Warisan intelektual

untuk perkhidmatan

dan pencerahan pemikiran

Quotes
0
Articles
0
Videos
0
Audios
0

Jalan Rahmat

Misi Kami

Di Jalan Rahmat, kami berusaha menghadirkan kembara intelektual itu. Perjalanan dan pengelanaan beliau mengarungi ‘jagat’ semesta itu. Ada dokumentasi karya beliau. Puluhan buku, ratusan artikel, ribuan ceramah. Ada rekaman audio dan video. Ada pula karya-karya para guru bangsa, baik sahabat karib Allah yarham, para intelektual sezaman, maupun karya-karya para ulama besar yang mempengaruhi jagat kembara intelektual beliau. Jalan Rahmat adalah sebuah digital library yang ingin menghadirkan kembali semangat intelektual itu.

Jalaludin Rakhmat - Tauziah
Digilib

Donasi dan Beasiswa

Donasi dan Beasiswa untuk sekolah, madrasah, klinik, dan ragam kegiatan lainnya.

tauziyah

Digital Library

Kumpulan Ceramah, Artikel, Buku, Video dari para Guru Bangsa.

healthcare

Jalan Kecintaan

Warisan terutama dan teramat berharga dari Allah yarham adalah mengantarkan kami dan kita semua pada jalan menuju kerinduan dan kecintaan Sang Rahmatan lil ‘alamin. Itulah makna Jalan Rahmat yang sesungguhnya.

Latest Post

Fundamentalis versus ModernisApril 25, 2026Pada akhir abad ke-19, para teolog liberal Kristen berusaha menyesuaikan Alkitab dengan penemuan sains dan teknologi. Mereka menafsirkan kembali teks kitab suci hingga sesuai dengan perkembangan zaman. Mereka mengkritik otentisitas Bibel dan mengurangi asal-usul Ilahiahnya. Pada awal abad ke-20, lahir kelompok yang menolak paham kaum liberal. Yang menolak kaum liberal mendirikan banyak sekte, tetapi semua sepakat bahwa seorang Kristen sejati harus menerima otentisitas dan keilahian Bibel. Kisah kejadian alam semesta yang tidak ilmiah, kelahiran Yesus dari kandungan Perawan Maryam, penyaliban Kristus sebagai penebus dosa umat manusia, kedatangan kembali Kristus, semuanya adalah dasar-dasar agama yang harus diterima secara dogmatis. Tidak diperlukan dan tak boleh ada interpretasi baru. Bibel harus diterima dalam makna literalnya. Dari 1910-1915, seorang tak dikenal menerbitkan pembelaan pada dasar-dasar agama Kristen dalam dua belas risalah kecil, The Fundamentals. Dari sinilah lahir istilah fundamentalisme. Orang-orang Barat kemudian menisbatkan fundamentalisme pada kelompok-kelompok Islam yang konservatif dalam pemikiran, formalistis dalam praktik-praktik keagamaan, dan sangat literal dalam pemahaman kitab suci. Tak jarang, fundamentalisme dikenakan secara umum kepada kelompok yang menentang kepentingan Amerika, apa pun karakteristiknya dalam pemikiran. Berseberangan dengan kaum fundamentalis adalah Muslim moderat atau progresif. Mereka modern dalam pemikiran, substansial dalam praktik, dan sangat liberal dalam merujuk teks suci. Secara sederhana, orang Barat menyebut Muslim progresif kepada siapa saja yang memihak, bahkan memuja, Amerika dan para sekutunya, apa pun alirannya. Penyederhanaan ini mengacaukan makna fundamentalis. Begitu Habibie menjadi Ketua ICMI, serombongan wartawan Barat bertanya kepadanya, “Apakah Anda fundamentalis?” Segera setelah Taliban menguasai sebagian besar Afghanistan, media Barat melaporkan kemenangan kaum fundamentalis. Walhasil, fundamentalisme dikenakan kepada ilmuwan Muslim yang sangat liberal dan modern serta juga kepada santri- santri yang konservatif dan radikal. Kerancuan makna ini menimbulkan kegamangan, baik bagi orang Barat maupun orang Islam sendiri. Sebagian umat Islam yang menerima deskripsi fundamentalisme Islam dari Barat dengan tegas menolak disebut fundamentalis. Buat mereka, fundamentalisme menggambarkan keterbelakangan dan kebodohan. Ada juga sebagian umat yang bahkan bangga disebut fundamentalis. Mereka berusaha memenuhi gambaran fundamentalis seperti disajikan media Barat, betapapun karikaturalnya misalnya, memelihara cambang dan janggut, sembari menampilkan wajah masam dan galak. Sebagian lagi memandang fundamentalisme tidak relevan dalam konteks Islam. Jika pengakuan akan otentisitas Kitab Suci adalah ciri fundamentalis, semua orang Islam fundamentalis. Karena konsep fundamentalisme tidak relevan, mereka akhirnya menolak adanya kelompok fundamentalis dalam Islam. Tetapi, menafikan eksistensi fundamentalisme Islam mengaburkan pandangan kita pada realitas. K.M. Azam, penasihat ekonomi senior di PBB, menyatakan, gejala fundamentalisme itu ada. Kini, dunia Islam menjadi ajang pertarungan antara kaum fundamentalis dan kaum modernis. Pertarungan itu umumnya bersifat intelektual dan sekali-sekali mencuat secara fisikal. Bagi Azam, yang Muslim, pertarungan kedua kelompok itu, sekalipun menggoyahkan stabilitas, merupakan mekanisme kreatif yang selalu memperbaharui kehidupan umat. Ketegangan di antara kedua kelompok ini secara intelektual dapat dilihat pada lima dimensi. Pertama, transedensi-imanensi. Dalam Alquran, Tuhan digambarkan sebagai sosok Hakim Agung yang bersifat adil, keras, dan jauh dari makhluknya. Dia tidak dapat diperbandingkan dengan siapa pun. Dia transenden. Pada saat yang sama, Alquran juga menampilkan wajah Tuhan yang Mahakasih dan Mahasayang. Dia lembut, penyantun, dan dekat dengan makhluk-Nya. Dia imanen. Kaum sufi menekankan imanensi Tuhan dan, dengan demikian, memusatkan perhatiannya pada aspek spiritual Islam. Kaum fundamentalis menitikberatkan transendensi Tuhan dan, dengan begitu, memfokuskan Islam pada aspek legalnya. Kedua, keragaman-kesatuan. Kaum modernis melihat, Islam tidak datang pada sebuah vakum budaya. Islam tampil dalam berbagai bentuk, sesuai dengan budaya yang melingkupinya. Mereka mentoleransi keragaman. Kaum fundamentalis menghendaki Islam yang murni dan ideal. Mereka berjuang untuk menjalankan Islam yang universal, seperti yang dijalankan Nabi saw. dan para sahabatnya. Ketiga, keterbukaan-otentisitas. Dalam perkembangan sejarah, Islam menyerap berbagai unsur kebudayaan. Tetapi, sering muncul sikap ekstremꟷpeminjaman unsur budaya non-Islam menjadi sangat dominanꟷsehingga ajaran Islam menjadi sangat sinkretis. Kaum fundamentalis mengambil ekstrem yang lain: menolak semua unsur asing. Mereka menolak budaya lokal dan juga Westernisasi. Mereka ingin menghadirkan kembali masyarakat Nabi saw. secara utuh dalam zaman modern. Keempat, otoritas sekuler-syariat. Kaum liberal menerima semua sistem pemerintahan selama sesuai dengan tujuan syariat Islam, seperti keadilan dan kesejahteraan. Kaum fundamentalis ingin mendirikan negara Islam, yang sedapat mungkin mendekati negara yang didirikan Rasulullah saw. dalam hukum, keadilan, dan pelaksanaannya. Kelima, separatisme-universalisme. Islam sudah tersebar dalam wilayah geografis yang bermacam-macam. Kaum fundamentalis melihat umat sebagai satu kesatuan dan memperjuangkan kepemimpinan yang menduniaꟷkhilafah atau imamah. Kaum liberal mengutamakan nasionalisme daripada internasionalisme Islam. Ketegangan di antara kedua kaum itu tak boleh dilenyapkan. Seperti kata Azam, biarkan keduanya berpengaruh di tengah-tengah umat, sehingga dari benturan keduanya lahir pembaharuan yang terus-menerus. Dengan menggunakan bahasa Sachiko Murata, inilah harmoni di dalam The Tao of Islam. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Skemata JuhaApril 24, 2026Siapa saja yang pernah mempelajari sastra Arab pasti mengenal Juha. Ia, seperti si Kabayan di Jawa Barat, adalah tokoh kocak tetapi bijak, lucu tapi serius, bodoh tetapi pintar. Pada suatu hari Juha berangkat ke pasar mengendarai keledainya. Tidak jauh dari pasar, ia menambatkan keledainya dengan seutas tali. Tanpa ia ketahui, di belakangnya ada dua orang pencuri. Begitu Juha masuk ke pasar, salah seorang di antara mereka melepaskan keledai dari tali pengikatnya dan membawanya pergi. Kawannya mengikatkan tali keledai itu ke lehernya sendiri. Kembali dari pasar, Juha terkejut. Ia mendapatkan keledainya hilang. Sebagai gantinya, ia melihat orang tidak dikenal terikat dengan tali keledainya. “Siapa Anda?” tanya Juha. Orang itu merunduk seperti sedih dan malu, “Saya ini keledai yang Bapak miliki. Dahulu saya durhaka kepada orang tua. Saya diubah Tuhan menjadi keledai. Hari ini orang tua saya sudah memaafkan saya. Dan, Tuhan mengembalikan saya kepada bentuk semula.” Juha jatuh iba. Ia melepaskan orang itu. Sambil memberi uang untuk bekal pulang, ia memberi nasihat, “Jadikan kehidupan yang lalu sebagai pelajaran berharga. Jangan sekali-kali menyakiti hati orang tua.” Keesokan harinya Juha ke pasar lagi. Ia terkejut, seorang tak dikenal lainnya sedang menawarkan keledainya. Juha, yang telah memiliki keledai itu bertahun-tahun, tentu saja mengenalnya dengan baik. Segera ia mendekati keledainya. Ia berbisik di telinganya, “Sudah kuperingatkan kamu jangan durhaka kepada orang tua. Baru sehari aku bebaskan kamu sudah melakukan dosa yang sama. Sekarang rasakan saja hukuman kamu.” Juha pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Banyak orang seperti Juha. Ia mudah ditipu, tetapi sulit disadarkan bahwa ia ditipu. Bukti-bukti yang menunjukkan penipuan malah dipertahankan untuk menunjukkan kebenaran. Salah satu teknik menipu yang paling efektif adalah membuat cerita. Cerita menjadi kerangka berpikir kita untuk memandang dan menafsirkan dunia. Dalam istilah teknis psikologi kognitif, cerita menjadi “skemata,” yakni kerangka teori untuk meletakkan berbagai peristiwa yang disaksikan. Para ahli ilmu politik menyebutnya mitos atau ideologi. Dalam dunia politik, para pencuri—negara, kekayaan, atau kemenangan selalu menipu kita dengan cerita. Orde Baru membuat cerita tentang kejahatan PKI. Semua hal yang buruk—memfitnah, membuat kerusuhan, mengadu-domba, merekayasa, menyiksa dengan kejam—dinisbatkan kepada PKI. Tragedi Tanjung Priok pada 1984, menurut salah seorang petinggi militer waktu itu, digerakkan oleh gerombolan G-30- S/PKI. Buruh yang berdemonstrasi menuntut haknya didalangi PKI. Setiap orang yang membela rakyat kecil dan menyuarakan keberanian disebut PKI. Pada suatu waktu terbukti bahwa ada pentolan pembela rakyat kecil yang seorang anak haji dan sangat taat beragama. PKI tidak mungkin beragama. Bagaimana menjelaskan ini? Dengan cepat kita mengambil kesimpulan: telah terjadi penyusupan PKI pada kalangan umat beragama. Kita memberi nasihat: Hati-hati bahaya PKI. Orde Baru anti-PKI; tetapi kita menemukan para tokoh Orde Baru yang memfitnah, merekayasa, atau mengadu domba. Kita tidak menyalahkan Orde Baru. Kita berkata bahwa ada praktik-praktik PKI. Namun, yang suka menipu kita bukan hanya politisi. Para tokoh agama menipu kita juga dengan cerita. Menurut kisah yang ramai pada satu kalangan, Bapak Fulan, pemimpin kalangan itu, adalah wali Allah. Wali Allah tentu sangat taat beribadah. Seorang pengikutnya memergoki dia sepanjang hari tidak salat. Ia bingung dan melaporkan kejadian itu kepada gurunya. Sang Kiai segera menjelaskan, “Kamu itu apa, sih? Dia itu wali, salatnya tidak kelihatan orang. Ia tidak terikat lagi dengan syariat.” Tidak salat yang sepatutnya menjadi tanda bukan wali malah makin mempertegas kewalian. Yang baru disebut mungkin dimensi positif dari mitos gerakan keagamaan. Kesetiaan kepada pemimpin dapat dipertahankan—apa pun yang dilakukan pemimpin itu. Pada kelompok yang tidak punya mitos ini, kesalahan anak kiai saja dapat menghancurkan seluruh reputasinya. Pada konflik antar kelompok, mitos menampilkan dimensi negatifnya. Katakanlah, satu kelompok Islam dianggap sesat, fasik, tukang maksiat. Pada suatu waktu diketahui bahwa kelompok itu mendakwahkan hal-hal yang baik, berakhlak mulia, dan menjaga diri mereka dari perbuatan dosa. Kejadian ini seharusnya menyadarkan orang bahwa kelompok itu tidak seperti yang mereka gambarkan. Tetapi, seperti Juha, kita berkata, “Hati-hati dengan mereka. Mereka pandai berpura-pura. Akhlaknya yang baik hanyalah cara yang halus untuk menjerumuskan kita ke dalam kesesatan.” Satu-satunya cara untuk menghindarkan tipuan ialah membuang kebiasaan untuk mudah percaya kepada orang, hanya karena orang itu berstatus tinggi. Kita harus melatih berpikir kritis, terutama setelah terlalu lama kita dijejali dengan doktrin-doktrin yang tidak boleh dipertanyakan. Kita harus mengubah mitos bahwa orang baik ialah orang yang patuh tanpa reserve. “Ketika kita memikirkan malaikat,” kata Dr Jeffrey Lang dalam Even Angels Ask, “kita membayangkan makhluk yang damai, bersih, suci dalam penyerahan yang sempurna dan bahagia kepada Tuhan. Merekalah teladan kita, yang ingin kita tiru. Namun, malaikat dalam Alquran mirip manusia biasa. Mereka bertanya, “Mengapa Engkau jadikan di bumi orang yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih kepada-Mu dengan puji-Mu dan mensucikan-Mu.” Malaikat yang sudah sangat patuh kepada Tuhan masih mempertanyakan rencana Tuhan; padahal Tuhan Mahasempurna dan Mahatahu. Bukankah wajib bagi kita mempertanyakan cerita siapa pun di antara makhluk-Nya yang sudah pasti mempunyai kekurangan dan ketidaktahuan? JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Pedagang TabrizApril 22, 2026Seorang pedagang kaya dari Tabriz singgah di Qonya, Turki. Ia bertanya kepada para wakilnya, siapa orang yang paling faqih dan salih di negeri itu. Ia ingin berkunjung kepadanya untuk memberikan penghormatan. “Saya bepergian jauh ke setiap negeri bukan hanya untuk cari uang. Saya ingin juga berkenalan dengan orang-orang mulia di setiap kota.” Wakilnya membawa dia kepada Syaikh al-Islam, yang terkenal karena ilmu dan kesalihannya. Ia memilih barang-barang berharga di tokonya seharga tiga puluh sequin. Rombongannya segera pergi menuju alim besar itu. Sang saudagar menemukan ulama itu tinggal di istana yang megah. Ada pengawal di pintu gerbang dan sejumlah besar pelayan, petugas, dan pembantu di ruang tengahnya. Sambil melirik ke para pengantarnya, ia menanyakan apakah mereka tidak membawanya ke istana raja. Ia sangat tidak suka dengan apa yang dilihatnya. Ia mempersembahkan hadiahnya. Kemudian ia bertanya, apakah sang ulama berkenan mengatasi keraguan yang mengusik hatinya. Ia berkata, “Beberapa waktu lalu, saya menderita kerugian besar. Dapatkah Anda menunjukkan jalan bagaimana saya menghindari posisi sulit ini? Saya selalu membayar dua setengah persen zakat mal setiap tahun. Selain itu, saya juga membagikan sedekah semampu saya. Saya tak mengerti mengapa saya mengalami kerugian.” Ulama besar itu tidak memberikan jawaban memuaskan. Akhirnya, saudagar itu meninggalkan tempat tanpa memperoleh jawaban. Pada hari berikutnya, ia bertanya kepada kawan- kawannya apakah di kota itu ada alim miskin yang kesalihannya menjadi teladan orang. Ia ingin memberikan penghormatan kepadanya. Mungkin ia bisa memperoleh pelajaran yang telah lama diinginkannya, berikut nasihat yang berguna baginya. Mereka menjawab, “Orang yang Anda cari seperti yang Anda gambarkan adalah pemimpin kami, Jalaluddin Rûmî. Ia sudah meninggalkan segala kenikmatan, kecuali kecintaanya kepada Tuhan. Bukan saja sudah tidak memperhatikan masalah duniawi, ia juga sudah tak merisaukan apa yang akan terjadi nanti. Ia menghabiskan malam dan siangnya untuk beribadat kepada Allah. Ia sudah menjadi lautan ilmu, baik pengetahuan lahiriah maupun pengetahuan rohaniah.” Pedagang Tabriz sangat tertarik dengan informasi itu. Ia mohon dipertemukan dengan orang suci itu. Sekadar penyebutan akhlaknya saja sudah membahagiakan hatinya. Lalu, mereka membawanya ke pesantren Jalâl. Sebelumnya, ia sudah mempersiapkan hadiah seharga lima puluh sequin dalam bentuk emas, untuk diberikan kepada sang wali. Ketika ia sampai di pesantrennya, Jalâl sedang duduk sendirian di tempat mengajar, asyik membaca kitab. Rombongan tamu itu membungkuk dengan penuh hormat. Pedagang itu betul-betul terpukau melihat guru yang sangat berwibawa itu. Ia begitu terpesona sehingga tak sanggup membendung tangisannya dan tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Jalâl menyapanya, “Lima puluh sequin yang telah kau sediakan untukku, kuterima. Tetapi, lebih baik lagi dari itu adalah dua ratus sequin kerugianmu. Allah telah menentukan untuk memberikan kepadamu keputusan yang pahit dan ujian yang berat. Dengan kunjunganmu ke sini, Tuhan telah mengampunimu dan cobaan itu telah dihilangkan darimu. Jangan berduka. Setelah ini selanjutnya kamu tak akan menderita kerugian lagi. Apa yang telah kau derita akan diganti Tuhan.” Pedagang itu sangat takjub mendengarkan kata-kata Jalal dan sekaligus bahagia. Lebih bahagia lagi, ketika Jalâl menerusan pembicaraannya: “Penyebab kerugian dan kemalangan yang kamu derita akan kuceritakan. Kamu pernah berada di sebelah barat Firengistan (Eropa). Di situ kamu pergi ke salah satu bagian kota. Kamu melihat seorang Firengi yang miskin, salah seorang di antara wali Allah yang besar dan sangat dicintai-Nya. Ia berbaring di sudut pasar. Ketika kamu melewatinya, kamu meludahinya, menunjukkan kebencianmu kepadanya. Hatinya terluka karena tindakan dan perilakumu. Inilah peristiwa yang menyebabkan semua musibah yang menimpamu. Pergilah kamu sekarang. Sambungkan silaturahmi dengan dia. Mintakan maaf kepadanya serta sampaikan salam kami.” Saudagar Tabriz terpaku membisu. Jalâl kemudian bertanya kepadanya, “Maukah aku tunjukkan kepadamu keadaan dia sekarang?” Sambil berkata begitu, ia meletakkan tangannya pada dinding pesantren. Ia menyuruh saudagar melihatnya. Tiba-tiba, jalan keluar terbuka. Saudagar itu melihat orang di Firengistan, terbaring masih di sudut pasar. Setelah menyaksikan semua itu, ia bersujud dan menyobek-nyobek jubahnya. Ia meninggalkan tempat Jalâl dalam keadaan galau, Segera sesudah itu, tanpa berlama-lama, ia berangkat menuju kota yang dimaksud. Ia menanyakan lokasi kota yang di situ ada orang miskin berbaring. Ia menemukan dia masih berbaring persis seperti diperlihatkan Jalâl kepadanya, Saudagar itu turun dari kudanya, merebahkan dirinya di hadapan orang Firengi, (meminta maaf atas kelakuannya sebelumnya). Kisah di atas diceritakan oleh Syamsuddin Ahmad Al-Aflaki dalam Manaqib al-Arifin. Ia membawa kita bukan saja kepada dunia Sufi yang mengherankan, tetapi juga membuat kita mempertanyakan cara kita memandang berbagai kejadian di dunia ini. Kita adalah makhluk yang selalu diusik untuk mencari jawaban tentang sebab di balik berbagai peristiwa. Biasanya kita mencarinya pada rangkaian sebab-akibat yang paling dekat. Mengapa terjadi musibah moneter? Pengaruh berita yang kita dengar, kebijakan pemerintah yang setengah-setengah, ulah spekulan yang tidak bertanggung jawab, atau apa? Seringkali berbagai penjelasan itu tetap membingungkan kita. Dalam situasi seperti itu kita berkata, “Ini sudah tidak masuk akal.” Profesor Mohammad Sadali, pakar ekonomi, berkata jujur, “Ini tidak bisa diterangkan secara ekonomi, karena penyebabnya bukan faktor ekonomi.” Mungkin kita harus bertanya kepada orang seperti Jalaluddin Rumi. Jangan-jangan sebabnya sama: Kita pernah melewati rakyat miskin dan meludahi mereka. Rebahkan dirimu di hadapan mereka. Bersihkan tubuh mereka yang kumuh dengan air matamu. Mudah-mudahan Allah mengganti kerugianmu selama ini dengan anugerah-Nya. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Al-Ghawghâ’April 21, 2026Akhir pemerintahan Khalifah ‘Utsmân r.a. ditandai dengan kerusuhan sosial. Orang banyak berkumpul di ibu kota, berasal dari berbagai penjuru, siap untuk melakukan sesuatu. Suatu hari kerusuhan terjadi. ‘Ustmân terbunuh. Sesudah itu, para perusuh perlahan-lahan menghilang, kembali ke tempatnya masing-masing. ‘Ali bin Abi Thalib, yang kemudian memimpin pemerintahan, menyebut peristiwa di atas sebagai fitnah, huru-hara besar, dan orang banyak yang terlibat di dalamnya sebagai al-ghawgha”. Al-Ghawgha’ adalah gerakan massa yang anonim, dan tidak diketahui siapa pemimpinnya. Mereka berkumpul hanya karena diikat oleh kemarahan yang sama. Biasanya sasaran kemarahan itu ialah “the power that be.” Sosiologi modern menyebutnya “crowd.” Jauh sebelum Gustave le Bon melukiskan watak al- ghawgha’ dalam psychologie des foules, ‘Ali menjelaskan karakternya secara puitis: “Mereka adalah kelompok orang yang bila berkumpul membahayakan, bila berpisah menguntungkan.” Orang-orang bertanya, “Kami mengerti bahaya kumpulan mereka, tetapi apa manfaat perpisahan mereka.” Ali menjelaskan, “Yang punya kerja kembali ke tempat bekerjanya, sehingga mendatangkan manfaat kepada masyarakat, seperti kembalinya tukang bangunan ke tempat bangunan, tukang tenun ke pertenunan, dan tukang roti ke dapur pembuatan roti.” Jadi, al-ghaugha’ adalah kumpulan manusia biasa, kerumunan orang-orang normal. Tetapi, sebuah kekuatan “misterius” mengumpulkan mereka, dan menjadikan mereka beringas. Sebelum menjadi al-ghawgha’, mereka adalah warga masyarakat yang memberikan kontribusinya masing-masing pada masyarakatnya. Setelah menjadi al-ghawgha, mereka kehilangan norma, tunduk pada kemauan massa seakan-akan mereka dihipnotis. Perilaku salah seorang “anggota” kumpulan-sebetulnya tidak pas disebut demikian dengan mudah menular kepada “anggota” yang lain. Dalam al-ghawgha, “Manusia turun beberapa anak-tangga peradaban,” kata le Bon. Khalifah al-Ma’mun berkata, “Setiap kejelekan dan kezaliman di dunia ini berasal dari al-ghawgha“. Merekalah pembunuh para Nabi. Mereka memecah-belah para ulama, mengadu-domba di antara orang-orang yang saling bercinta. Di antara mereka ada para pencuri, perampok, orang-orang sombong, yang membawa fitnah kepada penguasa.” Tentu saja, al-Ma’mun terlalu ekstrem. Tidak semua kejelekan berasal dari al-ghawghâ’. Lagipula, bukankah mereka pada awalnya dan sesudahnya adalah anggota-anggota masyarakat yang berjasa? Al-Ghawgha’ tidak dengan sendirinya jelek; ia sendiri akibat dari “sesuatu” yang jelek. Al-Ma’mun pun akan berlaku begitu juga sekiranya ia dihadapkan kepada apa yang dihadapi al-ghawghd”. “Sesuatu” itu bisa jadi keresahan sosial yang merata, ketika orang tidak tahu kepada siapa lagi mereka mencari perlindungan. Mungkin juga “sesuatu” itu perasaan tidak berdaya sebagai individu ketika berhadapan dengan sistem yang menindasnya. Tiba-tiba, dalam kumpulan, mereka merasakan kekuatan yang hilang dalam kesendirian. Atau, “sesuatu” itu hanyalah kepentingan politik segelintir orang. Mereka “menciptakan” al-ghawghâ’ untuk memancing di air keruh, atau melempar batu sembunyi tangan. Karena itu, ‘Ali menyebut kerusuhan sosial yang diakibatkan al-ghawgha’ sebagai fitnah. Fitnah dalam bahasa Arab berarti ujian, cobaan, musibah. Ketika kita berhadapan dengan al-ghawgha’, kita disuruh berhati-hati. Alquran memperingatkan: Takutilah fitnah yang tidak akan menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu saja,… (QS 8:25). Karena fitnah itu ujian, ia menguji kita apakah kita bisa tetap arif, berpikir jernih, tidak emosional; pendeknya, kita harus tetap normal. Pernah seorang Walikota Palestina (sebelum perjanjian Rabin-Arafat) diledakkan kendaraannya. Mobilnya hancur dan ia kehilangan kedua kakinya. Ketika ia masuk kantor lagi, seorang di antara para perusuh Israel mengejek tubuhnya yang sudah tidak berkaki lagi. Walikota itu berkata, “Aku sudah kehilangan kakiku, tetapi kamu sudah kehilangan kepalamu (I have lost my legs, but you have lost your head).” Memang, yang pertama hilang dalam kerusuhan adalah akal sehat. Namun, kita masih maklum bila yang kehilangan “kepala” itu adalah para perusuh. Yang tragis ialah bila orang-orang yang tidak terlibat dalam al-għawgha’ juga mulai menyerang ke sana kemari, tanpa mempedulikan apakah pembicaraannya masih logis. Masuk akal kalau rakyat kecil dalam kerumunan orang bodoh kehilangan kontrol, tetapi ganjil betul kalau walikota dalam kelompok ahlinya berbuat yang sama. Sungguh, ucapan tokoh Palestina itu bukan saja penuh kearifan, tetapi juga penuh pelajaran. Kerusuhan demi kerusuhan akan terus terjadi sepanjang sejarah. Korban-korban sudah berjatuhan, dan bukan hanya menimpa orang zalim saja. Kerusuhan bukan saja telah menghancurkan satu peradaban; ia juga telah melahirkan peradaban baru. Setelah kerusuhan, manusia akan semakin arif. Manusia kembali kepada kemanusiaannya, sama seperti tukang bangunan kembali kepada bangunannya, tukang tenun ke pertenunannya. Dari keping-keping kehancuran, umat manusia membangun gedung baru yang lebih bagus. Dengan menggunakan teori “dissipative structure” dari Ilya Prygogyne, dari kerusuhan, suatu masyarakat “melarikan diri ke tatanan yang lebih tinggi” (escape into a higher order). Jadi, apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi kerusuhan? ‘Ali bin Abî Thâlib memberikan nasihat, “Dalam fitnah, jadilah engkau seperti ibn al-labun, yakni unta berusia dua tahun, yang punggungnya tidak cukup kuat untuk dikendarai dan susunya belum bisa untuk diperah. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Bukankah Dia Manusia?April 20, 2026Dua orang sahabat Nabi, penakluk Qadisiyyah, sedang duduk berbincang. Tiba-tiba lewatlah iringan jenazah. Keduanya lalu berdiri memberi penghormatan. Orang-orang berkata bahwa mayit itu adalah orang kafir. Menurut mereka, tidak selayaknya sahabat Nabi memberikan penghormatan kepada jenazah kafir. Sahal dan Qays, sahabat Nabi itu, menolak anggapan tersebut. “Dahulu,” kata Sahal, “kami berkumpul bersama Rasulullah saw. Lalu, lewatlah rombongan jenazah. Beliau berdiri, kami pun berdiri. Seorang di antara kami berkata, ‘Itu jenazah Yahudi!” Nabi bersabda, ‘Bukankah dia manusia?” (Shahih al-Bukhari). Ucapan Nabi yang indah —bukankah dia manusia?