Tuhan jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Sehingga di dalam doa Kumayl, disebutkan “Wahai Dzat yang lebih cepat ridha-Nya.” Tuhan memang murka juga. Tetapi ridha-Nya jauh lebih cepat. Di majalah Ummat, saya membaca tulisan Ustadz Alwi Shihab. Di universitasnya, di Amerika Serikat, beliau menyaksikan orang-orang kafir yang akhlaknya sangat bagus, yang mencurahkan perhatiannya kepada ilmu dengan tidak memerhatikan hal-hal duniawi. Mereka masih kafir. Lalu dalam pikiran beliau bergulat berbagai masalah: Bagaimana orang kafir bisa begitu baik akhlaknya? Bagaimanakah (nasib) mereka di akhirat nanti? Yang menarik dari kesimpulan Alwi Shihab adalah beliau menunjuk kepada besarnya kasih sayang Allah Swt. Kalau kita memikirkan betapa besarnya kasih sayang Allah daripada murka-Nya, maka besar dugaan kita, kasih sayang Allah tidak hanya meliputi orang-orang Islam, tetapi juga orang-orang saleh yang agamanya berlainan akan mendapat limpahan kasih sayang Allah Swt. juga. Sebagian ulama mengatakan bahwa azab Allah juga berarti percikan kasih sayang-Nya. Dalam hidup ini, seringkali Allah memberikan pelajaran, baik berupa ujian maupun azab, kepada kita. Sebetulnya itu adalah percikan dari kasih sayang Allah. Siksaan dan ujian yang kita terima dalam kehidupan ini, tetap berasal dari samudera kasih sayang-Nya. Kita pernah menceritakan keluhan seorang sahabat kepada Nabi Saw. Ia mengeluh, karena setelah masuk Islam dagangannya rugi dan tubuhnya sering ditimpa penyakit. la berkata, “Ya Rasulallah, tubuhku sakit dan hartaku hilang.” Lalu Nabi menjawab bahwa ujiannya itu adalah tanda dari kasih sayang Allah, bukan tanda dari kemurkaan-Nya. Tidak ada baiknya seseorang yang tubuhnya tidak pernah sakit dan hartanya tidak pernah rugi. Karena, apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah akan mencobanya dengan berbagai ujian. Ujian adalah percikan kasih sayang Allah. Begitu juga halnya dengan azab yang Dia berikan di akhirat nanti, ini pun merupakan percikan dari sifat Rahmân dan Rahim-Nya. Mungkin, kita bisa memahami bahwa ujian-ujian yang Allah berikan kepada kita di dunia adalah salah satu jalan guna mengangkat diri kita menjadi orang yang lebih baik. Dan itu sudah merupakan sunatullah. Orang yang memiliki kualitas yang tinggi adalah orang-orang yang sudah diuji berkali-kali, dan ia bisa lulus dari ujian tersebut. Nabi Saw. bersabda, “Di surga, ada istana-istana yang tidak bisa dicapai oleh manusia dengan amal-amalnya. Tidak ada gantungan di atasnya. Tidak ada tiang di bawahnya.” Sahabat bertanya, “Siapakah para penghuninya?” Ia berkata, “Orang yang tidak henti-hentinya diterpa cobaan dan kesusahan,” (Bihar al-Anwar 66:369). JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
AMANATOctober 27, 2026Amanat adalah menjaga hak-hak orang lain yang Allah perintahkan kita untuk menjaganya. Hak berada di dalam harta juga dalam kehormatan. Misalnya, orang yang amanah adalah orang yang menjaga harta orang lain. Dia tidak mengambilnya dengan semenamena karena amanah adalah menjaga hak orang lain dalam hartanya. Di antara khutbah Nabi Saw. ketika Haji Wada’, bahwa seorang Muslim itu harus dihargai dan dihormati. hak-haknya dalam harta, kehormatan, dan jiwanya. Orang yang memelihara amanat adalah orang berusaha untuk tidak mengambil hak orang lain walau sepeser pun. Ia pun tidak akan mau mempergunjingkan kejelekkan orang lain, tidak akan mau menjatuhkan kehormatan orang lain, tidak akan mau membuka aib orang lain karena itu termasuk ke dalam pengkhianatan, melanggar amanah Allah untuk memelihara kehormatan sesamanya. Tentu, lebih-lebih apabila menyakiti tubuhnya secara fisik, dia termasuk melanggar amanah yang berkaitan dengan darah kaum Muslimin. Termasuk yang memelihara amanah adalah orang yang berusaha untuk menjaga agar ia tidak sampai mengambil harta orang lain yang bukan haknya, yang berusaha memelihara kehormatan orang lain yang tidak boleh ia jatuhkan. Mereka itulah yang dijanjikan Allah Swt. sebagai penghuni surga. Dalam riwayat, kita pernah mendengar tentang sahabat yang dijanjikan menjadi penghuni surga. Saya ingin memberitahukan bah- wa hadits tentang sepuluh orang yang dijamin. masuk surga itu tidak ada dalam Al-Quran.. Yang ada di dalam Al- Quran tentang orang yang dijamin masuk surga adalah mereka yang —salah satunya— “Walladzinahun li amanâtihim wa ‘ahdihim ra’ûn.” (Artinya), “Dan orang-orang yang menjaga dan memelihara amanat dan janji-Nya.” Pada ujung ayat ke-8 Surah Al-Mukminûn ini disebutkan, mereka itulah yang dipastikan akan mewarisi surga Firdaus. Surga Firdaus adalah. surga yang paling tinggi tingkatannya. Surga ini dikhususkan untuk orang-orang yang memelihara amanah dan janji-Nya. Itulah orang-orang yang dijamin masuk surga. Memelihara Amanat: Jaminan Masuk Surga Orang yang dijamin masuk surga adalah orang yang memelihara amanat yang diberikan orang lain kepadanya. Saya ingin kisahkan sebuah cerita yang dikutip dari kumpulan pengalaman hidup Al-Imam Al-Shirazi, salah seorang marja’ taklid yang besar. Beliau pernah menjadi murid seorang ulama besar, seorang marja’ taklid lainnya, namanya Syeikh Al-Akbar Al-Murthado Al-Anshari. Saya tuliskan pengalaman beliau. “Telah sampai kepadaku riwayat dari salah seorang ulama besar. la berkata, ‘Pernah aku ini berguru dan berkhidmat kepada Syeikh Al-Akbar Al-Murthado Al-Anshari di Najaf Al-Asyraf Irak. Pada suatu malam, aku bermimpi kalau aku melihat setan yang dalam tangannya memegang beberapa belenggu sedang berjalan menuju satu tempat. Aku tanya dia, ‘Mau ke mana kamu ini?’ Setan itu menjawab, ‘Aku ingin meletakkan belenggu ini pada leher-leher manusia, sebagaimana kemarin aku pernah meletakkan belenggu pada leher Syekh Al-Anshari di kamarnya sehingga belenggu itu meluas sampai keluar kamar dan aku terdorong karenanya. Aku tidak berhasil memasangkan belengguku itu pada leher Syekh Anshari karena tiba-tiba Syekh Anshari melemparkan belenggu itu. Segera aku terbangun kata ulama itu aku datang menemui Syekh Anshari dan aku ceritakan mimpiku tadi malam. Berkatalah Syekh Anshari, ‘Benar apa yang dikatakan setan itu, karena dia kemari berusaha untuk menjebakku. Waktu itu, aku tidak punya uang sepeser pun dan aku sangat membutuhkan sesuatu untuk keperluan rumah. Lalu, aku berpikir untuk meminjam satu real saja dari saham Imam yang dititipkan kepadaku’.” Pada waktu itu, Syekh Al-Anshari berada dalam keadaan lapar, dan ia tidak punya sedikit pun makanan serta uang. Di rumahnya bertumpuk titipan umat. Jadi, kata dia, “Aku berpikir untuk mengambil amanah itu satu real saja yang merupakan saham Imam. Dan aku akan meminjam dulu saja untuk memenuhi keperluanku. Nanti kalau aku mempunyai uang, aku akan membayarnya. Keluarlah aku dari kamar, di tengah jalan aku menyesal. Aku kembali ke rumah dan aku simpan kembali real itu ke tempatnya semula.” Karena itu tadi dalam kisahnya, setan itu sudah mau meletakkan belenggu, akan tetapi Syekh Anshari melemparkannya kembali. Ketika saya membaca kisah ini, saya terharu. Bayangkan, seorang ulama yang dititipi amanah sekian banyak, harus kelaparan, kemudian ia mau meminjam uang untuk memenuhi kebutuhannya. Sebetulnya, itu hak dia juga, karena seorang ulama pun memiliki hak untuk meminjam. Akan tetapi, ia tidak mau menggunakan hak itu, dia balik lagi untuk menyimpan real yang sudah diambilnya dalam keadaan lapar. Saya pikir, orang seperti beliau termasuk orang yang dijamin masuk surga. Masih dari Al-Imam Al-Shirazi dalam kitabnya Haqaiq Min Tarikh Al-‘Ulama, diceritakan pula tentang seorang ulama yang ditimpa perasaan lapar karena sudah lama tidak makan. Begitu lama dan begitu laparnya ia, hingga sebagian kaum Mukminin berusaha mencari makanan agar ulama ini terpelihara kesehatannya. Pada saat-saat seperti itu, ada orang yang datang meminta bantuan kepadanya. Lalu, ulama besar itu masuk ke kamarnya, mengambil dari satu kotak uang titipan yang diberikan kepadanya. Kotak itu disimpan di dalam lubang, di dalam batu. Dia mengeluarkan sebagian dirham dari situ dan diberi- kan kepada orang yang meminta pertolongan. Tidak lama setelah itu, datang juga seorang Sayyid dari dzuriyyat Nabi Saw. yang tampaknya memiliki kebutuhan yang berat pula. Lalu ulama itu masuk lagi ke kamar dan dia berikan lagi bantuan. Hadirin takjub. Mereka berkata, “Ajaib engkau ini, engkau beri orang dengan uang yang banyak padahal engkau sendiri ditimpa penderitaan seperti yang terjadi sekarang ini, karena lapar dan kemiskinan.” Orang ‘alim itu menjawab, “Semua harta yang aku bagikan itu bukan kepunyaanku sendiri, ini amanah Allah yang diberikan kepadaku untuk aku sampaikan kepada orang yang berhak menerimanya. Sekiranya aku menggunakan uang ini, aku telah berkhianat kepada amanah. Sungguh pengkhianatan yang paling besar adalah mengkhianati umat.” Dahulu, ada seorang ulama dari Iran yang berkunjung ke Indonesia tahun 1980-an. Waktu itu, belum ada orang yang berani petantang-petenteng mengaku sebagai pengkikut mazhab Ahlul Bait. Dia berkunjung ke Jakarta. Beberapa orang dari Muthahhari berangkat menemui beliau. Bahasa Arab sang ulama sangat bagus, akan tetapi karena tahu orang Indonesia kebanyakan bicara berbahasa Inggris, ulama ini pun berbicara dalam bahasa Inggris dan saya diminta sebagai penerjemahnya. Saya sulit sekali memahami bahasa Inggrisnya. Jadi, saya katakan kepada beliau supaya berbicara dalam bahasa Arab saja. Alasan saya, karena di situ banyak sekali para ustadz yang paham bahasa Arab. Jadi, kalau saya salah menerjemahkan, para ustadz itu bisa mengoreksi. Sebelum bicara, beliau mengajak saya masuk ke ruangan dalam dan memberikan banyak nasihat. Waktu itu, saya mau membangun gedung SMA Muthahhari dan tidak punya uang. Jadi saya datang kepada ulama itu untuk meminta bantuan. Ulama itu berkata, “Saya ini sudah tua, Anda masih muda, dan di hadapan kita ada meja. Kalau saya mampu mengangkat meja ini 10 kilo, Anda mampu mengangkat meja ini 20 kilo, sedangkan berat meja ini 50 kilo. Bagaimana meja ini bisa saya angkat karena saya hanya bisa mengangkat 10 kilo, Anda hanya bisa 20 kilo? Kita tidak akan bisa mengangkat meja ini. Itu yang akan terjadi kalau Anda bekerja sama dengan manusia. Akan tetapi, kalau Anda bekerja sama dengan Allah, kemampuan mengangkat Anda hanya 10 kilo, sisanya akan disempurnakan oleh Allah Swt.” Jadi, waktu itu, saya berketetapan hati membangun Muthahhari walaupun uangnya tidak ada, dan insya Allah, Dia akan membereskannya. Alhamdulillah, akhirnya berdiri juga: Muthahhari, bangunan yang cukup mahal dan megah waktu itu. Semua terjadi karena kita bekerja sama dengan Allah Swt. Saya ingin menceritakan lebih jauh tentang ulama yang memberikan nasihat kepada saya tadi. Namanya Ayatullah Hairi. Dia selalu memakai jubah dan selalu shalat di masjid. Satu saat, ia memberikan ceramah di Paramadina. Di sana, ada Dawam Rahardjo dan kawan-kawannya. Datanglah waktu Zuhur, Ayatullah Hairi bertanya, “Di mana masjid yang paling dekat di sini?” Dawam Rahardjo adalah seorang pemikir Islam, kalau Ayatullah Hairi itu mungkin bukan pemikir Islam. Kata Mas Dawam, “Mengapa sih shalatnya harus selalu di masjid, di sini juga kan bisa!” Tapi tidak. Ayatullah mencari masjid dan pergi dalam keadaan beliau yang sudah tua. Kita ingat juga waktu itu aktivis-aktivis Muthahhari berkumpul di gedung kedutaan. Ketika terdengar adzan di masjid, dan waktu Maghrib sudah masuk kita masih saja berkumpul di rumah itu sambil ngobrol. Kita melihat sang ulama berlari-lari dari rumah kedutaan menuju Masjid Sunda Kelapa yang ada di seberang jalan. Padahal, saat itu hujan sedang turun dengan lebatnya. Kejadian itu membuat Duta Besar sekalipun akhirnya berlari-lari mengikuti dia ke masjid. Tetapi orang-orang Indonesia yang hadir waktu itu, semua tidak beranjak ke masjid dan masih ngobrol di situ, termasuk saya. Dan, menurut yang saya dengar, setelah Ayatullah Hairi shalat Maghrib dan wirid sebentar, rupanya di Masjid Sunda Kelapa itu ada tradisi kuliah tujuh menit (kultum). Siapa yang memberikan kultum tidak dijadwal, bisa siapa saja. Jelas kebanyakan yang mengisinya bukan ulama. Ayatullah Hairi sudah mau beranjak pergi, ketika tiba-tiba ada seorang anak muda berdiri memberikan ceramah dalam bahasa Indonesia yang sulit dipahami beliau. Ulama besar ini duduk kembali dan mendengarkan ceramah anak muda tersebut. Luar biasa. Ayatullah Hairi sangat mengesankan saya. Sepulangnya beliau ke Iran, tidak lama setelah itu, Duta Besar Iran mengirimkan surat dari beliau untuk saya. Suratnya itu kecil, mungkin dari sobekan kecil kertas yang lebih besar. Di dalam surat itu ada beberapa lembar uang dolar, disertai secarik tulisan, “Saya diberikan uang makan untuk perjalanan ke sini tapi karena saya dijamu di kedutaan, uang ini masih utuh. Saya merasa mendapat kehormatan sekiranya Anda berkenan untuk mempergunakan uang ini untuk keperluan dakwah.” Ayatullah Hairi tidak mau membawa uang itu karena kelebihan. Saya betul-betul terharu. Saya yakin juga Ayatullah Hairi adalah tipe orang yang dijanjikan masuk surga karena sifat-sifatnya yang luhur. Dulu saya sering naik becak karena tidak punya mobil. Saya sering membayar ongkos becak itu dengan uang lebih. Ibu-ibu sekitar saya selalu menegur. Kata mereka, ini bisa merusak pasaran, ongkos becak bisa naik. Suatu saat saya tidak punya uang receh. Sebetulnya, sampai sekarang juga, saya punya kebiasaan yang sulit untuk punya uang receh. Saya sering bilang kalau salah satu musibah saya dalam hidup ini adalah sulit sekali punya uang receh. Kisahnya waktu itu, saya mau pulang ke rumah dari Unpad, Jalan Dipati Ukur. Dalam saku saya ada uang seratus ribu. Saya bingung, kalau naik angkot pasti sopir angkotnya marah-marah kalau dikasih uang seratus ribu. Akhirnya, saya jalan kaki sampai rumah di Kiaracondong. Itu adalah musibah karena tidak punya uang receh. Jadi, jangan kira orang berduit itu tidak bisa kena musibah. Suatu saat, saya membawa uang lima puluh ribu. Saya naik becak dan saat membayar, tukang becaknya tidak punya kembalian. Lalu saya bilang, “Ambil saja dulu nanti kalau sudah dapat duit baru kembalikan ke sini.” Dan hilanglah tukang becak itu selama seminggu. Saya pun sudah melupakan uang kembalian itu. Tapi seminggu kemudian tukang becak itu datang lagi untuk mengantarkan uang kembalian kepada saya. Saya pikir, pasti tukang becak ini dijamin masuk surga. Pada sisi lain, saya ingat banyak ustadz yang meminjam uang kepada saya, tapi tidak membayarnya. Tukang becak itu adalah orang yang memelihara amanat dan janjinya. Sebetulnya, di Indonesia itu banyak kisah para calon penghuni surga seperti tukang becak itu, yang selalu memenuhi amanat dan janjinya. Tapi sayangnya, yang berkhianat lebih banyak lagi. Setiap orang di antara kita punya pengalaman berjumpa dengan para pengkhianat amanat itu. Bahkan, ternyata orang yang Anda jumpai itu adalah orang yang paling dekat dengan Anda, yaitu diri Anda sendiri. Hadits-Hadits tentang Amanat Kini, saya bacakan hadits-hadits tentang memelihara amanat. Dari Imam Ja’far Ash-Shadiq, “Janganlah kamu melihat seseorang dari panjang ruku dan lama sujudnya, karena itu merupakan kebiasaan saja. Akan tetapi, lihatlah kejujurannya dalam berbicara dan kesetiaannya dalam menjalankan amanat.” Rasulullah Saw. pun bersabda, “Janganlah terpukau dari banyaknya shalat mereka, puasa mereka, seringnya haji dan beramal saleh, atau kerajinannya dalam melakukan shalat malam. Tapi perhatikanlah kejujurannya dalam berbicara dan pada kesetiaannya dalam memenuhi amanat.” Rasulullah Saw. berulang kali memperingatkan kita. Mengapa demikian? Karena kita lebih sering melihat seseorang dari shalatnya, saumnya, hajinya, dan kadang-kadang dari penampilannya. Menurut Nabi Saw., hal ini tidak boleh dijadikan ukuran. Ukuran yang paling utama tentang kesalehan seseorang ialah kejujurannya dalam berbicara, dan kesetiaannya dalam memegang amanat. Saya kutipkan hadits-hadits ini dari kitab Biharul Anwar juz 22 berkenaan dengan amanat. Hadits lain dari Imam Ja’far Ash-Shadiq, “Bertakwalah kamu kepada Allah dengan cara setia menjalankan amanat kepada siapapun yang memberikan amanatnya kepada kamu.” Ini adalah ucapan Imam Ja’far Ash-Shadiq. Beliau adalah putra dari Imam Muhammad Al-Baqir, putra Imam Ali Zainal Abidin, putra Imam Husain, putra dari Sayiddah Fatimah Az-Zahra, dan beliau adalah putri dari Rasulullah Saw. Imam Ja’far Ash-Shadiq adalah cucu dari Imam Ali bin Abi Thalib. Beliau berkata, “Sekiranya Abdurahman bin Muljam itu menitipkan amanatnya kepadaku, aku akan memenuhi amanat itu, walaupun dia pembunuh kakekku (Imam Ali Bin Abi Thalib).” Hadits lain tentang amanat dari Rasulullah Saw., “Yang paling dekat denganku pada Hari Kiamat nanti adalah orang yang paling jujur dalam berbicara, yang paling setia menjalankan amanat, yang paling bagus dalam memenuhi janji, yang paling indah akhlaknya, yang paling dicintai oleh manusia, dan yang paling banyak berkhidmat kepada sesama manusia.” Apa dampaknya kalau kita memelihara amanat? Sabda Nabi Saw. dalam Biharul Anwar juz 75, “Orang yang memelihara amanat akan menarik kekayaan dan orang yang berkhianat akan menarik kefakiran.” Ini agak aneh. Banyak koruptor hidupnya kaya raya. Banyak orang berilmu yang berkhianat malah hidup kaya. Itu karena kita mengukur kekayaan dari jumlah uang yang dimiliki. Dalam bahasa Arab, ghina itu artinya kecukupan dan faqir artinya orang yang punya banyak kebutuhan. Dalam bahasa Arab itu, fakir adalah orang yang sangat membutuhkan sesuatu. Para ulama sering mengatasnamakan diri mereka, ketika menandatangani surat, dengan sebutan al-faqir ila rahmati rabbi al-qadir, orang yang sangat membutuhkan kasih sayang Allah yang Mahakuasa. Boleh jadi, maksud hadits Nabi Saw. ini adalah bahwa orang yang mempunyai kekayaan yang banyak sering di kejar-kejar oleh kebutuhan yang tiada henti. Dia dilelahkan dengan keadaan yang tidak cukup terus menerus. Itu sebabnya, kita menemukan para koruptor tidak pernah merasa puas dengan korupsinya. Dia makin rakus karena uangnya mudah diperoleh, mudah juga hilangnya. Kalau diperolehnya secara haram, keluarnya pun akan secara haram lagi. Dia akan dikejar-kejar oleh kebutuhan yang terus-menerus. Ada saja kekurangan pada harta yang dimilikinya. Orang seperti ini tidak akan pernah mengalami ketenteraman dalam hidupnya. Lukman Al-Hakim pernah memberikan nasihat kepada anaknya, “Wahai anakku, laksanakanlah amanat nanti engkau akan selamat di dunia dan akhirat. Dan, setialah kepada amanat niscaya engkau akan menjadi orang yang berkecukupan.” Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan kisah Nabi Musa. Alkisah, Musa bin Imran memiliki seorang sahabat yang sering mengaji kepadanya. Sahabat ini termasuk yang dikasihi oleh Nabi Musa. Ilmunya sudah luas, lalu ia minta izin untuk meninggalkan Nabi Musa karena ia akan melakukan silaturahmi dengan kerabatnya yang sudah lama ditinggalkannya. Sebelum pergi, Nabi Musa berkata kepada sahabatnya itu, “Menyambungkan tali silaturahmi itu adalah perbuatan yang baik, akan tetapi aku peringatkan kepadamu, berkunjunglah dengan penuh keikhlasan. Janganlah kamu tunduk pada keindahan dunia, karena Allah telah memberimu ilmu yang banyak. Janganlah kamu sia-siakan ilmu itu sehingga kamu menundukkan dirimu pada godaan dunia. Pergilah lelaki itu menemui keluarganya. Berlalulah waktu yang lama ketika laki-laki itu tidak menemui Nabi Musa. Ia pun tidak memberikan kabar apa pun. Nabi Musa bertanya kepada orang-orang tentang kabar dia, akan tetapi semua orang tidak ada yang tahu. Akhirnya, beliau bertanya kepada Malaikat Jibril, “Bagaimana kabar sahabatku, apakah engkau tahu?” Jibril menjawab, “Sekarang dia sedang berada di sebuah pintu, dan Allah sudah mengubahnya menjadi monyet kemudian disimpan rantai di atas lehernya.” Nabi Musa terkejut. Ia pun pergi ke tempat shalatnya lalu berdoa kepada Allah Swt., “Tuhanku ini sahabatku yang sering menghadiri majelisku, apa yang terjadi kepadanya? Tolonglah dia.” Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Musa, “Hai Musa, sekiranya kamu berdoa kepada-Ku dan meminta tolong sampai putus tenggorokanmu, Aku tidak akan mengabulkan doamu, karena orang itu sudah Aku berikan ilmu tetapi ia menyia-nyiakan ilmunya itu untuk kepentingan dunianya”. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
ADA KEINDAHAN DALAM KEPASRAHANOctober 25, 2026Sa’ad bin Waqqash adalah salah seorang sahabat Rasulallah Saw. Telah bertahun-tahun ia buta dan tinggal di Mekah. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang ingin didoakannya. Akan tetapi, ia tidak mendoakan setiap orang: tetapi yang ia berkati dengan doanya merasa hidupnya lebih baik, urusannya lebih lancar. Abdullah bin Sa’ad melaporkan, “Aku datang menemuinya. la baik sekali kepadaku dan ia pun mendoakanku. Waktu kecil, aku seringkali penasaran. Jadi, aku bertanya kepada ayahku, ‘Doa ayah untuk orang lain selalu diijabah. Mengapa ayah tidak berdoa. supaya disembuhkan dari kebutaan? Sahabat itu berkata, “Kepasrahan pada kehendak Allah lebih baik dari kesenangan pribadi karena bisa melihat lagi.” Saya berusaha mencari sumber kisah ini dalam kitab- kitab berbahasa Arab. Namun, sampai sekarang saya belum juga menemukannya. Kisah itu saya baca dalam sebuh buku tulisan ahli sejarah Ernest Kurtz dan penulis Katherine Ketcham, The Spirituality of Imperfection. Di balik ketidaksempurnaan, di belakang sakit atau musibah yang berkepanjangan ada spiritualitas. Orang Inggris memiliki peribahasa “every cloud has a silver lining”. Semua awan kelabu selalu ada garis-garis peraknya. Semua kegelapan ada titik cahayanya. Semua kekurangan ada makna ruhaniahnya. Karena itu, Sa’ad memilih untuk tidak berdoa untuk kesembuhan matanya. la menemukan dalam kebutaan itu kenikmatan pasrah kepada Allah Swt. Kepasrahan total. Ia tahu bahwa di balik semua peristiwa ada rencana Ilahi yang tidak diketahuinya. la yakin bahwa kehendak Ilahi pasti lebih baik dari kehendaknya. Boleh jadi ia juga sudah mencoba berdoa agar matanya sembuh kembali. Akan tetapi, Tuhan tidak mengabulkan doanya. Mungkin, mula-mula ia meradang, ingin memaksakan kehendaknya. Tetapi dalam kesunyian dan perenungan, ia menemukan keindahan kepasrahan. “Sesungguhnya, kepatuhan sejati di sisi Allah adalah kepasrahan,” (QS. Ali Imran : 19). Memang, betapa seringnya kita berdoa untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Kita memperlakukan Tuhan sebagai “pembantu” kita. Kita ingin agar Dia segera menyembuhkan penyakit kita, menyelamatkan anak istri kita, membalaskan dendam kita, menambah penghasilan kita, membayarkan utang-utang kita, mendatangkan jodoh dan pekerjaan untuk kita, dan sebagainya. Apabila Tuhan lambat menjawab, kita pun marah. “Ustadz, mengapa doa saya tidak diijabah Allah? Padahal, saya sudah melakukan puasa sebaik-baiknya. Saya sudah menjalankan zikir dengan setia, tahajud setiap malam. Saya pun sudah menjauhi kemaksiatan dan dosa semampu saya. Intinya, saya sudah meninggalkan apa yang sudah dijelaskan Ustadz sebagai penghalang ijabahnya doa. Saya juga sudah berusaha berdoa pada saat-saat dan tempat-tempat ijabah. Tetapi saya masih juga belum mendapatkan pekerjaan. Utang saya masih belum terbayarkan. Anak saya pun masih sakit-sakitan,” begitu pengaduan seorang kawan. Kepada kawan saya ini, dan kepada Anda, saya ingin bacakan kembali kisah Sa’ad ini. Saya juga ingin mengingatkan Anda akan masa kecilmu. Bahkan, pernah Anda tidak henti- hentinya meradang, menangis, dan marah kepada ibu, karena dilarang bermain dan dipaksa untuk belajar. Kehendakmu bertentangan dengan kehendak ibu. Sekarang, setelah dewasa, kita masih anak-anak di hadapan Tuhan. Kita masih kecewa dan marah kepada Dzat Yang Mahaksih karena Dia tidak memenuhi kehendak kita. Seperti dahulu ketika kita meragukan apakah ibu betul-betul sayang kepada kita, sekarang kita pun meragukan apakah Tuhan itu benar-benar Mahakasih dan Mahasayang. Semuanya karena kehendak kita bertentangan dengan kehendak Tuhan. Terkadang, anak kecil itu lebih bijak dari kita. Pisahkanlah seorang bayi dari ibunya. la pasti menangis, makin lama tangisannya makin keras. Tangisnya adalah panggilan agar ibunya datang. Jika tidak berjawab, tangisnya akan terhenti. Ia menderita kesedihan. Jika ibunya tidak muncul juga, ia mulai menerima. Ia pasrah. Ia bukan saja berhenti menangis. Ia pun berhenti bersedih. Ia akan mengalihkan perhatiannya kepada siapa saja yang bisa menjadi pengganti ibunya. Untuk kemudian, kebahagiaannya pun pulih kembali. Kearifan anak-anak inilah yang dihayati oleh Sa’ad. Seorang ibu menceritakan kepada saya tentang anaknya yang autis. Ia sudah berobat ke mana-mana dan gagal. Tentu saja, ia pun sudah berdoa dan berdoa. Ia bertanya kepada saya, “Ustadz, apa yang harus saya lakukan?” Saya menjawab, “Apa yang tidak bisa kita ubah harus kita terima.” Ada makna ruhaniah di balik dunia yang tampak tidak sempurna seperti yang kita inginkan. Ada spirituality di belakang imperfection. Ada kehendak Tuhan yang lebih indah di atas kehendak kita. Pasrahkan dirimu kepada keluasan kasih-Nya. “Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah-lah orang- orang yang beriman harus bertawakal,” (QS. At-Taubah : 51). Begitulah, kalau kita menghadapi sesuatu yang tidak bisa kita ubah, yang kita sesuaikan adalah reaksi kita terhadap situasi itu. Kita ubah persepsi kita, our beliefs. Pilihkah imaji- nasi yang membahagiakan kita. Control your imagination. Reaksi kita terhadap sesuatu itu biasanya didasarkan pada kepercayaan (belief), anggapan, atau imajinasi kita. Kita ini mempunyai berbagai anggapan dalam menghadapi aneka peristiwa yang terjadi. Misalnya, kalau seorang istri tiba-tiba menemukan suaminya menjadi rajin mematut-matutkan diri di depan cermin atau mulai sering memakai wewangian, lalu datang dari kantor selalu telat. Biasanya, kita akan menderita bukan karena kelakuan suami itu, tetapi karena anggapan, teori yang kita. pegang untuk menjelaskan kelakuan suami itu. Kalau anggaan kita “kayaknya suami kita pasti punya simpanan.” Kita menderita, kita sengsara. Seakan hidup ini banyak sekali penderitaan karena kita dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan atau anggapan-anggapan yang diwarisi secara turun temurun. Seakan-akan itulah satu-satunya anggapan yang benar. Bahwa, kalau suami mulai merapi-rapikan dirinya, itu pertanda bahwa dia selingkuh. Sebetulnya, hal itu bukan satu-satunya kepercayaan yang benar. Karena ada beberapa kemungkinan lain, bahkan kemungkinannya tidak terbilang. Mungkin dia sudah  —katanya menurut teori marketing dari Hermawan Kertajaya— ikut aliran kegenitan kaum eksekutif laki-laki. Jadi, sekarang ini laki-laki eksekutif itu sudah mulai genit, mulai memelihara kebersihan wajah dan tubuhnya. Maka jangan heran, apabila beberapa perusahaan kosmetik sekarang menawarkan pembersih muka buat laki-laki. Tidak ada salahnya laki- laki memelihara keindahan. Tetapi sekali lagi, kalau kita sudah terikat dengan kepercayaan tertentu dan anggapan tertentu, kita terpenjara di sana, sehingga kita akan menderita karenanya. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Segera ubah kepercayaan itu. Saya ingin mengutip firman Allah Swt. dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11, “Innallâh là yughayyiru må biqawmin hatta yughayyiru må bianfusihim.” (Artinya), “Sesungguhnya, Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Mengubah diri itu artinya mengubah persepsi, mengubah reaksi kita kepada situasi, mengubah penerimaan kita terhadap situasi itu, dan mengubah anggapan- anggapan kita terhadap situasi yang kita alami. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum ***KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Mitos-Mitos WaktuOctober 24, 2026Ketika kita berhadapan dengan saat-saat pertama dan saat-saat terakhir, kita selalu dihadapkan pada anggapan-anggapan tentang waktu. Pada saat datangnya tahun baru misalnya, ada orang yang berusaha menyambutnya dengan cara-cara tertentu. Ia menduga bahwa tahun baru itu akan memengaruhi nasibnya, baik atau buruk. Akibatnya, waktu yang pertama atau seperti juga waktu yang terakhir sering diterima orang dengan penuh kecemasan dan harapan. Dalam tulisan ini, kita ingin membicarakan tentang konsepsi waktu dalam Islam, juga mitos-mitos atau anggapan-anggapan manusia yang salah tentang waktu. Mitos Pertama: Waktu Membinasakan dan Menguntungkan Orang sering menganggap waktu sebagai sesuatu yang membinasakan, mencelakakan, membahagiakan, dan mendatangkan keberuntungan. Misalnya, ketika seseorang tengah berada dalam keadaan sulit, biasanya ia akan mengatakan bahwa zaman sekarang adalah zaman yang rusak. Begitu pula ketika mendapatkan keberuntungan, ia akan menganggap bahwa waktulah yang mendatangkan keberuntungan tersebut. Terkait hal ini, Allah Swt. “menyindir” mitos ini dalam Al-Quran, ketika Dia berbicara tentang ad-dahr (masa). “Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,’ dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja,” (QS. Al-Jâtsiyah : 24). Orang cenderung menyalahkan waktu, terutama ketika ia mendapatkan kekecewaan, atau ketika ia tidak dapat hidup sesuai dengan standar yang diinginkannya. Padahal, Rasulullah Saw. melarang kita untuk mencela waktu. Beliau bersabda, “Janganlah kalian mencaci-maki waktu.” Mengapa Rasulullah yang mulia sampai berkata seperti itu? Karena, apabila kita berpandangan bahwa waktu menyebabkan kecelakaan dan keberuntungan, pada saat yang sama kita telah memproyeksikan diri kita sendiri ke dalamnya. Itulah mitos tipuan yang sering dipakai orang untuk menghindari tanggung jawab yang harus dipikulnya. Ali bin Muhammad Ar-Ridha mengungkapkan sebuah syair, “Manusia umumnya menyalahkan zaman, padahal zaman itu tidak punya kesalahan selain kesalalahan diri kita sendiri.” Begitulah, kita menjelek-jelekkan zaman kita, padahal kejelekan itu ada pada kita. Seandainya zaman bisa berbicara, maka ia akan mendakwa kita, (Mizan Al-Hikmah, IV: 235-236). Ketika orangtua mendapati anak-anaknya mulai berani melawan dan melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, orangtua kerap melakuan pembelaan, “Memang sekarang zamannya seperti ini.” Ketika para pemuda kecewa melihat tingkah laku orangtuanya, dan mereka melakukan protes, maka orangtuanya akan segera berkata, “Memang, sekarang ini zamannya sudah jelek.” Zaman dipersalahkan karena ketidakmampuan manusia untuk mengisi dan memanfaatkannya. Ketika datang tahun baru, orang-orang akan segera menyambutnya dengan berbagai macam cara, karena mereka telah jatuh pada mitos ini. Mereka menganggap bahwa bahwa zaman yang akan datang akan banyak memengaruhi kondisi kehidupannya. Mereka lupa bahwa dirinya sendiri yang akan menentukan zaman yang akan datang itu, baik ataupun buruk. Orang Arab mengatakan, “Waktu itu seperti pedang. Kalau engkau tidak memotong waktu itu, maka dialah yang akan memotongmu.” Dari sini, kita bisa mengatakan bahwa kitalah yang menentukan bagaimana cara memanfaatkan waktu yang telah Allah karuniakan. Kitalah yang menentukan masa depan, bukan waktu. Memang, pada setiap masa selalu akan ada orang-orang yang mencaci kondisi zaman di mana ia hidup. Kalau kita menelaah kitab Ihya Ulumuddin, kita akan mendapatkan bagaimana Imam Al-Ghazali menceritakan suatu zaman yang kacau balau. Apa yang diceritakan Al-Ghazali di zamannya- misalnya tentang ulama yang menjual lawakan di mimbar-mimbar sama seperti yang kita alami sekarang ini. Sepanjang sejarah ada saja orang yang menghabiskan waktunya untuk mencaci-maki zaman. Ia tidak melakukan tindakan apa pun untuk memperbaiki zaman dan generasinya. Mitos Kedua: Waktu Memberikan Pertanda Nasib Anggapan tentang datangnya permulaan suatu waktu yang dipercayai sebagai pertanda akan datangnya suatu peristiwa, juga termasuk ke dalam salah satu mitos waktu. Aneka peristiwa alam yang terjadi, seperti peredaran matahari, bulan, dan bintang, yang menurut ajaran Islam diciptakan Allah untuk menentukan tongak-tonggak waktu, sering dijadikan orang sebagai pertanda akan nasib baik dan nasib buruk. Rasulullah Saw. pernah mengajarkan kepada umatnya untuk tidak memercayai takhayul-takhayul seperti itu. Ketika Ibrahim, putra beliau meninggal dunia, lalu pada malam harinya terjadi gerhana, dengan segera Rasulullah Saw. mengumpulkan para sahabat untuk menjelaskan bahwa sesungguhnya matahari dan bulan adalah satu tanda keagungan Allah Swt. Terjadinya gerhana bukan karena kematian dan kehidupan seseorang. Perkataan tersebut beliau sampaikan pada saat orang-orang Arab menganggap adanya hubungan antara gerakan alam semesta dengan meninggalkan Ibrahim. Mitos Ketiga: Waktu Itu Berlimpah Mitos lain tentang waktu adalah anggapan bahwa waktu itu berlimpah. Akibatnya, banyak orang menangguhkan pekerjaan pada waktu yang lain. Ia mengira masih ada waktu untuk mengerjakan pekerjaannya. Perilaku menunda-nunda seperti itu, disebut Rasulullah Saw. taswif, yaitu menangguhkan suatu amal untuk dikerjakan pada waktu yang akan datang. Islam tidak membenarkan perilaku semacam itu. Rasulullah Saw. pernah menasihati Abu Dzar, “Jauhilah olehmu taswif (anggapan bahwa waktu itu banyak). Engkau hidup pada harimu yang sekarang dan engkau bukan hidup pada zaman sesudah itu. Andaikan ada zaman nanti, seperti yang engkau alami, engkau tidak akan menyesal dengan apa yang engkau hilangkan pada hari in,” (Biharul Anwar, 77: 75). Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. bersabda pula, “Bagi orang Mukmin, tidak henti-hentinya kesibukan datang kepadanya sampai maut menjemputnya.” Sedangkan dalam Al-Quran, Allah Swt. berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengansungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap,” (QS. Alam Nasyrah : 7-8). Pandangan Islam tentang Waktu Islam memandang waktu sebagai karunia Allah untuk diisi dengan amal saleh. Allah Swt. berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk :2). Kalau orang Barat memandang waktu sebagai uang dan penambahan waktu harus dikorelasikan dengan penambahan uang, maka Islam menganggap bahwa waktu harus dihubungkan dengan amal saleh. Waktu yang kita miliki di dunia ini harus berkorelasi dengan amal saleh yang kita lakukan di dunia. Artinya, semakin banyak waktu kita hidup, harusnya semakin banyak pula amal saleh yang kita lakukan. Sebab, Allah Swt. menjadikan hidup dan mati itu untuk amal saleh. Oleh karena itu, dalam Islam, orang diukur bukan dari segi lamanya hidup di dunia, akan tetapi dari amal saleh yang dilakukannya. Allah Swt. berfirman, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan,” (QS. Al-Kahfi : 46). Islam tidak mengukur derajat seseorang dari lamanya waktu yang ia peroleh selama hidup, akan tetapi dari banyaknya waktu yang ia pergunakan untuk beramal saleh. Allah Swt. berfirman, “Dan setiap orang memperoleh derajat yang seimbang dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan,” (QS. Al-An’am : 132). JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
AL-FURQÂN: MENGUNGKAP RAHASIA RISALAH ILAHIOctober 23, 2026Di antara rangkaian ayat tentang puasa, terdapat ayat 185 dari surah Al-Baqarah yang berbunyi, “Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Al-Quran, petunjuk bagi manusia, dan keterangan-keterangan dari petunjuk itu dan Al- Furqan.” Yang menarik untuk kita renungkan dari ayat ini dan yang sekaligus akan kita jadikan topik pembicaraan kali ini adalah bagian terakhir dari ayat itu, yaitu Al- Furgan. Dalam terjemahan Al-Quran bahasa Indonesia, Al- Furqan diartikan sebagai pembeda; yang membedakan antara hak dan batil. Pada beberapa buku tafsir dijelaskan bahwa Al-Furqan ini merupakan sifat yang mempunyai potensi atau kemampuan membedakan sesuatu secara terperinci, sehingga ia dapat mengungkapkan dengan jelas rahasia yang tersembunyi di balik sesuatu itu. Kalau boleh dikatakan, dia bukan saja mampu membedakan hal yang sudah jelas, misalnya antara hitam dengan putih, tetapi dia mampu membedakan yang mirip atau samar, misalnya antara hitam dengan kelabu. Dengan demikian, tidak ada lagi yang samar bagi kita, karena semuanya sudah terungkap dengan jelas dan terperinci sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal dan terabaikan. Karena kemampuan yang sangat tinggi untuk memerinci dan memperjelas inilah, Al-Furqan dijadikan Allah Swt. sebagai bagian spesifik dan tersendiri bagi suatu nubuwwah (kenabian). Dapat dikatakan bahwa Al-Furqan adalah senjata khusus para nabi dan rasul dalam mengungkap dengan jelas makna risalah yang Allah Swt. titipkan kepada mereka. Lebih khusus lagi, dengan Al-Furqan ini pula para nabi bisa mengungkap makna dan rahasia yang terkandung dalam kitab suci yang dibawanya. Sebagaimana kita ketahui, makna yang paling benar (hakiki) dari ayat-ayat suatu kitab suci adalah makna yang ditafsirkan sendiri oleh rasul-Nya. Keyakinan seperti itu pun masih kita rasakan sekarang ini, ketika kita mencoba memahami ayat- ayat suci Al-Quran. Memang ada sebagian ayat yang mudah dipahami. Begitu ia dibacakan, kita langsung dapat memahami makna dan tujuan ayat tersebut. Namun ada pula ayat-ayat yang untuk mendapatkan maknanya yang akurat dan pas, diperlukan suatu pemikiran dan perenungan yang dalam, bahkan kadang-kadang dibantu oleh beberapa disiplin ilmu tertentu. Ada juga ayat-ayat yang memang sangat sulit dan rumit, sehingga kita sendiri merasa tidak mampu untuk mengungkapkannya dengan pas. Walaupun maknanya secara umum sudah didapatkan, kita masih merasa tidak puas dengan makna tersebut, karena dalam hati kecil kita, kita merasa yakin sekali bahwa ayat itu mempunyai makna yang sangat dalam dan tidak sekadar apa yang tersurat. Untuk menghilangkan ketidakpuasan ini, hati kita pun akan terusik dan bertanya-tanya, bagaimana Rasulullah Saw. menafsirkan ayat tersebut. Semua ini menyadarkan kita bahwa untuk mendapatkan makna yang hakiki dari suatu kitab suci tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan nalar dan intelektual saja, tetapi lebih dari itu, ia memerlukan perenungan yang sangat dalam. Perenungan itu tidak bisa dilampaui manusia biasa, sekali pun ia seorang profesor. Manusia yang mampu melampaui perenungan itu adalah orang-orang yang mempunyai maqam yang sudah melampaui batas ambang. tertentu, sampai ke tingkat para nabi yang mempunyai nilai- nilai kesucian spiritual yang sangat tinggi. Merekalah yang bisa menembus alam tempat para malaikat berkumpul sambil bersujud dan bertasbih memuji kebesaran Penciptanya. Dengan nilai spiritual inilah, kemampuan mengungkapkan rahasia-rahasia kitab suci yang kita sebut Al-Furqan ini dapat dicapai. Al-Quran mengungkapkannya dalam Surah Al-Baqarah ayat 53, “Dan ketika Kami (Allah) berikan kepada Musa Al-Kitab dan Al-Furqan, semoga kamu mendapat petunjuk.” Kita mengetahui bahwa kitab yang diberikan kepada Nabi Musa as. adalah Taurat. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kepada Nabi Musa pun diberikan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan isi Taurat tersebut secara benar. Kita dapat membuktikannya dengan melihat akhir ayat ini yang diakhiri dengan kata “semoga kamu mendapat petunjuk.” Hal ini menunjukkan bahwa seorang Nabi atau Rasul memerlukan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan risalahnya (yaitu kitab suci) secara benar dan hakiki. Dalam ayat lain, yang maknanya sejalan dengan ayat ini, Al-Quran menyebutkan, “Telah Kami (Allah) berikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan,” (QS. Al-Anbiya’ : 48). Kita mengetahui kedua nabi ini diutus pada waktu yang bersamaan dan kitab suci yang diturunkan adalah Taurat. Kita tahu pula bahwa kitab suci itu diturunkan kepada Nabi Musa as., untuk itu tidak perlu diturunkan kitab suci yang khusus bagi Nabi Harun as. Bagi Harun hanya diberikan senjatanya saja dalam menafsirkan Taurat, yaitu Al-Furqân. Ayat yang lebih spesifik lagi berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw., yaitu dalam ayat, “Dia (Allah) turunkan kepada engkau (Muhammad Saw.) Al-Kitab (Al-Quran) dengan haq yang membenarkan apa yang terdahulu dan Dia menurunkan Taurat dan Injil sebelumnya sebagai petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqan,” (QS. Ali Imran : 3-4). Dari penjelasan ayat-ayat ini, kita dapat melihat bagaimana tingginya derajat Al-Furqan, sehingga ia disejajarkan Allah dengan figur seorang nabi maupun nilai kitab suci. Dengan bergabungnya ketiga nilai ini (nabi, kitab suci, dan Al-Furqân), sempurnalah nilai suatu kenabian. Ketiga nilai ini, kalau mau diperumpamakan, boleh jadi merupakan “jembatan” atau transmitter antara alam manusia dengan alam malakut; alam dunia dengan alam gaib. Sesungguhnya, apabila umat manusia ingin diantarkan untuk mencapai kesempurnaan ibadahnya, jembatan inilah yang akan membawanya dengan selamat dalam perjalanan kembali menuju Allah Swt. Yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut ialah; ketika kita mengetahui bahwa sekarang kita hidup di zaman yang tidak akan diutus lagi seorang nabi pun, karena telah diakhiri masa kenabian Rasulullah Saw. dan tidak ada nubuwwah lagi, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, Surah Al-Ahzab ayat 40, maka permasalahan yang timbul ialah: Apakah jembatan penghubung itu pun ikut terputus pula? Dengan perkataan lain, siapakah nanti yang benar-benar mampu mengungkapkan rahasia di balik risalah terakhir ini (Islam) atau siapakah yang mampu mengungkapkan makna yang hakiki dari apa yang terkandung dalam Al-Quran? Sebagai ilustrasi, tadi kita telah menyatakan bahwa tafsiran yang paling benar dari ayat-ayat Al-Quran hanyalah yang diungkapkan sendiri oleh Rasulullah Saw. (karena adanya senjata Al-Furqân). Sedangkan persoalannya sekarang ini kita hidup ketika Rasulullah Saw. sudah tidak ada lagi. Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa Al-Furqan merupakan kata kunci dalam pengungkapan semua ini. Dapat dikatakan dengan senjata Al-Furqan ini, siapa pun dapat mengungkap segala rahasia apa pun yang terkandung dalam risalah terakhir ini, baik yang terkandung dalam Al-Quran maupun dalam sunnah Rasulullah Saw. itu sendiri. Dengan kebijaksanaan Allah Swt. dan keadilan-Nya, walaupun tidak ada lagi pengutusan seorang rasul, Allah tetap menurunkan Al-Furqan ini sampai Hari Kiamat kepada orang- orang yang dikehendakinya. Artinya, tidak sembarang orang mendapatkan keistimewaan ini. Hanya orang-orang tertentu yang maqam-nya sudah mencapai tingkat para nabilah yang mampu. Orang-orang ini dikenal dalam Islam dengan manusia-manusia suci atau wali-wali Allah yang disebut dengan manusia “takwa” sebagaimana yang dinyatakan Al-Quran, “Sesungguhnya, wali-wali Allah tidaklah mereka itu merasa takut dan tidak pula mereka itu bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa,” (QS. Yunus : 62-63). Manusia takwa inilah yang berhak mendapatkan keistimewaan menerima Al-Furqan. Allah Swt. berfirman, “Hai orang yang beriman, jikalau kamu bertakwa kepada Allah, (Dia) akan menjadikan untuk kamu Al-Furqan,” (QS. Al-Anfal : 29). Akhirul kalam, siapakah wali-wali Allah yang kepada mereka Allah Swt. mengamanatkan Al-Furqan ini? Adakah petunjuk-petunjuk agama yang mengisyaratkan tentang itu? Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan itu semua. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum ***KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Tuhan yang Disaksikan Bukan Tuhan yang DidefinisikanOctober 21, 2026ALKISAH, seorang Arab Badawi bermaksud menjual sekarung gandum ke pasar. Berulangkali ia mencoba meletakkan karung itu di atas punggung unta; dan berulangkah ia gagal. Ketika ia hampir putus asa, terkilas pada pikirannya pemecahan yang sederhana. Ia mengambil satu karung lagi dan mengisinya dengan pasir. Ia merasa lega, ketika kedua karung itu bergantung dengan seimbang pada kendaraannya. Segera ia berangkat ke pasar. Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang asing yang berpakaian compang-camping dan berkaki telanjang. Ia diajak oleh orang asing itu untuk berhenti sejenak, beristirahat, dan berbincang-bincang. Sebentar saja, orang Badawi itu menyadari bahwa yang mengajaknya berbincang itu orang yang banyak pengetahuan. Ia sangat terkesan karenanya. Tiba-tiba, orang asing itu menyaksikan dua buah karung bergantung pada punggung unta. “Bapak, katakan apa yang bapak angkut itu; kelihatan sangat berat”, tanya orang asing itu. “Salah satu karung itu berisi gandum yang akan saya jual ke pasar. Satu lagi karung berisi pasir untuk menyeimbangkan keduanya pada punggung unta”, jawab orang Badawi. Sambil tertawa, orang pintar itu memberi nasehat, “Mengapa tidak ambil setengah dari karung yang satu dan memindahkannya ke karung yang lain. Dengan begitu, unta menanggung beban yang ringan dan ia dapat berjalan lebih cepat.” Orang Badawi takjub. Ia tidak pernah berpikir secerdik itu. Tetapi sejenak kemudian, ketakjubannya berubah menjadi kebingungan. Ia berkata, “Anda memang pintar. Tapi dengan segala kepintaran ini mengapa Anda bergelandangan seperti ini, tidak punya pekerjaan dan bahkan tidak punya sepatu. Mestinya kepandaian Anda yang dapat mengubah tembaga menjadi emas akan memberikan kekayaan kepada Anda.” Orang asing itu menarik nafas panjang, “Jangankan sepatu, hari ini pun saya tidak punya uang sepeser pun untuk makan malam saya. Setiap hari, saya berjalan dengan kaki telanjang untuk mengemis sekerat atau dua kerat roti.” “Lalu apa yang Anda peroleh dengan seluruh kepandaian dan kecerdikan Anda itu.” “Dari semua pelajaran dan pemikiran, aku hanya memperoleh sakit kepala dan khayalan hampa. Percayalah, semuanya itu hanya bencana bagiku, bukan keberuntungan.” Orang Badawi itu berdiri, melepaskan tali unta, dan bersiap-siap untuk pergi. Kepada filsuf yang kelaparan di pinggir jalan, ia memberi nasehat, “Hai, orang yang tersesat. Menjauhlah dariku, karena aku kuatir kemalanganmu akan menular kepadaku. Bawalah semua kepandaianmu itu sejauh-jauhnya dariku. Sekiranya dengan ilmumu itu kamu ambil suatu jalan, aku akan mengambil jalan yang lain. Sekarung gandum dan sekarung pasir boleh jadi berat; tetapi itu lebih baik daripada kecerdikan yang sia-sia. Anda boleh jadi pandai, tetapi kepandaian Anda itu hanya kutukan; saya boleh jadi bodoh, tapi kebodohan saya mendatangkan berkat, karena walaupun saya tidak cerdik, tetapi hati saya dipenuhi rahmat-Nya dan jiwa saya berbakti kepada-Nya.” Kisah Jalal al-Din Rumi, yang saya ceritakan kembali dengan bahasa saya itu, merupakan kritik halus kepada para filsuf yang berusaha mengetahui Tuhan dengan akalnya. Moral cerita ini ditutup dengan kuplet-kuplet berikut: Jika kau ingin derita benar-benar hilang dari hidupmu Berjuanglah untuk melepaskan ‘kebijakan’ dari kepalamu Kebijakan yang lahir dari tabiat insani tak menarik kamu lebih dari khayalan Karena kebijakan itu tidak diberkati yang mengalir dari cahaya kemuliaan-Nya Pengetahuan tentang dunia hanya memberikan dugaan dan keraguan Pengetahuan tentang Dia, kebijakan ruhani sejati membuatmu naik keatas duniawi Para ilmuwan masa kini telah menghempaskan semua pengorbanan diri dan kerendahan hati Mereka sembunyikan hati dalam kecerdikan dan permainan bahasa Raja sejati adalah dia yang menguasai pikirannya Bukan dia yang pikirannya Menguasai dunia dan dirinya Rumi menunjukkan bahwa dengan intelek kita tidak akan memperoleh pengetahuan tentang Tuhan. Intelek mempunyai kemampuan terbatas; dan karena itu, tidak akan mampu mencerap Tuhan yang tidak terbatas. Sekiranya intelek mencoba memahami Tuhan, ia akan memberikan batasan kepada-Nya. Tuhan para pemikir adalah Tuhan yang didefinisikan. Rumi mewakili para sufi yang ingin mengetahui Tuhan melalui pengabdian, bukan pemikiran; melalui cinta, bukan kata; melalui taqwa bukan hawa. Mereka tidak ingin mendefinisikan Tuhan; mereka ingin menyaksikan Tuhan. Dengan menggunakan intelek, kita hanya akan mencapai pengetahuan yang dipenuhi keraguan dan kontroversi. Melalui mujahadah dan ‘amal, kita dapat menyaksikan Tuhan dengan penuh keyakinan. Dalam Matsnawi, Daftar-e Sevon, Bait 1267, Rumi menyingkatkan pengetahuan hasil pemikiran: Az nazar keh guftesyan syud mukhtalef, an yeki dalesy laqb dad in alef. Karena pemikiran ucapan mereka bertentangan, kata yang satu dal kata yang satu alif. Seperti Kucing Schroedinger dalam fisika, pengamat menciptakan realitas. Tuhan menjadi hasil konstruksi manusia. Tuhan dapat muncul dalam berbagai “bentuk” sesuai dengan siapa yang memahami-Nya. Seperti Rumi, Ibn ‘Arabi menunjukkan kekeliruan pengetahuan tentang Tuhan yang dilakukan oleh para filsuf dan ahli ilmu kalam. Pemikiran tidak mungkin mencapai pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan; malahan pemikiran seperti itu hanya menghasilkan tipuan, khayalan, dan pertentangan. Ia menulis: Pengetahuan ahli ilmu kalam dan filsuf berkenaan dengan esensi Tuhan bukanlah cahaya. Tidak ada satu madzhab pun yang tidak punya para pendukungnya. Mereka sendiri tidak sepakat, tetapi mereka tetap juga digambarkan sebagai kaum Mu’tazilah atau Asy’ariyah, seperti itu juga pada filsuf dalam ajaran mereka tentang Tuhan dan apa yang harus dipercayainya. Mereka belum sepakat di antara mereka tetapi setiap kelompok mempunyai status dan nama … Kita melihat nabi dan rasul yang terdahulu dan yang kemudian sejak Adam sampai Muhammad, termasuk yang datang di antara mereka ‘alayhim al-salam; mereka tidak pernah berikhtilaf dalam akar keimanan mereka pada Tuhan … Jadi, berpegang-teguhlah kepada keimanan dan lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu dan ingat Tuhanmu pada waktu pagi dan sore (Q., s. alA’raf/7:205) dengan zikir yang ditetapkan syari’at kepadamu baik dengan mengulangi la ilaha illa Allah (tahlil) atau tasbih dan takutlah kepada Tuhan. Jika al-Haqq berkehendak untuk memberikan kepadamu apa yang Dia mginkan berupa pengetahuan tentang Dia, hadirkan akalmu dan hatimu (lubb) apa yang Dia berikan dan anugerahkan kepadamu berupa pengetahuan tentang Dia. Sesungguhnya inilah pengetahuan yang bermanfaat dan cahaya yang dengan itu hatimu hidup, dan berjalan bersamamu di dunia ini. Dengannya kamu selamat dari kegelapan syubhat dan keraguan yang terjadi pada pengetahuan yang dihasilkan oleh pemikiran (afkar) … Saya sudah membimbingmu, saudara, bagaimana mencapai jalan pengetahuan yang bermanfaat. Jadi, bila kamu sudah merintis jalan yang lurus, ketahuilah bahwa Tuhan sudah membimbing tanganmu, memeliharamu, dan telah mempersiapkan kamu untuk diri-Nya. Pada tempat lain, Ibn ‘Arabi menulis: Di antara berbagai kelompok, tidak ada seorang pun yang lebih tinggi dari orang yang memperoleh pengetahuan melalui taqwa. Taqwa terletak pada tingkat pencapaian pengetahuan yang paling tinggi. Ia saja yang memiliki keputusan yang pasti. Otoritasnya berada di atas setiap keputusan yang ada dan di atas setiap orang yang membuat keputusan. Ia adalah qadli yang terbaik. Pengetahuan ini tidak dapat diperoleh pada tingkat permulaan. Karena itu, hanya orang yang berilmu di antara orang yang beriman yang dipilih untuk memperolehnya: yakni, mereka yang tahu bahwa ada Seseorang untuk kembali, dan menyaksikan-Nya dapat diraih. Jika mereka jahil dari pengetahuan ini, aspirasinya (himmah) akan sangat lemah sehingga sekiranya al-Haqq menampakkan diri-Nya (tajalli) kepada mereka, mereka akan menafikan-Nya dan menolak-Nya, karena pandangan mereka dibatasi (muqayyad) oleh sesuatu. Selama faktor pembatas itu tidak ada pada waktu penampakan diri-Nya (tajalli), mereka pasti akan menolak bahwa itu Tuhan, sekalipun Tuhan berbicara kepada mereka secara langsung atau mereka mendengar ucapan bahwa Dia itu Tuhan. Karena tidak memperoleh ilham dan karena pemikiran rasional mereka meyakinkan mereka bahwa tidak mungkin siapa pun dapat melihat al-Haqq –seperti para filsuf dan kaum Mu’tazilah– bahkan sekiranya kita mengetahui-Nya, mereka niscaya menolak-Nya dalam penampakan-Nya kepada mereka. Diperlukan bagi orang beriman agar cahaya imannya membawanya kepada apa yang telah membawa Musa a.s. ketika ia bertanya: Ya Tuhanku, tampakkan diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu (Q., s. al-A’raf/7:143). Apa yang dikritik Ibn ‘Arabi dan para sufi lainnya bukan intelek dalam pengertian akal, tetapi salah satu di antara fakultas (quwwah) dibawah kekuasaan akal. Kekuatan itu disebut daya pikir (quwwah mufakkirah). Tidak mungkin kita mengulas epistemologi Ibn ‘Arabi di sini, baik karena keterbatasan waktu maupun karena sudah adanya tulisan orang lain yang lebih lengkap. Tetapi secara singkat bisa kita katakan, bahwa Ibn ‘Arabi menyatakan bahwa pengetahuan tentang Tuhan hanya dapat diperoleh bila intelek dihadapkan kepada hati dan mengambil pelajaran dari hati. Sekali intelek diyakinkan tentang perlunya mengambil pelajaran dari hati, manusia memulai kelahiran baru dalam perjalanan panjangnya. Ia akan beristirahat di tempat tinggalnya, berhenti di daerah-daerah pedesaan, merasakan situasi baru setiap saat, menunggu dengan penuh gairah apa yang bakal datang, tetapi ia tidak akan pernah sampai, karena pengetahuan tidak punya akhir dan tidak ada batasnya. Pengetahuan yang diperoleh melalui hati adalah pengetahuan yang sejati. Pengetahuan ini tidak didasarkan pada pendefinisian Tuhan, tetapi pada penyaksian Tuhan. Dalam istilah al-Qur’an, pengetahuan ini disebut pertemuan (liqa’). Bersama Ibn ‘Arabi, al-Ghazali, al-Nasafi, dan tokoh-tokoh sufi lain sepanjang zaman kita diberi petunjuk bagaimana sampai kepada Pertemuan Agung ini. Sebelum saya mengakhiri makalah ini dengan petunjuk Ibn’Arabi dalam Risalah al Anwar fi ma Yumnah al-Khalkwah min al-Asrar, saya tergoda untuk mengutip al-Syaykh Ahmad Rifa’i al-Husayni, tokoh sufi yang hidup pada abad keenam Hijriyah: Kebanyakan orang mengetahui Tuhan melalui berita tentang Tawhid yang dibawa dari Nabi Muhammad s.a.w. Mereka membenarkannya dengan hati, mengamalkannya dengan tubuh, tetapi mengotori diri mereka dengan dosa dan maksiat. Maka hiduplah mereka di dunia dalam kebodohan dan kekurangan. Mereka berada dalam bahaya besar kecuali yang disayangi oleh Yang Pengasih dari segala yang mengasihi. Lebih tinggi dari itu, ada sekelompok manusia yang mengenal Tuhan dengan pembuktian. Mereka adalah ahli pikir, nalar, dan akal. Mereka meyakini tawhid berdasarkan dalil, ayat-ayat, dan tanda-tanda ketuhanan. Mereka mengetahui yang gaib atas dasar yang konkret. Mereka meyakini kebenaran dalil. Mereka berada pada jalan yang benar, hanya saja, mereka terhalang tirai dari Allah Ta’ala dengan perhatian mereka kepada dalil-dalil mereka. Ahli ma’rifat khusus mengetahuinya dengan keyakinan yang paling utama. Mereka tenteram dalam pengetahuan mereka. Tidak merisaukan mereka dalil. Tidak memalingkan mereka sebab. Dalil mereka Rasulullah s.a.w. Iman mereka al-Qur’an. Cahaya mereka menerangi di hadapan mereka. Barangsiapa yang mengenal Allah Ta’ala berdasarkan berita maka ia seperti saudara-saudara Yusuf ketika mengetahui rupanya tapi tidak menyadarinya, sehingga mereka dipermalukan di hadapannya, ketika mereka berkata: jika ia mencuri maka sesunggulmya saudaranya telah mencuri pula sebelum itu (Q., s. Yusuf/12:77). Barangsiapa yang mengenal Tuhan dengan dalil maka ia seperti Ya’qub a.s. ketika tahu bahwa Yusuf masih hidup, sehingga bertambah-tambah tangisan dan penderitaannya, sehingga ditanggungnya berbagai bala sampai putih matanya karena kesedihan, karena tahu bahwa Yusuf masih hidup dan karena rindu untuk berjumpa dengannya. Ia berkata: Pergilah selidiki keadaan Yusuf, aku sudah mencium bau Yusuf. Karena ucapannya itu, orang-orang yang tidak tahu berkata; Demi Allah sesungguhnya engkau dalam kesesatanmu yang terdahulu (Q.,s.Yusuf/12:59). Mereka berkata: Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-arang yang celaka (Q., s. Yusuf/12:85). Perumpamaan orang yang mengenal Tuhan melalui Tuhan adalah seperti Bunyamin yang diambil Yusuf untuk dirinya. Yusuf berkata: “Saudaraku, apakah kamu ingin menyaksikanku atau kembali kepada bapakmu?” Ia berkata: “Aku ingin menyaksikanmu”. Yusuf berkata: “Jika kamu menginginkan aku, bersabarlah atas ujianku”. Ia berkata: “Aku siap, karena engkau akan kupikul segala bencana asalkan aku tinggal bersamamu dan tidak berpisah denganmu”. Kemudian Yusuf mengeluarkan gandum dari kantong Bunyamin dan menuduh saudaranya mencuri. Seluruh penduduk kola mengecam dan mengejek Bunyamin. Saudara-saudaranya mempersalahkannya. Tetapi ia sendiri bergembira, tertawa dalam kesendiriannya. Ia tidak takut pada ejekan orang-orang yang mengejek. Inilah perumpamaan ahli yaqin dalam pengetahuan mereka tentang Tuhan. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
