TAFSIR IHDINASH SHIRATHAL MUSTAQIM

Ihdinash shirathal mustaqim; Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.”(QS Al-Fatihah). Mengapa setelah mendapat petunjuk Al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw dengan menjalankan agama Islam, kita masih juga memohonkan kepada Allah untuk diberi petunjuk? Seorang ulama mutakhir, Syekh Makarim Al-Syirazi, menyatakan bahwa petunjuk Allah itu harus berlangsung secara terus-menerus. Seperti lampu yang terus menyala karena ada aliran listrik, begitu aliran listrik itu berhenti, lampu itu padam. Seperti itu juga hidup kita. Kita harus terus dialiri oleh petunjuk Allah Swt. Begitu Allah Swt Menghentikan alirannya, maka cahaya petunjuk dalam diri kita menjadi padam.

Al-Quran menyebutkan orang seperti itu: “wa tarakahum fi zhulumatilla yubshirun; Allah tinggalkan mereka dalam kegelapan sehingga mereka tidak bisa melihat apa-apa.” (QS Al-Baqarah:17). Ada tingkat tertentu ketika orang sudah tidak bisa lagi menerima petunjuk lewat jalan apa pun. Nasihat dan teguran sudah tidak ia dengar.

Ada dua macam nasihat yang memberikan pelajaran dalam hidup kita. Pertama, Al-masmu,’ yaitu nasihat yang bisa kita dengar. Misalnya, nasihat seorang mubalig kepada pendengarnya, nasihat guru kepada muridnya, atau nasihat orangtua kepada anaknya. Nasihat-nasihat itu menjadi pelajaran karena bisa kita dengar. Kedua, al-masyhud, yaitu nasihat yang tidak kita dengar tetapi dapat kita saksikan. Seluruh pelajaran hidup kita kadangkala bisa menjadi nasihat. Al-Quran memberikan contoh Qabil yang membunuh saudaranya, Habil. Qabil tidak tahu bagaimana harus menguburkan mayat saudaranya itu. Tiba-tiba ia melihat burung yang menggali tanah. Jadi, dia memperoleh pelajaran dari apa yang dia saksikan.

Demikian pula dalam cerita Dzunnun Al-Misri. Suatu saat, ketika sedang bepergian, dia melihat kalajengking merayap ke pinggir sungai Nil dengan cepat. Dzunnun Al-Misri mengikuti karena ingin tahu. Ia ingin mendapat pelajaran dari apa yang ia lihat, bukan dari apa yang ia dengar. Ketika kalajengking itu mendekati tepian sungai Nil, tiba-tiba dari dalam sungai muncul seekor katak. Kalajengking langsung menaiki punggung katak itu. Kemudian katak mengantarkannya ke seberang sungai. Melihat itu, Dzunnun Al-Misri mengambil perahu dan mengejarnya. Sampai di seberang sungai, Kalajengking itu masih juga berjalan. Pada satu tempat di tepian sungai Nil, ada seorang anak muda sedang tertidur lelap. Tiba-tiba, dari arah yang berlawanan, datang seekor ular berbisa mau mematuk anak muda. Belum sampai ular itu pada si pemuda, kalajengking itu menyergapnya. Terjadilah perkelahian antara kedua binatang itu dan berakhir dengan kekalahan ular. Ular itu mati dijepit kalajengking. Setelah itu kalajengking kembali lagi ke tepian sungai Nil. Muncul lagi katak itu untuk menyebrangkannya ke tempat semula.

Ada yang dapat diperoleh dari pelajaran itu? Dzunnun Al-Misri menyimpulkan, betapa sering Allah melindungi kita tanpa kita ketahui. Begitu sayangnya Tuhan kepada kita, sampai ketika kita tidur dan tidak berdaya menghadapi bahaya, Tuhan masih melindungi kita. Anak muda yang ditemukan Dzunnun Al-Misri itu bukan seorang waliyullah. Walaupun ia hanya manusia biasa, tetapi Tuhan tetap menjaganya.

Karena itu, dalam doa Kumail terdapat doa yang berbunyi: “Tuhanku, kalau aku mengingat bahwa engkau sudah memulai kehidupanku ini dengan berbuat baik kepadaku, dengan mengurus aku.” Kita meminta sebagai mana Allah telah melindungi kita sejak awal kehidupan, kita pun ingin dilindungi pada hari-hari kehidupan kita. “Maka barang siapa yang bermaksud buruk kepadaku, Tuhan, tolaklah dia. Dan kalau ada reka perdaya orang untuk mencelakaiku, maka reka perdayakan juga dia dengan kekuasaan-Mu.”

Dzunnun Al-Misri memperoleh sebuah pelajaran, bukan dari nasihat mubalig tetapi dari apa yang dia saksikan di alam semesta ini. Setiap saat alam semesta memberi kesaksian kepada kita. Kadang-kadang Al-Quran menuntut kita untuk belajar dari alam semesta ini.

Dalam cerita silat Cina terdapat banyak jurus yang diambil bukan dari ajaran pendeta Shaolin, tetapi diambil melalui pengamatan terhadap alam semesta. Misalnya, jurus bangau, jurus pusaran angin, dan jurus-jurus lainnya.

Ada orang-orang tertentu yang kabel penghubungnya sudah putus dengan cahaya Ilahi. Allah tinggalkan mereka dalam kegelapan sehingga mereka tidak bisa melihat. Kalau itu sudah terjadi, akalnya menjadi tumpul. Apa pun yang terjadi dan di sekitarnya dan masyhud, tidak akan menjadi pelajaran baginya. Apalagi hal-hal masmu’ yang ia dengar.

Emha Ainun Nadjib bercerita tentang orang seperti itu. Namanya Gusti Pangeran Haryo. Ia sudah tidak bisa mendengar nasihat dari orang-orang terdekatnya, apalagi orang yang jauh berteriak darinya. Bahkan nasihat dari seluruh bangsa ini yang terik setiap hari, sudah tidak didengarnya. Saya tidak tahu siapa sebenarnya orang itu.

Ada pula orang yang disebut dengan bahasa Jawa sasmita, orang yang sudah tahu sebelum diberi tahu. Itu adalah tingkatan orang yang aliran petunjuknya sangat besar, yang tegangannya tinggi, sehingga cahayanya bersinar terang. Meskipun nasihatnya belum datang, mereka sudah memperoleh pelajaran. Lawan dari sasmita adalah orang yang disebutkan di atas, yaitu orang yang sudah diberi tahu berkali-kali namun tetap saja tidak mau tahu. “Sawaun ‘alaihim a’andzartahum am lam tun dzirhum la yu’minun. Kamu beritahu dia atau kamu tidak beritahu dia, tetap saja dia tidak percaya.” (QS Al-Baqarah: 6). Sesungguhnya orang seperti itu hidup dalam sebuah pulau yang terpencil dan terisolasi dari kejadian di dunia ini. Padahal banyak yang dapat diambil pelajaran dari bencana demi bencana yang terjadi di negara ini. Mulai dari kebakaran hutan sampai krisis ekonomi. Kalau kita sudah tidak bisa mengambil pelajaran, baik dari apa yang kita dengar maupun dari apa yang kita saksikan, berarti kita sudah terputus dari petunjuk Allah Swt. Karena itu, kita ucapkan,”Ihdinash shirathal mustaqim, Ya Allah tunjukanlah kami ke jalan yang lurus.”

Dalam Islam, kita harus selalu memohon tambahan petujuk itu. Kita tidak boleh merasa sudah benar-benar berada dalam petunjuk sehingga tidak memerlukan lagi. Dalam surat Maryam ayat 76, Allah berfirman, “Allah tambah orang-orang yang mendapat petunjuk itu dengan petunjuk lagi.” Bila kita sudah mendapat petunjuk dari Allah, maka Allah akan berikan lagi tambahan petunjuk itu seperti disebutkan dalam surat Muhammad ayat 17, “Orang-orang yang sudah memperoleh petunjuknya. Dan Allah berikan kepada mereka ketakwaannya.”

Dalam tasawuf, kita mengetahui bahwa perjalanan mendekati Allah Swt sebetulnya adalah perjalanan menuju hati kita yang paling dalam. Kita mempunyai beberapa tingkat hati, dari yang luar sampai yang paling dalam. Tingkat yang paling luar kita sebut shadr, artinya hati yang sedih kalau mendapat kerusuhan, cemas memikirkan kesulitan, atau senang mendapat kegembiraan. Salah satu nikmat Allah yang pertama kepada Rasulullah Saw ialah Allah bukakan dada Rasulullah Saw sehingga tidak mengalami kesempitan hati seperti itu lagi. Allah berfirman, “Bukankah Kami legakan dadamu, Kami tinggikan sebutan namamu, dan Kami lepaskan dari kamu beban yang menghimpit kamu, yang memberati punggung kamu.” (QS Al-Insyirah: 1-4)

Zikir sir yang paling awal itu ialah jika shadr kita sudah bisa berzikir. Shadr kita lebih dekat hubungannya dengan otak, metabolisme fisik, dan mekanisme hormonal kita.

Tingkat yang lebih dalam disebut qalb. Lebih awal lagi disebut fu’ad. Tingkat hati yang paling dalam lub. Orang yang perjalanannya hampir ke hati yang paling bawah disebut ulul albab. Itu adalah tingkat yang paling luar biasa, karena kalau perjalanan sudah sampai pada hati yang paling dalam, kita akan menemukan sirul asrar, rahasia dari segala rahasia. Sebenarnya perjalanan kita mendekati Tuhan ialah untuk menyerap cahaya Allah Swt. Kalau kita sudah sampai pada lub, Tuhan akan menarik kita lebih dalam dengan bantuan-Nya.

Imam Al-Ghazali menyatakan hal ini ketika menjelaskan tentang misykat cahaya. Ia menulis, “Perumpamaan cahaya Allah itu seperti misykat, lampu yang di simpan di sebuah relung.” Hati -hati kita yang paling dalam itu bercahaya. Kalau hati itu kita bersihkan, cahaya akan keluar dan cahaya itu disambut cahaya Tuhan dari langit. Bertambah cahaya itu di atas cahaya, nurun ‘ala-nur.

Jadi, ketika kita berkata, “ihdinash shirathal mustaqim”, sebetulnya kita berkata, “Tuhan, berikanlah petunjuk kepadaku dan tambahlah petunjuk itu.”

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, setelah menjelaskan tentang Ihdinash Shirathal mustaqim, berdoa begini: “Ya Allah, bimbinglah kami untuk selalu menjalani jalan yang membawa kami pada kecintaan-Mu, yang menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan yang mencegah kami mengikuti hawa nafsu kami sehingga kami celaka atau kami berpegang teguh kepada pendapat kami sehingga binasa.”

Itulah makna Ihdinash shirathal mustaqim. Lalu apa yang dimaksud dengan shirath al-mustaqim atau jalan yang lurus itu?

Dalam surat Yasin kita dapatkan bahwa yang dimaksud dengan shirathal mustaqim adalah meninggalkan pengabdian kepada setan dan mengkhususkan diri dalam hidup ini hanya beribadah kepada Allah Swt: “Bukankah aku sudah berjanji kepadamu,hai Bani Adam, janganlah kamu mengabdi kepada setan. Dia ini musuh kamu yang jelas. Beribadahlah kepada-Ku saja. Inilah jalan-ku yang lurus.” (QS

Yasin: 60-61)

Setan selalu membisikkan kepada kita ketakutan akan kemiskinan: “Asysyaithan ya’idukumul faqra” (QS Al-Baqarah: 268). Kita hanya berpikir ingin menjadi kaya saja. Itulah yang terjadi pada Umar bin Sa’ad, anak dari Sa’ad bin Waqas, salah seorang sahabat Nabi yang terkenal. Umar bin Sa’ad memimpin penyerangan kepada Imam Husein as hanya karena ia ditawari untuk menjadi gubernur di kota Rei. Karena takut kehilangan jabatan itu, dia melakukan pertentangan terhadap Imam Husein as.

Shirathal mustaqim adalah jalan yang ditempuh oleh orang- orang yang hanya mengabdi kepada Swt. Ia mengabdi kepada kepentingan hawa nafsu dan jabatan. Dalam hidup, kita akan selalu dihadapkan pada dua pilihan: mengabdi setan atau mengabdi Allah. Untuk anak-anak muda, pacaran dihadapkan pada dua pilihan: pilihan pertama, Mengikuti bujukan setan. “Masa pacaran sedingin ini?” Pada sisi yang lain hati nuraninya berkata bahwa dia harus memelihara kesucian dirinya. Jadi, dia harus memilih: mengabdi setan atau mengabdi Allah Swt. Karena itu berulang kali kita diingatkan firman Allah dalam surat Yasin ayat 60-61. Ada orang yang menjadikan ayat ini menjadi wirid, dia tidak tercengkeram oleh setan dan agar tetap lurus supaya pada shirathal mustaqim.

Di Ujung Pandang terdapat Tarekat Khalwatiyah, yang dulu diikuti oleh Syaikh Yusuf, seorang sufi besar. Saya mengetahui kebesarannya setelah membaca bukunya Zubdah Al-Asrâr, inti dari segala rahasia. Ketika bercerita tentang wahdatul wujud, dengan uraian yang sangat indah, ia kisahkan Dzunnun Al-Mishri: Suatu hari Dzunnun ditanya seseorang, “Min aina? Dari mana kamu?” Dia menjawab, “Hu, dia.” Masih ditanya lagi, “Man anta? Siapa Anda?” Dzunnun juga menjawab,” Hu.” Pokoknya selalu dijawab dengan “hu“.

Cerita ini sebetulnya mempunyai makna cerita yang sangat dalam. Tampaknya, dalam aliran khalwatiyah, orang dibimbing untuk mendekati Allah Swt sampai ke tingkat fana, ketika seluruhnya dirinya hilang dan yang ada hanyalah huwa (Dia). Yang menarik dari aliran terekat ini adalah menjadikan ayat-ayat tertentu dari surat Yasin sebagai wirid. Mereka menzikirkannya sebanyak nomor ayat itu dalam Al-Quran. Misalnya, surat Yasin ayat 27 (Bimâ ghafara li rabbî wa ja’alanî minal mukramîn), mereka baca setiap hari 27 kali sebagai salah satu wirid.

Shirathal mustaqim juga merupakan jalan Nabi Ibrahim as. Ketika ditanya Allah Swt, “Mau kemana, hai Ibrahim?”, Ibrahim menjawab, “Aku berjalan menuju Tuhanku. Tentu la akan memberi petunjuk kepadaku. “Shirâthal mustaqim adalah agama Nabi Ibrahim as.

Dalam surat Ali-Imran ayat 101, shirâthal mustaqim berarti berpegang teguh hanya kepada Allah: “Barang siapa yang berpegang kepada Allah, dia diberi petunjuk kepada jalan Allah, dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Jadi, menurut Al-Quran, shirâthal mustaqîm, secara singkat, adalah mengikuti petunjuk Allah Swt yang dibawa oleh para nabi sepanjang sejarah atau mengikuti para pimpinan yang mengikuti khittah para nabi. Karena itu, kita menemukan dalam hadis-hadis bahwa yang dimaksud dengan shirâthal mustaqîm itu adalah jalan Islam. Karena “Innaddîna ‘indahllâhil Islâm. Sesungguhnya agama di sisi Allah itu Islam.”(QS Ali-Imran: 19).

Sebagian orang menyebutkan bahwa shirâthal mustaqîm adalah Al-Quran. Pendapat ini juga betul, karena Al-Quran adalah petunjuk dari Allah Swt. “Dzâlikal kitâbu lâ raiba fîhi hudal lil muttaqîn. Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 2).

Dalam salah satu hadis disebutkan bahwa shirâthal mustaqîm adalah jalan para nabi dan para imam yang suci dari keluarga Rasulullah Saw. Hadis itu meriwayatkan Imam Ja’far Al-Shadiq as yang ditanya tentang arti shirâthal mustaqîm. Beliau menjawab, “Yang dimaksud dengan jalan yang lurus itu adalah mengenal siapa imam kamu.” Penting bagi kita untuk mengenal siapa imam supaya kita berada di jalan lurus. Karena para imam itu yang menjalankan petunjuk Allah Swt dengan setia tanpa menyimpang sedikit pun. Imam Ja’far as berkata, “Demi Allah, kami ini, para imam, adalah shirâthal mustaqîm. Jalan yang lurus adalah jalannya Amirul Mukminin as.” Mengapa jalan Sayyidina as disebut jalan yang lurus? Karena, Sayyidina Ali patuh mengikuti jalan Rasulullah Saw. Tak ada bedanya jalan Imam Ali as dengan jalan Rasulullah Saw. Sampai Rasulullah menyebut Imam Ali sebagai Nafsur Rasul, sama dengan diri Rasulullah. Diri Rasulullah adallah diri Ali bin Abi Thalib; begitu pula sebaliknya.

George Jordac, ketika melukiskan hari-hari terakhir Imam Ali as dalam The Voice of Human Justice, menggambarkan Imam Ali as sebagai sosok yang air matanya mudah mengalir karena mendengar penderitaan orang-orang miskin dan teraniaya, yang amarahnya menggelegak kalau ada penguasa yang melakukan penindasan. Sayyidina Ali kw adalah yang matanya sukar terpejam di malam hari karena mendengar rintihan rakyat kecil yang terpuruk dalam sistem yang zalim. Itulah jalan Imam Ali as. Dan itu juga jalan Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw pernah menepuk Ali dan berkata, “Wahai Ali, Tuhan telah menghias akhlakmu dengan kecintaan yang tulus kepada orang-orang miskin dan teraniaya. Kelompok yang tertindas itu senang menjadikan engkau sebagai pemimpin mereka dan engkau senang melihat mereka menjadi pengikutmu.”

Jadi, salah satu “agama” Sayyidina Ali adalah kecintaan kepada fakir miskin, pembelaan kepada orang-orang yang tertindas, dan kebanggaan kalau pengikutnya kebanyakan berasal dari orang- orang kecil. Jalan Sayyidina Ali juga jalan yang lurus, jalan Rasulullah yang mengkhususkan pengabdian dalam hidup ini hanya kepada Allah Swt: “Wa ani’budûnî; hâdzâ shirâtum mustaqîm. lurus.” Dan hendaklah kamu menyembahku. Inilah jalan yang (QS Yasin: 61). JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *