MEMAHAMI MAKNA RABBUL ALAMIN

Alhamdulillah adalah kalimat yang mulia, dan hanya disebut pada tempat-tempat yang layak. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ketika Nabi Adam as. Pertama kali dimasuki oleh ruh dan hidup, sebagai tanda kehidupannya, ia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah rabb al-alamin“. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa di akhir doa penghuni surga ada kalimat Alhamdulillah rabb al-alamin. Ketahuilah, terbukanya alam semesta ini ditegakkan atas lafal Alhamdulilla rabb al-alamin, dan akhir perjalanan kehidupan ini juga Alhamdulilla rabb al-alamin. Karena itu, usahakanlah agar semua amal kita yang pertama dan terakhir dimulai dan diakhiri dengan Alhamdulilla rabb al-alamin.

Makna Rabbul Alamin

Arti rabb al-alamin adalah yang mengurus, menjaga, dan merawat alam semesta. Karena itulah, perempuan yang diurus oleh satu keluarga Arab disebut rabibah. Dari sini ahli tafsir menjelaskan tarbiyatullah. Bagaimana Allah memelihara alam semesta ini.

Kata rabb bisa berarti pendidik. Dalam rangka memelihara dan mengurus itu sebenarnya Allah juga mendidik. Sebab itulah kita mengenal kata tarbiyah, yang menurut sebagian orang berasal dari kata rabb. Dalam arti yang pertama, rabb al-alamin berarti Allah-lah yang mengurus, menjaga dan merawat alam semesta.

Rabb juga bisa berarti pemilik. Dalam bahasa Arab, rabb al-ghanam berarti pemilik kambing. Rabb al-bait berarti pemilik rumah. Boleh jadi istilah rabbi dalam bahasa Ibrani dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pendeta mereka berarti orang-orang yang mengurus, memelihara, dan mengayomi. Karena, ada arti lain dari kata rabb sebagaimana dikemukakan penulis tafsir Majma’ Al-Bayan. Rabb bisa berarti juga al-sayyid al-mutha, pemimpin yang ditaati. Mungkin dari situlah kata rabbi di kalangan orang Yahudi itu muncul. Sebab, bahasa Ibrani dan bahasa Arab memiliki banyak kesamaan. Misalnya kata salam dalam bahasa Arab, menjadi salom dalam bahasa Ibrani.

Kata al-alamin berasal dari kata ‘alam. Kata ‘alam berasal dari kata ‘alam (‘ain pendek) yang berarti bendera atau tanda. Kata lain yang dekat dengan ‘alam adalah alamah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi alamat. Alamat adalah tanda atau ciri untuk mengetahui tempat seseorang. Dalam bahasa Arab, alamat atau address tidak disebut ‘alamah melainkan ‘unwan.

Mengapa alam semesta diartikan sebagai ‘alamah atau tanda? Karena, dalam konsepsi Al-Quran, seluruh alam ini adalah tanda-tanda Allah. Dalam surat Al-Rum ayat 22 disebutkan: “Dan di antara ayat-ayat-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi alam semesta”. Seluruh alam ini adalah tanda-tanda Allah. Alam adalah alamah Allah. Jadi, kalau kita ingin mencari-Nya, carilah dari alamat-Nya.

Sebagian mufasir mengatakan bahwa alam berasal dari kata ‘ilm, ilmu pengetahuan (ma’rifah). Karena, dari alam lah kita mengetahui ilmu tentang alam, juga tentang pencipta alam itu. Dengan menyebutkan rabb al-alamin, Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa jalan yang paling dekat untuk sampai kepada-Nya adalah dengan mengenal alam; dengan mengenal bagaimana Allah memelihara seluruh alam semesta ini.

Oleh karena itu, Syaikh Makarim Al-Syirazi, dalam tafsirnya Al-Amtsal, ketika menafsirkan rabb al-alamin, mengatakan bahwa dengan mengucapkan rabb al-alamin, kita meyakini bahwa rububiyyatullah thariqun li ma’rifatullah. Salah satu jalan untuk mengenal Allah adalah memerhatikan bagaimana Allah memelihara alam semesta atau bagaimana rububiyyah Allah di alam semesta ini.

