The Corporate Mystic

Mistikus adalah orang yang berusaha membersihkan batinnya sehingga memperoleh pengetahuan dan kenikmatan rohaniah. Ia lebih banyak berpegang pada intuisinya ketimbang rasionya. Ia lebih mendengar hati nuraninya daripada akalnya. Mistikus adalah istilah umum untuk orang yang disebut sufi dalam Islam.

Dahulu kita mencari seorang mistikus di dalam gua, di gereja tua, di sudut mesjid, atau di wihara. Kini, mistikus sejati dapat kita temui di kantor-kantor perusahaan di kota-kota besar. Paling tidak, begitu kata Guy Hendricks dan Kate Ludemann dalam The Corporate Mystic. “Perusahan dipenuhi para mistikus. Jika Anda ingin berjumpa dengan mistikus sejati, Anda akan lebih mungkin menemukan mereka di ruang direksi daripada di biara atau katedral. Anda terkejut dengan pernyataan ini? Kami juga begitu, dulu. Tetapi, selama lebih dari dua puluh lima tahun lalu, kami sudah mendatangi ruang direksi dan katedral. Kami telah menemukan bahwa mistikus yang paling baik —yakni yang mengamalkan apa yang mereka khotbahkan— dapat ditemukan di dunia bisnis. Kami kini yakin bahwa kualitas manusia yang luar biasa ini, dan prinsip-prinsip hidup mereka, akan menjadi daya pembimbing untuk perusahaan di abad kedua puluh satu.”

Telah lahir makhluk baru: mistikus perusahaan. Inilah para pemimpin organisasi— sejak yayasan, perusahaan, ormas, sampai ke negara— yang akan berhasil memimpin umat manusia pada milenium ketiga. Mereka mempunyai prinsip hidup yang diwariskan oleh “orang-orang suci” sepanjang zaman. Buku The Corporate Mystic menguraikan prinsip-prinsip itu secara sederhana. “If you want to lead your enterprise into the twenty first century, read this powerful book,” kata Ken Blanchard, salah seorang penulis The One Minute Manager.

Setiap pemimpin mesti berkomunikasi. Inilah salah satu prinsip komunikasi corporate mystic: janganlah berbohong. Dengan bohong, Anda kehilangan kekuatan komunikasi Anda, karena Anda tidak berbicara sepenuh hati. Secara samar-samar, orang lain mendeteksi kebohongan ini. Tanpa disengaja, mereka tidak akan mendengarkan Anda. Seorang pemimpin perusahaan berkata, “Saya sadar, bila orang-orang tidak mendengarkan saya, biasanya itu karena saya tidak menyampaikan kebenaran.”

Jika Anda menyampaikan kebenaran, orang pasti mendengarkan Anda. Bagaimana jika orang mendengarkan kebohongan Anda, karena keterampilan Anda dalam melakukan rekayasa atau manipulasi? Secara etis, Anda telah mengkhianati kepercayaan orang kepada Anda. Pada akhirnya, Anda akan mendapat serangan balik yang mematikan. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Pengkhianatan yang paling besar ialah engkau menyampaikan informasi kepada saudaramu yang mereka benarkan, padahal engkau sendiri berdusta.” (Al-Bukhârî dan Abû Dawûd).

Ketika kebohongan Anda ketahuan, Anda akan menderita kerugian yang jauh lebih besar dari keuntungan yang telah diperoleh. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Hampir tidak mungkin Anda mengembalikan kepercayaan mereka. Seperti cerita anak gembala, untuk beberapa kali orang berdatangan untuk menolong kita ketika kita berteriak bohong: harimau, harimau! Ketika harimau sebenarnya datang, teriakan kita tak diperhatikan orang lagi. Kita mati dicabik-cabik harimau, tanpa seorang pun bersedia memberikan pertolongan.

Belakangan ini, negeri kita disobek-sobek oleh “harimau” moneter yang tidak kita ketahui dari rimba yang mana. Kita mematok harga dolar pada Rp 4.000. Esok harinya harga dolar melonjak lebih dari Rp 10.000. Kita menetapkan harganya pada Rp 5.000. Segera sesudahnya, harga dolar naik sampai dua kali lipat dari harga yang ditetapkan. Kita mengadakan kampanye cinta rupiah. Di pasar masih juga kita menemukan para pemburu dolar. Kita menjelaskan berulang kali bahwa persedian sembako cukup, tetapi pasar-pasar swalayan diserbu pembeli yang panik. Kita memberikan contoh —sambil menampilkan para ulama di pentas— dengan menyumbangkan emas. Esoknya, seseorang ditangkap di kantor bea cukai karena hendak menyelundupkan 204 kg emas ke Singapura. Mengapa di Korea, rakyat dengan tulus menyumbangkan emasnya, menjual dolarnya, dan mendukung program-program pemerintah dengan spontan dan tulus? Mengapa di Indonesia, rakyat malah melakukan hal yang sebaliknya dari apa yang dikehendaki pemerintah? Mungkin karena gembala Korea hanya berteriak harimau ketika memang ada harimau. Gembala Korea itu diketahui tak pernah menipu orang hanya untuk kesenangan dirinya.

Menipu adalah konsep yang lebih luas dari berbohong. Menipu adalah ketika kita mengkomunikasikan pesan yang dimaksudkan untuk menyesatkan orang lain, atau membuat mereka percaya apa yang kita sendiri tidak percaya. “Menipu tidak hanya berbentuk kata-kata tetapi juga isyarat, penyembunyian, tindakan, tanpa tindakan, dan bahkan diam,” tulis Sissela Bok dalam Lying: Moral Choice in Public and Private Life.

Menurut Bok, kebohongan dapat menambah kekuasaan pembohong. Tetapi, keuntungan itu hanya berlaku sangat temporer. Seorang pemimpin yang berhasil tak akan tergoda dengan keuntungan sementara, apalagi dengan kerugian yang besar pada waktu kemudian. Jika Anda berniat menjadi eksekutif yang sukses di abad kedua puluh satu, Anda harus menghindari kebohongan dalam bentuk apa pun.

Berkata jujur atau menyampaikan kebenaran adalah akhlak para nabi, orang suci, orang salih. Nabi Muhammad saw. pernah ditanya sahabatnya, “Mungkinkah seorang Mukmin berzina?” Beliau berkata, “Mungkin saja sekali-sekali.” Beliau ditanya lagi, “Mungkinkan seorang Mukmin berbohong?” Beliau berkata, “Tidak mungkin.” Kemudian Nabi saw. membaca ayat Alquran: Sesungguhnya yang berbuat kebohongan hanyalah orang- orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta [QS 16:105] (Ad-Durr al-Mantsûr, 4:131). JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *