
Â’isyah berkata bahwa Rasulullah Saw pernah memperbaiki sandalnya: Aku duduk menjahit. Aku memandang kepadanya. Aku lihat keringat mengalir dari dahinya, memancarkan berkas-berkas cahaya. Aku terpesona. Rasulullah Saw memandangku seraya berkata, “Mengapa engkau terpesona?” Aku menjawab, “Ya Rasul Allah, aku tadi melihatmu dan aku lihat keringat muncul di dahimu, memancarkan berkas-berkas cahaya. Sekiranya penyair Abu Kabir al-Hudzali melihatmu, pastilah ia tahu bahwa engkau paling berhak dilukiskan dalam syairnya.” Nabi Saw berkata, “Bacakan kepadaku puisinya.” ‘Â’isyah pun mendeklamasikan sajak Abu Kabir, di antaranya:
Penghapus segala derita wanita dan kesusahan yang menyusui.
Obat segala penyakit yang tak tersembuhkan
Bila kulihat sinar mukanya
Berkilat bagaikan kilatan dahi yang gemerlap
Rasulullah Saw meletakkan apa yang ada di tangannya. Ia berdiri, dan mencium di antara kedua mataku. Ia bersabda, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, hai ‘A’isyah. Kebahagiaanmu karena aku, sama dengan kebahagiaanku karenamu.” (Hilyat al-Awliya 2:45).
Rasulullah Muhammad Saw senang mendengarkan dan sekali-sekali membacakan puisi. Ia memuji Hasan bin Tsâbit, penyair yang mendendangkan puisi yang mengungkapkan kekagumannya pada Nabi Saw. “Sesungguhnya Allah memperkuat Hasan bin Tsabit dengan Ruh Kudus selama ia membela Rasulullah. Ketika Muhammad Saw diberi kemenangan dalam perang, ia teringat pamannya Abû Thâlib, yang melindunginya sejak kecil sampai menjadi Nabi Saw. Air matanya tergenang di pelupuk matanya. Ia berkata, “Sekiranya paman masih hidup, tentu bahagialah hatinya. Siapa di antara kalian yang mau membacakan puisi pamanku?” Para sahabat bergilir membacakan puisi Abú Thâlib. Ketika ia mengangkut batu bata dalam persiapan Perang Khandaq, tanah menciprati kulit perutnya yang mulia. Ia membacakan puisi Abdullâh bin Rawahah:
Ya Allah, jika Engkau tiada
Tidaklah kami mendapat petunjuk
Tidak akan berderma atau sembahyang
Turunkan ketenteraman kepada kami
Teguhkan langkah ketika musuh menghadang kami
Mereka ingin membinasakan kami
Jika menyerang, kami lawan mereka.
Peristiwa di atas diriwayatkan Imam Ahmad (4: 302) dan banyak periwayat hadis lainnya, seperti juga Imam al-Bukhari. Tidak syak lagi, puisi bukan saja tidak dilarang Nabi Saw, tetapi ia bahkan mendorong para sahabatnya untuk berkreasi.
Ketika turun ayat Al-Quran: Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang- orang yang sesat (Qs asy-Syu’ard, 26: 224), para penyair Muslim datang kepada Rasulullah Saw sambil menangis. “Kamilah penyair itu, ya Rasul Allah. Kepada kami turun ayat itu,” ujar mereka. Kemudian Nabi Saw membacakan ayat Al- Quran (Qs asy-Syu’arâ’, 26: 227): Kecuali para penyair yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. Kalian telah dizalimi dan kalian telah mendapat pertolongan.”
Tuhan mengecam penyair yang menggunakan bahasa untuk menunjang kezaliman, mengejar semata-mata popularitas, atau membangkitkan akhlak yang tercela. Inilah para penyair yang “mengembara di tiap-tiap lembah,” yang suka “mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan” (Qs asy-Syu’arâ’, 26: 225-226). Tetapi Tuhan memperkuat penyair yang menentang kezaliman, menyuarakan penderitaan orang tertindas, atau mengembangkan manusia ke arah kesempurnaan. Tuhan memperkuat mereka dengan Ruh Kudus.
Tidak ada alat yang begitu plastis untuk mengekspresikan perasaan dan sekaligus menggelorakannya, selain bahasa. Pada lidah penyair, bahasa berubah menjadi seperti tanah liat bagi para pengrajin, juga peluru bagi para pejuang. Puisi adalah stenografinya gagasan. Jika satu gambar dapat melukiskan seribu kata, maka satu kata dalam puisi dapat melukiskan seribu gagasan.
Dilatarbelakangi itu, maka seperti Rasulullah Saw, saya ingin menyatakan apresiasi saya sebesar-besarnya pada upaya saudaraku MIF Baihaqi yang telah menuliskan tuturan hikmah berwajah puisi dalam buku ini. Seperti Nabi yang mulia, saya senang mendengarkan puisi dan senang juga membacakannya. Sebagai penutup buat pengantar singkat ini, izinkan saya membacakan puisi yang bukan puisi. Saya menggubahnya dari hadis pada Tafsir ad-Durr al-Mantsûr, berkenaan dengan ayat Al-Quran (Qs al-Baqarah, 2:3):
Kurindukan Mereka, ya Rasul Allah
Dini hari di Madinah Al-Munawwarah
Kusaksikan para sahabat berkumpul di masjidmu
Angin sahara membekukan kulitku
Gigiku gemertak
Kakiku berguncang
Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka
Engkau datang, ya Rasul Allah
Kupandang dikau:
Assalamu ‘alayka ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Assalamu ‘alayka ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Kudengar salam bersahut-sahutan
Kau tersenyum, ya Rasul Allah, wajahmu bersinar
Angin sahara berubah hangat
Cahayamu menyelusup seluruh daging dan darahku
Dini hari Madinah berubah menjadi siang yang cerah
Kudengar engkau berkata:
Adakah air pada kalian?
Kutengok cepat gharibah-ku
Para sahabat sibuk memperlihatkan kantong kosong
Tidak ada setetes pun air, ya Rasul Allah
Kusesali diriku
Mengapa tak kucari air sebelum tiba di masjidmu
Duhai bahagianya, jika kubasahi wajah dan tanganmu
Dengan percikan-percikan air dari gharibah-ku
Kudengar suaramu lirih
Bawakan wadah yang basah
Aku ingin meloncat mempersembahkan gharibah-ku
Tapi ratusan sahabat berdesakan mendekatimu
Kau ambil gharibah kosong
Kau celupkan jari-jarimu
Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jarimu
Kami berdecak, berebut, berwudhu dari pancuran sucimu
Betapa sejuk air itu, ya Rasul Allah
Betapa harum air itu, ya Nabi Allah
Betapa lezat air itu, ya Habib Allah
Kulihat Ibnu Mas’ud mereguknya sepuas-puasnya
Qad gamatish shalih
Qad qamatish shalah
Duhai bahagianya shalat di belakangmu
Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu
Melimpah memasuki jantung dan pembuluh darahku
Usai shalat kau pandangi kami
Masih dengan senyum yang sejuk itu
Cahayamu, ya Rasul Allah, tak mungkin kulupakan
Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu
Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu
Kudengar kau berkata lirih:
Ayyul khalqi a’jabu ilaikum îmânan?
Siapa makhluk yang imannya paling mempesona?
Malaikat, ya Rasul Allah
Bagaimana malaikat tak beriman,
bukankah mereka berada di samping Tuhan
Para Nabi, ya Rasul Allah
Bagaimana nabi tak beriman,
bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan
Kami, para sahabatmu
Bagaimana kalian tidak beriman
bukankah aku di tengah-tengah kalian
telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan
Kalau begitu, siapakah mereka ya Rasul Allah?
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening
Kami termangu
Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona?
Kutahan napasku, kuhentikan detak jantungku,
kudengar sabdamu
Yang paling menakjubkan imannya
mereka yang datang sesudahku
beriman kepadaku
padahal tidak pernah melihatku dan berjumpa denganku
Yang paling mempesona imannya
mereka yang tiba setelah aku tiada
yang membenarkanku
tanpa pernah melihatku
Bukankah kami ini saudaramu juga, ya Rasul Allah?
Kalian sahabat-sahabatku
Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku
Mereka beriman pada yang gaib,
mendirikan shalat
menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan
kepada mereka
Kami terpaku
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening
Kudengar lagi engkau berkata:
Alangkah rindunya daku pada mereka
Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka
Suaramu parau, butir-butir air matamu tergenang
Kau rindukan mereka, ya Rasul Allah
Kau dambakan pertemuan dengan mereka
Ya Nabi Allah
Assalamu ‘alayka ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wabarakatuh
Prosa liris atau puisi terlalu panjang atau apa saja ini, saya bacakan pada peringatan Maulud di Yayasan Muthahhari tahun 1415 H. Inilah puisi yang segera saya ingat ketika saudara MIF Baihaqi meminta saya mengantarkan bukunya berisi tuturan-tuturan hikmah hadis berbagai riwayat yang ada dalam terjemahan kitab klasik Durrah an-Nâshihîn, dua jilid, yang dia aransemen- baru mendekati wajah puisi. Para pembaca, saya menangis ketika waktu itu. membacakannya, dan saya menangis lagi ketika saya menuliskan ulang buat Anda. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
Bandung, 8 Desember 1995
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).