
Orang Qazwin mempunyai kebiasaan merajah tubuhnya sebelum memasuki masa dewasa. Salah seorang di antara mereka datang kepada tukang tato. “Rajahlah bagiku seekor singa yang garang. Leo bintangku. Gambarlah sebagus-bagusnya. Sebarkan warna biru di atasnya.” “Di mana saya harus merajah Anda?” “Rajahlah pada bahuku yang bidang. Biarkan nanti wajah singa menyeringai garang dari sana.” Mulailah tukang tato menusukkan jarum-jarumnya. Rasa sakit mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Pahlawan kita menjerit kesakitan, “Kamu membunuhku. Makhluk apa yang sedang kamu lukis?” “Seperti pesanan Anda, saya sedang melukis singa.” “Maksudku, bagian tubuh singa yang mana?” “Saya sedang melukis ekornya.” “Hentikan, Kawan. Ekor singa itu hampir menghentikan napasku. Lukis saja singa tanpa ekor?” Tak lama kemudian, tangan perajah mulai bermain lagi. Sekali lagi yang dirajah mengerang kesakitan. “Anggota badan singa yang mana yang sedang kamu lukis?” Perajah segera menghentikan tusukan jarum. “Saya sedang melukis telinga singa.” Orang Qazwin berteriak, “Biarkan singaku tanpa telinga. Pendekkan juga rumbai-rumbainya.” Perajah meneruskan pekerjaannya. Dan kembali si Qazwin melolong kesakitan. “Apa yang sedang kamu buat?” tanya orang Qazwin. “Saya sedang menggambar perut singa,” jawab perajah. “Hentikan. Aku ingin singa yang tidak punya perut.” Perajah tidak sabar lagi. Ia melemparkan jarum-jarumnya. “Tidak pernah ada orang seperti ini. Di mana ada singa tanpa ekor, tanpa kepala, dan tanpa perut? Tuhan pun tak menciptakan singa seperti itu.”
Saya selalu terpesona dengan kisah-kisah yang dituturkan Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-nya. Seperti kebiasaannya, Rumi mengakhiri cerita dengan nasihat. Kisah ini mengajarkan keharusan kita untuk menerima penderitaan ketika kita harus meninggalkan ego (nafs) kita. Saya senang memperluas makna cerita Rumi pada segala bidang kehidupan.
Anda boleh jadi sedang membangun rumah. Anda harus mengeluarkan duit banyak. Secara ekonomis, Anda menjerit. Mungkin Anda akan berkata kepada kontraktor Anda, “Pintu itu terlalu mahal. Buatkan rumah bagiku tanpa pintu. Lantai itu terlalu tinggi harganya. Bikin saja rumah tanpa lantai. Harga atap dan genting juga terlalu berat. Bangunkan rumah tanpa atap.” Kontraktor Anda akan tersenyum, “Rumah seperti apa yang harus dibangun tanpa pintu, tanpa lantai, tanpa atap, dan tanpa dinding!”
Atau, Anda sedang melakukan tawar-menawar yang bersifat politik. Anda ditawari untuk menduduki jabatan, tetapi Anda tidak boleh bertindak dan mengambil keputusan tanpa seizin atasan. Anda tidak boleh mempertanyakan perbuatan bos Anda, walaupun jelas-jelas tindakan itu menghancurkan bangsa dan negara. Anda harus menutup mata dari segala penyimpangan yang terjadi di sekitar Anda. Akhirnya, Anda hanyalah seorang pembantu mirip robot yang bergerak sepenuhnya berdasarkan petunjuk orang yang memberi jabatan kepada Anda. Bila Anda menerima jabatan itu, padahal banyak wewenang Anda dipreteli, Anda sebetulnya lebih foolish dari tukang rajah atau kontraktor rumah Anda. Jabatan Anda sebetulnya gambar singa yang mengenaskan: tanpa kepala, tanpa telinga, tanpa perut, tanpa ekor. Anda menduga gambar itu membuat orang takut. Padahal, orang yang melihatnya justru jatuh iba kepada Anda.
Kepada Anda perlu disampaikan tawaran Iqbal, sang penyair dari Lahore itu: “Pilihlah perut atau hati.” Bila Anda memilih perut, sebagian besar bangsa ini akan bergabung dengan Anda. Percayalah, bila Anda memilih hati, para malaikat akan turun menyertai Anda. Orang-orang yang berkata Pelindungku Allah kemudian berlaku lurus, para malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, “Janganlah kalian takut, janganlah kalian berduka. Bergembiralah dengan sorga yang telah dijanjikan kepada kalian. Kamilah pelindung kalian dalam kehidupan dunia ini dan pada hari akhirat nanti. Di situlah, kalian memperoleh apa yang kalian inginkan” (QS 41:30). JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).