Warisan intelektual

untuk perkhidmatan

dan pencerahan pemikiran

Quotes
0
Articles
0
Videos
0
Audios
0

Jalan Rahmat

Misi Kami

Di Jalan Rahmat, kami berusaha menghadirkan kembara intelektual itu. Perjalanan dan pengelanaan beliau mengarungi ‘jagat’ semesta itu. Ada dokumentasi karya beliau. Puluhan buku, ratusan artikel, ribuan ceramah. Ada rekaman audio dan video. Ada pula karya-karya para guru bangsa, baik sahabat karib Allah yarham, para intelektual sezaman, maupun karya-karya para ulama besar yang mempengaruhi jagat kembara intelektual beliau. Jalan Rahmat adalah sebuah digital library yang ingin menghadirkan kembali semangat intelektual itu.

Jalaludin Rakhmat - Tauziah
Digilib

Donasi dan Beasiswa

Donasi dan Beasiswa untuk sekolah, madrasah, klinik, dan ragam kegiatan lainnya.

tauziyah

Digital Library

Kumpulan Ceramah, Artikel, Buku, Video dari para Guru Bangsa.

healthcare

Jalan Kecintaan

Warisan terutama dan teramat berharga dari Allah yarham adalah mengantarkan kami dan kita semua pada jalan menuju kerinduan dan kecintaan Sang Rahmatan lil ‘alamin. Itulah makna Jalan Rahmat yang sesungguhnya.

Latest Post

PseudosufismeMay 23, 2026Tak ada kata yang paling sering disalahpahami selain tasawuf, baik oleh pembenci maupun pengamalnya. Tasawuf dibenci karena dianggap anti sains, anti kemajuan, anti modernitas. Bila tasawuf masuk, kejayaan keluar. Bagi para pembencinya, tasawuf dipahami sebagai upaya menghindari dunia, menyibukkan diri dalam zikir dan doa, atau berperilaku yang tidak rasional. Seorang pemain musik jazz serta-merta mengejek tasawuf karena menurut dia tasawuf melarang musik. Seorang profesor dari sebuah perguruan tinggi memperingatkan anak muda agar tidak mempelajari tasawuf. Biarlah tasawuf dikaji oleh orang-orang yang sudah sepuh dan uzur. Seorang aktivis menuding tasawuf bakal menurunkan semangat berjuang untuk menentang kezaliman. Bagi para pengamalnya, tasawuf dianggap sebagai obat segala penyakit sosial. Tasawuf adalah panacea. Hanya dengan tasawuf dapat diatasi masalah penindasan ekonomi. Juga problema ketidak-adilan politik. Ada juga yang berpendapat bahwa dengan tasawuf kita akan memperoleh kekuatan gaib untuk menyembuhkan, untuk menimbulkan kecintaan, bahkan untuk menghidupkan dan mematikan. Maka pecandu narkotik mengambilnya untuk mengusir kecanduan obatnya; pemuda yang gagal bercinta mempelajarinya untuk merebut hati kekasihnya; politisi menekuninya untuk mempertahankan kedudukannya. Jadi, selain bank Islam, sains Islam, ekonomi Islam, ada juga klenik Islam ꟷyakni tasawuf itu. Baik pembenci maupun pengamal dalam contoh di atas keliru memahami tasawuf. Yang mereka bicarakan bukan tasawuf, tetapi pseudosufisme. Para pembenci tasawuf rupanya tidak belajar sejarah. Al-Fârâbî, raksasa ilmu dan filsafat itu, adalah seorang sufi. Ia juga terkenal sebagai pemusik. Kepadanya dinisbatkan penemuan sitar, yang kemudian menjadi gitar. Ibn Sînâ, ahli filsafat dan kedokteran, ternyata pengamal tasawuf juga. Ketika masyarakat Islam mengalami dekadensi, sejumlah pemuda membentuk semacam tarekat, yang mengulas zikir dan mengembangkan pengetahuan. Mereka menyebut dirinya ikhwan ash-shafa, dan melanjutkan tradisi sufisme. Yang menakjubkan kita dan tak diketahui para pembenci tasawuf ialah nama-nama tokoh-tokoh sufi yang besar. Semua nama mereka mencerminkan profesi mereka. Ambillah sebagai misal: al-Hallaj, al-‘Aththâr, al-Qawârirî, al-Kharrâj. Bukalah kamus Arab untuk mengetahui pekerjaan mereka dari nama- namanya saja. Jalaluddin Rûmî pernah bekerja pada pemerintahan dan punya pengikut dari kalangan pejabat dan pengusaha kaya. Sultan Akbar, yang berhasil mempersatukan India dalam kedamaian dan kemakmuran, adalah penguasa yang sufi. Tarekat Sanusiyah berhasil mengusir kolonialis dan menegakkan Libya. Imam Khomeini, pemimpin Revolusi Iran yang menggemparkan itu, dikenal sebagai sufi zaman akhir. Terakhir, berkat aliran-aliran sufi, berpuluh-puluh bangsa Chechen memelihara Islam dalam cengkraman komunisme dan kini melawan Rusia sendirian. Walhasil, tasawuf yang dianggap meninggalkan dunia dan anti ilmu pengetahuan bukanlah tasawuf yang sebenarnya. Mereka sedang membicarakan pseudosufisme, tasawuf bohongan. Pseudosufisme juga kelihatan pada orang-orang yang mengambil bagian-bagian tasawuf untuk kepentingan dirinya. Ada yang mengambil zikir dan doa saja. Wirid-wirid dipergunakan untuk menenteramkan batinnya, obat penenang untuk melupakan kemaksiatan yang terus-menerus dilakukannya. Formula wirid kemudian menjadi “resep” untuk mengobati apa saja. Belajarlah tasawuf untuk membuat suami Anda tidak tergoda wanita lain. Amalkan wirid tertentu sekian ribu kali supaya Anda dapat rezeki nomplok. Datanglah kepada mursyid, minta doa, agar disembuhkan dari penyakit AIDS. Menurut Haeri, pseudosufisme mirip dengan perilaku orang yang datang ke toko obat untuk hidup sehat. Ia memilih anal gesik untuk menghilangkan sakit atau vitamin untuk meningkatkan vitalitasnya. Tetapi ia tidak mengubah gaya hidupnya, tidak mengatur cara makan dan minumnya, dan tidak berolahraga. Tasawuf yang sebenarnya ialah gaya hidup yang meliputi sikap, pandangan, dan tingkah-laku. Tasawuf bukan ilmu klenik atau pendukunan. Tasawuf juga bukan mekanisme pelarian. Para sufi bukan meninggalkan dunia. Mereka ingin mengguncangkannya. Mereka tidak menghindari masalah, tetapi mereka menyongsongnya. Mereka tidak mengobati penderitaan; mereka mengubahnya menjadi kehormatan. Mereka tidak membenci rasio; mereka meningkatkan dan memperluas kemampuan rasio. Yang paling penting dari semua itu, tasawuf tidak menafikan syariat. Tasawuf berpijak pada syariat untuk menjalani tarekat agar mencapai hakikat. Sayangnya, kita lebih mengenal pseudosufisme ketimbang sufisme yang sebenarnya. Banyak orang yang mengklaim dirinya atau diklaim pengikutnya sebagai sufi ternyata hanya sejenis aktor saja. Ada yang ke sana kemari menjajakan keramatnya. Ia bercerita bagaimana doa-doanya selalu terkabul dengan sangat menakjubkan. Tak henti-hentinya zikir bergumam dalam mulutnya dan tasbih berputar di tangannya. Ketika ia mendengar ulasan tentang tasawuf, mulutnya mencibir. Di dunia ini tak ada orang yang lebih mengerti tasawuf selain dirinya. Ada juga yang berkhotbah dari masjid ke masjid, mengkritik tasawuf. Konon, tasawuf banyak bertentangan dengan Alquran dan Sunnah. Cukuplah kedua sumber itu. Kita tidak memerlukan selain itu. Lebih jauh lagi, ia berkata bahwa tokoh-tokoh sufi besar itu adalah orang-orang yang murtad dan sudah selayaknya dihukum mati. Baik “sang aktor” maupun kritikus sedang sibuk membicarakan pseudosufisme, dan bukan tasawuf. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
TatoMay 22, 2026Orang Qazwin mempunyai kebiasaan merajah tubuhnya sebelum memasuki masa dewasa. Salah seorang di antara mereka datang kepada tukang tato. “Rajahlah bagiku seekor singa yang garang. Leo bintangku. Gambarlah sebagus-bagusnya. Sebarkan warna biru di atasnya.” “Di mana saya harus merajah Anda?” “Rajahlah pada bahuku yang bidang. Biarkan nanti wajah singa menyeringai garang dari sana.” Mulailah tukang tato menusukkan jarum-jarumnya. Rasa sakit mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Pahlawan kita menjerit kesakitan, “Kamu membunuhku. Makhluk apa yang sedang kamu lukis?” “Seperti pesanan Anda, saya sedang melukis singa.” “Maksudku, bagian tubuh singa yang mana?” “Saya sedang melukis ekornya.” “Hentikan, Kawan. Ekor singa itu hampir menghentikan napasku. Lukis saja singa tanpa ekor?” Tak lama kemudian, tangan perajah mulai bermain lagi. Sekali lagi yang dirajah mengerang kesakitan. “Anggota badan singa yang mana yang sedang kamu lukis?” Perajah segera menghentikan tusukan jarum. “Saya sedang melukis telinga singa.” Orang Qazwin berteriak, “Biarkan singaku tanpa telinga. Pendekkan juga rumbai-rumbainya.” Perajah meneruskan pekerjaannya. Dan kembali si Qazwin melolong kesakitan. “Apa yang sedang kamu buat?” tanya orang Qazwin. “Saya sedang menggambar perut singa,” jawab perajah. “Hentikan. Aku ingin singa yang tidak punya perut.” Perajah tidak sabar lagi. Ia melemparkan jarum-jarumnya. “Tidak pernah ada orang seperti ini. Di mana ada singa tanpa ekor, tanpa kepala, dan tanpa perut? Tuhan pun tak menciptakan singa seperti itu.” Saya selalu terpesona dengan kisah-kisah yang dituturkan Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-nya. Seperti kebiasaannya, Rumi mengakhiri cerita dengan nasihat. Kisah ini mengajarkan keharusan kita untuk menerima penderitaan ketika kita harus meninggalkan ego (nafs) kita. Saya senang memperluas makna cerita Rumi pada segala bidang kehidupan. Anda boleh jadi sedang membangun rumah. Anda harus mengeluarkan duit banyak. Secara ekonomis, Anda menjerit. Mungkin Anda akan berkata kepada kontraktor Anda, “Pintu itu terlalu mahal. Buatkan rumah bagiku tanpa pintu. Lantai itu terlalu tinggi harganya. Bikin saja rumah tanpa lantai. Harga atap dan genting juga terlalu berat. Bangunkan rumah tanpa atap.” Kontraktor Anda akan tersenyum, “Rumah seperti apa yang harus dibangun tanpa pintu, tanpa lantai, tanpa atap, dan tanpa dinding!” Atau, Anda sedang melakukan tawar-menawar yang bersifat politik. Anda ditawari untuk menduduki jabatan, tetapi Anda tidak boleh bertindak dan mengambil keputusan tanpa seizin atasan. Anda tidak boleh mempertanyakan perbuatan bos Anda, walaupun jelas-jelas tindakan itu menghancurkan bangsa dan negara. Anda harus menutup mata dari segala penyimpangan yang terjadi di sekitar Anda. Akhirnya, Anda hanyalah seorang pembantu mirip robot yang bergerak sepenuhnya berdasarkan petunjuk orang yang memberi jabatan kepada Anda. Bila Anda menerima jabatan itu, padahal banyak wewenang Anda dipreteli, Anda sebetulnya lebih foolish dari tukang rajah atau kontraktor rumah Anda. Jabatan Anda sebetulnya gambar singa yang mengenaskan: tanpa kepala, tanpa telinga, tanpa perut, tanpa ekor. Anda menduga gambar itu membuat orang takut. Padahal, orang yang melihatnya justru jatuh iba kepada Anda. Kepada Anda perlu disampaikan tawaran Iqbal, sang penyair dari Lahore itu: “Pilihlah perut atau hati.” Bila Anda memilih perut, sebagian besar bangsa ini akan bergabung dengan Anda. Percayalah, bila Anda memilih hati, para malaikat akan turun menyertai Anda. Orang-orang yang berkata Pelindungku Allah kemudian berlaku lurus, para malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, “Janganlah kalian takut, janganlah kalian berduka. Bergembiralah dengan sorga yang telah dijanjikan kepada kalian. Kamilah pelindung kalian dalam kehidupan dunia ini dan pada hari akhirat nanti. Di situlah, kalian memperoleh apa yang kalian inginkan” (QS 41:30). JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
AdilMay 19, 2026Satu rombongan tawanan perang dari kabilah Thayyi’ dikumpulkan di depan pintu masjid. Di antara mereka, ada seorang perempuan yang cantik dan fasih bertutur. Ketika Nabi saw. lewat di hadapannya, ia berdiri, “Hai Muhammad, mengapa tidak kau lepaskan aku. Jangan kecewakan orang-orang Arab. Aku ini putri dari pemimpin kabilah yang berakhlak baik. Mendiang ayahku suka memerdekakan budak belian, menolong orang yang kekurangan, melindungi orang yang ketakutan, memberikan jamuan kepada tamu, mengenyangkan yang kelaparan, memberikan pekerjaan, dan membebaskan orang dari kesulitan. Aku putri Hâtim Thayyi’.” Nabi saw. bersabda, “Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak yang mulia. Tuhan juga mencintai akhlak yang mulia.” Abû Burdah berdiri, “Ya Rasulullah, apakah Tuhan memang mencintai akhlak yang mulia (siapa saja yang melakukannya)?” Nabi berkata, “Hai Abû Burdah, tak akan masuk surga seorang pun kecuali dengan akhlak yang baik.” Yang heran dengan pernyataan Nabi saw. bukan hanya Abû Burdah. Banyak ulama yang bingung memahami hadis ini. Yang mereka bingungkan, sebenarnya, adalah di mana harus ditempatkan orang seperti Hâtim. Soalnya, tak mungkin menempatkannya di surga, karena Hatim orang kafir. Ia tak mau beriman kepada Rasulullah saw. Tetapi, tak enak juga rasanya menempatkannya di neraka, karena ia berakhlak baik. Apalagi, Nabi mencintainya juga. Beliau menghormatinya begitu luhur, sehingga beliau membebaskan anaknya hanya karena mempertimbangkan akhlaknya. Kebingungan mereka ꟷjuga kitaꟷ bermula dari jalan pikiran yang sangat naif. Kita membagi dunia dalam dua bagian: kita orang Islam dan mereka orang kafir. Segala kebaikan ada pada kita dan segala kejahatan ada pada mereka. Surga adalah tempat kembali orang baik, dan neraka tentu saja buat orang jahat. Karena itu, kita pasti masuk surga, dan mereka pasti masuk neraka. Bila kita berakhlak jelek, kita masuk ke neraka. Itu pun sebentar saja. Kita hanya transit di sana; setelah itu, kita semua masuk surga. Adapun orang kafir, ia terbang langsung ke neraka. Pandangan sederhana seperti ini dilukiskan oleh Alquran sebagai pandangan Yahudi. Hal itu adalah korena mereka mengaku, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.” Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan (QS 3: 24). Ketika kita melihat dunia nyata, realitas tak sesederhana itu. Kita melihat, ada sebagian orang kafir yang berakhlak baik, sebagaimana kita melihat juga, ada sebagian orang Islam berakhlak jelek. Untuk mengatasi kebingungan ini, kita menemukan beberapa solusi. Pertama, kita memakai satu ukuran saja: akidah (atau apa yang kita sebut sebagai akidah). Dalam politik, kita memilih penguasa yang Muslim walaupun zalim ketimbang penguasa kafir yang adil. Dalam bisnis, kita mengambil mitra usaha Muslim, walaupun ia tak jujur, ketimbang orang kafir yang jujur. Dalam pekerjaan, kita mengangkat pegawai yang seagama dengan kita, walaupun ia bekerja ‘asal-asalan’ saja; kita tolak pegawai yang bekerja profesional, karena ia beragama lain. Terkadang polarisasi ini kita persempit lagi: di antara sesama Muslim. Kita mendahulukan orang Islam yang sepaham dengan kita, betapa pun jelek akhlaknya. Kita menjauhi orang Islam yang berbeda mazhab dengan kita, betapa pun baik akhlaknya. Kedua, kita mencari pembenaran untuk kejelekan akhlak kita; sekaligus mencari motif tersembunyi (ulterior motive) untuk kebaikan akhlak orang lain. Dengan kata lain, kita berprasangka baik bila melihat orang Islam yang jahat. Kita mengembangkan prasangka buruk bila menyaksikan orang kafir yang beramal baik. Diberitakan, bahwa si Fulan banyak melakukan korupsi. Kita segera membelanya dengan mengatakan, bahwa dia juga banyak berderma. Fulanah banyak merampas hak orang lain, tetapi bukankah ia juga banyak berzikir dan berulang-ulang naik haji. Insya Allah, ibadahnya akan menghapuskan segala kejelekannya. Disampaikan kepada kita, kisah seorang tokoh agama lain yang hidup di tengah orang-orang yang menderita. Ia menajamkan empatinya dengan belajar hidup seperti mereka. Ia mengumpulkan anak-anak terlantar di pinggir jalan. Ia memberikan makanan kepada orang yang lapar, perlindungan kepada orang yang ketakutan, rumah kepada gelandangan, dan perhatian kepada orang pinggiran. Kita segera memberikan reaksi berupa kecurigaan. Mungkin ia mempunyai motif tersembunyi. Di balik kebaikannya, ia menyimpan niat jahat. Kebaikannya hanyalah jebakan licik untuk menjerat orang yang lengah. Jangan-jangan ia adalah “aktor intelektual” di belakang semua tindakan kejahatan di dunia ini. Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu berjuang karena Allah dengan menjadi saksi-saksi keadilan. Dan janganlah kebencian kamu kepada satu kaum menyebabkan kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan takwa. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS 5:8). Berlaku adil artinya tidak menggunakan standar ganda. Katakanlah yang jahat itu jahat, walaupun dilakukan oleh kawan-kawan kita. Sebutlah yang baik itu baik, sekalipun dipraktikkan oleh musuh-musuh kita. Disampaikan kepada Nabi saw., seorang Islam yang menghabiskan malam dalam ibadat dan siang dalam puasa. Hanya saja ia suka menyakiti tetangganya. Beliau berkata, “Ia di neraka.” Ketika beliau mendengar kebaikan Hatim yang kafir dari anaknya, beliau berkata, “Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak yang mulia. Tuhan juga mencintai akhlak yang mulia.” Ya Rasulullah, berikan kami setetes keadilanmu, agar kami tak bingung menilai orang-orang di sekitar kami. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
MAKNA KEMATIANMay 9, 2026Lady Di gugur; kita mendengar kabar, satu miliar manusia di seantero bumi menangis. Tujuh jenderal meninggal; jutaan manusia di seluruh negeri ini meratap setiap tahun. Tiga puluh enam mati di jalan tol; kita melihat puluhan orang menangis di depan kamera teve. Lima ratus ribu orang ibu wafat ketika melahirkan anak di seluruh dunia; hampir tak terdengar tangisan dari mana pun. Mengapa kematian seorang Putri Wales menyebabkan sekitar satu miliar manusia menangis; tetapi wafatnya lima ratus ribu orang ibu setiap tahun tidak meneteskan air mata seorang pun? Apakah Lady Di pantas kita tangisi karena kematiannya sangat tragis, dalam kecelakaan di jalan raya? Mengapa kita tak ikut menangis untuk tiga puluh orang yang mati di jalan tol pada satu kali kecelakaan saja? Anda akan menjawab, “Lady Di dan para jenderal adalah orang-orang besar, sedangkan penumpang bis dan ibu yang melahirkan hanyalah orang-orang biasa.” Hampir setiap hari kita melihat kecelakaan bis dengan rakyat kecil sebagai penumpangnya. Hampir setiap jam kita mendengar ibu yang melahirkan meninggal, terutama di Indonesia. Perempuan bergelar lady dapat dihitung dengan jari; Lady Di cuma satu-satunya di dunia. Tentara yang mencapai pangkat jenderal masih langka; apalagi bila jenderal itu meninggal dalam peristiwa bersejarah. Kalau begitu, apakah kelangkaan yang membuat kematian menjadi sangat istimewa? Makin kurang orang semacam Anda, makin besar kemungkinan Anda akan ditangisi. Kelangkaan membuat kehilangan menjadi sangat terasa. Tetapi, ketahuilah, setiap hari, bahkan setiap detik, di dunia ini ada makhluk langka yang mati. Para pecinta lingkungan menyebutnya endangered species. Toh, kita tidak menyadarinya, apalagi menangisinya. Tangisan kita atas kematian orang lain tidak ditentukan oleh istimewa atau langkanya orang itu. Yang menentukan adalah kesadaran kita sendiri. Orang mati bisa masuk menjadi objek kesadaran kita, bisa juga tidak. Ironis sekali bahwa kita bisa jadi sangat memikirkan kematian orang lain, tapi tidak pernah menghiraukan hari akhir kita sendiri. ‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku takjub melihat orang yang tertawa ketika mengantarkan jenazah. Ia tidak tahu bahwa jenazah itu akhir hidup dia juga.” Kita sering heran melihat sapi yang asyik mengunyah makanan sambil memandang kawan-kawannya disembelih satu per satu. Anehnya, kita dengan tenang dan lahap makan dan minum, padahal kawan-kawan kita dijemput malakal maut seorang demi seorang. Kita tidak memikirkan kematian kita karena kita tidak memasukkan kematian diri kita ke dalam kesadaran kita. Dengan bantuan media, kita sadari kematian orang-orang yang jauh dari kita. Karena kematian kita tak pernah menjadi topik media, perhatian kita luput darinya. Jadi, inilah jawaban untuk pertanyaan pada awal tulisan ini: kesadaran kita akan kematian ditentukan oleh jumlah pemberitaan dalam media. Kematian Lady Di kita tangisi karena dimuat semua media besar-besaran. Sementara itu, kita cuek saja pada kematian lima ratus orang ibu di seluruh dunia karena media massa tidak memberitakannya. Pengalaman kita sangat ditentukan olen apa yang menjadi objek kesadaran kita dan bagaimana kita memberi makna pada objek kesadaran itu. Kematian Lady Di dan para jenderal menjadi objek kesadaran kita, tetapi kematian kita sendiri tidak. Nabi Muhammad saw. menyuruh kita menjadikan kematian kita sebagai objek kesadaran. “Aku tinggalkan kepada kalian dua pemberi nasihat: yang satu bicara, yang lainnya bisu. Penasihat yang berbicara adalah Alquran dan penasihat yang bisu adalah kematian.” Alquran memperingatkan kita kepada kawannya itu: Katakanlah, sesungguhnya maut yang dari situ kamu melarikan diri, sesungguhnya ia akan menemuimu juga,… (QS 62:7) Para psikolog menyebut kesadaran akan kematian sebagai gangguan kejiwaan —death anxiety. Para sufi menyebutnya sebagai pertanda perkembangan ruhani yang baik. Mûtû qabla an tamûtu— Matilah sebelum kamu mati. Kematian dapat membuat Anda resah dan sakit jiwa, seperti yang terjadi pada Sigmund Freud. Tetapi, kematian dapat membuat Anda bahagia dan berhati lapang seperti yang terjadi pada orang-orang salih. Kesadaran akan kematian berakibat berbeda pada orang yang berbeda ꟷtergantung pada bagaimana orang itu memberikan makna kepadanya. Hadis menyebutkan dua macam kematian: kematian yang membuat dirinya istirahat dan kematian yang membuat orang lain istirahat. Bagi seorang Mukmin, kematian memberinya peluang untuk beristirahat di tempat yang penuh kedamaian. Kematian adalah perpindahan dari penjara ke istana. Buat pendurhaka, kematian membuat semua makhluk beristirahat dari gangguannya. Para ahli hikmah berpesan, “Waktu Anda lahir, Anda menangis, padahal semua orang di sekitar Anda tertawa bahagia. Berkhidmatlah kepada manusia, sehingga ketika Anda mati, semua orang di sekitar Anda menangis, padahal Anda sendiri tertawa bahagia.” JR— wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Wabah EgoismeMay 4, 2026Seorang wisatawan Barat singgah di Tokyo. Ketika ia antri untuk membeli tiket kereta bawah tanah, ia melihat tumpukan uang tak bertuan di dekat loket. Ia melihat dengan heran; setiap orang yang mengambil tiket tidak menghiraukan uang itu. “Akhirnya,” lapor wisatawan itu, “saya senang ketika melihat seorang perempuan berjalan mendekati dan mengambil uang itu. Tetapi, ia membawanya kepada seseorang. Ia bertanya apakah uang itu miliknya. Ketika orang itu menjawab, “Tidak,’ ia mengembalikan uang itu ke tempat semula.” Ketika wisatawan itu ditanya mengapa ia senang melihat ada yang mengambil uang, ia menjawab, “Ya, paling tidak, masih ada orang yang normal.” Wisatawan itu menganggap bahwa orang-orang yang membiarkan uang itu sebagai abnormal, karena seharusnya mereka mengambilnya. Jadi, Anda normal kalau Anda mengambil uang orang lain untuk kepentingan Anda. Manusia normal hanya memikirkan dirinya sendiri. Egoisme adalah sifat asli manusia. Hati Anda pasti menginginkan uang itu. Kalau Anda tidak mengambilnya, Anda hipokrit. Kawan saya —yang dibesarkan dalam lembaga pendidikan Islam, tetapi sangat “modern”— sependapat dengan wisatawan itu. “Egoisme itu ‘fitrah,” katanya. Ketika komunisme jatuh di Eropa, ia berkata, “Lihat, hanya Barat yang berhasil mendatangkan kesejahteraan dan perdamaian. Komunisme jatuh karena tidak sesuai dengan fitrah manusia. Komunisme mengajarkan orang untuk menghilangkan kepentingan dirinya. Kapitalisme Barat bertahan karena berpijak pada fitrah. Fitrah manusia adalah kepentingan diri. Manusia hanya melakukan sesuatu untuk keuntungan dirinya.” Teori “manusia egois” menjadi dasar falsafah dan paradigma sains modern. George Santayana menyimpulkan pandangan ini dalam kalimat singkat, “Dorongan untuk berbuat baik … hanyalah kemunafikan yang menipu diri…. Galilah sedikit di bawah permukaan, Anda akan mendapatkan manusia yang rakus, kepala batu, dan benar-benar mementingkan diri.” Jeremy Bentham bercerita tentang manusia yang perilakunya hanya dikendalikan oleh prinsip mengejar kesenangan sendiri. Dari sinilah dirumuskan prinsip ekonomi. “Prinsip pertama dalam ekonomi ialah setiap agen hanya digerakkan oleh kepentingan dirinya,” tulis Francis Edgeworth tahun 1880-an. Seratus tahun kemudian, Dennis Mueller menulis, “Satu-satunya asumsi yang mendasari ilmu perilaku manusia yang deskriptif dan prediktif adalah egoisme.” Ekonomi tampaknya tidak membuat kemajuan yang berarti. Seluruh teori ekonomi ditegakkan di atas prinsip yang dikemukakan seratus tahun yang lampau. Ahli ekonomi mengambil homo economicus dari biologi. Dalam alam, makhluk berebut hidup. Seluruh mekanisme evolusi dimaksudkan untuk membela kepentingan diri. Hanya yang kuat yang akan menang. Dalam alam, kata para biolog, tidak ada tindakan yang dilakukan untuk menguntungkan pihak lain. Tidak ada sedekah atau amal sosial. Dari para biolog, ilmuwan sosial memungut konsep ini. Berbagai teori sosial dirumuskan. Seluruh teori psikologi yang berkaitan dengan motivasi —hampir tanpa kecuali— didasarkan pada egoisme. Kalau filosof sudah sependapat dengan ilmuwan, orang banyak meyakini pendapat itu sebagai realitas, rujukan moral, dan perspektif untuk memandang dunia. Di dunia, kita hanya melihat kerakusan, perampokan, penindasan, dan kebakhilan. Manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain. Homo homini lupus. Sekiranya kita “memergoki” manusia yang berbuat baik, kita berusaha melacaknya pada motifmotif kepentingan diri itu. Pokoknya, tidak pernah ada orang yang beramal dengan ikhlas. Namun, belakangan, orang meragukan teori “manusia egois” ini. Setiap hari kita menemukan orang yang dengan ikhlas mengorbankan kepentingan dirinya, orang yang tidak memperhatikan keselamatan dirinya ketika menolong orang lain, orang kaya yang mendermakan hartanya untuk membantu orang miskin, atau beberapa orang pejabat—betapapun sedikit jumlahnya— yang hidup sederhana dan tidak mau diajak kolusi. Alfie Kohn, dalam The Brighter Side of Human Nature, mendaftarkan sejumlah besar penelitian yang menolak teori ini.. Teori ini salah secara logis dan lemah secara empiris. Berbeda dengan kawan saya di atas dan sesuai dengan Kohn, Islam memandang manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat baik. Menurut Alquran, fitrah manusia adalah cenderung (hanif) kepada ajaran Islam: Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); fitrah Allah yang telah menciptakan manusia pada fitrah itu (QS 30: 30). Dalam tasawuf Islam, egoisme adalah penyakit hati dan tirai baja yang menghalangi manusia untuk melihat Tuhan. Ego adalah rumah sempit yang harus ditinggalkan bila manusia ingin mendekati dan bergabung dengan Dia. Siapa yang keluar dari rumahnya berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya… (QS 4: 100). Dalam psikologi Islam, manusia lebih mudah berbuat baik daripada berbuat jahat. Karena itu juga, manusia, secara psikologis, akan lebih sehat bila ia melakukan kebaikan. Ia berjalan di atas fitrahnya. Ia berperilaku yang “alamiah.” Berbuat baiklah, Anda menjadi manusia. Albert Camus, dalam novelnya yang terkenal Wabah, bercerita tentang seorang dokter yang berusaha menolong korban-korban wabah dengan membahayakan keselamatannya sendiri. Dokter itu berkata, “Aku tak tahu apa yang sedang menanti aku atau apa yang akan terjadi sekiranya ini semua berakhir. Untuk saat ini, yang aku ketahui hanya ini: ada orang-orang sakit yang perlu diobati… tak ada perkara heroisme di sini. Hanya masalah kesopanan yang biasa… Aku kira, heroisme dan kesucian tidak menarik hatiku. Yang menjadi kepentinganku hanyalah menjadi manusia, being a man.”  JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
The Corporate MysticMay 3, 2026Mistikus adalah orang yang berusaha membersihkan batinnya sehingga memperoleh pengetahuan dan kenikmatan rohaniah. Ia lebih banyak berpegang pada intuisinya ketimbang rasionya. Ia lebih mendengar hati nuraninya daripada akalnya. Mistikus adalah istilah umum untuk orang yang disebut sufi dalam Islam. Dahulu kita mencari seorang mistikus di dalam gua, di gereja tua, di sudut mesjid, atau di wihara. Kini, mistikus sejati dapat kita temui di kantor-kantor perusahaan di kota-kota besar. Paling tidak, begitu kata Guy Hendricks dan Kate Ludemann dalam The Corporate Mystic. “Perusahan dipenuhi para mistikus. Jika Anda ingin berjumpa dengan mistikus sejati, Anda akan lebih mungkin menemukan mereka di ruang direksi daripada di biara atau katedral. Anda terkejut dengan pernyataan ini? Kami juga begitu, dulu. Tetapi, selama lebih dari dua puluh lima tahun lalu, kami sudah mendatangi ruang direksi dan katedral. Kami telah menemukan bahwa mistikus yang paling baik —yakni yang mengamalkan apa yang mereka khotbahkan— dapat ditemukan di dunia bisnis. Kami kini yakin bahwa kualitas manusia yang luar biasa ini, dan prinsip-prinsip hidup mereka, akan menjadi daya pembimbing untuk perusahaan di abad kedua puluh satu.” Telah lahir makhluk baru: mistikus perusahaan. Inilah para pemimpin organisasi— sejak yayasan, perusahaan, ormas, sampai ke negara— yang akan berhasil memimpin umat manusia pada milenium ketiga. Mereka mempunyai prinsip hidup yang diwariskan oleh “orang-orang suci” sepanjang zaman. Buku The Corporate Mystic menguraikan prinsip-prinsip itu secara sederhana. “If you want to lead your enterprise into the twenty first century, read this powerful book,” kata Ken Blanchard, salah seorang penulis The One Minute Manager. Setiap pemimpin mesti berkomunikasi. Inilah salah satu prinsip komunikasi corporate mystic: janganlah berbohong. Dengan bohong, Anda kehilangan kekuatan komunikasi Anda, karena Anda tidak berbicara sepenuh hati. Secara samar-samar, orang lain mendeteksi kebohongan ini. Tanpa disengaja, mereka tidak akan mendengarkan Anda. Seorang pemimpin perusahaan berkata, “Saya sadar, bila orang-orang tidak mendengarkan saya, biasanya itu karena saya tidak menyampaikan kebenaran.” Jika Anda menyampaikan kebenaran, orang pasti mendengarkan Anda. Bagaimana jika orang mendengarkan kebohongan Anda, karena keterampilan Anda dalam melakukan rekayasa atau manipulasi? Secara etis, Anda telah mengkhianati kepercayaan orang kepada Anda. Pada akhirnya, Anda akan mendapat serangan balik yang mematikan. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Pengkhianatan yang paling besar ialah engkau menyampaikan informasi kepada saudaramu yang mereka benarkan, padahal engkau sendiri berdusta.” (Al-Bukhârî dan Abû Dawûd). Ketika kebohongan Anda ketahuan, Anda akan menderita kerugian yang jauh lebih besar dari keuntungan yang telah diperoleh. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Hampir tidak mungkin Anda mengembalikan kepercayaan mereka. Seperti cerita anak gembala, untuk beberapa kali orang berdatangan untuk menolong kita ketika kita berteriak bohong: harimau, harimau! Ketika harimau sebenarnya datang, teriakan kita tak diperhatikan orang lagi. Kita mati dicabik-cabik harimau, tanpa seorang pun bersedia memberikan pertolongan. Belakangan ini, negeri kita disobek-sobek oleh “harimau” moneter yang tidak kita ketahui dari rimba yang mana. Kita mematok harga dolar pada Rp 4.000. Esok harinya harga dolar melonjak lebih dari Rp 10.000. Kita menetapkan harganya pada Rp 5.000. Segera sesudahnya, harga dolar naik sampai dua kali lipat dari harga yang ditetapkan. Kita mengadakan kampanye cinta rupiah. Di pasar masih juga kita menemukan para pemburu dolar. Kita menjelaskan berulang kali bahwa persedian sembako cukup, tetapi pasar-pasar swalayan diserbu pembeli yang panik. Kita memberikan contoh —sambil menampilkan para ulama di pentas— dengan menyumbangkan emas. Esoknya, seseorang ditangkap di kantor bea cukai karena hendak menyelundupkan 204 kg emas ke Singapura. Mengapa di Korea, rakyat dengan tulus menyumbangkan emasnya, menjual dolarnya, dan mendukung program-program pemerintah dengan spontan dan tulus? Mengapa di Indonesia, rakyat malah melakukan hal yang sebaliknya dari apa yang dikehendaki pemerintah? Mungkin karena gembala Korea hanya berteriak harimau ketika memang ada harimau. Gembala Korea itu diketahui tak pernah menipu orang hanya untuk kesenangan dirinya. Menipu adalah konsep yang lebih luas dari berbohong. Menipu adalah ketika kita mengkomunikasikan pesan yang dimaksudkan untuk menyesatkan orang lain, atau membuat mereka percaya apa yang kita sendiri tidak percaya. “Menipu tidak hanya berbentuk kata-kata tetapi juga isyarat, penyembunyian, tindakan, tanpa tindakan, dan bahkan diam,” tulis Sissela Bok dalam Lying: Moral Choice in Public and Private Life. Menurut Bok, kebohongan dapat menambah kekuasaan pembohong. Tetapi, keuntungan itu hanya berlaku sangat temporer. Seorang pemimpin yang berhasil tak akan tergoda dengan keuntungan sementara, apalagi dengan kerugian yang besar pada waktu kemudian. Jika Anda berniat menjadi eksekutif yang sukses di abad kedua puluh satu, Anda harus menghindari kebohongan dalam bentuk apa pun. Berkata jujur atau menyampaikan kebenaran adalah akhlak para nabi, orang suci, orang salih. Nabi Muhammad saw. pernah ditanya sahabatnya, “Mungkinkah seorang Mukmin berzina?” Beliau berkata, “Mungkin saja sekali-sekali.” Beliau ditanya lagi, “Mungkinkan seorang Mukmin berbohong?” Beliau berkata, “Tidak mungkin.” Kemudian Nabi saw. membaca ayat Alquran: Sesungguhnya yang berbuat kebohongan hanyalah orang- orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta (Ad-Durr al-Mantsûr, 4:131). JR — wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id [...] Read more...
Fundamentalis versus ModernisApril 25, 2026Pada akhir abad ke-19, para teolog liberal Kristen berusaha menyesuaikan Alkitab dengan penemuan sains dan teknologi. Mereka menafsirkan kembali teks kitab suci hingga sesuai dengan perkembangan zaman. Mereka mengkritik otentisitas Bibel dan mengurangi asal-usul Ilahiahnya. Pada awal abad ke-20, lahir kelompok yang menolak paham kaum liberal. Yang menolak kaum liberal mendirikan banyak sekte, tetapi semua sepakat bahwa seorang Kristen sejati harus menerima otentisitas dan keilahian Bibel. Kisah kejadian alam semesta yang tidak ilmiah, kelahiran Yesus dari kandungan Perawan Maryam, penyaliban Kristus sebagai penebus dosa umat manusia, kedatangan kembali Kristus, semuanya adalah dasar-dasar agama yang harus diterima secara dogmatis. Tidak diperlukan dan tak boleh ada interpretasi baru. Bibel harus diterima dalam makna literalnya. Dari 1910-1915, seorang tak dikenal menerbitkan pembelaan pada dasar-dasar agama Kristen dalam dua belas risalah kecil, The Fundamentals. Dari sinilah lahir istilah fundamentalisme. Orang-orang Barat kemudian menisbatkan fundamentalisme pada kelompok-kelompok Islam yang konservatif dalam pemikiran, formalistis dalam praktik-praktik keagamaan, dan sangat literal dalam pemahaman kitab suci. Tak jarang, fundamentalisme dikenakan secara umum kepada kelompok yang menentang kepentingan Amerika, apa pun karakteristiknya dalam pemikiran. Berseberangan dengan kaum fundamentalis adalah Muslim moderat atau progresif. Mereka modern dalam pemikiran, substansial dalam praktik, dan sangat liberal dalam merujuk teks suci. Secara sederhana, orang Barat menyebut Muslim progresif kepada siapa saja yang memihak, bahkan memuja, Amerika dan para sekutunya, apa pun alirannya. Penyederhanaan ini mengacaukan makna fundamentalis. Begitu Habibie menjadi Ketua ICMI, serombongan wartawan Barat bertanya kepadanya, “Apakah Anda fundamentalis?” Segera setelah Taliban menguasai sebagian besar Afghanistan, media Barat melaporkan kemenangan kaum fundamentalis. Walhasil, fundamentalisme dikenakan kepada ilmuwan Muslim yang sangat liberal dan modern serta juga kepada santri- santri yang konservatif dan radikal. Kerancuan makna ini menimbulkan kegamangan, baik bagi orang Barat maupun orang Islam sendiri. Sebagian umat Islam yang menerima deskripsi fundamentalisme Islam dari Barat dengan tegas menolak disebut fundamentalis. Buat mereka, fundamentalisme menggambarkan keterbelakangan dan kebodohan. Ada juga sebagian umat yang bahkan bangga disebut fundamentalis. Mereka berusaha memenuhi gambaran fundamentalis seperti disajikan media Barat, betapapun karikaturalnya misalnya, memelihara cambang dan janggut, sembari menampilkan wajah masam dan galak. Sebagian lagi memandang fundamentalisme tidak relevan dalam konteks Islam. Jika pengakuan akan otentisitas Kitab Suci adalah ciri fundamentalis, semua orang Islam fundamentalis. Karena konsep fundamentalisme tidak relevan, mereka akhirnya menolak adanya kelompok fundamentalis dalam Islam. Tetapi, menafikan eksistensi fundamentalisme Islam mengaburkan pandangan kita pada realitas. K.M. Azam, penasihat ekonomi senior di PBB, menyatakan, gejala fundamentalisme itu ada. Kini, dunia Islam menjadi ajang pertarungan antara kaum fundamentalis dan kaum modernis. Pertarungan itu umumnya bersifat intelektual dan sekali-sekali mencuat secara fisikal. Bagi Azam, yang Muslim, pertarungan kedua kelompok itu, sekalipun menggoyahkan stabilitas, merupakan mekanisme kreatif yang selalu memperbaharui kehidupan umat. Ketegangan di antara kedua kelompok ini secara intelektual dapat dilihat pada lima dimensi. Pertama, transedensi-imanensi. Dalam Alquran, Tuhan digambarkan sebagai sosok Hakim Agung yang bersifat adil, keras, dan jauh dari makhluknya. Dia tidak dapat diperbandingkan dengan siapa pun. Dia transenden. Pada saat yang sama, Alquran juga menampilkan wajah Tuhan yang Mahakasih dan Mahasayang. Dia lembut, penyantun, dan dekat dengan makhluk-Nya. Dia imanen. Kaum sufi menekankan imanensi Tuhan dan, dengan demikian, memusatkan perhatiannya pada aspek spiritual Islam. Kaum fundamentalis menitikberatkan transendensi Tuhan dan, dengan begitu, memfokuskan Islam pada aspek legalnya. Kedua, keragaman-kesatuan. Kaum modernis melihat, Islam tidak datang pada sebuah vakum budaya. Islam tampil dalam berbagai bentuk, sesuai dengan budaya yang melingkupinya. Mereka mentoleransi keragaman. Kaum fundamentalis menghendaki Islam yang murni dan ideal. Mereka berjuang untuk menjalankan Islam yang universal, seperti yang dijalankan Nabi saw. dan para sahabatnya. Ketiga, keterbukaan-otentisitas. Dalam perkembangan sejarah, Islam menyerap berbagai unsur kebudayaan. Tetapi, sering muncul sikap ekstremꟷpeminjaman unsur budaya non-Islam menjadi sangat dominanꟷsehingga ajaran Islam menjadi sangat sinkretis. Kaum fundamentalis mengambil ekstrem yang lain: menolak semua unsur asing. Mereka menolak budaya lokal dan juga Westernisasi. Mereka ingin menghadirkan kembali masyarakat Nabi saw. secara utuh dalam zaman modern. Keempat, otoritas sekuler-syariat. Kaum liberal menerima semua sistem pemerintahan selama sesuai dengan tujuan syariat Islam, seperti keadilan dan kesejahteraan. Kaum fundamentalis ingin mendirikan negara Islam, yang sedapat mungkin mendekati negara yang didirikan Rasulullah saw. dalam hukum, keadilan, dan pelaksanaannya. Kelima, separatisme-universalisme. Islam sudah tersebar dalam wilayah geografis yang bermacam-macam. Kaum fundamentalis melihat umat sebagai satu kesatuan dan memperjuangkan kepemimpinan yang menduniaꟷkhilafah atau imamah. Kaum liberal mengutamakan nasionalisme daripada internasionalisme Islam. Ketegangan di antara kedua kaum itu tak boleh dilenyapkan. Seperti kata Azam, biarkan keduanya berpengaruh di tengah-tengah umat, sehingga dari benturan keduanya lahir pembaharuan yang terus-menerus. Dengan menggunakan bahasa Sachiko Murata, inilah harmoni di dalam The Tao of Islam. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Skemata JuhaApril 24, 2026Siapa saja yang pernah mempelajari sastra Arab pasti mengenal Juha. Ia, seperti si Kabayan di Jawa Barat, adalah tokoh kocak tetapi bijak, lucu tapi serius, bodoh tetapi pintar. Pada suatu hari Juha berangkat ke pasar mengendarai keledainya. Tidak jauh dari pasar, ia menambatkan keledainya dengan seutas tali. Tanpa ia ketahui, di belakangnya ada dua orang pencuri. Begitu Juha masuk ke pasar, salah seorang di antara mereka melepaskan keledai dari tali pengikatnya dan membawanya pergi. Kawannya mengikatkan tali keledai itu ke lehernya sendiri. Kembali dari pasar, Juha terkejut. Ia mendapatkan keledainya hilang. Sebagai gantinya, ia melihat orang tidak dikenal terikat dengan tali keledainya. “Siapa Anda?” tanya Juha. Orang itu merunduk seperti sedih dan malu, “Saya ini keledai yang Bapak miliki. Dahulu saya durhaka kepada orang tua. Saya diubah Tuhan menjadi keledai. Hari ini orang tua saya sudah memaafkan saya. Dan, Tuhan mengembalikan saya kepada bentuk semula.” Juha jatuh iba. Ia melepaskan orang itu. Sambil memberi uang untuk bekal pulang, ia memberi nasihat, “Jadikan kehidupan yang lalu sebagai pelajaran berharga. Jangan sekali-kali menyakiti hati orang tua.” Keesokan harinya Juha ke pasar lagi. Ia terkejut, seorang tak dikenal lainnya sedang menawarkan keledainya. Juha, yang telah memiliki keledai itu bertahun-tahun, tentu saja mengenalnya dengan baik. Segera ia mendekati keledainya. Ia berbisik di telinganya, “Sudah kuperingatkan kamu jangan durhaka kepada orang tua. Baru sehari aku bebaskan kamu sudah melakukan dosa yang sama. Sekarang rasakan saja hukuman kamu.” Juha pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Banyak orang seperti Juha. Ia mudah ditipu, tetapi sulit disadarkan bahwa ia ditipu. Bukti-bukti yang menunjukkan penipuan malah dipertahankan untuk menunjukkan kebenaran. Salah satu teknik menipu yang paling efektif adalah membuat cerita. Cerita menjadi kerangka berpikir kita untuk memandang dan menafsirkan dunia. Dalam istilah teknis psikologi kognitif, cerita menjadi “skemata,” yakni kerangka teori untuk meletakkan berbagai peristiwa yang disaksikan. Para ahli ilmu politik menyebutnya mitos atau ideologi. Dalam dunia politik, para pencuri—negara, kekayaan, atau kemenangan selalu menipu kita dengan cerita. Orde Baru membuat cerita tentang kejahatan PKI. Semua hal yang buruk—memfitnah, membuat kerusuhan, mengadu-domba, merekayasa, menyiksa dengan kejam—dinisbatkan kepada PKI. Tragedi Tanjung Priok pada 1984, menurut salah seorang petinggi militer waktu itu, digerakkan oleh gerombolan G-30- S/PKI. Buruh yang berdemonstrasi menuntut haknya didalangi PKI. Setiap orang yang membela rakyat kecil dan menyuarakan keberanian disebut PKI. Pada suatu waktu terbukti bahwa ada pentolan pembela rakyat kecil yang seorang anak haji dan sangat taat beragama. PKI tidak mungkin beragama. Bagaimana menjelaskan ini? Dengan cepat kita mengambil kesimpulan: telah terjadi penyusupan PKI pada kalangan umat beragama. Kita memberi nasihat: Hati-hati bahaya PKI. Orde Baru anti-PKI; tetapi kita menemukan para tokoh Orde Baru yang memfitnah, merekayasa, atau mengadu domba. Kita tidak menyalahkan Orde Baru. Kita berkata bahwa ada praktik-praktik PKI. Namun, yang suka menipu kita bukan hanya politisi. Para tokoh agama menipu kita juga dengan cerita. Menurut kisah yang ramai pada satu kalangan, Bapak Fulan, pemimpin kalangan itu, adalah wali Allah. Wali Allah tentu sangat taat beribadah. Seorang pengikutnya memergoki dia sepanjang hari tidak salat. Ia bingung dan melaporkan kejadian itu kepada gurunya. Sang Kiai segera menjelaskan, “Kamu itu apa, sih? Dia itu wali, salatnya tidak kelihatan orang. Ia tidak terikat lagi dengan syariat.” Tidak salat yang sepatutnya menjadi tanda bukan wali malah makin mempertegas kewalian. Yang baru disebut mungkin dimensi positif dari mitos gerakan keagamaan. Kesetiaan kepada pemimpin dapat dipertahankan—apa pun yang dilakukan pemimpin itu. Pada kelompok yang tidak punya mitos ini, kesalahan anak kiai saja dapat menghancurkan seluruh reputasinya. Pada konflik antar kelompok, mitos menampilkan dimensi negatifnya. Katakanlah, satu kelompok Islam dianggap sesat, fasik, tukang maksiat. Pada suatu waktu diketahui bahwa kelompok itu mendakwahkan hal-hal yang baik, berakhlak mulia, dan menjaga diri mereka dari perbuatan dosa. Kejadian ini seharusnya menyadarkan orang bahwa kelompok itu tidak seperti yang mereka gambarkan. Tetapi, seperti Juha, kita berkata, “Hati-hati dengan mereka. Mereka pandai berpura-pura. Akhlaknya yang baik hanyalah cara yang halus untuk menjerumuskan kita ke dalam kesesatan.” Satu-satunya cara untuk menghindarkan tipuan ialah membuang kebiasaan untuk mudah percaya kepada orang, hanya karena orang itu berstatus tinggi. Kita harus melatih berpikir kritis, terutama setelah terlalu lama kita dijejali dengan doktrin-doktrin yang tidak boleh dipertanyakan. Kita harus mengubah mitos bahwa orang baik ialah orang yang patuh tanpa reserve. “Ketika kita memikirkan malaikat,” kata Dr Jeffrey Lang dalam Even Angels Ask, “kita membayangkan makhluk yang damai, bersih, suci dalam penyerahan yang sempurna dan bahagia kepada Tuhan. Merekalah teladan kita, yang ingin kita tiru. Namun, malaikat dalam Alquran mirip manusia biasa. Mereka bertanya, “Mengapa Engkau jadikan di bumi orang yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih kepada-Mu dengan puji-Mu dan mensucikan-Mu.” Malaikat yang sudah sangat patuh kepada Tuhan masih mempertanyakan rencana Tuhan; padahal Tuhan Mahasempurna dan Mahatahu. Bukankah wajib bagi kita mempertanyakan cerita siapa pun di antara makhluk-Nya yang sudah pasti mempunyai kekurangan dan ketidaktahuan? JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Pedagang TabrizApril 22, 2026Seorang pedagang kaya dari Tabriz singgah di Qonya, Turki. Ia bertanya kepada para wakilnya, siapa orang yang paling faqih dan salih di negeri itu. Ia ingin berkunjung kepadanya untuk memberikan penghormatan. “Saya bepergian jauh ke setiap negeri bukan hanya untuk cari uang. Saya ingin juga berkenalan dengan orang-orang mulia di setiap kota.” Wakilnya membawa dia kepada Syaikh al-Islam, yang terkenal karena ilmu dan kesalihannya. Ia memilih barang-barang berharga di tokonya seharga tiga puluh sequin. Rombongannya segera pergi menuju alim besar itu. Sang saudagar menemukan ulama itu tinggal di istana yang megah. Ada pengawal di pintu gerbang dan sejumlah besar pelayan, petugas, dan pembantu di ruang tengahnya. Sambil melirik ke para pengantarnya, ia menanyakan apakah mereka tidak membawanya ke istana raja. Ia sangat tidak suka dengan apa yang dilihatnya. Ia mempersembahkan hadiahnya. Kemudian ia bertanya, apakah sang ulama berkenan mengatasi keraguan yang mengusik hatinya. Ia berkata, “Beberapa waktu lalu, saya menderita kerugian besar. Dapatkah Anda menunjukkan jalan bagaimana saya menghindari posisi sulit ini? Saya selalu membayar dua setengah persen zakat mal setiap tahun. Selain itu, saya juga membagikan sedekah semampu saya. Saya tak mengerti mengapa saya mengalami kerugian.” Ulama besar itu tidak memberikan jawaban memuaskan. Akhirnya, saudagar itu meninggalkan tempat tanpa memperoleh jawaban. Pada hari berikutnya, ia bertanya kepada kawan- kawannya apakah di kota itu ada alim miskin yang kesalihannya menjadi teladan orang. Ia ingin memberikan penghormatan kepadanya. Mungkin ia bisa memperoleh pelajaran yang telah lama diinginkannya, berikut nasihat yang berguna baginya. Mereka menjawab, “Orang yang Anda cari seperti yang Anda gambarkan adalah pemimpin kami, Jalaluddin Rûmî. Ia sudah meninggalkan segala kenikmatan, kecuali kecintaanya kepada Tuhan. Bukan saja sudah tidak memperhatikan masalah duniawi, ia juga sudah tak merisaukan apa yang akan terjadi nanti. Ia menghabiskan malam dan siangnya untuk beribadat kepada Allah. Ia sudah menjadi lautan ilmu, baik pengetahuan lahiriah maupun pengetahuan rohaniah.” Pedagang Tabriz sangat tertarik dengan informasi itu. Ia mohon dipertemukan dengan orang suci itu. Sekadar penyebutan akhlaknya saja sudah membahagiakan hatinya. Lalu, mereka membawanya ke pesantren Jalâl. Sebelumnya, ia sudah mempersiapkan hadiah seharga lima puluh sequin dalam bentuk emas, untuk diberikan kepada sang wali. Ketika ia sampai di pesantrennya, Jalâl sedang duduk sendirian di tempat mengajar, asyik membaca kitab. Rombongan tamu itu membungkuk dengan penuh hormat. Pedagang itu betul-betul terpukau melihat guru yang sangat berwibawa itu. Ia begitu terpesona sehingga tak sanggup membendung tangisannya dan tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Jalâl menyapanya, “Lima puluh sequin yang telah kau sediakan untukku, kuterima. Tetapi, lebih baik lagi dari itu adalah dua ratus sequin kerugianmu. Allah telah menentukan untuk memberikan kepadamu keputusan yang pahit dan ujian yang berat. Dengan kunjunganmu ke sini, Tuhan telah mengampunimu dan cobaan itu telah dihilangkan darimu. Jangan berduka. Setelah ini selanjutnya kamu tak akan menderita kerugian lagi. Apa yang telah kau derita akan diganti Tuhan.” Pedagang itu sangat takjub mendengarkan kata-kata Jalal dan sekaligus bahagia. Lebih bahagia lagi, ketika Jalâl menerusan pembicaraannya: “Penyebab kerugian dan kemalangan yang kamu derita akan kuceritakan. Kamu pernah berada di sebelah barat Firengistan (Eropa). Di situ kamu pergi ke salah satu bagian kota. Kamu melihat seorang Firengi yang miskin, salah seorang di antara wali Allah yang besar dan sangat dicintai-Nya. Ia berbaring di sudut pasar. Ketika kamu melewatinya, kamu meludahinya, menunjukkan kebencianmu kepadanya. Hatinya terluka karena tindakan dan perilakumu. Inilah peristiwa yang menyebabkan semua musibah yang menimpamu. Pergilah kamu sekarang. Sambungkan silaturahmi dengan dia. Mintakan maaf kepadanya serta sampaikan salam kami.” Saudagar Tabriz terpaku membisu. Jalâl kemudian bertanya kepadanya, “Maukah aku tunjukkan kepadamu keadaan dia sekarang?” Sambil berkata begitu, ia meletakkan tangannya pada dinding pesantren. Ia menyuruh saudagar melihatnya. Tiba-tiba, jalan keluar terbuka. Saudagar itu melihat orang di Firengistan, terbaring masih di sudut pasar. Setelah menyaksikan semua itu, ia bersujud dan menyobek-nyobek jubahnya. Ia meninggalkan tempat Jalâl dalam keadaan galau, Segera sesudah itu, tanpa berlama-lama, ia berangkat menuju kota yang dimaksud. Ia menanyakan lokasi kota yang di situ ada orang miskin berbaring. Ia menemukan dia masih berbaring persis seperti diperlihatkan Jalâl kepadanya, Saudagar itu turun dari kudanya, merebahkan dirinya di hadapan orang Firengi, (meminta maaf atas kelakuannya sebelumnya). Kisah di atas diceritakan oleh Syamsuddin Ahmad Al-Aflaki dalam Manaqib al-Arifin. Ia membawa kita bukan saja kepada dunia Sufi yang mengherankan, tetapi juga membuat kita mempertanyakan cara kita memandang berbagai kejadian di dunia ini. Kita adalah makhluk yang selalu diusik untuk mencari jawaban tentang sebab di balik berbagai peristiwa. Biasanya kita mencarinya pada rangkaian sebab-akibat yang paling dekat. Mengapa terjadi musibah moneter? Pengaruh berita yang kita dengar, kebijakan pemerintah yang setengah-setengah, ulah spekulan yang tidak bertanggung jawab, atau apa? Seringkali berbagai penjelasan itu tetap membingungkan kita. Dalam situasi seperti itu kita berkata, “Ini sudah tidak masuk akal.” Profesor Mohammad Sadali, pakar ekonomi, berkata jujur, “Ini tidak bisa diterangkan secara ekonomi, karena penyebabnya bukan faktor ekonomi.” Mungkin kita harus bertanya kepada orang seperti Jalaluddin Rumi. Jangan-jangan sebabnya sama: Kita pernah melewati rakyat miskin dan meludahi mereka. Rebahkan dirimu di hadapan mereka. Bersihkan tubuh mereka yang kumuh dengan air matamu. Mudah-mudahan Allah mengganti kerugianmu selama ini dengan anugerah-Nya. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Al-Ghawghâ’April 21, 2026Akhir pemerintahan Khalifah ‘Utsmân r.a. ditandai dengan kerusuhan sosial. Orang banyak berkumpul di ibu kota, berasal dari berbagai penjuru, siap untuk melakukan sesuatu. Suatu hari kerusuhan terjadi. ‘Ustmân terbunuh. Sesudah itu, para perusuh perlahan-lahan menghilang, kembali ke tempatnya masing-masing. ‘Ali bin Abi Thalib, yang kemudian memimpin pemerintahan, menyebut peristiwa di atas sebagai fitnah, huru-hara besar, dan orang banyak yang terlibat di dalamnya sebagai al-ghawgha”. Al-Ghawgha’ adalah gerakan massa yang anonim, dan tidak diketahui siapa pemimpinnya. Mereka berkumpul hanya karena diikat oleh kemarahan yang sama. Biasanya sasaran kemarahan itu ialah “the power that be.” Sosiologi modern menyebutnya “crowd.” Jauh sebelum Gustave le Bon melukiskan watak al- ghawgha’ dalam psychologie des foules, ‘Ali menjelaskan karakternya secara puitis: “Mereka adalah kelompok orang yang bila berkumpul membahayakan, bila berpisah menguntungkan.” Orang-orang bertanya, “Kami mengerti bahaya kumpulan mereka, tetapi apa manfaat perpisahan mereka.” Ali menjelaskan, “Yang punya kerja kembali ke tempat bekerjanya, sehingga mendatangkan manfaat kepada masyarakat, seperti kembalinya tukang bangunan ke tempat bangunan, tukang tenun ke pertenunan, dan tukang roti ke dapur pembuatan roti.” Jadi, al-ghaugha’ adalah kumpulan manusia biasa, kerumunan orang-orang normal. Tetapi, sebuah kekuatan “misterius” mengumpulkan mereka, dan menjadikan mereka beringas. Sebelum menjadi al-ghawgha’, mereka adalah warga masyarakat yang memberikan kontribusinya masing-masing pada masyarakatnya. Setelah menjadi al-ghawgha, mereka kehilangan norma, tunduk pada kemauan massa seakan-akan mereka dihipnotis. Perilaku salah seorang “anggota” kumpulan-sebetulnya tidak pas disebut demikian dengan mudah menular kepada “anggota” yang lain. Dalam al-ghawgha, “Manusia turun beberapa anak-tangga peradaban,” kata le Bon. Khalifah al-Ma’mun berkata, “Setiap kejelekan dan kezaliman di dunia ini berasal dari al-ghawgha“. Merekalah pembunuh para Nabi. Mereka memecah-belah para ulama, mengadu-domba di antara orang-orang yang saling bercinta. Di antara mereka ada para pencuri, perampok, orang-orang sombong, yang membawa fitnah kepada penguasa.” Tentu saja, al-Ma’mun terlalu ekstrem. Tidak semua kejelekan berasal dari al-ghawghâ’. Lagipula, bukankah mereka pada awalnya dan sesudahnya adalah anggota-anggota masyarakat yang berjasa? Al-Ghawgha’ tidak dengan sendirinya jelek; ia sendiri akibat dari “sesuatu” yang jelek. Al-Ma’mun pun akan berlaku begitu juga sekiranya ia dihadapkan kepada apa yang dihadapi al-ghawghd”. “Sesuatu” itu bisa jadi keresahan sosial yang merata, ketika orang tidak tahu kepada siapa lagi mereka mencari perlindungan. Mungkin juga “sesuatu” itu perasaan tidak berdaya sebagai individu ketika berhadapan dengan sistem yang menindasnya. Tiba-tiba, dalam kumpulan, mereka merasakan kekuatan yang hilang dalam kesendirian. Atau, “sesuatu” itu hanyalah kepentingan politik segelintir orang. Mereka “menciptakan” al-ghawghâ’ untuk memancing di air keruh, atau melempar batu sembunyi tangan. Karena itu, ‘Ali menyebut kerusuhan sosial yang diakibatkan al-ghawgha’ sebagai fitnah. Fitnah dalam bahasa Arab berarti ujian, cobaan, musibah. Ketika kita berhadapan dengan al-ghawgha’, kita disuruh berhati-hati. Alquran memperingatkan: Takutilah fitnah yang tidak akan menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu saja,… (QS 8:25). Karena fitnah itu ujian, ia menguji kita apakah kita bisa tetap arif, berpikir jernih, tidak emosional; pendeknya, kita harus tetap normal. Pernah seorang Walikota Palestina (sebelum perjanjian Rabin-Arafat) diledakkan kendaraannya. Mobilnya hancur dan ia kehilangan kedua kakinya. Ketika ia masuk kantor lagi, seorang di antara para perusuh Israel mengejek tubuhnya yang sudah tidak berkaki lagi. Walikota itu berkata, “Aku sudah kehilangan kakiku, tetapi kamu sudah kehilangan kepalamu (I have lost my legs, but you have lost your head).” Memang, yang pertama hilang dalam kerusuhan adalah akal sehat. Namun, kita masih maklum bila yang kehilangan “kepala” itu adalah para perusuh. Yang tragis ialah bila orang-orang yang tidak terlibat dalam al-għawgha’ juga mulai menyerang ke sana kemari, tanpa mempedulikan apakah pembicaraannya masih logis. Masuk akal kalau rakyat kecil dalam kerumunan orang bodoh kehilangan kontrol, tetapi ganjil betul kalau walikota dalam kelompok ahlinya berbuat yang sama. Sungguh, ucapan tokoh Palestina itu bukan saja penuh kearifan, tetapi juga penuh pelajaran. Kerusuhan demi kerusuhan akan terus terjadi sepanjang sejarah. Korban-korban sudah berjatuhan, dan bukan hanya menimpa orang zalim saja. Kerusuhan bukan saja telah menghancurkan satu peradaban; ia juga telah melahirkan peradaban baru. Setelah kerusuhan, manusia akan semakin arif. Manusia kembali kepada kemanusiaannya, sama seperti tukang bangunan kembali kepada bangunannya, tukang tenun ke pertenunannya. Dari keping-keping kehancuran, umat manusia membangun gedung baru yang lebih bagus. Dengan menggunakan teori “dissipative structure” dari Ilya Prygogyne, dari kerusuhan, suatu masyarakat “melarikan diri ke tatanan yang lebih tinggi” (escape into a higher order). Jadi, apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi kerusuhan? ‘Ali bin Abî Thâlib memberikan nasihat, “Dalam fitnah, jadilah engkau seperti ibn al-labun, yakni unta berusia dua tahun, yang punggungnya tidak cukup kuat untuk dikendarai dan susunya belum bisa untuk diperah. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...

Buku Karya KH. Jalaluddin Rakhmat

« of 2 »

Videografi

This error message is only visible to WordPress admins

Unable to retrieve new videos without an API key.

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

Audiografi

UJR-MFR

“Jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun”

​KH. Jalaluddin Rakhmat
@katakangjalal

Contact Jalan Rahmat

Jl. Kampus II No. 13-15. Kiaracondong. Bandung