MAKNA KEMATIAN

Lady Di gugur; kita mendengar kabar, satu miliar manusia di seantero bumi menangis. Tujuh jenderal meninggal; jutaan manusia di seluruh negeri ini meratap setiap tahun. Tiga puluh enam mati di jalan tol; kita melihat puluhan orang menangis di depan kamera teve. Lima ratus ribu orang ibu wafat ketika melahirkan anak di seluruh dunia; hampir tak terdengar tangisan dari mana pun.

Mengapa kematian seorang Putri Wales menyebabkan sekitar satu miliar manusia menangis; tetapi wafatnya lima ratus ribu orang ibu setiap tahun tidak meneteskan air mata seorang pun? Apakah Lady Di pantas kita tangisi karena kematiannya sangat tragis, dalam kecelakaan di jalan raya? Mengapa kita tak ikut menangis untuk tiga puluh orang yang mati di jalan tol pada satu kali kecelakaan saja?

Anda akan menjawab, “Lady Di dan para jenderal adalah orang-orang besar, sedangkan penumpang bis dan ibu yang melahirkan hanyalah orang-orang biasa.” Hampir setiap hari kita melihat kecelakaan bis dengan rakyat kecil sebagai penumpangnya. Hampir setiap jam kita mendengar ibu yang melahirkan meninggal, terutama di Indonesia. Perempuan bergelar lady dapat dihitung dengan jari; Lady Di cuma satu-satunya di dunia. Tentara yang mencapai pangkat jenderal masih langka; apalagi bila jenderal itu meninggal dalam peristiwa bersejarah.

Kalau begitu, apakah kelangkaan yang membuat kematian menjadi sangat istimewa? Makin kurang orang semacam Anda, makin besar kemungkinan Anda akan ditangisi. Kelangkaan membuat kehilangan menjadi sangat terasa. Tetapi, ketahuilah, setiap hari, bahkan setiap detik, di dunia ini ada makhluk langka yang mati. Para pecinta lingkungan menyebutnya endangered species. Toh, kita tidak menyadarinya, apalagi menangisinya.

Tangisan kita atas kematian orang lain tidak ditentukan oleh istimewa atau langkanya orang itu. Yang menentukan adalah kesadaran kita sendiri. Orang mati bisa masuk menjadi objek kesadaran kita, bisa juga tidak. Ironis sekali bahwa kita bisa jadi sangat memikirkan kematian orang lain, tapi tidak pernah menghiraukan hari akhir kita sendiri.

‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku takjub melihat orang yang tertawa ketika mengantarkan jenazah. Ia tidak tahu bahwa jenazah itu akhir hidup dia juga.” Kita sering heran melihat sapi yang asyik mengunyah makanan sambil memandang kawan-kawannya disembelih satu per satu. Anehnya, kita dengan tenang dan lahap makan dan minum, padahal kawan-kawan kita dijemput malakal maut seorang demi seorang.

Kita tidak memikirkan kematian kita karena kita tidak memasukkan kematian diri kita ke dalam kesadaran kita. Dengan bantuan media, kita sadari kematian orang-orang yang jauh dari kita. Karena kematian kita tak pernah menjadi topik media, perhatian kita luput darinya. Jadi, inilah jawaban untuk pertanyaan pada awal tulisan ini: kesadaran kita akan kematian ditentukan oleh jumlah pemberitaan dalam media. Kematian Lady Di kita tangisi karena dimuat semua media besar-besaran. Sementara itu, kita cuek saja pada kematian lima ratus orang ibu di seluruh dunia karena media massa tidak memberitakannya.

Pengalaman kita sangat ditentukan olen apa yang menjadi objek kesadaran kita dan bagaimana kita memberi makna pada objek kesadaran itu. Kematian Lady Di dan para jenderal menjadi objek kesadaran kita, tetapi kematian kita sendiri tidak. Nabi Muhammad saw. menyuruh kita menjadikan kematian kita sebagai objek kesadaran. “Aku tinggalkan kepada kalian dua pemberi nasihat: yang satu bicara, yang lainnya bisu. Penasihat yang berbicara adalah Alquran dan penasihat yang bisu adalah kematian.” Alquran memperingatkan kita kepada kawannya itu: Katakanlah, sesungguhnya maut yang dari situ kamu melarikan diri, sesungguhnya ia akan menemuimu juga,… (QS 62:7)

Para psikolog menyebut kesadaran akan kematian sebagai gangguan kejiwaan —death anxiety. Para sufi menyebutnya sebagai pertanda perkembangan ruhani yang baik. Mûtû qabla an tamûtu— Matilah sebelum kamu mati. Kematian dapat membuat Anda resah dan sakit jiwa, seperti yang terjadi pada Sigmund Freud. Tetapi, kematian dapat membuat Anda bahagia dan berhati lapang seperti yang terjadi pada orang-orang salih.

Kesadaran akan kematian berakibat berbeda pada orang yang berbeda ꟷtergantung pada bagaimana orang itu memberikan makna kepadanya. Hadis menyebutkan dua macam kematian: kematian yang membuat dirinya istirahat dan kematian yang membuat orang lain istirahat. Bagi seorang Mukmin, kematian memberinya peluang untuk beristirahat di tempat yang penuh kedamaian. Kematian adalah perpindahan dari penjara ke istana. Buat pendurhaka, kematian membuat semua makhluk beristirahat dari gangguannya.

Para ahli hikmah berpesan, “Waktu Anda lahir, Anda menangis, padahal semua orang di sekitar Anda tertawa bahagia. Berkhidmatlah kepada manusia, sehingga ketika Anda mati, semua orang di sekitar Anda menangis, padahal Anda sendiri tertawa bahagia.” JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *