TAFSIR AL-INSYIRAH

Surat Al-Insyirah turun berkenaan dengan Rasulullah Saw. Surat ini di turunkan sebagai pernyataan anugerah Allah Swt kepada Nabi. Kata insyirah yang dijadikan nama surat ini berasal dari kata syaraha yang artinya melegakan, meluaskan, atau melapangkan. Dalam bahasa Arab, bila suatu kata ditambahi awalan alif dan nun, kata itu berarti telah menjadi. Insyirah artinya “telah menjadi lega”.

Surat ini disebut surat “Telah menjadi lega” karena di dalamnya Allah menyatakan kepada Rasulullah Saw bahwa Allah melegakan dada Rasulullah sehingga kelegaan atau kelapangan dada itu menjadi salah satu sifat Rasulullah Saw.

Sifat lapang dada adalah sifat yang harus ada pada setiap pemimpin yang akan mengatur umat. Tidak semua nabi menjadi pemimpin negara. Di antara para nabi ada yang hanya menerima perintah Allah melalui wahyu kemudian menyampaikannya. Nabi Isa as, misalnya, menerima wahyu Allah Swt tetapi tidak menjadi pemimpin negara. Ia malah dikejar-kejar untuk dibunuh. Ada juga nabi yang menjadi pemimpin bangsa dan negara yang membebaskan umat dari penindasan. Selain Rasulullah Saw, nabi seperti itu adalah Nabi Musa adalah nabi yang memimpin perjuangan umatnya.

Pemimpin-pemimpin bangsa seperti itu sudah pasti akan menghadapi ejekan, hinaan, dan makian dari orang banyak. Apalagi kalau nabi itu menentang penguasa yang zalim. Karena itu, Nabi Musa as, sebelum memulai dakwahnya, memohon kepada Allah Swt a agar diberi kelapangan dada. Ia berdoa: “Tuhan, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, lepaskan ikatan dari lidahku sehingga mereka memahami pembicaraanku.”(QS Thaha: 25-28). Sebelum memohon agar urusannya dimudahkan dan lidahnya difasihkan, Nabi Musa as bermohon agar Allah Swt melegakan dadanya terlebih dahulu. Kepada Rasulullah Saw, pada awal-awal dakwahnya, Allah Swt, tanpa diminta oleh Rasulullah Saw, telah terlebih dahulu melapangkan dada Nabi. Allah berfirman, “Alam nasyrah laka shadrak. Bukankah telah Aku lapangkan dadamu” (QS Al-Insyirah:1).

Menurut Al-Raghib Al-Isfahani, kata syarah dalam a ayat di atas berarti melebarkan potongan-potongan daging. Bila kata syarah disambung dengan kata shadr, artinya adalah melegakan dada dan mengisinya dengan ketenteraman dan kedamaian dari sisi Allah. Yang dimaksud dengan alam nasyrah laka shadrak adalah dilegakan hati dan ruh Nabi Saw untuk menerima cahaya Ilahi dan untuk memperoleh kesabaran dalam menyampaikan cahaya Ilahi itu secara istiqamah. Melapangkan dada di sini juga berarti menambah kekuatan Nabi dalam memikul risalah dan menjalankannya secara istiqamah dalam berhadapan dengan musuh dan lawannya.

Sifat lapang dada adalah sifat yang harus ada pada siapa saja yang akan menjadi pemimpin. Sepanjang hidupnya, Rasulullah menghadapi banyak hal yang menyakiti hatinya, bukan saja dari musuh-musuhnya, tetapi juga dari sahabat-sahabatnya. Tidak ada yang lebih menyakitkan hatinya kecuali pengkhianatan yang datang dari sahabatnya. Para pengikut Nabi ketika di Madinah sering mengejek Nabi. Ejekan mereka diabaikan di dalam surat At-Taubah ayat 58-66. Kalau cacian, makian, atau ejekan itu datang dari musuh kita, kita dapat memahami. Tapi kalau cacian itu datang dari sahabat kita sendiri, kita akan merasakan sakit yang lebih besar.

Terkadang Nabi merasakan sempit dadanya. Allah Swt berfirman: “Dan kami sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan oleh apa yang mereka ucapkan itu” (QS Al-Hajr: 97). Secara umum, Rasulullah Saw memang lapang dada; tetapi sewaktu-waktu ia merasa sempit dadanya karena ucapan-ucapan musuh dan pengikutnya sendiri. Nabi pun terkadang merasa putus asa ketika menghadapi kaum yang tidak mau beriman.

Selanjutnya, dalam surat Al-Insyirah, Allah berfiman: “Wa wadha’na anka wizrak. Alladzî anqadha zhahrak. Kami melepaskan beban yang menghimpit punggungmu” (QS Al-Insyirah:2-3). Dilihat dari asal katanya, anqadha berarti mengikat dan wizr berarti beban. Dalam ayat ini, Al-Quran mengatakan bahwa Allah seakan-akan mengikat dada yang Swt melepaskan beban Rasulullah Saw sehingga dadanya sempit.

Ada juga yang mengartikan wizr di sini sebagai beban wahyu yang diterima Rasulullah Saw. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa beban yang yang disebut ayat ini berarti perlawanan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Sementara beberapa mufasir lain mengartikan beban dalam ayat ini sebagai kesedihan dan penderitaan Rasulullah Saw karena ditinggalkan oleh pamannya, Abu Thalib as, dan istrinya, Khadijah Al-Kubra as. Ada pula yang menyebutkan yang dimaksud dengan dilepaskan beban dari Nabi itu adalah dipeliharanya Nabi dari segala dosa. Mereka mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan ke-ma’sum-an Nabi Saw.

Contoh lapang dada Rasulullah dapat kita lihat dalam riwayat berikut. Suatu hari, setelah satu pertempuran, Rasulullah Saw membagi-bagikan ghanimah dengan adil. Tetapi, salah seorang berteriak, “Ya Muhammad, berbuat adillah!” Rasulullah hanya menjawab, “Kalau aku tidak berbuat adil, maka siapa lagi yang berbuat adil di dunia ini?” Teriakan itu diucapkan di hadapan Rasulullah tetapi Rasulullah menerimanya dengan lapang dada.

Pada waktu yang lain, Rasulullah Saw sedang berada di tengah-tengah sahabatnya dalam suatu majelis. Tiba-tiba datang seorang Ya Yahudi dan berkata, “Hai Muhammad, bayar utang kamu! Wahai putra Abdul Muthalib, engkau terkenal suka menunggak hutang!” Para sahabat marah. Malahan salah seorang berdiri di hadapan Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah, izinkan aku memukul kuduknya dengan pedang.”Tapi Rasulullah Saw menjawab, “Tidak. Dia mengingatkan aku kepada kewajibanku.” Kemudian Rasulullah membayarnya, bahkan melebihkan pembayarannya. Orang-orang heran dan bertanya, “Mengapa engkau melebihkan pembayarannya?” Rasulullah Saw menjawab,” Karena dia telah mengingatkanku.” Itulah orang yang lapang dada. Sifat itulah yang dimaksud oleh Daniel Goleman dalam buku Emotional Intellegence sebagai kemampuan self regulation. Kemampuan untuk mengendalikan emosi.

Pernah juga Nabi, setelah sekian lama mengurung diri karena kesedihan akibat kematian Abu Thalib dan Khadijah, pergi keluar rumah. Tetangga-tengganya menghamparkan duri di muka Rasulullah. Nabi tidak marah. Ia hanya berkata, “Beginikah engkau bertetangga, hai orang-orang Quraisy?”

Ayat selanjutnya dalam surat Al-Insyirah berbunyi: “Wa rafa’nâ laka dzikrak. Fa inna ma’al ‘usri yusrâ. Inna ma’al usri yusrâ. Fa idzâ faraghta fanshab. Wa ilâ rabbika farghab. Dan kami tinggikan sebutan (nama) mu. Karena sesungguhnya bersama kesempitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesempitan itu ada kemudahan. Apabila engkau sudah selesai, maka lelahkan diri dengan pekerjaan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap.” (QS Al-Insyirah: 4-8). Beberapa ahli tafsir menjelaskan yang dimaksud dengan kata apabila engkau sudah selesai, maka lelahkan dirimu berarti “apabila kita sudah selesai shalat fardu, tunaikanlah shalat sunnah“. Apabila kita melaksanakan kewajiban-kewajiban kita, lakukanlah perbuatan-perbuatan yang sunnah bagi kita sehingga kita terus-menerus melakukan ibadah kepada Allah Swt secara istiqamah. Ayat ini pun berarti “apabila kita telah menyelesaikan suatu pekerjaan, teruskan pekerjaan itu.” Hendaklah kita istiqamah dalam mengerjakan sesuatu. Bila ingin mencapai tujuan, kita harus istiqamah dan meneruskan pekerjaan kita itu.

Dalam Tafsir Al-Amtsal, Syaikh Makarim Shirazi menulis: “Surat Al-Insyirah ini memberikan kepada Rasulullah penjelasan tentang nikmat yang Allah berikan kepadanya di dalam surat Al- Dhuha. Dalam surat Al-Dhuha, Allah berfirman: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang berkekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” (QS Al-Dhuha: 6-8). Surat Al-Dhuha menggambarkan saat-saat yang memberatkan yang dialami Rasulullah. Dalam surat Al-Insyirah, Allah memberikan kelapangan dada kepada Rasulullah untuk menanggung beban berat itu sampai Allah melepaskannya. Itulah inti pertama dari surat Al-Insyirah; sebagai penjelasan dari surat Al-Dhuha.

Inti yang kedua dari surat itu adalah kabar gembira kepada Nabi bahwa segala gangguan yang menghadang dakwahnya itu akan Allah hilangkan. Yang terakhir, melalui surat ini, Rasulullah didorong untuk beribadah kepada Allah terus-menerus, secara istiqamah.

Dalam Mazhab Ahlul Bait, surat Al-Dhuha dan surat Al-Insyirah harus dibaca sekaligus dalam satu rakaat shalat. Karena, di antara kedua surat itu ada kaitan yang teramat erat. Hukum membaca dua surat itu secara sekaligus adalah wajib. Dari kalangan Ahlul Sunnah, ada juga yang berpendapat demikian. Al-Fakhr Al-Razi, misalnya, dalam Tafsir Al-Kabir, mengutip bahwa Thawus dan Umar bin Abdul Aziz membaca dua surat ini dalam satu rakaat bahkan tanpa basmallah di antaranya. Adapun dalam Mahzab Ahlul Bait, basmallah itu wajib dibaca.

Yang menarik, Al-Fakhr Al-Razi pernah mengatakan bahwa surat Al-Dhuha dan Al-Insyirah itu adalah surat yang satu. Tapi, Al-Fakhr Al-Razi sendiri kemudian menolaknya dengan menyatakan bahwa surat Al-Dhuha turun ketika Rasulullah dalam keadaan menderita, diganggu oleh orang-orang kafir; sedangkan surat Al-Insyirah turun ketika Rasulullah Saw dalam keadaan bahagia. Kedua surat itu tidak turun bersamaan. Al-Dhuha turun di Makkah dan Al-Insyirah turun di Madinah. Pandangan Al-Fakhr al Razi ini agak aneh. Para fuqaha menyebut pandangan seperti ini sebagai pandangan yang sadz atau gharib, yang artinya menyimpang dari kebanyakan orang.

Mengenai fadhilah atau keutamaan surat Al-Insyirah ini, Rasulullah Saw pernah bersabda: “Barang siapa yang melazimkan membaca surat Al-Insyirah, ia akan memperoleh pahala sama seperti orang yang berjumpa dengan Rasulullah Saw dalam keadaan berduka cita, kemudian Allah Swt lepaskan dia dari duka citanya itu. “Kalau Anda merasa resah dan gelisah terus-menerus, dawamkan surat Al-Insyirah, dengan catatan: jangan lupa membaca surat Al-Dhuha terlebih dahulu. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *