Warisan intelektual

untuk perkhidmatan

dan pencerahan pemikiran

Quotes
0
Articles
0
Videos
0
Audios
0

Jalan Rahmat

Misi Kami

Di Jalan Rahmat, kami berusaha menghadirkan kembara intelektual itu. Perjalanan dan pengelanaan beliau mengarungi ‘jagat’ semesta itu. Ada dokumentasi karya beliau. Puluhan buku, ratusan artikel, ribuan ceramah. Ada rekaman audio dan video. Ada pula karya-karya para guru bangsa, baik sahabat karib Allah yarham, para intelektual sezaman, maupun karya-karya para ulama besar yang mempengaruhi jagat kembara intelektual beliau. Jalan Rahmat adalah sebuah digital library yang ingin menghadirkan kembali semangat intelektual itu.

Jalaludin Rakhmat - Tauziah
Digilib

Donasi dan Beasiswa

Donasi dan Beasiswa untuk sekolah, madrasah, klinik, dan ragam kegiatan lainnya.

tauziyah

Digital Library

Kumpulan Ceramah, Artikel, Buku, Video dari para Guru Bangsa.

healthcare

Jalan Kecintaan

Warisan terutama dan teramat berharga dari Allah yarham adalah mengantarkan kami dan kita semua pada jalan menuju kerinduan dan kecintaan Sang Rahmatan lil ‘alamin. Itulah makna Jalan Rahmat yang sesungguhnya.

Latest Post

KEPEMIMPINAN: MISI KENABIAN DI BUMIAugust 25, 2026Setelah Rasulullah Saw. meninggal dunia, ada beberapa orang yang ingin mengetahui akhlak Nabi. Lalu mereka datang kepada Umar bin Khathab, yang ketika itu sedang memerintah. Umar menjawab tidak tahu dan ia menyuruh orang ini untuk menemui Bilal. Ketika mereka datang kepada Bilal, dia membawa orang-orang tersebut kepada Imam Ali. Mereka berkata, “Tolong ceritakan kepada kami tentang akhlak Rasulullah!” Imam ‘Ali pun berkata, “Sebelum aku menggambarkan akhlak Rasulullah, coba gambarkan kepadaku kesenangan dan keindahan dunia ini.” Mereka pun tergagap dan tidak bisa menceritakan kesenangan dan keindahan dunia ini. “Aneh sekali,” kata Imam ‘Ali, “Kalian tidak sanggup menceritakan kesenangan dan keindahan dunia, padahal dunia ini digambarkan dalam Al-Quran sebagai ‘… kesenangan dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa….” (QS. An-Nisa : 77). Lalu kalian minta agar aku menggambarkan akhlak Nabi, padahal Al-Quran sendiri mengatakan, ‘Sesungguhnya engkau benar-benar berakhlak luhur dan agung, (QS. Al-Qalam : 4). Melukiskan dunia yang kecil saja kalian tidak sanggup, apalagi melukiskan akhlak Rasulullah yang agung.” Rasanya, saya pun tidak sanggup bercerita tentang nubuwwah atau kenabian yang merupakan salah satu aspek saja dari kepribadian Nabi Saw. Kenabian sendiri memiliki banyak dimensi dan aspek sehingga tidak mungkin bagi saya untuk membicarakan itu semua. Karena itu, saya akan memilih satu aspek saja. Nabi Saw. didefinisikan sebagai bukan filsuf, bukan sufi dan bukan yang lainnya. Saya ingin menyebutkan satu saja dari aspek nubuwwah atau kenabian berdasarkan Al-Quran, Surah Al-Hadid ayat 25. “Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya, Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” Dalam ayat ini diceritakan fungsi kenabian: untuk apa sebenarnya kenabian itu dan apa sebetulnya yang dibawa oleh beliau? Salah satu aspek dari kenabian adalah bahwa Nabi dibangkitkan oleh Allah Swt. untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manusia dan juga agar umat manusia bangkit untuk menegakkan keadilan. Jadi, menurut ayat ini, tugas para nabi dan rasul adalah menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manusia. Dalam pandangan Al-Quran, dunia ini tidak mungkin diatur secara adil kecuali dengan menghadirkan para nabi dan rasul. Mereka itulah yang akan menegakkan keadilan. Dengan demikian, salah satu aspek kenabian adalah menegakkan keadilan, atau isti’mar al-hukumah al-Ilahiyah. Kenabian adalah ekstensi atau perpanjangan tangan dan pemerintahan Allah Swt. di muka bumi. Hanya bagian itu saja yang ingin saya sampaikan di sini. Nubuwwah, dalam artian di sini, bermakna isti’mar al-hukumah al-Ilahiyah. Nabi datang untuk menegakkan al-hukumah al-llahiyah. Untuk itu, Allah Swt. membekali para nabi dan rasul dengan empat hal, yaitu al-bayyinah, Al-Kitab, al-mizan, dan al-hadid. Saya bacakan ini dari Tafsir Al-Furqan, “Untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manusia, Nabi membawa tiga hal: keterangan, kitab, dan timbangan.” Hal itu dilakukan untuk mengantar manusia menuju keadilan secara sukarela dan kemudian menegakkan keadilan dengan besi yang mempunyai kekuatan dahsyat secara paksa. Penulis tafsir ini kemudian mengatakan, “… li man laysa lahu thaw’un ila al-haqq wa raghbatun ila al-qisth al-ladzina yajhaluna aw yatajalahuna lughat al-insani, al- bayyinah wal kitab wal mizan, falyuwajihu bi lughat al-hayawan, al hadid fihi ba’sun syadid.” Menurut para ahli tafsir, termasuk Mujahid dan Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan besi di sini adalah kekuatan senjata yang di dalamnya ada sesuatu yang besar dan dahsyat. Jadi, Nabi Saw. datang bukan hanya membawa al-bayyinah, mizan, dan Al-Kitab saja. Nabi Saw. datang dengan membawa al-hadid atau besi. Kalau kita mengaku sebagai pengikut Rasulullah Saw., maka yang harus kita bawa harusnya sama dengan yang dibawa Nabi Saw., yaitu al-bayyinah, mizan, Al-Kitab, dan kemudian al-hadid. Mungkin, karena al-hadid terletak sesudah waqaf dalam Al-Quran, kata ini biasanya tidak dibahas. Menurut penulis Tafsir Al-Furqan ini, orang yang tidak memiliki keinginan untuk memasuki kebenaran dan tidak dengan sukarela tunduk pada keadilan, kepada yang tidak mengerti dan pura-pura tidak mengerti bahasa manusia, yaitu al-bayyinah, Al-Kitab, dan al-mizan, maka hadapilah mereka dengan bahasa binatang, yaitu besi yang memiliki kekuatan dahsyat. Ketika Nabi menegakkan hukumah (pemerintahan) di muka bumi ini, Anda jangan lupa bahwa Nabi tidak hanya menggunakan al-bayyinah, Al-Kitab, dan al-mizan saja, melainkan juga al-hadid. Sebab, ada saja orang-orang dalam setiap masyarakat ̶ ketika kita hendak menegakkan keadilan  ̶ yang tidak bisa diyakinkan dengan Al-Kitab, tidak bisa diajak kepada keadilan dengan al-mizan. Bagi orang-orang seperti itu, tidak ada cara lain untuk menghadapinya, kecuali dengan bahasa al-hadid yang didalamnya ada kekuatan-kekuatan dahsyat. Pera tiran, kaum mustakbarin, orang-orang yang merasa berkuasa dan bertindak sewenang-wenang biasanya sulit untuk diyakinkan dengan argumentasi, kekuatan logika (quwwah al-manthiq). Kalau mereka tidak bisa ditaklukkan dengan semua itu, mereka harus ditaklukkan dengan logika kekuatan (manthiq al-quwwah). Semua itu dimaksudkan untuk menegakkan pemerintahan Allah di muka bumi. Saya teringat dengan sebuah kisah, mungkin juga anekdot. Dulu, Khalifah Harun Al-Rasyid punya seorang istri bernama Zubaidah. Istrinya inilah yang membangun wadi atau oase Zubaidah berupa air sungai yang mengalir. Daerah ini sekarang terletak di Irak. Sungai ini sangat panjang. Karena air sungai inilah jamaah haji yang menempuh perjalanan jauh bisa minum. Jadi, Zubaidah adalah the first lady, istri yang salehah. Pernah ada seorang ulama yang takjub dengan amal saleh Zubaidah ini. Berapa banyak orang yang sudah minum dari air sungai itu. Betapa besar pahala yang kelak diperolehnya. Setiap tahun ada banyak peziarah yang bisa melepas dahaga dengan minum air sungai itu. Akhirnya, ulama ini tidur, dan dalam mimpinya ia berjumpa dengan Zubaidah. Ia pun bertanya, “Pahala apa yang engkau terima dari Allah sebagai balasan atas amalmu membangun oase ini?” Zubaidah pun menjawab, “Pahalanya sudah diberikan Allah kepada rakyat yang memberikan keringat dan tenaganya untuk membangun oase ini.” Zubaidah hanyalah istri seorang khalifah. Jadi, ia hanya sekadar memberikan perintah saja. Sebenarnya, yang membangun adalah rakyat. Pada suatu hari, Zubaidah bertengkar dengan suaminya. Dalam pertengkaran tersebut, Harun Al-Rasyid melontarkan ancaman, “Engkau harus keluar dari kerajaanku dalam waktu satu hari satu malam!” Asal tahu saja, kerajaan Harun Al-Rasyid pada waktu itu adalah sebuah imperium besar. Imperium Islam sudah membentang mulai dari Sungai Eufrat dan Tigris hingga mencapai kawasan Sungai Gangga di India. Jadi, imperium Islam adalah sebuah kekuasaan yang teramat luas. Sampai- sampai  ̶ pada waktu itu  ̶ para sultan dengan sombongnya berani mengatakan, “Matahari tidak pernah tenggelam di kerajaan-kerajaan Islam. Sebab, kalau matahari tenggelam di sebelah barat, maka ia masih tetap terbit di sebelah timur.” Jadi, diberilah Zubaidah ini waktu satu hari satu malam untuk meninggalkan kerajaan suaminya. Dia yakin bahwa Zubaidah tidak mungkin bisa melakukannya. Benar saja, pada suatu sore, hilanglah Zubaidah ini. Seluruh tentara Harun Al-Rasyid dikerahkan untuk mencarinya, tetapi mereka tidak menemu- kannya. Akhirnya, Zubaidah ditemukan sedang berada di da- lam masjid. Namun, ketika hendak ditangkap, Zubaidah ber- kata, “Tidak! Aku sudah keluar dari kerajaan Harun Al-Rasyid. Kini, aku sedang berada di dalam kerajaan Allah. Ini masjid, ini kerajaan Allah!” Betul saja, Zubaidah tidak jadi ditangkap karena dia memang sudah keluar dari kerajaan Harun Al- rasyid dengan memasuki kerajaan Allah Swt. Ada dua hal menarik dari kisah ini. Pertama, kerajaan Harun Al-Rasyid lebih besar daripada kerajaan Allah. Kerajaan Allah hanya sebatas masjid saja. Kedua, selama ini, kita hanya menegakkan al-hukumah al-Ilahiyah di masjid saja. Dengan cara itu, kita sudah merasa melanjutkan khiththah nabawiyyah atau garis perjuangan Nabi Saw. Sebelum saya melanjutkan pembahasan inti, menarik untuk mengutip ucapan Al-Fakhrurazi dalam tafsirnya mengenai makna Al-Kitab, al-mizan, dan al-hadid. Pertama, ia mengata- kan bahwa Al-Kitab menunjukkan quwwah al-nazhariyyah (kekuatan nalar). Jadi, ketika kita menyeru orang pada keadilan, menegakkan hukum Allah, pergunakanlah terlebih dahulu kekuatan nalar melalui Al-Quran dan kemudian dengan contoh perilaku kita. Sebab, ada orang yang sukar mengerti dengan kekuatan nalar. Dan, al-mizan, menurut sebagian ulama tafsir, berarti pula sunnah Rasulullah Saw., karena perilaku beliau bisa dijadikan timbangan untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan demikian, untuk orang awam kita menggunakan al-mizan. Sementara itu, al-hadid, kata Fakhrurazi, digunakan untuk memberikan peringatan kepada orang-orang yang tidak mau melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Dia menyebut sekitar tujuh mazhab yang berpendapat tentang Al-Kitab dan al-mizan ini. Saya tidak akan menceritakan semuanya kepada Anda. Sebagian ada yang berhubungan dengan tasawuf. Kedua, Fakhrurazi malah mengaitkannya dengan tahap-tahap manusia dalam Al-Quran. Ada orang-orang yang termasuk ke dalam golongan as-sâbiqûn, al- muqtashidûn, dan azh-zhâlimûn. Golongan as-sabiqun adalah orang-orang yang dekat dengan Allah. Mereka tidak bisa beramal kecuali dengan mengamalkan kitab Allah. Bagi mereka itulah diperuntukkan Al-Kitab. Fakhrurazi mendefinisikan as-sabiqin sebagai “orang-orang yang sudah sampai pada kebenaran dan tidak setengah- setengah dalam mengikuti kebenaran itu.” Kepada mereka itulah diajarkan Al-Kitab. Berikutnya adalah al-muqtashidûn, yaitu orang-orang yang yantashifun. Mereka sudah menemukan kebenaran tetapi masih setengah-setengah. Kata yantashifûn berasal dari intashafa- yantashifu, yang bermakna mengambil setengah-setengah. Nah, kepada mereka berikanlah contoh perilaku, yaitu al-mizan. Akan tetapi, kepada golongan azh-zhâlimûn berikanlah al-hadid. Hanya saja, kita sering salah menempatkan dan memilih objek. Kepada golongan azh-zhâlimûn kita sampaikan Al-Kitab. Sudah tentu, yang demikian itu tidak akan digubris dan tidak akan meninggalkan bekas apa-apa. Walhasil, ketika kita sedang menghadapi berbagai macam manusia, gunakanlah cara-cara yang berbeda. Akan tetapi, semuanya itu dimaksudkan untuk menegakkan al-hukumah al-Ilahiyah di dunia. Dan, nubuwwah atau kenabian mempunyai misi menegakkan al-hukumah al-Ila- hiyah atau kepemimpinan di muka bumi. Dalam kalimat Al-Quran lainnya, istilah ini disebut dengan waliy atau imam, dan posisinya disebut wilayah. Al-Quran menegaskan bahwa wilayah adalah hak Allah, hak Rasulullah dan orang-orang beriman. “Sesungguhnya, penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah),” (QS. Al-Ma’idah : 55). Jadi, ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman itu sebenarnya satu garis dan bersambung, yaitu mulai dari Allah sampai kepada Rasulullah, dan kemudian kepada orang-orang beriman. Jadi, sebetulnya kepemimpinan Ilahiyah di muka bumi ini melewati hierarki atau urutan seperti itu. Tentu saja, yang pertama kali dibicarakan adalah adalah al-hukumah al-llahiyah. Akan tetapi, dalam sejarah kepemimpinan umat manusia, yang sering dibicarakan terlebih dahulu adalah kepemimpinan atau imamah, hukumah Islamiyah yang ditegakkan oleh para nabi. Ada satu saat dalam sejarah umat manusia, di mana kita diperintah oleh wakil-wakil Tuhan yang ada di muka bumi. Mereka itu adalah para nabi. Tentu saja, mereka bukan Tuhan. Dengan demikian, masa yang pertama itu bisa kita sebut sebagai masa nubuwwah, yaitu suatu masa ketika pemerintahan Tuhan ditegakkan oleh para nabi. Hanya saja, masa kenabian ini berakhir dengan meninggalnya Rasulullah Saw. Sehabis masa kenabian ini, kepemimpinan Allah di muka bumi tidak berakhir dan dilanjutkan oleh orang-orang beriman. Kita kembali lagi pada yang pertama. Ketika Allah mengangkat pemimpin untuk mengatur dunia melalui al-hukumah al-Ilahiyah dengan menunjuk para nabi, apakah Allah Swt. bermusyawarah dengan makhluk-Nya? Apakah Allah Swt. ̶ sebelum mengangkat Nabi Musa sebagai pemimpin Bani Israil guna menegakkan keadilan ̶ bermusyawarah dan berunding dulu dengan orang-orang Mesir pada waktu itu? Atau dengan orang-orang Madyan? Tentu tidak! Allah sendiri yang memilih dan mengangkat para nabi itu. Dengan demikian, para nabi itu diangkat oleh Allah sebagai imam atau pemimpin. Ketika mengangkat Nabi Ibrahim sebagai imam, Al-Quran menuturkan sebagai berikut, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya, Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku’. Allah berfirman, Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim,” (QS. Al-Baqarah : 124). Mula-mula Allah Swt. menguji Nabi Ibrahim dengan aneka macam ujian. Ada sebagian qira’at yang membaca rabbahu (dan tidak rabbuhu, sebagaimana yang terdapat dalam ayat itu). Artinya, ketika Ibrahim meminta kapada Allah Swt. agar ujian. ‘Ala kulli hal, entah qira’at atau bacaan mana yang dipilih, jelaslah bahwa Ibrahim diuji terlebih dahulu, baru kemudian diangkat sebagai imam. Surat keputusan (SK) pengangkatannya sebagai imam, kalau boleh dikatakan demikian, berasal dari Allah dan tidak berasal dari hasil pemilihan umum. Dalam ayat ini, Allah Swt. berfirman, “Inni ja iluka lin-naas imaman.” Allah menjadi ja’il dan Ibrahim menjadi maj’ul. Karena itu, kenabian atau kepemimpinan yang melanjutkan al-hukumah al-Ilahiyah itu harus berupa ja’lun ilahiyun, sesuatu yang berhak dan harus dilakukan Allah Swt. semata. Jadi, kalau kita menemukan ada salah seorang di antara kawan-kawan kita yang menganggap dirinya imam untuk menegakkan al-hukumah al-Ilahiyah di muka bumi, pertanyaan pertama yang harus kita ajukan kepadanya adalah SK ini. Pengangkatannya sebagai imam haruslah berupa ja’lun ilahiyun, atau-menurut istilah para ulama-harus manshush (harus ada nash-nya). Ia harus mampu menunjukkan ayat Al-Quran dan hadits yang menyatakan bahwa ia memang diangkat sebagai imam. Suatu saat, oleh kelompok-kelompok ekstrem di Bandung, saya diculik, persis seperti Presiden Soekarno dulu. Di tempat itu sudah berkumpul para pemuda aktivis yang saya lihat ruh jihad terpancar terang dari wajahnya. Akan tetapi, ruh akalnya saya lihat memudar. Mereka meminta saya menjadi imam. Katanya, mereka mau membaiat saya sebagai imam. Mereka pun mengancam bahwa kalau saya tidak mau menjadi imam, itu artinya saya pengecut, hanya bisa ngomong saja pada orang lain untuk menegakkan al-hukumah al-Ilahiyah. Namun, ketika dimintai tanggung jawab tidak mau. Mereka mendesak saya. Saya pun menolak habis-habisan. Pertama, saya katakan bahwa saya tidak punya SK pengangkatan dan Anda tidak bisa mengangkat seorang imam yang menjalankan al-hukumah al-Ilahiyah. Sebab, ini adalah al-hukumah al-llahiyah dan bukan al-hukumah ad-dimuqrathiyah atau pemerintahan demokrasi. Kalau pemerintahan demokrasi, maka rakyatlah yang harus memilih. Kalau saya disuruh menjadi imam untuk menegakkan dan menjalankan al-hukumah al-Ilahiyah, saya harus memiliki SK dari Tuhan. Misalnya, harus ada nash yang menyatakan, “Ya Jalaladdin Rakhmat! Inni ja’iluka lin-naas imaman.” Nah, Nabi Ibrahim memperoleh SK pengangkatan langsung dari Allah Swt. Ketika Nabi Zakaria ingin menunjuk pengganti sepeninggalnya, beliau tidak minta pendapat manusia, tidak bermusyawarah dengan kaumnya. Akan tetapi, beliau justru berdoa kepada Allah Swt., “Maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang wali,” (QS. Maryam : 5). Beliau memintanya kepada Allah bukan kepada manusia. Ketika Nabi Isa meninggalkan dunia ini, beliau tidak membiarkan umatnya tanpa petunjuk. Beliau memberitahukan siapa pengganti sesudahnya. Beliau tidak bermusyawarah atau berunding. Atau, Nabi Isa tidak mengatakan, “Saya serahkan pada musyawarah kalian siapa yang bakal melanjutkan penegakan al-hukumah al-Ilahiyah.” Tidak! Tidak demikian. Nabi Isa justru mengatakan, “Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata, ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah ke- padamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang. Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata,” (QS. Ash- Shâff : 6). Inilah sunnah Ilahi yang berlaku sepanjang sejarah. Pada waktu itu, Nabi Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Jadi, Nabi Ibrahim memohon agar keturunannya juga diangkat menjadi imam, bukan hanya beliau sendiri. Lalu, seolah-olah Allah Swt. berfirman, “Boleh keturunanmu Aku angkat juga sebagai imam atau pemimpin, asalkan mereka tidak termasuk orang-orang yang zalim lantaran “janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang zalim.” Zalim adalah istilah dalam Al-Quran yang berarti berbuat dosa sehingga kita pun harus beristighfar dengan mengucapkan, “Ya Allah, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri (inni zhalamtu nafsi).” Jadi, zalim artinya berbuat dosa. Malah, syirik pun disebut kezaliman juga: inna al-syirk lazhulm azhim; sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar. Dengan demikian, berdasarkan Surah Al-Baqarah ayat 124 tadi, kepemimpinan yang satu garis dengan, dan bersambung pada, Allah Swt. itu harus memiliki tiga kriteria atau syarat, yaitu (1) berasal dari keturunan Nabi Ibrahim, (2) manshush atau ada nash-nya, (3) ma’shum atau bersih dari perbuatan dosa. Sesudah zaman para nabi berakhir, harus ada orang-orang yang melanjutkan kepemimpinan ini. Hanya saja, mereka harus me- menuhi ketiga syarat tersebut, jika kepemimpinan mereka melanjutkan tegaknya al-hukumah al-Ilahiyah. Kalau kepemimpinan-kepemimpinan biasa lainnya, seperti kepemimpinan sosial, maka ketiga syarat tersebut tidak perlu ada. Karena itu, pemimpin yang diberi amanat untuk menegakkan al-hukumah al-llahiyah harus memiliki tiga syarat tersebut. Pertama, kepemimpinan itu harus ja’lum Ilahiyun, yaitu harus berdasarkan SK dari Allah Swt. atau manshush. Kedua, dia harus berasal dari dzuriyyah atau keturunan Nabi Ibrahim. Ketiga, dia harus terpelihara dari perbuatan dosa dan tidak berbuat zalim, termasuk tidak pernah menzalimi diri sendiri. Sekarang, saya ingin menyimpulkan. Kita harus melihat nubuwwah atau kenabian sebagai perpanjangan tangan dari pemerintahan Allah di muka bumi. Itu yang pertama. Yang kedua, sesudah Rasulullah Saw. wafat, dunia ini tidak boleh sepi dari pemimpin yang melanjutkan tegaknya al-hukumah al-Ilahiyah di muka bumi. Yang ketiga, para pemimpin yang diberi amanat untuk menjalankan tugas tersebut tidak pernah berbuat dosa atau berlaku zalim. Sekiranya kita semua berniat menegakkan al-hukumah al-Ilahiyah ̶ saya kira harus begitu, kita harus kembali pada khiththah nabawiyyah seperti itu. Untuk mengakhiri pembicaraan ini, izinkan saya membacakan hadits-hadits yang sebenarnya menyuruh kita untuk menegakkan imamah yang melanjutkan al-hukumah al-Ilahiyah, dan satu ayat Al-Quran yang mengisyaratkan ke arah situ. Ayat tersebut berbunyi, “Pada hari ketika Kami penggil setiap kelompok manusia dengan imam mereka…” (QS. Al-Isra : 71). Peristiwa ini terjadi pada Hari Kiamat kelak. Walaupun ada berbagai tafsiran atas kata “imam” di sini, hadits berikut dengan jelas menunjukkan makna imam. Pada suatu hari Rasulullah Saw. berkhutbah, dan kemudian berkata, “Ingatlah maut, karena nanti maut akan mengambil ubun-ubun kamu.” Beliau terus berkhutbah panjang hingga sampai pada, “Tidak bergeser kaki seorang hamba pada Hari Kiamat nanti, kecuali dia ditanya tentang umurnya untuk apa dipergunakan; tentang masa mudanya-untuk apa dihabiskan; tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana ia dibelanjakan; dan tentang imannya-siapakah dia?” Selanjutnya, Nabi Saw. pun membaca ayat Al-Quran tersebut. Begitu pula, kita banyak mengenal hadits-hadits yang sering dibaca oleh kawan-kawan kita yang membentuk jamaah dan kemudian mengklaim dirinya sebagai imam. Hadits-hadits itu misalnya, “Man mata bi ghair imam, mata mitatan jahiliyatan.” Artinya, “Barangsiapa mati tanpa mempunyai imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR Ahmad). Dalam riwayat lain disebutkan juga, “Man mata wa lam ya’rif imama zamanihi, mata mitatan jahiliyatan.” Artinya, “Barangsiapa tidak mengetahui imam zamannya, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” Dari hadits-hadits tersebut, jalaslah bahwa kita semua tentu berharap untuk tidak mati jahiliyah. Oleh karena itu, kita memerlukan imam atau pemimpin. Untuk itu, harus ada pedoman ihwal siapa yang menjadi imam kita. Sebab, kalau jabatan imam itu tidak mempunyai pedoman, maka setiap jamaah nantinya akan menampilkan imamnya masing-masing. Dan, insya Allah, pada Hari Kiamat kelak, kita akan dipanggil oleh Allah Swt. berdasarkan imam kita. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Dakwah dalam Transformasi SosialAugust 24, 2026“Kita memerlukan cinta. Selama lebih dari jutaan tahun dalam perkembangan spesies kita, cinta telah ditanamkan ke dalam diri kita. Seperti monyet dan kera yang memerlukan induk yang mencintai dan kelompok keluarga kecil atau besar, seperti mereka, kita memerlukan kehadiran orang lain. Kita memerlukan perawatan ibu untuk merangsang kecerdasan kita. Tanpa orang-orang yang ramah, baik dalam keluarga maupun sahabat yang akrab, kita tidak bisa bahagia. Sebagian di antara kita malah mati. Tanpa cinta, manusia tidak dapat hidup sehat dan bahagia. Cinta sama pentingnya bagi kesehatan fisik dan mental sama seperti vitamin, makanan bergizi, olah raga, dan lingkungan hidup yang sehat. Di Barat, masyarakat telah berusaha keras dan mengatur sebaik-baiknya agar tercipta situasi yang lebih baik bagi semua orang-sistem pembuangan yang baik, air minum yang bersih, perawatan kesehatan, jaminan kesejahteraan sosial, tunjangan khusus untuk ibu-ibu bagi kepentingan anak, sekolah, rumah bagi lansia, rumah sakit. Sebuah struktur organisasi negara yang besar diciptakan untuk menjamin agar kebu tuhan pokok manusia bisa dipenuhiꟷtetapi kita tidak menemukan cinta di dalamnya. (Celia Haddon, 1990). Celia Haddon sebetulnya menceritakan keadaan masyarakat yang lazim disebut ‘developed countries’, negeri yang berhasil membangun. Pembangunan telah memberikan berbagai fasilitas. Kebutuhan pokok telah terpenuhi. Orang-orang yang lemahꟷorang tua, orang sakit, anak-anak, orang miskin, penganggurꟷdiberikan santunan untuk hidup layak sebagai manusia. Rakyat diberikan kebebasan untuk memilih gaya hidupnya, menyatakan pendapatnya, ikut serta dalam pemerintahan, dan mengembangkan potensi mereka. Pemerintah hadir untuk berkhidmat bagi kepentingan masyarakat. Hukum dibuat untuk melindungi, bukan untuk menindas. Tetapi dengan segala kemudahan itu, negara-negara maju telah kehilangan cinta. Haddon memberi contoh pendidikan, “Banyak dana dan energi telah dihabiskan untuk membiayai pendidikanꟷmembangun gedung baru, kolam renang, kelas-kelas yang lebih kecil, metoda pengajaran yang baru. Tetapi, penelitian telah membuktikan bahwa sebagian besar ternyata sia-sia. Gedung, ukuran sekolah, perbedaan administrasi di dalamnya tidak berpengaruh pada kualitas lulusan. Yang ternyata berpengaruh adalah hal lain yang lebih tidak kentara, sesuatu yang dapat saya sebut sebagai ‘kehangatan institusional’. Penelitian membuktikan bahwa suasana sekolah bukan bentuk luar bangunan atau organisasi yang mempengaruhi murid. Suasana itu tampak pada moril keseluruhanꟷguru yang bersedia memberi waktu ekstra dan perhatian tambahan kepada siswa, yang menekankan dorongan dan pujian alih-alih mengecam, memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada siswa, beserta staf pengajar yang menjadi teladan yang baik.” Kita dapat memberikan gambaran yang sama pada politik dan agama. Struktur politik boleh jadi dibangun untuk menegakkan demokrasi. Tetapi, para penguasa dipilih dengan memanipulasi simbol dan informasi. Politik jadi panggung sandiwara yang tidak menghibur. Mereka memasuki gelanggang politik dengan membawa topeng-topeng. Mereka ‘membujuk rakyat dengan sejumlah janji. Mereka melihat rakyat sebagai tumpukan suara yang bisa dibeli. Pemimpin tidak lagi memimpin, tetapi memerintah. Sementara itu, agama juga menjadi sejumlah ritus dan upacara. Dalam metafora Nabi Saw. “Masjid-masjid mereka ramai tetapi kosong dari petunjuk.” Kesalehan tidak jarang digunakan untuk menyembunyikan keangkuhan dan menutupi penyelewengan. Lembaga-lembaga agama menjadi lembaga-lembaga keuangan yang memperlakukan kasih hanya sebagai komoditas. Teks-teks kitab suci dijadikan amunisi untuk ‘menembaki’ orang-orang yang dianggap sesat. Sebagaimana politik, agama telah kehilangan cinta. “Agama adalah kecintaan yang tulus. Tidak ada agama kalau sudah kehilangan kecintaan yang tulus,” sabda Nabi Saw. Walaupun cerita di atas berkenaan dengan masyarakat yang sudah berhasil membangun, secara perlahan dan pasti masyarakat kita pun menuju ke sana. Banyak orang yang mendefinisikan pembangunan sebagai ‘mengantarkan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern’. Pembangunan bukan saja pertumbuhan ekonomi; ia juga transformasi sosial. Bersamaan dengan modernisasi dan kemakmuran, pembangunan membawaꟷapa yang disebut sosiolog Lyman dengan the Seven Deadly Sins, tujuh dosa maut: ketidakpedulian, nafsu, angkara murka, kesombongan, iri hati, lahap, dan kerakusan. Begitu besarnya dosa modernisasi ini, sehingga sebagian penulis menyamakan kemodernan dengan skizoprenia (Louis A. Sass, 1992). Modernitas menjadi sejenis kepribadian yang dingin, kaku, tanpa arah, dan tidak manusiawi (dehumanized). Akan tetapi, modernitas bukan hanya membawa dosa, ia juga menabur jasa. Agar sistem modern berjalan efektif diperlukan jenis kepribadian yang khas. Alex Inkeles pernah merincinya. Kita hanya menyebutkan sebagian saja. Orang modern siap menjelajah pengalaman baru; terbuka untuk menerima inovasi dan perubahan. Ia siap membentuk dan mempertahankan pendapatnya sambil menghargai perbedaan pendapat. Ia tidak kaku berpegang pada gagasannya. Ia tidak takut berbeda pendapat; juga tidak membencinya. Orang modern berorientasi kepada masa kini dan masa yang akan datang. Ia bersedia menangguhkan pemuasan saat ini untuk masa depan yang lebih baik (delayed gratification). Dengan kedua sisi kepribadian modern ini, marilah kita lihat apa yang dapat dilakukan oleh kegiatan dakwah Islamiah. Transformasi sosial karena pembangunan sudah terjadi. Karakteristik masyarakat modern sudah kita saksikan di negeri kita. Apa peran dakwah dalam transformasi sosial ini? Apa kontribusi dakwah dalam menyelamatkan manusia bukan saja dari tujuh dosa maut tetapi juga dari proses dehumanisasi yang sekarang tengah berlangsung? Apa yang Harus Didakwahkan? Berdasarkan banyak ayat dakwah, kita dapat menyimpulkan bahwa dakwah adalah upaya apa saja untuk membawa manusia ke jalan Allah. Dakwah adalah proses transformasional ketika orang-orang ꟷda’i dan sasaran dakwahꟷ bertukar informasi dan pengaruh. Informasi adalah hal-hal yang bersifat faktual, logis, dan terbuka untuk berbagai penafsiran. Pengaruh adalah upaya untuk memotivasi, mendorong, dan atau mengendalikan orang lain. Da’i menyampaikan informasi tentang Islam. Ia juga berusaha memotivasi, mendorong, dan mengarahkan orang untuk mengamalkan ajaran Islam. Informasi tentang Islam berasal dari Al-Qur’an, Sunnah dan warisan peradaban Islam sepanjang sejarah. Apa yang disebut dengan ajaran Islam tidaklah murni ilahi (divine). Yang kita sebut sebagai ajaran Islam adalah penafsiran kita pada Al-Qur’an dan Sunnah dan pelajaran yang kita peroleh dari pendahulu kita. Kita tidak pernah mengamalkan Islam. Kita hanya mengamalkan apa yang kita pahami sebagai ajaran Islam. Salah satu kekuatan Islam ialah terbukanya Islam untuk interpretasi baru, reinterpretasi, sesuai dengan kondisi sejarah. Dalam setiap babakan sejarah, Islam tampil dalam wajah bermacam-macam. Islam hadir dalam dua visi: temporal dan universal. Yang universal berlaku sepanjang masa. Yang temporal adalah wajah Islam yang lahir ketika menghadapi cabaran semasa. Saya sepakat dengan Dr. Shoroush, yang mengatakan bahwa: Now, since presuppositions are age-bound, can change and do change in fact, religious knowledge, or the science of religion, which is the product of understanding (comprehending) will be in a continous change (flux), and since it is only through those presuppositions that one can hear the voice of revelation, hence the religion itself is silent, and since the interpretation of the text is social by nature and depending on the community of experts, like all learned activities it will an independent dynamic entity; abstracting from individual interpreters, containing right and wrong, certain and dubious ideas, the wrong ones being as important as the right ones from the evolutionary point of view. It is a branch of knowledge, no less no more. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Kemerdekaan di Mata Bung KarnoAugust 19, 2026Ada satu kata yang harus kita ingat, setiap kali kita menghadapi Pemilu. Kata itu ialah Merdeka. Tanpa kemerdekaan tidak akan ada Pemilu.Tanpa kemerdekaan kita tidak dapat memilih pemimpin yang kita kehendaki. Tanpa kemerdekaan kita tidak bisa ikut serta mengatur Negara. Pada pidato 17 Agustus1945, Bung Karno berkata, “Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah-air kita. Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka! Negara Republik Indonesia- Merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita!” Merdeka menurut Bung Karno adalah membebaskan diri kita dari belenggu kekuasaan orang asing. Dalam Negara merdeka, kita bebas menyusun Negara kita –ekonomi, politik, masyarakat, budaya- seperti yang kita kehendaki, bukan seperti yang dikehendaki Negara lain. Menurut Proklamator Kemerdekaan RI, merdeka bukanlah tujuan. Merdeka hanyalah alat agar kita mengelola tanah air, negara dan bangsa Indonesia seperti yang diinginkan rakyat Indonesia, bukan seperti keinginan rakyat negara lainnya. Lalu, untuk apa kita mengelola tanah air, negara, dan bangsa kita? Untuk membahagiakan seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk segelintir orang yang mengatas-namakan rakyat. Simak lagi kata bijak Bung Karno, “Bagi saya kesejahteraan umum itu sumber kebahagiaan rakyat, negara tidak boleh menjadi tempat bagi penggarong atas nama kapital, atas nama komoditi.” Pada pidato 17 Agustus 1965, yang diberinya judul “Capailah Bintang-bintang di Langit”, Bung Karno menyebutkan Trisakti, tiga karakteristik bangsa yang merdeka: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan. Kepada Joko Widodo, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berpesan agar mengabdikan dirinya secara total untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, jika kelak menjadi Presiden Republik Indonesia. Megawati juga berpesan agar Jokowi mengimplementasikan Trisakti Bung Karno, yang baru kita sebut. Dalam tulisan ini, marilah kita lihat apakah kita sekarang bangsa yang merdeka dengan ukuran Trisakti Bung Karno? Karena kini ekonomi mendikte politik dan kebudayaan, marilah kita mengukur situasi kita dalam kriteria kedua saja dahulu: berdikari dalam ekonomi. Indonesia hebat! Negeri kita ini luar biasa! Beberapa ratus meter di bawah Pegunungan Jayapura, ada terowongan yang berkelok ke kiri ke kanan, sepanjang puluhan kilometer, di bawah tanah. Pada setiap tanah yang kita injak di situ ada bongkah-bongkah emas. Saudara berada di tambang emas terbesar di dunia. Pada 2004, tambang ini diperkirakan memiliki cadangan 46 juta ton emas. Pada 2006 produksinya adalah 610.800 ton tembaga; 58.474.392 gram emas; dan 174.458.971 gram perak. Setiap hari, dari bawah tanah, diangkut oleh kereta gantung, disambung dengan conveyor belt, digelontorkan melalui pipa ke kapal induk Amerika. Berapa pemerintah mendapat bagian dari kekayaan yang luar biasa itu. Satu persen saja! Sekali lagi, satu persen saja. 99 persen, sekali lagi 99 persen, dikirimkan ke Negara kapitalis besar dunia: Amerika Serikat. Untuk saudara ketahui, 1 persen itu dari ¼ penghasilan yang dilaporkan kepada pemerintah oleh PT Freeport Amerika! Walaupun mereka menyebutnya PT Freeport Indonesia. Indonesia hebat! Tahukah saudara bahwa setiap hari ribuan ton batubara diangkut dari Kalimantan oleh perusahaan yang berdomisili di Inggris, ribuan kaki kubik gas dialirkan melalui pipa sepanjang 500 km ke Singapura dari sumber gas terbesar di dunia Natuna. Jadi saudara, di Laut Cina Selatan, ada sungai sepanjang 500 km, bukan sungai madu atau sungai susu, tapi sungai gas, sumber enerzi yang menggerakkan dunia. Indonesia Hebat! Tetapi kekayaan yang berlimpah tidak membuat rakyat Indonesia makmur; kekayaan itu diserahkan oleh penguasaha-pengusaha kita kepada perusahaan-perusahaan asing. Rakyat Indonesia mirip pemilik kebun. Semua buah-buahannya diserahkan kepada orang lain. Kita tidak punya kebun lagi. Kita jadi tukang memelihara kebun, yang dibayar dengan sangat murah. Dan kita dipaksa untuk memakan sampah-sampah, kotoran-kotoran kebun itu, yang ditinggalkan oleh para pemilik kebun. Kebun kita dirampok besar-besaran. Kita semua sekarang menjadi buruh-buruh kontrak, yang membanting tulang, memeras keringat, untuk menggendutkan para pemilik modal. Setelah kekayaan Indonesia diambil, nyawa kita pun diambil perlahan-lahan. Sudah raga dirampas, sekarang jiwa pula! Demi keuntungan perusahaan-perusahaan besar itu, para petani di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan seluruh negeri yang tercinta ini diusir dari tempat tinggalnya, diteror setiap hari, dan kalau mereka tetap melawan, ujung-ujung bayonet atau timah besi boleh jadi menyobek-nyobek tubuh mereka. Berapa luas tanah, luas daratan di Indonesia? 195 juta hektar. Kalau peta Indonesia dihamparkan di atas peta dunia, besarnya hamparan negeri ini terbentang sejak kota London, di Inggris, sampai Teheran, di Iran. 195 juta hektar. Lebih dari seluruh Negara Eropa. CATAT, dari 195 juta hektar itu, sekitar 178 juta hektar dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing; perusahaan kelapa sawit, perusahaan minyak dan gas, pertambangan mineral dan batu bara, dan kehutanan. Mereka menguasai 93 persen dari tanah saudara. Sisanya sekarang sedikit demi sedikit diambil mereka untuk pabrik, mal-mal, supermarket, hotel, dan sebagainya. Ketika kita menyanyikan lagu kebangsaan ini, menangislah kalian: Indonesia, tanah airku! Ah, tanah air itu bukan lagi milik kita! Di tengah-tengah kekayaan Indonesia Hebat itu saudara meringkuk dalam penderitaan, gaji saudara dibayar murah, dan saudara harus membayar untuk hak-hak saudara. Saudara harus membayar biaya pendidikan, padahal itu hak semua rakyat. Saudara harus membayar ongkos perawatan dan pemeliharaan kesehatan, padahal itu hak semua rakyat. Saudara bahkan harus membayar keamanan, membayar sampah, bahkan jalan raya yang akan saudara masuki. Negeri kita belum merdeka. Menurut Bung Karno, kita harus melakukan aksi massa, menyadarkan mereka, bahwa tujuan perjuangan kita ialah menumbangkan stelsel kapitalisme, membebaskan negeri ini dari Neokolonialisme, menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang berdikari secara ekonomi. Itu baru namanya merdeka. Pilihlah siapa pun, tetapi dengan kesadaran bahwa kamu ingin memerdekaan negeri kamu dari penjajahan ekonomi, politik, dan budaya! KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Kemerdekaan dan GoncanganAugust 18, 2026Manakah yang lebih bagus: stabilitas atau dinamika; kesetimbangan atau ketimpangan; ekuilibrium atau dis-ekuilibrium? Para politisi memilih yang pertama, para ilmuwan mutakhir mengambil yang kedua. Menurut Hukum Thermodinamika Kedua, semua sistem bergerak ke arah entropi. Makin banyak entropi, makin sulit sistem berubah. Seperti sebuah mesin, makin lama ia bekerja, makin banyak energi yang dikeluarkan, makin aus komponen-komponennya, dan akhirnya hancur. Mobil apa saja, baik BMW maupun Timor, akan berkurang kinerjanya lantaran waktu. Akhirnya, mobil itu mogok, tidak bergerak, tidak berubah. Walhasil, sampai pada titik ekuilibrium. Dalam fisika, ekuilibrium adalah keadaan sistem ketika resultante semua tenaga yang mempengaruhinya sama dengan nol. Bila alam semesta ini sebuah mesin raksasa, ia akan mengalami nasib seperti mobil. Ia akan menjadi seonggok besi tua: stabil dan setimbang. Tak ada apa pun yang dapat mengubahnya. Ia mati. Setelah ribuan tahun, tak perlu sampai jutaan tahun, alam semesta akan berhenti pada satu keadaan, yang disebut Peter Coveney dan Roger Highfield sebagai “saat ketika entropi dan keacakan mencapai tingkat paling tinggi, saat semua kehidupan berakhir.” Anehnya, alam semesta yang kita huni tidak menjadi barang rongsokan. Alih-alih kehancuran, setiap saat kehidupan baru lahir. Kenyataan menolak Hukum Thermodinamika Kedua. Hukum fisika ini membingungkan para ilmuwan, yang menyaksikan proses evolusi yang menggerakkan semua menuju kesempurnaan. Para mufasir ilmiah ala Bucaille sulit mencocokkan “ayat kawniyyah” ini dengan “ayat Qur’aniyyah” yang mengatakan: Yang menciptakan dan menyempurnakan. Anehnya, walaupun Hukum Thermodinamika Kedua ditolak dalam tingkat makroskopis, kita masih berfikir dalam kerangka ini pada tingkat mikroskopis. Kita menganggap masyarakat akan berakhir dalam kehancuran, waktu akan menggiring kita pada kematian, negera ini akan jatuh dalam kebinasaan. Mungkin karena kita menengok tubuh kita: lahir, tumbuh, dewasa, menua, dan mati. Tetapi, sekiranya kita mengamati lebih jeli, kita akan melihat kelahiran baru dalam tubuh kita setiap saat. Menurut fisikawan Deepak Chopra, setiap satu bulan kita berganti kulit (lebih cepat dari ular), liver kita berganti setiap enam minggu. Dan otak kita, dengan seluruh sel yang menyimpan pengetahuan, mengganti kandungan karbon, nitrogen, dan oksigen setiap dua belas tahun. Setiap hari, ketika menarik dan mengeluarkan napas, kita mengeluarkan sel-sel kita dan memasukkan unsur-unsur dari organisme yang lain untuk menciptakan sel-sel baru. “Kita semua,” kata Chopra, “lebih mirip sungai yang terus mengalir ketimbang sesuatu yang beku dalam ruang dan waktu.” Walhasil, Hukum Thermodinamika Kedua hanya berlaku pada sistem tertutup. Alam semesta dan tubuh kita adalah sistem terbuka. Setiap saat, kita berinteraksi dengan lingkungan kita. Untuk sistem terbuka berlaku hukum yang dirumuskan Ilya Prigogyne, pemenang hadiah Nobel itu. Untuk memahami teori ini, ilmuwan harus meninggalkan perspektif kehancuran dan menggantinya dengan perspektif pertumbuhan. Setiap saat, sistem mengeluarkan energi untuk menciptakan struktur yang baru. Prigogyne menyebutnya dissipative structure. Sistem akan berkembang ke arah yang lebih baik bila ia digoncangkan oleh perubahan. Ia naik ke arah struktur yang lebih canggih bila ia dihadapkan pada gejolak (disturbances). Sebelum mencapai keteraturan yang baru, sistem harus mengalami ketidakteraturan. Alam semesta adalah sebuah sistem yang terus memperbaharui dirinya (self renewing system). Dengan apa? Dengan goncangan, kemelut, ketidakteraturan, kekacauan, taufan, dan badai. Mendidihkan air membawa molekul air pada struktur yang lebih menakjubkan, sebagaimana taufan mengubah struktur udara menjadi lebih relevan dengan lingkungan. Masa pubertas adalah masa taufan dan badai yang mengantar jiwa anak ke arah kedewasaan. Otak Anda menjadi lebih cerdas bila berulang kali dihadapkan pada goncangan pemikiran. Para sufi bercerita tentang derita yang harus dialami sebelum mencapai maqâm yang lebih tinggi. Organisasi atau perusahaan akan mengembangkan struktur yang lebih produktif setelah melewati kemelut. Kumpulan berbagai suku bangsa membentuk struktur negara kesatuan Indonesia setelah diguncangkan oleh revolusi. Dalam berbagai situasi ini, yang membantu proses pertumbuhan bukan lagi kesetimbangan, tetapi ketimpangan; bukan lagi ekuilibrium, tetapi disekuilibrium. Ekuilibrium bersifat temporer; dis-ekuilibrium, abadi. Ekuilibrium adalah kematian, sedangkan dis-ekuilibrium adalah kehidupan. Jadi, mengapa kita harus membenci guncangan atau ketakseimbangan? Guncangkan otak Anda untuk meningkatkan kecerdasan; timbulkan gejolak dalam hati Anda supaya mendekati kesucian; hadapi kemelut dalam organisasi supaya ada perkembangan; lihat kerusuhan sebagai wahana kemajuan. Dalam Thermodinamika klasik, ekuilibrium adalah rongsokan besi tua dari sistem yang tertutup. Dalam dissipative structure, ekuilibrium adalah kesementaraan yang harus diguncangkan dalam sistem terbuka. Ketenangan bayi dalam susuan ibunya harus diguncangkan dengan sapihan, supaya ia dapat menikmati beragam makanan dan minuman yang lebih enak. Rûmî berkata, “Ketika manusia masih berupa janin, darah adalah makanannya; ketika ia dilepaskan dari darah, susu menjadi makanannya; setelah disapih dari susu, ia mampu makan yang keras. Kehidupan kita bergantung pada sapihan.” Setelah disapih Belanda, kita menikmati kemerdekaan. Carilah sapihan baru, supaya kita mengembangkan kemerdekaan. Tetapi, apa pun sapihan yang kita pilih, kita harus menanggung keguncangan. Kita harus meninggalkan ketenangan bayi dan menggantinya dengan gejolak remaja. JR— wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
REFLEKSI KEMERDEKAAN : RATU ADILAugust 17, 2026“Sekiranya Belanda memerintah dengan adil, kita tak akan melakukan perjuangan Kemerdekaan. Seandainya Jepang tidak melakukan penindasan, kita tidak akan memproklamasikan Kemerdekaan. Karena itu, ketika mensyukuri Kemerdekaan, syukurilah perbuatan zalim dan penindasan para penjajah kita.” Ucapan ini keluar dari pembicara pada sebuah peringatan syukuran yang diselenggarakan salah satu organisasi pemuda Islam yang besar di Indonesia. Terdengar aneh, mengejutkan dan berlebih-lebihan. Tetapi, ia tidak bercanda. Ia memberikan contoh bagaimana perlawanan terhadap penjajah hanya timbul karena adanya penindasan yang sudah tidak tertahankan lagi, bukan karena didorong oleh konsep-konsep yang abstrak. Berbagai kejadian yang kita sebut sebagai perjuangan Kemerdekaan Indonesia bermula terhadap perlakuan tak adil yang dilakukan para penguasa. Mereka melakukan pemberontakan karena tidak tahan dengan pajak yang terlalu mencekik, atau karena penggusuran tanah yang semena-mena, atau karena lahan-lahan pertanian dikorbankan untuk kepentingan para pemilik modal besar, atau karena kekejaman aparat pemerintah. Tak pernah mereka berontak karena ingin mendirikan Negara Republik Indonesia. Konsep “bangsa” dan “negara” masih asing buat mereka, apalagi nasionalisme. Begitu tidak jelasnya konsep ini bagi kebanyakan pejuang Indonesia dan para pemimpinnya, hingga pada pidato lahirnya Pancasila, Bung Karno harus memberikan kursus singkat tentang Kebangsaan. Ia mengutip para pakar ilmu politik dari Eropa bak sebuah kuliah di depan para mahasiswa baru. Buat kebanyakan Ulama’, yang waktu itu berada di garda depan dalam perlawanan terhadap Belanda, nasionalisme dipahami sangat samar-samar. A. Hasan menuding nasionalisme sebagai ‘ashabiyyah. Bila orang berjuang untuk nasionalisme, ia akan mati jahiliah. Polemik pun bergulir antara tokoh nasionalisme dan para Ulama Islam, dimulai dengan debat ideologi antara A. Hasan dan Bung Karno. Kalau begitu, apakah para pemimpin Islam berjuang untuk mendirikan negara Islam? Tidak juga. Konsep “negara” saja sudah samar-samar, apalagi negara Islam. Konsep negara Islam baru hangat diperbincangkan, dianalisis, dijelaskan, setelah Konstituante terbentuk. Dalam hal ini pun, tak ada kesepakatan di antara Ulama’ Islam. Jadi, sudah dapat dijelaskan, ketika Pangeran Diponegoro menaiki kuda dalam jubah putihnya, atau ketika Imam Bonjol bersama para Ulama’-Ulama’ meledakkan perang bertahun-tahun, atau ketika para Ulama’ Aceh memimpin Perang Sabil, atau ketika Ajengan Zaenal Mustafa dari Tasikmalaya melawan fasisme Jepang, tidak terpikir pada benak mereka upaya untuk mendirikan negara Islam. Mereka juga belum merumuskan bagaimana sistem pemerintahan yang mereka jalankan; Presidensil, kerajaan, parlementer, otokrasi, aristokrasi, ataukah teokrasi. Mereka juga bukan untuk mengusir orang asing semata. Mereka melawan orang asing itu karena mereka melakukan penindasan, kezaliman, dan kekejaman. Siapa saja yang berbuat zalim, tak peduli warna kulitnya, mereka lawan. Dalam banyak hal, mereka menentang sesama bangsa, seperti Amangkurat I membunuhi para Ulama’ di alun-alun. Alih-alih konsep-konsep yang abstrak, yang mengilhami para pejuang kita peribahasa sederhana: Raja adil, raja disembah; raja lalim raja disanggah. Jauh dalam kerak sejarah, kita menemukan konsep Ratu Adil. Konsep itu akrab bukan saja dengan para pemikir yang tercerahkan, tetapi juga dengan rakyat kecil yang mencabuti patok-patok kayu di halaman Pangeran Diponegoro. Entah bagaimana, dalam perjalanan sejarah, sesuai dengan kemajuan zaman, konsep Ratu Adil kini terongok dalam museum antropologi untuk mengacu kepada pemikiran bangsa-bangsa “primitif”. Lalu, kita sibuk mendiskusikan konsep nasionalisme, negara