Dari segi bahasa, ada hal yan gmenarik dari kata alamin. Alamin adalah bentuk jamak (plural) dari kata ‘alam, yang kemudian diubah menjadi alamin. Hanya saja, karena menjadi mudhaf ilaih (kata yang digandengkan dengan kata sebelumnya), maka bunyinya menjadi alamin. Kata ini adalah bentuk jama’ mudzakar salim. Bentuk ini beraturan dan dipakai untuk yang berakal saja. Dalam bahasa Arab, hampir semua bentuk kata benda adalah tidak beraturan, sehinga disebut dengan jama’ taksir (jamak yang memecahkan kata-kata sehingga tidak beraturan).

Dalam bahasa Arab, jamak yang tidak pecah hanya digunakan untuk yang berakal, yang bernyawa. Tetapi di sini al-amin menggunakan bentuk jamak mudzakkar salim. Jadi, mestinya al- amin di sini tidak menunjukkan benda-beda yang tidak berakal, melainkan sesuatu yang bernyawa. Karena itu sebagian mufasir bahkan menurut Sayyid Rasyid Ridha, Imam Ja’far Shadiq mengartikan, alamin dengan manusia. Dengan demikian, rabb al-alamin, sama dengan rabb al-nas. Itu berarti, ayat yang pertama dari Al-Quran adalah rabb al-alamin. Dan ayat pertama dari surat terakhir dalam al-Quran juga berkenaan dengan rabbul-nas (surat Al-Nas). Oleh karena itu, al-alamin berarti al-nas, yang berarti seluruh manusia, tidak berkenaan dengan benda-benda.

Syaikh Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menyebutkan: Diriwayatkan dari Imam Ja’far bahwa yang dimaksud dengan al- alamin adalah seluruh manusia. Dan itu ada alasannya dalam Al- Quran. Misalnya dalam surat Al-An’am ayat 90, Yusuf 104, dan Al-Furqan. Rasulullah juga diutus untuk menjadi rahmatan lil- alamin. Jadi, berdasarkan ayat-ayat itu, sebagian mufasir berpendapat bahwa al-alamin adalah umat manusia. Sebagian mufasir lain mengartikan alam di situ bukan hanya manusia, melainkan juga seluruh alam ini, alam jin, bebatuan dan alam lainnya, walau pun dalam bahasa Arab yang biasa, memang untuk kata al-alam yang berarti seluruh alam,bentuk jamaknya adalah awalim. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa adanya alam bukan hanya manusia adalah surat al-Syura ayat 23-24.

Menurut Al-Fakhr Razi, makna rabb adalah yang memelihara, menjaga, melindungi dan mengayomi. Jenis pemeliharaan itu ada dua (1) ada orang yang memelihara sesuatu karena ia ingin memperoleh keuntungan dari yang ia pelihara; dan (2) ada orang yang memelihara sesuatu agar yang dipeliharanya itu beruntung. Jenis pemeliharaan yang pertama adalah jenis pemeliharaan makhluk. Sedangkan jenis pemeliharaan yang kedua adalah pemeliharaan Allah; itulah tanda rabb al-alamin. Dengan ini seakan-akan Allah berfirman, “Aku menciptakan kamu agar kamu beruntung dari-Ku, bukan supaya Aku beruntung darimu.” Itulah pemeliharaan Allah; berbeda dengan makhluk yang memelihara dengan harapan memperoleh keuntungan.

Seorang Ibu memelihara anaknya. Ia merasa bermakna menjadi seorang ibu. Karena itulah banyak ibu merindukan untuk mempunyai anak dan merawatnya karena ada kenikmatan dalam memelihara anak. Ibu itu memeroleh keuntungan. Beda halnya dengan Allah. Ia memelihara kita tanpa memeroleh keuntungan apa pun. Karena itulah, Dia itu ghaniyyun anil alamin, yang tidak  memerlukan keuntungan dari seluruh alam semesta ini.

Jadi, ketahuilah, pemeliharaan Allah berbeda dengan yang lain dengan beberapa penjelasan sebagai berikut:

(1) Allah memelihara, mendidik, menjaga hamba-hamba-Nya bukan untuk kepentingan-Nya, tetapi untuk kepentingan yang dijaga-Nya. Sedangkan yang lain melakukan pemeliharaan justru untuk kepentingan pribadinya, bukan untuk orang lain;

(2) Allah memelihara kita dengan perbendaharaan-Nya yang tak terhingga; berbeda dengan selain Allah yang memelihara dengan sangat terbatas.

