Warisan intelektual

untuk perkhidmatan

dan pencerahan pemikiran

Quotes
0
Articles
0
Videos
0
Audios
0

Jalan Rahmat

Misi Kami

Di Jalan Rahmat, kami berusaha menghadirkan kembara intelektual itu. Perjalanan dan pengelanaan beliau mengarungi ‘jagat’ semesta itu. Ada dokumentasi karya beliau. Puluhan buku, ratusan artikel, ribuan ceramah. Ada rekaman audio dan video. Ada pula karya-karya para guru bangsa, baik sahabat karib Allah yarham, para intelektual sezaman, maupun karya-karya para ulama besar yang mempengaruhi jagat kembara intelektual beliau. Jalan Rahmat adalah sebuah digital library yang ingin menghadirkan kembali semangat intelektual itu.

Jalaludin Rakhmat - Tauziah
Digilib

Donasi dan Beasiswa

Donasi dan Beasiswa untuk sekolah, madrasah, klinik, dan ragam kegiatan lainnya.

tauziyah

Digital Library

Kumpulan Ceramah, Artikel, Buku, Video dari para Guru Bangsa.

healthcare

Jalan Kecintaan

Warisan terutama dan teramat berharga dari Allah yarham adalah mengantarkan kami dan kita semua pada jalan menuju kerinduan dan kecintaan Sang Rahmatan lil ‘alamin. Itulah makna Jalan Rahmat yang sesungguhnya.

Latest Post

Jurus T’ai KungApril 14, 2026Kira-kira enam belas abad sebelum Rasulullah saw. lahir, Cina diperintah oleh dinasti Shang, sebuah rezim militer. Kekuasaan bergantung pada kemampuan militer kaum bangsawan. Penduduk terdiri dari empat bagian: keluarga penguasa, kaum bangsawan, rakyat biasa, dan budak. Di pusat pemerintahan, kaisar berkuasa penuh, dengan dukungan para penguasa daerah. Kaum bangsawan umumnya ditunjuk sebagai pejabat dan diberikan berbagai fasilitas. Mereka tinggal di kota-kota besar, dalam rumah-rumah megah, berdinding batu-bata. Rakyat biasa bekerja sebagai petani, pedagang kecil, atau berbagai kerajinan tangan. Sesekali mereka menjadi penyedia tenaga militer, ketika diperlukan. Mereka tinggal dalam gubuk-gubuk kecil dari tanah. Budak adalah lapisan terbawah, memikul penderitaan seluruh penduduk. Menurut dokumen kuno Shih Chi, Kaisar Shang terakhir memerintah dengan kejam. Keluarga penguasa tinggal hidup mewah dari pajak dan upeti yang makin tinggi. Para pemimpin yang jujur dipenjarakan. Walaupun kerajaan yang luas dan berbagai peperangan telah meningkatkan taraf hidup orang banyak, mereka umumnya dicengkeram ketakutan. Perasaan tidak puas menyebar luas. Masih menurut catatan Shih Chi, raja memiliki penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam: “Tangannya dapat membunuh binatang buas; pengetahuannya sangat cukup untuk menolak kritik; kemampuan bicaranya lebih dari memadai untuk menghias kesalahannya. Ia menyombongkan diri pada para menterinya tentang kemampuannya. Ia menyombongkan reputasinya pada semua orang dan yakin bahwa semua orang berada di bawah dia.” Dalam situasi politik seperti itu, muncul kekuatan-kekuatan baru yang ingin menyelamatkan bangsa dan negara. Di antara mereka adalah Raja Wen yang tinggal di Lembah Sungai Wei. Sudah lama ia merenungkan apa yang terjadi di negerinya. Tetapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ketika ia bermaksud berburu, ia diberitahu oleh tokoh paranormal bahwa ia akan menemukan “buruan” yang sangat berharga. Di tepian utara Sungai Wei, ia memang menemukan seorang tua duduk di atas tikar rumput, sedang memancing. Sejarah kelak mengenal orang tua itu sebagai jenderal pertama Cina, yang mewariskan kepada dunia strategi perang dan teknik memerintah. Ia bernama T’ai Kung. Jurus yang diajarkannya, T’ai Kung Liu-t’ao, “Enam Ajaran Rahasia,” kini dipelajari kembali ketika dunia mengamati kebangunan Cina sebagai ꟷdengan mengutip Huntingtonꟷ salah satu pesaing peradaban Barat. Marilah kita simak percakapan T’ai Kung dengan Raja Wen, ketika memperbincangkan t’ao yang pertama: Jurus Memerintah! Raja Wen berkata kepada T’ai Kung, “Saya ingin belajar cara memerintah. Jika saya ingin agar penguasa dihormati dan rakyat hidup tenteram, apa yang harus saya lakukan?” T’ai Kung: “Cintailah rakyat.” Raja Wen: “Bagaimana caranya mencintai rakyat?” T’ai Kung: “Untungkan mereka, jangan rugikan mereka. Bantu mereka untuk berhasil, jangan kalahkan mereka. Beri mereka kehidupan, jangan bunuh mereka. Memberi, jangan merampas. Senangkan mereka, jangan membuat mereka menderita. Buat mereka bahagia. Janganlah membangkitkan kemarahan mereka.” Raja Wen: “Bolehkah saya minta Anda menjelaskannya lebih terperinci?” Tai Kung: “Jika rakyat tidak kehilangan pekerjaan mereka, Anda sudah menguntungkan mereka. Jika petani tidak kehilangan ladang pertanian mereka, Anda sudah mem- bantu mereka. Jika Anda mengurangi hukuman dan denda, Anda memberikan kehidupan. Jika Anda menetapkan pajak yang ringan, Anda memberi anugerah kepada mereka. Jika Anda mengurangi jumlah istana, vila dan gedung mewah, Anda menyenangkan mereka. Jika para pejabat bekerja jujur, tidak mengganggu dan menyusahkan rakyat, Anda membuat mereka bahagia.” “Tetapi jika rakyat kehilangan pekerjaan mereka, Anda merugikan mereka. Jika petani kehilangan tanah pertani annya, Anda mengalahkan mereka. Jika Anda menghukum orang yang tidak bersalah, Anda membunuh mereka. Jika Anda menetapkan pajak yang berat, Anda merampas mereka. Jika Anda membangun banyak istana, vila dan gedung mewah, sehingga menghabiskan kekuatan rakyat, Anda membuat kehidupan yang pahit bagi mereka. Jika para pejabat korup, mengganggu dan menyusahkan rakyat, Anda membuat mereka marah.” “Jadi orang yang berhasil memerintah dengan baik, mengatur rakyatnya seperti orang tua mengatur anak-anak yang dicintainya, atau seperti seorang kakak bertindak pada adik yang dicintainya. Ketika ia melihat mereka lapar dan kedinginan, ia ikut merasakan kesusahan mereka. Ketika ia melihat kepayahan dan derita mereka, ia berduka cita untuk mereka.” Berkat jurus T’ai Kung, dinasti Chou berhasil menggulingkan dinasti Shang. Pemerintahan dijalankan berdasarkan “Enam Ajaran Rahasia”. Paling menarik dari semuanya ialah kenyataan bahwa revolusi Chou terjadi di tengah kemajuan ekonomi. Ini membenarkan J-curve theory of revolution dari Davies (1963): “Rakyat memberontak bukan karena kemiskinan, tetapi karena makin melebarnya kesenjangan antara apa yang mereka peroleh dengan apa yang mereka harapkan.” Sekiranya penguasa Shangꟷdan bukan Raja Wenꟷyang menemukan T’ai Kung, dan menjalankan jurusnya, revolusi itu tidak akan pernah terjadi. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Ma’bad al-JuhaniApril 8, 2026Pada masa pemerintahan ‘Abdul Mâlik bin Marwân, al-Hajjaj sudah terkenal sebagai panglima yang sangat kejam. Ia memasukkan ribuan orang ke penjara tanpa pengadilan. Tangannya bergelimang darah orang-orang yang tak bersalah. Tapi, dengan tangan itu pula, ia menegakkan tonggak-tonggak kekuasaan ‘Abdul Mâlik. Ia berhasil memadamkan berbagai kerusuhan yang mengancam stabilitas negara. Di antara kerusuhan yang paling besar ialah pemberontakan penduduk Hijaz di bawah pimpinan ‘Abdullah bin Zubayr. ‘Abdullah berlindung di Masjidil Haram, di dekat Ka’bah. Al-Hajjaj mengepungnya berhari-hari. Pada suatu hari, al-Hajjaj menyerbunya dan berhasil membunuh ‘Abdullah di dekat Ka’bah, di hadapan ibunya sendiri. ‘Abdulláh adalah putra Asma’ binti Abu Bakar, perempuan yang berjasa dalam peristiwa Hijrah Rasulullah saw. Ia cucu dari Khalifah pertama. Ia juga terkenal salih. Bila ia salat di Masjidil Haram, ia berdiri lama sekali, sehingga burung-burung hinggap di pundaknya. Ketika al-Hajjaj membunuh ‘Abdullah, Makkah bergemuruh dengan suara tangisan. Al-Hajjaj mendengar tangisan itu. Ia tahu rakyat menangisi kematian ‘Abdullah. Ia buru-buru menemui ibu ‘Abdullah. “Anakmu telah berbuat kekafiran di Baytullah,” kata al-Hajjaj menjelaskan, “Tuhan sudah memberinya siksa yang pedih.” Asma’ meradang, “Bohong. Ia orang yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ia banyak puasa dan salat. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Akan muncul dari Tsaqif dua orang pendusta; yang terakhir lebih jelek dari yang pertama karena ia selalu menghancurkan. Dan yang terakhir itu kamu, hai al-Hajjaj.’” Al-Hajjaj tidak menyahut. Ia menyuruh orang-orang berkumpul di masjid. Ia naik mimbar, berkhotbah, “Hai ahli Makkah, aku mendengar kalian membesar-besarkan kematian Ibn Zubayr. Memang benar ia orang yang paling baik di tengah-tengah umat ini. Tapi itu dulu, sebelum ia melakukan makar untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Lalu ia tidak taat kepada Allah dan melakukan yang haram. Adam ditempatkan Tuhan di surga, malaikat disuruh sujud kepadanya. Tetapi ia kemudian bersalah. Tuhan mengeluarkannya dari surga karena kesalahannya. Ketahuilah, Adam lebih mulia dari Ibn Zubayr, dan surga lebih mulia dari Ka’bah. Ingatlah kalian kepada Tuhan.” Al-Hajjaj bukan hanya penghancur yang pandai. Ia juga pintar memberikan legitimasi pada perbuatannya. Ketika masih muda, bersama bapaknya, ia tiggal di Mesir. Pada suatu hari, Salim bin ‘Anz lewat ke hadapan mereka. Ayah al-Hajjaj berdiri menghormatinya, “Saya akan menemui Amirul Mukminin. Apakah ada pesan?” Salim berkata, “Ada. Mohonkan kepada beliau agar aku diberhentikan dari jabatanku sebagai Hakim Agung.” Ayah al-Hajjaj berkata, “Subhanallah, aku tidak mengenal hakim yang lebih baik dari Anda.” Al-Hajjaj menegur ayahnya, “Mengapa ayah berdiri menghormatinya. Orang-orang seperti dia membahayakan negara. Ia mengumpulkan manusia, lalu berbicara tentang keadilan Abu Bakar dan ‘Umar. Akhirnya rakyat merendahkan Amirul Mukminin karena tidak berakhlak seperti akhlak Abu Bakar dan ‘Umar. Nanti mereka melakukan kerusuhan, menentangnya, memusuhinya, dan tidak mentaatinya. Demi Allah, jika aku mempunyai kekuasaan, akan aku tebas leher-leher mereka.” (Ibn Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, 9:138). Al-Hajjaj memenuhi sumpahnya. Begitu ia memegang komando, ia membabat semua orang yang dianggap menyebarkan kebencian kepada raja. Salah seorang ulama yang tidak disukainya ialah Ma’bad al-Juhani. Ia terkenal sebagai ahli ibadah dan zuhud. Ia ikut dalam perang Shiffin dan menyaksikan peristiwa “Tahkim.” Al-Hajjaj membencinya karena ia mengajarkan bahwa manusia dapat memilih takdirnya. Ia memiliki kemauan bebas. Ma’bad dicap sebagai pendiri mazhab Qadariyyah. Paham ini dianggap berbahaya bagi kekuasaan. Pemerintah menetapkan Qadariyyah sebagai aliran terlarang. Sebagai gantinya, disebarkanlah paham Jabariyyah. Syibli Nu’man, ahli ilmu kalam, menegaskan bahwa asal-usul paham Jabariyyah itu secara politis. Bani Umayyah memerintah dengan keras dan kejam. Rakyat menderita dan ingin memberontak. Penguasa segera mengalihkan persoalan kepada takdir. Bila mereka kehilangan hartanya atau nyawanya, yang dijadikan kambing hitam adalah takdir. Seseorang berkuasa atau jatuh juga karena takdir. Salah satu tanda keimanan ialah menerima takdir dengan ridha. Tiba-tiba Ma’bad datang. Ia bertanya kepada Hasan al-Bashrî, “Sejauh mana kebenaran Umawiyyin tentang qadha’ dan qadar?” Hasan al-Bashri menjawab singkat, “Mereka pendusta.” Ma’bad pindah dari Bashrah ke Madinah. Di situ ia menyebarkan pahamnya. Manusia diberi kebebasan untuk memilih (ikhtiyar). Ia dapat menentukan nasibnya. Seseorang berkuasa bukan karena diridhai Allah. Ia berkuasa karena berhasil merebut kekuasaan, dengan cara apa saja. Al-Hajjaj memburunya ke Madinah. Ia ditangkap dan disiksa. Menurut suatu riwayat, ia diserahkan kepada raja ‘Abdul Mâlik. Ia dihukum mati, disalib di Damaskus (Az-Zarkali, Al-Alam, 8:176). Kepada Ma’bad kemudian dinisbahkan berbagai cerita rekaan. Konon, ia belajar paham Qadariyyah dari orang Nashrani. Para ulama mengutuknya di mimbar-mimbar. Sebagian ahli hadis memasukkannya ke dalam kelompok orang yang tidak dipercaya. Adz-Dzahabi menyebutnya dalam Mizan al-I’tidal dengan segenap celaan kepadanya. Ad-Dâruquthni memberikan komentar moderat, “Ma’bad itu hadisnya bagus, hanya mazhabnya yang jelek.” Sejak itu, umat Islam dikuasai dengan dua hal: kekerasan dan dongeng. Kekerasan perlu untuk membinasakan mereka secara fisik; dongeng penting untuk melumpuhkan mereka secara ruhaniah. Seringkali kita ridha menerima kekerasan, sambil mengulang-ulang dongeng yang dibuatkan orang untuk kita. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
TitanicApril 7, 2026To make the long story short, sebuah kapal besar dan megah bertolak meninggalkan Inggris menuju Amerika. “Fundamental” kapal itu diyakini begitu kuat sehingga orang-orang berkata, “Titanic tak mungkin tenggelam. Bahkan, Tuhan pun tak akan bisa menenggelamkannya.” Apalagi, nakhoda yang mengemudikannya sudah sangat senior, baik dari segi pengalaman maupun usia. Rambut dan cambangnya yang sudah memutih memancarkan wibawa. Ada dua macam penumpang: orang kaya dan orang miskin. Tentu saja, orang kaya menghuni bagian atas kapal dengan fasilitas yang serba wah. Orang miskin tinggal di kamar-kamar sempit, di bagian bawah. Namun, karena penampilan Titanic dan nakhodanya, semua penumpang masuk dengan optimisme tinggi. Mereka akan sampai di negeri impian dengan cepat dan menyenangkan. Nakhoda malah didesak untuk menaikkan kecepatan kapal, supaya tiba di Amerika jauh lebih awal dari waktu yang diperkirakan. Sepanjang jalan para penumpang bersenang-senang. Untuk setiap kelas penumpang ada kelompok musiknya. Tak henti-hentinya lagu-lagu ria dan tawa-canda bergema di kapal. Tiba-tiba kapal berhadapan dengan karang es yang menjulang tinggi. Dengan terburu-buru, nakhoda mengalihkan arah. Sayang, kapal besar itu bergesekan dengan bukit es. Di sana sini mulai terjadi kebocoran besar. Orang pintar sudah memastikan kapal tenggelam. Celakanya, jumlah sekoci penyelamat tidak memadai. Nakhoda memutuskan, yang pertama kali diselamatkan adalah penumpang kelas satu. Seorang konglomerat mencoba masuk ke sekoci dengan menyuap kru kapal. Air mula-mula memasuki kapal bagian bawah, menenggelamkan orang-orang miskin. Mereka yang berusaha naik ke atas harus kecewa karena pintu-pintu sudah terkunci. Demi menyelamatkan penumpang kelas satu, orang-orang miskin harus menunggu. Akhirnya, pada 14 April 1912, Titanic mendarat di dasar laut. Bersamanya 1.500 orang menjadi korban, termasuk nakhoda tua yang belum uzur. Ia mati terhormat ketika memegang kemudi, yang dipatahkan oleh deburan air dingin. Orang-orang kaya menumpang sekoci-sekoci yang tak terlalu penuh —konon— dengan membawa dosa yang tak akan pernah termaafkan. Paling tidak, begitulah yang saya saksikan dalam Titanic, film karya James Cameron, produksi Paramount Pictures dan 20th Century. Lagu yang dimainkan para pemusik di kapal Titanic masih terdengar, ketika di layar saya menyaksikan gelombang laut yang menutup Titanic. Saya masih terpesona. Tiba- tiba saya merasa menjadi salah seorang penumpang Titanic. Penumpang kelas bawah. Anak kecil dalam pelukan saya bertanya, “Mengapa di atas terjadi ribut-ribut?” Saya jelaskan kepadanya, “Orang-orang kaya sedang dibantu untuk menyelamatkan dirinya. Kita baru mendapat giliran setelah semua penumpang kelas satu masuk sekoci.” Saya tak menjelaskan kepadanya bahwa saya ragu apakah masih tersisa sekoci buat kami. Lihat, air sudah sampai leher kami. Sebagian besar kawan kami yang bertubuh pendek sudah tak kelihatan lagi. Tidak terdengar teriakan mereka. Saya tak tahu sudah berapa juta bilangan mereka. Titanic saya lebih besar dari Titanic dalam film. “Fundamental” kapal kami juga diyakini lebih kuat dari Titanic-nya Cameron. Cuma, seperti Titanic dalam film, Titanic kami hanya punya sekoci sedikit. Berbeda dengan Titanic film dan Titanic sebenarnya, kapal kami tengah menunggu bantuan sekoci yang akan dikirim kapal lain. Tembakan SOS telah dibidikkan ke langit. Kapal lain sudah memahaminya. Mereka tidak dapat menyelamatkan kapal kami yang pasti tenggelam. Tetapi, paling tidak mereka dapat mengirim sekoci-sekoci tambahan. Kami mendengar berita bahwa sesungguhnya nakhoda kami dan beberapa penumpang kelas atas mempunyai sekoci-sekoci yang lebih besar. Sayangnya, sekoci-sekoci itu masih disimpan di kapal lain, nun jauh di sana. Kami melihat para penumpang kelas satu sedang dibantu nakhoda menaiki sekoci mereka. Anak saya menjerit lagi, karena air mulai merayap ke lehernya. Salah seorang kru kapal menyampaikan kabar gembira. Bantuan sekoci akan segera datang. Nakhoda sudah menyatakan komitmennya untuk memenuhi persyaratan pemberi bantuan. Ada isyarat bahwa bila sekoci-sekoci itu datang, semuanya akan digunakan lebih dahulu untuk menolong —ya Rabbi— penumpang kelas satu lagi. Waktu itu, mungkin perut anak saya sudah dipenuhi air laut. Ada berita juga bahwa kami, penumpang kelas bawah, diminta bersedia melemparkan sebagian saudara, anak-anak, dan apa saja yang kami miliki. Dengan begitu, lebih banyak ruang tersisa di sekoci buat para penumpang kaya. Kami, penumpang kelas bawah, sudah tak bisa berteriak lagi. Kami merasa diperlakukan tidak adil. Tetapi kami tidak bisa mengucapkannya. Penderitaan dan ketakutan telah membuat lidah kami kelu. Kami tidak sanggup melihat penumpang kelas satu di sekoci-sekoci mereka nan lapang. Dada kami terasa sesak dan nyeri. Kami juga sudah tak sanggup memandang wajah nakhoda kami. Rasanya, ia sudah terlalu jauh dari kami. Pintu-pintu untuk menyampaikan suara kami ke ruang atas sudah tertutup, bahkan dikunci dengan gembok baja. Kami hanya tinggal menunggu kematian dengan sabar. Harapan kami hampir pudar, kalau tidak kami dengar teriakan anak-anak di sudut-sudut kapal. Mereka meneriakkan suara kami. Mereka berbicara dengan bahasa kami. Mereka meneteskan air mata kami. Mereka mengibarkan bendera kami. Saya diingatkan kepada sabda Rasulullah saw. yang mengibaratkan umat sebagai para penumpang kapal. Bila ada penumpang kapal yang bertindak sembrono, merusak, atau membocorkan kapal, penumpang yang lain harus memperingat- kannya. Bila tidak, semua penumpang akan tenggelam. Ya Rasulullah, anak-anak kami sekarang sedang memperingatkan semua tentang orang-orang yang merusak kapal. Mereka menjalankan amanahmu dan menyampaikan suara kami. Dukunglah mereka dengan doamu. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb  Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum. *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Penyanyi SoloApril 6, 2026Andalusia ditimpa musim kemarau panjang. Tanaman sudah menguning. Dan hewan-hewan sudah kurus-kering. Raja mengadakan salat Istisqa, memohon kepada Tuhan agar hujan segera diturunkan. Ketika datang waktu berkhutbah, seorang tokoh ulama berdiri di mimbar. Aneh sekali, ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya terkunci dan tubuhnya berguncang. Ia turun, dan raja naik. Seperti ulama, raja pun terpaku di mimbar. Ia tiba-tiba bisu. Akhirnya ia pun turun. Mimbar kosong. Tak seorang pun berani menggantikan raja. Setelah hening beberapa lama, seorang pemuda tampil. Setelah membaca tahmid, shalawat, dan salam, dengan fasih ia menyampaikan nasihatnya. Yang pertama kali dinasihatinya adalah raja. Menurut pemuda itu, semua bencana terjadi karena kezaliman penguasa. Penguasa sudah tidak dapat lagi mendengar jeritan orang banyak. Ia terasing dari lautan rakyat dalam sebuah pulau yang dihuni hanya oleh para penjilat, tukang cari muka. Raja sudah kehilangan pandangan pada keadaan yang sebenarnya. Tuhan murka. Tuhan ingin menunjukkan bahwa kesalahan seorang raja mengakibatkan derita jutaan manusia. Mendengar itu, raja tak sanggup menahan air matanya. Sementara itu, para pendengar yang lain ketakutan. Mereka yakin, pemuda itu sedang berbicara untuk terakhir kalinya. Mereka mengira, jika beruntung, pemuda itu dapat mengisi sisa hidupnya di penjara yang pengap. Biasanya ia akan segera kehilangan seluruh hidupnya. Melihat raja menangis, pemuda itu melanjutkan khutbahnya, “Bila penguasa bumi sudah ada rasa takut, maka akan ridhalah Penguasa Langit.” Belum selesai kalimat yang ia ucapkan, hujan turun dari langit, makin lama makin deras. Penguasa langit tampaknya sudah ridha. Cerita itu saya dengar dari guru saya. Konon, ia mengutipnya dari sebuah buku tarikh. Buat saya, sumber itu tidak penting. Ia telah memberikan pelajaran yang berharga. Sejarah sering dibentuk oleh beberapa orang, atau bahkan hanya satu orang. Orang itu tak mesti berasal dari kelompok sosial tinggi, atau dari kalangan orang-orang terkenal. Tetapi ia mestilah seseorang yang berani bersuara ketika semua orang mulutnya terkunci. Ia seharusnya seseorang yang mengisi mimbar dengan bebas, ketika tak ada lagi orang berani berdiri di mimbar itu. Ia seyogyanya penyanyi solo, betapapun aneh lagu yang dinyanyikannya. Kisah itu mengingatkan kita pada Abu al-A’la al-Mawdûdî. Ketika ia berdiri di mimbar, terdengar tembakan ke arahnya. Hadirin panik. Sebagian merundukkan tubuhnya, bertiarap. Al-Mawdûdî tetap tegak di mimbar. Setelah itu, ketika ia ditanya mengapa tidak meninggalkan mimbar, ia berkata, “Kalau aku pergi, siapa lagi yang berbicara di sini.” Jadi, ketika suara mesiu membungkam semua mulut, sebuah suara tetap terdengar. Menyanyi solo tidaklah gampang. Kalau suaranya sumbang, ia tak dapat menyalahkan siapa pun. Ia bertanggung-jawab sepenuhnya atas apa pun yang terjadi di panggung. Jika tariannya jelek, ia tak dapat mengatakan lantai berjungkat. Ia juga harus mengeluarkan suara lebih keras. Di atas itu semua, ia harus melepaskan ketergantungan pada dukungan kawan-kawan sekelompok (seperti dalam paduan suara). Dalam pandangan Islam, ia harus bergantung hanya kepada Allah saja. Ia harus berangkat dari basmalah. Ia tidak boleh berangkat dari kepentingan egonya, kelompoknya, atau apa pun. Ia bergerak hanya “dengan nama Allah, Mahakasih, Maha sayang.” Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Bismillahirrahmanirrahim lebih dekat dengan nama Allah Yang Mahaagung dari dekatnya hitam mata dengan putihnya.” Menurut seorang Sufi, hadis ini menunjukkan bahwa bila seorang manusia mengucapkan basmalah dengan sebenarnya, ia hanya bersandar kepada Allah saja. Ia tidak mengandalkan kekuatan luar, atau sebab-sebab lahir, atau kekuatan pribadinya. Ia bertawakal mutlak kepada Allah. Dalam keadaan seperti itu, ia menggenggam kekuatan basmalah, kekuatan nama Allah Yang Mahaagung. Dalam hadis lain, Nabi saw. bersabda, “Bismillahirrahmanirrahim dari seorang hamba sama kedudukannya dengan ‘Kun’ dari Mawla-nya ̶ yakni, Allah SWT.” (Kitâb Isyrâqât Qur’âniyyah). Masih menurut Sufi itu, salah seorang di antara sahabat Nabi saw. yang mencapai martabat ini adalah Abû Dzarr. Ketika ia tertinggal sendirian di sahara, Rasulullah melihat kepulan debunya. Beliau bersabda, “Abû Dzarr datang sendirian. Ia akan hidup sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan pada Hari Kiamat sendirian juga.” Sejarah hidupnya memang kemudian membenarkan sabda Nabi. Mengapa Abû Dzarr harus terasing sendiri? Rasul yang mulia menjawabnya, “Di bawah langit yang hijau, di atas permukaan bumi, tak ada lidah yang lebih jujur selain lidah Abû Dzarr.” Ketika seluruh bumi sudah tak jujur, lidahnya masih menyuarakan kebenaran. Abû Dzarr hidup dan mati sendirian. Bahkan, kabilah Ghifari, kabilah asal-usulnya, tidak menyaksikan hari-hari terakhir hidupnya. Tentu tak semua sahabat Nabi memilih hidup seperti Abû Dzarr. Ada juga yang berjuang bersama kawan ̶ tak sendirian, tetapi berduaan. Semuanya mengikuti perintah Nabi saw. Allah SWT menyuruh Nabi-Nya: Katakanlah, “Aku hendak memberikan nasihat kepadamu satu perkara saja, hendaklah kamu berdiri menegakkan kebenaran karena Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian berpikirlah yang matang.” (QS 34:46). Walhasil, bernyanyi solo atau duet diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Sindrom Tsa’labahApril 4, 2026Ketika Nabi saw. membangun masjid di Madinah, beliau menyediakan tempat terbuka di ujungnya. Tempat itu diberikan naungan dan disebut Shuffah. Di situlah tinggal para sahabat Nabi yang miskin atau pendatang dari jauh yang tak punya sanak saudara. Mereka hidup sangat sederhana dan sering kali menderita lapar. Malam-malam terkadang Nabi mengundang sebagian mereka untuk makan malam bersamanya, dan sebagian yang lain bersama sahabat Nabi yang lain. Ketika Husayn lahir, Rasulullah saw. menyuruh Fathimah bersedekah senilai perak yang beratnya seberat rambutnya. Sedekah itu dimintanya untuk diserahkan kepada Ahli Shuffah dan orang miskin. Sekali-kali Nabi meminta sahabatnya yang lain mengirimkan makanan kepada penghuni Shuffah. Dengan segala kemiskinannya, Ahli Shuffah terbukti menjadi sahabat- sahabat Nabi pilihan. Merekalah yang paling rajin menghadiri majelis-majelis Nabi. Siang hari mereka berpuasa. Malam hari mereka ruku’ dan sujud. Waktu-waktu luangnya mereka pergunakan untuk berzikir. Ketika perang berkecamuk, merekalah yang paling dahulu dibawa Nabi ke medan pertempuran. Dari “pesantren” Shuffah inilah keluar Hanzhalah bin Abi ‘Amir, yang jasadnya dimandikan para malaikat; Salmân al-Fårisi, pengembara pencari kebenaran yang dianugerahi ilmu awwalin dan akhirin; ‘Abdullah bin Mas’ud, yang mendapat gelar pembaca Alquran pertama kepada orang kafir setelah Rasulullah; Hudzaifah al-Yamânî, yang digelari Pemelihara Rahasia Rasulullah; Al-Barra’ bin Malik, yang rambutnya tertutup debu karena lamanya beribadat di masjid; Hâritsah bin Nu’mân, yang suara bacaan Alqurannya di surga kedengaran oleh Nabi dalam mimpinya; dan lain-lain. Kepada merekalah pada suatu hari Nabi saw. datang. Dengan ramah Nabi menyapa mereka, “Apa kabar kalian pagi ini?” Serentak mereka menjawab, “Baik, ya Rasulullah?” “Hari ini kalian dalam keadaan baik. Bayangkan apa yang terjadi pada kalian jika pada pagi hari kalian makan pada satu wadah dan sore harinya pada wadah yang lain. Kalian menutup rumah kalian seperti menutup Ka’bah?” “Ya Rasulullah, apakah dalam keadaan demikian kami masih tetap dalam agama kami?” “Benar.” “Kalau begitu, hari itu kami lebih baik dari hari ini. Kami dapat bersedekah dan membebaskan budak belian.” “Tidak, hari ini lebih baik bagi kalian dari hari itu. Nanti kalian akan saling mendengki, saling menjauhi, dan saling membenci.” Para ahli tafsir mengatakan bahwa berkenaan dengan Ahli Shuffah inilah turun ayat: Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi. Tetapi Allah menurunkan rezeki dengan ukuran yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat (QS 42:27). Ada di antara manusia orang-orang seperti Ahli Shuffah. Tuhan menyempitkan rezekinya, tetapi memberinya peluang banyak untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum Muslim. Dalam keadaan miskin, mereka menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Termasuk kebijaksanaan Tuhan untuk membuat mereka kekurangan. Sebagaimana badai Utara yang ganas memperkuat bangsa Viking, seperti itulah penderitaan mengasah ruhani hamba-hamba Allah. Dengan ayat itu, Tuhan dan Rasul-Nya menghibur Ahli Shuffah untuk mensyukuri kekurangan mereka. Justru kalau mereka kaya, mereka mengalami degenerasi secara spiritual. Walaupun turun berkenaan dengan Ahli Shuffah, ayat itu menyentuh kita semua. Bukankah ketika kita miskin, kita rajin salat berjamaah di masjid? Bukankah ketika jabatan kita tidak setinggi sekarang, kita mempunyai banyak waktu untuk berkencan dengan keluarga dan berkhidmat kepada umat? Bukankah ketika bisnis kita belum semaju sekarang, kita sering bersilaturahmi dengan sanak saudara dan tetangga? Bukankah setelah organisasi dan yayasan kita memperoleh dana besar kita bertengkar sesama kita, saling menjegal dan saling memfitnah? Di sekitar kita, kita melihat orang-orang yang “korup” karena kekayaan. Banyak orang salih pada masa kesempitan berubah menjadi orang salah pada masa kesempatan. Ketika rezekinya banyak, mereka tidak punya waktu untuk beribadat; tidak jarang, bahkan mereka melakukan maksiat. Ketika menjadi aktivis kampus, ia tidur di masjid, karena tidak sanggup membayar sewa rumah. Di masjid itulah sebagian besar malamnya dihabiskan dalam zikir. Setelah menjadi direktur perusahaan, ia sering berkunjung ke tempat hiburan dan menghabiskan sebagian besar malamnya di situ. Ketika menjadi aktivis kampus yang kekurangan duit, ia terkenal “vokal” mengkritik kebijakan yang menindas rakyat. Setelah memegang posisi yang basah, ia bungkam. Geld dat stom is maakt recht wat krom is. Uang yang bisu dapat meluruskan yang bengkok. Uang yang bengkok juga telah membuat orang lurus menjadi bisu. Ketika Tsa’labah memohon doa Nabi agar dikaruniai rezeki yang banyak, Nabi saw. bersabda, “Harta sedikit yang dapat engkau syukuri lebih baik dari harta banyak yang tidak sanggup engkau syukuri.” Tsa’labah mendesak. Nabi mendoakannya. Tuhan mengabulkan doa Nabi. Tsa’labah menjadi kaya. Makin bertambah kekayaannya, makin jauh dia dari masjid, makin jarang bertemu dengan saudara-saudaranya kaum Mukmin. Sebuah ayat Al-quran turun memberikan peringatan kepadanya. Keluarganya menangis karena tahu ayat itu ditujukan kepadanya. Tsa’labah tak hirau. Ia mati tragis dalam kemunafikan dan kebakhilan. Jika hari ini Anda kekurangan, berdoalah supaya digabungkan dengan Ahli Shuffah. Jika Anda kaya, berhati-hatilah dengan “sindrom Tsa’labah.” JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum. *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Teilhard de ChardinApril 3, 2026Di kaki pegunungan Auvergne, Perancis, di tempat yang dikenal sebagai surga para geolog, ia lahir. Keluarga dan lingkungan alam di sekitarnya mencetaknya menjadi peneliti alam sejak kecil. Ibunya sangat religius. Ayahnya sangat ilmuwan. Bahkan ia meninggal dalam ekspedisi ilmiah di tepi sungai Kuning di Cina. Dari ibunya yang religius ia mewarisi darah Voltaire yang memuja rasionalitas dan metode ilmiah. Melalui bapaknya, silsilahnya bersambung sampai ke Pascal, ahli matematika, fisikawan, dan sekaligus mistikus. Dari kedua belah pihak, ia memperoleh kecintaan kepada penelitian empiris dan pengamatan ilmiah, serta kesanggupan untuk menjadikan sains sebagai wahana untuk menemukan Tuhan. Bila Pascal terpengaruh oleh ordo Jansenis, ia bergabung dan menjadi anggota setia seumur hidup dari ordo Jesuit. Betapapun pendapatnya tentang evolusi dan pandangan dunianya bertentangan dengan Gerejanya, ia tidak mau keluar dari ordonya. Ia pengikut teori evolusi. Tetapi bila Darwin menemukan natural selection (seleksi alam) dalam evolusi, di tempat yang sama ia menemukan “a universe charged with love,” alam semesta yang dipenuhi cinta. Minatnya terhadap batuan tidak menyebabkan ia lupa kepada Tuhan. Begitu pula, pengabdiannya kepada Tuhan tidak membuatnya mengabaikan batuan. Pada dirinya ada visi mistikal-sintetis yang sebenarnya dan pengalaman keduanya  ̶ Tuhan dan benda. Ia menulis bahwa ‘Kecintaan kepada yang gaib tidak henti-hentinya hidup dalam dirinya.’ Ia percaya bahwa getaran mistis tidak bisa dipisahkan dari getaran ilmiah. “Kelak, ia mengembangkan sistem pemikiran yang menggabungkan kedua getaran ini: asumsi tentang ‘yang lahir’ dan ‘yang batin’ dari segala sesuatu ̶ aspek realitas yang noumenal dan fenomenal,” ujar J. Chetany dalam The Future of Man. Di tempat lain, dengan bagus Chetany mengikhtisarkan pandangan tentang manusia dari filosof yang sedang kita kisahkan ini. “Manusia berdiri di atas bumi, tetapi kepalanya menjulang ke langit. Ia produk bumi, tetapi ia juga anak Tuhan. Ia sepenuhnya material dan juga sepenuhnya spiritual. Ia produk masa lalu, tetapi juga pengarah masa depan. Ia dibentuk oleh tak terhitung peristiwa masa lalu, tetapi kini ia secara sadar membentuk masa depan dunia dan nasibnya sendiri. Ia adalah bagian integral dari kosmos, tetapi juga sepenuhnya berbeda dari mereka. Inilah visi Teilhard tentang fenomena manusia.” Paragraf ini juga mencerminkan kehidupan Teilhard de Chardin. Hidupnya dibaktikan untuk dua hal: kecintaan kepada Tuhan dan kecintaan kepada sains. Ia tidak pernah tinggal lama di tempat kelahirannya, bahkan meninggal jauh dari tanah airnya. Ia menyelidik setiap sudut bumi. Ia paleontolog, geolog, arkeolog, biolog. Pekerjaanya setiap hari bergulat dengan hard sciences, dengan hard facts. Itulah bumi tempatnya berpijak. Pada saat yang sama, pandangannya selalu terpaut pada Cinta Dia yang berada di balik semuanya. Ia melihat semuanya ̶ batuan, pepohonan, gemintang, binatang, dan juga manusia ̶ bergerak menuju kesatuan dan berpuncak pada kesatuan dengan Dia. Inilah langit. Ke sana kepalanya senantiasa menjulang. Sebagai pengikut ordo Jesuit yang keras, ia sangat setia menjalankan ritus-ritus keagamaan. “Minatnya terhadap batuan tidak menyebabkan ia lupa kepada Tuhan. Begitu pula, pengabdiannya kepada Tuhan tidak membuatnya mengabaikan batuan.” Lalu mengapa kita harus memperbincangkan Teilhard de Chardin? Bukankah kita mempunyai Ibn Sina, raksasa ilmu di dunia Islam, dan sekaligus seorang Sufi? Bukankah gagasan-gagasan Teilhard sudah lama dibicarakan Ibn Sinâ dan juga fi- losof Islam lain? Bukankah Al-Fârabî, bapak filsafat Islam dan ilmuwan besar, berpandangan dan hidup sebagai mistikus juga? Bukankah anggota-anggota Ikhwan ash-Shafä selalu sibuk dalam penelitian ilmiah, sambil menjalankan riyadhah keagamaan yang sangat keras, boleh jadi lebih keras dari ordo mana pun dalam dunia Katolik? Kita dapat mendaftar lebih panjang lagi nama-nama besar yang kehidupannya seperti itu. Tetapi, kita tidak lagi menjadikan nama-nama besar itu sebagai rujukan: terlalu jauh, sudah kabur, tidak lagi sesuai dengan realitas kini. Saya baru menyadari hal ini ketika kawan saya berbicara tentang fungsi mitos dalam kehidupan beragama. Ia menunjuk mukjizat Nabi Muhamad saw. sebagai mitos yang dibuat umatnya kemudian hari. Dalam dunia modern, mitos-mitos itu tidak perlu lagi. Dengan “analisis fungsional,” ia juga memandang ritus-ritus keagamaan dalam Islam sudah anakronis. Katanya, ia mengerti mengapa para ilmuwan Barat tidak menghiraukan agama. Saya terkesan betul. Seakan-akan di depan saya duduk Levi Strauss membacakan empat jilid Mithologiques, atau Roland Barthes, naratolog, menjelaskan Mithologies, atau “embahnya” strukturalis Ferdinand de Saussure bercerita tentang bahasa diakronis dan sinkronis. Saya tidak menolak kegunaan strukturalisme untuk analisis. Tetapi, bila kesimpulannya ialah tinggalkan ritus-ritus dan mitos-mitos keagamaan bila kita ingin menjadi ilmuwan tulen, saya ucapkan, “Adieu, mon ami!” Pengalaman ilmiah yang sangat empirik tidak harus bertentangan dengan pengalaman keagamaan yang sangat mistis. Kepiawaian dalam ilmu berkembang lebih kaya dan lebih indah dengan kesalihan dalam agama. Maka, ketika nama-nama strukturalis yang Perancis itu muncul dalam benak saya, saya ingin menghadirkan orang Perancis lain. Teilhard de Chardin. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Al-Malik al-QuddusApril 1, 2026Raja Anusyirwan sedang melakukan perburuan. Ia sangat asyik berburu sehingga ia terlepas dari pasukannya. Dalam keadaan haus, ia sampai di sebuah kebun. Di kebun itu ia melihat banyak sekali pohon delima. Kepada anak penunggu kebun, raja berkata, “Berikan kepadaku sebutir delima.” Delima itu ternyata sangat manis dan airnya yang lezat keluar melimpah. Raja sangat terkesan dengan delima di kebun itu sehingga ia terpikir untuk mengambil kebun itu dari pemiliknya. Pada kali yang kedua, ia meminta satu butir delima lagi. Aneh, sekarang delima itu sedikit sekali airnya dan kecut rasanya. Ia bertanya, “Hai anak, mengapa delima ini menjadi begini?” Si Anak menjawab, “Mungkin ada raja di negeri ini yang bermaksud berbuat zalim. Karena niat jeleknya, maka delima ini menjadi begini.” Pada saat itu juga, Anusyirwan bertobat dalam hatinya. Raja berkata lagi pada anak itu, “Berikan aku satu delima lagi.” Sekarang delima itu terasa lebih enak dari delima sebelumnya. Ia bertanya, “Hai anak, mengapa delima ini berubah seperti ini?” Penjaga kebun berkata, “Barangkali raja negeri ini bertobat dari kezalimannya.” Ketika mendengar ucapan anak itu, yang sesuai dengan keadaan hatinya, Anusyirwan betul-betul bertobat dan berniat tak akan melakukan penindasan apa pun. Dalam sejarah, Anusyirwan dicatat sebagai raja yang adil. Dalam masa pemerintahannya, lahir Nabi Muhammad saw..Beliau berkata, “Aku lahir dalam zaman kekuasaan raja yang adil” (Al-Fakhr ar-Râzî 1: 244). Al-Fakhr ar-Râzî meriwayatkan kisah ini ketika menjelaskan tafsir ayat: mâliki yawmiddin. Ayat ini menunjukkan kesempurnaan keadilan Tuhan. Raja pada hari pembalasan adalah raja yang adil. Tanpa adanya hari kiamat, keadilan tidak dapat ditegakkan. Dari sini disimpulkan, penguasa sejati adalah penguasa yang adil. “Bila penguasa itu adil karena keberkahan keadilannya, timbullah kebaikan dan ketenteraman di alam semesta. Bila penguasa itu zalim, hilanglah kebaikan dari alam semesta,” kata Al-Fakhr al-Râzî selanjutnya. Jangankan berbuat zalim, jika terbersit saja niat untuk berbuat zalim, penguasa akan menimbulkan kerusakan di dunia. Buah-buahan yang manis akan segera berubah menjadi kecut. Tanah yang subur beganti menjadi kering-kerontang. Mega tidak lagi mengantarkan hujan, tapi menyebarkan asap kering. Tuhan adalah Penguasa Semesta Alam yang adil. Penguasa-penguasa di bumi baru sah bila ia mengikuti sifat Raja Langit dan Bumi. Alquran menggambarkan sifat Allah Raja pada hari pembalasan: Al-Malik al-Quddus as-Salam al-Mu’min al-Muhaymin al-Aziz al-Jabbar al-Mutakabbir. Dan, inilah kriteria penguasa yang adil menurut Alquran. Pertama, penguasa itu harus al-quddûs, menyukai dan memelihara kesucian. Ia berusaha untuk hidup lurus, tidak mencemari kehormatan dirinya dengan hal-hal kotor. Ia tidak berkata kotor dan tidak bertindak kotor. Semua yang dilakukannya tampak seperti air yang bening. Setelah menjaga kesucian dirinya, ia berusaha mensucikan lingkungan di sekitarnya. Ia membasmi kekotoran para pejabat di bawahnya, tanpa membeda-bedakan mereka berdasarkan keakraban atau kedekatan dengan dirinya. Al-Quddus berarti juga bersih secara moral. Penguasa yang al- quddus adalah Mr. Clean yang tidak terlibat dalam dan tak suka pada kolusi dan korupsi. Ketika ‘Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, kekayaan mengalir ke ibu kota dalam jumlah yang melimpah. Pada suatu kali, ‘Ali menyapu lantai Baytul Mal, gudang kekayaan negara, dengan tangannya sendiri. Di hadapan tumpukan emas dan perak, ia berkata, “Hai Kuning, hai Putih, tipulah orang selain aku.” Ketika saudaranya, ‘Aqil bin Abi Thalib, meminta fasilitas tambahan karena ada hubungan kekeluargaan, ‘Ali menghardiknya, “Engkau memaksaku merampok kekayaan rakyat?” Pada malam hari yang gelap, ‘Ali memanggil saudaranya. Ia menyerahkan sebuah benda yang berkilauan ke tangan ‘Aqil. ‘Aqil menjerit demi mengetahui benda itu besi yang bernyala. ‘Ali mengingatkan saudaranya, mengambil hak orang lain jauh lebih berat dari mengumpulkan bara api neraka. ‘Aqil marah dan akhirnya menyeberang ke pihak lawan. Tetapi, buat ‘Ali, kesucian kekuasaan harus dipertahankan, apa pun risikonya, karena kesucian penguasa menebarkan berkah ke seluruh alam semesta. Kedua, penguasa itu harus as-salâm. Ia harus memelihara keselamatan dan perdamaian di seluruh penghuni alam. As- Salam juga berarti memiliki komitmen untuk mensejahterakan dan membahagiakan semua makhluk Tuhan. Ia harus menjadi mentari yang mengirimkan sinarnya kepada semua penduduk bumi, yang tinggi dan yang rendah, yang besar dan yang kecil. Ketiga, berkaitan dengan as-salâm, penguasa sejati juga menyerap sifat al-mu’min, memberikan rasa aman. Di hadapannya, semua orang merasa tenteram. Di samping kesejahteraan, penguasa berusaha menegakkan keamanan dan ketertiban. Penguasa yang mukmin berusaha agar setiap orang dapat hidup sebagai manusia yang layak, tidak terancam oleh penindasan dari pihak yang lebih kuat. Keempat, penguasa sejati adalah al-muhaymin, pelindung, pengayom, pengawas. Ia adalah panutan semua orang. Petunjuknya dijadikan pedoman bukan hanya oleh menteri yang tidak punya kemampuan. Kelima, penguasa sejati tentu saja harus al-‘aziz. Otoritasnya harus dipercaya dan diterima oleh rakyatnya. Ia harus merepresentasikan kekuasaan negara yang tak bisa digoncangkan oleh kepentingan segelintir orang. Berkaitan dengan al-‘aziz adalah al-jabbar. Ia harus diterima secara sah sebagai kekuatan pemaksa tertinggi dalam negara. Apakah semua itu adalah kriteria untuk memilih pemimpin pascasuksesi? Tidak, karena yang dimaksud penguasa itu tidak harus selalu penguasa tertinggi. Bukankah setiap kita menggenggam kekuasaan, betapapun kecilnya? Bila asma Allah yang agung itu kita serap dalam kekuasaan kita, kita akan menyebarkan berkah ke sekitar kita. Marilah kita ubah delima yang kecut menjadi manis dengan kekudusan kita. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum. *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Nabi KhidhirMarch 31, 2026Siapa di antara kita yang tak kenal Nabi Khidhir a.s.? Mûsâ a.s. menemuinya pada mata air kehidupan, yang membuat ikan yang sudah dimasak meloncat hidup. Khidir mulai membimbing Mûsâ dari tempat bertemunya dua lautan, majma’ al-bahrayn, a twilight zone ̶ suatu medan di antara lautan material dan samudera spiritual. Ia disebut Khidhir, yang berarti hijau, karena ke mana pun ia melangkah, dari bumi yang dipijaknya tumbuh rumput kehidupan yang hijau. Khidhir hidup abadi dan membimbing manusia sepanjang sejarah. Ia berada di samping para putra Nabi Adam a.s., merintis kehidupan masyarakat yang pertama. Ia juga berada pada zaman Nabi Muhammad saw., mengajarkan doa cinta kepada ‘Alî di Madinah dan pensucian batin kepada ‘Uways al-Qarânî di Yaman. ‘Uways hidup sezaman dengan Nabi saw., tetapi tak sempat berjumpa dengan beliau. Kepada para sahabatnya, beliau berpesan untuk menyampaikan salam kepada ‘Uways, yang keharuman spiritualnya dipuji Nabi. Yang mengajar ‘Uways adalah juga Khidhir. Sejak itu, siapa saja yang diajar Khidhir dianggap mengikuti tarekat ‘Uwaysiah. Misalnya, Abû Sa’id Abû al-Khayr dan Hâkim Tirmidzî. Khidhir setiap saat mencari murid yang tepat di tengah-tengah manusia. Saya ingin Anda juga menjadi murid Khidhir melalui kisah berikut ini. Setelah anak-anak Adam menyebar di bumi, terjadilah macam-macam bencana-karena penyakit, ketololan manusia, atau karena sebab-sebab yang tidak diketahui. Khidhir berusaha membantu manusia mengatasi bencana itu sesuai dengan tugasnya yang abadi. Ia berkelana ke setiap sudut bumi untuk menemukan orang yang mau mendengar nasihatnya. Hanya ada tiga orang dari seluruh penduduk yang mau mendengarnya. Kepada orang yang pertama, Khidhir berkata, “Marilah kita menempuh perjalanan bersama. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagimu.” Keduanya sampai di tepi sungai. Seraya melihat sungai itu, Khidhir bertanya, “Apa yang kamu inginkan dari sungai itu?” Ia menjawab, “Saya ingin sungai itu mematuhi perintah saya, sehingga sungai itu bekerja untuk saya. Dengan begitu, saya mendatangkan manfaat bagi diriku dan juga bagi yang lain.” “Bagus,” kata Khidhir sambil meneruskan perjalanan. Mereka sampai pada kaki gunung. Khidhir bertanya, “Apa yang kamu inginkan dari gunung ini?” Orang itu menjawab, “Saya ingin gunung ini memberikan pengetahuannya kepadaku. Ia sudah berada di sini lebih lama dariku. Saya akan menyampai- kan pengetahuan yang diberikannya kepada yang lain.” “Bagus,” kata Khidhir. Mereka meneruskan perjalanan dan sampai di sebuah desa yang subur dengan pohon-pohon yang rindang dan berbuah. “Apa yang kamu inginkan dari desa ini?” tanya Khidhir. “Saya ingin memiliki negeri ini. Saya dapat hidup di sini dan mengisi sisa hidup saya untuk menyebarkan kearifan yang sudah saya peroleh kepada orang lain,” jawab murid yang pertama. “Bagus,” kata Khidhir. Sang Guru kemudian pergi meninggalkan muridnya. Apa yang dikehendaki murid itu terjadi. Khidhir menemukan manusia kedua yang mau mendengarnya. Ia juga membawa murid yang kedua ini mengembara. Ditengah perjalanan, keduanya berjumpa dengan seorang bijak yang sedang mengajarkan kearifan. “Apa yang kamu inginkan dari orang ini?” Murid berkata, “Saya ingin ia berkenan menerima saya sebagai pelanjutnya. Jika ia mati, saya dapat melanjutkan ajarannya.” “Bagus,” kata Khidhir. Mereka meneruskan perjalanan dan tiba di suatu tempat ketika sekelompok orang sedang menzalimi orang-orang yang tidak bersalah. “Apa yang kamu inginkan. dari orang-orang ini?” tanya Khidhir. “Saya ingin menghilangkan penindasan dan menghukum orang yang berbuat zalim,” jawab murid yang kedua. “Bagus,” kata Khidhir. Mereka meneruskan perjalanan dan tiba di sebuah kota. Penduduknya pintar-pintar, tetapi berpikiran sempit. Mereka tak mau meninggalkan kotanya untuk membagikan kepintaran mereka kepada penduduk di kota yang lain. “Apa yang mampu kamu lakukan untuk mereka?” “Saya ingin meyakinkan mereka bahwa mereka punya kewajiban untuk membagikan apa yang mereka ketahui kepada semua orang di dunia ini,” ujar sang murid. Seperti biasa, Khidhir memujinya. Setelah itu, ia meninggalkan murid kedua. Semua yang diinginkannya terjadi, dengan kehendak Allah. Akhirnya Khidhir berjumpa dengan orang terakhir di seluruh dunia yang mau mendengarkan nasihatnya. Ia juga dibawa berjalan jauh. Setelah lama berkelana, mereka sampai ke sebuah tempat. Di situ macam-macam orang bercampur, yang mulia dan hina, bangsawan dan budak. “Apa yang ingin kamu lakukan dalam situasi seperti ini?” tanya guru rohaniah itu. “Saya ingin bisa bertindak benar, sungguh-sungguh benar.” “Bagus,” kata Khidhir. Mereka melanjutkan perjalanan dan sampai ke sebuah negeri. Penduduk kampungnya kelaparan karena panen gagal. Khidhir bertanya kepada sahabatnya, “Dengan apa ingin kamu beri makan mereka?” Sahabatnya menjawab, “Saya ingin mereka puas menerima kemiskinan jika itu paling baik bagi mereka. Tetapi saya ingin juga mereka tidak puas dengan kemiskinan mereka bila mereka memang patut untuk kecewa.” “Sangat bagus,” kata Khidhir. Akhirnya mereka sampai pada suatu negeri. Orang-orang kelihatannya salih dan taat. Mereka patuh kepada hukum. Mereka menjalankan tugasnya dengan baik. Semua orang tampaknya bahagia. “Apa yang ingin kamu lakukan pada orang-orang ini?” tanya sang Guru. “Saya ingin mereka mampu memahami dengan tepat apa yang baik buat mereka dan apa yang dapat mereka lakukan dan rasakan.” “Bagus sekali,” kata Khidhir. Setelah memenuhi keinginan murid yang ketiga ini, Khidhir pergi lagi. Untuk mencapai ke inginan tiga murid Khidhir inilah manusia sepanjang sejarah bekerja keras. Tetapi yang sangat disukai Khidhir adalah keinginan murid yang ketiga. Paling tidak, begitulah kata Idries Shah, guru sufi kontemporer, dalam The Dermis Probe. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Sa’diMarch 30, 2026“Balaghal ‘ula bi kamâlihi, kasyafad dujâ bi jamâlihi, hasunat jami’u hishâlihi, shallû ‘alayhi wa âlihi.” Saya menemukan kuplet-kuplet yang indah ini pada haji saya yang pertama. Karena bergabung dengan rombongan ONH biasa, saya tinggal berdesakan dalam ruang sempit. Ruang itu tidak mempunyai hiasan dinding apa pun selain tulisan kaligrafi dengan kuplet-kuplet itu. Syair yang sangat indah dan gampang dihapal. Penyair melukiskan sifat Nabi saw. dengan singkat: “Ia sudah mencapai kemuliaan dengan kesempurnaannya. Ia telah menyingkapkan kegelapan dengan keindahannya. Cemerlang semua perilakunya. Sampaikan shalawat kepadanya dan keluarganya.” Sekian puluh tahun sesudah itu saya berkenalan dengan penulisnya. Ternyata, ia bukan orang Arab, walaupun menurut penulis biografinya ia berasal dari keturunan ‘Ali bin Abî Thâlib. Ia juga lebih banyak menulis puisi dalam bahasa Persia. Hampir setiap orang Iran sekarang menghapal paling tidak satu kupletnya. Para pembicara dan penulis menaburkan syair-syairnya dalam pembicaraan dan tulisan mereka. Sa’dî, yang punya lakon dalam perbincangan kita ini, memang hanya dapat ditandingi oleh Firdawsî, Nizhâmî, dan Anwârî. Sa’di mengikuti tarekat Naqsyabandi; ia sempat naik haji bersama Syaikh Abdul Qadir al-Jilânî, pendiri tarekat Qadiriyah. Puluhan tahun ia menjalani kehidupan sebagai sufi, yang berkelana ke berbagai negeri, menjajakan kearifan perenial. Sufisme yang diajarkannya bukanlah sufisme ritual. Lewat puisi-puisinya, Sa’di mengkritik para tiran dan orang-orang kaya di zamannya. Walaupun amat dihormati oleh para raja, ia hidup sederhana. Ia mempraktikkan apa pun yang ia khutbahkan. Seperti kakeknya, Muhammad saw., ia menyebarkan kasihnya kepada semua manusia, apa pun agama dan keyakinannya. Ia berusaha untuk menebarkan rahmat ke seluruh alam. Bani Adam semuanya anggota badan yang sama Karena pada awalnya berasal dari jauhar yang sama Jika satu anggota sakit karena kemalangan Anggota-anggota yang lain tak kan menikmati ketenangan Jika kamu tidak merasakan apa yang orang lain derita Tidak pantas kamu menyebut dirimu manusia Puisi di atas diambil dari salah satu master piece-nya, Gulistan (Taman Bunga Mawar). Sa’di sedang berziarah ke kuburan Nabi Yahyâ di Damaskus. Ia memberikan nasihat kepada seorang tiran, yang meminta doa darinya untuk mengalahkan musuh-musuhnya: Bar ra’yat-e zhaif rahmat kun, ta az dusyman-e qawiyy zahmat nabini (Perlihatkan kasih sayangmu kepada rakyat yang lemah, supaya kamu dilepaskan dari gangguan musuhmu yang kuat). Dalam Gulistan, ia mempersembahkan 40 cerita untuk mengkritik para penguasa. Kita akan memperkenalkan sebagian di antaranya. Seorang sufi, yang doanya selalu dikabulkan Tuhan, datang ke Baghdad. Hajjaj bin Yusuf, seorang penguasa yang sangat kejam, memanggilnya. “Tolong doakan yang baik buat saya,” kata Hajjaj kepadanya. Sang sufi berdoa, “Tuhan, ambillah nyawanya.” “Demi Allah, doa macam apa ini?” kata Hajjaj. Ia menjawab, “Inilah doa yang baik buat kamu dan seluruh kaum Muslim.” Hai penindas! Penindas rakyat tak berdaya Betapa cepatnya pasarmu akan binasa Apa untungnya kerajaan bagimu Ketimbang menindas lebih baik kematianmu Seorang raja yang tidak adil bertanya kepada seorang salih, “Bagiku, apa ibadat yang paling baik?” Ia menjawab, “Bagimu ibadat yang paling baik adalah tidur siang hari. Dengan begitu, kamu berhenti sejenak dari menindas manusia.” Pada waktu siang hari seorang tiran berbaring Kataku, lebih baik bencana ini tetap terbaring Siapa saja yang tidurnya lebih baik dari bangunnya Lebih baik memilih