Islam, demokrasi, sosialisme, kapitalisme, dan isme-isme yang lain. Pembicaraan kita makin jauh dari kamus rakyat kebanyakan. Wacana kita menjadi eksklusif dan elitis. Kita sendiri makin lama makin tidak mengerti apa yang kita bicarakan. Tetapi, dalam benak rakyat yang tertindas, ketidak-adilan tidak lagi menjadi konsep yang abstrak. Ketidak-adilan adalah kenyataan hidup yang mereka rasakan. Kita, umat Islam di Indonesia, tidak sepakat dengan apa yang kita perjuangkan. Ada di antara kita yang mati-matian ingin mendirikan negara Islam tanpa dengan jelas menegaskan makhluk yang bernama negara Islam itu. Ada juga yang mengatakan bahwa kita harus menempatkan umat Islam (baca: aktivis Islam) pada posisi-posisi yang strategis. Ada juga yang berjuang sederhana saja: bagaimana caranya agar orang-orang Islam rajin shalat, haji, umroh, dan ngaji. Karena tidak sepakat tentang apa yang kita perjuangkan, maka berbeda-bedalah pandangan kita tentang situasi Islam di Indonesia hari ini. Yang memperjuangkan negara Islam tampaknya sudah meninggalkan perjuangannya. Tidak realistis. Yang menginginkan posisi strategis kini tengah mensyukuri keberhasilan perjuangan mereka. Yang ingin memasyarakatkan ritus-ritus Islam jelas kini melihat kebangkitan Islam di Indonesia. Mengapa kita tidak berbicara dengan bahasa yang dipahami semua orang? Mengapa kita tidak berbicara tentang apa yang dirasakan banyak orang? Mengapa kita tidak merujuk pada apa yang dirujuk para pejuang Kemerdekaan Indonesia, pendahulu kita atau pada gagasan yang disimpan dalam hati rakyat kecil sepanjang sejarah? Siapa di antara kita yang tidak setuju dengan Ratu Adil? JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Secara Genetik, Kita Punya Sifat ToleranAugust 10, 2026Sebagai agama mayoritas, Islam berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan. Dan kita mencatat toleransi dan hubungan harmonis antar agama begitu kuat dalam penyusunan UUD 1945. Namun, belakangan ini kita kerap mendengar intoleransi meningkat. Bagaimana Islam dan hubungannya dengan situasi bernegara saat ini? Bila kita berbicara dalam konteks sejarah, seorang ahli politik, George McT Kahin, mengatakan bahwa sebetulnya yang membentuk nasionalisme Indonesia itu adalah Islam. Karena Islam mayoritas dan menyebar di begitu banyak pulau di seluruh indonesia. Indonesia sering dikatakan bukan sebagai suatu bangsa, tapi sebagai kumpulan bangsa-bangsa. Baik itu Jawa, Sunda dan lain-lain. Mereka berbeda-beda. Tapi karena disatukan oleh kitab, lalu mereka membangun bangsa Indonesia. Jadi kontribusi pertama Islam adalah membangun kebangsaan. Orang Indonesia yang beragama Islam, yang terdapat di berbagai daerah bersama-sama membangun suatu bangsa. Islam-lah yang mempersatukan mereka. Dan kontribusi kedua adalah bahwa Islam membantu kita membentuk nasionalisme kebangsaan. Tentu saja karena Islam itu mayoritas, maka dia memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan NKRI. Sampai Bung Karno pendiri bangsa ini berkata, “Kalau kau gali hatiku ini lebih dalam, maka kau temukan di dalamnya itu Islam”. Para pejuang kemerdekaan juga mayoritas orang Islam. Dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sewaktu pembentukan UUD 45 menyusul setelah Piagam Jakarta, kaum muslimin bersedia dalam tanda petik “mengorbankan” kalimat ‘kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi para pemeluknya.’ Itu demi menjaga persatuan. Sehingga dalam pembukaan UUD 45 tidak lagi disebut dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam. Jadi masalah Syariat Islam, sesungguhnya sudah diselesaikan waktu itu, demi NKRI. Dalam pidato Pancasilanya, Bung Karno berkata semua orang Islam dalam NKRI itu bisa berjuang mati-matian secara demokratis untuk memperjuangkan haknya. Tapi kelompok-kelompok yang lain juga bisa berjuang secara demokratis. Pertandingannya itu dalam pemilu. Entah kenapa, belakangan pertandingan itu bergeser, tidak lagi dalam pemilu. Tapi dalam kehidupan sehari-hari. Saya lihat ini terjadi pasca Soeharto (Orde Baru). Karena di zaman Soeharto, orang-orang yang menyentuh masalah agama itu dianggap SARA. Akan segera ditindak oleh Soeharto kalau menyerempet SARA. Setelah itu, Soeharto digantikan oleh Habibie dan Gus Dur. Sampai zaman Gus Dur kita masih menghargai Ke-Bhineka-Tunggal-Ika-an negeri ini, walaupun mulai muncul kebangkitan kaum muslimin. Orang-orang Islam sekarang membentuk partai. Banyak parpol yang mengatasnamakan Islam, mereka bertanding juga dalam pemilu dan sebagian akhirnya memperoleh suara yang bagus. Dalam situasi seperti itu, sering sekali isu-isu agama itu disentuh, menurut saya karena kepentingan politik. Ada kepentingan politik tertentu, sehingga mereka membangkitkan semangat keagamaan yang khusus. Dan belakangan ini mulai muncul tindakan-tindakan intoleran. Bukan saja antar agama, orang Islam dengan agama lain, tetapi juga sesama Islam. Seperti yang terjadi dalam penyerangan Ahmadiyah dan Syiah. Saya selalu bertanya ada apa di balik konflik-konflik sosial itu? Mengapa ketegangan antar umat beragama meningkat justru setelah reformasi? Dengan semakin banyak orang-orang Islam terjun di dunia politik, Islam Politik menjadi hidup kembali. Islam Politik itu dulu di zaman Soeharto di-asas-tunggal-kan. Tapi pasca reformasi, khususnya setelah SBY naik, kepentingan-kepentingan politik, kelompok-kelompok agama itu mulai menguat kembali. Dan sekarang simbol-simbol keagamaan dijadikan alat untuk merekrut para pemilih. Partai-partai politik itu memang biasanya berjuang karena ideologi. Karena Islamnya banyak, partai-partai Islam itu mesti punya identitas. Islam yang mana. Tapi tidak satupun parpol Islam yang mampu merumuskan ideologi. Sekarang Islam tidak lagi dijadikan ideologi. Seperti membela wong cilik (slogan) PDIP. Mereka kemudian menggunakan Islam sebagai identitas golongan. Jadi politik identitas. Karena politik identitas, mesti kita bedakan diri kita dari orang-orang yang non-muslim. Jadi untuk memperkuat identitas politik. Apakah Indonesia hari ini sudah ideal seperti yang diinginkan umat Islam, dan kelompok minoritas dalam Islam, atau kelompok agama lain? Secara historis kita adalah contoh bangsa yang sangat toleran. Begitu tolerannya sampai ada yang menduga bahwa orang Indonesia itu sinkretis. Jadi dia bisa menghimpun unsur-unsur dari berbagai peradaban. Tapi sekarang kita berada pada posisi yang mengkhawatirkan. Dulu bangsa yang damai, kok sekarang jadi galak-galak. Ada seorang penulis Amerika yang meninjau Islam di Indonesia menulis buku tentang “orang beriman yang pemarah”, itu gelar yang diberikan si penulis. Kemudian muncul isu terorisme, yang boleh jadi itu isu yang dibangkitkan untuk menimbulkan kebencian terhadap Islam dari dunia. Nah aksi terorisme itu kemudian dimuat oleh banyak media. Karena beritanya buruk, seksi, maka lakulah di media. Sementara berita-berita yang tidak seksi, seperti ada gerakan sosial di kalangan kaum muslimin sekarang ini, ada yang namanya sedekah rombongan, tidak banyak ditulis media. Ada beberapa orang pengusaha kecil bersama-sama memberikan bantuan kepada masyarakat miskin yang tidak mamu membayar pengobatan di rumah sakit, tidak pernah masuk berita. Tapi kalau masjid disegel, Gereja Yasmin, tempat ibadah ditutup, orang-orang Syiah diserang, itu ramai diberitakan. Partai politik Islam belakangan kian turun popularitasnya, sementara semangat radikalisme mulai muncul. Mengapa ini bisa terjadi? Ada tiga gejala menarik yang muncul pasca reformasi. Salah satunya adalah munculnya kelompok-kelompok kecil yang ekstrim. Kelompok ini muncul karena organisasi transnasional. Sebetulnya mereka tidak bisa dipisahkan dari apa yang terjadi di dunia Islam. Terus ada gerakan yang secara alamiah biasa disebut gerakan pengkafiran. Ada macam-macam bentuknya. Yang berbeda pendapat dengan mereka disebut kafir. Yang disebut kafir bukan hanya orang-orang non-muslim, tapi juga orang muslim yang fahamnya tidak sama dengan mereka. Untungnya bangsa kita masih memiliki sikap toleransi. Kita tidak terlalu terpengaruh dengan gerakan-gerakan yang intoleran. Di Indonesia mereka hanya kelompok kecil. Tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap bangsa kita. Dalam perpektif Islam di Indonesia, masyarakat seperti apa yang dapat dibayangkan di masa depan di negeri ini dalam hal keberagaman agama? Menurut saya pemerintah harus bertindak tegas atas sikap-sikap intoleran. Kita Insyaallah akan menikmati Indonesia yang damai. Karena pada dasarnya kita sangat toleran. Kita punya sikap toleran secara genetis dari orang-orang terdahulu. Sehingga seluruh bangsa bisa hidup berdampingan. Jadi gejala sekarang ini hanya gejala temporer saja. Pemerintah harus menghidupkan kembali lembaga dialog antar umat beragama atau menegakan, membantu lembaga-lembaga yang memperjuangkan kebebasan beragama. Itu harus dibantu. Di masyarakat sudah terjadi sekarang ini. Jangan sampai berhadap-hadapan antara pemerintah yang membiarkan intoleransi dengan masyarakat umum yang membela toleransi umat beragama. Sekarang terjadi komodifikasi agama. Artinya agama dijadikan komoditas dan dijual sebagai barang dagangan melalui media terutama TV. Maka muncullah TV-TV atas nama agama dan kemudian masyarakat pun berlomba-lomba mempelajari agama tidak sebagai pedoman hidup dan tidak mendalam. Karena tidak mungkin media massa menyajikan agama secara mendalam. Kemudian ada ustad dan ustadzah yang sekaligus menjadi model iklan. Dia bisa menjadi bintang iklan satu saat dan bisa menjadi penjual sosis di saat yang lain. Sehingga kita sulit membedakan mana ustad dan selebritas. Dan kadang-kadang kepribadian mereka itu dikemas begitu saja oleh media. Saya tidak setuju juga di TV ada acara orang masuk Islam. Itu menimbulkan gejala tidak sehat. Itu cuma ciri khas di zaman pasca reformasi, semasa Soeharto tidak ada. Apakah Pancasila masih relevan sebagai dasar negara Indonesia? Pancasila sangat relevan. Karena Pancasila itu disepakati oleh seluruh agama. Sama kelompok ekstrim sekalipun, karena saya dulu juga pernah jadi anggota kelompok ekstrim. Apa dari Pancasila itu yang melanggar atau bertentangan dengan Islam? Tidak ada. Periksa satu persatu, tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Kristiani, Budha, semua agama sepakat. Seorang teolog dari Jerman menyebutnya teologi pembebasan. Itu disebut global etik, katanya. Jadi, kita harus berterima kasih kepada Soekarno. Dulu, saya termasuk salah satu orang yang menentang Soekarno dan ikut menjatuhkannya. Maka saya ingin menebus dosa saya. Warisan yang paling berharga dari Soekarno adalah Pancasila. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
ATURAN AIR KOPIAugust 9, 2026Malam itu kami pulang dari sebuah “party” internasional. Kazue Suzuki, salah seorang di antara kami, berjalan dengan kaki telanjang. Tiba-tiba ia menjerit. Kami lihat kakinya berdarah. Ia baru saja menginjak pecahan botol minuman keras. Rupanya ada orang mabuk, melemparkan botol tanpa sadar di pinggir jalan. Segera setelah ia berobat, dengan sopan ia mengajukan pengaduan ke pemerintah kotamadya. Ia menuntut tanggung jawab petugas kebersihan. Kazue celaka karena keteledoran pegawai pemerintah. Semua orang tahu, tidak ada pegawai kebersihan bekerja malam hari. Lagi pula, pecahan botol itu jelas- jelas ulah pemabuk yang tak dikenal. Namun, setelah proses yang tidak bertele-tele, Kazue mendapat ganti rugi. Kejadian itu bukan di Indonesia, tetapi di negara kapitalis yang kita kutuk, Amerika Serikat. Yang menuntut juga bukan orang Indonesia, melainkan orang Jepang −yang mengerti hak-haknya sebagai anggota masyarakat beradab. Sekiranya yang celaka itu saya, yang orang Indonesia, saya tidak akan tahu bahwa saya akan mendapat ganti rugi. Saya akan melihat kejadian itu sebagai musibah. Saya sudah terbiasa melihat kecelakaan yang diakibatkan keteledoran orang atau institusi tanpa bisa menuntut apa-apa. Aturan main di Indonesia itu seperti air kopi. Bila terasa enak, orang berkata, “Kopi ini bagus.” Kopi mendapat pujian. Bila terasa kurang enak, orang berkata, “Gulanya kurang.” Yang disalahkan bukan kopi, melainkan gula. Bila sebuah kota bersih karena penduduknya rajin bekerja bakti, pemerintah kota madya mendapat penghargaan. Bila muka kota itu carut-marut, yang dipersalahkan pastilah penduduknya. Bila semua mobil berjalan dengan tertib, aparat kepolisian mendapat pujian. Bila terjadi kecelakaan lalu lintas, yang salah sopirnya. Bila di beberapa tempat di Jakarta, rakyat melakukan siskamling, polisi atau tentara akan berkata, “Berkat kesiagaan ABRI, situasi Ibu Kota aman dan terkendali.” Bila kerusuhan meledak dan institusi yang seharusnya menjaga keamanan dan ketertiban tidak berfungsi, kita mendengar petugas keamanan berkata, “Keamanan adalah tanggung jawab rakyat di tempatnya masing-masing.” Atau, pejabat yang bertanggung jawab soal keamanan akan mengatakan, “Massa yang beringas telah menimbulkan tindakan perusakan.” Aturan air kopi harus dibedakan dari aturan main masyarakat yang beradab. Yang kedua adalah rule of law; dan yang pertama adalah law of the ruler. Dalam bahasa agama, yang kedua itu keadilan; yang pertama, kezaliman. Marilah kita bandingkan kedua sistem itu. Menurut rule of law, rakyat harus membayar pajak dan menyerahkan kekayaan alam kepada negara. Dengan begitu, mereka menitipkan keamanan hidupnya kepada aparat keamanan, perlindungan dirinya dari gangguan kepada aparat penegak hukum, kemudahan untuk berbisnis kepada aparat departemen perdagangan, dan seterusnya. Bila semua institusi itu tidak menjalankan fungsinya, rakyat berhak menuntut. Kazue menuntut karena kakinya luka. Ia terluka karena petugas kebersihan kota tidak menjalankan fungsinya. Kawan Kazue di Jepang menjaga museum. Salah satu barang berharga di museum itu hilang. Ia bunuh diri. Ia malu karena tidak dapat memenuhi amanat. Ia takut pada tuntutan pemberi amanat. Rakhmat, kawan Kazue, hidup di Indonesia. Aturan mainnya adalah aturan air kopi itu. Jika Rakhmat menginjak pecahan gelas di jalan, ia tidak boleh menuntut. Ia dianggap celaka akibat ulahnya sendiri. Ia tidak berhati-hati berjalan. Ia harus memperhatikan setiap bongkah tanah yang diinjaknya. Petugas kota madya dengan mudah berlepas tangan. Kawan-kawan dan mitra bisnisnya tinggal di Ibu Kota. Seluruh kekayaan mereka dijarah para penjahat. Kehormatan perempuan mereka diperkosa. Kerugian material dan nonmaterial sudah tidak terhitung lagi. Sebelum kerusuhan terjadi, petinggi aparat kemanan menjamin keamanan terkendali. Semua pasukan sudah dalam keadaan siaga penuh. Ketika kerusuhan, rakyat menghubungi kantor-kantor aparat kemanan. Semuanya kosong. Diakui oleh Komisi HAM, aparat kemanan datang sangat terlambat sehingga ada kesan membiarkan peristiwa itu terjadi. Tidak ada aparat keamanan yang bunuh diri, seperti satpam museum di Jepang. Tidak ada yang mengaku lalai atau tidak mampu menjalankan tugas. Tidak juga kita dengar permintaan maaf. Cukuplah kesalahan ditimpakan kepada massa yang tiba-tiba beringas. Massa itu entah datang dari mana. Aparat kemanan tidak dapat mengidentifikasi mereka dan tidak dapat mencegah mereka. Menteri Perhubungan Jepang mengundurkan diri karena sebuah kapal jatuh dan menewaskan ratusan penumpang. Tidak satu menteri pun di Indonesia menyatakan bertanggung jawab ketika lebih dari seribu rakyat mati dalam kerusuhan di Jakarta pada Mei lalu. Sementara itu, di satu tempat di negeri ini, puluhan ribu orang menangisi kehilangan harta dan nyawa tanpa bisa menuntut siapa pun. Mereka boleh jadi hanya sanggup bertanya−itu pun dalam hati: Apa gunanya semua pajak, ditambah upeti, yang telah mereka bayarkan? Saya pernah menonton film Amerika. Seorang polisi dipecat gara-gara ia gagal melindungi nyawa seorang saksi penting. Ia merasa bersalah. Sejak itu, ia berpetualang, melindungi setiap saksi dengan mempertaruhkan nyawanya. Semua dilakukannya tanpa menuntut bayaran. Ia hanya terusik oleh hati nuraninya. Saya tertegun. Bayangkan jika para aparat keamanan di Indonesia tergugah oleh hati nuraninya. Mereka melacak setiap pelaku atau dalang kerusuhan sampai tuntas. Mereka mempertaruhkan jabatan dan nyawanya sekaligus. Saya hentikan lamunan saya. Biarlah cerita film itu hanyalah impian indah pelipur lara. Berbagai peristiwa belakangan ini, setelah reformasi, makin meyakinkan kita bahwa aturan main di negeri ini adalah aturan air kopi. Mudah-mudahan anak saya sempat melihat impian saya dalam kehidupan nyata mereka. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum. *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Jangan-janganAugust 8, 2026Di antara nikmat Allah yang besar ialah: Dia telah menempatkan kita pada suatu negeri dengan kekayaan yang berlimpah. Begitu indahnya negeri ini, hingga bangsa lain menyebut pulau-pulau di Indonesia sebagai “untaian zamrud di khatulistiwa.” Kemudian, selama puluhan tahun, dengan izin Allah kita hidup makmur. Begitu makmurnya, hingga bangsa lain melihat negeri kita sebagai salah satu “macan Asia yang sedang bangkit.” Kita dicukupi dalam sandang, pangan, dan papan. Tiba-tiba kemakmuran yang kita bangun dengan susah-payah diporak-porandakan oleh badai, yang sulit berlalu. Tahun ini Lebaran singgah ketika kita ditimpa musibah. Lebaran mengunjungi kita ketika kita semua harus memikul beban krisis moneter yang berkepanjangan. Sebelumnya kita sudah dihantam dengan kemarau panjang, kebakaran hutan, kelaparan, dan berbagai kecelakaan. Hari ini dada kita sesak karena harga-harga melambung tinggi. Jutaan saudara kita kehilangan pekerjaan. Lebih banyak lagi yang terjerumus ke dalam jurang kemiskinan. Yang masih bekerja dibayang-bayangi ketakutan bakal dirumahkan. Ketika dua ratus orang Indonesia tertawa renyah menukarkan dolar mereka, dua ratus juta saudara kita yang lain harus mengurut dada karena sulitnya mencari rupiah. Kemarin, Lebaran datang lewat langit Indonesia yang kelabu. Ada apa yang terjadi di negeri ini? Mengapa kenikmatan telah berubah menjadi bencana? Mengapa kekayaan anugerah Tuhan musnah begitu saja sehingga kita menjadi salah satu bangsa termiskin di dunia? Kita dapat menjawab pertanyaan- pertanyaan ini dengan analisis ilmiah kita atau dengan sekadar mengotak-atik otak. Tetapi, bagaimana penjelasan Alquran? Salah satu ajaran Alquran ialah bahwa di balik berbagai peristiwa ada sebab-sebab gaib, di samping sebab-sebab lahir. Sains adalah makhluk bermata satu, yang melacak berbagai kejadian pada sebab-sebab material. Bila sebab-sebab itu tidak ditemukan, sains berkata: kejadian ini tidak rasional. Di antara sebab-sebab gaib yang mempengaruhi kehidupan kita adalah perilaku moral kita. Tuhan menyebut sebab kejatuhan satu generasi pada perilaku mereka yang melalaikan salat dan mengikuti hawa nafsunya (QS 19:59). Pada surah al-A’râf ayat 96, Tuhan menisbahkan terbukanya keberkahan dari langit dan bumi pada perilaku bangsa yang beriman dan bertakwa. Pada surah al-Anfal ayat 53-54, Tuhan mencabut kenikmatan pada satu bangsa karena bangsa itu sudah menjadi keluarga. besar Fir’aun (ali Fir’aun): (Siksaan) yang demikian itu terjadi karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu bangsa sehingga bangsa itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Keadaan bangsa itu sama dengan keadaan keluarga Firaun serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya. Maka kami binasakan mereka dengan dosa-dosa mereka dan kami tenggelamkan keluarga Fira’un. Semuanya adalah orang-orang yang zalim (QS 8:53-54). Jangan-jangan langit kelabu yang menimpa kita tahun ini terjadi karena seluruh bangsa ini sudah menjadi keluarga besar Fir’aun. Jangan-jangan para pemegang kekuasaan di antara kita sudah menjadi Fir’aun-Fir’aun kecil, yang menggunakankekuasaan untuk memeras yang lemah, menindas yang rendah, dan merampas hak orang yang tidak berdaya. Jangan-jangan orang-orang berduit kita sudah menjadi Qârun, yang rakus mengumpulkan dunia dengan tidak peduli halal dan haram. Demi duit, kita tak ragu-ragu menghantam, menyakiti, bahkan membunuh sesama saudara kita. Kita sudah menjadi binatang-binatang buas. Zamrud Khatulistiwa sudah kita ubah menjadi rimba raya yang menakutkan. Jangan-jangan para cerdik pandai kita sudah menjadi Haman, yang mempersembahkan kecerdasannya untuk mengabdi kepada kezaliman. Kecerdikan kita pergunakan untuk meliciki orang banyak. Kepintaran kita manfaatkan untuk me-minter-i orang-orang bodoh. Jangan-jangan para ulama kita sudah menjadi Bal’am bin Ba’ura. Kita menjual ayat-ayat Allah untuk memenuhi hawa nafsu kita. Kita mengemas ambisi duniawi dengan ritus-ritus kesalihan. Seharusnya kita melangkahkan kaki kita ke gubuk- gubuk orang miskin dan mengetuk pintu mereka untuk memberikan bantuan kita. Tetapi kini, kita mengayunkan langkah ke istana para penguasa, menundukkan kepala kita di hadapan mereka, seraya menggumamkan ayat-ayat Allah untuk membenarkan kezaliman mereka. Jangan-jangan kita semua sudah tidak peduli lagi dengan perintah-perintah Tuhan. Kita semua sudah menjadi budak- budak dunia. Di masjid, kita membesarkan Allah. Di luar masjid, kita menyepelekan Dia. Di masjid, seluruh anggota badan kita pergunakan untuk beribadah kepada Tuhan. Di luar masjid, kita menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Tangan- tangan yang kita angkat dalam doa-doa kita adalah juga tangan- tangan yang bergelimang dosa. Lidah-lidah yang kita getarkan untuk menyebut asma Allah yang suci adalah juga lidah-lidah yang berlumuran kata-kata kotor. Kepala yang kita rebahkan dalam sujud adalah juga kepala yang kita dongakkan dengan sombong di hadapan hamba-hamba Allah. Marilah kita ubah musibah yang kita alami sekarang menjadi nikmat lagi, dengan mengubah perilaku kita. Tinggalkan arogansi Fir’aun, kerakusan Qârun, kelicikan Haman, dan kemunafikan Bal’am. Tuhan kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau berbuat dosa. Tuhan kami, jangan timpakan kepada kami beban seperti Engkau timpakan kepada umat sebelum kami. Rabbana, jangan timpakan kepada kami siksa yang kami tidak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampuni kami, sayangi kami. Engkau sajalah Pelindung kami. Tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Tobat NasionalAugust 7, 2026Anda mungkin pernah mendengar kisah salat Istisqa’ di Andalusia, Spanyol Islam. Musim kemarau panjang menimpa khilafah Islam di Dunia Barat. Selain kehancuran tanaman akibat kekeringan, berbagai musibah lain terjadi. Raja menyelenggarakan salat Istisqa’ di pusat pemerintahan. Sebagaimana lazimnya, raja harus berkhutbah. Tetapi, begitu ia naik mimbar, suaranya hilang. Tidak sepatah kata pun keluar. Ketua Majelis Ulama Andalusia menyelamatkan raja dengan mengambil alih mimbar. Ajaib, ulama besar itu pun mendadak bisu. Salat yang dimaksudkan untuk menghilangkan musibah menambah musibah baru: para petinggi negara tidak bisa bicara. Di tengah- tengah keheningan yang mencekam, seorang pemuda berdiri di mimbar, mengucapkan salam, dan mulai berkhutbah. Bicaranya lancar, bahasanya fasih, dan topiknya menarik. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa semua musibah yang menimpa negeri Islam itu terjadi karena kesalahan raja dan para penguasa. Ia meminta raja dan semua pejabat bertobat. Ia menyebut satu demi satu kesalahan mereka. Ia meminta mereka mengakuinya di hadapan rakyat dan Tuhan. Raja, seperti mewakili para penguasa lainnya, menangis keras. Khatib berkata, “Bila penguasa bumi sudah takut kepada Tuhan, akan ridhalah Penguasa Langit.” Bersamaan dengan aliran air mata raja, hujan pun perlahan-lahan turun, makin lama makin deras. Kisah ini segera saya ingat ketika M. Amien Rais bertabligh akbar di Masjid Al-Azhar, Jakarta. Amien menyebut musibah satu demi satu. Ia meminta para pemimpin untuk bertobat. Ia mengimbau pemerintah untuk menunaikan amanat yang dibebankan kepada mereka. Ia memperingatkan para penguasa untuk bersikap rendah hati dan mengurangi arogansinya. Pada acara tabligh akbar itu hujan tidak turun, seperti di Andalusia dahulu. Amien sudah menggantikan posisi pemuda, tetapi tak seorang pun menggantikan posisi raja dan ulama. Tidak kita dengar ada raja atau ulama menangis di sana. Walaupun kita tahu, ada banyak raja dan ulama yang mendadak bisu ketika menjelaskan musibah. Marilah kita anggap seruan Amien untuk tobat nasional itu sebagai khutbah Istisqâ’. Apa reaksi para pemimpin Islam pada ajakan Amien? Tidak satu tetes air mata pun jatuh. Seorang petinggi negara keheranan, bagaimana mungkin mengumpulkan semua orang untuk bertobat. Rupanya, bagi beliau, tobat nasional adalah mengumpulkan semua orang di tanah lapang di seluruh negeri dan berteriak bersama, “Aduh Gusti, ampuni kami semua.” Petinggi lainnya mempertanyakan dalil Alquran dan Hadis untuk membenarkan tobat nasional. Dalam Alquran tidak ada tobat nasional. Yang ada tobat nasuha. Pesan Amien tampaknya disalah-pahami. Para sufi menyebut tobat sebagai stasiun pertama dalam perjalanan menuju Tuhan. Semua langkah yang kita lakukan akan sia-sia bila tidak dimulai dari stasiun tobat. Tobat, kata Ibn Qayyim al-Jawziyyah, adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah, dengan meninggalkan jalan orang-orang yang dimurkai Tuhan dan jalan orang-orang yang tersesat. Tobat tidak akan terjadi tanpa memperoleh petunjuk untuk kembali kepada jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim). Orang tidak akan kembali kepada jalan lurus bila tidak menyadari dosa-dosanya, dan bila tidak mengulangi perbuatan dosanya. “Karena itu,” masih kata Ibn Qayyim, “tobat tidak sah kecuali dengan menyadari dosa, mengakuinya, dan berusaha mengatasi akibat-akibat dari dosa yang dilakukannya.” (Madárij as-Salikin, 1: 179). Jadi, dengan menggunakan rujukan itu, tobat nasional artinya kembalinya bangsa ini ke jalan yang lurus, meninggalkan perilaku berbangsa yang dimurkai Tuhan. Pada tahap pertama, kita harus mendaftar dosa-dosa yang kita lakukan sebagai bangsa. Kita harus menyadari bahwa di samping dosa-dosa individual, seperti merampas hak orang lain, kita juga terlibat dalam dosa-dosa kolektif. Kitaꟷdalam bahasa Amien Raisꟷsudah menjadi bangsa berdarah dingin. Kita tidak tersentuh dengan derita anak bangsa kita yang dipancung di negeri orang tanpa peradilan, pengadilan, dan keadilan. Kita juga sudah menjadi bangsa yang penakut. Kita belajar untuk tidak berbicara yang benar. Kita mengembangkan keterampilan bahasa yang menyembunyikan realitas pahit dalam kemasan manis. Paling parah dari semuanya, kita menjadi bangsa pecinta dongeng. Apa saja cerita yang dibuat oleh orang berkuasa, betapapun tidak masuk akalnya, menjadi keyakinan kita. Agar tobat nasional sah, setelah kesadaran akan dosa, kita harus melanjutkannya pada tahap kedua: membuat pengakuan. Pengakuan adalah syarat utama tobat. Dengan pengakuan, kita bergerak dari wujud yang rendah ke wujud yang tinggi. Menurut para sufi, manusia adalah gabungan sifat Tuhan, binatang, binatang buas, dan setan. Keinginan untuk bertobat dan mengaku salah datang dari pancaran sifat Tuhan. Kesombongan lahir dari sifat kebinatang-buasan (sab’iyyah). Karena kesombongan, orang pantang mengaku salah. Mereka khawatir pengakuan salah dapat menjatuhkan martabatnya (juga kedudukannya). Dari sifat setan, manusia memperoleh kemampuan untuk mencari pembenaran bagi kesalahan. Alih-alih mengakui salah, ia mengembangkan berbagai alasan untuk membenarkan kesalahannya. Dengan pengakuan, manusia menyembuhkan dua penyakit utama pedosa: takabur dan pembenaran. Dengan pengakuan, manusia menaklukkan sifat-sifat sab’iyyah dan syaythaniyyah ke bawah kekuasaan sifat rabbaniyyah. Ia memperbanyak sifat-sifat emas dan memperkecil sifat-sifat tembaga. Jalaluddin Rûmî berkata, “Ada ribuan serigala dan babi dalam wujudmu: baik dan buruk, indah dan jelek. Sifat manusia ditentukan oleh sifat yang dominan. Jika emas lebih banyak dari tembaga, manusia menjadi emas.” JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Negara Supra AgamaAugust 5, 2026Masa pemerintahan Mughal, tahun 1500-1600-an, dianggap sebagai zaman keemasan India. Anak Benua India berhasil dipersatukan secara politik sebagai sebuah bangsa, dan dikembangkan secara kultural sebagai masyarakat yang multiagama dan multibudaya. Pada zaman Mughal, untuk pertama kali India menjadi sebuah pemerintahan yang disentralisasikan. Pemerintah berhasil membangun India dalam suasana perdamaian, ketertiban, dan stabilitas. Stabilitas politik dan kemak- muran melahirkan kehidupan budaya yang menakjubkan. Ilmu, filsafat, dan berbagai kesenian mencapai kemajuan pesat. Dalam seni rupa dan arsitektur, Kekaisaran Mughal melahirkan sebuah mazhab unik, Mazhab Mughal. Di sini, gaya Persia-Islam dan gaya India-Hindu berpadu dalam sintesis yang indah. Salah satu jejak budaya Mughal yang kecantikannya bertahan ratusan tahun adalah Taj Mahal. Kebesaran Kekaisaran Mughal tidak dinisbatkan kepada pendirinya Babur, keturunan Taymuri Lang, tetapi kepada Akbar, yang memerintah pada tahun 1542-1605. Sejarah mencatat, Akbar sebagai raja Muslim yang berhasil memerintah sebuah anak benua yang mayoritas beragama Hindu. Ketika ia meninggal, semua pemeluk agama menangisinya. Ia dikenang sebagai sulthâni ‘adil, Sang Ratu Adil. Abu al-Fadhl menggambarkan pada kita pemerintahan Akbar serta ideologi yang mendasarinya dalam tiga jilid ‘Ayni Akbari dan tiga jilid Akbarnamâ. Akbar ternyata seorang raja sufi yang menghabiskan malam dalam bermunajat kepada Tuhan. Ia mempraktikkan zikir seperti Ya Hu dan Ya Hadi sepanjang malam. Ia sering berkhalwat, mengasingkan dirinya dari urusan duniawi, untuk beberapa waktu. Kadang ia pergi ke hutan dengan alasan berburu. Abû al-Fadhl menggambarkannya, “Ia terus-menerus berburu, tapi secara batiniah berjalan bersama Tuhan.” Pada tahun 1575, Akbar mendirikan Ibadat khana, rumah ibadat. Di situ semua agama melakukan dialog antaragama dan intragama. Semua aliran bebas mengeluarkan pendapatnya. Akbar menghidupkan nonsektarianisme dan menyerahkan semua agama pada pengadilan akal. Tak mungkin terjadi dialog antaragama bila setiap agama membuktikan kebenarannya dengan merujuk kitab sucinya. Akbar percaya, dalam dialog yang terbuka tanpa campur tangan kekuasaan, kebenaran akan lahir. Empat tahun kemudian, Akbar meminta Syaikh Mubarak, seorang yang dikenal sangat alim dan salih, merancang “garis-garis besar haluan negara.” Di balik konsep ini terdapat pandangan tentang Ratu Adil. Keadilan adalah esensi ajaran agama. Keadilan juga sifat Tuhan. Untuk memerintah dengan adil, raja harus menjadikan akal sebagai pembimbingnya. Ia tak boleh membeda-bedakan rakyatnya berdasarkan agama atau keyakinannya. Bila seorang raja sudah mengistimewakan satu golonganꟷberdasarkan agama, ras, atau aliranꟷ serta meremehkan golongan lain, ia telah bertindak tidak adil. Yang harus menjadi perhatian raja bukanlah golongan, tapi kepentingan seluruh bangsa. Untuk itu, ia boleh berijtihad. Selama tidak bertentangan dengan Alquran, ia dapat saja menetapkan keputusan-keputusan legal yang bermanfaat bagi rakyat. Ratu Adil tak boleh terikat pada satu mazhab fikih. “Manusia sejati ialah orang yang menjadikan keadilan sebagai petunjuk pencarian kebenaran, dan mengambil dari semua aliran apa saja yang sesuai dengan akal,” begitu bunyi dekrit yang disahkan Akbar. Tujuan pemerintahan adalah menyejahterakan rakyat, terutama rakyat kecil. Kepada Todar Mal, Menteri Keuangannya, Akbar menegaskan bahwa ibadah yang paling utama ialah menolong orang lemah. Pembaharuan Akbar bukan tak mendapat kritik. Para ulama fiqih menentang dekrit Akbar. Berbagai tuduhan dilemparkan kepadanya: Syi’ah, murtad, Hindu, pendiri agama baru. Ia dituding Syi’ah karena mempunyai guru dari Persia, Mir ‘Abdul lathif, seorang yang sangat terbuka. Menurut Abu al-Fadhl, ‘Abdullathif disebut Syi’ah di India dan Sunni di Persia, karena keluasan pandangan dan sikapnya yang tidak fanatik. Ia dituduh murtad karena berpegang pada paham wahdah al-wujud. Ia dianggap Hindu karena mempekerjakan orang-orang Hindu pada posisi-posisi penting dalam pemerintahan. Ia dipandang mendirikan agama baru karena menegaskan bahwa untuk memperoleh kebenaran kita harus bersedia mendengar dan belajar dari semua agama. Ia memang mendirikan sebuah tarekat, yang disebut tawhidi ilahi. Ia juga mengkritik agama yang formalistis dan didasarkan pada taklid. Ia menyebutnya Islami majazi wa taqlidi. Ada yang menduga, Akbar memasuki tarekat karena pengaruh aliran tarekat Chisytiyyah, yang didirikan Mu’inuddin Chisyti dari Sistan, Iran Timur. Tarekat Chisytiyyah mengajarkan, kita hanya dapat mendekati Tuhan dengan berkhidmat tanpa pamrih kepada makhluk Tuhan, apa pun agamanya. Seorang pengikut Chisytiyyah memulai perjalanannya menuju Tuhan dengan melayani keperluan orang miskin. Mu’inuddin sendiri mendapat gelar Pembela Orang Miskin. Kuburannya di Azmer diziarahi oleh ribuan orang Islam dan Hindu. Boleh jadi, Akbar terpengaruh ajaran Chisytiyyah yang menyatakan bahwa akhlak yang membuat Tuhan sayang kepada kita ada tiga: kedermawanan, seperti sungai yang mengalirkan airnya ke mana pun tempat yang lebih rendah darinya, kasih sayang matahari yang memberikan sinarnya kepada semua yang di bawahnya, besar atau kecil, dan keramahan, seperti bumi yang bersedia menerima intan dan sampah ke dalam pelukannya. Akbar berusaha mewujudkan doktrin ini dalam pemerintahannya. Yang didirikannya bukan negara agama, tetapi negara supra agama. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...

Buku Karya KH. Jalaluddin Rakhmat

« of 2 »

Videografi

This error message is only visible to WordPress admins

Unable to retrieve new videos without an API key.

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

Audiografi

UJR-MFR

“Jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun”

​KH. Jalaluddin Rakhmat
@katakangjalal

Contact Jalan Rahmat

Jl. Kampus II No. 13-15. Kiaracondong. Bandung