Warisan intelektual

untuk perkhidmatan

dan pencerahan pemikiran

Quotes
0
Articles
0
Videos
0
Audios
0

Jalan Rahmat

Misi Kami

Di Jalan Rahmat, kami berusaha menghadirkan kembara intelektual itu. Perjalanan dan pengelanaan beliau mengarungi ‘jagat’ semesta itu. Ada dokumentasi karya beliau. Puluhan buku, ratusan artikel, ribuan ceramah. Ada rekaman audio dan video. Ada pula karya-karya para guru bangsa, baik sahabat karib Allah yarham, para intelektual sezaman, maupun karya-karya para ulama besar yang mempengaruhi jagat kembara intelektual beliau. Jalan Rahmat adalah sebuah digital library yang ingin menghadirkan kembali semangat intelektual itu.

Jalaludin Rakhmat - Tauziah
Digilib

Donasi dan Beasiswa

Donasi dan Beasiswa untuk sekolah, madrasah, klinik, dan ragam kegiatan lainnya.

tauziyah

Digital Library

Kumpulan Ceramah, Artikel, Buku, Video dari para Guru Bangsa.

healthcare

Jalan Kecintaan

Warisan terutama dan teramat berharga dari Allah yarham adalah mengantarkan kami dan kita semua pada jalan menuju kerinduan dan kecintaan Sang Rahmatan lil ‘alamin. Itulah makna Jalan Rahmat yang sesungguhnya.