(3) Allah memelihara kita tanpa mengharapkan balasan dari kita; sedangkan selain Allah berbuat baik dengan mengharapkan balasan, baik di dunia dan akhirat.

(4) Berbeda dengan makhluk yang, jika dimintai sesuatu terus menerus dengan merengek, akan jengkel dan marah, Allah justru akan marah jika manusia meminta kepada-Nya tidak dengan merengek, tidak terus menerus, tidak bersikeras, dan cepat bosan. Allah justru menyukai orang yang meminta dengan terus-menerus dan tidak berputus asa. Nabi Zakaria as dipuji karena terus menerus meminta kepada Allah sampai puluhan tahun. Sejak menikah ia berdoa ingin dikaruniai anak. Nabi zakaria merintih, “Tuhan, sudah rapuh tulang-tulangku, tapi aku tidak akan menghentikan doaku kepada-Mu. Allah memujinya, tetapi ia tak gentar meminta kepada Allah. Akhirnya, Allah mengabulkan doa Zakaria. Bandingkanlah dengan sebagian orang yang akhirnya tidak mau berdoa dan shalat lagi karena ia sudah berdoa puluhan tahun tetapi Tuhan belum juga mengabulkannya. Ingatlah, Allah mencintai orang-orang yang terus menerus merintih, memohon kepada-Nya.

(5) Siapa pun, selain Allah, tidak akan berbuat baik kalau tidak akan diminta. Sedangkan Allah sebaliknya. Sebelum kita minta, bahkan sebelum kita tahu harus meminta, Dia telah menjaga kita dalam rahim ibu dan menglirkan susu lewat ibu kita.

(6) Allah tidak pernah berhenti berbuat baik kepada kita. Sedangkan kita sebaliknya. Kita mempunyai batas waktu dalam berbuat baik. Kita tidak akan bisa menghitung nikmat- nikmat Allah sehingga kita merasakan kebaikan Allah yang diberikan kepada kita setiap saat. Anehnya, kita sering lebih cepat melihat niqmah (bencana) daripada ni’mah (kenikmatan). Kita lebih mudah memerhatikan niqmah daripada ni’mah Allah. Itulah sebabnya kita menjadi mudah putus asa.

Saya teringat cerita dari Dale Carnegie tentang seseorang pengusaha di Amerika serikat yang bangkrut. Ia putus asa dan akan pulang ke kampung halamannya. Saat berjalan di pinggir jalan, tepatnya ketika ia akan menyebrangi jalan, ia berpapasan dengan orang buntung yang memakai kursi roda. “Lihat, betapa indah pagi ini!” kata orang buntung itu. Dengan ragu menjawab, “Ya.” la terdiam, lalu berpikir,” Saya bangkrut”. Ia yang tidak mempunyai kaki saja bisa memandang pagi ini dengan indah.” Akhirnya ia tidak jadi pulang. Ia kembali ke bank untuk memohon kredit. Ia bekerja keras dan akhirnya kembali menjadi chief executive officer. Ia memasang satu tulisan di kamarnya, sajaknya sendiri.

I Was blues

Because I had no shoes

Until off on street

I met man without feet

Aku melihat dunia ini kelabu

Karena aku tidak mempunyai sepatu

Sampai di pinggir jalan

Aku bertemu orang tanpa kaki

Ingatlah, kebaikan Allah Swt kepada kita jauh lebih besar daripada ujian-Nya dan kebaikan Allah itu tak pernah berhenti.

(7) Kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu; sedangkan kasih sayang selain Allah hanya untuk hal-hal tertentu saja. Allah menyayangi orang yang suka beribadah. Allah juga menyayangi orang yang suka berdosa. Dalam sebuah ayat Al-Quran, Allah berfirman: Ya ‘ibadi,wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas.” Siapakah yang dipanggil dengan panggilan yang penuh kasih itu? Begitu besar kasih sayang Allah sehingga Dia mengkhususkan panggilan itu kepada para pendosa, orang-orang yang telah melewati batas. Tuhan memanggil mereka untuk kembali datang kepada-Nya. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *