
Syahdan, ada seorang muazin bersuara sangat jelek. Ia memanggil orang salat di negeri kafir. Kaum Muslim membujuk dia untuk tidak menjeritkanꟷmaaf, maksudnya, melantunkan ꟷazan. Dikhawatirkan, suara itu akan mengganggu orang- orang kafir.
Mereka akan keberatan. Bisa-bisa azan itu akan memicu kerusuhan sosial. Sang muazin menolak bujukan saudara seagamanya itu. Ia marah dan mengira mereka melarangnya menegakkan sunnah Rasulullah saw. Ia menganggap umat Islam sudah kehilangan ghirah agamanya. Mereka sudah menjadi umat penakut, terlalu mengalah pada orang kafir. Iman mereka lemah. Syariat sudah dicampakkan hanya untuk kepentingan kesatuan dan persatuan. Jadi, dengan argumentasi seperti itu, ia berazan lagi dengan semangat yang lebih tinggi dan suara yang lebih jelek. Kaum Muslim menunggu dengan cemas ledakan kemarahan orang kafir. Dalam keadaan demikian, dengan tergopoh-gopoh seorang kafir datang ke masjid. Ia membawa manisan, lilin, dan jubah bagus. Ia bertanya, “Mana sang muazin yang suaranya selalu menambah kebahagiaanku?” Kaum Muslim heran. Mana mungkin suara sejelek itu menyenangkan siapa pun, apalagi orang kafir. “Suara panggilan salat itu masuk ke dalam gereja kami,” kata tamu non-Muslim. “Aku mempunyai seorang gadis jelita. Ia ingin menikah dengan Mukmin yang sejati. Keimanannya sangat bergelora. Aku takut keimanan itu akan membawanya kepada Islam. Setiap hari aku tidak bisa tidur dengan tenteram. Aku khawatir ia meninggalkan agamaku. Aku tak tahu bagaimana caranya menghilangkan kecemasanku ini. Tibalah suatu saat anakku itu mendengar suara azan. Ia berkata kepada adiknya, ‘Gerangan apa suara yang sangat menyakitkan telinga ini? Belum pernah sepanjang hidupku aku mendengar suara seperti itu di gereja atau biara.’ Adiknya berkata, ‘Suara itu namanya azan. Dengan suara itu orang Islam dipanggil untuk melakukan shalat.’ Ia tidak percaya. Ia bertanya kepada beberapa orang untuk meyakinkan hatinya. Setelah tahu pasti bahwa itu suara azan, air mukanya berubah. Aku melihat kebencian tampak pada mukanya. Betapa senangnya hatiku. Lepas sudah segala kecemasan dan ketakutanku. Malam tadi aku tidur dengan tenteram. Karena itu, aku ingin menyampaikan terima kasihku kepada kawan kalian itu. Duhai sang muazin, terimalah hadiahku ini.”
Saya tak tahu apa yang dimaksud Rûmî dengan cerita ini. Ia menulis, “Iman kalian hanyalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti panggilan salat itu, imanmu telah menjauhkan orang dari jalan Tuhan.” Sesudah itu, Rûmî menyatakan kekagumannya pada keimanan Bayazid Bisthâmî, tokoh sufi pada abad ketiga Hijriah. “Bayazid memberikan segalanya buat imannya. Semoga keberkahan dilimpahkan kepada sang singa yang tak ada tandingannya itu. Jika setetes iman Bisthâmî jatuh ke dalam lautan, seluruh lautan tenggelam dalam tetesan itu.” (Matsnawi, Daftar-e Panjâm 3390).
Barangkali Rumi membandingkan Bisthâmî dengan sang muazin. Keduanya berusaha menegakkan syariat Islam. Sang muazin sangat memperhatikan aspek lahiriah ajaran agama dan berusaha melakukannya, sekalipun bertentangan dengan maksud syariat itu. Azan dimaksudkan untuk memanggil orang kepada Tuhan. Sang muazin meneriakkan azan sesuai dengan ketentuan syariat, tapi azan itu tidak memenuhi tujuan syariat. Bisthâmî menjadikan aspek lahiriah sebagai landasan untuk mewujudkan tujuan syariat. Sekiranya tujuan syariat tidak bisa dicapai atau bahkan dilanggar, pengamalan syariat semata tidak akan mendekatkan orang kepada Tuhan.
Salat Anda tak ada artinya bila tidak mencegah kekejian dan kemunkaran. Haji Anda tak bermakna bila Anda tidak meninggalkan rumah Anda yang sempit (egoisme) dan tidak mengarahkan seluruh kehidupan Anda ke sekitar rumah Tuhan. Menegakkan negara Islam tidak diperlukan bila tidak berhasil menegakkan keadilan.
Tetapi, apakah itu yang dimaksud Rûmi? Mungkin saja Rúmi ingin menasihati kita agar menampilkan wajah Islam yang merdu, bukan yang keras dan menakutkan. Kita dapat menegakkan ajaran Islam seperti menyuarakan azan: bisa indah, bisa buruk. Cara kita mengamalkan ajaran Islam akan mempengaruhi sikap orang lain terhadap Islam. Mungkin, kapan saja kita ingin mengaktualkan Islam, kitaꟷdengan menggunakan misal al-Ghazali tentang berbicaraꟷharus melewati tiga gerbang. Gerbang pertama bertanya: apakah yang mau Anda kerjakan itu betul-betul ajaran Islam, berdasarkan Alquran dan Sunnah? Bila lulus pada gerbang pertama, Anda memasuki gerbang kedua: apakah yang akan Anda amalkan itu bermanfaat untuk Anda dan kaum Muslim? Dari gerbang kedua, Anda harus masuk ke gerbang ketiga: apakah Anda sudah menemukan cara terbaik untuk menjalankan amal itu?
Muhammad ‘Abduh pernah mengatakan bahwa Islam tertutup oleh orang-orang Islam. Lebih tepat lagi, keindahan syariat Islam sering tertutup oleh cara orang mengamalkan ajaran Islam itu. Bagaimana orang bisa tertarik menegakkan sistem kenegaraan Islam bila yang tampil sebagai negara Islam adalah gambaran menakutkan tentang Islam. Sukakah Anda tinggal di sebuah negara Islam yang menembaki laki-laki yang tidak berjanggut dan melarang perempuan bekerja? Sukakah Anda kepada negara Islam yang melakukan pengadilan tanpa peluang bagi terdakwa untuk membela diri? Sukakah Anda pada sistem politik Islam yang tidak memberikan kebebasan warga- negaranya menyampaikan pendapatnya dan menjalankan agama sesuai dengan apa yang dipahaminya? Sukakah Anda pada Republik Islam yang mencambuk orang di depan umum dan membiarkan kekayaan negara digunakan untuk kepentingan segelintir orang? Pendeknya, setujukah Anda kepada sang muazin yang meneriakkan azan yang jelek di tengah kaum kafir? . JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).