Latest Post

ILMU “MENGHADIRKAN”December 9, 2025Seorang pemuda menemui Nabi saw. Ia berkata, “Ya Nabi Allah, izinkan saya berzina!” Orang-orang berteriak mendengar pertanyaan itu. Tetapi Nabi saw. bersabda, “Suruh dia mendekat padaku.” Pemuda itu menghampiri Nabi dan duduk di hadapannya. Nabi berkata kepadanya, “Apakah kamu suka orang lain menzinai ibumu?” Segera ia menjawab, “Tidak, semoga Allah menjadikan diriku sabagai tebusanmu.” Nabi saw. ber sabda, “Begitu pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka.” “Sukakah kamu jika perzinaan itu terjadi pada anak perempuanmu?” “Tidak, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.” “Begitu pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada anak perempuan mereka.” “Sukakah kamu, jika perzinaan itu terjadi pada saudara perempuanmu?” Begitulah Nabi saw. menyebut bibi dari pihak ibu dan pihak bapak. Untuk semua pertanyaan Nabi, pemuda itu menjawab, “Tidak!” Rasulullah saw. meletakkan tangannya yang mulia pada dada pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah, sucikan hatinya, ampuni dosanya, dan pelihara kehormatannya.” Setelah itu, tidak ada yang paling dibenci pemuda itu selain perzinaan (Al- Manar, 4:33). Ketika saya membaca hadis ini, saya teringat pada sebuah artikel majalah Harper’s, Agustus 1988. Judulnya: Reflections of A Gangbanger (Renungan Tokoh Gang). Ketika diwawancarai, tokoh gang kenamaan itu berkata, “Aku dulu suka ‘mengompas’ orang. Ya, kadang-kadang dengan pistol di tangan, mencengkram atau merogoh kantong mereka. Sebab, kelakuan begitu, kupikir enak. Tetapi, kalau kamu mulai tua, kamu tidak ingin orang lain berbuat begitu kepadamu. Kamu juga tidak bakalan rela seseorang menyerang ibumu, mengambil dompetnya, atau apa sajalah. Nah, aku mulai berpikir; aku tidak mau berbuat seperti itu lagi; karena, bila ada orang berbuat seperti itu kepada ibuku, aku siap membunuhnya. Ya, mulai saat itu, aku menyesali apa yang sudah aku lakukan.” Ada rentangan zaman yang sangat panjang antara dua dialog itu. Tetapi, ada benang emas yang menghubungkan keduanya. Manusia menjadi lebih baik, bila ia dapat merasakan pengalaman orang lain, seperti orang itu mengalaminya sendiri. Ia bukan saja membayangkan pikiran atau perasaan orang lain. Ia melibatkan seluruh dirinya dalam pengalaman orang lain itu. Ia mengalaminya sendiri. Martin Buber, filosof eksistensialis, menyebutnya making presentꟷmenghadirkan. Para filosof Islam telah lama membahas sejenis ilmu ‘menghadirkan,’ yang mereka sebut ilmu hudhuri. Anda dapat mengetahui keberadaan Tuhan dengan bukti-bukti ‘aqli maupun naqli. Tetapi, pengetahuan ini tidak akan mempengaruhi kehidupan Anda. Hanya, ketika Anda merasakan atau mengalami kehadiran Tuhan, seluruh eksistensi Anda akan mengalami perubahan. Anda dapat membaca hadis-hadis Nabi saw. dengan cermat. Anda dapat membahasnya dengan sangat mendalam. Tetapi, hadis-hadis itu hanya akan mengubah diri Anda, bila Anda dapat merasakan perasaan Nabi dan mengalami pengalaman Nabi. Berguncang tubuh Anda, berdiri bulu kuduk Anda, meregang seluruh serabut otot Anda ketika diceritakan pertemuan Nabi saw. dengan Allah di Sidrah al-Muntaha. Menetes air mata Anda, serasa langit jatuh menghimpit Anda, sesak napas Anda ketika diriwayatkan bahwa Nabi saw. menyampaikan khutbah terakhir. Dapatkah setiap orang ‘menghadirkan’ pengalaman orang lain dalam dirinya? Tidak selalu. Secara potensial, setiap orang dibekali kemampuan untuk itu. Pada sebagiannya, potensi ini teraktualisasi. Pada sebagian lagi, potensi ini terabaikan sama sekali. Ketika Nabi saw. diberitahu akan bencana beruntun yang akan menimpa umat Islam sepeninggalnya, beliau tidak bisa tidur. Beliau dilaporkan tidak pernah tersenyum setelah itu. Al-quran menggambarkan pengalaman Nabi saw. dengan indah: Telah datang kepadamu Rasul dari kaummu sendiri, berat baginya kepedihan yang kamu tanggung. Ia ingin sekali kamu memperoleh kebahagiaan, sangat lembut dan sangat penyayang kepada kaum mukmin (QS 9:128). Pada diri Nabi, seluruh potensi ‘menghadirkan’ itu teraktualisasi. Apakah Anda sedih, ketika jutaan ibu mati pada waktu melahirkan karena kekurangan gizi, ketika tak terhitung pasien yang meninggal ‘dipulangkan’ dari rumah sakit, karena tidak sanggup membayar pengobatan, ketika banyak sekali anak-anak sekolah meninggalkan sekolahnya dan membakar tubuh mereka pada terik matahari, hanya sekadar untuk bertahan hidup? Dapatkah Anda rasakan kepedihan anak-anak kecil yang Anda yatimkan dengan kerakusan Anda? Tergetarkah hati Anda, ketika ribuan orang kehilangan pekerjaan karena proyek besar Anda? Apakah Anda merasakan perihnya perut dan lesunya tubuh pegawai-pegawai Anda yang Anda bayar dengan murah? Apakah Anda marah, kecewa, dan sekaligus nelangsa, ketika Anda mendengar TKW Indonesia disiksa majikannya di Saudi Arabia? Saya khawatir Anda menjawab “tidak” untuk semua pertanyaan itu. Tetapi “tidak” Anda tidak sama dengan “tidak”-nya pemuda yang ditanya oleh Rasulullah saw. “Tidak” Anda menunjukkan betapa sulitnya ‘menghadirkan’ pengalaman orang lain, walaupun dia saudara Anda sebangsa dan setanah air. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
TAFSIR HAMDALAHDecember 7, 2025Kali ini akan membahas tentang tafsir alhamdulillahi rabbil aalamiin. Kita akan menguraikan makna katanya satu per satu. Yang sudah kita ketahui, al-hamd artinya pujian; lillaah milik Allah. Orang-orang yang belajar bahasa Arab, biasanya meng-i’rab (menjelaskan) kata-kata satu demi satu untuk menganalisa kalimat ini. Mereka mengatakan bahwa al-hamd adalah mubtada’ (subjek). Pujian itulah yang menjadi mubtadaa, Lillaah disebut khabar, penjelasan dari subjek. Rabb ‘al-aalamiin disebut sifat (sifat Allah). Siapakah Allah itu? Dia adalah Rabb al-‘aalamiin (Tuhan seluruh alam). Dengan demikian, ada yang menyebutkan bahwa Allah menjadi mubtadaa dan rabb al-‘aalamiin menjadi khabar. Itu pembahasan menurut tata bahasa Arab. Tafsir Al-Quran tidak hanya membicarakan i’rab, tetapi juga balaghah (keindahan tata bahasa) bahasa Arab. Ada beberapa aliran dalam menafsirkan Al-Quran: (1) aliran lughawi, yaitu aliran yang mencoba menjelaskan kata-kata secara tata bahasa atau semantik; (2) aliran fikih, yaitu aliran mencoba memahami ayat-ayat Al-Quran dengan mencari hukum-hukum fikih yang terdapat di dalamnya; (3) aliran falsafi, yakni aliran yang menjelaskan ayat- ayat Al-Quran dari segi filsafat; (4) aliran sufi, yaitu aliran yang menjelaskan ayat-ayat Al-Quran dari tasawuf. Pada tulisan ini saya akan membahas hamdallah menurut aliran sufi. Makna Al Hamd Apa yang dimaksud dengan Al Hamd atau pujian? Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang digunakan untuk memuji, yaitu (1) al-hamd, dari kata hamida-yahmadu-hamdan; (2) al-tsana, altsaniyyah-bentuk jamak; (3) al-syukr; dan (4) al-madh. Apa perbedaan keempat kata tersebut dalam bahasa Arab? Semuanya memang memiliki arti pujian. Perbedaannya, al-hamd berarti memuji sesuatu atau seseorang untuk sifat-sifat baik yang bersifat ikhtiyari (berdasarkan ikhtiar); sedangkan al-madh berarti memuji sesuatu atau seseorang untuk sifat-sifat yang ghair ikhtiyari (bukan berdasarkan ikhtiar). Kita bisa memberikan contoh yang menjelaskan ikhtiyari dan ghair ikhtiyari. Menguji bunga mawar karena warnanya yang merah dan indah adalah suatu pujian tentang sesuatu yang ghair ikhtiyari. Artinya, mawar itu merah bukan karena ikhtiari-Nya,bukan karena kehendaknya. Memuji seseorang yang tampan atau cantik pun bukan termasuk pujian ikhtiyari. Sebab, ketampaanan atau kecantikan itu terjadi bukan karena kehendak seseorang melainkan sudah tercipta sebelumnya. Ia tidak berusaha keras untuk menjadi cantik. Jika ada orang yang sebenarnya tidak cantik, lalu berusaha keras untuk menghias dirinya — misalnya dengan memakai kosmetik — dan kita memujinya, pujian itu disebut al-hamd. Sekali lagi, pujian kita kepada seseorang ada dua macam. Pertama, pujian yang terjadi karena perbuatan orang itu. Pujian ini disebut al-hamd. Memberikan award kepada yang berprestasi adalah al-hamd. Terkadang kita memuji seseorang bukan karena hasil usaha orang itu. Inilah pujian kedua, yang dinamakan al-madh. Adapun al-tsana adalah pujian yang bersifat umum, baik yang ikhtiyari maupun yang ghair ikhtiyari. Sedangkan al-syukr lebih khusus lagi, yaitu pujian terhadap kebaikan orang lain kepada diri kita. Bila kita memuji kebaikan seseorang secara umum, itu dinamakan al-hamd. Tapi bila kita memuji karena kebaikannya yang khusus kepada kita, itu dinamakan al-syukr. Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata al-hamd. Alif lam di situ menunjukkan li al-istighraq, yakni meliputi segala sesuatu. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, alif lam itu adalah the. Berarti, kata al-hamd merupakan isim ma’rifat (yang menunjukkan sesuatu yang tertentu). Tapi, alif lam juga bisa menunjukkan arti semua. Al-hamd berarti semua pujian. Dengan demikian, kata ini mencakup segala pujian, baik yang ikhtiyari, ghair ikhtiyari (madh) maupun syukr. Namun, Allah menggunakan kata al-hamd bukan al-madh. Juga tidak digunakan-Nya kata al-syukr. Hal ini karena sifat-sifat yang terdapat pada Allah atau kebaikan-kebaika-Nya bukanlah kebaikan yang ghair ikhtiyari. Kita memuji Alah karena Dia berbuat baik kepada kita, karena sesuatu yang ikhtiyari. Allah sudah memilih untuk berbuat baik kepada kita. Karena itulah kita mengucapkan alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Huruf lam dalam kata lillah amat sulit kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia hanya dalam satu kata saja. Sebab, bila kita menerjemahkan dalam satu kata saja, berarti kata-kata yang lain hilang. Di situlah sulitnya menerjemahkan. Belum lagi dengan adanya manipulasi; kita masukkan paham kelompok kita dalam terjemahan. Makna Lam Pertama lam berarti lil-milki atau kepunyaan. Jadi, al-hamd (pujian) itu kepunyaan Allah. Tidak seorang pun yang berhak untuk dipuji, yang indah kecuali Allah saja. Manusia tidak berhak. Mawar yang indah pun tak berhak. Seluruh pujian itu kepunyaan Allah. Kedua, li al-ghyah, yakni untuk menunjukkan tujuan. Kita menerjemahkannya dengan kata “untuk”. Lillah di situ maksudnya adalah “untuk Allah”. Berarti, kepada siapapun kita memuji, tujuan akhirnya adalah untuk Allah. Kalau kita memuji orang yang cantik, ujung-ujungnya pujian itu adalah untuk Allah. Karena Allah-lah membuat dia cantik. Atau kalau kita memuji sesuatu, hendaklah tujuan kita membuat dia cantik. Atau kalau kita memuji sesuatu, hendaklah tujuan kita pada akhirnya adalah pujian untuk Allah. Oleh karena itu, menurut penulis kitab tafsir Al-Amtsal, Syaikh Makarim Shirazi, pada hamdallah terdapat petunjuk tentang tauhid yang disebut tauhid zat, tauhid sifat, dan tauhid perbuatan. Makna Rabb Al-alamin Kata rabb, biasa berarti ” yang mengurus sesuatu” atau “pemilik sesuatu”. Rabb al-bait berarti yang mengurus, merawat, dan memelihara rumah.  Rabbibah berarti perempuan yang kita pelihara atau kita rawat. Sebagian ulama mengatakan bahwa rabb juga biasa berarti al-sayyid, pimpinan, junjungan, atau tuan. Budak belian menyebut majikannya dengan kata rabbana (tuan kami). Karena itu pula, pimpinan agama di kalangan Yahudi disebut rabbi. Menurut penulis kitab Majma’ Al-bayan, kata rabb biasa berarti al-mutha atau orang yang ditaati. Marilah kita memahami makna yang paling dasar. Rabb al-alamin artinya Tuhan yang memelihara, mengurus, dan menciptakan seluruh alam semesta ini. Al-alam diartikan sebagai dunia; ‘alam diartikan sebagai dunia; al-alamin artinya internasional. Dengan demikian, alam adalah kelompok selain Allah yang kita kategorikan dalam kategori yang sama karena mmpunyai sifat-sifat yang sama. Misalnya, alam jin, manusia, tetumbuhan, dan benda padat. Rabb al-alamin sekaligus menjelaskan dua hal, yakni rabb (Allah) dan selain Allah. Rabb al-alamin adalah selain-Nya. Allah-lah yang memelihara, mengurus, dan mengatur seluruh alam ini. Ada macam-macam pembagian alam. Banyaknya pembagian alam bergantung pada kategorinya. Bila pembedaan itu didasarkan pada kemampuan mengindera, maka orang membaginya ke alam jasmani, ruhani, cahaya dan kegelapan. Bila diukur berdasarkan ukuran ahli tasawuf, alam dibedakan ke dalam empat alam; nasut, malakut, jabarut, dan lahut. Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa jumlah alam ini ribuan, ada juga yang menyebutnya ratusan. Sebetulnya perbedaan itu tidak bertentangan satu sama lain. Sebab hal itu bergantung pada kategori yang digunakan. Mari kita ambil definisi yang umum; alam adalah apa saja selain Alah. Itulah pembahasan dari segi bahasa. Selanjutnya adalah pembahasan yang besifat filosofis. Al Fakhr Al-Razi berkata, “Ketahuilah, ketika berfirman alhamdulillah, seakan-akan Allah sedang menjelaskan dua hal untuk menjawab dua pertanyaan. Pertama, Allah sedang menjelaskan adanya wujud Tuhan. Segala pujian itu kepunyaan Allah dan wujud Allah itu ada di sini. Kedua, dalam kalimat alhamdulillah terkandung makna bahwa Alah saja yang berhak dipuji.” Pertanyaan berikutnya: “Mengapa hanya Allah yang berhak mendapat pujian?” Al-Fakhr Al-Razi berkata, “Untuk menjawab pertanyaan yang menunjukkan Allah itu ada, hal itu dijawab masih dalam kalimat itu, rabb al-alamin.” Mengapa segala pujian itu hanya untuk Allah?” Karena, seluruh alam semesta ini dipelihara-Nya dengan teratur dan tertib. Saya tidak ingin mengulangi argumentasi yang sudah klasik tentang ketertiban di alam semesta yang kemudian dibantah oleh sebagian filosof. Menurut mereka, tidak selamanya alam semesta ini tertib atau teratur. Kadang-kadang musim hujan datang di musim kemarau. Kadang-kadang salju turun di Saudi Arabia. Kadang angin badai menghancurkan seluruh sistem ini. Kalau begitu, di mana pemeliharaan Tuhan? Argumentasi Klasik tentang Adanya Allah Sebelum menjawab masalah-masalah filosofis di atas, marilah kta mengulangi argumentasi klasik tentang adanya Allah dengan melihat keteraturan alam semesta ini: bahwa semua ini mesti ada yang mengurusnya. Amat sulit sebenarnya menjelaskan seluruh peristiwa ini tanpa menjelaskan adanya sesuatu di baliknya. Saya ingin menceritakan kembali sebuah cerita. Dahulu, pada zaman keemasan Islam, ketika kebebasan berpendapat sangat dihormati, dan secara bersamaan orang Yahudi dikejar-kejar, serta orang-orang Nasrani tidak bisa menjalankan agamanya dengan baik, mereka semua berlindung di balik perlindungan Islam, dan mereka bisa mengembangkan pemahamannya. Yang dilindungi bukan saja orang Yahudi dan Nasrani, tetapi juga orang yang tidak percaya kepada Tuhan atau Ateis. Pada zaman keemasan Islam, terjadilah perdebatan yang sangat menarik di antara para ateis dengan para ulama. Kalau tidak salah, salah satu ulama yang dimaksud adalah Hasan Al- Bashri. Ditentukanlah satu hari di mana the great debate (perdebatan besar) akan dilaksanakan di kota Bagdad. Semua orang boleh hadir tanpa harus membayar. Pembicara dari kalangan Zindiq (orang yang tidak percaya kepada Tuhan) sudah berdiri di atas mimbar. la sudah membuktikan kesalahan tentang adanya Tuhan. Katanya, “Tuhan tidak ada.” Waktu itu Hasan Al- Bashri belum kunjung datang. Si Zindiq semakin berkacak pinggang di atas mimbar. la mengatakan bahwa Hasan Al-Bashri tidak mempunyai Hujjah yang kuat dan karenanya tidak berani berdebat. Konon, perdebatan itu dilangsungkan dengan persetujuan raja dengan konsekuensi; yang kalah harus dipotong kepalanya. Sehingga orang-orang berkata, “Wah, mungkin Hasan al-Bashri takut kepalanya dipotong karena kalah dalam berdebat.” Menjelang zuhur, Hasan Al-Bashri datang tergopoh-gopoh. la ditanya dan dimaki oleh Zindiq itu di atas mimbar. “Mengapa kamu terlambat?” Hasan Al-Bashri menjawab, “Saya berangkat pagi dari rumah. Seperti Anda ketahui, antara rumah saya dan tempat ini dihalangi oleh sungai Dajalah, sungai yang sangat besar. Waktu saya datang ke sungai itu, tidak ada kendaraan yang dapat memberangkatkan saya. Saya juga tidak bisa berenang. Jadi, saya menunggu di tepi sungai. Setelah sekian lama berdoa agar bisa datang tepat pada waktunya, tiba-tiba saya melihat pecahan-pecahanitu berkumpul satu sama lain, dan akhirnya membentuk sebuah perahu. Dan saya pun menaikinya.” Segera si Zindiq berteriak, “Takhayul! Mana mungkin pecahan-pecahan papan dapat berkumpul dan dapat membentuk perahu dengan sendirinya?” Al-Bashri menjawab, “Mana mungkin juga seluruh alam semesta ini berkumpul satu sama lain dengan sendirinya membentuk seluruh sistem yang sangat menakjubkan? Mana mungkin darah, daging, dan tulang dapat berkumpul menjadi kamu?” Dengan jawaban itu, terputuslah argumentasi si Zindiq yang sudah ia pertahankan sejak pagi karena ia membantah tidak mungkin perahu dapat terjadi dengan sendirinya, padahal apalah artinya perahu dibandingkan alam semesta. Bila perahu yang amat kecil saja perlu ada pembuatnya, apalagi seluruh alam semesta. Itulah argumentasi yang pertama yang bisa dipahami siapa pun. Ada seorang ahli geologi. Salah seorang nenek moyangnya bernama Pascal, seorang ilmuwan besar. Salah seorang kakeknya juga ada yang menjadi ahli agama. Nama ahli geologi itu adalah Theilhard de Chadrine. Ia melakukan penelitian-penelitian alam. la pun orang yang amat taat beragama. Ia habiskan waktunya untuk dua hal: meneliti dan berzikir. Ia juga ternyata seorang pendeta yang tidak menikah. Seluruh hidupnya ia persembahkan untuk kemanusiaan. Hasil penelitiannya ia kumpulkan dalam sebuah buku yang amat mengesankan. Ia menulis “Jika memerhatikan seluruh alam semesta ini, kita melihat seakan-akan seluruh alam ini bergerak menuju satu tujuan tertentu”. Kita sebut pemikiran itu sebagai pemikiran teleologis. De Chardine meneliti bebatuan. Ia mengatakan bahwa bebatuan itu mempunyai ruh dan bergerak menuju tujuan tertentu. Apa tujuannya? Ke arah kesempurnaan. Inilah yang disebut evolusi progresif. Dalam dunia Islam, ada dua pandangan tentang evolusi. Ada evolusi regresif, yang umumnya dianut oleh Ahlu Sunnah. Menurut paham ini, perkembangan di alam semesta semakin lama semakin jelek. Ada juga yang berpendapat bahwa revolusi bergerak ke arah kesempurnaan, atau evolusi progresif. Paham ini banyak dipegang oleh filosof-filosof syiah. Mereka beralasan: “(Dialah) yang telah menciptakan kemudian menyempurnakan. Alladzi khalaqa fasawwa. (QS Al-A’laa:2) De Chardine mengatakan bahwa seluruh semesta ini bergerak menuju kesempurnaan secara menakjubkan. Artinya, ada sesuatu yang menggerakkan semua itu. “Sesuatu” itu adalah Allah Swt. Apa bukti bahwa Allah itu ada? Jawabannya: “Rabb ‘al-alamin”. Karena Dia-lah yang mengurus, memelihara, dan menyusun seluruh alam semesta ini; seperti terdapat dalam sebuah doa Ahlul Bait: Tuhan, Engkau pelihara aku. Di waktu kecil, Kau besarkan aku, Kau urus aku, Kaulimpahi aku dengan seluruh anugerah dan nikmat- Mu. Dan inilah aku yang memeroleh nikmat-Mu setiap hari tetapi tidak mensyukuri-Mu. Kapan Rasa Syukur Timbul? Rasa syukur timbul bila kita merasa Tuhan memelihara kita sepanjang perjalanan hidup kita. Dalam ilmu kedokteran, diketahui bahwa kita mempunyai dua buah ginjal yang berfungsi untuk membersihkan darah. Bila ginjal yang satu hancur, ginjal yang lain masih berfungsi. Manusia dapat hidup dengan satu ginjal tersebut. Bila kedua ginjal kita rusak, kita harus mengalami proses cuci darah di rumah sakit yang ongkosnya jutaan rupiah, sekali seminggu. Ginjal kita adalah sistem pembersihan darah yang paling mudah dan paling murah, tak perlu membayar sepeser pun. Empat Surat yang Dimulai dengan Alhamdulillah Surat Al-An’am: alhamdulillahilladzi khalaqas samawati wal ardh wa ja’alazh zhulumat wan nur (Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya). Kita memuji Allah karena Dia menciptakan alam langit, alam bumi, alam kegelapan dan alam cahaya. Surat Al-Kahfi: Alhamdulillahilladzi anzala ‘ala abdihil kitab wa lam yaj’al lahu ‘iwaja (Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Kitab kepada hamba-Nya). Kita memuji Allah karena dengan kitab itu Dia telah mendidik, mengembangkan, dan memelihara manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Surat Al-Saba: Alhamdulillahilladzi lahu ma fis samawati wal ardh (Segala puji bagi Allah. Kepunyaan-Nya laha apa-apa yang ada di langit dan di bumi). Surat Fathir: Alhamdulillahi fathiris samawati wal ardh …(Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi). Yang menjadikan malaikat sebagai Rasul yang memiliki dua, tiga, atau empat sayap, dan menambah apa yang dikehendaki. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi ini sebagai makhluk-makhluk material atau jasmaniah. Dia juga menciptakan malaikat sebagai makhluk-makhluk ruhani. Mensyukuri-Nya Karena Dia Memelihara Kita Kita hanya bisa betul-betul bersyukur kepada Allah Swt apabila kita merasakan pemeliharaan Allah kepada kita. Yang menjadi persoalan adalah: “Jika Alah memelihara kita, mengapa hidup kita banyak mengalami penderitaan? Mengapa kita sering menemui penghalang dalam menegakkan kebenaran? Mengapa kita ditipu ketika kita berbisnis? Di mana pemeliharaan Allah?” Satu hal yang harus kita ingat, Allah memelihara kita bukan saja melalui kegembiraan tetapi juga melalui kesedihan. Allah mengurus kita tidak hanya melalui kesedihan. Allah mengurus kita tidak hanya melalui kenikmatan tetapi juga melalui penderitaan. Tujuannya, supaya kita mencapai perkembangan yang baik. Orang-orang yang tidak dipelihara oleh penderitaan biasanya tidak berkembang ke arah kesempurnaan. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
MEMAHAMI MAKNA RABBUL ALAMINDecember 2, 2025Alhamdulillah adalah kalimat yang mulia, dan hanya disebut pada tempat-tempat yang layak. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ketika Nabi Adam as. Pertama kali dimasuki oleh ruh dan hidup, sebagai tanda kehidupannya, ia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah rabb al-alamin“. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa di akhir doa penghuni surga ada kalimat Alhamdulillah rabb al-alamin. Ketahuilah, terbukanya alam semesta ini ditegakkan atas lafal Alhamdulilla rabb al-alamin, dan akhir perjalanan kehidupan ini juga Alhamdulilla rabb al-alamin. Karena itu, usahakanlah agar semua amal kita yang pertama dan terakhir dimulai dan diakhiri dengan Alhamdulilla rabb al-alamin. Makna Rabbul Alamin Arti rabb al-alamin adalah yang mengurus, menjaga, dan merawat alam semesta. Karena itulah, perempuan yang diurus oleh satu keluarga Arab disebut rabibah. Dari sini ahli tafsir menjelaskan tarbiyatullah. Bagaimana Allah memelihara alam semesta ini. Kata rabb bisa berarti pendidik. Dalam rangka memelihara dan mengurus itu sebenarnya Allah juga mendidik. Sebab itulah kita mengenal kata tarbiyah, yang menurut sebagian orang berasal dari kata rabb. Dalam arti yang pertama, rabb al-alamin berarti Allah-lah yang mengurus, menjaga dan merawat alam semesta. Rabb juga bisa berarti pemilik. Dalam bahasa Arab, rabb al-ghanam berarti pemilik kambing. Rabb al-bait berarti pemilik rumah. Boleh jadi istilah rabbi dalam bahasa Ibrani dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pendeta mereka berarti orang-orang yang mengurus, memelihara, dan mengayomi. Karena, ada arti lain dari kata rabb sebagaimana dikemukakan penulis tafsir Majma’ Al-Bayan. Rabb bisa berarti juga al-sayyid al-mutha, pemimpin yang ditaati. Mungkin dari situlah kata rabbi di kalangan orang Yahudi itu muncul. Sebab, bahasa Ibrani dan bahasa Arab memiliki banyak kesamaan. Misalnya kata salam dalam bahasa Arab, menjadi salom dalam bahasa Ibrani. Kata al-alamin berasal dari kata ‘alam. Kata ‘alam berasal dari kata ‘alam (‘ain pendek) yang berarti bendera atau tanda. Kata lain yang dekat dengan ‘alam adalah alamah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi alamat. Alamat adalah tanda atau ciri untuk mengetahui tempat seseorang. Dalam bahasa Arab, alamat atau address tidak disebut ‘alamah melainkan ‘unwan. Mengapa alam semesta diartikan sebagai ‘alamah atau tanda? Karena, dalam konsepsi Al-Quran, seluruh alam ini adalah tanda-tanda Allah. Dalam surat Al-Rum ayat 22 disebutkan: “Dan di antara ayat-ayat-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi alam semesta”. Seluruh alam ini adalah tanda-tanda Allah. Alam adalah alamah Allah. Jadi, kalau kita ingin mencari-Nya, carilah dari alamat-Nya. Sebagian mufasir mengatakan bahwa alam berasal dari kata ‘ilm, ilmu pengetahuan (ma’rifah). Karena, dari alam lah kita mengetahui ilmu tentang alam, juga tentang pencipta alam itu. Dengan menyebutkan rabb al-alamin, Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa jalan yang paling dekat untuk sampai kepada-Nya adalah dengan mengenal alam; dengan mengenal bagaimana Allah memelihara seluruh alam semesta ini. Oleh karena itu, Syaikh Makarim Al-Syirazi, dalam tafsirnya Al-Amtsal, ketika menafsirkan rabb al-alamin, mengatakan bahwa dengan mengucapkan rabb al-alamin, kita meyakini bahwa rububiyyatullah thariqun li ma’rifatullah. Salah satu jalan untuk mengenal Allah adalah memerhatikan bagaimana Allah memelihara alam semesta atau bagaimana rububiyyah Allah di alam semesta ini. Dari segi bahasa, ada hal yan gmenarik dari kata alamin. Alamin adalah bentuk jamak (plural) dari kata ‘alam, yang kemudian diubah menjadi alamin. Hanya saja, karena menjadi mudhaf ilaih (kata yang digandengkan dengan kata sebelumnya), maka bunyinya menjadi alamin. Kata ini adalah bentuk jama’ mudzakar salim. Bentuk ini beraturan dan dipakai untuk yang berakal saja. Dalam bahasa Arab, hampir semua bentuk kata benda adalah tidak beraturan, sehinga disebut dengan jama’ taksir (jamak yang memecahkan kata-kata sehingga tidak beraturan). Dalam bahasa Arab, jamak yang tidak pecah hanya digunakan untuk yang berakal, yang bernyawa. Tetapi di sini al-amin menggunakan bentuk jamak mudzakkar salim. Jadi, mestinya al- amin di sini tidak menunjukkan benda-beda yang tidak berakal, melainkan sesuatu yang bernyawa. Karena itu sebagian mufasir bahkan menurut Sayyid Rasyid Ridha, Imam Ja’far Shadiq mengartikan, alamin dengan manusia. Dengan demikian, rabb al-alamin, sama dengan rabb al-nas. Itu berarti, ayat yang pertama dari Al-Quran adalah rabb al-alamin. Dan ayat pertama dari surat terakhir dalam al-Quran juga berkenaan dengan rabbul-nas (surat Al-Nas). Oleh karena itu, al-alamin berarti al-nas, yang berarti seluruh manusia, tidak berkenaan dengan benda-benda. Syaikh Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menyebutkan: Diriwayatkan dari Imam Ja’far bahwa yang dimaksud dengan al- alamin adalah seluruh manusia. Dan itu ada alasannya dalam Al- Quran. Misalnya dalam surat Al-An’am ayat 90, Yusuf 104, dan Al-Furqan. Rasulullah juga diutus untuk menjadi rahmatan lil- alamin. Jadi, berdasarkan ayat-ayat itu, sebagian mufasir berpendapat bahwa al-alamin adalah umat manusia. Sebagian mufasir lain mengartikan alam di situ bukan hanya manusia, melainkan juga seluruh alam ini, alam jin, bebatuan dan alam lainnya, walau pun dalam bahasa Arab yang biasa, memang untuk kata al-alam yang berarti seluruh alam,bentuk jamaknya adalah awalim. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa adanya alam bukan hanya manusia adalah surat al-Syura ayat 23-24. Menurut Al-Fakhr Razi, makna rabb adalah yang memelihara, menjaga, melindungi dan mengayomi. Jenis pemeliharaan itu ada dua (1) ada orang yang memelihara sesuatu karena ia ingin memperoleh keuntungan dari yang ia pelihara; dan (2) ada orang yang memelihara sesuatu agar yang dipeliharanya itu beruntung. Jenis pemeliharaan yang pertama adalah jenis pemeliharaan makhluk. Sedangkan jenis pemeliharaan yang kedua adalah pemeliharaan Allah; itulah tanda rabb al-alamin. Dengan ini seakan-akan Allah berfirman, “Aku menciptakan kamu agar kamu beruntung dari-Ku, bukan supaya Aku beruntung darimu.” Itulah pemeliharaan Allah; berbeda dengan makhluk yang memelihara dengan harapan memperoleh keuntungan. Seorang Ibu memelihara anaknya. Ia merasa bermakna menjadi seorang ibu. Karena itulah banyak ibu merindukan untuk mempunyai anak dan merawatnya karena ada kenikmatan dalam memelihara anak. Ibu itu memeroleh keuntungan. Beda halnya dengan Allah. Ia memelihara kita tanpa memeroleh keuntungan apa pun. Karena itulah, Dia itu ghaniyyun anil alamin, yang tidak  memerlukan keuntungan dari seluruh alam semesta ini. Jadi, ketahuilah, pemeliharaan Allah berbeda dengan yang lain dengan beberapa penjelasan sebagai berikut: (1) Allah memelihara, mendidik, menjaga hamba-hamba-Nya bukan untuk kepentingan-Nya, tetapi untuk kepentingan yang dijaga-Nya. Sedangkan yang lain melakukan pemeliharaan justru untuk kepentingan pribadinya, bukan untuk orang lain; (2) Allah memelihara kita dengan perbendaharaan-Nya yang tak terhingga; berbeda dengan selain Allah yang memelihara dengan sangat terbatas. (3) Allah memelihara kita tanpa mengharapkan balasan dari kita; sedangkan selain Allah berbuat baik dengan mengharapkan balasan, baik di dunia dan akhirat. (4) Berbeda dengan makhluk yang, jika dimintai sesuatu terus menerus dengan merengek, akan jengkel dan marah, Allah justru akan marah jika manusia meminta kepada-Nya tidak dengan merengek, tidak terus menerus, tidak bersikeras, dan cepat bosan. Allah justru menyukai orang yang meminta dengan terus-menerus dan tidak berputus asa. Nabi Zakaria as dipuji karena terus menerus meminta kepada Allah sampai puluhan tahun. Sejak menikah ia berdoa ingin dikaruniai anak. Nabi zakaria merintih, “Tuhan, sudah rapuh tulang-tulangku, tapi aku tidak akan menghentikan doaku kepada-Mu. Allah memujinya, tetapi ia tak gentar meminta kepada Allah. Akhirnya, Allah mengabulkan doa Zakaria. Bandingkanlah dengan sebagian orang yang akhirnya tidak mau berdoa dan shalat lagi karena ia sudah berdoa puluhan tahun tetapi Tuhan belum juga mengabulkannya. Ingatlah, Allah mencintai orang-orang yang terus menerus merintih, memohon kepada-Nya. (5) Siapa pun, selain Allah, tidak akan berbuat baik kalau tidak akan diminta. Sedangkan Allah sebaliknya. Sebelum kita minta, bahkan sebelum kita tahu harus meminta, Dia telah menjaga kita dalam rahim ibu dan menglirkan susu lewat ibu kita. (6) Allah tidak pernah berhenti berbuat baik kepada kita. Sedangkan kita sebaliknya. Kita mempunyai batas waktu dalam berbuat baik. Kita tidak akan bisa menghitung nikmat- nikmat Allah sehingga kita merasakan kebaikan Allah yang diberikan kepada kita setiap saat. Anehnya, kita sering lebih cepat melihat niqmah (bencana) daripada ni’mah (kenikmatan). Kita lebih mudah memerhatikan niqmah daripada ni’mah Allah. Itulah sebabnya kita menjadi mudah putus asa. Saya teringat cerita dari Dale Carnegie tentang seseorang pengusaha di Amerika serikat yang bangkrut. Ia putus asa dan akan pulang ke kampung halamannya. Saat berjalan di pinggir jalan, tepatnya ketika ia akan menyebrangi jalan, ia berpapasan dengan orang buntung yang memakai kursi roda. “Lihat, betapa indah pagi ini!” kata orang buntung itu. Dengan ragu menjawab, “Ya.” la terdiam, lalu berpikir,” Saya bangkrut”. Ia yang tidak mempunyai kaki saja bisa memandang pagi ini dengan indah.” Akhirnya ia tidak jadi pulang. Ia kembali ke bank untuk memohon kredit. Ia bekerja keras dan akhirnya kembali menjadi chief executive officer. Ia memasang satu tulisan di kamarnya, sajaknya sendiri. I Was blues Because I had no shoes Until off on street I met man without feet Aku melihat dunia ini kelabu Karena aku tidak mempunyai sepatu Sampai di pinggir jalan Aku bertemu orang tanpa kaki Ingatlah, kebaikan Allah Swt kepada kita jauh lebih besar daripada ujian-Nya dan kebaikan Allah itu tak pernah berhenti. (7) Kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu; sedangkan kasih sayang selain Allah hanya untuk hal-hal tertentu saja. Allah menyayangi orang yang suka beribadah. Allah juga menyayangi orang yang suka berdosa. Dalam sebuah ayat Al-Quran, Allah berfirman: “Ya ‘ibadi,wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas.” Siapakah yang dipanggil dengan panggilan yang penuh kasih itu? Begitu besar kasih sayang Allah sehingga Dia mengkhususkan panggilan itu kepada para pendosa, orang-orang yang telah melewati batas. Tuhan memanggil mereka untuk kembali datang kepada-Nya. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
