Pseudosufisme

Tak ada kata yang paling sering disalahpahami selain tasawuf, baik oleh pembenci maupun pengamalnya. Tasawuf dibenci karena dianggap anti sains, anti kemajuan, anti modernitas. Bila tasawuf masuk, kejayaan keluar. Bagi para pembencinya, tasawuf dipahami sebagai upaya menghindari dunia, menyibukkan diri dalam zikir dan doa, atau berperilaku yang tidak rasional. Seorang pemain musik jazz serta-merta mengejek tasawuf karena menurut dia tasawuf melarang musik. Seorang profesor dari sebuah perguruan tinggi memperingatkan anak muda agar tidak mempelajari tasawuf. Biarlah tasawuf dikaji oleh orang-orang yang sudah sepuh dan uzur. Seorang aktivis menuding tasawuf bakal menurunkan semangat berjuang untuk menentang kezaliman. Bagi para pengamalnya, tasawuf dianggap sebagai obat segala penyakit sosial. Tasawuf adalah panacea. Hanya dengan tasawuf dapat diatasi masalah penindasan ekonomi. Juga problema ketidak-adilan politik.

Ada juga yang berpendapat bahwa dengan tasawuf kita akan memperoleh kekuatan gaib untuk menyembuhkan, untuk menimbulkan kecintaan, bahkan untuk menghidupkan dan mematikan. Maka pecandu narkotik mengambilnya untuk mengusir kecanduan obatnya; pemuda yang gagal bercinta mempelajarinya untuk merebut hati kekasihnya; politisi menekuninya untuk mempertahankan kedudukannya. Jadi, selain bank Islam, sains Islam, ekonomi Islam, ada juga klenik Islam ꟷyakni tasawuf itu.

Baik pembenci maupun pengamal dalam contoh di atas keliru memahami tasawuf. Yang mereka bicarakan bukan tasawuf, tetapi pseudosufisme. Para pembenci tasawuf rupanya tidak belajar sejarah. Al-Fârâbî, raksasa ilmu dan filsafat itu, adalah seorang sufi. Ia juga terkenal sebagai pemusik. Kepadanya dinisbatkan penemuan sitar, yang kemudian menjadi gitar. Ibn Sînâ, ahli filsafat dan kedokteran, ternyata pengamal tasawuf juga. Ketika masyarakat Islam mengalami dekadensi, sejumlah pemuda membentuk semacam tarekat, yang mengulas zikir dan mengembangkan pengetahuan. Mereka menyebut dirinya ikhwan ash-shafa, dan melanjutkan tradisi sufisme.

Yang menakjubkan kita dan tak diketahui para pembenci tasawuf ialah nama-nama tokoh-tokoh sufi yang besar. Semua nama mereka mencerminkan profesi mereka. Ambillah sebagai misal: al-Hallaj, al-‘Aththâr, al-Qawârirî, al-Kharrâj. Bukalah kamus Arab untuk mengetahui pekerjaan mereka dari nama- namanya saja. Jalaluddin Rûmî pernah bekerja pada pemerintahan dan punya pengikut dari kalangan pejabat dan pengusaha kaya. Sultan Akbar, yang berhasil mempersatukan India dalam kedamaian dan kemakmuran, adalah penguasa yang sufi. Tarekat Sanusiyah berhasil mengusir kolonialis dan menegakkan Libya. Imam Khomeini, pemimpin Revolusi Iran yang menggemparkan itu, dikenal sebagai sufi zaman akhir. Terakhir, berkat aliran-aliran sufi, berpuluh-puluh bangsa Chechen memelihara Islam dalam cengkraman komunisme dan kini melawan Rusia sendirian.

Walhasil, tasawuf yang dianggap meninggalkan dunia dan anti ilmu pengetahuan bukanlah tasawuf yang sebenarnya. Mereka sedang membicarakan pseudosufisme, tasawuf bohongan. Pseudosufisme juga kelihatan pada orang-orang yang mengambil bagian-bagian tasawuf untuk kepentingan dirinya. Ada yang mengambil zikir dan doa saja. Wirid-wirid dipergunakan untuk menenteramkan batinnya, obat penenang untuk melupakan kemaksiatan yang terus-menerus dilakukannya. Formula wirid kemudian menjadi “resep” untuk mengobati apa saja. Belajarlah tasawuf untuk membuat suami Anda tidak tergoda wanita lain. Amalkan wirid tertentu sekian ribu kali supaya Anda dapat rezeki nomplok. Datanglah kepada mursyid, minta doa, agar disembuhkan dari penyakit AIDS.

Menurut Haeri, pseudosufisme mirip dengan perilaku orang yang datang ke toko obat untuk hidup sehat. Ia memilih anal gesik untuk menghilangkan sakit atau vitamin untuk meningkatkan vitalitasnya. Tetapi ia tidak mengubah gaya hidupnya, tidak mengatur cara makan dan minumnya, dan tidak berolahraga. Tasawuf yang sebenarnya ialah gaya hidup yang meliputi sikap, pandangan, dan tingkah-laku. Tasawuf bukan ilmu klenik atau pendukunan. Tasawuf juga bukan mekanisme pelarian. Para sufi bukan meninggalkan dunia. Mereka ingin mengguncangkannya. Mereka tidak menghindari masalah, tetapi mereka menyongsongnya. Mereka tidak mengobati penderitaan; mereka mengubahnya menjadi kehormatan. Mereka tidak membenci rasio; mereka meningkatkan dan memperluas kemampuan rasio. Yang paling penting dari semua itu, tasawuf tidak menafikan syariat. Tasawuf berpijak pada syariat untuk menjalani tarekat agar mencapai hakikat.

Sayangnya, kita lebih mengenal pseudosufisme ketimbang sufisme yang sebenarnya. Banyak orang yang mengklaim dirinya atau diklaim pengikutnya sebagai sufi ternyata hanya sejenis aktor saja. Ada yang ke sana kemari menjajakan keramatnya. Ia bercerita bagaimana doa-doanya selalu terkabul dengan sangat menakjubkan. Tak henti-hentinya zikir bergumam dalam mulutnya dan tasbih berputar di tangannya. Ketika ia mendengar ulasan tentang tasawuf, mulutnya mencibir. Di dunia ini tak ada orang yang lebih mengerti tasawuf selain dirinya. Ada juga yang berkhotbah dari masjid ke masjid, mengkritik tasawuf. Konon, tasawuf banyak bertentangan dengan Alquran dan Sunnah. Cukuplah kedua sumber itu. Kita tidak memerlukan selain itu. Lebih jauh lagi, ia berkata bahwa tokoh-tokoh sufi besar itu adalah orang-orang yang murtad dan sudah selayaknya dihukum mati. Baik “sang aktor” maupun kritikus sedang sibuk membicarakan pseudosufisme, dan bukan tasawuf. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *