
Satu rombongan tawanan perang dari kabilah Thayyi’ dikumpulkan di depan pintu masjid. Di antara mereka, ada seorang perempuan yang cantik dan fasih bertutur. Ketika Nabi saw. lewat di hadapannya, ia berdiri, “Hai Muhammad, mengapa tidak kau lepaskan aku. Jangan kecewakan orang-orang Arab. Aku ini putri dari pemimpin kabilah yang berakhlak baik. Mendiang ayahku suka memerdekakan budak belian, menolong orang yang kekurangan, melindungi orang yang ketakutan, memberikan jamuan kepada tamu, mengenyangkan yang kelaparan, memberikan pekerjaan, dan membebaskan orang dari kesulitan. Aku putri Hâtim Thayyi’.” Nabi saw. bersabda, “Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak yang mulia. Tuhan juga mencintai akhlak yang mulia.” Abû Burdah berdiri, “Ya Rasulullah, apakah Tuhan memang mencintai akhlak yang mulia (siapa saja yang melakukannya)?” Nabi berkata, “Hai Abû Burdah, tak akan masuk surga seorang pun kecuali dengan akhlak yang baik.”
Yang heran dengan pernyataan Nabi saw. bukan hanya Abû Burdah. Banyak ulama yang bingung memahami hadis ini. Yang mereka bingungkan, sebenarnya, adalah di mana harus ditempatkan orang seperti Hâtim. Soalnya, tak mungkin menempatkannya di surga, karena Hatim orang kafir. Ia tak mau beriman kepada Rasulullah saw. Tetapi, tak enak juga rasanya menempatkannya di neraka, karena ia berakhlak baik. Apalagi, Nabi mencintainya juga. Beliau menghormatinya begitu luhur, sehingga beliau membebaskan anaknya hanya karena mempertimbangkan akhlaknya.
Kebingungan mereka ꟷjuga kitaꟷ bermula dari jalan pikiran yang sangat naif. Kita membagi dunia dalam dua bagian: kita orang Islam dan mereka orang kafir. Segala kebaikan ada pada kita dan segala kejahatan ada pada mereka. Surga adalah tempat kembali orang baik, dan neraka tentu saja buat orang jahat. Karena itu, kita pasti masuk surga, dan mereka pasti masuk neraka. Bila kita berakhlak jelek, kita masuk ke neraka. Itu pun sebentar saja. Kita hanya transit di sana; setelah itu, kita semua masuk surga. Adapun orang kafir, ia terbang langsung ke neraka.
Pandangan sederhana seperti ini dilukiskan oleh Alquran sebagai pandangan Yahudi. Hal itu adalah korena mereka mengaku, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.” Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan (QS 3: 24). Ketika kita melihat dunia nyata, realitas tak sesederhana itu. Kita melihat, ada sebagian orang kafir yang berakhlak baik, sebagaimana kita melihat juga, ada sebagian orang Islam berakhlak jelek. Untuk mengatasi kebingungan ini, kita menemukan beberapa solusi.
Pertama, kita memakai satu ukuran saja: akidah (atau apa yang kita sebut sebagai akidah). Dalam politik, kita memilih penguasa yang Muslim walaupun zalim ketimbang penguasa kafir yang adil. Dalam bisnis, kita mengambil mitra usaha Muslim, walaupun ia tak jujur, ketimbang orang kafir yang jujur. Dalam pekerjaan, kita mengangkat pegawai yang seagama dengan kita, walaupun ia bekerja ‘asal-asalan’ saja; kita tolak pegawai yang bekerja profesional, karena ia beragama lain. Terkadang polarisasi ini kita persempit lagi: di antara sesama Muslim. Kita mendahulukan orang Islam yang sepaham dengan kita, betapa pun jelek akhlaknya. Kita menjauhi orang Islam yang berbeda mazhab dengan kita, betapa pun baik akhlaknya.
Kedua, kita mencari pembenaran untuk kejelekan akhlak kita; sekaligus mencari motif tersembunyi (ulterior motive) untuk kebaikan akhlak orang lain. Dengan kata lain, kita berprasangka baik bila melihat orang Islam yang jahat. Kita mengembangkan prasangka buruk bila menyaksikan orang kafir yang beramal baik. Diberitakan, bahwa si Fulan banyak melakukan korupsi. Kita segera membelanya dengan mengatakan, bahwa dia juga banyak berderma. Fulanah banyak merampas hak orang lain, tetapi bukankah ia juga banyak berzikir dan berulang-ulang naik haji. Insya Allah, ibadahnya akan menghapuskan segala kejelekannya.
Disampaikan kepada kita, kisah seorang tokoh agama lain yang hidup di tengah orang-orang yang menderita. Ia menajamkan empatinya dengan belajar hidup seperti mereka. Ia mengumpulkan anak-anak terlantar di pinggir jalan. Ia memberikan makanan kepada orang yang lapar, perlindungan kepada orang yang ketakutan, rumah kepada gelandangan, dan perhatian kepada orang pinggiran. Kita segera memberikan reaksi berupa kecurigaan. Mungkin ia mempunyai motif tersembunyi. Di balik kebaikannya, ia menyimpan niat jahat. Kebaikannya hanyalah jebakan licik untuk menjerat orang yang lengah. Jangan-jangan ia adalah “aktor intelektual” di belakang semua tindakan kejahatan di dunia ini. Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu berjuang karena Allah dengan menjadi saksi-saksi keadilan. Dan janganlah kebencian kamu kepada satu kaum menyebabkan kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan takwa. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS 5:8).
Berlaku adil artinya tidak menggunakan standar ganda. Katakanlah yang jahat itu jahat, walaupun dilakukan oleh kawan-kawan kita. Sebutlah yang baik itu baik, sekalipun dipraktikkan oleh musuh-musuh kita. Disampaikan kepada Nabi saw., seorang Islam yang menghabiskan malam dalam ibadat dan siang dalam puasa. Hanya saja ia suka menyakiti tetangganya. Beliau berkata, “Ia di neraka.” Ketika beliau mendengar kebaikan Hatim yang kafir dari anaknya, beliau berkata, “Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak yang mulia. Tuhan juga mencintai akhlak yang mulia.”
Ya Rasulullah, berikan kami setetes keadilanmu, agar kami tak bingung menilai orang-orang di sekitar kami. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).