Warisan intelektual

untuk perkhidmatan

dan pencerahan pemikiran

0
Quotes
0
Articles
0
Videos
0
Audios

Jalan Rahmat

Misi Kami

Di Jalan Rahmat, kami berusaha menghadirkan kembara intelektual itu. Perjalanan dan pengelanaan beliau mengarungi ‘jagat’ semesta itu. Ada dokumentasi karya beliau. Puluhan buku, ratusan artikel, ribuan ceramah. Ada rekaman audio dan video. Ada pula karya-karya para guru bangsa, baik sahabat karib Allah yarham, para intelektual sezaman, maupun karya-karya para ulama besar yang mempengaruhi jagat kembara intelektual beliau. Jalan Rahmat adalah sebuah digital library yang ingin menghadirkan kembali semangat intelektual itu.

Jalaludin Rakhmat - Tauziah
Digilib

Donasi dan Beasiswa

Donasi dan Beasiswa untuk sekolah, madrasah, klinik, dan ragam kegiatan lainnya.

tauziyah

Digital Library

Kumpulan Ceramah, Artikel, Buku, Video dari para Guru Bangsa.

healthcare

Jalan Kecintaan

Warisan terutama dan teramat berharga dari Allah yarham adalah mengantarkan kami dan kita semua pada jalan menuju kerinduan dan kecintaan Sang Rahmatan lil ‘alamin. Itulah makna Jalan Rahmat yang sesungguhnya.

Latest Post

BELAJAR CERDASJune 24, 2024Ya AllahSehatkan tubuhkuCerdaskan otakkuBersihkan hatikuIndahkan akhlakkuSeorang murid SMA Plus Muthahhari membaca doa itu di depan, dan murid-murid lainnya mengikutinya. Kami menyebut doa ini sebagai “doa kebangsaan” sekolah kami. Saya sering terharu mendengarkannya. Doa itu sederhana, singkat, dan menyentuh. Apa lagi yang kita inginkan dari anak anak kita, dari anak-anak panah yang dilepaskan ke masa depan kita?Kita ingin mereka bertubuh sehat, berotak cerdas, berhati bersih, berakhlak indah. Agar tubuhnya sehat, kita berkonsultasi dengan dokter. Agar hatinya bersih dan akhlaknya indah, kita bertanya kepada para ulama atau tokoh agama. Agar otaknya cerdas, kita berbicara dengan para guru. Sayang sekali, bila dokter mengerti betul tentang tubuh manusia, ulama paham sekali urusan hati, guru sama sekali tidak mengerti otak. Selama ini, otak—organ yang berpikir, merasa, dan belajar—tidak pernah dipertimbangkan oleh para pendidik, kecuali ketika mereka menghardik muridnya dengan kata-kata “otak udang” atau “otak miring”.Sudah berpuluh tahun saya terlibat praktis dalam dunia pendidikan. Saya mengikuti kuliah ilmu mendidik hanya satu tahun saja. Tetapi kegiatan saya dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa” berlangsung sejak saya murid sekolah menengah. Saya mengajar anak-anak miskin di sebuah kampung yang kumuh. Kemudian, setelah selesai Pendidikan Guru SLP, saya mengajar di SMP-SMP dan SMA-SMA swasta di Bandung. Begitu lulus dari Fakultas Ilmu Komunikasi, saya langsung ditunjuk untuk mengajar Bahasa Inggris di almamater saya.Apa modal utama saya dalam mengajar? Mungkin 25 persen berasal dari ilmu pendidikan yang saya peroleh; dan 75 persen hanyalah trial and error. Ketika saya mendirikan SMA Plus Muthahhari, saya tertantang untuk melahirkan sekolah yang lain dari yang lain. Kecenderungan memberontak, yang mungkin saya warisi dari orangtua saya, mendorong saya untuk melakukan beberapa eksperimen pendidikan. Misalnya, saya beranggapan bahwa anak-anak kita memikul beban mata pelajaran terlalu banyak. Karena itu, saya mengurangi pertemuan di kelas untuk pelajaran-pelajaran tertentu. Sebagai penggantinya, saya memberikan kepada mereka modulmodul yang bisa mereka kerjakan tanpa pertemuan kelas. Saya adakan juga test-out bagi anak-anak yang sudah menguasai pelajaran pada periode tertentu, sehingga—jika lulus—mereka bisa melanjutkan pada kurikulum lebih tinggi. Saya mencoba juga untuk tidak merujuk pada kurikulum departemen pendidikan. Yang saya rujuk hanyalah standar kompetensinya saja. Secara kebetulan, departemen pendidikan—melalui para ahli pendidikan—sampai juga pada konsep kurikulum berbasis kompetensi.Pada saat yang sama, saya tertarik dengan Quantum Learning-nya Bobby DePorter. Secara singkat, Quantum Learning mengajarkan bahwa murid belajar lebih cepat jika belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saya masukkan “learning is fun” sebagai bagian dari wawasan almamater Muthahhari. Supaya murid menyenangi proses pembelajaran, para guru harus mempraktikkan zikir malaikat pemikul arasy, “Subhaana man azharal jamiil wa sataral qabiih. Mahasuci Dia yang menampakkan yang indahindah dan menyembunyikan yang buruk.” Mereka tidak boleh menjatuhkan harga diri murid kalau mereka belum berhasil dalam belajarnya. Tetapi begitu mereka berhasil, guru harus memberikan apresiasi yang tulus, kalau perlu merayakannya. Berikut ini adalah butir keempat dan kelima dari wawasan almamater Muthahhari:4. Belajar yang efektif hanya terjadi dalam suasana yang menyenangkan dan dengan kegiatan yang mengaktifkan semua kecerdasan. 5. Setiap orang harus berusaha menghargai kebaikan orang lain dan menutupi keburukannya.“Belajar yang efektif … dalam suasana yang menyenangkan” membawa saya pada konsep Accelerated Learning. Dari literatur yang saya peroleh, saya menyimpulkan lima prinsip akselerasi dalam akronim METIK: Modalitas belajar, peranan Emosi, penggunaan pengaruh-pengaruh Tak sadar, pengenalan dan pengembangan Inteligensi majemuk, dan pelibatan sekaligus kedua belahan otak Kanan dan kiri. Semuanya itu akhirnya saya temukan berujung pada pemahaman otak. Dan otak ternyata tidak pernah muncul dalam mata kuliah ilmu pendidikan. Para pendidik, seperti saya, hampir tidak memiliki informasi mutakhir dari penelitian-penelitian otak. Otak memang bukan bidang pendidikan. Otak dipelajari di sebuah sudut kecil fakultas kedokteran—neurologi.Maka mulailah saya melangkahkan kaki untuk menengok sudut yang ternyata sudah melebar sampai “menginvasi” disiplin-disiplin lainnya. Ketika Santiago Ramon y Cajal, “maestro”-nya studi miksroskopik otak, berkata, “As long as the brain is a mystery, the universe, the reflection of the structure of the brain, will also be a mystery,” sudut kecil itu sudah menjadi alam semesta. Misteri otak mencerminkan misteri alam semesta. Misteri alam semesta pasti membawa kita untuk merenungkan misteri Tuhan. Maka neurologi yang dimulai dari neurokimia dan neurobiologi sekarang sudah mulai memasuki neurotheology.Ketika dua tahun yang lalu saya menulis buku Psikologi Agama, saya dikejutkan dengan penemuan-penemuan menakjubkan. Banyak pengalaman ruhaniah— yang diklaim orang sebagai bukti kedekatan dengan Tuhan— ternyata disebabkan oleh aktivitas otak pada lobus temporal. Pengalaman ruhaniah yang dialami orang suci—secara neurologis—hampir sulit dibedakan dari pengalaman orang gila. Dalam pemburuan saya pada penelitian-penelitian otak, temuan saya yang pertama ialah kenyataan bahwa otak saya sudah “miring”. Maka, supaya saya tidak terlalu miring, saya memfokuskan studi saya hanya pada otak yang belajar. Saya berharap saya mempelajari ilmu yang langsung dapat saya amalkan dalam kegiatan pendidikan saya, paling tidak di sekolah yang saya dirikan. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unībAllâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum***KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Bertanya Sebagai Media Mencari IlmuJune 23, 2024Ada suatu hadits yang saya ambil dari kitab Kanzul ‘Ummal, yaitu nomor 23.662. Seperti anda ketahui, ada berbagai macam susunan hadits. Ada hadits yang disusun berdasarkan bab atau berdasarkan topik yang biasanya disebut dengan al-jami’, misalnya Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan sebagainya. Ada juga hadits yang disusun oleh ahli hadits berdasarkan rawi’nya. Kitab hadits seperti itu disebut dengan musnad, misalnya Musnad Ahmad, yang disusun oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Ada juga hadits yang disusun dengan mengurutkan dari huruf alif sampai ya’ berdasarkan awal hadits itu. Misalnya. Al-Jami’ Al- Shaghir yang disusun oleh Jalaluddin Al-Suyuthi. Jadi, kalau Anda ingin mencari hadits tentang ilmu, maka carilah pada huruf ‘ain, dan sebagainya. Oleh Al-Muttaqi Al-Hindi (orang India), hadits dari kitab Al-Jami’ Al-Shaghir itu disusun kembali berdasarkan topik dan tidak berdasarkan urutan huruf. Kitab itu kemudian ia kumpulkan menjadi beberapa jilid tebal-tebal, dan ia beri nama kitab Kanzul’Ummal atau Perbendaharaan Orang-Orang yang Beramal. Hadits-hadits dalam kitabnya itu, Kanzul ‘Ummal, diberi nomor sampai puluhan ribu. Hadits yang segera kita bicarakan di sini diambil dari kitab Kanzul ‘Ummal, akan tetapi Anda juga dapat memeriksanya dalam kitab Al-Jami’ Al-Shaghir, pada huruf ‘ain. Rasulullah Saw. yang mulia bersabda, “Ilmu itu seperti perbendaharaan yang sangat berharga. Kuncinya adalah bertanya. Bertanyalah kalian, mudah-mudahan Allah merahmati kalian; karena dalam bertanya itu, ada empat kategori orang yang diberi pahala. Orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengarnya, dan orang yang menggemari mereka.” Anda bayangkan, Rasulullah Saw. waktu itu berkata kepada para sahabatnya bahwa beliau ingin menjelaskan ilmu-ilmu agama dengan menyuruh mereka bertanya. Hadits ini juga menegaskan pahala proses pencarian ilmu pengetahuan. Ilmu itu dimulai dengan bertanya. Malahan orang sering menyamakan dan membedakan antara filsafat dengan ilmu (sains). Persamaannya, kedua-duanya dimulai dengan bertanya, sedangkan perbedaannya ialah bahwa sains dimulai dengan pertanyaan dan diakhiri dengan pertanyaan. Sedangkan filsafat dimulai dengan pertanyaan dan diakhiri dengan pertanyaan yang lebih besar. Ada sebuah buku yang menjelaskan bagaimana cara membaca buku yang baik supaya memperoleh pengetahuan dari buku itu. Langkah pertama, lihatlah daftar isi buku itu sehingga Anda mendapat gambaran tentang buku itu. Kedua, mulailah Anda bertanya dengan memerhatikan bab per bab, karena dengan bertanya Anda berkonsentrasi pada isi buku itu, dan segera tertarik untuk memperoleh jawaban. Ketiga, Anda membacanya dengan tujuan menjawab pertanyaan itu. Terakhir, melihat kembali catatan yang Anda baca. Orang yang pintar biasanya selalu mempertanyakan sesuatu, dan orang yang bodoh itu selalu menerima. Anak kecil itu sebetulnya memiliki kecenderungan untuk bertanya, dan sering-kali pertanyaannya sangat bebas. Kalau sudah besar, kita mulai berpikir apakah ada yang harus kita tanyakan atau tidak, tetapi anak kecil tidak berpikiran seperti itu. Tidak jarang, orangtua membentak anak kecil itu. Padahal, dengan bertanya, perben-daharaan ilmu pengetahuan akan terbuka bagi mereka. Bahkan, ada peneliti yang mengatakan bahwa seandainya jiwa bertanya anak kecil itu bisa dipertahankan sampai dewasa, hampir dapat dipastikan bahwa semua orang akan menjadi ilmuwan. Oleh karena itu, kita memahami mengapa Nabi yang mulia menganjurkan kita untuk bertanya, dan mudah-mudahkan Allah akan menurunkan rahmat-Nya. Bertanya adalah kunci pembuka perbendaharaan ilmu pengetahuan. Ada baiknya juga kalau kita mendidik anak-anak dengan sistem bertanya. Kalau saya ingin mengajarkan anak saya dalam pengajian kecil di rumah, saya mulai dengan bertanya. Ketika ingin menjelaskan kata fasiq dan Mukmin yang terdapat dalam Al-Quran, misalnya, saya mulai dengan pertanyaan. Mereka akan menjawab sesuai dengan pengetahuan mereka. Jadi, sebetulnya cara mengajar yang paling baik ialah mengajar yang dimulai dengan pertanyaan. Sang guru membawa suatu benda, kemudian bertanya kepada anak-anaknya, “Tahukah kalian, benda apakah ini?” Kemudian anak- anak mendiskusikan benda itu, sampai mereka menemukan sendiri apa hakikat benda itu. Itulah metode paling baik, yang juga pernah ditatarkan kepada guru-guru di sekolah. Pada waktu itu, saya sebagai seorang guru pernah mendapatkan penataran itu. Akan tetapi setelah itu, para guru kembali lagi kepada metode mengajar yang lama. Mengapa hal itu bisa terjadi? Mungkin kita ini belum sampai kepada tahap sebagai bangsa yang selalu bertanya. Kita adalah bangsa yang tukang menjawab. Dalam parlemen, ada hak yang disebut sebagai “hak bertanya”, akan tetapi hak itu hampir tidak pernah dipakai dalam parlemen. Dahulu, para filsuf sering mengajarkan filsafat dengan proses tanya jawab. Sampai sekarang pun filsuf sering mengambil metode Socrates, untuk mengajarkan filsafat dengan metode tanya jawab. Al-Quran pun seringkali memulai ayat-ayatnya dengan suatu pertanyaan. Misalnya, “Tahukan kamu orang-orang yang mendustakan agama?” (QS. Al-Ma’un : 1). “Bertanya seorang penanya tentang azab yang akan tiba,” (QS. Al-Ma’arij : 1). Dalam bahasa Arab, bertanya itu disebut dengan istifham, yang berarti mencari pemahaman. Memang, itulah tujuan bertanya yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Proses riset atau penelitian adalah proses bertanya yang lebih terdisiplin. Akan tetapi, proses bertanya kita sering tidak terdisiplin untuk menjawab pertanyaan itu. Misalnya, kalau kita bertanya, “Apakah bagus kalau membeli baju di pinggir jalan?” Lalu kita mencoba membeli baju satu atau dua kali di pinggir jalan. Hasilnya semuanya jelek. Lalu kita mengambil kesimpulan bahwa tidak bagus membeli baju di pinggir jalan. Menurut prinsip riset, kesimpulan itu tidak benar, karena hal itu menjawab pertanyaan yang tidak terdisiplin. Kalau kita perhatikan hadits Rasulullah Saw. ini, kita dapat mengetahui bahwa beliau sangat menghargai usaha-usaha riset. Orang-orang yang terlibat dalam riset itu pun semuanya mendapatkan pahala. Kalau kita mencermati hadits ini, seharusnya negara-negara Islam adalah negara yang dipenuhi dengan lembaga riset karena semua orang terlibat di dalamnya. Orang yang mencintai riset mendapatkan pahala, dan orang yang mendengar laporan riset mendapat pahala. Yang menarik perhatian, kata Ziauddin Sardar, bahwa perkembangan riset yang paling terbelakang berada di negara-negara Islam. Riset itu tidak harus pergi ke lapangan. Riset bisa dilakukan pada sebuah buku. Misalnya, memelajari tarikh secara mendalam. Tentunya, kita harus mempertanyakan apa yang ada di dalam tarikh itu, kemudian kita melakukan studi mendalam atau yang dinamakan studi kritis. Masalahnya, hal ini pun tidak banyak disenangi orang. Padahal, setiap kali kita menemui tokoh dalam tarikh, kita akan menemukan hal-hal baru yang bisa dipertanyakan. Menurut ajaran Rasulullah Saw., orang yang selalu bertanya harus dihargai, harus kita bantu; atau kalau tidak, kita menjadi penggemarnya. Saya ingin mengulangi hadits tersebut. “Ilmu itu bagaikan peti perbendaharaan yang sangat berharga dan kuncinya adalah bertanya. Banyaklah kamu bertanya semoga Allah merahmati kamu. Dalam bertanya ada empat orang yang akan diberi pahala, yaitu yang bertanya, yang mengajar, yang mendengarkan, dan yang menggemarinya.” Karena bertanya itu diperintahkan, Islam pun mengatur beberapa cara bertanya. Pertama, kita disuruh bertanya yang baik. Rasulullah Saw. bersabda, “Pertanyaan yang baik itu sudah setengahnya dari ilmu pengetahuan.” Bahkan, orang Barat mengatakan bahwa bertanya yang baik sudah merupakan setengah jawaban. Karena itu, rumuskanlah pertanyaan itu dengan kalimat-kalimat yang jelas. Kedua, jangan bertanya sesuatu untuk mengganggu. Saya akan menunjukkan ucapan Imam Ali kepada seseorang yang bertanya kepadanya. Suatu saat, beliau berkata dalam khutbahnya, “Bertanyalah kalian kepadaku. Demi Allah, tidaklah kamu bertanya tentang sesuatu sarnpai hari Kiamat kecuali akan aku berikan jawabannya kepada kamu.” Lalu Ibn Al-Kawa’ bertanya, “Ya Amirul Mukminin, apa adz-dzariyatu dzarwa?” Imam Ali menjawab, “Celaka kamu, bertanyalah untuk memahami dan janganlah kamu bertanya untuk mengganggu.” Sebenarnya, orang bodoh yang selalu bertanya dan mau belajar sama nilainya dengan orang yang berilmu. Sebaliknya, orang berilmu yang sembrono dalam menjawab pertanyaan, sama kualitasnya dengan orang bodoh yang mengganggu dalam pertanyaan itu. Kita sering bertanya dalam suatu majelis bukan untuk memahami, akan tetapi untuk mengetes mubaligh; atau kadang-kadang untuk memojokkan, dan kalau bisa mubaligh itu ditangkap polisi karena pertanyaan kita. Pertanyaan seperti itu, kata Imam Ali, bukanlah pertanyaan untuk mengetahui, tetapi pertanyaan untuk mengganggu. Kasus Bani Israil misalnya, ketika disuruh menyembelih sapi, mereka bertanya dengan pertanyaan yang banyak, sehingga persyaratan sapi yang harus disembelih menjadi semakin sulit. Padahal, kalau Bani Israil itu tidak terlalu banyak bertanya, tentunya mereka akan lebih mudah mencari sapi itu. Dengan kata lain, aturan yang ketiga itu, jangan menanyakan sesuatu yang akibatnya akan menyulitkan kita. Dalam agama, ada beberapa hal yang tidak dijelaskan, bukan berarti lupa. Akan tetapi, agar kita bebas melakukan hal tersebut. Dalam ushul fiqih, hal itu disebut al-bara’ah al-ashliyyah. Rasulullah Saw. bersabda, “Tinggalkanlah aku dengan apa yang aku tinggalkan kepada kamu, karena binasanya orang yang sebelum kamu karena banyaknya mereka bertanya dan ikhtilaf kepada Nabi mereka. Apabila aku perintahkan kepada kamu sesuatu, lakukanlah semampu kamu dan jika aku larang melakukan sesuatu, tinggalkanlah itu.” Akhirnya, marilah kita ingat kembali pesan hadits di awal, yaitu bahwa ilmu itu adalah peti perbendaharaan yang berharga dan kunci pembukanya adalah bertanya. Maka, bertanyalah, mudah-mudahan Allah merahmati kita dengan pertanyaan tersebut. Bukankah dalam bertanya itu akan ada empat orang yang diberi pahala, yaitu orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengar dan orang yang menggemarinya? JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
MENAATI ORANG BERAKAL DAN MEMBANTAH ORANG BODOHJune 22, 2024Athi’il ‘aqila taghnam, wa i’shil jahila taslam. Taatilah orang yang berakal (‘aqil), kamu akan beruntung; dan bantahlah orang yang jahil, kamu akan selamat. Rangkaian kalimat di atas merupakan hikmah yang dipetik dari ucapan Sayidina Ali bin Abi Thalib k.w. Orang yang berakal artinya orang yang pintar, orang yang arif, orang yang bijak dan orang yang menggunakan akalnya. Bukan ‘aqil dalam pengertian fiqih. Dalam ilmu fiqih, yang dimaksudkan dengan orang akil itu ialah orang yang tidak gila, orang yang tidak pingsan dan bukan anak kecil. Akan tetapi kata “orang yang berakal” dalam ucapan Sayidina ‘Ali tersebut adalah “orang yang berakal” dalam pengertian yang khusus; seperti yang akan dijelaskan pada baris-baris berikut ini. Taghnam (nanti kamu beruntung), berasal dari kata ghanimah yang artinya memperoleh penghasilan berlebih. Di dalam Al-Quran, juga di dalam hadis Nabi yang mulia, kata ghanimah tidak selalu berarti pampasan perang, tetapi berarti bonus atau kelebihan. Misalnya, dalam doa Nabi yang sering kita baca: “Allahumma ini as’aluka mujibati rahmatik wa ‘aza’ima maghfiratik wal ghanimata min kulli birrin” (Ya Allah aku minta kepastian rahmat-Mu dan keuntungan maghfirah-Mu, serta keuntungan pahala berlimpah dari segala kebaikan). Kata ghanimah min kulli birrin dalam doa tersebut tidak boleh diartikan barang pampasan perang dari setiap kebaikan. Di dalam Al-Quran Al-Karim terdapat ungkapan “maghanim katsirah”, sebagaimana dalam firman Allah Swt. berikut: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang Mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak (maghanim katsirah)…(QS 4:94). Kata “maghanim katsirah” tersebut juga tidak boleh diartikan sebagai barang pampasan perang. Sehingga kita juga tidak boleh mengartikan ungkapan Sayidina Ali k.w. di atas sebagai berikut, “Taatilah oleh kamu orang yang berakal, nanti kamu mendapat harta pampasan perang…” Akan tetapi, arti yang lebih pas adalah “Taatilah oleh kamu orang yang berakal, nanti kamu akan beruntung…” Dan lawan kata ‘aqil adalah jahil. “Bantahlah orang yang jahil, tentu kamu akan selamat.” Di dalam Al-Quran Al-Karim, seringkali kata ‘aqil dihubungkan dengan kemampuan orang-orang untuk merenungkan ayat-ayat Allah. Misalnya: Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (QS 29: 43). Jadi, ini merupakan suatu petunjuk untuk wajib menaati orang-orang yang berilmu. Menurut Al-Ghazali, ada beberapa kekuatan yang mendorong seseorang untuk bertindak; yang dalam psikologi disebut drive (dorongan). Kekuatan tersebut dalam filsafat akhlak disebut dengan quwwah. Dan kekuatan (quwwah) itu sendiri ada bermacam- macam; pertama, kekuatan akal (quwwatul ‘aqli). Inilah yang membedakan antara yang baik dan yang buruk; kedua, kekuatan syahwat (quwwatusy syahwah), yaitu salah satu kekuatan yang juga menggerakkan manusia; ketiga, kekuatan emosi (quwwatul ghadhab), yang menggerakkan daya marah, benci, menyerang, dan agresif, dan yang keempat, quwwatul wahm, yaitu kekuatan dan kemampuan manusia untuk mencari pembenaran dari kesalahannya. Yang dikatakan orang yang ‘aqil atau orang yang berakal ialah orang yang menggunakan akalnya. Dan orang yang semua kekuatannya tunduk kepada kekuatan akalnya itu baik. Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa akal adalah hujjah Allah yang dititipkan kepada manusia. Sebenarnya ada dua hujah yang dititipkan oleh Allah kepada manusia. Yaitu hujah internal yang berupa akal; dan hujah eksternal yang berupa Al-Quran, para rasul, para nabi, dan lain-lain. Kalau semua kekuatan yang dimiliki oleh manusia itu tunduk kepada akalnya, maka ia akan menghasilkan sesuatu yang baik. Misalnya, kalau kekuatan emosi (ghadhab) ditundukkan kepada akalnya, maka akan lahirlah sifat pemaaf. Dan kalau kekuatan syahwat manusia dapat dikendalikan oleh akalnya, maka akan lahirlah sifat wara’ dan zuhud. Jadi, akallah yang harus menguasai seseorang. Dengan demikian, orang yang dapat disebut sebagai orang ‘aqil adalah orang yang mampu mempergunakan akalnya sebagai pengendali dirinya. Dan orang yang jahil adalah orang yang akalnya tunduk kepada kekuatan-kekuatan lain. Atas dasar itu pulalah lahir konsep taqlid/marja’iyah, yaitu kewajiban orang awam untuk menaati orang yang berilmu. Hal itu juga menunjukkan tidak bolehnya orang-orang awam untuk memberikan suatu fatwa tentang suatu hal yang ia tidak mempunyai ilmunya. Itulah sebetulnya makna firman Allah Swt., Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya… (QS 17: 36). Oleh karena itu, wajib bagi orang awam untuk menaati fatwa orang yang berilmu. Ketika Anda awam dalam urusan kedokteran, Anda harus taat kepada dokter dan jangan membuat resep sendiri. Saya kira itu adalah suatu sikap ilmiah dalam zaman modern ini sekalipun. Kita tidak boleh terlalu banyak bertanya kepada dokter kalau ia membuat resep untuk kita. Akan tetapi kita diperbolehkan untuk bertanya sedikit-sedikit saja, karena dokter pun tidak bisa menjelaskan semuanya. Kalau Anda berobat ke dokter, lalu Anda mengatakan, “Saya tidak mau taqlid, saya mau menggunakan akal saya.” Kemudian Anda diberi resep. Anda diberi analgesik yang harus Anda makan apabila sakit saja. Anda juga diberi antibiotik yang harus Anda makan tiga kali sehari. Setelah itu Anda bertanya, “Kenapa analgesik ini harus dimakan ketika sakit saja dan antibiotiknya harus dimakan tiga kali sehari?” Dokter itu mungkin hanya akan mengatakan, “Ya analgesik ini hanya digunakan untuk menghilangkan rasa sakit; dan antibiotik ini….” Sang dokter terpaksa menjelaskan agak panjang. Ketika ia mulai menggunakan istilah-istilah kedokteran dan Anda tidak paham, Anda bertanya lagi. Dan itu akan merepotkan sang dokter. Jika begitu halnya, nanti Anda tidak akan sempat berobat. Begitu pula saya kira dalam urusan agama. Di sini orang mempunyai kecenderungan selalu ingin mengetahui dalilnya dan bertanya, “Dalilnya apa? Keterangannya apa?” Dan kalau diberi keterangan yang lengkap, dia tidak akan paham juga. Pada gilirannya ulama pun akan memberikan dalil yang kira-kira dimengerti oleh si penanya, dan tidak menjelaskan mengapa kesimpulan itu yang ia ambil berdasarkan dalil tersebut. Sekarang ini, kita menderita ilusi seakan-akan kita mengerti semua masalah agama hanya karena diberi beberapa hadis saja. Kalau dalam urusan kedokteran kita harus ikut dengan dokter, walaupun dokter hanya bisa menyelamatkan dalam urusan dunia saja ̶ dan itu pun tidak seluruh urusan dunia tetapi urusan tubuh saja ̶ maka apalagi untuk urusan agama yang sangat berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Anda dibebani kewajiban untuk menaati orang yang ‘aqil. Taatilah orang yang berakal, nanti Anda akan beruntung. Tapi di sini bukan sembarang ‘aqil. Karena bila ‘aqil dalam pengertian orang yang berilmu itu tidak diimbangi dengan ‘aqil dalam pengertian orang yang akalnya menguasai hawa nafsunya, maka akan bisa berbahaya. Kalau seseorang menjadi ‘aqil dalam arti berilmu tetapi hawa nafsunya berkuasa, maka itu lebih berbahaya. Kalau orang berilmu dikuasai oleh hawa nafsunya, maka dia akan lebih banyak mendatangkan bencana daripada orang yang bodoh. Makin berilmu seseorang, tetapi makin tidak berakhlak, maka makin berbahaya dia. Oleh karena itu, di kalangan profesional sering dikembangkan kode etik. Di kedokteran ada kode etik. Sebab kalau dokter tidak mematuhi kode etik itu, ia akan lebih berbahaya daripada orang biasa. Dokter dapat saja membunuh orang tanpa dihukum. Tetapi kalau Anda berobat ke seorang dukun, diberi obat oleh dukun itu dan Anda mati, maka dukun itu dapat ditangkap dan dibawa ke pengadilan. Oleh karena itu, betapa bahayanya orang yang berilmu tetapi dia tidak dikuasai oleh akalnya. Atas dasar itu, taatilah orang yang berilmu, taatilah ulama yang hawa nafsunya sudah dikuasai oleh akalnya ̶ artinya akhlaknya baik. Dan bantahlah orang yang bodoh nanti Anda akan selamat. Oleh karena itu, amat berbahaya bila kita bersahabat dengan orang yang bodoh. Dia mungkin bermaksud untuk berbuat baik dan memberikan manfaat kepada Anda, tetapi dia justru mendatangkan bencana kepada Anda. Akan tetapi kalau orang yang berakal, dia tahu apakah tindakannya itu akan membahayakan Anda atau tidak. Misalnya, kalau saya memberikan nasihat kepada Anda dan saya tahu bahwa nasihat itu akan membahayakan Anda, maka dalam diri saya ada perasaan berdosa dengan nasihat itu. Tetapi sebaliknya, kalau orang jahil memberikan nasihat kepada Anda, dia tidak merasa membahayakan Anda, bahkan dia merasa telah berbuat baik. Seperti cerita seorang pemburu yang kesepian di hari tuanya, kemudian ia berjumpa dengan seekor beruang yang di masa tuanya juga sedang kesepian. Dua makhluk yang kesepian itu berjumpa di hutan dan dia berjanji setia untuk menjadi kawan sampai akhir hayatnya. Keduanya bersahabat dan mengembara sampai akhirnya keduanya tiba di suatu tempat yang membuat sang pemburu tertidur lelap kelelahan. Sahabatnya (si beruang) yang jahil itu menungguinya dengan setia. Selang beberapa saat si beruang melihat seekor lalat hinggap di wajah sahabatnya. Beruang menganggap lalat itu berbuat kurang ajar karena dia bertengger di hidung sahabatnya. Dia juga menganggap lalat itu mengganggu tidur sahabatnya. Maka dengan kesetiaannya, si jahil itu pergi untuk mencari batu besar. Batu itu ia angkat, kemudian lalat itu ia timpa dengan batu besar tersebut. Dan alhamdulillah, lalatnya lepas dan sahabatnya mati. Kemudian yang punya cerita mengakhiri ceritanya dengan kata-kata, “Itulah bahayanya mempunyai sahabat yang jahil. Dia merasa membantu Anda tapi sebetulnya ia membunuh Anda.” Kalau bisa, janganlah Anda dekat-dekat dengan orang jahil, kecuali untuk membimbingnya. Di dalam hadis, Nabi yang mulia menyebutkan, “Ada tiga hal yang bisa merusak agama: Pertama, imam yang zalim; kedua, penguasa yang zalim (sulthan jair); ketiga, bodoh orang-orang yang berijtihad.” Di dalam Al-Quran pun disebutkan bahwa kita harus berpaling dari orang- orang yang bodoh. Atau kalau orang-orang yang jahil itu juga mengajak bicara dengan kamu, jangan dilayani, tapi ucapkan saja salam. Oleh karena itu, kalau Anda berdiskusi, dan ternyata diskusi itu berkembang menjadi tidak ilmiah, atau orang yang berdiskusi itu banyak menggunakan hawa nafsunya ketimbang akalnya, maka berpalinglah dan jangan duduk bersama mereka, karena nanti kamu akan menjadi seperti mereka. Demikian itulah nasihat Sayidina ‘Ali k.w.: “Taatilah orang yang berakal, Anda akan beruntung; bantahlah orang bodoh, Anda akan selamat.” JR *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
NILAILAH ORANG DARI AMALNYAJune 18, 2024Saya ingin memulai tulisan ini dengan menjelaskan konsep saya tentang pesantren (yaitu Pesantren Muthahhari) yang saya dirikan sekarang ini. Untuk itu, lebih dahulu saya mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh kaum Muslim di kota-kota besar di Indonesia. Tantangan pertama adalah adanya gap (kesenjangan) yang makin lebar antara orang-orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Barat dan orang-orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Islam tradisional. Kedua sistem pendidikan ini melahirkan dua kutub pemikiran.Pada satu sisi lahir para cendekiawan Islam yang paham betul dalam menganalisis masyarakat di sekitarnya tetapi tidak punya dasar yang kuat pada ilmu-ilmu Islam tradisional. Mereka berbicara tentang ekonomi Islam, politik Islam, ilmu pengetahuan Islam, tetapi mereka tidak punya dasar yang kuat dalam ilmu-ilmu Islam tradisional. Yang saya maksudkan dengan ilmu-ilmu Islam tradisional ialah ilmu-ilmu Al-Quran (‘ulum Al-Qur’an), ilmu-ilmu hadis (‘ulum al-hadits), ushul fiqh, bahasa Arab, dan lain-lain. Apa akibatnya? Para cendekiawan itu kemudian berhasil menganalisis masalah umat tetapi tidak berhasil mencari jawabannya di dalam Islam. Kalaupun ada, jawaban yang diberikan seringkali merupakan teori-teori modern yang diberi kemasan Islam; yaitu dengan mencantumkan ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mulia untuk pemecahan-pemecahan itu. Akhirnya, kita menemukan ada Marxisme yang dasarnya Al-Quran dan hadis, dan ada pula Kapitalisme yang dasarnya Al-Quran dan hadis.Sebetulnya saya termasuk dalam kelompok cendekiawan ini atau maunya disebut kelompok cendekiawan. Walaupun di ICMI pun saya tidak terpakai, saya masih ingin disebut sebagai cendekiawan; karena salah satu ciri cendekiawan adalah lemahnya dasar-dasar ilmu keislaman.Pada sisi lain, ada ulama yang dibesarkan dalam ilmu- ilmu Islam tradisional, tetapi kurang bisa menganalisis tantangan-tantangan zaman, kurang dapat menganalisis perubahan-perubahan yang terjadi. Kita lihat saja misalnya buku-buku lama yang merupakan jawaban Islam untuk zaman dahulu masih dipergunakan untuk menjawab masalah-masalah yang muncul sekarang. Kitab kuning misalnya masih sering disakralkan sehingga dipaksakan untuk menjawab masalah-masalah aktual sekarang.Tak jarang di antara kedua kutub pemikiran ini bukan saja ada kerenggangan tetapi juga ketegangan. Para santri (sebutlah begitu) mencurigai kelompok cendekiawan sebagai agen-agen Barat, bahkan tidak jarang menuduhnya sebagai agen Zionisme Internasional yang akan merusak Islam; sementara para cendekiawan juga balik menuduh para ulama beku dalam pemikiran dan tidak sanggup menjawab tantangan zaman.Inilah tantangan yang dihadapi oleh umat sekarang ini. Oleh sebab itu saya berpikir untuk mendirikan sebuah pesantren, yang bukan pesantren Islam tradisional dan juga bukan sebuah universitas; tetapi lebih merupakan sebuah jembatan yang menghubungkan antara pelbagai kelompok tersebut.Pesantren ini saya dirikan untuk memberikan ilmu-ilmu Islam tradisional kepada orang-orang yang dididik di kampus-kampus dalam sistem pendidikan Barat. Kami ajarkan kepada para mahasiswa ITB, Unpad, IKIP, dan lain sebagainya, ilmu-ilmu Islam tradisional. Karena itu kami berikan kepada mereka kuliah ushul fiqh, ilmu tasawuf, ‘ulum Al-Qur’an, ‘ulum al-hadits. Dan pada saat yang sama, kami juga mengajarkan program khusus untuk para santri dari pesantren tradisional. Kami ajarkan kepada mereka misalnya pengantar komputer, sosiologi, filsafat Barat, retorika. teori komunikasi, dan lain-lain. Kami memang ingin menjadi jembatan penghubung antara kedua kelompok ini.Apakah upaya itu berhasil atau tidak adalah tantangan yang mesti kami hadapi. Tentunya yang dikatakan tantangan itu berbeda-beda dan amat tergantung pada sudut pandang setiap orang. Tantangan pesantren Darut-Tauhid Bandung, misalnya, adalah gersangnya rasa beragama dan tidak adanya kenikmatan di dalam menjalankan ibadah. Oleh sebab itu di pesantren ini lebih banyak dihidupkan zikir daripada pikir, walaupun asas Darut-Tauhid adalah ahli zikir, ahli pikir, dan ahli ikhtiar. Akan tetapi pikimya masih belum banyak dikembangkan dibandingkan dengan zikir. Di tempat kami dimensi pikirnya makin banyak dikembangkan dan zikirnya kurang. Karena itu pesantren kami berusaha bersaing dengan pesantren Darut-Tauhid. Dalam persaingan ini kami kalah, khususnya di bidang zikir. Kami kurang sekali berzikir dan lebih banyak berpikir. Sedangkan dalam ikhtiarnya, Pesantren Muthahhari dan Darut-Tauhid sama –yaitu sama-sama susah.Kemudian tantangan yang kami hadapi (yang dihadap oleh umat Islam sekarang), diakui atau tidak, ialah masalah sektarianisme (pemecahbelahan umat kepada beberapa golongan). Sebetulnya jika timbul pendapat yang berbeda-beda, maka hal itu sesuatu yang wajar saja dan tidak menjadi masalah. Bahkan hal itu harus kita hidupkan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Akan tetapi persoalan ini menjadi suatu tantangan manakala setiap orang memutlakkan pendapatnya dan menganggap pendapatnya sendiri yang paling benar, dan kemudian tidak menghargai pendapat orang lain. Atau ia merasa bahwa mazhabnya sajalah yang paling benar, lalu ia dengan mudah mengkafirkan mazhab orang lain. Sikap semacam itu, diakui atau tidak, ada di antara kita dan tidak jarang menjadi picu timbulnya perpecahan di antara kaum Muslim.Kalau saya boleh menyebutkan salah satu indikatornya yang jelas ialah suatu kasus di sebuah kampung. Di sana ada masjid yang baru didirikan. Hanya karena ada perbedaan berkenaan dengan azan Jumat, maka dibikinlah dua masjid yang berdampingan. Saya melihat hal ini sebagai sebuah tantangan. Saya kira, dalam rangka globalisasi dan keterbukaan informasi sekarang ini, kita tidak bisa tidak akan ditempa dengan berbagai pendapat. Kita akan diserbu oleh berbagai pemikiran; dan saya pikir umat Islam harus siap dengan serbuan itu. Menurut saya, persiapan yang paling utama ialah menanamkan sikap menghargai perbedaan pendapat itu dan mengurangi keyakinan yang terlalu berat terhadap pendapat kita sendiri. Hal ini boleh jadi tidak menyenangkan bagi sebagian orang. Tidak enak untuk mengakui bahwa boleh jadi orang lain itu benar juga.Saya sering mengatakan: “Mari kita membiasakan untuk berkata, ‘inilah yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah sepanjang pemahaman saya.” Saya sering menganjurkan agar ditambah dengan kata sepanjang pemahaman saya. Sebab kalau kita hanya memakai kalimat, “Menurut Al-Quran dan Sunnah,” dan kemudian ada orang yang mempunyai pemahaman yang berbeda dengan kita, maka kita anggap pendapat itu tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. Jadi ungkapan yang lebih tepat untuk menyampaikan persoalan itu ialah kalimat, “Tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, sepanjang pengetahuan saya.”Oleh karena itu, di pesantren kami, kami hidupkan suasana perbedaan pendapat itu. Misalnya, kami undang ke situ anggota jamaah Al-Arqam yang kontroversial untuk memberikan pengajian di tempat kami. Kami undang juga ulama dari pengikut tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah yang juga kontroversial. Ketika NU mengadakan muktamar di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, kami undang juga tokoh NU untuk berbicara tentang NU saja di pesantren kami. Ketika Muhammadiyah juga mengadakan muktamar, kami juga meminta orang Muhammadiyah untuk bercerita tentang khiththah perjuangan Muhammadiyah. Dan bahkan pernah kami mencoba, dalam peringatan maulid, mengundang beberapa pastor Katolik untuk berbicara tentang Rasulullah Saw. yang mulia.Mungkin orang akan mengatakan bahwa tindakan itu keterlaluan. Tetapi kami percaya bahwa Islam adalah ajaran yang benar. Karena itu tidak usah takut dengan pemikiran yang lain. Kalau kita merasa bahwa diri kita benar, maka kita harus siap menguji pendapat kita dengan berbagai pendapat yang lain. Oleh karena itu kami hidupkan di dalam pesantren kami istilah nonsektarianisme (kami sebut demikian), walaupun tentu saja nonsektarianisme kami tidak persis sama dengan nonsektarianisme Gus Dur atau Cak Nur. Nonsektarianisme kami tercermin dalam program-program kami. Misalnya, kalau di dalam fiqih, kami tidak mengajarkan satu mazhab fiqih saja, tetapi kami ajarkan fiqih perbandingan mazhab. Kalau kami diminta untuk memberikan fatwa tentang suatu masalah, kami kemukakan pendapat dari pelbagai mazhab itu dan tidak kami tunjukkan hanya satu mazhab saja.Pernah ada di antara jamaah pengajian kami yang berkomentar: “Wah kami tanya ini dan hasilnya adalah sejumlah pertanyaan lagi. Jadi ini namanya tidak memberikan fatwa tetapi malah membingungkan.” Boleh jadi begitu, tetapi kami tidak ingin mengemukakan satu pendapat saja. Kita ingin belajar menghargai pendapat orang lain, dan menghormati pendapat yang berlainan itu.Itulah iklim yang kami hidupkan dalam pesantren kami dan mendasari kegiatan-kegiatan kami. Walhasil, kami ingin menjadi jembatan bagi kelompok intelektual dan kelompok pesantren, serta mengembangkan sikap nonsektarianisme. Nonsektarianisme itu istilah yang berbau Barat. Hal itu mungkin karena kesalahan saya yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Barat yang agak kafir bila dibandingkan dengan saudara-saudara. Atas dasar itu misi kami yang kedua kami sebut ukhuwwah Islamiyyah dan bukan nonsektarianisme, supaya kelihatan agak nyantri.Kedua misi itu jembatan dan nonsektarianisme mendasari program-program pesantren yang kami laksanakan sekarang ini. Kemudian tantangan terakhir yang dihadapi adalah kecenderungan kita untuk menilai orang dari pendapatnya. Kalau pendapatnya sama dengan pendapat kita, ia termasuk ikhwan, dan kalau pendapatnya tidak sama dengan kita, orang itu bukan ikhwan.Di pesantren kami, kami mulai menanamkan kepada para santri untuk tidak menilai orang dari pendapatnya kecuali untuk tujuan ilmiah. Kalau menilai orang, kami anjurkan untuk melihat segi amal perbuatannya. Bukankah hal seperti itulah yang diajarkan oleh Al-Quran?Dan masing-masing orang memperoleh derajat yang seimbang dengan apa yang dikerjakannya… (QS 6: 132).Setiap orang diukur derajatnya sesuai dengan amal perbuatannya. Karena itu apa pun golongan orang yang kami lihat, asal ia mau berbuat baik untuk Islam, kami akan bantu dan kami dukung. Kami mendukung Golkar, misalnya, kalau program-program Golkar itu amalnya untuk Islam. Seandainya amal-amal Golkar tidak untuk Islam, kami tidak memberikan dukungan. Kami juga mendukung PPP kalau amal-amalnya untuk Islam dan meninggikan Islam. Kami juga mau mendukung PDI kalau program PDI membesarkan Islam. Jadi, ukuran kami, sekali lagi bukan golongan, bukan pendapat, tapi amal.Begitulah kami menilai orang; begitu kami menilai suatu organisasi, dan begitu pula kami menilai bangsa-bangsa di dunia ini. Yang kami nilai adalah amalnya; apa sumbangan yang diberikan untuk Islam, apa kontribusinya untuk Islam, dan apa jasanya untuk pengembangan kebesaran Islam dan kaum Muslim. Karena kami sangat percaya terhadap sabda Rasulullah yang mulia ketika beliau ditanya tentang apa yang disebut dengan jihad fi sabilillah itu, dan apa definisinya? Nabi yang mulia memberikan definisi singkat bahwa jihad fi sabilillah itu ialah jihad litakuna kaliimatullah hiyal-‘ulya –yakni perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah. Siapa pun yang melakukannya, apa pun golongannya, apa pun pendapat yang mereka kemukakan, selama dia berjuang untuk menegakkan kalimat Allah, maka mereka adalah saudara kami dalam agama; yang untuk mereka kami beri bantuan dan dukungan sepenuhnya. Semampu kami. JR***KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Hanya Korban Yang BerkurbanJune 17, 2024Setiap hari raya Idul Adha, Rasulullah Saw. membeli dua ekor domba yang gemuk, dan berbulu putih bersih. mengimami shalat dan berkhutbah. Sesudah itu, dia mengambil seekor domba itu dan meletakkan telapak kakinya di sisi tubuh domba seraya berkata, “Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad dan umat Muhammad.” Lalu dia menyembelih hewan itu dengan tangannya sendiri. Sesudah itu, memberikan domba yang lain dan berdoa, “Ya Allah, terimalah ini dari umatku yang tidak mampu berkurban.” Sebagian dari dagingnya dimakan oleh Rasulullah Saw. dan keluarganya. Sisanya semuanya dibagikan kepada orang-orang miskin. Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan lain-lain. Berdasarkan riwayat ini, para ulama menetapkan ibadah kurban sebagai sunnah muakkadah (sunnah yang sangat penting). Sejak saat itu, setiap tahun di seluruh Dunia Islam, binatang-binatang ternak disembelih. Berbeda dengan upacara persembahan (offering) pada agama-agama di luar Islam, di dalam Islam daging kurban tidak seluruhnya diserahkan kepada Tuhan. Tuhan tidak makan daging. Daging kurban dinikmati sebagian oleh pelaku kurban dan sebagian lainnya oleh fakir miskin. Tidak sekerat pun daging yang diberikan kepada Tuhan. Tidak sampai kepada Allah daging dan darahnya. Tetapi yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaanmu. (QS 22: 37) Kurban ̶ Arab: qurban, yang secara harfiah berarti “mendekatkan” ̶ dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mendekatkan diri kepada sesama manusia, khususnya mereka yang sengsara. Ketika Nabi yang mulia mengatasnamakan kurbannya untuk dirinya, keluarganya, dan semua umatnya yang tidak mampu, ia menegaskan ibadah kurban sebagai ibadah sosial. Ibadah kurban bukan sekadar ritus persembahan untuk meningkatkan kualitas spiritual seseorang; bukan hanya cara untuk memperoleh kepuasan batin karena sudah naik ke langit. Bukan juga kesempatan buat orang kaya untuk menunjukkan kesalehan dengan harta yang dimilikinya. Dengan ibadah kurban, seorang Muslim memperkuat kepekaan sosialnya, naik ke langit dengan memakmurkan bumi. Inti kurban terletak pada individu sebagai makhluk sosial. Ketika para ahli fiqih menetapkan seekor domba untuk seorang pelaku kurban dan seekor sapi untuk tujuh orang, Nabi Saw. berkurban untuk dirinya, keluarganya, dan semua umatnya. Ketika Ustaz Didi melihat murid-murid SMP berpatungan membeli seekor domba, dia berkata, “Ini bukan kurban. Seekor domba tidak dapat menjadi kurban 40 orang murid. Ini sedekah saja.” Rasulullah berkata bahwa seekor domba yang disembelihnya diperuntukkan bagi seluruh umatnya, khususnya yang tidak mampu berkurban. Islam kita adalah Islam individual. Islam Rasulullah adalah Islam sosial. Ibadah kurban mencerminkan pesan Islam: Anda hanya dapat dekat dengan Tuhan bila Anda mendekati saudara-saudara Anda yang berkekurangan. Islam tidak memerintahkan Anda untuk membunuh hewan di altar pemujaan, atau di dalam hutan, atau di tepi lautan dan sungai, lalu Anda serahkan seluruhnya kepada Tuhan. Al-Quran berseru, … lalu makanlah sebagian dari dagingnya dan beri makanlah (dengan bagian yang lain) orang fakir yang sengsara (QS 22: 28). Bila Anda memiliki kenikmatan, Anda disuruh berbagi kenikmatan itu dengan orang lain. Bila puasa mengajak Anda merasakan lapar seperti orang-orang miskin, maka ibadah kurban mengajak mereka untuk merasakan kenyang seperti Anda. Banyak orang mendekatkan diri kepada Allah dengan mengisi masjid-masjid atau rumah ibadah yang sunyi. Islam menganjurkan Anda untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengisi perut-perut yang kosong. Ketika Musa a.s. bertanya, “Ya Allah, di mana aku harus mencari-Mu?” Allah menjawab, “Carilah aku di tengah-tengah orang yang hatinya hancur.” Ketika Nabi Muhammad berdoa di kebun Utbah bin Rabi’ah, dia memanggil Allah dengan sebutan, “Ya Rabb Al-Mustadh’afin (Wahai, Tuhan yang melindungi orang-orang tertindas).” Dalam hadis qudsi diriwayatkan bahwa nanti pada Hari Kiamat, Allah mendakwa hamba-hamba-Nya, “Hai hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar dan kalian tidak memberi-Ku makanan. Dahulu Aku telanjang dan kalian ti- dak memberi-Ku busana. Dahulu Aku sakit dan kalian tidak memberi-Ku obat.” Waktu itu, yang didakwa berkata, “Ya Allah, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makanan, pakaian, dan obat, padahal Engkau Rabb Al-‘Alamîn.” Lalu Tuhan bersabda, “Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, telanjang, dan sakit. Seki- ranya kamu mendatangi mereka, mengenyangkan perut mereka yang lapar, menutup tubuh mereka yang telanjang, mengobati sakit mereka, maka kamu akan mendapatkan Aku di situ.” Kurban dalam Al-Quran Menarik sekali ketika Al-Quran bercerita tentang upacara kurban yang pertama dalam sejarah kemanusiaan. Kita kutipkan rangkaian ayat Al-Ma’idah 27-30, Dan ceritakanlah kepada mereka dengan benar tentang riwayat dua putra Adam. Tatkala mereka mempersembahkan kurban, tetapi yang diterima hanyalah dari yang satu di antara mereka dan dari yang lain tak diterima. Ia berkata, “Sesungguhnya aku akan membunuh engkau.” (Yang lain) berkata, “Allah hanya akan menerima dari orang yang bertakwa.” Jika engkau merentangkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku takkan merentangkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. Sesungguhnya aku lebih suka bahwa engkau akan memikul dosa karena membunuhku dan dosamu sendiri, lalu engkau akan menjadi golongan penghuni api neraka. Itulah pembalasan orang yang zalim. Akhirnya, jiwanya dibuat mudah baginya untuk membunuh saudaranya. Maka ia membunuhnya; maka dari itu, ia menjadi golongan orang yang rugi. Para ahli tafsir mengatakan bahwa dua orang yang beriman dalam kisah ini adalah Qabil dan Habil. Keduanya disuruh berkurban oleh ayah mereka, Adam. Habil mempersembahkan hewan yang paling baik dengan senang hati dan tulus. Qabil berkurban hanya untuk mengalahkan saudaranya yang kepadanya ia iri hati. Tuhan menerima kurban yang ikhlas. Qabil bertambah iri dan memutuskan untuk membunuh Habil. Kata Thabathabai dalam tafsir Al-Quran, Al-Mizân (5:298), “Inilah contoh bagaimana kedengkian dapat membawa orang untuk membunuh saudaranya, kemudian membawa pada penyesalan dan kerugian, yang tidak ada jalan untuk menyelamatkannya.” Lalu, mengapa Al-Quran melukiskan Habil sebagai orang yang lemah? Mengapa ia tidak mau membela diri ketika ia hendak dibunuh oleh saudaranya? Mengapa kurban Habil menyebabkan ia menjadi korban? Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa Habil tidak membela diri tangan saudara- karena ia dengan sengaja memilih kematiannya di nya. Ia ingin memberikan pelajaran bagi umat manusia bahwa pelaku kezaliman tidak akan pernah beruntung; bahwa pembunuhan itu akan memulai suatu pertentangan abadi antara pelaku kurban yang ikhlas dan orang-orang zalim yang dengki. Ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa kelemahan Habil merupakan lambang dari kelemahan orang-orang yang tertindas. Mereka tidak memiliki kekuatan “merentangkan tangan” untuk membunuh orang-orang zalim. Sepanjang sejarah, mereka sering berkurban memberikan harta mereka yang berharga untuk menolong sesama manusia. Tetapi, mereka sering menjadi korban. Mereka diminta berkurban untuk memberi makanan kepada yang kenyang. Al-Quran memberi pelajaran bahwa sepanjang sejarah orang zalim tidak pernah berkurban dengan ikhlas. Pelaku-pelaku kurban yang tulus adalah mereka yang tertindas. Sering kali hanya korban yang berkurban! JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Haji: Akhir Khutbah Pertama Nahjul BalaghahJune 16, 2024“Dan Allah sudah mewajibkan atas kamu untuk berkunjung ke rumah-Nya Yang Mulia. Yang Allah jadikan rumah-Nya itu sebagai kiblat umat” manusia. Mereka datang kepada-Nya seperti datangnya binatang-binatang ternak. Mereka merindukan-Nya untuk berkumpul di sekitarnya, seperti rindunya burung-burung merpati. Allah jadikan haji itu sebagai pertanda dari kerendahan manusia di hadapan kebesaran-Nya dan sebagai ketundukan mereka dihadapan keagungan-Nya. Allah telah memilih di antara hamba-hamba- Nya para pendengar yang menjawab seruan-Nya ketika Dia menjawab seruan-Nya. Membenarkan kalimat-Nya, berhenti di tepian para nabi-Nya, menyerupai para malaikat yang ber-thawaf di ‘Arasy-Nya. Mengumpulkan keuntungan dalam niaga ibadahnya. Berlomba-lomba di hadapan-Nya untuk mencapai janji ampunan-Nya. Allah Swt. menjadikan Islam sebagai pertanda, Allah menjadikan haji ini sebagai tanda keislaman dan seb- agai tempat berlindung bagi orang-orang yang mencari perlindungan. Allah wajibkan haknya, Allah tetapkan hajinya, dan Allah tuliskan bagi mereka keberangkat- annya, maka berfirmanlah Dia, ‘Dan bagi manusia haji ke Baitullah, orang-orang yang mampu memperoleh bekal di perjalanannya. Barangsiapa yang kafir, sesungguhnya Allah tidak membutuhkan alam semesta’.” Inilah khutbah pertama dalam Nahjul Balaghah. Terjemahan saya mungkin agak berbeda dengan terjemahannya Puncak Kefasihan. Yang menarik, khutbah ini diakhiri dengan masalah yang berkenaan dengan ibadah haji. Imam Ali berkata, “Allah wajibkan kepada kalian supaya pergi ke rumah-Nya yang mulia.” Dalam bahasa Arab, hajja artinya menuju atau bermaksud menuju sesuatu. Karena itu, dalam bahasa Arab, setelah hajja biasanya disusul dengan pertanyaan, “Ke mana?” Di sini disebut hajja bait al-haram, “Untuk pergi menuju rumah-Nya yang penuh kemuliaan.” Kata “haram” dalam bahasa Arab berarti kemuliaan. Arti lainnya adalah haram. Haram berasal dari kata hurmah yang berarti kemuliaan. Dalam bahasa Indonesia, dari kata hurmah itu lahir kata hormat, kehormatan. Baitullah disebut Baitul Haram atau Masjidil Haram, artinya rumah yang sangat dimuliakan, rumah yang sangat terhormat. Mengapa terhormat? Karena di tempat ini diharamkan semua hal yang tercela. Imam Ali Zainal Abidin ketika berkata kepada Asy-Syibli yang baru pulang dari berhaji, “Pernahkah engkau berkunjung ke Masjidil Haram, ke rumah Allah Al-Haram?” Asy-Syibli menjawab, “Tentu wahai putra Rasulullah.” “Apakah ketika engkau berkunjung ke Masjidil Haram, engkau haramkan bagi dirimu untuk menjatuhkan kehormatan sesama kaum Muslim dengan lidahmu, tanganmu, dan perbuatanmu.” Iman Ali Zainal Abidin menghubungkan kata haram yang artinya hormat,mulia, dengan kehormatan kaum Muslimin. Yang juga di dalam bahasa Arab disebut haram karena dimuliakan Allah Swt. dan dihubungkan dengan kata, “Haramkan bagi dirimu.” Tempat itu disebut tempat haram, tempat yang dimuliakan, karena di situ diharamkan mengganggu kaum Muslimin. Dalam ayat Al-Quran disebutkan, “Barangsiapa memasukinya (Baitullah) menjadi amanlah dia,” (QS. Ali Imran : 97). Dalam ayat lain disebutkan, “Bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman,” (QS. Al-Fath : 27). Jadi, Masjidil Haram adalah masjid yang penuh dengan kemuliaan, penuh dengan kehormatan, karena di masjid itu diharamkan segala perbuatan yang menjatuhkan kehormatan kaum Muslimin. Imam Ali Zainal Abidin mengulangi pertanyaannya kepada Asy-Syibli, “Apakah saat masuk Masjidil Haram kamu berniat untuk memelihara kehormatan kaum Muslimin dan tidak akan menjatuhkan kehormatan mereka dengan lidah, tangan, dan perbuatan kamu?” Asy-Syibil berkata, “Tidak, wahai putra Rasulullah.” Imam Zainal Abidin pun mengungkapkan, “Kalau begitu, engkau belum masuk ke Masjidil Haram.” Maksudnya, apabila ada orang yang berangkat haji kemudian pulang ke tanah airnya, akan tetapi dia masih menggunjingkan orang-orang beriman, masih juga mencemoohkan, mengejekatau menyakiti orang Islam dengan menjatuhkan kehormatannya, merendahkan kemuliannya, pada hakikatnya dia sama sekali belum berhaji. Dia belum pernah datang ke Masjidil Haram. Masjid ini disebut Masjidil Haram karena masjid ini dibangun untuk menegakkan kehormatan manusia. Rasulullah Saw. sendiri mengajarkan makna haram. Di dalam buku Tafsir bil Matsur disebutkan, “Ketika Rasulullah thawaf mengelilingi Kabah, beliau berhenti di Multazam, beliau bergantung di tirai Kabah kemudian beliau bersabda, “Duhai Kabah, betapa mulianya engkau, betapa agungnya engkau, betapa luhurnya engkau. Namun, demi Zat yang diriku ada di tangan-Nya, kehormatan seorang Muslim lebih tinggi dari kehormatan Kabah.” Karena itu, dalam Islam, menjatuhkan kehormatan seorang Muslim termasuk dosa besar. Meruntuhkan kemuliaan. seorang Muslim dosanya lebih besar daripada meruntuhkan kemuliaan Kabah. Belakangan, saya sering mengulang-ngulang pesan Al-Quran yang sangat agung ini karena saya menemukan kenyataan yang sangat menyedihkan, khususnya di kalangan aktivis masjid. Orang-orang yang sudah mulai mengaji, mungkin kalau perempuannya sudah memakai jilbab-jilbab, kadang- kadang merasa jilbabnya jauh lebih sempurna dari jilbabnya Ibu Theresa. Mungkin para aktivis laki-lakinya, ke mana pun pergi selalu membawa dan membaca Al-Quran. Mereka menjadi panitia untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan pengajian di berbagai tempat. Sayangnya, saya menemukan ada semacam kebiasaan untuk mempergunjingkan sesama kaum Muslim. Ada kebiasaan, bahkan kesenangan untuk menyebarkan kejelekkan sesama hamba Allah, membongkar aibnya, kemudian menyebarkannya. Padahal, hal itu menjatuhkan kehormatan kaum Muslimin. Ketika sampai berita kepada Imam Muhammad Baqir, “Imam, dilaporkan kepada saya oleh orang yang saya percayai bahwa si Fulan menjelek-jelekkan saya di belakang. Dan orang yang melaporkan itu adalah orang yang saya percayai. Namun ketika saya cek kepadanya, dia tidak mengakuinya. Dia merasa tidak pernah menjelek-jelekkan saya. Apa yang harus saya lakukan?” Imam Baqir berkata, “Sekiranya orang yang kamu percayai itu membawa empat puluh orang lagi dan melaporkan kepada kamu pembicaraannya dan dia menolaknya, bohongkanlah yang empat puluh orang itu dan terimalah penolakan itu.” Jadi, bohongkanlah orang yang menuduh macam-macam kepada saudara kita dan benarkanlah penolakan dia. Karena sekiranya engkau membenarkan para pelapor keburukan itu, engkau akan termasuk orang yang dikutuk Allah karena menyebarkan aib kaum Muslimin di tengah-tengah umat manusia. Mengapa menyebarkan aib termasuk dosa besar? Sebab, dia menjatuhkan kehormatan Muslim, dan menjatuhkan kehormatan Muslim itu, dosanya jauh lebih besar daripada menjatuhkan kehormatan Kabah yang disebut Baitul Haram. Nabi Saw. juga menjelaskan arti haram ini sebagai kehormatan ketika beliau berkhutbah pada khutbahnya yang terakhir saat Haji Wada. Menurut riwayat, khutbah Rasulullah Saw, itu disampaikan di Arafah. Ada juga yang menyebut kalau beliau khutbah sekali lagi di Mina. Beliau memulai khutbahnya dengan bertanya, “Ini negeri apa menurut kalian?” “Baladul Haram ya Rasulullah, Ini negeri haram.” “Bulan apa ini menurut kalian?” “Syahrul Haram.” “Hari apa ini menurut kalian?” “Yaumul Haram.” Rasulullah Saw. bersabda, “Ketahuilah oleh kalian, sebagaimana haramnya negeri ini, sebagaimana haramnya hari ini, maka haram jugalah kemuliaan kaum Muslimin.” Maksudnya, sebagaimana mulianya bulan ini, tahun ini, tempat ini, dan ibadah yang mulai ini, begitu juga mulianya kehormatan kaum Muslimin. Rasulullah Saw, bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, darah dan kehormatannya diharamkan atas kamu.” Lalu, Rasulullah Saw. menghubungkan kata kehormatan ini dengan diharamkannya kehormatan seorang Muslim untuk dijatuhkan, dan diharamkan darahnya untuk ditumpahkan. Ketika kita memuliakan Baitullah Al-Haram kita juga sekaligus memuliakan kaum Muslimin. Mengapa saya sering mengulang bagian ini? Ini terjadi karena kekecewaan saya menyaksikan betapa mudahnya kita menjatuhkan kehormatan orang lain, terutama yang seagama. Saya mendengar sebuah cerita menarik dan ini benar-benar terjadi. Ada seorang karyawati Muslimah di Jakarta. Biasanya, mereka tinggal di rumah-rumah kost-an. Awalnya, karyawati ini tinggal di asrama orang-orang Kristen. Di sana, ia diperlakukan dengan sangat terhormat. Kalau pulang ditegur, kalau ada acara dia diajak bergabung, kadang-kadang minum bersama walaupun mereka tahu kalau ia beragama Islam. Satu saat, seseorang bertanya, “Mengapa kamu tinggal di asrama Kristen? Mengapa tidak memilih asrama Muslimah yang ada juga di sekitar itu?” Akhirnya, dia pindah ke tempat kost yang hanya diisi oleh perempuan Muslimah. Karyawati ini belum memakai jilbab. Begitu dia masuk ke situ, dia menghadapi wajah-wajah yang garang dan begitu dia agak jauh, mereka mempergunjingkannya karena tidak mengenakan kerudung. Kalau perempuan yang pakai kerudung pulang, ia disambut dengan pelukan, cium pipi kiri, cium pipi kanan. Akan tetapi, kalau dia pulang, mau salam tangan saja, mereka memalingkan wajah, karena dia tidak pakai kerudung. Tersiksalah perempuan itu. Kalau ada acara minum-minum teh, dia tidak pernah diundang. Pokoknya kalau dia hadir di situ dia di-ignore oleh kawan-kawannya. Dosanya hanya karena dia tidak memakai kerudung. Hanya karena tidak memakai jilbab, dia dijatuhkan kehormatannya, dia dicemoohkan, dia diasingkan, dia diejek. Padahal, karena perbuatan seperti itu, semua pahala orang memakai kerudung terhapus karena menjatuhkan kehormatan saudaranya. Akhirnya, dia mengadu bahwa dia tidak betah, akan tetapi mau masuk lagi ke asrama Kristen dia juga tidak mau. Jadi, kita mempunyai kecenderungan untuk menjatuhkan. kehormatan orang Islam hanya karena berbeda mazhab atau pendapat. Boleh jadi, sekarang pun berbeda cara memakai kerudung saja sudah saling melirik dengan lirikan permusuhan. Anak saya pernah ditegur karena kerudungnya berbeda dengan perempuan-perempuan yang “salehah”. Tegurannya sangat kasar, “Apakah kamu tidak malu telanjang di hadapan orang banyak.” Anak saya yang pakai jilbab saja masih dihitung sebagai telanjang. Di sini, salah seorang jamaah Al-Munawwarah ada yang bertanya kepada saya, “Ustadz, bagaimana sih hukumannya kerudung lontong?” Saya sendiri tidak mengerti seperti apa “kerudung lontong” itu. Dalam ilmu bahasa, menurut salah seorang ahli linguistik, ada kata-kata yang kita ciptakan “khusus” untuk membahagiakan orang lain. Namun, ada pula yang disebut kata-kata seringai, yaitu kata-kata yang diciptakan khusus untuk menyerang dan menjatuhkan kehormatan orang lain. “Bloon” misalnya, “sebel” dan sebagainya. Itu kata-kata yang diciptakan untuk menjatuhkan kehormatan orang lain, termasuk pula kerudung lontong. Kata “lontong” ini bukan berarti lontong yang kita makan, ia mengandung makna khusus yang bersifat serangan. Betapa mudahnya kita menjatuhkan kehormatan orang lain. Padahal, seharusnya kita memuliakan sesama manusia, sebagaimana kita memuliakan Kabah. Saya teruskan lagi ucapkan Imam ‘Ali, “Allah telah mewajibkan kepada kamu untuk pergi menuju rumah-Nya Al-Haram, rumah-Nya yang dimuliakan. Dia jadikan rumah bagi seluruh umat manusia.” Mereka datang kepadanya seperti datangnya binatang-binatang ternak. Penafsiran berikutnya adalah kata yaridûnahu wurudal anʼam. Yaridun berasal dari kata waroda. Arti dari kata itu adalah datangnya binatang ternak untuk minum. Biasanya binatang-binatang itu punya tempat minum lalu mereka datang ke sana untuk minum. Datangnya itu disebut waroda yaridu. Nah, Imam ‘Ali mengibaratkan jamaah haji itu seperti hewan-hewan yang berkumpul di suatu tempat untuk minum minuman ruhaniah yang agung. Kata Imam, “Mereka merindukan Kabah seperti rindunya burung merpati.” Itu adalah peribahasa Arab. Kita tahu, kalau burung itu suka berkumpul di satu tempat, yaitu tempat yang mereka senangi, tempat yang mereka sayangi. Wa ya’lahûna ilayhi wula hal hamâm. Mereka merindukannya seperti kerinduannya burung-burung merpati. Ya’lahûna berasal dari walaha. Akar katanya adalah Ilah yang artinya Tuhan. Ilah itu artinya Tuhan tetapi juga mengandung arti “yang dirindukan”. Karena itu, ada sebagian orang yang berpendapat kalau kata walaha di situ artinya ‘abada, menyembah. Ilah artinya yang disembah. Memang, salah satu makna kata Ilah adalah yang disembah. “Dan mereka merindukan Kabah itu seperti kerinduannya burung-burung merpati untuk berkumpul di sekitar tempat yang mereka senangi.” Biasanya, orang yang sudah menunaikan ibadah haji, tentu ada beberapa pengecualian tetapi pengecualiannya sedikit, setelah ibadah haji dia senantiasa merindukan untuk datang lagi ke sana. Bahkan, ketika diperlihatkan Kabah boleh jadi berurai air matanya. Ada kerinduan yang tidak terpuaskan untuk menjenguk kembali Baitullah Al-Haram; rumah Allah yang dimuliakan itu. Jadi, kata Imam ‘Ali, kerinduan kepada Kabah itu seperti burung-burung merpati yang merindukan tempat berkumpulnya. Karena itu, burung merpati sering dijadikan burung pos. Sebabnya, karena dahulu, kalau orang mau pergi berperang, dia membawa merpati dari rumahnya, agar nantikalau berada di medan perang, dia bisa memberi kabar kepada keluarganya. Dia gantungkan surat itu di kaki sang merpati. Burung ini pun akan kembali lagi ke tempatnya. Ajaibnya, merpati selalu tahu jalan pulang walaupun ia telah dibawa pergi ke tempat yang sangat jauh, seolah-olah ia memiliki sistem navigasi supercanggih yang akan memandunya untuk kembali lagi ke rumah tuannya, di mana dia tinggal untuk berkumpul bersama rekan-rekannya yang lain. Imam ‘Ali mengibaratkan jamaah haji itu sebagai burung-burung merpati. Kita ini, jamaah haji yang tersebar di seluruh dunia, sebetulnya adalah burung- burung merpati. Rumah kita yang hakiki adalah Kabah. Bukankah menurut Al-Quran, rumah yang pertama yang diciptakan untuk manusia adalah bangunan suci di Makkah? Itulah rumah kita semua. Jadi, ketika kita menunaikan haji ke Makkah, hakikatnya kita bagaikan merpati-merpati yang kembali ke sarangnya. Selanjutnya, Imam ‘Ali mengatakan, “Allah jadikan ibadah haji itu sebagai ‘alamah,” sebagai tanda, sebagai indikator. Kata ‘alamah dalam bahasa Indonesia menjadi alamat. Ia berasal dari kata “ilmu” yang artinya mengetahui. Jadi ‘alamah berarti sesuatu yang dari situ diketahui sesuatu yang lain. Allah Swt. menjadikan haji ini sebagai pertanda, sebagai alamat tentang kerendahan manusia di hadapan kebesaran- Nya. “Kemudian mereka tunduk karena keagungan-Nya. Allah telah memilih dari makhluknya.” Orang yang bisa berangkat haji itu adalah manusia-manusia pilihan Allah Swt. Karena itu, kalau sudah terpilih menjadi peserta ibadah haji, termasuk dosa besar apabila kita menghindari pilihan itu. Allah sudah memilihnya tetapi kita malah menghindarinya, hanya karena urusan duniawi semata. Dalam sebuah hadits disebutkan, kalau orang sudah dipilih Tuhan untuk berangkat haji, kemudian dia tidak berangkat karena urusan dunia yang harus diselesaikannya, maka dia tidak akan menyelesaikan urusan dunianya itu sebelum seluruh jamaah haji pulang ke tanah air. Ketika Rasulullah Saw. membaca ayat, “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar),” (QS. Al- Isra’ : 72). Para sahabat bertanya, “Siapa itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang suka menangguh-nangguhkan ibadah haji.” Sudah ada uangnya tetapi dia tangguhkan terus karena kesibukannya. Yang seperti itu adalah orang yang buta di dunia ini dan di akhirat juga akan buta dan termasuk orang- orang yang rugi. Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang tidak mau menunaikan haji dan menangguh-nangguhkan hajinya, padahal dia sudah mampu, dia boleh mati sebagai Yahudi atau Nasrani.” Maka, dalam khutbahnya ini, Imam ‘Ali menggunakan kata, “Allah sudah memilih di antara makhluk-Nya, orang-orang yang mau mendengar panggilan-Nya.” Ada sebuah hadits juga, dulu Nabi Ibrahim itu memanggil manusia untuk datang ke Kabah. Setelah Nabi Ibrahim menitipkan anaknya di depan Kabah, meninggalkan istrinya di situ, ia pun naik ke puncak bukit, lalu berdoa, di antara doanya, “Ya Allah, jadikanlah hati manusia terpaut ke tempat ini. Jadikanlah hati manusia selalu rindu ke tempat ini.” Menurut riwayat, panggilan Nabi Ibrahim ini dijawab oleh calon-calon manusia yang masih berada di alam dzar (Primordial). Mereka inilah yang kemudian mendapat kesempatan untuk berangkat haji. Sesungguhnya, jamaah haji itu mengikuti jejak para nabi sebelumnya. Di sekitar Kabah terdapat kuburan lebih dari tiga ratus nabi sepanjang sejarah. Para jamaah haji berhenti di tempat berhentinya para nabi. Para jamaah haji menyerupai para malaikat yang thawaf mengelilingi ‘Arasy sebagaimana para malaikat berputar mengelilingi ‘Arasy Allah. Katanya, putaran jamaah haji itu yang berlawanan dengan arah jarum jam— adalah putaran para malaikat di ‘Arasy, juga putaran seluruh benda di alam semesta ini. Bumi kita mengelilingi matahari seperti gerakan thawaf, bertentangan dengan arah jarum jam. Bulan pun mengelilingi bumi seperti gerakan thawaf. Itulah sebabnya, apabila sedang thawaf mengelilingi Kabah, saya selalu membayangkan para malaikat berkeliling di sekitar ‘Arasy, lalu membayangkan seluruh alam semesta berkeliling dalam satu aturan yang sama. Dalam kondisi demikian, bulu kuduk saya biasanya langsung berdiri dan saya pun tidak kuasa lagi menahan jatuhnya butir-butir air mata. Seperti itulah, jamaah haji menggabungkan diri dengan seluruh alam semesta untuk tunduk dihadapan kebesaran Allah Swt. Sebagaimana digambarkan oleh Imam ‘Ali, “Mereka mengumpulkan pahala keberuntungan dalam perniagaan ibadah mereka.” Dalam komentar Nahjul Balaghah, Ibnu Abi Al-Hadidi menceritakan tentang keutamaan Baitullah, Kabah, dan keutamaan ibadah haji, untuk menunjukkan berbagai pahala yang akan kita dapatkan di dalamnya. Pernah, kepada Rasulullah Saw. datang seseorang yang bernasib malang. la kehilangan kesempatan untuk ikut serta berhaji bersama Rasulullah, “Wahai Nabi, saya ini ketinggalan ibadah haji. Saya tidak jadi beribadah haji tahun ini. Sebutkan berapa ganti yang harus saya keluarkan untuk menebus dosa saya ini karena tidak bisa haji, sehingga saya bisa mendapatkan pahala yang sama seperti pahala ibadah haji? Berapa yang harus saya keluarkan untuk menebus itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Coba perhatikan oleh kamu bukit Abi Qubays itu ̶ yang hampir menutupi setengah kota Makkah. Andai bukit Abi Qubays itu terdiri dari emas merah yang sangat mahal harganya, kemudian kamu infaqkan senilai bukit emas Abi Qubays itu, kamu tidak akan bisa menandingi besarnya pahala ibadah haji.” Imam ‘Ali kemudian melanjutkan, “Allah jadikan ibadah haji ini sebagai tanda keIslaman seseorang dan juga sebagai tempat bernaung bagi orang yang mencari perlindungan. Allah wajibkan hak-Nya lalu Allah tetapkan hajinya.” Karena itu, Allah Swt. berfirman, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), sesungguhnya Allah Mahakaya dari semesta alam,” (QS. Ali Imran :97). Hal paling utama dari ibadah haji adalah, bahwa tujuannya satu, yaitu untuk Allah saja, bukan untuk tujuan-tujuan lain. Karena itu, kita tidak boleh berangkat haji sebagai sampingan, harus semata-mata karena Allah. Saya pernah mendengar cerita dari seorang Iran, Dr. Muwahidi. Dia bercerita tentang seorang ulama saleh. Ketika itu, ia akan berziarah ke Masyhad. Ia memberi tahu ibunya bahwa ia mau berziarah ke pusara Imam ‘Ali Ridho. Ibunya mengatakan kalau di Masyhad itu ada sejenis alat kesenian tradisional, dan ia menginginkannya sebagai oleh-oleh dari Masyhad. “Tolong sambil berangkat ke sana, belikanlah satu sebagai hadiah.” Akhirnya, ulama ini pergi. Ia membeli pesanan khusus itu, dan tidak lama kemudian pulang lagi. Ibunya bertanya, “Mengapa begitu cepatnya engkau kembali?’ Dia menjawab, “Kepergian saya ke Masyhad itu hanya untuk membeli pesanan ibu. Saya tidak ingin berziarah ke Masyhad sambil membeli pesanan ibu.” Lalu, dia pergi lagi ke Masyhad untuk berziarah saja bukan untuk hal yang lainnya. Artinya, kalau orang mau beribadah haji, tujuan utamanya itu harus untuk Allah Swt. semata. Tidak boleh ada tujuan yang lain. Ketika saya dan istri berniat melaksanakan haji (pertama kali untuk istri saya), saya diundang ke London untuk menghadiri sebuah konferensi. Lalu saya pikir, sambil menghadiri konferensi itu, saya pun berniat untuk beribadah haji. Jadi, ibadah hajinya itu sampingan saja, tujuan utamanya adalah pergi ke London. Ternyata, di London saya tidak berhasil memperoleh visa. Kemudian, saya pergi ke Belanda. Anehnya, di sana pun saya tidak berhasil mendapatkan visa, hingga akhirnya saya pulang ke Indonesia. Rupanya Allah Swt. tidak menyukai orang yang menjadikan hajinya sebagai ibadah sambilan. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
WASIAT NABI SAW. DI MINAJune 14, 2024Pagi ini, ketika kita berkumpul di sini, saudara-saudara kita yang melaksanakan haji sekarang sedang berkumpul di Mina. Seandainya Allah membukakan kepada kita pemandangan di Mina, kita akan menyaksikan jutaan kaum Muslim sedang berdesakan di sekitar Jumrah Al-‘Aqabah. Kita akan mendengar gemuruh takbir mereka ketika tangan-tangan mereka menghujani lingkaran kecil Jumrah dengan bebatuan. Kita akan melihat sebagian jamaah yang kita kenal melepaskan diri dari impitan manusia. Selesai melempar, kemudian berpelukan dengan pipi yang basah oleh air mata. Rombongan demi rombongan kita saksikan datang dan pergi. Sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke Makkah untuk melakukan thawaf ifâdhah; sebagian ada yang beristirahat di kemah mereka; sebagian ada yang pergi ke tempat penyembelihan; dan sebagian lagi ada yang ziarah ke Masjid Al-Khaif. Seribu empat ratus tahun yang lalu, pada hari yang sama, jamaah Muslim yang pertama kumpul juga di situ. Bila Allah Swt. mengembalikan kita ke zaman itu, kita akan melihat Sayyid Al-Anâm, Junjungan Alam, Muhammad Saw. berada di atas untanya, Al-Qashwa. Bilal dan Usamah memegang kendalinya. Unta itu berjalan perlahan-lahan menuju Jamarat. Setelah melempar, para sahabat berdesakan menemui Nabi Saw. “Ya Rasulullah, saya akan melempar dulu, baru kemudian menyembelih,” kata seorang sahabat. Dengan senyum dan keramahan yang tidak pernah lepas dari wajahnya, Nabi menjawab, “ La haraj-Tidak apa-apa!” Yang lain berkata, “Ya Rasulullah, saya a akan menyembelih dulu, baru kemudian melempar Jumrah.” “Lâ haraj,” jawab Nabi. Yang lain menyela, “Ya Rasulullah, saya bercukur dulu, baru melempar.” Puluhan orang mengajukan cara yang mudah mereka lakukan, dan Nabi selalu menjawab, “Lâ haraj.” Kita akan melihat Nabi yang mulia mencukur rambutnya. Para sahabat berdesakan untuk memperebutkan lembar demi lembar dari rambut yang suci. Kita menyaksikan Abu Thalhah Al-Anshari membagikan rambut Nabi, sehelai demi sehelai. Setelah berimpitan dan berjuang, Khalid bin Walid berhasil memperoleh selembar dan menyimpannya di pecinya. Sesudah itu, kita melihat Rasulullah Saw. menuju Masjid Al-Khaif. Dia memandang ribuan jamaah yang mengitarinya. Bibirnya yang kudus bergerak menyebutkan pujian kepada Allah. Dia menyampaikan khutbah, “Wahai manusia, dengarkan penjelasanku baik-baik, karena aku tidak tahu apakah aku masih berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini pada tahun yang akan datang.” Suaranya bergetar. Para sahabat mencoba menahan tangisan yang mulai tertahan di tenggorokan mereka. “Apakah aku sudah menyampaikan risalah Tuhanku kepada kalian?” serentak terdengar gemuruh jawaban yang sama, “Benar. Engkau sudah menyampaikannya kepada kami.” “Allâhumma isyhad. Ya Allah, saksikanlah!” Sebagian sahabat sudah tidak sanggup lagi menahan tangisan mereka. Mereka mengetahui bahwa tugas Nabi sudah berakhir. Ini berarti, sebentar lagi manusia yang paling mereka cintai akan meninggalkan mereka; sebentar lagi wajah agung itu akan hilang dari pandangan mereka; sebentar lagi sorot mata yang penuh kasih sayang itu akan tertutup. “Wahai manusia,” begitu kata Nabi selanjutnya, “hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Tahukah kalian hari apakah sekarang ini (Ayyu yaumin hâdzâ)?” “Hari yang suci (Yaumun haram).” “Negeri apakah ini (Ayyu baladin hâdzâ)?” “Negeri yang suci (Baladun haram).” “Bulan apakah ini (Fa ayyu syahrin hâdzâ)?” “Bulan yang suci (Syahrun haram).” “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian sama sucinya seperti hari ini, di negeri ini, pada bulan ini. Sesungguh nya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semua Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian (Hal ballaghtu)?” Suara gemuruh terdengar lagi, “Na’am (Benar).” Begitulah setiap kali Nabi menyampaikan satu bagian (maqtha) nasihatnya, beliau mengakhirinya dengan “hal ballaghtu“, dan sahabat-sahabatnya menjawab serentak “na’am“. Setiap beliau memulai bagian nasihatnya, beliau berkata, “Simaklah pembicaraanku, kalian akan memperoleh manfaat sesudah aku tiada. Pahamilah baik-baik supaya kalian memperoleh kemenangan (Ihfazhû qauli tantafi’u bihî ba’di, wafhamûh, tanasyu).” Dalam sejarah Islam, khutbah Nabi di Masjid Al-Khaif sering disebut sebagai khutbah haji wada’ (khutbah haji perpisahan). Seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw., setelah khutbah itu, bahwa beberapa hari kemudian beliau berangkat menemui Allah. Nabi tidak pernah haji lagi setelah itu. Beliau pergi untuk selama-lamanya. Pada hari Mina sekarang ini, marilah kita merenungkan sebagian khutbah Nabi pada haji wada itu. Pertama, Rasulullah mengingatkan kita untuk menjaga persaudaraan sesama Muslim. Darah, harta, dan kehormatan kaum Muslim tidak boleh diganggu. Kita dilarang melukai sesama Muslim, dilarang mengambil hartanya dengan cara yang haram, dan dilarang menghina, memfitnah, mencemoohkan, dan hal-hal lain yang meruntuhkan kehormatannya. “Memaki seorang Muslim itu durhaka dan membunuhnya kafir,” kata Rasulullah Saw. Lalu siapakah orang Islam yang sebenarnya? “Orang Islam,” kata Rasulullah Saw., “ialah orang yang menyelamatkan orang Islam yang lain dari gangguan lidah dan tangannya.” Kedua, Nabi Saw. memperingatkan kaum Muslim untuk memelihara akidahnya. Karena kalau akidah sudah rusak, mereka akan saling membunuh. Kemudian dia berwasiat agar kita tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan Ahli Baitnya. “Janganlah kalian kembali kufur, sehingga sebagian di antara kamu menyerang sebagian yang lain. Aku tinggalkan untuk kalian dua hal yang apabila kalian pegang teguh, kalian tidak akan sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan keluargaku. Allah Yang Mahakasih dan Mahatahu telah memberitahukan kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya datang kepadaku di telaga pada Hari Kiamat. Maka, barang siapa berpegang teguh pada keduanya, mereka akan selamat; barang siapa menyalahi keduanya, mereka akan ditimpa celaka.” Ketiga, Rasulullah Saw. meriwayatkan kepada setiap suami yang Muslim untuk berlaku baik terhadap istrinya. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Hak kalian atas mereka ialah mereka (para istri) tidak boleh mengizinkan orang yang tidak kalian senangi masuk ke rumah kalian kecuali dengan izin kalian. Terlarang bagi mereka melakukan kekejian. Jika mereka berbuat keji, bolehlah kalian menahan mereka dan menjauhi tempat tidur mereka, serta memukul mereka dengan pukulan yang tidak melukai mereka. Jika mereka taat, maka kewajiban kalian adalah menjamin rezeki dan pakaian mereka sebaik-baiknya. Ketahuilah, kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian menghalalkan kehormatan mereka dengan Kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik kepada mereka.” Perhatikan, bagaimana pada saat-saat terakhir dari kehidupan beliau, Rasulullah mewasiatkan kepada para suami untuk membahagiakan istri-istri mereka. “Tidak akan memuliakan istri kecuali laki-laki yang mulia, dan tidak akan menghinakannya kecuali laki-laki yang hina.” Itulah sebagian kecil dari khutbah Rasulullah di Mina. Sungguh, kita akan membahagiakan hati Rasulullah Saw. bila kita berhasil melaksanakan wasiatnya: memelihara persaudaraan di antara kaum Muslim, berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. yang dibawa oleh keluarganya yang suci, serta menjaga kebahagiaan rumah tangga kita dengan sikap saling mencintai dan menghormati. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Haji: Manusia SejatiJune 13, 2024‘Arafah, sembilan Dzulhijjah, pada paruh kedua abad pertama Hijriah. Ratusan ribu kaum Muslim berkumpul di sekitar Jabal Rahmah, bukit kasih-sayang. Segera setelah tergelincir matahari, terdengar gemuruh suara zikir dan doa. ‘Alî bin Husayn bertanya kepada Zuhrî, “Berapa kira-kira orang yang wuquf di sini?” Zuhrî menjawab, “Saya perkirakan ada empat atau lima ratus ribu orang. Semuanya haji, menuju Allah dengan harta mereka dan memanggil-Nya dengan teriakan mereka.” Alî bin Husayn berkata, “Hai Zuhrî, sedikit sekali yang haji dan banyak sekali teriakan.” Zuhrî keheranan, “Semuanya itu haji, apakah itu sedikit?” ‘Alî menyuruh Zuhrî mendekatkan wajahnya kepadanya. Ia mengusap wajahnya dan menyuruhnya melihat ke sekelilingnya. Ia terkejut. Kini ia melihat monyet-monyet berkeliaran dengan menjerit-jerit. Hanya sedikit manusia di antara kerumunan monyet. ‘Alî mengusap wajah Zuhrî kedua kalinya. Ia menyaksikan babi-babi dan sedikit sekali manusia. Pada kali yang ketiga, ia mengamati banyaknya serigala dan sedikitnya manusia. Zuhrî berkata, “Bukti-buktimu membuat aku takut. Keajaibanmu membuat aku ngeri” (Al-Hajj fi al-Kitâb wa as- Sunnah). Berkat sentuhan orang yang salih, Zuhrî dapat melihat ̶ walaupun sejenak ̶ ke balik tubuh-tubuh mereka yang wuquf di ‘Arafah. Tuhan menyingkapkan tirai material dan pandangannya menjadi sangat tajam. Ia terkejut dan kebingungan karena begitu banyaknya orang yang tampak pada mata lahir sebagai manusia, dan pada mata batin sebagai binatang. Apakah kebanyakan kita hanyalah manusia secara majazi (kiasan) dan binatang secara hakiki? Ibadah haji adalah perjalanan manusia untuk kembali kepada fitrah kemanusiaannya. Kehidupan telah melemparkan kita dari kemanusiaan kita. Kita telah jatuh menjadi makhluk yang lebih rendah. Bukannya menjadi khalifah Allah, kita justru telah menjadi monyet, babi, dan serigala. Ketika menafsirkan firman Tuhan: Sungguh, telah Kami ciptakan manusia dalam susunan yang paling baik. Kemudian, Kami mengembalikan mereka pada yang paling rendah dari yang rendah (QS 95:4-5), Seyyed Hossein Nasr menulis, “Manusia diciptakan dalam susunan yang terbaik. Tetapi kemudian, ia jatuh pada kondisi bumi berupa perpisahan dan keterjauhan dari asal-usulnya yang ilahiah” (Sufi Essays). Dalam bahasa Jalâluddîn Rûmî, kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Ketika suara keluar, yang terdengar adalah jeritan pilu, dari pecahan bambu yang ingin kembali ke rumpunnya semula. Kita hanya akan hidup sebagai bambu sejati bila kita kembali ke tempat awal kita. Kita hanya akan menjadi manusia lagi bila kita kembali kepada Allah. Sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita kembali (QS 2:156). Para jamaah haji adalah kafilah seruling yang ingin kembali ke rumpun abadinya. Inilah rombongan binatang yang ingin kembali menjadi manusia. Ketika sampai di Miqat, mereka harus menanggalkan segala sifat kebinatangannya. Seperti ular, mereka harus mencampakkan kulit lama agar menjalani kehidupan baru. Baju-baju kebesaran, yang sering dipergunakan untuk mempertontonkan kepongahan, harus dilepaskan. Lambang-lambang status, yang sering dipakai untuk memperoleh perlakuan istimewa, harus dikubur dalam lubang bumi. Sebagai gantinya, mereka memakai kain kafan, pakaian seragam yang akan dibawanya nanti ketika kembali ke “kampung halaman.” Di Miqat, jamaah haji menanggalkan intrik-intrik monyet, kerakusan babi, dan kepongahan serigala. Mereka harus menjadi manusia lagi. Manusia ialah makhluk yang secara potensial mampu menyerap seluruh asma Allah. Di Miqat, setelah membersihkan diri dari kotoran-kotoran masa lalunya, seorang haji keluar lagi seperti anak kecil yang baru dikeluarkan dari perut ibunya: suci dan telanjang. Perlahan-lahan ia mengenakan pakaian kesucian, kejujuran, kerendahan hati, dan pengabdian. Dengan wajah yang diarahkan ke Rumah Tuhan, dengan hati yang sudah dibersihkan dengan tobat yang tulus, ia berkata, “Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu.” Di Rumah Tuhan, para haji memperbarui baiat mereka dengan mencium Hajar Aswad. Mereka berputar bersama para malaikat di sekitar Arasy, menandakan keterikatan kemanusiaan mereka dengan ketuhanan. Di ‘Arafah, seruling-seruling itu sudah menyatu dengan rumpun bambunya. Al-Hajj Arafah. Di Arafah itulah haji. Di situlah bergabung semua manusia dalam kedalaman lautan ketunggalan Tuhan (fi lujjah bahr ‘ahadiyyatih). Berapa banyakkah di antara jutaan orang yang beruntung dapat berhimpun di ‘Arafah adalah haji ̶ manusia yang sudah kembali kepada Tuhannya? Berapa besarkah di antara mereka yang kumpul di ‘Arafah tahun ini yang sudah meninggalkan selama-lamanya sifat-sifat kebinatangannya dan sebagai gantinya menyerap rahman-rahimnya Allah? Kita tidak tahu. Dahulu, ketika umat Islam masih belum mendunia, hanya sedikit yang haji. Dalam pandangan Zuhrî, kebanyakan masih bertahan dalam kebinatangan mereka. Kini, kita berdoa, mudah-mudahan mereka semua menjadi haji yang mabrur ̶ yakni manusia sejati yang tubuhnya menapak di bumi, tetapi ruhnya bergantung ke Arasy Tuhan. Ketika mereka kembali ke tanah airnya, mudah-mudahan mereka menyebarkan berkah ke sekitarnya. Ketulusan hati mereka menusuk jantung orang-orang munafik. Air zamzam yang mereka bawa menjadi tetes-tetes mukjizat yang mengubah monyet yang licik menjadi manusia yang jujur. Kesucian batin mereka menghantam kepala para pecinta dunia. Air mata mereka keluar membersihkan babi-babi yang serakah dan mengubahnya menjadi manusia yang dermawan. Akhirnya, kerendahan hati mereka menghantam kepala para tiran pemuja kekuasaan. Cahaya wajah yang sudah disinari Ka’bah mematahkan leher serigala yang pongah dan mengubahnya menjadi manusia yang penuh kearifan dan kasih sayang. Betapa perlunya negeri ini dengan kehadiran para haji! JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Haji MabrurJune 12, 2024“Dan ibadah haji ke Rumah itu wajib bagi manusia karena Allah (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan kesana” ( Ali Imran 96). Apakah ukuran mampu itu? Para sahabat Nabi SAW. Menyebutkan dua: ada bekal dan kendaraan. Tetapi Al-Dhahak, ulama besar yang pernah berguru kepada sahabat, hanya mensyaratkan tubuh yang sehat dan tenaga. Bila perlu, berangkatlah ke Baitullah walaupun berjalan kaki. Sepanjang sejarah bekal dan kendaraan tidak menjadi keharusan. Ribuan muslim dari Afrika, Yaman, dan Negara-negara Timur-Tengah lainnya berangkat ke Mekah dengan berjalan kaki. Mereka tidur disekitar Masjidilharam, hanya dinaungi langit Hijaz yang tak berwarna. Burung-burung merpati melompat-lompat di samping kepala mereka. Rambut mereka berdebu, dan pakaian mereka lusuh. Tetapi barangkali merekalah yang menurut sebuah hadits di seru Tuhan pada hari Arafah, “ Hamba-hambaku datang kepadaku dengan rambut kusut dan pakaian lusuh dari sudut-sudut negeri yang jauh. Berangkatlah, wahai, hamba-hambaku, dengan ampunan-KU atasmu.” Mereka berseedia berangkat tanpa bekal yang cukup dan siap menderita untuk memperoleh ampunan Allah. Di Indonesia, banyak orang beruntung naik haji juga tanpa mempersiapkan bekal. Mereka diberi bekal dan tidak menderita. Ada lima jenis haji dalam kelompok ini. Jenis pertama adalah orang yang beruntung naik haji karena ditunjuk pemerintah untuk menjadi anggota tim pembimbing haji atau petugas yang melayani kepentingan jemaah. Orang – orang yang tidak kebagian jatah biasanya menyebut mereka itu “haji nurdin kosasih”- nutur dinas ongkos dikasih. Jenis kedua sebut saja haji getter. Mirip vote getter dalam pemilu. Mereka adalah tokoh umat Islam yang dipilih oleh perusahan ONH plus untuk menarik “konsumen” (Resminya, untuk menyertai dan membimbing jemaah) . jenis ketiga adalah “ haji bonus”. Mereka dapat naik haji karena memenangkan perlombaan (misalnya juara MTQ ) atau hadiah perusahaan atau bank. Jenis keempat adalah haji “rekanan”. Anda memegang jabatan yang basah. Rekan Anda telah mendapat fasilitas yang menguntungkan dari Anda. Ia menyampaikan terima kasihnya dengan memberi Anda bekal naik haji- kalau perlu, berikut keluarga Anda. Jenis yang terakhir adalah yang paling beruntung- “ haji bisnis”. Mereka adalah penyelenggara bisnis haji. Mereka berangkat ke Mekah, melakukan ibadah haji, dan memperoleh keuntungan. Mereka sudah jelas mendapatkan fiddunya hasanah dan mudah- mudahan fil akhirati hasanah juga. Apakah mereka termasuk kategori orang –orang yang mampu? Tentu saja. Kemampuan sekarang harus didefinisikan kembali. Anda sudah mampu bila Anda dapat sampai ke Tanah Suci dengan cara apa saja yang halal. Manakah yang mabrur-yang mempersiapkan bekal atau yang diberi bekal? Yang berjalan kaki atau berkendaraan, yang mendapat ratusan juta dari pembebasan tanah atau yang menabung puluhan tahun, yang memanfaatkan peluang sebagai TKI (TKW) di Arab Saudi atau yang datang ke sana dengan penerbangan regular dari mancanegara, yang tinggal di hotel Aziz Khogeer yang megah atau yang berdesakan di kamar rumah-rumah kumuh di Syi’b Ali? Mabrurnya haji tak diukur dari cara memperoleh bekal, tidak dari tempat tinggal, tidak juga dari tingkat kepayahan. Haji adalah perjalanan rohani dari rumah-rumah yang selama ini mengungkung mereka menuju Rumah Tuhan. Haji yang mabrur adalah haji yang berhaasil mencampakkan sifat- sifat hewaniah dan menyerap sifat-sifat robaniah( ketuhanan). Ketika Abu Bashir terpesona mendengarkan gemuruh zikir orang-orang tawaf, Imam ja’far As- Shadiq mengusap wajahnya. Ia terkejut karena ia kemudian menyaksikan banyak sekali binatang di sekitar Baitullah. Ia sadar bahwa zikir saja tidak cukup untuk mabrur. Diperlukan trasformasi spiritual. Kepada Asy-Syibli yang baru kembali dari menunaikan ibadah haji, Imam Zainal Abidin – sufi besar dari keluarga Nabi bertanya, “Ketika engkau sampai di miqat dan menanggal pakaian berjahit, apakah engkau berniat meniggalkan pakaian kemaksiatan dan mulai mengenakan busana ketaatan? Apakah engkau tanggalkan riya (suka pamer), kemunafikan, dan Syubhat? Ketika engkau berihram apakah engkau bertekad mengharamkan atas dirimu semua yang diharamkan Allah SWT? Ketika engkau menuju Mekah apakah engkau berniat untuk berjalan menuju Allah dan ketika engkau memasuki Masjidil Haram apakah engkau berniat untuk menghormati hak-hak orang lain dan tidak akan menggunjingkan sesama umat Islam? Ketika engkau sa’i apakah engkau merasa sedang lari menuju Tuhan diantara cemas dan harap? Ketika engkau wukuf di Arafah adakah engkau merasakan bahwa Allah mengetahui segala kejahatan yang kau sembunyikan dalam hatimu? Ketika engkau berangkat ke Mina apakah engkau bertekad untuk tidak mengganggu orang lain dengan lidahmu, tanganmu dan hatimu? Dan ketika engkau melempar Jumrah, Apakah engkau berniat memerangi iblis dalam sisa hidupmu? “ Ketika untuk semua pertanyaan itu Asy- Syibli menjawab tidak, Imam Zainal Abidin mengeluh, “ Ah… engkau belum ke miqat, belum ihram, belum tawaf, belum sa’i, belum wukuf, dan belum sampai ke Mina.” Asy- Syibli menangis. Pada tahun berikutnya ia berniat merevisi manasik hajinya. Dalam manasik keluarga Nabi, yang menjadi persoalan bukan lagi kemampuan untuk mendapat bekal dan kendaraan tetapi kesanggupan meninggalkan rumah-rumah kita yang kotor supaya bisa beristirahat di Rumah Allah yang suci. Bila berhasil, Anda Mabrur. JR *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Haji Bukan Hanya DzikirJune 12, 2024Pada tahu keenam hijrah, Nabi Muhammad SAW. Bermaksud melakukan ibadah haji. Jamaah haji yang pertama ini berhenti di Hudaibiyah untuk memulai ihram. Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Walupun Nabi menegaskan kedatangannya hanya untuk berhaji, berat bagi mereka untuk menyaksikan seorang warga yang pernah diusir datang dengan segala kebesaran. Mereka memandang, haji Nabi bukan sekadar ritual tapi politis. Melihat permusuhan yang diperlihatkan orang Mekkah, Nabi mengadakan taklimat kilat. Para sahabat bersumpah setia untuk membela Nabi. Suatu komitmen politik yang penting. Sumpah setia ini dikenal sebagai Bay’atu Ridhwan. Ketegangan antara kedua belah pihak berakhir ketika Rasul Allah membuat Perjanjian Hudaibiyah. Setahun kemudan, sesuai dengan perjanjian itu, Nabi sekali lagi datang untuk melakukan umrah. Penduduk mekkah menyingkir ke bukit-bukit sambil mengintip, apa yang bakal dilakukan umat islam. Setelah perjalanan jauh, tentu saja para sahabat memasuki Mekkah dalam keadaan lelah. Tetapi, Nabi menyuruh sahabat tawaf sambil berlari. Ketika sa’i, diantara kedua titik yang ditandai dengan tiang hijau yang dahulu kelihatan jelas oleh “penonton” dari balik bukit, para sahabat disuruh berlari juga. Nabi ingin menunjukkan kekuatan umat islam. Semacam “show of force”. Setahun setelah itu, Rasulullah dan pengikutnya memang berhasil menaklukkan Mekkah tanpa perlawanan yang berarti. Apa yang dilakukannya pada umrah al-Qadha, telah berdampak politik yang besar. Pada tahun 10 H, Nabi Muhammad SAW melakukan ibadah haji akbar. Karena haji ini haji yang terakhir, ahli sejarah menyebutnya haji wada. Di Arafah, Nabi berkhotbah juga khotbah perpisahan. Apa yang dikatakan Nabi dalam khotbah itu? Sama sekali tidak berkenaan dengan ibadah ritual. Nabi memulai khotbahnya dengan menekankan kewajiban menghormati darah dan kehormatan seseorang. Sekarang, kita menyebutnya masalah hak asai manusia. Nabi meminta perhatian jamaah haji pada system ekonomi jahiliyah yang tidak adil yang diwujudkan pada praktek riba. Nabi juga berbicara tentang hak-hak wanita dan berpesan pada kaum mukmin untuk melindungi dan menghormati mereka. jadi, khotbah Nabi berkenaan dengan persoalan politik, ekonomi, dan sosial. Di Mina, pada hari penyembelihan kurban, turun ayat “Baraah”, artinya dekrit pembebasan dari ketergantungan kepada kaum musyrik. Baraah adalah proklamasi kemerdekaan tanah suci. Di sana di bukit Mina, Ali bin Abi Thalib berdiri menyampaikan dekrit Nabi yang berisi antara lain: orang musyrik tidak boleh mendekati Baitullah, tidak boleh tawaf sambil telanjang, dan setiap perjanjian harus dipenuhi. Ali juga membacakan ayat Baraah: Dan pengumuman dari Allah dan utusan-Nya kepada manusia pada waktu haji akbar bahwa Allah berlepas diri dari kaum musyrik; begitu pula utusan-Nya… (QS 9:3) Tradisi ini dilanjutkan oleh para sahabat sepeninggal Nabi. Umar bin khatab memanggil Amr bin Ash –gubernur Mesir ̶ pada musim haji dan memintanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anaknya. Seorang warga mesir mengadu kepada khalifah bahwa anak Amr telah menjebloskannya ke penjara. Umar menghukum anak gubernur dengan cambukan di hadapan para jamaah haji. Waktu itu, Umar berkata, “hai Amr, mengapa engkau memperbudak manusia padahal ibunya telah melahirkannya sebagai orang merdeka.” Utsman bin Affan pernah mengirim surat ke raja daerah kekuasaan islam. Ia mengimbau rakyat untuk mengadukan segala perilaku birokrat yang merugikan rakyat.” Bila ada yang pernah dicacimaki atau dianiaya.” Tulislah dan, “datanglah pada musim haji supaya ia dapat mengambil haknya dari aku dan dari para pejabatku.” Mengomentari kedua khalifah itu, Dr. Baidhawi dalam Al-Ibadah fi al-islami menulis, “para khalifah menyadari nilai musim haji internasional ini. Mereka jadikan haji sebagai tempat pertemuan antara mereka dan rakyat yang datang dari sudut-sudut negeri yang jauh; antara mereka dan para pejabat mereka dari berbagai daerah. Bila ada orang yang tertindas atau ingin mengadukan halnya, ia dapat menemui khalifah tanpa perantara dan tanpa penghadang. Di sanalah rakyat dapat berhadapan dengan khlifah tanpa segan atau takut. Di situ, yang dianiaya dilindungi dan hak dikembalikan walaupun hal itu harus diambil dari pejabat atau bahkan khalifah”. Menurut Al Quran, memang, ibadah haji diperintahkan “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat buat mereka dan berdzikir (menyebut nama Allah) pada hari-hari yang ditentukan (Al-Haj 28). Munurut para mufasir, ayat ini menyebutkan dua dimensi yaitu dimensi manfaat dan dimensi dzikir. Thabary, tafsir klasik, menyebut manfaat itu meliputi dunia dan akhirat. Syaltut. Syaikh Al-Azhar yang terkenal, meyebut dimensi-dimensi ipoleksosbud sebagai kandungan makna “manfaat”. Pada waktu hajilah kata Syaltut, bertemu para pemikir dan ilmuwan dan para ahli lainnya, inilah konferensi umat manusia yang terbesar. Sayang, belakangan dimensi “manfaat” ini sudah diabaikan. Yang ditonjolkan –bahkan ditegaskan berkali kali untuk selalu diingat oleh para jamaah– adalah dimensi dzikir. Bila anda berangkat haji, niatkanlah hanya untuk ibadah haji. Bila anda pulang, pengalaman rohani sajalah yang harus anda ceritakan. Bagian pertama ayat itu seakan-akan sudah dicoret. Pedagang Indonesia dari berbagai daerah yang berjualan disekitar Masjid Al-Haram. Sekarang tidak. Dahulu, jamaah haji berbincang tentang situasi negeri mereka dan beberapa orang diantaranya pulang kenegerinya menjadi pejuang-pejuang kemerdekaan. Sekarang tidak. Bila ada juga diskusi antara para jamaah, yang didiskusikan adalah cara-cara ritual haji; tidak jarang sambil saling menyalahkan. Untunglah itu semua terjadi pada masyarakat awam. Ketika para menteri naik haji, kita tahu mereka berbincang dengan para pejabat di Arab Saudi bukan hanya tentang haji. Ketika para pemimpin islam berkumpul di Mekkah, mereka bukan melulu merundingkan prosedur umrah dan haji. JR *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...

Buku Karya KH. Jalaluddin Rakhmat

« of 2 »

Videografi

Audiografi

UJR-MFR

“Jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun”

​KH. Jalaluddin Rakhmat
@katakangjalal

Contact Jalan Rahmat

Jl. Kampus II No. 13-15. Kiaracondong. Bandung