KECUALI PARA PENYAIR YANG BERIMANDecember 1, 2025Â’isyah berkata bahwa Rasulullah Saw pernah memperbaiki sandalnya: Aku duduk menjahit. Aku memandang kepadanya. Aku lihat keringat mengalir dari dahinya, memancarkan berkas-berkas cahaya. Aku terpesona. Rasulullah Saw memandangku seraya berkata, “Mengapa engkau terpesona?” Aku menjawab, “Ya Rasul Allah, aku tadi melihatmu dan aku lihat keringat muncul di dahimu, memancarkan berkas-berkas cahaya. Sekiranya penyair Abu Kabir al-Hudzali melihatmu, pastilah ia tahu bahwa engkau paling berhak dilukiskan dalam syairnya.” Nabi Saw berkata, “Bacakan kepadaku puisinya.” ‘Â’isyah pun mendeklamasikan sajak Abu Kabir, di antaranya: Penghapus segala derita wanita dan kesusahan yang menyusui. Obat segala penyakit yang tak tersembuhkan Bila kulihat sinar mukanya Berkilat bagaikan kilatan dahi yang gemerlap Rasulullah Saw meletakkan apa yang ada di tangannya. Ia berdiri, dan mencium di antara kedua mataku. Ia bersabda, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, hai ‘A’isyah. Kebahagiaanmu karena aku, sama dengan kebahagiaanku karenamu.” (Hilyat al-Awliya 2:45). Rasulullah Muhammad Saw senang mendengarkan dan sekali-sekali membacakan puisi. Ia memuji Hasan bin Tsâbit, penyair yang mendendangkan puisi yang mengungkapkan kekagumannya pada Nabi Saw. “Sesungguhnya Allah memperkuat Hasan bin Tsabit dengan Ruh Kudus selama ia membela Rasulullah. Ketika Muhammad Saw diberi kemenangan dalam perang, ia teringat pamannya Abû Thâlib, yang melindunginya sejak kecil sampai menjadi Nabi Saw. Air matanya tergenang di pelupuk matanya. Ia berkata, “Sekiranya paman masih hidup, tentu bahagialah hatinya. Siapa di antara kalian yang mau membacakan puisi pamanku?” Para sahabat bergilir membacakan puisi Abú Thâlib. Ketika ia mengangkut batu bata dalam persiapan Perang Khandaq, tanah menciprati kulit perutnya yang mulia. Ia membacakan puisi Abdullâh bin Rawahah: Ya Allah, jika Engkau tiada Tidaklah kami mendapat petunjuk Tidak akan berderma atau sembahyang Turunkan ketenteraman kepada kami Teguhkan langkah ketika musuh menghadang kami Mereka ingin membinasakan kami Jika menyerang, kami lawan mereka. Peristiwa di atas diriwayatkan Imam Ahmad (4: 302) dan banyak periwayat hadis lainnya, seperti juga Imam al-Bukhari. Tidak syak lagi, puisi bukan saja tidak dilarang Nabi Saw, tetapi ia bahkan mendorong para sahabatnya untuk berkreasi. Ketika turun ayat Al-Quran: Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang- orang yang sesat (Qs asy-Syu’ard, 26: 224), para penyair Muslim datang kepada Rasulullah Saw sambil menangis. “Kamilah penyair itu, ya Rasul Allah. Kepada kami turun ayat itu,” ujar mereka. Kemudian Nabi Saw membacakan ayat Al- Quran (Qs asy-Syu’arâ’, 26: 227): Kecuali para penyair yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. Kalian telah dizalimi dan kalian telah mendapat pertolongan.” Tuhan mengecam penyair yang menggunakan bahasa untuk menunjang kezaliman, mengejar semata-mata popularitas, atau membangkitkan akhlak yang tercela. Inilah para penyair yang “mengembara di tiap-tiap lembah,” yang suka “mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan” (Qs asy-Syu’arâ’, 26: 225-226). Tetapi Tuhan memperkuat penyair yang menentang kezaliman, menyuarakan penderitaan orang tertindas, atau mengembangkan manusia ke arah kesempurnaan. Tuhan memperkuat mereka dengan Ruh Kudus. Tidak ada alat yang begitu plastis untuk mengekspresikan perasaan dan sekaligus menggelorakannya, selain bahasa. Pada lidah penyair, bahasa berubah menjadi seperti tanah liat bagi para pengrajin, juga peluru bagi para pejuang. Puisi adalah stenografinya gagasan. Jika satu gambar dapat melukiskan seribu kata, maka satu kata dalam puisi dapat melukiskan seribu gagasan. Dilatarbelakangi itu, maka seperti Rasulullah Saw, saya ingin menyatakan apresiasi saya sebesar-besarnya pada upaya saudaraku MIF Baihaqi yang telah menuliskan tuturan hikmah berwajah puisi dalam buku ini. Seperti Nabi yang mulia, saya senang mendengarkan puisi dan senang juga membacakannya. Sebagai penutup buat pengantar singkat ini, izinkan saya membacakan puisi yang bukan puisi. Saya menggubahnya dari hadis pada Tafsir ad-Durr al-Mantsûr, berkenaan dengan ayat Al-Quran (Qs al-Baqarah, 2:3): Kurindukan Mereka, ya Rasul Allah Dini hari di Madinah Al-Munawwarah Kusaksikan para sahabat berkumpul di masjidmu Angin sahara membekukan kulitku Gigiku gemertak Kakiku berguncang Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka Engkau datang, ya Rasul Allah Kupandang dikau: Assalamu ‘alayka ayyuhan Nabi wa rahmatullah Assalamu ‘alayka ayyuhan Nabi wa rahmatullah Kudengar salam bersahut-sahutan Kau tersenyum, ya Rasul Allah, wajahmu bersinar Angin sahara berubah hangat Cahayamu menyelusup seluruh daging dan darahku Dini hari Madinah berubah menjadi siang yang cerah Kudengar engkau berkata: Adakah air pada kalian? Kutengok cepat gharibah-ku Para sahabat sibuk memperlihatkan kantong kosong Tidak ada setetes pun air, ya Rasul Allah Kusesali diriku Mengapa tak kucari air sebelum tiba di masjidmu Duhai bahagianya, jika kubasahi wajah dan tanganmu Dengan percikan-percikan air dari gharibah-ku Kudengar suaramu lirih Bawakan wadah yang basah Aku ingin meloncat mempersembahkan gharibah-ku Tapi ratusan sahabat berdesakan mendekatimu Kau ambil gharibah kosong Kau celupkan jari-jarimu Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jarimu Kami berdecak, berebut, berwudhu dari pancuran sucimu Betapa sejuk air itu, ya Rasul Allah Betapa harum air itu, ya Nabi Allah Betapa lezat air itu, ya Habib Allah Kulihat Ibnu Mas’ud mereguknya sepuas-puasnya Qad gamatish shalih Qad qamatish shalah Duhai bahagianya shalat di belakangmu Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu Melimpah memasuki jantung dan pembuluh darahku Usai shalat kau pandangi kami Masih dengan senyum yang sejuk itu Cahayamu, ya Rasul Allah, tak mungkin kulupakan Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu Kudengar kau berkata lirih: Ayyul khalqi a’jabu ilaikum îmânan? Siapa makhluk yang imannya paling mempesona? Malaikat, ya Rasul Allah Bagaimana malaikat tak beriman, bukankah mereka berada di samping Tuhan Para Nabi, ya Rasul Allah Bagaimana nabi tak beriman, bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan Kami, para sahabatmu Bagaimana kalian tidak beriman bukankah aku di tengah-tengah kalian telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan Kalau begitu, siapakah mereka ya Rasul Allah? Langit Madinah bening, bumi Madinah hening Kami termangu Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona? Kutahan napasku, kuhentikan detak jantungku, kudengar sabdamu Yang paling menakjubkan imannya mereka yang datang sesudahku beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku dan berjumpa denganku Yang paling mempesona imannya mereka yang tiba setelah aku tiada yang membenarkanku tanpa pernah melihatku Bukankah kami ini saudaramu juga, ya Rasul Allah? Kalian sahabat-sahabatku Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku Mereka beriman pada yang gaib, mendirikan shalat menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka Kami terpaku Langit Madinah bening, bumi Madinah hening Kudengar lagi engkau berkata: Alangkah rindunya daku pada mereka Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka Suaramu parau, butir-butir air matamu tergenang Kau rindukan mereka, ya Rasul Allah Kau dambakan pertemuan dengan mereka Ya Nabi Allah Assalamu ‘alayka ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wabarakatuh Prosa liris atau puisi terlalu panjang atau apa saja ini, saya bacakan pada peringatan Maulud di Yayasan Muthahhari tahun 1415 H. Inilah puisi yang segera saya ingat ketika saudara MIF Baihaqi meminta saya mengantarkan bukunya berisi tuturan-tuturan hikmah hadis berbagai riwayat yang ada dalam terjemahan kitab klasik Durrah an-Nâshihîn, dua jilid, yang dia aransemen- baru mendekati wajah puisi. Para pembaca, saya menangis ketika waktu itu. membacakannya, dan saya menangis lagi ketika saya menuliskan ulang buat Anda. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum Bandung, 8 Desember 1995 *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
MachiavellismeNovember 28, 2025Di Florence, Italia, ada sebuah monumen berbentuk patung seorang manusia berwajah lonjong. Dia tak tampak sebagai panglima perang, filosof, atau artis. Pada monumen itu ada tulisan dalam bahasa Latin, Tanto Nomini Nullum par Elogium (“Tidak ada kata-kata yang pantas untuk nama yang begitu besar”). Monumen itu dipersembahkan untuk tokoh kontroversial, Niccolo Machiavelli. Machiavelli lahir dari keluarga kelas menengah, yang lahir karena kemajuan ekonomi pasca-Renaisans. Masa mudanya tampaknya dihabiskan untuk membaca buku-buku Yunani klasik. Pengetahuannya yang luas dari hasil bacaan itu mengantarkannya pada posisi diplomat pada usia 29 tahun. Ia berkhidmat untuk Republik Florentina, berkeliling ke berbagai negeri di Italia. Machiavelli menyaksikan berbagai intrik politik, pembunuhan, pengkhianatan, tentara bayaran, subversi. Nyawanya sendiri terancam beberapa kali. Ia menulis laporan terperinci dan menarik tentang situasi politik yang disaksikannya. Ia bukan hanya pengamat politik. Ia juga terlibat di dalamnya. Ketika dinasti Medici kembali berkuasa, ia dituduh melakukan makar anti-pemerintah. Ia dijebloskan ke penjara, disiksa, dan akhirnya–setelah mendapat amnesti–diasingkan ke sebuah desa kecil di San Casciano. Pengasingan memberikan waktu kepadanya untuk melakukan refleksi. Pengalamannya yang kaya tentang intrik-intrik politik di zamannya dituangkan dalam bukunya yang terkenal Il Principe (Sang Penguasa). Dunia politik, menurut Machiavelli, selalu berubah, tidak stabil, jatuh bangun. Sang Penguasa tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan. Ia harus ikut serta mengubah keadaan. Situasi yang selalu berubah adalah fortuna. Ia harus menaklukkan fortuna dengan virtu. Virtu adalah kemampuan berpikir dan bertindak yang tepat pada waktu yang tepat. Untuk mencapai kemenangan, kita melakukan tindakan yang “harus” kita lakukan. Bila kita tidak mau melakukannya, kita gagal. Tindakan yang diharuskan itu adalah necessita. Apa kriteria untuk menentukan suatu tindakan harus kita lakukan? Tujuan kita. Bukan dasar-dasar moral. Apa tujuan kegiatan politik? Kemenangan atau kekuasaan. Boleh jadi ada suatu tindakan yang secara moral salah, tetapi memberikan kemenangan. Lakukanlah tindakan itu. Boleh jadi juga ada tindakan yang secara moral benar, tetapi membawa kekalahan. Tinggalkan tindakan itu. Bila Anda bisa menang dengan menipu, lakukan tipuan. Bila dengan kejujuran Anda kalah, campakkan kejujuran. Untuk tujuan itu, semua cara halal. Machiavelli memberikan nasihat kepada para politisi, “Siapa saja yang berusaha baik sepanjang masa pasti akan hancur berhadapan dengan banyak orang yang tidak baik. Karena itu, penguasa yang ingin mempertahankan kedudukannya harus belajar menjadi orang tidak baik. Namun, soal akan digunakannya pengetahuan jadi orang tidak baik’ itu atau tidak tergantung pada keperluannya. Seorang penguasa yang cerdik tidak bisa dan tidak boleh memenuhi janjinya bila memenuhi janji itu akan merugikan kepentingannya. Untuk memelihara negara, ia harus sering melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kata-katanya, dengan kebajikan, dengan kemanusian, dengan agama. Ia tidak boleh meninggalkan kebaikan bila ia bisa berpegang padanya, tetapi ia juga harus siap melakukan kejahatan bila ia harus melakukannya.” Di antara kejahatan yang sering harus dilakukan adalah menipu. “Buat seorang penipu ulung, selalu ada banyak orang yang siap ditipu,” tulis Machiavelli selanjutnya. Menipu adalah teknik yang paling efektif menaklukkan massa. Umat manusia terpengaruh oleh penampilan. Machiavelli menulis lagi, “Jarang sekali terjadi orang naik dari status rendah ke status tinggi tanpa melakukan kekerasan atau kecurangan. Penguasa yang ingin mencapai hal-hal yang besar harus belajar menipu.” Menipu, bagi jenius politik dari Florence ini, bukanlah perbuatan amoral. Menipu adalah keharusan untuk mencapai kemenangan. Menipu adalah necessita, baik yang sederhana, seperti berbohong dan berpura-pura, maupun yang canggih, seperti merekayasa peristiwa sejarah. Ketika Ratu Elizabeth dari Rusia meninggal dunia, Peter III diangkat menjadi kaisar. Enam bulan kemudian, ia digulingkan oleh kudeta militer. Istri Peter III naik tahta, dan kurang dari seminggu kemudian suaminya dibunuh secara misterius. Dengan begitu, berubahlah Sophie dari Anhalt-Zerbst, Jerman, menjadi Czarina Rusia dengan gelar Katerina yang Agung. Sejarah mencatat, kudeta militer itu dirancang oleh Katerina dengan bantuan para “kekasihnya.”. Ia juga yang merekayasa pembunuhan suaminya. Tetapi, tentu saja yang dicatat sejarah bukan yang disampaikan Katerina kepada rakyat Rusia. Ken Arok membeli keris dari Mpu Gandring. Ia menitipkan keris itu pada Kebo Ijo, yang mempertontonkan keris itu ke mana pun ia pergi. Pada malam hari, Ken Arok mengambil keris itu diam-diam dan menusukkannya ke jantung Tunggul Ametung. Esoknya, Ken Arok menjadi raja dan menikahi Ken Dedes. Sedangkan Kebo Ijo, meringkuk di penjara. Itu menurut buku sejarah. Dalam pandangan rakyat Singosari waktu itu, Ken Arok adalah pahlawan yang menunjukkan siapa pembunuh raja. Dengan rekayasa itu, Ken Arok menjadi salah seorang raja Jawa yang besar. “Nasihat-nasihat Machiavelli dibaca oleh kaum liberal dan dipraktikkan oleh para raja,” kata Alessandro Manzoni. Banyak penafsiran tentang buku Machiavelli. “Penafsir otentik untuk Machiavelli adalah seluruh sejarah yang terjadi kemudian,” kata ahli ilmu politik Inggris Lord Acton. Orang boleh saja menganggap Machiavelli tidak bermoral. Tetapi, berbagai peristiwa dalam sejarah menunjukkan kebenarannya. Yang terjadi dalam dunia politik selalu bukan yang kita kehendaki. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
HADIS-HADIS TENTANG ORANG YANG DIZALIMINovember 26, 2025Orang-orang miskin di Indonesia sebenarnya adalah orang-orang yang mazhlum, yang dizalimi dan teraniaya. Kalau jumlah orang miskin itu hanya beberapa gelintir, maka yang salah adalah orang miskinnya. Tetapi, bila jumlah orang miskin itu ada 100 juta orang, maka yang salah adalah sistem dan strukturnya. Itu berarti terdapat kezaliman. Saya mengajak Anda merenungkan hadis-hadis berikut: Nabi Saw bersabda, “Barang siapa yang mengambil hak orang yang dizalimi dari orang yang zalim, maka dia akan bersamaku di surga sebagai sahabat.” Allah Swt berfirman dalam hadis qudsi: “Ya Daud, kalau seorang hamba membantu orang yang dizalimi atau berjalan menyertainya dalam membela orang yang dizalimi itu, Allah akan teguhkan kakinya ketika tergelincir kaki-kaki manusia.”“Keadilan yang paling baik adalah menolong orang yang dizalimi.” Imam Ali kw menasihatkan Imam Hasan as dan Imam Husein as: “Ucapkanlah yang benar, beramallah supaya mendapat pahala, dan jadilah musuh bagi orang yang zalim, serta jadilah pembantu buat orang-orang yang dizalimi.” Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “Bila seorang mukmin membantu mukmin yang dizalimi, maka perbuatannya itu lebih utama daripada puasa satu bulan atau itikaf di Masjid Haram.” “Kalau seorang mukmin menolong saudaranya dan dia mampu menolongnya, maka pastilah Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat. Bila orang mukmin mengkhianati saudaranya, padahal dia mampu menolongnya, Allah akan telantarkan dia di dunia dan akhirat.” (Mizan Al-Hikmah, Bab 329: 2467). JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
TAFSIR IHDINASH SHIRATHAL MUSTAQIMNovember 24, 2025Ihdinash shirathal mustaqim; Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.”(QS Al-Fatihah). Mengapa setelah mendapat petunjuk Al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw dengan menjalankan agama Islam, kita masih juga memohonkan kepada Allah untuk diberi petunjuk? Seorang ulama mutakhir, Syekh Makarim Al-Syirazi, menyatakan bahwa petunjuk Allah itu harus berlangsung secara terus-menerus. Seperti lampu yang terus menyala karena ada aliran listrik, begitu aliran listrik itu berhenti, lampu itu padam. Seperti itu juga hidup kita. Kita harus terus dialiri oleh petunjuk Allah Swt. Begitu Allah Swt Menghentikan alirannya, maka cahaya petunjuk dalam diri kita menjadi padam. Al-Quran menyebutkan orang seperti itu: “wa tarakahum fi zhulumatilla yubshirun; Allah tinggalkan mereka dalam kegelapan sehingga mereka tidak bisa melihat apa-apa.” (QS Al-Baqarah:17). Ada tingkat tertentu ketika orang sudah tidak bisa lagi menerima petunjuk lewat jalan apa pun. Nasihat dan teguran sudah tidak ia dengar. Ada dua macam nasihat yang memberikan pelajaran dalam hidup kita. Pertama, Al-masmu,’ yaitu nasihat yang bisa kita dengar. Misalnya, nasihat seorang mubalig kepada pendengarnya, nasihat guru kepada muridnya, atau nasihat orangtua kepada anaknya. Nasihat-nasihat itu menjadi pelajaran karena bisa kita dengar. Kedua, al-masyhud, yaitu nasihat yang tidak kita dengar tetapi dapat kita saksikan. Seluruh pelajaran hidup kita kadangkala bisa menjadi nasihat. Al-Quran memberikan contoh Qabil yang membunuh saudaranya, Habil. Qabil tidak tahu bagaimana harus menguburkan mayat saudaranya itu. Tiba-tiba ia melihat burung yang menggali tanah. Jadi, dia memperoleh pelajaran dari apa yang dia saksikan. Demikian pula dalam cerita Dzunnun Al-Misri. Suatu saat, ketika sedang bepergian, dia melihat kalajengking merayap ke pinggir sungai Nil dengan cepat. Dzunnun Al-Misri mengikuti karena ingin tahu. Ia ingin mendapat pelajaran dari apa yang ia lihat, bukan dari apa yang ia dengar. Ketika kalajengking itu mendekati tepian sungai Nil, tiba-tiba dari dalam sungai muncul seekor katak. Kalajengking langsung menaiki punggung katak itu. Kemudian katak mengantarkannya ke seberang sungai. Melihat itu, Dzunnun Al-Misri mengambil perahu dan mengejarnya. Sampai di seberang sungai, Kalajengking itu masih juga berjalan. Pada satu tempat di tepian sungai Nil, ada seorang anak muda sedang tertidur lelap. Tiba-tiba, dari arah yang berlawanan, datang seekor ular berbisa mau mematuk anak muda. Belum sampai ular itu pada si pemuda, kalajengking itu menyergapnya. Terjadilah perkelahian antara kedua binatang itu dan berakhir dengan kekalahan ular. Ular itu mati dijepit kalajengking. Setelah itu kalajengking kembali lagi ke tepian sungai Nil. Muncul lagi katak itu untuk menyebrangkannya ke tempat semula. Ada yang dapat diperoleh dari pelajaran itu? Dzunnun Al-Misri menyimpulkan, betapa sering Allah melindungi kita tanpa kita ketahui. Begitu sayangnya Tuhan kepada kita, sampai ketika kita tidur dan tidak berdaya menghadapi bahaya, Tuhan masih melindungi kita. Anak muda yang ditemukan Dzunnun Al-Misri itu bukan seorang waliyullah. Walaupun ia hanya manusia biasa, tetapi Tuhan tetap menjaganya. Karena itu, dalam doa Kumail terdapat doa yang berbunyi: “Tuhanku, kalau aku mengingat bahwa engkau sudah memulai kehidupanku ini dengan berbuat baik kepadaku, dengan mengurus aku.” Kita meminta sebagai mana Allah telah melindungi kita sejak awal kehidupan, kita pun ingin dilindungi pada hari-hari kehidupan kita. “Maka barang siapa yang bermaksud buruk kepadaku, Tuhan, tolaklah dia. Dan kalau ada reka perdaya orang untuk mencelakaiku, maka reka perdayakan juga dia dengan kekuasaan-Mu.” Dzunnun Al-Misri memperoleh sebuah pelajaran, bukan dari nasihat mubalig tetapi dari apa yang dia saksikan di alam semesta ini. Setiap saat alam semesta memberi kesaksian kepada kita. Kadang-kadang Al-Quran menuntut kita untuk belajar dari alam semesta ini. Dalam cerita silat Cina terdapat banyak jurus yang diambil bukan dari ajaran pendeta Shaolin, tetapi diambil melalui pengamatan terhadap alam semesta. Misalnya, jurus bangau, jurus pusaran angin, dan jurus-jurus lainnya. Ada orang-orang tertentu yang kabel penghubungnya sudah putus dengan cahaya Ilahi. Allah tinggalkan mereka dalam kegelapan sehingga mereka tidak bisa melihat. Kalau itu sudah terjadi, akalnya menjadi tumpul. Apa pun yang terjadi dan di sekitarnya dan masyhud, tidak akan menjadi pelajaran baginya. Apalagi hal-hal masmu’ yang ia dengar. Emha Ainun Nadjib bercerita tentang orang seperti itu. Namanya Gusti Pangeran Haryo. Ia sudah tidak bisa mendengar nasihat dari orang-orang terdekatnya, apalagi orang yang jauh berteriak darinya. Bahkan nasihat dari seluruh bangsa ini yang terik setiap hari, sudah tidak didengarnya. Saya tidak tahu siapa sebenarnya orang itu. Ada pula orang yang disebut dengan bahasa Jawa sasmita, orang yang sudah tahu sebelum diberi tahu. Itu adalah tingkatan orang yang aliran petunjuknya sangat besar, yang tegangannya tinggi, sehingga cahayanya bersinar terang. Meskipun nasihatnya belum datang, mereka sudah memperoleh pelajaran. Lawan dari sasmita adalah orang yang disebutkan di atas, yaitu orang yang sudah diberi tahu berkali-kali namun tetap saja tidak mau tahu. “Sawaun ‘alaihim a’andzartahum am lam tun dzirhum la yu’minun. Kamu beritahu dia atau kamu tidak beritahu dia, tetap saja dia tidak percaya.” (QS Al-Baqarah: 6). Sesungguhnya orang seperti itu hidup dalam sebuah pulau yang terpencil dan terisolasi dari kejadian di dunia ini. Padahal banyak yang dapat diambil pelajaran dari bencana demi bencana yang terjadi di negara ini. Mulai dari kebakaran hutan sampai krisis ekonomi. Kalau kita sudah tidak bisa mengambil pelajaran, baik dari apa yang kita dengar maupun dari apa yang kita saksikan, berarti kita sudah terputus dari petunjuk Allah Swt. Karena itu, kita ucapkan,”Ihdinash shirathal mustaqim, Ya Allah tunjukanlah kami ke jalan yang lurus.” Dalam Islam, kita harus selalu memohon tambahan petujuk itu. Kita tidak boleh merasa sudah benar-benar berada dalam petunjuk sehingga tidak memerlukan lagi. Dalam surat Maryam ayat 76, Allah berfirman, “Allah tambah orang-orang yang mendapat petunjuk itu dengan petunjuk lagi.” Bila kita sudah mendapat petunjuk dari Allah, maka Allah akan berikan lagi tambahan petunjuk itu seperti disebutkan dalam surat Muhammad ayat 17, “Orang-orang yang sudah memperoleh petunjuknya. Dan Allah berikan kepada mereka ketakwaannya.” Dalam tasawuf, kita mengetahui bahwa perjalanan mendekati Allah Swt sebetulnya adalah perjalanan menuju hati kita yang paling dalam. Kita mempunyai beberapa tingkat hati, dari yang luar sampai yang paling dalam. Tingkat yang paling luar kita sebut shadr, artinya hati yang sedih kalau mendapat kerusuhan, cemas memikirkan kesulitan, atau senang mendapat kegembiraan. Salah satu nikmat Allah yang pertama kepada Rasulullah Saw ialah Allah bukakan dada Rasulullah Saw sehingga tidak mengalami kesempitan hati seperti itu lagi. Allah berfirman, “Bukankah Kami legakan dadamu, Kami tinggikan sebutan namamu, dan Kami lepaskan dari kamu beban yang menghimpit kamu, yang memberati punggung kamu.” (QS Al-Insyirah: 1-4) Zikir sir yang paling awal itu ialah jika shadr kita sudah bisa berzikir. Shadr kita lebih dekat hubungannya dengan otak, metabolisme fisik, dan mekanisme hormonal kita. Tingkat yang lebih dalam disebut qalb. Lebih awal lagi disebut fu’ad. Tingkat hati yang paling dalam lub. Orang yang perjalanannya hampir ke hati yang paling bawah disebut ulul albab. Itu adalah tingkat yang paling luar biasa, karena kalau perjalanan sudah sampai pada hati yang paling dalam, kita akan menemukan sirul asrar, rahasia dari segala rahasia. Sebenarnya perjalanan kita mendekati Tuhan ialah untuk menyerap cahaya Allah Swt. Kalau kita sudah sampai pada lub, Tuhan akan menarik kita lebih dalam dengan bantuan-Nya. Imam Al-Ghazali menyatakan hal ini ketika menjelaskan tentang misykat cahaya. Ia menulis, “Perumpamaan cahaya Allah itu seperti misykat, lampu yang di simpan di sebuah relung.” Hati -hati kita yang paling dalam itu bercahaya. Kalau hati itu kita bersihkan, cahaya akan keluar dan cahaya itu disambut cahaya Tuhan dari langit. Bertambah cahaya itu di atas cahaya, nurun ‘ala-nur. Jadi, ketika kita berkata, “ihdinash shirathal mustaqim”, sebetulnya kita berkata, “Tuhan, berikanlah petunjuk kepadaku dan tambahlah petunjuk itu.” Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, setelah menjelaskan tentang Ihdinash Shirathal mustaqim, berdoa begini: “Ya Allah, bimbinglah kami untuk selalu menjalani jalan yang membawa kami pada kecintaan-Mu, yang menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan yang mencegah kami mengikuti hawa nafsu kami sehingga kami celaka atau kami berpegang teguh kepada pendapat kami sehingga binasa.” Itulah makna Ihdinash shirathal mustaqim. Lalu apa yang dimaksud dengan shirath al-mustaqim atau jalan yang lurus itu? Dalam surat Yasin kita dapatkan bahwa yang dimaksud dengan shirathal mustaqim adalah meninggalkan pengabdian kepada setan dan mengkhususkan diri dalam hidup ini hanya beribadah kepada Allah Swt: “Bukankah aku sudah berjanji kepadamu,hai Bani Adam, janganlah kamu mengabdi kepada setan. Dia ini musuh kamu yang jelas. Beribadahlah kepada-Ku saja. Inilah jalan-ku yang lurus.” (QS Yasin: 60-61) Setan selalu membisikkan kepada kita ketakutan akan kemiskinan: “Asysyaithan ya’idukumul faqra” (QS Al-Baqarah: 268). Kita hanya berpikir ingin menjadi kaya saja. Itulah yang terjadi pada Umar bin Sa’ad, anak dari Sa’ad bin Waqas, salah seorang sahabat Nabi yang terkenal. Umar bin Sa’ad memimpin penyerangan kepada Imam Husein as hanya karena ia ditawari untuk menjadi gubernur di kota Rei. Karena takut kehilangan jabatan itu, dia melakukan pertentangan terhadap Imam Husein as. Shirathal mustaqim adalah jalan yang ditempuh oleh orang- orang yang hanya mengabdi kepada Swt. Ia mengabdi kepada kepentingan hawa nafsu dan jabatan. Dalam hidup, kita akan selalu dihadapkan pada dua pilihan: mengabdi setan atau mengabdi Allah. Untuk anak-anak muda, pacaran dihadapkan pada dua pilihan: pilihan pertama, Mengikuti bujukan setan. “Masa pacaran sedingin ini?” Pada sisi yang lain hati nuraninya berkata bahwa dia harus memelihara kesucian dirinya. Jadi, dia harus memilih: mengabdi setan atau mengabdi Allah Swt. Karena itu berulang kali kita diingatkan firman Allah dalam surat Yasin ayat 60-61. Ada orang yang menjadikan ayat ini menjadi wirid, dia tidak tercengkeram oleh setan dan agar tetap lurus supaya pada shirathal mustaqim. Di Ujung Pandang terdapat Tarekat Khalwatiyah, yang dulu diikuti oleh Syaikh Yusuf, seorang sufi besar. Saya mengetahui kebesarannya setelah membaca bukunya Zubdah Al-Asrâr, inti dari segala rahasia. Ketika bercerita tentang wahdatul wujud, dengan uraian yang sangat indah, ia kisahkan Dzunnun Al-Mishri: Suatu hari Dzunnun ditanya seseorang, “Min aina? Dari mana kamu?” Dia menjawab, “Hu, dia.” Masih ditanya lagi, “Man anta? Siapa Anda?” Dzunnun juga menjawab,” Hu.” Pokoknya selalu dijawab dengan “hu“. Cerita ini sebetulnya mempunyai makna cerita yang sangat dalam. Tampaknya, dalam aliran khalwatiyah, orang dibimbing untuk mendekati Allah Swt sampai ke tingkat fana, ketika seluruhnya dirinya hilang dan yang ada hanyalah huwa (Dia). Yang menarik dari aliran terekat ini adalah menjadikan ayat-ayat tertentu dari surat Yasin sebagai wirid. Mereka menzikirkannya sebanyak nomor ayat itu dalam Al-Quran. Misalnya, surat Yasin ayat 27 (Bimâ ghafara li rabbî wa ja’alanî minal mukramîn), mereka baca setiap hari 27 kali sebagai salah satu wirid. Shirathal mustaqim juga merupakan jalan Nabi Ibrahim as. Ketika ditanya Allah Swt, “Mau kemana, hai Ibrahim?”, Ibrahim menjawab, “Aku berjalan menuju Tuhanku. Tentu la akan memberi petunjuk kepadaku. “Shirâthal mustaqim adalah agama Nabi Ibrahim as. Dalam surat Ali-Imran ayat 101, shirâthal mustaqim berarti berpegang teguh hanya kepada Allah: “Barang siapa yang berpegang kepada Allah, dia diberi petunjuk kepada jalan Allah, dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” Jadi, menurut Al-Quran, shirâthal mustaqîm, secara singkat, adalah mengikuti petunjuk Allah Swt yang dibawa oleh para nabi sepanjang sejarah atau mengikuti para pimpinan yang mengikuti khittah para nabi. Karena itu, kita menemukan dalam hadis-hadis bahwa yang dimaksud dengan shirâthal mustaqîm itu adalah jalan Islam. Karena “Innaddîna ‘indahllâhil Islâm. Sesungguhnya agama di sisi Allah itu Islam.”(QS Ali-Imran: 19). Sebagian orang menyebutkan bahwa shirâthal mustaqîm adalah Al-Quran. Pendapat ini juga betul, karena Al-Quran adalah petunjuk dari Allah Swt. “Dzâlikal kitâbu lâ raiba fîhi hudal lil muttaqîn. Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 2). Dalam salah satu hadis disebutkan bahwa shirâthal mustaqîm adalah jalan para nabi dan para imam yang suci dari keluarga Rasulullah Saw. Hadis itu meriwayatkan Imam Ja’far Al-Shadiq as yang ditanya tentang arti shirâthal mustaqîm. Beliau menjawab, “Yang dimaksud dengan jalan yang lurus itu adalah mengenal siapa imam kamu.” Penting bagi kita untuk mengenal siapa imam supaya kita berada di jalan lurus. Karena para imam itu yang menjalankan petunjuk Allah Swt dengan setia tanpa menyimpang sedikit pun. Imam Ja’far as berkata, “Demi Allah, kami ini, para imam, adalah shirâthal mustaqîm. Jalan yang lurus adalah jalannya Amirul Mukminin as.” Mengapa jalan Sayyidina as disebut jalan yang lurus? Karena, Sayyidina Ali patuh mengikuti jalan Rasulullah Saw. Tak ada bedanya jalan Imam Ali as dengan jalan Rasulullah Saw. Sampai Rasulullah menyebut Imam Ali sebagai Nafsur Rasul, sama dengan diri Rasulullah. Diri Rasulullah adallah diri Ali bin Abi Thalib; begitu pula sebaliknya. George Jordac, ketika melukiskan hari-hari terakhir Imam Ali as dalam The Voice of Human Justice, menggambarkan Imam Ali as sebagai sosok yang air matanya mudah mengalir karena mendengar penderitaan orang-orang miskin dan teraniaya, yang amarahnya menggelegak kalau ada penguasa yang melakukan penindasan. Sayyidina Ali kw adalah yang matanya sukar terpejam di malam hari karena mendengar rintihan rakyat kecil yang terpuruk dalam sistem yang zalim. Itulah jalan Imam Ali as. Dan itu juga jalan Rasulullah Saw. Rasulullah Saw pernah menepuk Ali dan berkata, “Wahai Ali, Tuhan telah menghias akhlakmu dengan kecintaan yang tulus kepada orang-orang miskin dan teraniaya. Kelompok yang tertindas itu senang menjadikan engkau sebagai pemimpin mereka dan engkau senang melihat mereka menjadi pengikutmu.” Jadi, salah satu “agama” Sayyidina Ali adalah kecintaan kepada fakir miskin, pembelaan kepada orang-orang yang tertindas, dan kebanggaan kalau pengikutnya kebanyakan berasal dari orang- orang kecil. Jalan Sayyidina Ali juga jalan yang lurus, jalan Rasulullah yang mengkhususkan pengabdian dalam hidup ini hanya kepada Allah Swt: “Wa ani’budûnî; hâdzâ shirâtum mustaqîm. lurus.” Dan hendaklah kamu menyembahku. Inilah jalan yang (QS Yasin: 61). JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
TAFSIR AL-INSYIRAHNovember 12, 2025Surat Al-Insyirah turun berkenaan dengan Rasulullah Saw. Surat ini di turunkan sebagai pernyataan anugerah Allah Swt kepada Nabi. Kata insyirah yang dijadikan nama surat ini berasal dari kata syaraha yang artinya melegakan, meluaskan, atau melapangkan. Dalam bahasa Arab, bila suatu kata ditambahi awalan alif dan nun, kata itu berarti telah menjadi. Insyirah artinya “telah menjadi lega”. Surat ini disebut surat “Telah menjadi lega” karena di dalamnya Allah menyatakan kepada Rasulullah Saw bahwa Allah melegakan dada Rasulullah sehingga kelegaan atau kelapangan dada itu menjadi salah satu sifat Rasulullah Saw. Sifat lapang dada adalah sifat yang harus ada pada setiap pemimpin yang akan mengatur umat. Tidak semua nabi menjadi pemimpin negara. Di antara para nabi ada yang hanya menerima perintah Allah melalui wahyu kemudian menyampaikannya. Nabi Isa as, misalnya, menerima wahyu Allah Swt tetapi tidak menjadi pemimpin negara. Ia malah dikejar-kejar untuk dibunuh. Ada juga nabi yang menjadi pemimpin bangsa dan negara yang membebaskan umat dari penindasan. Selain Rasulullah Saw, nabi seperti itu adalah Nabi Musa adalah nabi yang memimpin perjuangan umatnya. Pemimpin-pemimpin bangsa seperti itu sudah pasti akan menghadapi ejekan, hinaan, dan makian dari orang banyak. Apalagi kalau nabi itu menentang penguasa yang zalim. Karena itu, Nabi Musa as, sebelum memulai dakwahnya, memohon kepada Allah Swt a agar diberi kelapangan dada. Ia berdoa: “Tuhan, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, lepaskan ikatan dari lidahku sehingga mereka memahami pembicaraanku.”(QS Thaha: 25-28). Sebelum memohon agar urusannya dimudahkan dan lidahnya difasihkan, Nabi Musa as bermohon agar Allah Swt melegakan dadanya terlebih dahulu. Kepada Rasulullah Saw, pada awal-awal dakwahnya, Allah Swt, tanpa diminta oleh Rasulullah Saw, telah terlebih dahulu melapangkan dada Nabi. Allah berfirman, “Alam nasyrah laka shadrak. Bukankah telah Aku lapangkan dadamu” (QS Al-Insyirah:1). Menurut Al-Raghib Al-Isfahani, kata syarah dalam a ayat di atas berarti melebarkan potongan-potongan daging. Bila kata syarah disambung dengan kata shadr, artinya adalah melegakan dada dan mengisinya dengan ketenteraman dan kedamaian dari sisi Allah. Yang dimaksud dengan alam nasyrah laka shadrak adalah dilegakan hati dan ruh Nabi Saw untuk menerima cahaya Ilahi dan untuk memperoleh kesabaran dalam menyampaikan cahaya Ilahi itu secara istiqamah. Melapangkan dada di sini juga berarti menambah kekuatan Nabi dalam memikul risalah dan menjalankannya secara istiqamah dalam berhadapan dengan musuh dan lawannya. Sifat lapang dada adalah sifat yang harus ada pada siapa saja yang akan menjadi pemimpin. Sepanjang hidupnya, Rasulullah menghadapi banyak hal yang menyakiti hatinya, bukan saja dari musuh-musuhnya, tetapi juga dari sahabat-sahabatnya. Tidak ada yang lebih menyakitkan hatinya kecuali pengkhianatan yang datang dari sahabatnya. Para pengikut Nabi ketika di Madinah sering mengejek Nabi. Ejekan mereka diabaikan di dalam surat At-Taubah ayat 58-66. Kalau cacian, makian, atau ejekan itu datang dari musuh kita, kita dapat memahami. Tapi kalau cacian itu datang dari sahabat kita sendiri, kita akan merasakan sakit yang lebih besar. Terkadang Nabi merasakan sempit dadanya. Allah Swt berfirman: “Dan kami sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan oleh apa yang mereka ucapkan itu” (QS Al-Hajr: 97). Secara umum, Rasulullah Saw memang lapang dada; tetapi sewaktu-waktu ia merasa sempit dadanya karena ucapan-ucapan musuh dan pengikutnya sendiri. Nabi pun terkadang merasa putus asa ketika menghadapi kaum yang tidak mau beriman. Selanjutnya, dalam surat Al-Insyirah, Allah berfiman: “Wa wadha’na anka wizrak. Alladzî anqadha zhahrak. Kami melepaskan beban yang menghimpit punggungmu” (QS Al-Insyirah:2-3). Dilihat dari asal katanya, anqadha berarti mengikat dan wizr berarti beban. Dalam ayat ini, Al-Quran mengatakan bahwa Allah seakan-akan mengikat dada yang Swt melepaskan beban Rasulullah Saw sehingga dadanya sempit. Ada juga yang mengartikan wizr di sini sebagai beban wahyu yang diterima Rasulullah Saw. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa beban yang yang disebut ayat ini berarti perlawanan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Sementara beberapa mufasir lain mengartikan beban dalam ayat ini sebagai kesedihan dan penderitaan Rasulullah Saw karena ditinggalkan oleh pamannya, Abu Thalib as, dan istrinya, Khadijah Al-Kubra as. Ada pula yang menyebutkan yang dimaksud dengan dilepaskan beban dari Nabi itu adalah dipeliharanya Nabi dari segala dosa. Mereka mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan ke-ma’sum-an Nabi Saw. Contoh lapang dada Rasulullah dapat kita lihat dalam riwayat berikut. Suatu hari, setelah satu pertempuran, Rasulullah Saw membagi-bagikan ghanimah dengan adil. Tetapi, salah seorang berteriak, “Ya Muhammad, berbuat adillah!” Rasulullah hanya menjawab, “Kalau aku tidak berbuat adil, maka siapa lagi yang berbuat adil di dunia ini?” Teriakan itu diucapkan di hadapan Rasulullah tetapi Rasulullah menerimanya dengan lapang dada. Pada waktu yang lain, Rasulullah Saw sedang berada di tengah-tengah sahabatnya dalam suatu majelis. Tiba-tiba datang seorang Ya Yahudi dan berkata, “Hai Muhammad, bayar utang kamu! Wahai putra Abdul Muthalib, engkau terkenal suka menunggak hutang!” Para sahabat marah. Malahan salah seorang berdiri di hadapan Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah, izinkan aku memukul kuduknya dengan pedang.”Tapi Rasulullah Saw menjawab, “Tidak. Dia mengingatkan aku kepada kewajibanku.” Kemudian Rasulullah membayarnya, bahkan melebihkan pembayarannya. Orang-orang heran dan bertanya, “Mengapa engkau melebihkan pembayarannya?” Rasulullah Saw menjawab,” Karena dia telah mengingatkanku.” Itulah orang yang lapang dada. Sifat itulah yang dimaksud oleh Daniel Goleman dalam buku Emotional Intellegence sebagai kemampuan self regulation. Kemampuan untuk mengendalikan emosi. Pernah juga Nabi, setelah sekian lama mengurung diri karena kesedihan akibat kematian Abu Thalib dan Khadijah, pergi keluar rumah. Tetangga-tengganya menghamparkan duri di muka Rasulullah. Nabi tidak marah. Ia hanya berkata, “Beginikah engkau bertetangga, hai orang-orang Quraisy?” Ayat selanjutnya dalam surat Al-Insyirah berbunyi: “Wa rafa’nâ laka dzikrak. Fa inna ma’al ‘usri yusrâ. Inna ma’al usri yusrâ. Fa idzâ faraghta fanshab. Wa ilâ rabbika farghab. Dan kami tinggikan sebutan (nama) mu. Karena sesungguhnya bersama kesempitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesempitan itu ada kemudahan. Apabila engkau sudah selesai, maka lelahkan diri dengan pekerjaan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap.” (QS Al-Insyirah: 4-8). Beberapa ahli tafsir menjelaskan yang dimaksud dengan kata apabila engkau sudah selesai, maka lelahkan dirimu berarti “apabila kita sudah selesai shalat fardu, tunaikanlah shalat sunnah“. Apabila kita melaksanakan kewajiban-kewajiban kita, lakukanlah perbuatan-perbuatan yang sunnah bagi kita sehingga kita terus-menerus melakukan ibadah kepada Allah Swt secara istiqamah. Ayat ini pun berarti “apabila kita telah menyelesaikan suatu pekerjaan, teruskan pekerjaan itu.” Hendaklah kita istiqamah dalam mengerjakan sesuatu. Bila ingin mencapai tujuan, kita harus istiqamah dan meneruskan pekerjaan kita itu. Dalam Tafsir Al-Amtsal, Syaikh Makarim Shirazi menulis: “Surat Al-Insyirah ini memberikan kepada Rasulullah penjelasan tentang nikmat yang Allah berikan kepadanya di dalam surat Al- Dhuha. Dalam surat Al-Dhuha, Allah berfirman: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang berkekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” (QS Al-Dhuha: 6-8). Surat Al-Dhuha menggambarkan saat-saat yang memberatkan yang dialami Rasulullah. Dalam surat Al-Insyirah, Allah memberikan kelapangan dada kepada Rasulullah untuk menanggung beban berat itu sampai Allah melepaskannya. Itulah inti pertama dari surat Al-Insyirah; sebagai penjelasan dari surat Al-Dhuha. Inti yang kedua dari surat itu adalah kabar gembira kepada Nabi bahwa segala gangguan yang menghadang dakwahnya itu akan Allah hilangkan. Yang terakhir, melalui surat ini, Rasulullah didorong untuk beribadah kepada Allah terus-menerus, secara istiqamah. Dalam Mazhab Ahlul Bait, surat Al-Dhuha dan surat Al-Insyirah harus dibaca sekaligus dalam satu rakaat shalat. Karena, di antara kedua surat itu ada kaitan yang teramat erat. Hukum membaca dua surat itu secara sekaligus adalah wajib. Dari kalangan Ahlul Sunnah, ada juga yang berpendapat demikian. Al-Fakhr Al-Razi, misalnya, dalam Tafsir Al-Kabir, mengutip bahwa Thawus dan Umar bin Abdul Aziz membaca dua surat ini dalam satu rakaat bahkan tanpa basmallah di antaranya. Adapun dalam Mahzab Ahlul Bait, basmallah itu wajib dibaca. Yang menarik, Al-Fakhr Al-Razi pernah mengatakan bahwa surat Al-Dhuha dan Al-Insyirah itu adalah surat yang satu. Tapi, Al-Fakhr Al-Razi sendiri kemudian menolaknya dengan menyatakan bahwa surat Al-Dhuha turun ketika Rasulullah dalam keadaan menderita, diganggu oleh orang-orang kafir; sedangkan surat Al-Insyirah turun ketika Rasulullah Saw dalam keadaan bahagia. Kedua surat itu tidak turun bersamaan. Al-Dhuha turun di Makkah dan Al-Insyirah turun di Madinah. Pandangan Al-Fakhr al Razi ini agak aneh. Para fuqaha menyebut pandangan seperti ini sebagai pandangan yang sadz atau gharib, yang artinya menyimpang dari kebanyakan orang. Mengenai fadhilah atau keutamaan surat Al-Insyirah ini, Rasulullah Saw pernah bersabda: “Barang siapa yang melazimkan membaca surat Al-Insyirah, ia akan memperoleh pahala sama seperti orang yang berjumpa dengan Rasulullah Saw dalam keadaan berduka cita, kemudian Allah Swt lepaskan dia dari duka citanya itu. “Kalau Anda merasa resah dan gelisah terus-menerus, dawamkan surat Al-Insyirah, dengan catatan: jangan lupa membaca surat Al-Dhuha terlebih dahulu. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id) [...] Read more...
KUNCI SURGANovember 8, 2025Pernahkah Anda melihat, di layar televisi, bayi-bayi kurus tergolek—perut kembung, mata cekung, tulang iga yang mencuat, dan batok kepala yang tampak membesar. Di samping mereka, wanita-wanita meraung, dan anak-anak yang masih hidup perlahan-lahan beringsut seperti menjemput maut. Segera setelah itu, seorang wanita kulit putih menceritakan bencana kelaparan di Ethiopia. Diperkirakan, sembilan juta orang ditimpa kelaparan kritis, ratusan orang mati setiap hari, dan diduga, sampai bulan Mei 1985, lebih dari setengah juta orang meninggal dunia. Yang tidak diceritakan oleh reporter itu ialah kenyataan bahwa kelaparan itu terjadi di Eritrea, Tigray, dan Oromia—daerah Ethiopia yang berpenduduk Muslim. Bantuan luar negeri yang disalurkan lewat pemerintah dijual ke pasaran bebas. Usaha untuk mengirimkan bantuan langsung ke daerah bencana sering dicegat oleh pasukan-pasukan militer. Tidak jarang penduduk yang sedang mengungsi dibom di tengah jalan. Kolonel Mengestu Haile Mariam yang Marxis memandang kelaparan di daerah Muslim sebagai hukuman karena mereka memberontak terhadap penguasa yang sah. Ketika jutaan orang Islam berebutan mencari sesuap makanan dari bantuan yang sampai, Mengestu menghabiskan dua milyar dollar untuk membeli senjata. Pada bulan September, ketika dunia meramaikan kelaparan di negerinya, ia menyelenggarakan peringatan sepuluh tahun kekuasaannya dengan segala kemegahan dan kemewahan. Lebih dari empat puluh juta dollar dihabiskan untuk membangun stadion, monumen, patung, dan podium, Mengestu sekaligus bertindak sebagai tuan rumah bagi Konferensi Puncak Organization of African Unity. Untuk menjamu tamu, sebuah kapal dikirim dari Inggris, mengangkut 500.000 botol wiski Scotch. Untuk seluruh perhelatan itu, lebih dari tiga ratus juta dollar dibuang percuma. Sebelas tahun sebelumnya, ketika Ethiopia juga dilanda kelaparan, Kaisar Haile Selassie menghabiskan tiga puluh lima juta dollar untuk pesta ulang tahunnya yang kedelapan puluh. Lebih dari dua juta dollar hadiah dibagi-bagikan kepada undangan terhormat dari berbagai negara. Dan di daerah-daerah Muslim, ratusan orang mati setiap hari. Ethiopia adalah contoh kemiskinan umat Islam di tengah-tengah kemewahan pemerintah yang mengurus mereka. Ia adalah juga contoh bagaimana mayoritas Muslim yang secara sistematis dimiskinkan oleh minoritas Amhara non-Muslim. Ketika kerajaan Amhara merebut daerah Oromo, Ogaden, Afarland, dan Eritrea, mereka memasukkan sistem feudal dan sewa-tanah. Para petani pemilik berubah menjadi petani penyewa. Pada masa Haile Mariam, tanah berpindah dari tangan bangsawan kepada para pejabat. Sementara itu, wajib militer dikenakan atas pemuda-pemuda Muslim di pedesaan, sehingga tanah terlantar karena kekurangan pekerja. Di daerah yang diduga sebagai pusat pemberontak, pemerintah menyerang perkebunan-perkebunan gandum. Ethiopia adalah salah satu di antara negara-negara Afrika yang terkenal sebagai daerah sabuk kekeringan atau negara-negara Sahel. Tetapi, betulkah bahwa kekeringan adalah penyebab utama kemiskinan dan kelaparan? Marilah kita lihat negara-negara Sahel lainnya. Negara-negera Sahel ternyata tidak semiskin seperti yang diduga orang. Pada tahun 1971, ketika kekeringan melanda negara-negara itu, ekspor meningkat, bahkan beberapa produk mencapai rekor. Pada tahun pertama terjadinya kelaparan, ekspor daging meningkat 48% dan mencapai 200 juta pon. Di samping itu, dari daerah-daerah yang ditimpa kelaparan, diekspor 56 juta pon ikan dan 32 juta pon sayur-mayur. Dari Mali dilaporkan, kenaikan produksi kacang sampai 70% dan 174.000 pon beras diekspor ke luar. Lalu, ke mana larinya hasil ekspor ini? Moore Lapped dan Joseph Collins menjawab dalam Food First: Beyond the Myth of Scarcity: Kebanyakan devisa yang diperoleh dari perdagangan luar negeri ini digunakan untuk memungkinkan pejabat-pejabat pemerintah dan karyawan-karyawan kaya di kota untuk hidup dengan gaya impor-lemari es, air conditioner, gula impor, minuman alkohol, tembakau, dan sebagainya. Pada tahun 1974, kira-kira 30 persen devisa yang diperoleh Senegal ditukarkan dengan barang-barang mewah tersebut. Eskpor kacang per tahun menyumbangkan sepertiga anggaran belanja nasional Senegal-tetapi 47,2 persen anggaran itu dipakai untuk membayar gaji birokrat-birokrat pemerintah. Antara tahun 1961 dan musim kekeringan terberat, 1971, Niger, negara yang terkenal karena kekurangan gizi dan life expectancy hanya 38 tahun, mengekspor produksi kapas empat kali lipat dan kacang tiga kali lipat. Kedua jenis ekspor ini pada tahun 1971 menghasilkan kira-kira 18 juta dollar. Tetapi 20 juta dollar devisa ini digunakan untuk mengimpor pakaian, lebih dari sembilan kali jumlah yang diperoleh dari mengekspor kapas. Lebih dari satu juta dollar dipakai untuk membeli kendaraan pribadi dan lebih dari empat juta dollar untuk bensin dan ban. Dalam tempo tiga tahun, 1967-1970, jumlah kendaraan pribadi bertambah 50 persen, kebanyakan dimiliki oleh segelintir kaum elit di ibukota. Lebih dari sejuta dollar dipakai untuk mengimpor minuman alkohol dan rokok. Ketika kami berkunjung ke ibukota, Niamey, kami mengetahui bahwa kaum elit berbelanja ke supermarket di Paris, termasuk membeli es krim beku dari toko di Champs-Elysees. Negara-negara Sahel mungkin terlalu jauh bagi kita. Bagaimana dengan Pakistan dan Bangladesh-dua negara Muslim yang dekat dengan kita? Suasana Karachi yang diceritakan Dr. Kaukab Siddique mungkin mencerminkan Pakistan, Kebanyakan penduduk miskin Karachi telah dipindahkan dari daerah orang-orang kaya ke tempat-tempat yang jauh. Mereka tinggal berdesak-desak di perkampungan dan pemukiman liar tanpa keperluan hidup yang memadai. Di New Karachi, puluhan ribu penduduk tinggal dalam kondisi yang tidak layak dialami manusia. Gubuk-gubuk mereka setengah terbuka; selokan mampat di pintu rumah mereka; makanan mereka di samping tidak menentu dan tidak teratur-tidak mengandung gizi yang baik. Anak-anak umumnya tumbuh besar dengan penyakit gondok. Malaria masih mewabah di Pakistan. Apa yang ada di kota ini tidaklah khas. Banyak lagi kota seperti itu di sekitar Karachi. Di sini, air minum menjadi masalah sehari-hari sehingga wanita harus berjalan jauh dan antre berjam-jam untuk memperoleh seember air atau terkadang kembali dengan tangan hampa. Salah satu perkampungan seperti itu berhadapan secara kontras dengan Kompleks Perumahan Militer, salah satu daerah elit di Karachi, tempat para pensiunan perwira Angkatan Bersenjata membangun istana-istana mereka. Masjid yang sangat indah pun dibangun di sana. Di sini, tukang-tukang kebun menyiram kebun yang besar-besar dan memelihara kolam-kolam yang bersih buat angsa-angsa peliharaan, sementara di seberang sana, tidak jauh dari situ, orang antre setiap pagi di jamban-jamban umum dengan ember-ember mereka. Di Pakistan, 90% penduduk tinggal di pedesaan sebagai petani. Kebanyakan di antara mereka adalah petani penggarap, yang dikontrol oleh birokrat, tuan- tuan tanah, prajurit-prajurit, dan goonda (tukang-tukang pukul yang siap menghantam petani miskin yang protes atau menyelundupkan makanan lewat perbatasan). Penderitaan di pedesaan membawa mereka ke kota-kota besar, untuk mencari kerja atau menghindari kekejaman polisi dan tagihan. “In the cities,” kata Kaukab Siddique, “they gradually came from the rootless lumpen- proletariat, the semi-civilized who have left the family system behind in the villages.” Kontras sekali dengan keadaan ini-lapor Kaukab Siddique ̶ ialah berkembangnya organisasi militer yang gemuk, yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kemiskinan massa. Pada tahun 1978-1979, Anggaran Belanja Negara berjumlah kira-kira $ 1.160 juta, hampir setengahnya digunakan untuk “pertahanan.” Pada zaman Bhutto anggaran pertahanan itu bahkan sampai sekitar 60% dari seluruh anggaran belanja nasional. Akibatnya, seperti dilukiskan dengan kata-kata tepat dari Siddique, “the military has a life style of its own and is like a higher caste living in a nation of ‘untouchables’,” (Kaum militer memiliki gaya hidupnya sendiri, bagaikan suatu kasta lebih tinggi yang hidup dalam suatu bangsa yang didiami oleh ‘orang-orang najis’). Tetangga kita, Bangladesh, adalah negara miskin dengan penduduk yang berjubel. Beberapa kali bencana kelaparan dilaporkan dari negeri itu. Apakah kemiskinan di sana terjadi karena negaranya kecil dan tidak subur, sehingga tidak mampu memberi makanan kepada penghuninya? Pada tahun 1976, sebuah misi yang dikirimkan oleh Kongres Amerika ke Asia dan Timur Tengah melaporkan: “Bangladesh adalah negeri yang cukup kaya dengan tanah subur, air, tenaga kerja, dan gas alam untuk pupuk-tidak hanya sanggup swasembada dalam pangan, tetapi juga sanggup mengekspornya, walaupun dengan perkembangan penduduk yang pesat.” Memang, produksi gandumnya saja sanggup memberi setiap warga Bangladesh, paling sedikit, 2.600 kalori setiap hari. Anehnya, lebih dari setengah penduduk Bangladesh setiap hari mengonsumsi makanan kurang dari 1500 kalori, tingkat hidup yang minimal. Dua pertiga penduduk menderita kekurangan protein dan vitamin. Apa yang terjadi? Menurut laporan AID tahun 1977, 90% tanah di Bangladesh dikerjakan, seluruhnya atau sebagian, oleh buruh tani. Pemilik tanah biasanya tidak ada di desa. Mereka tinggal di kota atau di luar negeri–“. perhaps a military officer or petty government officials” (… mungkin seorang perwira militer atau pegawai-pegawai rendahan pemerintah). Pada musim panen, petani menjual hasil panen dengan harga yang murah dan dalam jumlah yang banyak, sehingga tidak cukup lagi bekal buat mereka sampai panen berikutnya. Karena ingin hidup mewah? Bukan! Tetapi mereka harus membayar utang kepada para pemilik tanah. Pada musim kering, harga pangan meningkat sampai dua atau lima kali lipat. Pada tahun 1974, ketika Bangladesh ditimpa kelaparan, diperkirakan ditimbun lebih dari empat juta ton beras karena kebanyakan rakyat tidak sanggup membelinya. Sementara itu, pemilik tanah yang kaya berbaris sepanjang malam di kantor agrarian untuk membeli tanah yang dijual petani-petani kecil yang kelaparan sebagai upaya mereka yang terakhir. Pindah saja ke negara miskin lainnya-baik yang berpenduduk Muslim atau bukan. Kita akan tetap menemukan cerita yang hampir sama. Menurut Profesor Roger Revelle dari Harvard, dunia ini masih sanggup memberi makan 40 sampai 50 milyar penduduk bumi. Allah tidak miskin untuk menjamin makan penduduk walaupun jumlahnya sepuluh kali lebih banyak daripada yang hidup sekarang ini. Tetapi kelaparan terjadi justru di tempat-tempat yang memproduksi pangan dalam jumlah yang lebih dari cukup. Kelaparan terjadi di berbagai tempat yang disebut sebagai “gudang pangan.” Kita tidak kekurangan pangan, begitu kata Lappé dan Collins setelah menjelajah daerah-daerah kelaparan. Kelangkaan pangan itu mitos-cerita yang dibesar-besarkan oleh pers Barat. Overpopulation (kelebihan penduduk) juga mitos, karena, alih- alih sebagai penyebab bencana, kelebihan penduduk adalah kekayaan yang berharga. Bagaimana mungkin penduduk bumi mati? Apa penyebab sebenarnya dari kelaparan di dunia sekarang ini? Dua pertanyaan yang kemudian menjadi judul buku Susan George, How the Other Half Dies: The Real Reason for World Hunger. Kelaparan tidak ada hubungannya dengan kelebihan penduduk, kata Susan George. Karena kelaparan terjadi di Bolivia dengan kepadatan penduduk 5 orang per kilometer persegi, di India dengan kepadatan 172 orang, tetapi tidak terjadi di Belanda dengan kepadatan 326 orang per kilometer persegi. Seperti Lappé dan Collins, George berpendapat bahwa penyebab utama kemiskinan adalah ketimpangan sosial dan ekonomi—karena adanya sekelompok kecil orang-orang elit yang hidup mewah di atas penderitaan banyak orang. Lappé dan Collins meninjau lebih banyak pada elit di dalam negeri dan George memandang lebih besar pada peranan negara-negara maju yang menciptakan kebergantungan negara-negara berkembang dan mengeruk keuntungan lewat kolaborasi dengan elit lokal. Seperti mengeluh, George menulis, “Pengamatan yang cermat atas situasi yang terjadi sekarang ini menunjukkan bahwa hanya si miskinlah—di mana pun mereka berada—yang menderita kelaparan, dan bahwa pola ketidakadilan dan pengisapan yang berakar dalam, baik yang tumbuh di dalam maupun yang diimpor dari luar negeri, merintangi orang miskin untuk mencukupi kebutuhan pangannya.” Rudolf H. Strahm, ahli ekonomi Swiss, dengan menggunakan diagram dan gambar-gambar, menunjukkan pola-pola pengisapan (eksploitasi) yang dilakukan oleh negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang, dan kelompok elit di negara-negara berkembang terhadap penduduknya. Strahm menyebutnya sebagai penindasan Zentrum (Pusat) pada Peripherie (Pinggiran). Dalam kata pengantar untuk Uberentwickelung Unterentwickelung, Strahmmenulis, “Keterbelakangan bukan hanya kemiskinan material, tetapi jurang antara kelas-kelas sosial.” Pembangunan yang terjadi sekarang kebanyakan hanya pembangunan keterbelakangan, pengembangan kemiskinan, “Entwickelung der Unterentwickelung.” Solidaritas diperlukan bukan hanya dari negara-negara maju kepada negera-negara berkembang, tetapi juga diperlukan di antara penduduk di negara-negara berkembang itu sendiri. “Solidaritat”—kesetiakawanan sosial—inilah yang ingin dibangkitkan oleh Dr. Nabil Subhi ath-Thawil, lewat buku yang Anda baca ini. Umat Islam selama ini cenderung keliru mengartikan ibadah dengan membatasinya pada ibadah-ibadah ritual. Betapa banyak umat Islam yang disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah, tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusyuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi. Atau, betapa mudahnya jutaan—bahkan miliaran— uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak tidak dapat melanjutkan sekolah, ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi, ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit, dan bahkan di saat ribuan umat Islam terpaksa menjual iman dan keyakinannya kepada tangan-tangan kaum lain yang “penuh kasih”. Padahal, sebagaimana telah dilukiskan oleh Rasul mulia Saw: “Perumpamaan kaum mukmin dalam hal jalinan kasih sayang, kecintaan, dan kesetiakawanan sama seperti satu tubuh, yang bila salah satu anggotanya mengeluh karena sakit, maka seluruh anggota lainnya menunjukkan simpatinya dengan berjaga semalaman dan menanggung panas karena demam.” Kesetiakawanan dan cinta kasih inilah yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, dan sahabat-sahabatnya, seperti yang dikisahkan oleh seorang sahabat Nabi: “Suatu hari kami berkumpul bersama Nabi Saw. menjelang siang. Tiba-tiba datanglah rombongan orang yang berpakaian hampir telanjang dan compang-camping sambil bertelekan pada pedang- pedang mereka. Kebanyakan, bahkan seluruhnya, dari Bani Mudhar. Tiba-tiba wajah Nabi berubah melihat penderitaan mereka. Beliau masuk (ke hujrah-nya), kemudian keluar dan menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan. Setelah selesai mengerjakan shalat, Rasul yang mulia berkhutbah. Beliau membacakan beberapa ayat. Di antaranya: ‘Hai manusia, takutlah kamu kepada Tuhan Pemeliharamu, yang menciptakan kamu dari diri yang satu…’ sampai akhir ayat itu; ‘Dan hendaklah setiap orang mempersiapkan bekalnya untuk masa depannya… Beliau menganjurkan supaya setiap orang mengeluarkan sedekahnya-sandang atau pangan. Berbondong-bondonglah para sahabat menyumbangkan apa yang mereka punyai, bahkan ada seorang Anshar memikul satu kantong yang begitu berat, sehingga tangannya hampir tidak dapat membawanya. Aku lihat dua tumpuk makanan dan pakaian, dan aku melihat wajah Rasulullah Saw. bersinar-sinar karena kegembiraan. Setelah itu, Rasulullah Saw.. bersabda, Barang siapa memulai kebiasaan yang baik dalam Islam, maka baginya ganjaran dan ganjaran orang yang mengikuti kebiasaan baik itu sesudahnya. Barang siapa memulai kebiasaan yang jelek dalam Islam, maka baginya dosa (karena memulai kebiasaan jelek itu) dan dosa orang yang melanjutkan kebiasaan jelek itu sesudahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sendiri sedikit pun.” Dalam peristiwa ini, kebiasaan yang baik, sunnah hasanah, itu adalah menggerakkan umat Islam untuk bersama-sama membantu meringankan penderitaan sesama Muslimin; dan kebiasaan yang jelek, sunnah sayyiah, ialah membiasakan bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan orang lain. Dengan demikian, sunnah hasanah ialah memandang kemiskinan sebagai masalah sosial yang pemecahannya harus dilakukan lewat aksi sosial; dan sunnah sayyiah ialah memperlakukan kemiskinan sebagai masalah individu-individu yang bersangkutan. Anda menghidupkan sunnah sayyiah bila Anda berpikir bahwa orang itu miskin karena bodoh, tidak mau bekerja keras, kurang hasrat berprestasi, tidak memiliki jiwa wiraswasta, fatalistis, pasrah pada nasib, atau barangkali juga karena dosa-dosa yang pernah mereka buat. Pada suatu pertemuan para cendekiawan Muslim internasional, utusan dari setiap negara menyampaikan kemiskinan dan kesengsaraan saudara-saudaranya, terkadang dengan deraian air mata yang tidak dapat ditahan. Mengharukan. Tetapi, sebelum pertemuan selesai, para cendekiawan menyimpulkan bahwa kemiskinan dan kesengsaraan ini bersumber dari kebodohan kaum Muslim. Lalu, dengan semangat, peserta membeberkan cacat kaum Muslim dewasa ini. Kembali, sang korban yang disalahkan! Kemiskinan menjadi masalah individual. Menurut Al-Quran, ini kecenderungan orang-orang yang menumpuk kekayaan: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat dan pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” Al-Quran menyindir orang-orang yang ketika diberi kekayaan, merasa dimuliakan oleh Allah (dengan sifat-sifat yang baik), dan ketika diberi kemiskinan, mereka mengira Allah menghinakannya. “Sekali-kali tidak demikian.” Kemudian Allah menyebutkan penyebab kemiskinan adalah kecenderungan untuk tidak memuliakan anak yatim, tidak adanya usaha bersama untuk membela orang miskin, kecenderungan untuk menggunakan sumber-sumber daya (at-turâts) secara rakus, dan kecintaan yang berlebih-lebihan pada harta-benda. Islam memandang kemiskinan sebagai akibat dari sistem sosial yang timpang, dari kekurangan solidaritas sosial, dari sunnah sayyiah di masyarakat. Jadi, kalau terjadi kemiskinan yang meluas di masyarakat, siapakah yang paling bersalah? Nabi Muhammad Saw. menjawab, “Sesungguhnya Allah mewajibkan atas orang-orang kaya Muslimin untuk mengeluarkan harta mereka seukuran yang dapat memberikan keleluasaan hidup bagi orang- orang miskin. Dan tidak mengalami kesengsaraan orang-orang miskin, bila mereka lapar atau telanjang, kecuali karena perbuatan orang-orang kaya juga, Ingatlah bahwa Allah Swt. akan mengadili mereka dengan pengadilan yang berat dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.” Sayyid Sabiq menyertakan hadis ini setelah memberikan tafsir atas ayat Al- Quran: “Dan orang-orang yang pada hartanya ada hak yang tersurat, bagi yang meminta pertolongan dan yang melarat.” Kata Sayyid Sabiq,” Inilah hak orang-orang yang memerlukan pada harta orang-orang kaya; yang ukurannya sejumlah apa yang memenuhi kebutuhan pokok mereka berupa sandang, pangan, dan papan, serta kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya yang amat diperlukan oleh manusia supaya ia hidup layak sebagai manusia.” Boleh jadi Anda berpendapat: Bukankah kewajiban kita selesai bila kita sudah mengeluarkan zakat? Pertanyaan yang sama pernah disampaikan oleh sahabat kepada Rasulullah Saw. Beliau menjawab, “Sesungguhnya pada harta itu ada hak selain zakat.” Lalu beliau membaca ayat: “Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajahmu ke timur atau ke barat, tetapi kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Akhir, para malaikat, al- kitab, dan para nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin, musafir, orang-orang yang meminta pertolongan, dan mereka yang ingin membebaskan dirinya dari perbudakan; mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat; memenuhi janji bila berjanji, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang takwa.”  Hak inilah yang harus Anda berikan ketika ada orang meminta tolong kepada Anda buat biaya rumah sakitnya, padahal pada diri Anda ada kelebihan uang. Hak ini juga yang harus Anda sampaikan kepada siswa yang tidak akan dapat melanjutkan sekolahnya bila Anda tidak memberikan hak itu kepadanya. Hak inilah yang harus dituntut oleh orang-orang miskin dari orang-orang kaya bila mereka mengalami kesulitan hidup. Kesulitan hidup terjadi bila kebutuhan pokok-basic needs-tidak terpenuhi. Bila ada sejumlah orang kelaparan dan ada segelintir orang hidup mewah, maka yang lapar boleh menuntut haknya dengan paksa. Ketika menafsirkan ayat: “Jika salah satu di antara kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” Ibnu Hazm menyatakan bahwa orang lapar boleh menggunakan paksaan untuk meminta haknya dari orang kaya dan menyerangnya jika orang kaya itu menahan haknya. “Bila penyerang itu terbunuh, pembunuhnya harus membayar denda, dan jika ia berhasil membunuh orang yang diserang, yang terserang itu terkutuk dan mendapat laknat Allah karena ia tidak memenuhi hak orang lapar dan ia termasuk orang yang berbuat aniaya seperti dimaksud dalam ayat ini” Ibnu Hazm mungkin agak “ekstrem”. Tetapi ia berpijak pada satu asumsi bahwa kemiskinan hanya dapat diatasi dengan kesediaan orang kaya memberikan hak orang miskin yang diamanatkan Allah kepadanya. “Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” Bahwa kemiskinan dan keterbelakangan adalah tanggung jawab kita bersama ditegaskan berulang-ulang, baik dalam Al-Quran maupun Sunnah, sebagian di antaranya: 1. Menolong dan membela yang lemah, mustadh’afin, adalah tanda-tanda orang yang takwa.” 2. Mengabaikan nasib mustadh’afin, acuh tak acuh terhadap mereka, dan enggan memberikan pertolongan akan menyebabkan ia menjadi pendusta agama dan shalatnya akan membawa kecelakaan;” menjerumuskan ke neraka saqar,” imannya tidak ada (“Tidak beriman kepadaku yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya”),  dan ia tidak dihitung sebagai orang Islam (“Barang siapa tidak mau memperhatikan urusan kaum Muslim, maka ia tidak termasuk kelompok mereka”). 3. Membela nasib mustadh’afin merupakan amal utama yang mendapat pahala lebih besar daripada ibadah-ibadah sunnah. “Barang siapa di waktu pagi berniat untuk membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang Muslim, baginya ganjaran seperti ganjaran haji yang mabrur. Hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat buat manusia. Seutama-utamanya amal ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman- melepaskan lapar, membebaskan kesulitan, atau membayarkan utang,” “Orang yang bekerja keras untuk membantu janda dan orang miskin adalah seperti pejuang di jalan Allah atau (aku kira ia berkata) seperti yang terus-menerus shalat malam atau terus-menerus puasa.” “Barang siapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya pada satu saat di siang hari atau malam hari, ia berhasil memenuhinya atau tidak berhasil, itu lebih baik baginya daripada iktikaf dua bulan.” “Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari kesusahan atau menolong orang yang teraniaya. Allah berikan kepadanya 73 ampunan.” Tanpa harus menyebutkan nas-nas di atas pun, orang-orang yang mempelajari Islam, membuka Al-Quran dan Sunnah, akan segera menemukan perhatian yang besar dari ajaran Islam terhadap problem kemiskinan dan keterbelakangan. Tidak perlu dirumuskan teologi pembebasan. Yang diperlukan umat Islam kini ialah data yang konkret bahwa kemiskinan adalah bencana sosial yang mengancam eksistensi umat Islam. Membela fakir miskin adalah melanjutkan tugas Rasul dalam “membuang beban-beban (penderitaan) dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” Bukankah Rasulullah Saw. berkata, “Kamu ditolong dan diberi rezeki karena bantuan orang-orang lemah di antara kamu.” Kepada istrinya, beliau berpesan, “Wahai Aisyah, cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah pun akrab dengan engkau pada hari kiamat.” Dan kepada kita semua, beliau berwasiat, “Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga ialah mencintai orang-orang miskin.” *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
MEMAHAMI DAN MENGHAYATI DOA KUMAILNovember 5, 2025Pada akhir tahun 1980-an, saya diundang Taufiq Ismail untuk membacakan puisi di Taman Ismail Marzuki. Menurut Taufiq, para mubalig dan tokoh agama adalah orang-orang yang banyak bermain dengan bahasa, Sama seperti penyair. Mereka piawai mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan bahasa yang bukan saja baik dan benar tetapi juga dalam dan menyentuh. Maka, ia pun membuat pagelaran mubalig sebagai penyair. Waktu itu saya baru pulang haji. Selama haji saya mengungkapkan pengalaman spiritual” saya dalam buku kecil. Saya menuliskannya dalam Dentuk puisi, bukan karena saya penyair, tetapi karena puisi adalah “the horthand of ideas,” stenografinya gagasan. Akan tetapi, puisi-puisi dadakan itu tidak cukup untuk saya tampilkan. Saya kemudian membacakan terjemahan Doa Kumail, dengan segala akal budi saya. Doa itu ternyata sangat menyentuh. Tidak lama setelah itu, Motinggo Busye meminta saya untuk membacakannya alam seminar tentang sastra di Universitas Parahiyangan. Doa Kumail adalah doa pertama yang saya kenal sebagai warisan Ahlulbait Nabi Saw. Ternyata, setelah itu, saya menemukan mazhab Ahlulbait sebagai satu-satunya mazhab dalam Islam yang paling kaya dengan doa. Doa-doa mereka yang panjang terasa pendek, karena kata-katanya dirangkai seperti untaian bunga yang saling bertaut satu sama lain. Bukan hanya sejenis doa. Bukan juga sekadar doa. Doa-doa Ahlulbait harus dibaca dengan latar belakang krisis manusia pada tingkat personal dan individual. Dilihat dari sudut ini, doa-doa itu pada hakikatnya ditujukan pada masalah batiniah manusia setiap era dan zaman, setiap daerah dan ras, setiap aliran dan agama. Di sinilah kita menyaksikan seseorang, satu individu, yang berhadapan dengan kekuatan buas yang muncul dari dalam dan dari luar, yang menyadari keterbatasannya, yang merintih dengan penuh perasaan dalam doa-doa pengabdiannya, yang berusaha bergabung dengan Tuhan, dan memercayakan rahasia hidupnya yang paling dalam kepada Dia. Di sinilah kita menyaksikan seseorang yang terperangkap dalam hiruk-pikuknya kehidupan, dalam benturan perasaan dan kepentingan, dalam desakan dan tekanan impuls-impuls yang muncul, dalam ketegangan dan bencana eksistensi, dan di atas semuanya, dalam pencarian kepuasan ruhaniah, seorang manusia yang kesepian dan tidak berdaya, yang berdiri di hadapan Penciptanya dalam hubungan langsung, dan menyapa Dia dari lubuk hatinya yang paling dalam. Belajar Doa dari Psikologi Agama Dalam studi-studi agama, seperti didefinisikan oleh James, doa adalah “segala macam komunikasi ke dalam atau percakapan dengan Kekuasaan yang dikenal bersifat Ilahi” (1936: 454). Semua agama mengajarkan dan mempraktikkan doa. Dalam psikologi agama, ada disebutkan macam-macam doa: “Petitions, memohon sesuatu untuk diri sendiri; intercession, memohonkan sesuatu untuk orang lain; confession, bertobat atas kesalahan dan memohonkan ampunan; lamentation, merintih dalam kesedihan dan memohonkan pertolongan; adorations, memberikan pujian dan pujaan; invocation, memohonkan kehadiran Tuhan Yang Mahakuasa; dan thanksgiving, ungkapan syukur” (Dossey, 1993:5). Untuk meneliti pengaruh doa pada kesehatan jiwa, Poloma dan Peddleton (1989, 1991) membagi doa hanya pada empat kategori saja: (1) contemplative meditative prayer, doa yang mengandung renungan tentang kebesaran dan kasih sayang Tuhan, serta ungkapan berbagai perasaan ketika pendoa berada bersama Tuhan; (2) ritualistic prayer, doa yang sudah baku, yang dibacakan atau diucapkan berdasarkan hafalan; (3) petitionary prayer, doa yang berisi permohonan untuk diri sendiri atau untuk orang lain yang dekat dengan pendoa (significant others); (4) colloquial prayer, doa yang berbentuk percakapan dengan Tuhan, dengan permohonan-permohonan yang tidak spesifik. Termasuk tipe apakah Doa Kumail? Doa Kumail mencakup semuanya. Kalau harus dipaksakan untuk masuk satu kategori saja, mungkin kita harus menyebutnya doa kontemplatif-meditatif, yang di dalamnya terkandung semua yang terdapat pada semua tipe doa! Atau tipologi doa, yang dibuat ilmuwan untuk penelitian efek doa dalam kehidupan bumi, mungkin tidak relevan untuk membahas Doa Kumail, yang diajarkan Imam Ali untuk menerbangkan ruh kita ke langit. Kalau begitu, mari kita lihat Doa Kumail dalam tradisi Islam tentang doa. Doa dalam Tradisi Islam Doa dalam bahasa Arab berasal kata du’â-yad’û-du’a’an wa da’wa wa da’watan. Orang Indonesia tidak menerjemahkan kata itu tetapi menyalinnya langsung, Mungkin karena menerjemahkan berarti menghilangkan makna-makna yang kaya dalam bahasa aslinya. Pertama, doa adalah permohonan. Kata ad’-da’autu berarti aku berdoa, bermohon, meminta dengan penuh kerendahan, menginginkan untuk memperoleh kebaikan dari apa yang harus Dia anugerahkan. Bergantung kepada kata depan sesudahnya, permohonan kita itu bisa berupa kebaikan atau keburukan. Da’autu lahu berarti aku mendoakan kebaikan untuknya, misalnya mendoakan agar orang itu memperoleh rezeki yang banyak, ilmu yang bermanfaat. Aku memberkati dia, I blessed him. Da’autu ‘alaihi berarti aku mendoakan dia dengan doa-doa yang mendatangkan keburukan baginya, misalnya, aku berdoa agar ia mendapat kecelakaan, kemiskinan atau penyakit. Aku melaknat dia, I cursed him. Sambil menggendong Hasan dan Husain dengan tangan-tangannya yang mulia, Rasulullah Saw berdoa di mimbarnya, “Ya Allah, aku mencintai keduanya. yang memusuhi Cintailah orang yang mencintai mereka, dan musuhilah mereka.” Beliau berdoa untuk keduanya da’â lahumâ. Ketika muncul Marwan dan bapaknya, Hakam, yang tidak henti-hentinya menyakiti Nabi Saw, beliau melaknat keduanya da’a ‘alaihima. Setelah peristiwa Bir Ma’unah, ketika suatu kabilah ramai-ramai membantai sahabat-sahabat Nabi Saw yang berdakwah di situ, Nabi Saw melaknat kabilah itu selama tiga bulan dalam doa qunutnya: da’a ‘alaihim. Kedua, doa berarti seruan, panggilan, ajakan. Ada beberapa pengertian doa dalam Islam, Anda akan menemukannya dalam penjelasan Sayyid Fadhlullah di dalam bukunya ini, Fi Rihab Du’a’ Kumail. Rihab dalam bahasa Arab adalah dataran rendah, lembut, dan subur. Tanahnya subur dan menghijau, karena menampung air dan menyimpannya. Sayyid Fadhlullah membawa kita kepada keindahan taman Doa Kumail, seperti membawa para pengembara di padang pasir ke oase yang hijau dan sejuk. Di situ kita melepaskan dahaga ruhaniah dan mereguk anggur Ilahiah yang dialirkan dalam setiap untaian doa dan munajat Imam ‘Ali bin Abi Thalib. Yang paling penting kita catat ialah bahwa Doa Kumail merupakan karya suci dari manusia suci, ‘Ali bin Abi Thâlib. Inilah doa dari seorang wali Allah, yang bukan saja menyampaikan keperluan kita dengan bahasa yang indah, tetapi juga membimbing Anda ke haribaan-Nya. Doa ini akan membersihkan batin Anda dari berbagai penyakit hati, menyobekkan tirai-tirai yang menghalangi Anda melihat keindahan Tuhan, dan memberikan kepada Anda kelezatan bermunajat. Ya sabighan-ni’am Ya dafi’an-niqâm Ya niral-mustauhisyîna fizh-zhalam Ya ‘aliman lâ-yu’allam Shalli alâ Muhammadin wa Ali Muhammad Waf’al bi må anta ahluh Wa shallallahu ‘ala Rasûlihi wal-A’immatil-mayâmin min Alihi wa sallama tasliman katsîrâ. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...

Buku Karya KH. Jalaluddin Rakhmat

« of 2 »

Videografi

This error message is only visible to WordPress admins

Unable to retrieve new videos without an API key.

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

Audiografi

UJR-MFR

“Jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun”

​KH. Jalaluddin Rakhmat
@katakangjalal

Contact Jalan Rahmat

Jl. Kampus II No. 13-15. Kiaracondong. Bandung