MEMAAFKAN SEBAGAI PENGHAPUS AKIBAT DOSAOctober 19, 2026Seorang Arab dari pedalaman datang menemui Ali bin Abi Thalib, la menyampaikan keluhannya kepada Imam Ali karena beratnya kehidupan, sempitnya rezeki, dan banyaknya tanggungan yang harus diurus. Imam Ali pun memberikan nasihat kepadanya, “Hendaklah kamu beristighfar, karena Allah Swt. berfirman, ‘Minta ampunanlah kamu kepada Tuhanmu; sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Nanti Allah akan mengirimkan hujan (rezeki) kepada kamu dengan berlimpah. Dan Dia akan memperbanyak harta kamu dan anak-anak kamu dan la jadikan bagimu kebun-kebun dan sungai-sungai’.” Kemudian, orang itu pulang ke kampungnya. Setelah beberapa waktu lamanya ia datang lagi dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku sudah banyak ber-istighfar, tetapi aku tidak melihat diriku lepas dari kesusahanku.” Imam Ali pun berkata, “Barangkali kamu tidak melakukan istighfar dengan baik.” Orang Arab itu berkata, “Ajarkanlah aku bagaimana caranya.” Imam Ali berkata lagi, “Ikhlaskan niat kamu dan taati Tuhanmu.” (Kanzul ‘Ummål: 3966) Berdasarkan riwayat ini, tidak gampang memang menghapuskan dosa dengan istighfar. Istighfar adalah doa atau permohonan agar Allah Swt. mengampuni kita. Sebagaimana semua doa, ia hanya akan didengar Allah jika tidak tertahan atau tertutup oleh dosa-dosa tertentu. Durhaka kepada orangtua termasuk di antara dosa yang akan menghalangi sampainya doa-doa yang kita panjatkan. Hanya apabila istighfar kita lakukan dengan memenuhi syarat-syarat, kita akan mendapatkan ampunan Allah Swt. Dengan istighfar seperti itu, kita juga akan mendapatkan limpahan rezeki (QS. Nuh : 11-12), kehidupan yang bahagia (QS. Húd : 3), kekuatan batin (QS. Hûd : 52), dan petunjuk dalam menghadapi kesulitan (QS. Al-Anfâl : 29). Allah Swt. Mahatahu kalau kita ini adalah makhluk yang lemah dan sering tidak sanggup ber-istighfar dengan sungguh- sungguh. Oleh karena itu, dalam Al-Quran, Dia menunjukkan kepada kita amal-amal yang dapat memastikan ampunan-Nya. Dua di antara amal itu adalah memaafkan dan berbagi rezeki dengan orang lain. Memaafkan Di antara anugerah Allah kepada kita adalah Dia memberi kita pasangan hidup, kekayaan, dan anak keturunan. Kita hidup dan menikmati kehidupan di tengah-tengah keluarga. Dengan cara itu pula keluarga memberi kita makna kehidupan. Seorang buruh kecil dari desa berangkat ke kota besar, membanting tulang, menghadapi ganasnya kehidupan, mengumpulkan beberapa ribu rupiah, dengan mencurahkan keringat, airmata, dan (terkadang) darah. Semua itu ia lakukan dengan tabah, karena ia memiliki keluarga yang harus dihidupinya. Ketika ia pulang kampung dan menyerahkan semua hasil jerih payahnya kepada istri dan anak-anaknya, ia merasakan kebahagiaan yang memberinya semangat kehidupan. Bukan hanya buruh kecil itu, pelajar atau mahasiswa yang belajar dengan tekun, tentara yang berangkat ke medan tempur, pelaut yang mengarungi samudera, pemimpin agama yang berkhutbah di mimbar, anggota legislatif yang bertikai sampai berkelahi di gedung DPR, bahkan pimpinan negara yang sibuk bernegosiasi di depan dan di belakang publik, semuanya ingin memperoleh kekayaan untuk berkhidmat kepada keluarganya-terutama untuk istri dan anak-anaknya. Al-Quran pun tidak menyalahkan mereka. Tuhan sudah menciptakan keluarga sebagai tempat bersemi dan berkembangnya cinta dan kasih sayang. Akan tetapi, pada saat yang sama, Tuhan pun memperingatkan kita bahwa pasangan hidup, dan juga anak- anak, sewaktu-waktu dapat berubah menjadi musuh kita. Kekayaan dapat menjadi sumber bencana. Ketika buruh kecil itu pulang ke rumahnya, istrinya boleh jadi melemparkan lembaran-lembaran uang itu dengan jeritan histeris. Uang itu terlalu kecil jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mungkin saja, ia akan mencaci maki suaminya dan menyesali perkawinan dengannya. Istri itu pun telah menjadi musuh yang merobek-robek harga dirinya. Para pengusaha tiba-tiba melihat kekayaannya menjadi sebab dari segala kecemasan dan kegelisahan hatinya; kemudian anak istrinya menambah daftar kejengkelan hatinya. Para penguasa mungkin berhadapan dengan masalah keluarga yang jauh lebih berat ketimbang masalah negara yang dihadapinya. Mungkin saja mereka mampu berakting menunjukkan betapa bahagianya keluarga mereka di depan kamera, tetapi di balik tembok rumahnya mereka menangisi kehidupan pribadinya. Keluarga dan kekayaan, alih-alih dapat membawa kebahagiaan dapat menjadi sumber bencana. Bencana yang menimpa kekayaan dan keluarga kita itu terjadi karena dosa, baik yang dilakukan oleh kita maupun oleh keluarga atau sahabat-sahabat kita. Untuk menghapus akibat dari dosa-dosa tersebut kita memerlukan ampunan Allah Swt. Untuk mendapatkan ampunan-Nya, kita harus saling memaafkan antara satu sama lain. Dalam Al-Quran disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati- hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya, hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar,” (QS. At-Taghabûn : 14-15). Ada tiga kata untuk menyebutkan kata memaafkan dalam ayat ini, yaitu ta’fu, tashfahu, dan taghfiru. Sambil mengulang lagi apa yang pernah disampaikan pada tulisan terdahulu, ta’fu berasal dari kata “afa” yang berarti menghapuskan jejak atau menghilangkan bekas. Di padang pasir terkadang bukit pasir dapat hilang begitu saja ketika ada topan yang meniup habis bukit itu. Orang Arab berkata, “Afât al-rih al jibâl, angin menghapuskan bukit.” Tashfahu berarti melepaskan seseorang dari hukuman yang seharusnya ia terima. Seorang budak lari dan kemudian tertangkap. Ia dihempaskan di hadapan tuannya. Ia seharusnya mendapatkan cambukan sebagai hukuman atas kesalahannya. Jika Anda membebaskannya dari hukuman itu, Anda tashfahu. Yang terakhir, taghfiru, artinya semula adalah menutupi atau menyembunyikan. Jadi, ketika kita memaafkan orang lain, ada tiga hal yang harus kita lakukan. Pertama, kita hapuskan dari hati kita segala luka, kepedihan, dan sakit hati yang diakibatkan oleh perbuatan orang lain kepada kita. Anda belum memaafkan istri Anda, jika Anda masih mengungkit-ungkit kesalahannya. Anda belum memaafkan siapa saja yang pernah menzalimi Anda, jika Anda masih menghujatnya, mengingat-ingat makiannya, atau mengorek-ngorek perbuatannya pada masa lalu. Memaafkan adalah memperlakukan orang-orang yang berbuat salah kepada kita, seperti Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya. Dahulu, saudara-saudara Yusuf itu, karena kedengkiannya, melemparkan Yusuf ke dalam sumur. Setelah Yusuf berjuang mengatasi kesengsaraan karena ulah saudara-saudaranya, akhirnya ia memperoleh jabatan yang tinggi dalam pemerintahan. Saudara-saudaranya datang untuk meminta pertolongan kepadanya. Mereka bersimpuh meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Apa yang dilakukan Yusuf? “Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang’,” (QS. Yusuf : 92). Kedua, memaafkan berarti melepaskan hukuman dari orang yang seharusnya menerima hukuman itu. Ketika ada orang yang menyakiti kita, yang berbuat zalim kepada kita, atau menyebabkan kita menderita, sehingga dalam hati timbul keinginan untuk membalas dendam. Ia telah menyakiti kita, sehingga sangat layak apabila ia pun kita sakiti. Ia telah membuat kita sengsara, dan kita harus membalasnya dengan menyengsarakan dirinya. Jika ia menderita karena perbuatan yang dilakukannya, kita menganggapnya sebagai hukuman. Memang, Tuhan membolehkan kita untuk memberinya hukuman sebagai pelajaran baginya. Akan tetapi, Dia pun menyuruh kita bersabar dan memaafkannya. Allah Swt. berfirman, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah lebih baik bagi orang-orang yang sabar,” (QS. An-Nahl : 124). Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman pula, “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya, Dia tidak menyukai orang- orang yang zalim,” (QS. Asy-Syûra : 39-40). Rasulullah Saw. bertanya kepada para sahabatnya, “Inginkah kalian tahu siapa makhluk yang paling baik di dunia dan di akhirat? Maafkanlah orang-orang yang menzalimi kamu; sambungkanlah persaudaraan dengan orang-orang yang berbuat buruk kepadamu; dan berikan hartamu kepada orang-orang yang tidak pernah memberi kepadamu.” (Biharul Anwar, 71: 339). Ketiga, memaafkan berarti menutup aib, kesalahan, atau dosa orang yang kita maafkan. To forgive is to forget. Memaafkan berarti melupakan. Keluarga kita, anak-anak kita, sahabat kita adalah manusia biasa seperti kita. Mereka pernah tergelincir, alpa, atau jatuh pada jebakan setan. Mereka pernah terdorong oleh hawa nafsunya. Sama seperti kita juga. Sepanjang hidup, kita menumpuk dosa. Akan tetapi, dengan kasih sayang-Nya, Allah Swt. menyembunyikan dosa-dosa kita itu. Seorang sufi beribadah di malam hari. Di tengah-tengah munajatnya, ia mendengar suara, “Hai Sana’i, jika Aku ungkapkan dosamu kepada orang banyak, mereka akan melemparimu dengan batu.” Sana’i berkata pelan, “Jika aku ungkapkan kasih-Mu kepada manusia, mereka akan malas beribadah kepada- Mu.” Seperti Sana’i, sekiranya Tuhan “membocorkan” semua rahasia doa kita, kita tidak akan sanggup membawa muka kita. Salah satu nama Allah adalah Sattar Al-‘Uyûb, penutup aib. Maka, jika kita ingin menyembunyikan aib diri, sembunyikan pula aib orang-orang yang pernah berbuat zalim kepada kita. Jika kita melakukan tiga hal, yaitu menghapuskan luka hati, membebaskan dari hukuman, dan menutup aib terhadap orang- orang yang telah berbuat salah kepada kita, dapat dipastikan Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosa kita. Dengan begitu, Allah juga menghapuskan akibat buruk dari dosa tersebut, membebaskan kita dari hukuman, dan menyembunyikan aib-aib yang akan mempermalukan kita. Salah seorang sufi agung dari keluarga Nabi yang suci, Imam Zainal Abidin, melakukan tiga hal itu, sebelum ia memohon ampun kepada Allah Swt. Ia mengumpulkan para pegawai dan budak-budaknya. Ia mengeluarkan catatan. Sambil menunjuk kepada setiap orang di antara para pegawai dan budaknya. Ia berkata, “Hai Fulan, bukankah kamu sudah melakukan kesalahan ini pada hari ini jam ini?” Yang ditunjuk mengakui kesalahannya. Semua dicatat dengan cermat dan semua diakui mereka. Setelah itu Zainal Abidin berkata, “Saksikan, aku maafkan kalian. Aku bebaskan kalian dari hukuman. Aku akan lupakan semua perbuatan kalian itu. Sekarang, aku minta kalian berdoa kepada Allah seperti ini, Tuhanku, tuan kami telah mencatat kesalahan kami, tetapi ia telah memaafkan kami. Maafkanlah dia, ya Allah, sebagaimana ia telah memaafkan kami’.” Dengan contoh yang sangat dramatis itu, Zainal Abidin mengajarkan kepada kita untuk belajar memaafkan orang, agar Allah Swt. berkenan mengampuni dosa-dosa kita. “Dan jika kamu memaafkan, membebaskan, dan mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (At-Taghabun : 14-15). JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
MENGHAPUS BENCANA DOSAOctober 18, 2026Ketika di Afghanistan, Usamah bin Ladin diburu tentara Amerika, di Amerika ada seorang Afghan yang dipuja jutaan rakyat Amerika dan dijuluki The Most Popular Poet in America Today. Namanya Jalaluddin Rumi. Ia lahir di Balkh, sebuah kota kuno di sebelah barat Mazare Syarif, Afghanistan Utara. Hari tuanya dihabiskan di Konya, sebuah kota jauh di sebelah selatan Ankara. Di situ, tujuh ratus tahun yang lalu, ia mengajar dengan keluasan ilmu dan ketinggian akhlaknya. Kini, ia masih mengajar kita dengan puisi-puisi sufi dan riwayat hidupnya. Alkisah, seorang saudagar Tabriz berkunjung ke Konya. Kepada agennya di kota itu, ia menyatakan keinginannya untuk dipertemukan dengan ulama besar dan saleh. Ia dibawa kepada seorang kyai yang sedang naik daun. Dengan membawa hadiah barang- barang berharga, ia dibawa memasuki sebuah rumah yang megah. Ia melewati banyak penjaga, anak buah, pegawai, dan pembantu. Ia bertanya apakah temannya tidak salah membawa dia. Bukankah ini sebuah istana dan bukan pesantren? Teman-temannya dengan sia-sia meyakinkan dia bahwa keberhasilan pesantren sekarang diukur sama dengan keberhasilan perusahaan. “Sekiranya Anda tidak dikenal sebagai pedagang besar, Anda mungkin hanya akan diterima dia setelah mendaftar tiga bulan sebelumnya,” ujar sang agen. Walaupun ragu, ia menyampaikan hadiahnya. Setelah berbasa-basi ia mengajukan pertanyaan, “Bapak Kyai, belakangan ini bisnis saya rugi terus; padahal setiap tahun saya membayar zakat. Selain zakat, saya juga mengeluarkan sedekah sejauh kemampuan saya. Dapatkah Bapak Kyai memberikan jalan agar saya terlepas dari keadaan yang tidak menguntungkan ini.” Selain senyumnya yang genit, Kyai besar itu tidak dapat memberikan jawaban yang memecahkan persoalan. “Bawalah aku pada seorang kyai yang sederhana dan saleh. Aku ingin ketemu kyai yang kebesarannya diukur dari ilmu dan ketakwaannya; dan bukan dari pegawai dan kekayaannya. Aku ingin memberikan penghormatanku kepadanya. Aku juga ingin belajar dan siapa tahu mendapat solusi untuk masalah yang sedang aku hadapi,” katanya kepada teman-temannya. Mereka berkata, “Orang dengan sifat-sifat yang Anda sebutkan itu adalah guru kami, Maulana Jalaluddin Rumi. la telah meninggalkan segala kesenangan kecuali kecintaannya kepada Tuhan. Ia menghabiskan siang malamnya dalam ibadah. Ia memang samudra untuk ilmu duniawi maupun ilmu ruhani.” Dengan membawa uang lima puluh sequin untuk hadiah, ia mendatangi Jalal di pesantrennya. Jalal sedang duduk sendirian di tengah-tengah tumpukan buku. Sebelum saudagar Tabriz itu sempat membuka mulutnya, Jalal sudah menyapanya, “Uang lima puluh sequin hadiahmu itu aku terima. Tapi jauh lebih berharga bagimu adalah uang yang hilang dalam kerugian usahamu. Allah Swt. bermaksud memberikan pelajaran dan ujian bagimu. Kerugian kamu itu adalah akibat dosamu. Dahulu kamu pernah berkunjung ke sebuah kota di Firengistan (Eropa). Di sudut pasar berbaring seorang fakir, yang sangat dicintai Tuhan. Kamu melewati dia dan meludahinya. Kamu menunjukkan ketidaksukaanmu ke padanya. Hatinya terluka karena perbuatanmu. Allah menghukum kamu dengan berbagai kerugian dalam bisnismu. Sekarang berangkatlah ke sana. Bebaskan dirimu dengan meminta maaf kepadanya. Sampaikan salam kami kepadanya.” Syahdan, berangkatlah saudagar itu ke tempat yang ditunjukkan Jalal. Ia menemukan si fakir itu masih berbaring di sudut pasar. la turun dari kudanya, memeluknya, dan sambil meminta maaf membersihkan debu di pipi orang miskin itu dengan linangan airmatanya. Setelah itu, Allah menganugerahkan kehidupan bahagia kepadanya. Akhirnya, ia pun bergabung menjadi pengikut Jalal. Kisah tersebut, dengan sedikit perubahan redaksional, diambil dari Manaqib Al-‘Arifin, tulisan Al-Aflaki. Moral dari cerita itu sederhana saja. Dosa apa pun akan berakibat buruk pada kehidupan kita. Sering kali dosa yang membawa bencana adalah perbuatan yang kita anggap kecil, padahal di mata Tuhan sangat besar. Dalam ensiklopedi hadits yang terdiri dari 111 jilid, Bihar Al-Anwar, Nabi Muhammad Saw. diriwayatkan bersabda, “Takutilah dosa, karena dosa itu akan menghancurkan kebaikan. Ada dosa yang menyebabkan pelakunya melupakan ilmu yang sudah diketahuinya. Ada dosa yang menyebabkan pelakunya tidak bisa melakukan salat malam. Ada dosa yang menyebabkan rezeki tertahan, walaupun sudah dipersiapkan kepadanya.” Lalu, Nabi Saw. membaca ayat-ayat Al-Quran mulai dari “Sesungguhnya, Kami telah menguji mereka seperti Kami menguji para pemilik kebun….” (QS. Al-Qalam : 17-32). Dalam rangkaian ayat itu, Tuhan berkisah tentang para pemilik kebun. Dua belas mil dari kota Shan’a di Yaman, ada sebuah kampung. Di kampung itu, ada seorang pemilik kebun yang sangat baik. Setiap kali panen ia membagikan sebagian hasil panennya untuk fakir miskin, orang-orang yang sedang dalam perjalanan, dan orang-orang yang meminta bantuan. Setelah ia meninggal dunia, tiga orang anak mewarisi perkebunannya. Dua orang anaknya ingin menghentikan kebiasaan ayahnya, dan satu orang ingin melanjutkannya. Akan tetapi, karena ia sendirian, akhirnya ia tunduk pada keputusan saudara- saudaranya. Ketika hendak memanen hasil kebunnya, mereka berangkat pagi-pagi sekali. Di jalan mereka bercakap dengan berbisik-bisik, karena khawatir orang miskin mengetahuinya. Ketika sampai di kebun, Tuhan sudah menghancurkan kebun itu dan menjadikannya hitam gersang. Tuhan menghukum mereka karena rencana mereka untuk tidak berbagi hasil panen dengan orang-orang miskin. Akhirnya mereka sadar, bertasbih, dan bertobat. Tuhan pun menggantinya dengan kebun yang lebih subur dan hasil yang lebih berlimpah. (Lihat antara lain Tafsir al-Kasysyåf untuk Al-Qalam 17). Masih dalam Bihar Al-Anwar, diriwayatkan hadits berikut ini, “Apabila perzinahan sudah dilakukan terang-terangan, akan terjadi banyak kematian yang tiba-tiba. Jika timbangan (transaksi) dilakukan dengan tidak jujur, Allah akan menyiksa mereka dengan tahun- tahun kekeringan dan kekurangan. Jika mereka menahan zakatnya, bumi akan menahan keberkahannya dari tanaman, buah-buahan, dan semua barang tambang. Apabila mereka tidak lagi menegakkan hukum dengan adil, akan terjadi kerjasama dalam melakukan kezaliman dan permusuhan. Jika mereka mengkhianati amanat (perjanjian), Allah akan menaklukkan mereka di bawah musuh mereka. Jika mereka memutuskan persaudaraan (seperti selalu gontok-gontokan), kekayaan akan dipegang oleh orang-orang jahat. Jika mereka menghentikan amar maʼruf nahi munkar dan tidak mengikuti orang-orang yang baik dari keluargaku, Allah akan memberikan kekuasaan pada orang-orang yang jahat; lalu pada waktu itu orang-orang baik di antara mereka berdoa dan doanya tidak dipenuhi.” Apa yang disampaikan Nabi bukanlah ramalan, akan tetapi sunnatullah, atau hukum alam. “Dan kamu tidak akan mendapatkan perubahan dalam Sunnatullah,” (QS. Al-Ahzab : 62; QS Al-Fathir : 43). Dari hadits ini dan banyak ayat Al-Quran, yang sebagian saya kutipkan di bawah, dosa-dosa itu menyebabkan penderitaan, bukan saja bagi pelakunya, tetapi juga bagi anak cucunya dan bahkan lingkungan di sekitarnya. “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segala tempat tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang telah mereka lakukan,” (QS. Al-Nahl : 112). “Telah terjadi kerusakan di daratan dan di lautan karena ulah tangan-tangan manusia supaya Allah jadikan mereka merasakan akibat sebagian dari apa yang mereka lakukan supaya mereka kembali (kepada kebenaran),” (QS. Ar-Rum : 41). “Sekiranya Allah menghukum manusia karena apa yang telah mereka lakukan, tidak akan tersisa lagi satu makhluk hidup pun di atas permukaan bumi; tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan. Apabila datang ajal mereka maka sesungguhnya Allah Maha Melihat,” (QS. Al-Fathir : 45). Demikian pula dalam Surah Asy-Syura ayat 30, Allah Swt. berfirman, “Dan tidaklah menimpa kamu satu musibat kecuali karena ulah tangan-tangan kamu; padahal Allah memaafkan banyak sekali.” Ketika Ali bin Abi Thalib membacakan ayat yang baru disebut ia berkata, “Tidaklah urat terkilir, batu tersandung, kaki tergelincir kecuali karena dosa. Akan tetapi, yang dimaafkan Allah lebih banyak lagi. Barangsiapa yang Allah segerakan hukuman dosanya di dunia, Allah terlalu agung dan terlalu mulia untuk mengulangi hukuman baginya pada hari akhirat,” (Ushul Al-Kafi 2: 445). Walhasil, setiap dosa mengundang bencana. Tetapi, karena kasih-Nya, sebagian besar dosa itu dimaafkan Allah. Maaf berasal dari kata “afaa“, yang semula berarti menghapuskan jejak. Di padang pasir, jika seseorang dikejar musuh, sambil berlari ia menghapus jejak yang ditinggalkannya. Dengan begitu, musuh tidak dapat menangkapnya. Ketika pada malam-malam Ramadhan, kita berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Maaf dan Maha Pemurah. Engkau suka memaafkan. Maafkanlah kami.” Saat itu, sebetulnya kita memohon agar Allah Swt. menghapuskan akibat-akibat dosa yang kita lakukan. Selain kata maaf, dalam Al-Quran ada dua kata lagi “shafh” dan “maghfirah.” Shafh berarti membebaskan hukuman yang seharusnya diterima oleh para pendosa. Maghfirah berasal dari kata ghafara, yang semula berarti menutupi, atau menyembunyikan. Orang Arab berkata, “Ghafara al-syaib bi al-khidhab.” Ia menyembunyikan ubannya dengan celupan. Dengan menggunakan tiga makna kata itu, kita harus memahami ampunan Tuhan sebagai penghapusan akibat buruk, pembebasan dari hukuman, dan penutupan aib. Bagaimana caranya agar kita memperoleh ampunan Allah? Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan Allah. “Punggung-punggung kalian sudah berat menanggung dosa-dosa kalian. Ringankanlah beban kalian dengan memperbanyak sujud,” sabda Nabi dalam khutbah menyambut Ramadhan. Dalam sujud itu, perbanyaklah istighfar. Dengan istighfar, kita memohon agar Tuhan melepaskan kita dan makhluk Allah yang lain dari akibat buruk dosa-dosa kita; agar Dia tidak menghukum kita; dan agar Dia mengharumkan kembali diri kita yang sudah busuk karena kelakuan buruk kita. “Pakailah wewangian istighfar, supaya Allah tidak mempermalukan kalian dengan bau busuk dari dosa-dosa kalian,” kata Ali bin Abi Thalib. Pada suatu hari, Ali melewati seorang yang mengatakan, “Astaghfirullah“. Ali menegurnya, “Celaka kamu. Tahukah kamu apa arti istighfar? Istighfar ada pada tingkat yang sangat tinggi. Istighfar mengandung enam makna. Pertama, penyesalan akan apa yang sudah kamu lakukan. Kedua, bertekad untuk tidak mengulangi dosa. Ketiga, mengembalikan kembali hak makhluk yang sudah kamu rampas, sampai kamu kembali kepada Allah dengan tidak membawa hak orang lain itu. Keempat, gantilah  segala kewajiban yang telah kamu lalaikan. Kelima, arahkan perhatianmu kepada daging yang tumbuh karena harta yang haram. Rasakan kepedihan penyesalan sampai tulang kamu lengket pada kulitmu. Setelah itu, tumbuhkanlah daging yang baru. Keenam, usahakan agar tubuhmu merasakan sakitnya ketaatan, setelah kamu merasakan manisnya kemaksiatan. Setelah memenuhi semua syarat itu, ucapkanlah Astaghfirullah.” Siapakah sekarang ini yang harus mendengarkan nasihat Ali bin Abi Thalib? Sekarang ini negeri kita dilanda bencana besar. Pengangguran melonjak dengan luar biasa. Seratus juta rakyat terpuruk di bawah garis kemiskinan. Rupiah masih tersungkur. Ketakutan pun masih menghantui kita semua. Seperti yang terjadi pada saudagar dari Tabriz tadi, semua yang dilakukan (dan tidak dilakukan) pemerintah hanya menumpuk kerugian dan kerugian. Setiap orang Indonesia konon punya utang tujuh juta rupiah. Boleh jadi semua kita berdosa, tetapi jelas dosa yang paling berat ditanggung oleh para penguasa dan pengusaha. Jika kita ingin melepaskan bangsa ini dari bencana yang lebih buruk, seperti Maulana Jalaluddin, kita harus memaksa para pemimpin mendatangi rakyat yang sudah tersungkur di sudut- sudut pasar yang berbau amis. Mereka harus mengembalikan hak-hak mereka, membersihkan debu kesengsaraan dari tubuh mereka dengan linangan air mata penyesalan mereka. Inilah saatnya! “Berikanlah hartamu kepada orang-orang miskin, sebelum datang kepadamu satu saat ketika kamu mengedarkan sedekahmu, tetapi orang-orang miskin itu akan berkata, ‘Hari ini tidak kami perlukan sedekahmu. Yang kami minta adalah darahmu,” demikian sabda Nabi Muhammad Saw. Seorang raja terbangun dari tidurnya, kata Sa’di, penyair Persia. Ia mendapatkan dirinya duduk di atas tumpukan debu istananya. Api besar telah menghabiskan semua kekayaannya. la bertanya dari mana api yang menghancurkan semuanya itu. Seorang Darwisy berkata, “Dari asap kepedihan rakyat yang menderita di bawah kekuasaanmu!” JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
RUMI: PENYAIR SUFI AHLI METAFORAOctober 17, 2026“Rumi has influenced thousands of people across the centuries with his poetry and his vision of our relationship with God as a path of love. Today he is considered the most popular poet in the United States and his verses are published in books, filmed on video, and set to music on CDs so that he remains the flame that keeps alive the force of the divine in every living heart that is touched by his words.” Inilah akhir dari pengantar untuk buku The Illustrated Rumi. Rumi menjadi penyair Islam yang abadi, bukan hanya karena ia seorang sufi, yang mengekspresikan pengalamannya sendiri. Rumi juga penyair besar karena kemampuannya yang luar biasa untuk mengungkapkan pengalaman mistikal dalam bahasa yang indah, jenaka, dan puitis. Karena puisi-puisinya menggunakan kata-kata Persia yang sukar dicari padanannya dalam bahasa lain, para penerjemah menyalin puisi Rumi menjadi gaya bebas, prosa, prosa liris, puisi, atau lagu, atau gabungan dari semuanya. Dalam tulisan ini, saya ingin menyebutkan satu lagi kekuatan puisi Rumi dan tulisan-tulisan lainnya. Rumi sangat mahir menggunakan metafora. Orang Persia menyebutnya zarbul matsal. Ia membimbing para pembacanya untuk memahami konsep-konsep yang sulit atau sekedar meyakini argumentasi yang dikemukakannya dengan berpikir analogis; alih-alih berpikir logis. Ketika seorang ahli fikih mengkritik dia karena berzikir sambil menari, Rumi membuat analogi. Bukankah dalam fikih ada kaidah “hal yang membahayakan dapat membenarkan hal yang dilarang.” Kita boleh makan yang haram, jika tubuh kita terancam kematian. Sekiranya menari itu haram, itu terpaksa dilakukan ketimbang ruh kita mengalami kematian. Ia analogikan kematian ruh dengan kematian tubuh. Dalam Matsnawi, Rumi mengajak kita berpikir analogis dengan mengambil ilham dari cerita-cerita di dalamnya. Matsnawi adalah kumpulan metafora yang indah. Pada hampir setiap kalimat Rumi menyadarkan kita akan kealpaan dan kekeliruan kita dengan cara yang sangat elegan. Ia mengusik kita dengan sejumlah metafora. Ia membuat kita termenung lama dengan perumpamaaan dan perbandingan yang dibuatnya. Kita disentuh dengan halus, tidak melalui akal rasional kita. Ia menyentuh akal spiritual kita. Berikut ini saya akan memberikan sebagian contoh saja. Dan kita mulai dengan pelajaran sederhana; Likes beget likes. Yang sejenis melahirkan yang sejenis lagi. Kita hanya bisa berdekatan dengan orang-orang yang mempunyai sifat yang sama dengan kita. Jangan sedih kalau ada sejumlah kawan meninggalkan Anda. Mereka pasti tidak mempunyai sifat yang sama dengan Anda. Begitu pula, jika Anda ingin dekat dengan Allah, seraplah sifat-sifat Dia. Jika Anda ingin jauh dari Dia, jauhilah sifat-sifat-Nya. Simaklah cerita yang pertama: Ketika Si Gila Tersenyum Padamu. Galen, sang dokter agung itu menyuruh salah seorang asistennya untuk memberinya suatu obat. “Tuan Guru, obat itu untuk orang gila. Tuan sangat tidak memerlukannya!” Galen berkata, “Kemarin seorang gila menoleh kepadaku dan tersenyum. Ia mengangkat alisnya ke atas ke bawah. Ia memegang lengan bajuku. Ia tak mungkin berlaku begitu jika tidak melihat pada diriku sesuatu yang cocok dengannya.” Siapa saja yang merasa tertarik kepada orang lain, betapa pun singkatnya, pastilah memiliki satu kesadaran yang sama. Hanya di kuburan makhluk yang tidak sama bersahabat. Seorang bijak pernah berkata, “Kulihat bangau dan elang terbang bersama. Aku tak paham. Lalu aku selidiki. Ternyata mereka memiliki hal yang sama. Keduanya pincang.” Ada sebabnya mengapa kumbang meninggalkan bunga mawar. Ia tidak tahan dengan semua keindahan di dalamnya. Ia ingin hidup di atas kotoran yang busuk, bukan bersama burung bulbul dan bunga-bunga. Perhatikan siapa yang menghindarimu. Itu juga akan mengungkapkan sifat batiniahmu. Tanda keabadian pada Adam bukan hanya karena para malaikat sujud kepadanya, tetapi juga karena setan tidak mau. (Matsnawi II:2095-2105, 2112-2123) Pada kisah berikutnya, Rumi ingin menjelaskan makna firman Tuhan “Tidaklah kehidupan dunia ini kecuali tipuan saja.” Dunia menipu kita dengan penampilan, dengan apa yang tampak, dengan fenomena. Maka simak lagi kisah Malam Pengantin Faraj yang berikut ini. Seorang raja mempunyai budak dari India bernama Faraj. Ia mendidiknya dengan baik. Seorang anak muda yang sangat ceria, rajin menuntut ilmu dan keahlian. Lilin akalnya telah dinyalakan. Ia berkembang pesat dalam anugerah sang raja. Raja punya seorang putri yang jelita. Tangan dan kakinya mulus dan putih bersinar seperti perak. Penampilannya cemerlang. Ia sudah hampir mencapai usia pernikahan. Banyak pelamar menawarkan mas kawin yang menakjubkan. Setiap hari peminang baru tiba. Sang raja yang bijaksana membatin, “Kekayaan tidak berarti apa-apa. Ia bertiup masuk bersama angin pagi dan keluar lagi di sore hari. Begitu pula keindahan jasmani, wajah yang cantik dapat dengan mudah terluka karena duri. Keturunan yang mulia juga tidak berharga. Anak-anak bangsawan itu hanya tertarik pada uang dan kuda.” Dan bakat istimewa juga tidak benar-benar berharga. Ada sejenis pengetahuan yang adalah cinta, bukan pengetahuan ilmiah. Mengumpulkan informasi yang kecil itu tidak akan membukakanmu. Ia akan menggelembungkanmu seperti janggut atau serban. Ia berteriak kepadamu, “Ada plus dan minus yang harus kita pertimbangkan.” Pengetahuan cinta yang ini adalah cahaya yang terbersit, kebahagiaan dalam dua dunia. Raja memilih untuk puterinya seorang suami yang memiliki Sifat itu. Semua orang mengkritiknya, “Ia tidak kaya. Ia tidak cantik, dan tidak berasal dari garis keturunan yang terkenal.” Sang raja menjawab singkat, “Semua sifat tadi tidak penting.” Perkawinan pun direncanakan dan persiapan pun dimulai. Tetapi budak hindu Faraj menjadi sakit dan berdiam diri. Ia murung dan lemah. Dokter tidak dapat menentukan sebabnya. Pada suatu malam raja berkata kepada istrinya, “Kamu hampir seperti ibu bagi Faraj. Pergilah kepadanya dan selidikilah halnya.” Pagi berikutnya ia pergi dan menyisir rambut Faraj. Ia mencium pipinya dan menghiburnya. Akhirnya Faraj menceritakan rahasianya, “Saya mencintai putrimu. Tak terbayangkan kamu akan memberikannya kepada yang lain!” Ratu hampir tidak sanggup menahan keterkejutannya dan kemarahannya. “Bersabarlah,” hanya itu yang dia katakan dan ia kembali kepada raja, “Dapatkah kaubayangkan budak ini berfikir untuk mengawini putri kita!” “Jangan kecam dia,” kata raja. “Malah ia harus diberi tahu bahwa kita akan memutuskan pertunangan dan mengawinkan anak kita kepadanya. Berita ini akan membuatnya sehat! Binatang menjadi kuat dan sehat dengan memberinya makanan. Anak muda dibuat bahagia dan lincah dengan harapan bahwa keinginannya untuk mendapat kehormatan dan perempuan akan segera terpuaskan.” Begitulah anak muda itu diberi tahu. Dan pesta pun diselenggarakan untuk merayakan pernikahan Faraj. Faraj bangkit kembali, sehat wal afiat dan penuh energi. Pada malam perkawinan, raja mengirim seorang pengganti –anak lelaki remaja yang bersembunyi dalam pakaian perempuan dengan kuku yang dicat, dan lengan yang dihias. Pada jam yang tertentu, suami yang bergairah ditinggalkan sendiri dengan sosok yang tertutup kelambu. Si bapak dengan cepat meniup lilin dan pergi. Terdengar teriakan karena terkejut. Tetapi karena hingar bingar musik tidak seorang pun di luar kamar yang mendengar. Genderang dan tambur bertalu-talu. Tangan-tangan terus bertepuk. Teriakan orang di luar kamar bergabung dengan teriakan kedua remaja di dalam. Terbitlah fajar. Faraj dan orang yang berselubung itu berpadu dalam pelukan. Apa yang diketahui anjing dari sekarung tepung? Begitulah kemudian pakaian bersih dibawakan. Dalam keadaan yang sangat bingung, Faraj bangun dan pergi mandi. Dengan hati yang resah dan tercabik-cabik seperti tumpukan kain cucian, Faraj kembali melihat gadis yang sebenarnya, duduk di kursi pengantin beserta ibunya. Ia menatap mereka cukup lama, lalu mengangkat kedua tangannya dan melambaikannya. “Semoga tidak ada orang yang terkutuk karena mempunyai istri seperti itu! Di siang hari kamu tampak cantik jelita. Di malam hari kepunyaanmu rusak dan lebih buruk dari keledai!” Seperti itulah semua kesenangan dunia. Mereka tampak indah sebelum kamu mencobanya. Dunia tampak seperti mempelai jelita. Lebih bersabarlah kamu ketimbang Faraj! Kehormatan yang kamu cita-citakan, kekuasaan di atas orang lain, lepaskan semuanya itu. Lebih baik tidak menunggangi punggung orang lain. Karena dengan cara itulah kita sampai ke kuburan. Perhatikan saja urusanmu. Jika cambukmu jatuh, turunlah dan ambil sendiri. Jangan suruh orang lain melakukan pekerjaanmu. Tanyalah jauh ke dalam dirimu. Ketika Kehadiran itu membimbingmu, apa pun yang kau lakukan akan menjadi benar walaupun di luar tampak keliru. Jangan memaki tiram karena kerangnya yang buruk dan melengkung. Di dalamnya hanya ada mutiara. Tidak jelas bagaimana harus menggambarkan diri kita dengan fenomena di sekitar kita. Seperti laron dengan lilin, kita membakar sayap kita lalu melupakan lagi dan kembali berbuat yang sama. Seperti kanak-kanak, kita muntahkan garam, dan setelah itu memuntahkannya lagi. Seperti Faraj, kita mengangkat kedua tangan kita dan berkata, “Tidak! Wajahmu sangat cantik tapi di ranjang kamu betul-betul berbeda. Aku tidak akan tertipu lagi!” Tetapi, ia akan tertipu lagi. Kita sudah membulatkan tekad, tapi kita lupakan lagi. Kertas berterbangan dan kemudian menghilang. (Matsnawi VI:249-356) Jika Anda ingin mengenal diri Anda, sebelum dapat mengenal Tuhan, ikutilah nasihat Rumi dalam dua kisah terakhir di bawah ini: Kambing Berlutut dan Bebek Lautan. Kambing Berlutut Batin manusia seperti rimba. Kadang-kadang serigala berkuasa, terkadang babi-babi liar. Berhati-hatilah ketika kamu bernafas. Sekali waktu sifat yang lembut dan pemurah bagaikan Yusuf, berganti menjadi sifat yang lain. Pada waktu yang lain, sifat-sifat yang jahat bergerak secara tersembunyi. Kearifan bergeser sejenak menjadi sapi! Kuda yang meradang dan membangkang tiba-tiba menjadi tunduk dan patuh. Beruang mulai menari, kambing berlutut! Kesadaran manusia berubah menjadi anjing, dan anjing menjadi gembala, atau pemburu. Di Gua Ashabul Kahfi, bahkan anjing pun menjadi pencari makrifat. Setiap saat, makhluk baru bangkit di dalam dada –kadang setan, kadang malaikat, kadang binatang buas. Bahkan di rimba yang menakjubkan ini ada mereka yang dapat menyerapmu ke dalam kepasrahan mereka sendiri. Jika kamu harus mencuri sesuatu, curilah dari mereka. (Matsnawi II:1416-1429) Bebek Lautan Kamu adalah bebek lautan lepas yang dibesarkan bersama ayam kampung! Ibumu yang sebenarnya hidup di samudera, tapi pengasuhmu unggas daratan. Jiwamu yang paling dalam mengarah ke lautan. Setiap gerakan darat yang kau buat, kau pelajari dari pengasuhmu, ayam kampung. Sudah datang saatnya kamu bergabung dengan bebek! Pengasuhmu akan menakut-nakuti kamu dengan air garam, tapi jangan dengarkan dia! Samudera adalah rumahmu, bukan kandang ayam yang bau. Kamu adalah raja, putera Adam, yang dapat menempuh lautan dan daratan. Malaikat tidak berjalan di atas bumi, dan binatang tidak berenang di samudera ruhani. Kamu adalah pria atau wanita. Kamu adalah keduanya. Kau berjalan tertatih-tatih, dan kamu terbang melingkar berputar mengarungi angkasa. Kita adalah burung-burung air, duhai anakku. Samudera mengenal bahasa kita dan mendengar kita dan menjawab kita. Laut adalah Sulaiman kita. Melangkahlah ke dalamnya dan biarkan air Daud membuat kita menjadi tetes indah bersama riaknya. Lautan selalu di sekitar kita, tapi karena kesombongan dan kealpaan kita, kadang-kadang kita mabuk laut. (Matsnawi 3:3766-3810) JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...

Buku Karya KH. Jalaluddin Rakhmat

« ‹ of 2 › »

Videografi

This error message is only visible to WordPress admins

Unable to retrieve new videos without an API key.

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

Audiografi

UJR-MFR

“Jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun”

​KH. Jalaluddin Rakhmat
@katakangjalal

Contact Jalan Rahmat

Jl. Kampus II No. 13-15. Kiaracondong. Bandung