mati orang yang jahat hidupnya Alkisah, ada seorang zalim mengambil kayu bakar dari orang miskin dengan paksa. Kemudian, ia memberikannya kepada orang kaya. Seorang salih lewat di hadapannya dan memberi nasihat: “Apakah kamu ular yang menggigit siapa pun yang kamu lihat, ataukah kamu burung hantu, di mana pun kamu duduk kamu mematuknya? Sekiranya kekerasan kamu itu lewat begitu saja di hadapan kami, ia tidak akan luput dari pengamatan Tuhan. Hati-hati, penduduk bumi yang kamu zalimi akan melawanmu dengan doa mereka ke langit.” Orang zalim itu tidak menghiraukan ucapannya. Pada suatu malam, api menjalar dari dapur, membakar bongkah-bongkah kayu, melalap seluruh kekayaannya, melemparkan dia dari ranjang yang empuk ke tumpukan debu. Pada saat itu orang salih lewat lagi di hadapannya. Ia sempat nguping pembicaraan si zalim itu kepada kawan-kawannya, “Aku tidak tahu dari mana asal api yang membakar rumahku ini?” Orang salih itu berkata, “Dari hati orang-orang miskin.” Hati-hatilah pada jeritan hati yang terluka Karena deritanya yang tersembunyi akan terlambat kauamati Jika mampu, jangan buat siapa pun menderita Karena jeritan derita dapat mengguncang dunia Sa’di tidak hanya bercerita tentang para tiran. Ia juga berkisah tentang Nusyirwan, tokoh yang terkenal adil, atau Hatim ath-Thay, orang kaya yang terkenal dermawan. Sekali waktu, Nursyirwan berburu. Pejabat rumah tangganya mempersiapkan ayam bakar untuk makannya. Namun, garam tidak ada. Mereka mengutus seorang budak untuk mencari garam di desa yang berdekatan. Nursyirwan berkata, “Bayarlah garam yang kamu ambil, supaya pengambilan garam begitu saja tidak menjadi kebiasaan, nanti desa itu akan hancur.” Mereka berkata, “Apa ruginya? Kita hanya akan mengambil sedikit saja.” Raja berkata, “Semua kezaliman bermula dari yang sedikit. Kemudian setiap orang sesudah itu menambahnya, sehingga akhirnya menjadi sangat besar.” Jika raja makan sebutir apel dari kebun rakyat Anak buahnya akan mencabuti semua pohonnya Orang zalim tidak selalu abadi Tetapi laknatnya akan terus lestari JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Mulla NasrudinMarch 28, 2026Mulla Nasrudin terkenal karena lelucon-leluconnya. Ia mengajarkan kearifan lewat keluguan atau, dengan kata yang lebih jelas, ketololan. Di kalangan sufi, Nasrudin dijadikan rujukan untuk mengajarkan makrifat. Ia lucu, tolol, lugu, dan sekaligus bijak. Perilakunya yang sulit dipahami dipandang sebagai misteri mistikal yang mempesona.   Banyak bangsa mengklaim Nasrudin sebagai bangsanya. Orang Turki setiap tahun memperingati festival Nasrudin, dengan memperagakan dagelannya di Eskishensir, yang diduga tempat kelahirannya. Pada zaman Uni Soviet, Nasrudin adalah tokoh Soviet yang membabat habis kaum kapitalis. Orang Arab mengubah Nasrudin menjadi Joha. Masih dengan nama yang sama, orang Iran menganggapnya sebagai orang Persia. Kisah- kisah Nasrudin, dengan sedikit modifikasi, masuk ke dalam Don Quixote, Fables dari Marie de France, sampai Baldakiev dalam sastra Rusia.   Lelucon Nasrudin harus kita terima dengan hati yang terbuka-karena ia bersifat terbuka. Ia mengundang banyak penafsiran, dan tak ada interpretasi yang paling benar. Karena sifatnya yang terbuka, kisah Nasrudin bukan hanya milik orang Turki, Arab, atau Iran. Ia milik seluruh umat manusia yang masih mempunyai hati nurani. Tidak boleh ada yang tersinggung. Nasrudin tidak mencemooh Anda secara partikular. Ia menyindir manusia secara universal.   Orang seperti Nasrudin ada di mana-mana. Ia bisa bernama Si Kabayan di Jawa Barat, Si Lebai Malang di Sumatera Barat, atau Bahlul di negara-negara Timur Tengah. Pesan mereka sama: Tertawalah melihat ketololan-ketololan yang Anda lakukan sebelum ditertawakan orang lain. “Mulla Nasrudin,” tulis Ablahi Mutlaq-nama ini berarti kebodohan mutlak dalam Ajaran Nasrudin, “adalah penghulu para darwis dan pemilik perbendaharaan rahasia, manusia sempurna. Banyak orang berkata, ‘Aku ingin belajar, tetapi di sini aku hanya menemukan kegilaan.’ Tetapi, sekiranya mereka mencari kearifan yang dalam di tempat lain, mereka tidak akan menemukannya.”   Pada saat-saat krisis seperti sekarang, marilah kita mencari kearifan yang dalam dari kegilaan Nasrudin. Bacalah sebagai hiburan ringan. Tak lebih dari itu. Saya akan mengisahkan kepada Anda kisah Nasrudin seperti diceritakan Idries Shah dalam The Subtleties of the Inimitable Mulla Nasrudin:   “Jika tidak ada di antara kalian seseorang yang dapat mengatakan sesuatu yang menghiburku,” teriak seorang raja yang tiranis dan kecapaian, “aku akan memotong leher semua orang yang berada di istanaku hari ini.” Mulla Nasrudin segera menghadap, “Baginda, jangan potong kepalaku; hamba akan mela- kukan sesuatu.” “Apa yang dapat kamu lakukan?” “Hamba dapat, eh, mengajari keledai membaca dan menulis.” Raja berkata, “Sebaiknya kamu mengerjakannya. Jika tidak, aku akan menguliti kamu hidup-hidup.” “Hamba akan melakukannya,” kata Nasrudin, “tetapi perlu waktu sepuluh tahun.” “Tidak apa,” kata raja, “kamu punya waktu sepuluh tahun.” Ketika pertemuan di istana itu sudah selesai, para pembesar mengerumuni Nasrudin. “Mulla,” kata mereka, “betulkah Anda dapat mengajar keledai membaca dan menulis.” “Tidak,” kata Nasrudin. “Kalau begitu,” kata pembesar yang paling bijak, “Anda hanya mendatangkan ketakutan dan kecemasan selama satu dasa- warsa. Sebab, pada akhirnya, Anda akan dihukum mati. Ah, betapa tololnya, lebih menyukai sepuluh tahun penderitaan dan memikirkan kematian ketimbang satu tebasan kilat pedang algojo.” “Anda lupa satu hal,” kata Mulla, “Raja kita sekarang berusia tujuh puluh lima tahun dan aku berumur delapan puluh tahun. Lama sebelum waktu itu habis, unsur-unsur lain akan masuk dalam cerita.”   Berikut ini satu cerita Nasrudin lagi dari buku Idries Shah yang sama, tetapi berjudul The Exploits of the Incomparable Mulla Nasrudin:   Di seluruh negeri terjadi keresahan. Raja mengirim delegasi kebudayaan ke setiap desa untuk mententeramkan rakyat. Ke mana pun mereka datang, rakyat sangat terkesan. Dari mereka orang dapat belajar ilmu pengetahuan dan keahlian. Salah se orang di antara mereka pengarang, yang lainnya ulama, yang ketiga anggota keluarga kerajaan. Ada ahli hukum, prajurit, saudagar, dan banyak lagi. Pada setiap tempat yang mereka datangi, mereka mengadakan pertemuan di ruang yang terbuka. Orang-orang berkumpul dan mengajukan pertanyaan. Ketika sampai ke desa Nasrudin, pertemuan besar yang dikepalai oleh wali kota menyambut rombongan tersebut. Pertanyaan diajukan dan dijawab. Setiap orang terkesan atau setidak-tidaknya terpengaruh oleh kebesaran delegasi. Nasrudin datang terlambat. Sebagai tokoh lokal, ia didesak untuk duduk di depan. “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanya Nasrudin. Ketua rombongan tersenyum ramah, “Kami ini serombongan ahli. Kami datang ke sini untuk menjawab semua pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh rakyat sendiri. Dan Anda sendiri, maaf, siapakah Anda?” “Oh, saya,” kata Nasrudin tanpa berpikir panjang, “Anda harus mempersilakan saya ke mimbar.” la naik menuju tempat para tamu penting. “Saya datang ke sini untuk menjawab pertanyaan yang tidak Anda ketahui jawabannya. Bisakah kita mulai dari hal-hal yang membingungkan Anda, wahai para ahli yang terkemuka?”   Saya mengakhiri tulisan ini setelah mendengarkan diskusi yang menarik dari para ahli dalam televisi tentang penerapan CBS di Indonesia. Saya tidak akan berpretensi bahwa kisah Mulla Nasrudin relevan dengan diskusi itu. Ia relevan dengan apa pun yang kita pikirkan. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.   Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum   *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...

Buku Karya KH. Jalaluddin Rakhmat

« of 2 »

Videografi

This error message is only visible to WordPress admins

Unable to retrieve new videos without an API key.

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

Audiografi

UJR-MFR

“Jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun”

​KH. Jalaluddin Rakhmat
@katakangjalal

Contact Jalan Rahmat

Jl. Kampus II No. 13-15. Kiaracondong. Bandung