— tertanam pada diri para sahabatnya. Di Qadisiyyah, ketika tentara Islam berhasil merebut kekuasaan, mereka tanpa risih berdiri, menghormati bangsa yang ditaklukkannya. Ketika Shalahuddin al-Ayyubi merebut Jerusalem dari tentara Salib, “Not a drop of blood was shed,” kata Toynbee. Selama berabad-abad, ketika bangsa Yahudi mengalami diaspora, mereka berlindung dengan aman di bawah kekuasaan Islam. “Bukankah dia manusia?” adalah pertanyaan yang mengetuk hati nurani. “Bukankah dia manusia?” harus diteriakkan kapan saja, ketika percikan api fanatisme membakar dada, ketika keyakinan beragama berubah menjadi kepongahan, dan ketika kesalehan menampakkan diri dalam bentuk agresi terhadap keyakinan orang lain. Ketika keyakinan agama diberi nama, apalagi nama buruk, kita melupakan kemanusiaan pengikutnya. Karena kita mendehumanisasikan mereka, maka mereka muncul di hadapan kita sebagai monster. Bukan saja mereka tidak layak dihormati, mereka juga boleh diperlakukan apa pun. Dalam sejarah, eksekusi dan persekusi terhadap pemeluk agama dimulai dengan menjuluki mereka. Pernah dalam tarikh Islam, ratusan ribu orang diusir, dikejar-kejar, dibunuh, setelah mereka dikenai julukan “rafidhah.” Orang-orang Khawarij, yang menghabiskan malam dalam tahajud dan zikir, berubah menjadi garang. Mereka membunuh sesama Muslim setelah lebih dahulu menyebut mereka “kafir.” Pada gilirannya, Khawarij dieliminasi setelah istilah “bughat” dikenakan kepada mereka. Sebuah keyakinan muncul di tengah padang pasir Arabia. Ia ingin memurnikan tauhid. Ia mengambil ribuan nyawa Muslim setelah lebih dahulu memberi mereka label “musyrik.” Sekarang pun kita dengan senang dan tenang menabur fitnah, mengumbar makian, kepada sesama Muslim. Kita tidak merasa bersalah karena korban-korban kita itu sudah kita juluki ahli bid’ah, sekular, agen Zionis, GPK, munafik, dan sebagainya. Julukan itu telah menyembunyikan kemusliman mereka dan, lebih buruk lagi, membuang kemanusiaan mereka. Apa yang terjadi pada dunia Islam terjadi juga pada agama lain, bahkan pada tingkat yang lebih ekstrem. “Sejak awal, Kristianitas telah berhenti sebagai agama profetik dan kreatif. Ia sudah berjalin berkelindan dengan tradisi kuno pengorbanan manusia, dengan pembersihan darah gaya Mithra,” tulis H.G. Wells dalam The Outline of History. Mulai abad ketiga belas, sebuah inkuisisi didirikan untuk siapa saja yang mengemukakan alternatif lain dalam memahami agama. Inkuisisi didirikan untuk menyiksa dan membunuhi pejuang-pejuang hati nurani. “Kini,” ujar Wells sambil melukiskan zaman itu, “pada ratusan pasar terbuka di Eropa, para tokoh Gereja menonton tubuh- tubuh musuhnya yang sudah hangus. Kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang kecil dan miskin. Mereka dibakar hangus dan hancur dengan sangat mengenaskan. Seperti itu juga misi mereka pada kemanusiaan, hangus dan hancur menjadi arang dan debu…. Intoleransi kelam dan tanpa belas kasihan ini adalah roh jahat yang digabungkan dengan proyek kerajaan Tuhan di bumi.” Wells tidak menyebutkan dengan tegas bahwa Inkuisisi yang kejam itu berlangsung setelah Gereja secara resmi menjuluki kelompok-kelompok Kristiani tertentu sebagai ahli bid’ah (heretik). Setelah ratusan tahun penindasan, Luther bangkit. Ia berkata bahwa salah satu kesalahan besar Paus Leo X dalam Exsurge Domine ialah “membakar kaum heretik.” Luther menyebut tindakan itu bertentangan dengan kehendak Ruh Kudus. Dalam Surat Terbuka kepada Para Tokoh Kristen, Luther menulis, “Kita harus mengalahkan kaum heretik dengan buku, bukan dengan membakar mereka.” Tetapi, ketika Luther sudah berkuasa, ia berubah dari pejuang kebebasan menjadi seorang dogmatik. Dalam Tischreden, pidato di meja makan, ia menjuluki orang Yahudi dan para pengikut Paus sebagai “orang fasik yang tidak bertuhan,…. sepasang kaos yang dibuat dari kain yang sama.” Sekarang, ia membenarkan pembakaran, penyiksaan, pembunuhan siapa pun yang tidak setuju dengan pahamnya. “Siapa saja yang tidak menerima ajaranku tidak boleh diselamatkan,” ujar Luther. Dalam Pasal 13 Kitab Ulangan, ia menemukan pembenaran untuk menghukum mati kaum heretik. Sejak itu, dua kekuatan fanatik menghias sejarah Kristiani dengan genangan darah. Karena itu, ketika mengajarkan persaudaraan di antara kaum beriman, Al-quran memberi peringatan:… Janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar, yang buruk,… (QS 49:11). Julukan buruk itu menempatkan saudara kita sebagai musuh atau, paling tidak, sebagai orang asing. Julukan itu telah mempertentangkan orang-orang yang memiliki kesamaan. Melalui penjulukan, hubungan “kita” diubah menjadi “kami.” Untuk menumbuhkan persaudaraan di antara orang-orang Islam, Al-quran menyuruh kita berteriak, “Saksikanlah, kami ini orang-orang Islam!”. Untuk menumbuhkan penghargaan pada orang yang keyakinannya berbeda, Nabi saw. bersabda, “Bukankah dia manusia!” JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Hidup Al-Mushawwibûn!April 17, 2026Manakah yang benar: mengeraskan basmalah atau tak membacanya? Qadariyyah atau Jabbariyyah? Syariat atau tarikat? Khusus bagi orang Islam di Indonesia, manakah yang benar: miqat di Qarnul Manazil atau di Jeddah? Perjuangan struktural atau kultural? NU atau Muhammadiyah? Gus Dur atau Mas Amien? Tidak selalu pertanyaan itu dualistis. Boleh jadi pilihannya banyak. Tetapi, yang penting ialah mana yang harus kita ambil. Karena pilihan-pilihan itu bukan masalah selera, seperti memilih Kentucky Fried Chicken atau Ayam Goreng Suharti, kita ditantang untuk memperdebatkannya. Pilihan itu akan menentukan sikap dan perilaku keberagamaan kita. Dalam pengalaman sejarah, tidak jarang perdebatan itu berkembang menjadi perseteruan. Pilihan yang kita ambil akan menarik garis antara kawan dan lawan; atau lebih halus lagi, antara “ikhwan” dan bukan ikhwan. Karena mempertimbangkan dampak pertanyaan-pertanyaan itu, sebagian orang Islam berusaha mencari jalan keluar. Ada yang menganggapnya tak ada masalah. Mereka sebetulnya mulai dengan menafikan masalah dan mengakhirinya dengan menciptakannya. Kelompok lain dengan sederhana berkata: kembalilah kepada Alquran dan hadis. Gunakan Alquran dan hadis sebagai pemutus. Resep ini lebih mudah diucapkan ketimbang diterapkan. Bukankah aliran Qadariyyah pun mengutip ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis sama banyaknya dengan Jab bariyah? Bukankah men-jahr-kan basmalah dan men-sirr-kannya sama-sama berdasarkan contoh Nabi saw.? Bukankah baik Gus Dur maupun Mas Amien merujuk pada nilai-nilai yang diambil dari kedua sumber itu untuk merumuskan perjuangannya? Ada juga yang merasa sudah memecahkan persoalan dengan memasukkan konsep imâmah. Konon, sekiranya ada imam, pilihan-pilihan itu tidak bakal ada. Imam akan mempersatukan pilihan; dengan begitu, mempersatukan sikap dan perilaku umat. Kelompok Islam yang ini akhirnya memilih imam dan berbaiat kepadanya. Gus Dur dan Mas Amien tidak perlu ta’aruf. Keduanya harus tunduk kepada fatwa imam. Cuma, bagaimana kalau keduanya itu dipilih sebagai imam. Ternyata mereka hanya mengganti pertanyaan: manakah yang benar — imam saya atau imam Anda? Jadi, bagaimanakah seharusnya kita menghadapi persoalan ini? Tradisi klasik dapat dijadikan pelajaran. Ada satu topik yang dibahas dalam hampir semua kitab ushal al-fiqh klasik. Anehnya, ulama jarang memperbincangkannya. Para pemikir Islam di Indonesia— mungkin karena tidak disentuh tradisi klasik, atau karena kepentingan kelompok—juga mengabaikannya. Para ulama ushal membahasnya ketika berhadapan dengan hasil ijtihad yang bermacam-macam dan terkadang bertentangan satu sama lain. Mujtahid yang satu menyebut daging anjing haram; yang lain menghalalkannya. Apakah semua mujtahid benar atau hanya ada seorang saja di antara mereka yang benar? Pendapat yang pertama disebut at-tashwibah (semua benar). Pengikutnya disebut al-mushawwibûn. Al-Ghazali, al-Baqillânî, sebagian ulama mazhab Hanafi, para ulama kalam dari aliran al-Asy’ari dan Mu’tazilah masuk kelompok ini. Menurut al- Asy’ari, untuk kasus yang tidak ada nashsh-nya, tidak ada hukum tertentu sebelum pemikiran mujtahid menetapkannya. Karena itu, hukum ialah apa saja yang ditetapkan mujtahid berdasarkan perkiraannya (zhann). Karena semuanya bersifat zhanni, maka semua ijtihad benar adanya. Menurut Mu’tazilah, untuk kasus yang tidak ada nashsh-nya, Allah sudah mempersiapkan hukumnya. Tetapi setiap mujtahid tidak dibebani untuk menemukan hukum yang benar. Mujtahid tidak bersalah, kalau ia tidak mampu menemukan hukum yang benar. Tuhan tidak memberatkan setiap diri kecuali berdasarkan kemampuannya,… (QS 2:233, 286). Pendapat yang kedua disebut at-takhthi’ah (kecuali satu, semua salah). Pengikutnya disebut al-mukhaththi’ûn. Termasuk ke sini adalah asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, jumhur ulama Ahlus-Sunnah dan Syi’ah. Menurut kelompok ini, semua hukum sudah ditentukan Allah, sebelum para mujtahid berijtihad. Yang berhasil menemukannya pasti benar, dan yang tidak menemukannya sudah tentu salah. Kata Ahmad, “Yang benar di sisi Allah itu hanya satu. Tidak setiap mujtahid benar. Tapi yang benar mendapat dua pahala, yang salah mendapat satu pahala.” Perdebatan di antara kedua pendapat ini berlangsung sepanjang sejarah ilmu ushal. Menurut Dr ‘Abdul Majid an-Najjar, dalam Fi Fiqh at-Tadayyun, paham at-tashwibah menjadi mainstream ketika umat Islam menikmati zaman keemasan mereka. Waktu itu, para mujtahid mendapat kebebasan untuk mengembangkan dan menyebarkan pemikiran mereka. Paham at- takhthi’ah berkembang sejak tradisi taklid meliputi dunia Islam. Pintu ijtihad ditutup. Ulama hanya melanjutkan tradisi dari imam mazhabnya, yang sudah tiada. Orang awam banya mengikuti ulama mereka. Masih menurut an-Najjar, kita harus menghidupkan kembali gerakan at-tashwibah, agar umat Islam secara kreatif berhasil menghadapi tantangan modern. Di Indonesia, tampaknya gerakan Islam dimulai dari tahap al-mukhaththi’ûn, dan sekarang berada pada tahap al-mushawwibûn. Sejalan dengan keterbukaan informasi, perlahan-lahan umat Islam Indonesia mengambil paham at-tashwibah. At-Tashwibah telah mendidik kita berjiwa terbuka, menghargai perbedaan pendapat. Sekarang kita tidak lagi bertanya mana yang benar: Gus Dur atau Mas Amien. Keduanya benar. Tidakkah itu membuat kebenaran menjadi relatif? Tidak, kebenaran itu satu. Kebenaran dari Tuhanmu. Janganlah kamu termasuk orang yang ragu-ragu (QS 2:147). Tapi ketahuilah, kebenaran muncul dalam wajah yang berlainan. Pada pertemuan Gus Dur dan Mas Amien, yang harus kita lihat bukan saja dua wajah kebenaran, tetapi juga kehadiran kembali gerakan al-mushawwibûn. Hidup Al-Mushawwibûn! JR— wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Joseph GoebbelsApril 15, 2026“Kebanyakan massa lebih mudah jatuh menjadi korban kebohongan besar daripada kebohongan kecil,” ujar Hitler. Atas saran Joseph Goebbels, penasihat pimpinan Nazi dalam bidang propaganda, Hitler menegakkan kekuasaannya di atas kebohongan. Propaganda politik tak boleh terikat dengan kebenaran. Masih kata Goebbels, “Kebenaran ialah apa saja yang saya bikin sebagai kebenaran… Kebenaran yang agung dan mutlak ialah bahwa Partai dan Fuehrer selalu benar.” Goebbels dipandang sebagai “the man who created Hitler.” Penulis biografinya menunjukkan, di antara para pemimpin Nazi, Goebbels termasuk orang yang terpelajar. Ia lahir sebagai orang Katolik. Orang tuanya berharap ia menjadi seorang romo, tetapi ia memutuskan untuk menjadi ilmuwan. Dengan bantuan organisasi Katolik, ia berhasil menyelesaikan studinya di Heidelberg dan memperoleh gelar doktor di bawah bimbingan dua orang profesor Yahudi. Ketika Perancis menduduki Ruhr pada tahun 1923, ia menawarkan diri untuk membantu kelompok yang melakukan perlawanan. Ia diterima sebagai agitator dan propagandis. Kemudian, ia bergabung dengan Hitler (yang juga dibesarkan sebagai Katolik). Keduanya yakin bahwa organisasi dan ritualisme Katolik dapat digunakan untuk menegakkan agama sekular yang bernama Nazisme. Goebbels menyebut misa, upacara untuk mengenang makan malam terakhir Kristus, sebagai “sampah yang paling tendensius yang pernah dijejalkan kepada kecerdasan manusia, namun mungkin sangat berguna dalam membuktikan kemampuan manusia untuk menyerap omong-kosong.” Sepanjang sisa hidupnya, Goebbels membantu Hitler menciptakan isu, merekayasa peristiwa, membuat skenario, menciptakan “kebenaran mutlak” setiap hari. Ia menjadikan fiksi sebagai fakta, dan sebaliknya; ia dapat mengubah pahlawan menjadi penjahat, atau sebaliknya; ia menjadikan peristiwa-peristiwa biasa menjadi drama nasional yang mencekam. Banyak orang menuding Goebbels sebagai pelanjut Machiavelli yang pernah berkata, “Massa manusia dipengaruhi oleh hal-hal lahiriah… Penipu selalu menemukan orang untuk ditipu.” Banyak politisi atau pemegang otoritas sesudahnya, termasuk otoritas keagamaan, melanjutkan tradisi Goebbels: “Kuasailah massa dengan menciptakan kebohongan!” “Every government is run by liars,” tulis Stone, penulis ilmu politik. Maka, politik kemudian menjadi panggung teater dan para politisi menjadi aktor. Naskah ditulis dengan bagus. Para pemain bermain dengan serius. Tata panggung, tata ruang, tata rias, semua dirancang dengan apik. Jadi, siapa saja yang bermain politik—baik politisi sekular maupun profan—harus mengatur perilakunya sesuai dengan naskah dan situasi panggung. Selama adegan berjalan mulus, massa akan menerimanya dengan suka hati. Begitu terjadi penyimpangan dari “pakem,” panggung menjadi acak-acakan. Tetapi tontotan biasanya jadi makin menarik. Karena itulah, kita ikuti dengan penuh perhatian lakon Iwik dan kisah pembunuhan Udin, jawaban wartawan Der Spiegel dalam kasus Uskup Belo, penjelasan Komnas HAM dan peristiwa kematian Tjetje, atau penjelasan Gus Dur dalam kasus Situbondo. Salah satu hal yang menarik ialah pertukaran skenario. Bila satu skenario gagal, diciptakanlah skenario baru. Begitu seterusnya. Kebohongan memang hanya dapat dipertahankan dengan kebohongan lagi. Sebagai warga negara yang berakal sehat, bagaimana caranya menepis dan menapis kebohongan? Pertama, kita harus mengerti dulu apa yang disebut dengan kebohongan itu. Sissela Bok, dalam Lying: Moral Choice in Public and Private Life, memberikan takrif kebohongan sebagai “mengkomunikasikan pesan yang dimaksudkan untuk menyesatkan orang lain, untuk membuat orang lain itu percaya apa yang kita sendiri tidak percayai.” Kebohongan bukan hanya misinformasi atau pelaporan yang tidak cermat. Kebohongan meliputi segala pernyataan atau perbuatan yang direkayasa untuk menyesatkan, mengecoh, atau membingungkan. Kedua, kita harus meneliti apa yang menyebabkan orang atau lembaga harus berbohong. Sebuah kitab akhlak menyebutkan tiga sebab orang harus berbohong: kebiasaan, kerakusan, dan kedengkian. Tentang kebiasaan berbohong, para ulama berkata, “Siapa saja yang menyusui kebohongan akan sukar menyapihnya.” Kerakusan atau ambisi yang berlebihan terhadap apa saja akan melahirkan kebohongan. Kedengkian, berbarengan dengan permusuhan kepada golongan lain, mendorong orang untuk menjatuhkan orang lain itu dengan kebohongan. Apa pun sebab kebohongan, tak ada pembenaran moral buat berbohong untuk menguasai orang secara zalim. Kebohongan menjauhkan orang dari petunjuk Tuhan, mendatang. kan kecelakaan, dan menunjukkan tak beriman kepada ayat- ayat Allah:… Sesungguhnya Allah tak akan memberikan petunjuk kepada orang yang keterlaluan dan suka berbohong (QS 40:28); Kecelakaanlah bagi setiap pembohong yang berdosa (QS 45:7); Sesungguhnya yang berbuat bohong itu hanyalah orang-orang yang tidak percaya kepada ayat-ayat Allah,… (QS 16:105). Kebohongan boleh jadi dapat mendatangkan sukses sementara. Tetapi, sejarah hampir selalu menunjukkan akhir yang menyedihkan. Inilah akhir kisah Goebbels, Menteri Propaganda Nazi yang menjadikan kebohongan sebagai jalan hidupnya. Ia membunuh enam orang anaknya yang sedang tidur dengan suntikan, istrinya dengan racun, dan dirinya sendiri dengan tembakan. Tubuhnya dibakar untuk menghilangkan jejak—ia berbohong bahkan ketika sudah menjadi mayat. Dunia mengenangnya sebagai pelajaran bahwa pembohong tak pernah beruntung. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Jurus T’ai KungApril 14, 2026Kira-kira enam belas abad sebelum Rasulullah saw. lahir, Cina diperintah oleh dinasti Shang, sebuah rezim militer. Kekuasaan bergantung pada kemampuan militer kaum bangsawan. Penduduk terdiri dari empat bagian: keluarga penguasa, kaum bangsawan, rakyat biasa, dan budak. Di pusat pemerintahan, kaisar berkuasa penuh, dengan dukungan para penguasa daerah. Kaum bangsawan umumnya ditunjuk sebagai pejabat dan diberikan berbagai fasilitas. Mereka tinggal di kota-kota besar, dalam rumah-rumah megah, berdinding batu-bata. Rakyat biasa bekerja sebagai petani, pedagang kecil, atau berbagai kerajinan tangan. Sesekali mereka menjadi penyedia tenaga militer, ketika diperlukan. Mereka tinggal dalam gubuk-gubuk kecil dari tanah. Budak adalah lapisan terbawah, memikul penderitaan seluruh penduduk. Menurut dokumen kuno Shih Chi, Kaisar Shang terakhir memerintah dengan kejam. Keluarga penguasa tinggal hidup mewah dari pajak dan upeti yang makin tinggi. Para pemimpin yang jujur dipenjarakan. Walaupun kerajaan yang luas dan berbagai peperangan telah meningkatkan taraf hidup orang banyak, mereka umumnya dicengkeram ketakutan. Perasaan tidak puas menyebar luas. Masih menurut catatan Shih Chi, raja memiliki penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam: “Tangannya dapat membunuh binatang buas; pengetahuannya sangat cukup untuk menolak kritik; kemampuan bicaranya lebih dari memadai untuk menghias kesalahannya. Ia menyombongkan diri pada para menterinya tentang kemampuannya. Ia menyombongkan reputasinya pada semua orang dan yakin bahwa semua orang berada di bawah dia.” Dalam situasi politik seperti itu, muncul kekuatan-kekuatan baru yang ingin menyelamatkan bangsa dan negara. Di antara mereka adalah Raja Wen yang tinggal di Lembah Sungai Wei. Sudah lama ia merenungkan apa yang terjadi di negerinya. Tetapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ketika ia bermaksud berburu, ia diberitahu oleh tokoh paranormal bahwa ia akan menemukan “buruan” yang sangat berharga. Di tepian utara Sungai Wei, ia memang menemukan seorang tua duduk di atas tikar rumput, sedang memancing. Sejarah kelak mengenal orang tua itu sebagai jenderal pertama Cina, yang mewariskan kepada dunia strategi perang dan teknik memerintah. Ia bernama T’ai Kung. Jurus yang diajarkannya, T’ai Kung Liu-t’ao, “Enam Ajaran Rahasia,” kini dipelajari kembali ketika dunia mengamati kebangunan Cina sebagai ꟷdengan mengutip Huntingtonꟷ salah satu pesaing peradaban Barat. Marilah kita simak percakapan T’ai Kung dengan Raja Wen, ketika memperbincangkan t’ao yang pertama: Jurus Memerintah! Raja Wen berkata kepada T’ai Kung, “Saya ingin belajar cara memerintah. Jika saya ingin agar penguasa dihormati dan rakyat hidup tenteram, apa yang harus saya lakukan?” T’ai Kung: “Cintailah rakyat.” Raja Wen: “Bagaimana caranya mencintai rakyat?” T’ai Kung: “Untungkan mereka, jangan rugikan mereka. Bantu mereka untuk berhasil, jangan kalahkan mereka. Beri mereka kehidupan, jangan bunuh mereka. Memberi, jangan merampas. Senangkan mereka, jangan membuat mereka menderita. Buat mereka bahagia. Janganlah membangkitkan kemarahan mereka.” Raja Wen: “Bolehkah saya minta Anda menjelaskannya lebih terperinci?” Tai Kung: “Jika rakyat tidak kehilangan pekerjaan mereka, Anda sudah menguntungkan mereka. Jika petani tidak kehilangan ladang pertanian mereka, Anda sudah mem- bantu mereka. Jika Anda mengurangi hukuman dan denda, Anda memberikan kehidupan. Jika Anda menetapkan pajak yang ringan, Anda memberi anugerah kepada mereka. Jika Anda mengurangi jumlah istana, vila dan gedung mewah, Anda menyenangkan mereka. Jika para pejabat bekerja jujur, tidak mengganggu dan menyusahkan rakyat, Anda membuat mereka bahagia.” “Tetapi jika rakyat kehilangan pekerjaan mereka, Anda merugikan mereka. Jika petani kehilangan tanah pertani annya, Anda mengalahkan mereka. Jika Anda menghukum orang yang tidak bersalah, Anda membunuh mereka. Jika Anda menetapkan pajak yang berat, Anda merampas mereka. Jika Anda membangun banyak istana, vila dan gedung mewah, sehingga menghabiskan kekuatan rakyat, Anda membuat kehidupan yang pahit bagi mereka. Jika para pejabat korup, mengganggu dan menyusahkan rakyat, Anda membuat mereka marah.” “Jadi orang yang berhasil memerintah dengan baik, mengatur rakyatnya seperti orang tua mengatur anak-anak yang dicintainya, atau seperti seorang kakak bertindak pada adik yang dicintainya. Ketika ia melihat mereka lapar dan kedinginan, ia ikut merasakan kesusahan mereka. Ketika ia melihat kepayahan dan derita mereka, ia berduka cita untuk mereka.” Berkat jurus T’ai Kung, dinasti Chou berhasil menggulingkan dinasti Shang. Pemerintahan dijalankan berdasarkan “Enam Ajaran Rahasia”. Paling menarik dari semuanya ialah kenyataan bahwa revolusi Chou terjadi di tengah kemajuan ekonomi. Ini membenarkan J-curve theory of revolution dari Davies (1963): “Rakyat memberontak bukan karena kemiskinan, tetapi karena makin melebarnya kesenjangan antara apa yang mereka peroleh dengan apa yang mereka harapkan.” Sekiranya penguasa Shangꟷdan bukan Raja Wenꟷyang menemukan T’ai Kung, dan menjalankan jurusnya, revolusi itu tidak akan pernah terjadi. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Ma’bad al-JuhaniApril 8, 2026Pada masa pemerintahan ‘Abdul Mâlik bin Marwân, al-Hajjaj sudah terkenal sebagai panglima yang sangat kejam. Ia memasukkan ribuan orang ke penjara tanpa pengadilan. Tangannya bergelimang darah orang-orang yang tak bersalah. Tapi, dengan tangan itu pula, ia menegakkan tonggak-tonggak kekuasaan ‘Abdul Mâlik. Ia berhasil memadamkan berbagai kerusuhan yang mengancam stabilitas negara. Di antara kerusuhan yang paling besar ialah pemberontakan penduduk Hijaz di bawah pimpinan ‘Abdullah bin Zubayr. ‘Abdullah berlindung di Masjidil Haram, di dekat Ka’bah. Al-Hajjaj mengepungnya berhari-hari. Pada suatu hari, al-Hajjaj menyerbunya dan berhasil membunuh ‘Abdullah di dekat Ka’bah, di hadapan ibunya sendiri. ‘Abdulláh adalah putra Asma’ binti Abu Bakar, perempuan yang berjasa dalam peristiwa Hijrah Rasulullah saw. Ia cucu dari Khalifah pertama. Ia juga terkenal salih. Bila ia salat di Masjidil Haram, ia berdiri lama sekali, sehingga burung-burung hinggap di pundaknya. Ketika al-Hajjaj membunuh ‘Abdullah, Makkah bergemuruh dengan suara tangisan. Al-Hajjaj mendengar tangisan itu. Ia tahu rakyat menangisi kematian ‘Abdullah. Ia buru-buru menemui ibu ‘Abdullah. “Anakmu telah berbuat kekafiran di Baytullah,” kata al-Hajjaj menjelaskan, “Tuhan sudah memberinya siksa yang pedih.” Asma’ meradang, “Bohong. Ia orang yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ia banyak puasa dan salat. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Akan muncul dari Tsaqif dua orang pendusta; yang terakhir lebih jelek dari yang pertama karena ia selalu menghancurkan. Dan yang terakhir itu kamu, hai al-Hajjaj.’” Al-Hajjaj tidak menyahut. Ia menyuruh orang-orang berkumpul di masjid. Ia naik mimbar, berkhotbah, “Hai ahli Makkah, aku mendengar kalian membesar-besarkan kematian Ibn Zubayr. Memang benar ia orang yang paling baik di tengah-tengah umat ini. Tapi itu dulu, sebelum ia melakukan makar untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Lalu ia tidak taat kepada Allah dan melakukan yang haram. Adam ditempatkan Tuhan di surga, malaikat disuruh sujud kepadanya. Tetapi ia kemudian bersalah. Tuhan mengeluarkannya dari surga karena kesalahannya. Ketahuilah, Adam lebih mulia dari Ibn Zubayr, dan surga lebih mulia dari Ka’bah. Ingatlah kalian kepada Tuhan.” Al-Hajjaj bukan hanya penghancur yang pandai. Ia juga pintar memberikan legitimasi pada perbuatannya. Ketika masih muda, bersama bapaknya, ia tiggal di Mesir. Pada suatu hari, Salim bin ‘Anz lewat ke hadapan mereka. Ayah al-Hajjaj berdiri menghormatinya, “Saya akan menemui Amirul Mukminin. Apakah ada pesan?” Salim berkata, “Ada. Mohonkan kepada beliau agar aku diberhentikan dari jabatanku sebagai Hakim Agung.” Ayah al-Hajjaj berkata, “Subhanallah, aku tidak mengenal hakim yang lebih baik dari Anda.” Al-Hajjaj menegur ayahnya, “Mengapa ayah berdiri menghormatinya. Orang-orang seperti dia membahayakan negara. Ia mengumpulkan manusia, lalu berbicara tentang keadilan Abu Bakar dan ‘Umar. Akhirnya rakyat merendahkan Amirul Mukminin karena tidak berakhlak seperti akhlak Abu Bakar dan ‘Umar. Nanti mereka melakukan kerusuhan, menentangnya, memusuhinya, dan tidak mentaatinya. Demi Allah, jika aku mempunyai kekuasaan, akan aku tebas leher-leher mereka.” (Ibn Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, 9:138). Al-Hajjaj memenuhi sumpahnya. Begitu ia memegang komando, ia membabat semua orang yang dianggap menyebarkan kebencian kepada raja. Salah seorang ulama yang tidak disukainya ialah Ma’bad al-Juhani. Ia terkenal sebagai ahli ibadah dan zuhud. Ia ikut dalam perang Shiffin dan menyaksikan peristiwa “Tahkim.” Al-Hajjaj membencinya karena ia mengajarkan bahwa manusia dapat memilih takdirnya. Ia memiliki kemauan bebas. Ma’bad dicap sebagai pendiri mazhab Qadariyyah. Paham ini dianggap berbahaya bagi kekuasaan. Pemerintah menetapkan Qadariyyah sebagai aliran terlarang. Sebagai gantinya, disebarkanlah paham Jabariyyah. Syibli Nu’man, ahli ilmu kalam, menegaskan bahwa asal-usul paham Jabariyyah itu secara politis. Bani Umayyah memerintah dengan keras dan kejam. Rakyat menderita dan ingin memberontak. Penguasa segera mengalihkan persoalan kepada takdir. Bila mereka kehilangan hartanya atau nyawanya, yang dijadikan kambing hitam adalah takdir. Seseorang berkuasa atau jatuh juga karena takdir. Salah satu tanda keimanan ialah menerima takdir dengan ridha. Tiba-tiba Ma’bad datang. Ia bertanya kepada Hasan al-Bashrî, “Sejauh mana kebenaran Umawiyyin tentang qadha’ dan qadar?” Hasan al-Bashri menjawab singkat, “Mereka pendusta.” Ma’bad pindah dari Bashrah ke Madinah. Di situ ia menyebarkan pahamnya. Manusia diberi kebebasan untuk memilih (ikhtiyar). Ia dapat menentukan nasibnya. Seseorang berkuasa bukan karena diridhai Allah. Ia berkuasa karena berhasil merebut kekuasaan, dengan cara apa saja. Al-Hajjaj memburunya ke Madinah. Ia ditangkap dan disiksa. Menurut suatu riwayat, ia diserahkan kepada raja ‘Abdul Mâlik. Ia dihukum mati, disalib di Damaskus (Az-Zarkali, Al-Alam, 8:176). Kepada Ma’bad kemudian dinisbahkan berbagai cerita rekaan. Konon, ia belajar paham Qadariyyah dari orang Nashrani. Para ulama mengutuknya di mimbar-mimbar. Sebagian ahli hadis memasukkannya ke dalam kelompok orang yang tidak dipercaya. Adz-Dzahabi menyebutnya dalam Mizan al-I’tidal dengan segenap celaan kepadanya. Ad-Dâruquthni memberikan komentar moderat, “Ma’bad itu hadisnya bagus, hanya mazhabnya yang jelek.” Sejak itu, umat Islam dikuasai dengan dua hal: kekerasan dan dongeng. Kekerasan perlu untuk membinasakan mereka secara fisik; dongeng penting untuk melumpuhkan mereka secara ruhaniah. Seringkali kita ridha menerima kekerasan, sambil mengulang-ulang dongeng yang dibuatkan orang untuk kita. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
TitanicApril 7, 2026To make the long story short, sebuah kapal besar dan megah bertolak meninggalkan Inggris menuju Amerika. “Fundamental” kapal itu diyakini begitu kuat sehingga orang-orang berkata, “Titanic tak mungkin tenggelam. Bahkan, Tuhan pun tak akan bisa menenggelamkannya.” Apalagi, nakhoda yang mengemudikannya sudah sangat senior, baik dari segi pengalaman maupun usia. Rambut dan cambangnya yang sudah memutih memancarkan wibawa. Ada dua macam penumpang: orang kaya dan orang miskin. Tentu saja, orang kaya menghuni bagian atas kapal dengan fasilitas yang serba wah. Orang miskin tinggal di kamar-kamar sempit, di bagian bawah. Namun, karena penampilan Titanic dan nakhodanya, semua penumpang masuk dengan optimisme tinggi. Mereka akan sampai di negeri impian dengan cepat dan menyenangkan. Nakhoda malah didesak untuk menaikkan kecepatan kapal, supaya tiba di Amerika jauh lebih awal dari waktu yang diperkirakan. Sepanjang jalan para penumpang bersenang-senang. Untuk setiap kelas penumpang ada kelompok musiknya. Tak henti-hentinya lagu-lagu ria dan tawa-canda bergema di kapal. Tiba-tiba kapal berhadapan dengan karang es yang menjulang tinggi. Dengan terburu-buru, nakhoda mengalihkan arah. Sayang, kapal besar itu bergesekan dengan bukit es. Di sana sini mulai terjadi kebocoran besar. Orang pintar sudah memastikan kapal tenggelam. Celakanya, jumlah sekoci penyelamat tidak memadai. Nakhoda memutuskan, yang pertama kali diselamatkan adalah penumpang kelas satu. Seorang konglomerat mencoba masuk ke sekoci dengan menyuap kru kapal. Air mula-mula memasuki kapal bagian bawah, menenggelamkan orang-orang miskin. Mereka yang berusaha naik ke atas harus kecewa karena pintu-pintu sudah terkunci. Demi menyelamatkan penumpang kelas satu, orang-orang miskin harus menunggu. Akhirnya, pada 14 April 1912, Titanic mendarat di dasar laut. Bersamanya 1.500 orang menjadi korban, termasuk nakhoda tua yang belum uzur. Ia mati terhormat ketika memegang kemudi, yang dipatahkan oleh deburan air dingin. Orang-orang kaya menumpang sekoci-sekoci yang tak terlalu penuh —konon— dengan membawa dosa yang tak akan pernah termaafkan. Paling tidak, begitulah yang saya saksikan dalam Titanic, film karya James Cameron, produksi Paramount Pictures dan 20th Century. Lagu yang dimainkan para pemusik di kapal Titanic masih terdengar, ketika di layar saya menyaksikan gelombang laut yang menutup Titanic. Saya masih terpesona. Tiba- tiba saya merasa menjadi salah seorang penumpang Titanic. Penumpang kelas bawah. Anak kecil dalam pelukan saya bertanya, “Mengapa di atas terjadi ribut-ribut?” Saya jelaskan kepadanya, “Orang-orang kaya sedang dibantu untuk menyelamatkan dirinya. Kita baru mendapat giliran setelah semua penumpang kelas satu masuk sekoci.” Saya tak menjelaskan kepadanya bahwa saya ragu apakah masih tersisa sekoci buat kami. Lihat, air sudah sampai leher kami. Sebagian besar kawan kami yang bertubuh pendek sudah tak kelihatan lagi. Tidak terdengar teriakan mereka. Saya tak tahu sudah berapa juta bilangan mereka. Titanic saya lebih besar dari Titanic dalam film. “Fundamental” kapal kami juga diyakini lebih kuat dari Titanic-nya Cameron. Cuma, seperti Titanic dalam film, Titanic kami hanya punya sekoci sedikit. Berbeda dengan Titanic film dan Titanic sebenarnya, kapal kami tengah menunggu bantuan sekoci yang akan dikirim kapal lain. Tembakan SOS telah dibidikkan ke langit. Kapal lain sudah memahaminya. Mereka tidak dapat menyelamatkan kapal kami yang pasti tenggelam. Tetapi, paling tidak mereka dapat mengirim sekoci-sekoci tambahan. Kami mendengar berita bahwa sesungguhnya nakhoda kami dan beberapa penumpang kelas atas mempunyai sekoci-sekoci yang lebih besar. Sayangnya, sekoci-sekoci itu masih disimpan di kapal lain, nun jauh di sana. Kami melihat para penumpang kelas satu sedang dibantu nakhoda menaiki sekoci mereka. Anak saya menjerit lagi, karena air mulai merayap ke lehernya. Salah seorang kru kapal menyampaikan kabar gembira. Bantuan sekoci akan segera datang. Nakhoda sudah menyatakan komitmennya untuk memenuhi persyaratan pemberi bantuan. Ada isyarat bahwa bila sekoci-sekoci itu datang, semuanya akan digunakan lebih dahulu untuk menolong —ya Rabbi— penumpang kelas satu lagi. Waktu itu, mungkin perut anak saya sudah dipenuhi air laut. Ada berita juga bahwa kami, penumpang kelas bawah, diminta bersedia melemparkan sebagian saudara, anak-anak, dan apa saja yang kami miliki. Dengan begitu, lebih banyak ruang tersisa di sekoci buat para penumpang kaya. Kami, penumpang kelas bawah, sudah tak bisa berteriak lagi. Kami merasa diperlakukan tidak adil. Tetapi kami tidak bisa mengucapkannya. Penderitaan dan ketakutan telah membuat lidah kami kelu. Kami tidak sanggup melihat penumpang kelas satu di sekoci-sekoci mereka nan lapang. Dada kami terasa sesak dan nyeri. Kami juga sudah tak sanggup memandang wajah nakhoda kami. Rasanya, ia sudah terlalu jauh dari kami. Pintu-pintu untuk menyampaikan suara kami ke ruang atas sudah tertutup, bahkan dikunci dengan gembok baja. Kami hanya tinggal menunggu kematian dengan sabar. Harapan kami hampir pudar, kalau tidak kami dengar teriakan anak-anak di sudut-sudut kapal. Mereka meneriakkan suara kami. Mereka berbicara dengan bahasa kami. Mereka meneteskan air mata kami. Mereka mengibarkan bendera kami. Saya diingatkan kepada sabda Rasulullah saw. yang mengibaratkan umat sebagai para penumpang kapal. Bila ada penumpang kapal yang bertindak sembrono, merusak, atau membocorkan kapal, penumpang yang lain harus memperingat- kannya. Bila tidak, semua penumpang akan tenggelam. Ya Rasulullah, anak-anak kami sekarang sedang memperingatkan semua tentang orang-orang yang merusak kapal. Mereka menjalankan amanahmu dan menyampaikan suara kami. Dukunglah mereka dengan doamu. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb  Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum. *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...

Buku Karya KH. Jalaluddin Rakhmat

« of 2 »

Videografi

This error message is only visible to WordPress admins

Unable to retrieve new videos without an API key.

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

Audiografi

UJR-MFR

“Jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun”

​KH. Jalaluddin Rakhmat
@katakangjalal

Contact Jalan Rahmat

Jl. Kampus II No. 13-15. Kiaracondong. Bandung