Jangan-jangan

Di antara nikmat Allah yang besar ialah: Dia telah menempatkan kita pada suatu negeri dengan kekayaan yang berlimpah. Begitu indahnya negeri ini, hingga bangsa lain menyebut pulau-pulau di Indonesia sebagai “untaian zamrud di khatulistiwa.” Kemudian, selama puluhan tahun, dengan izin Allah kita hidup makmur. Begitu makmurnya, hingga bangsa lain melihat negeri kita sebagai salah satu “macan Asia yang sedang bangkit.” Kita dicukupi dalam sandang, pangan, dan papan. Tiba-tiba kemakmuran yang kita bangun dengan susah-payah diporak-porandakan oleh badai, yang sulit berlalu. Tahun ini Lebaran singgah ketika kita ditimpa musibah. Lebaran mengunjungi kita ketika kita semua harus memikul beban krisis moneter yang berkepanjangan. Sebelumnya kita sudah dihantam dengan kemarau panjang, kebakaran hutan, kelaparan, dan berbagai kecelakaan. Hari ini dada kita sesak karena harga-harga melambung tinggi. Jutaan saudara kita kehilangan pekerjaan. Lebih banyak lagi yang terjerumus ke dalam jurang kemiskinan. Yang masih bekerja dibayang-bayangi ketakutan bakal dirumahkan. Ketika dua ratus orang Indonesia tertawa renyah menukarkan dolar mereka, dua ratus juta saudara kita yang lain harus mengurut dada karena sulitnya mencari rupiah. Kemarin, Lebaran datang lewat langit Indonesia yang kelabu.

Ada apa yang terjadi di negeri ini? Mengapa kenikmatan telah berubah menjadi bencana? Mengapa kekayaan anugerah Tuhan musnah begitu saja sehingga kita menjadi salah satu bangsa termiskin di dunia? Kita dapat menjawab pertanyaan- pertanyaan ini dengan analisis ilmiah kita atau dengan sekadar mengotak-atik otak. Tetapi, bagaimana penjelasan Alquran? Salah satu ajaran Alquran ialah bahwa di balik berbagai peristiwa ada sebab-sebab gaib, di samping sebab-sebab lahir. Sains adalah makhluk bermata satu, yang melacak berbagai kejadian pada sebab-sebab material. Bila sebab-sebab itu tidak ditemukan, sains berkata: kejadian ini tidak rasional.

Di antara sebab-sebab gaib yang mempengaruhi kehidupan kita adalah perilaku moral kita. Tuhan menyebut sebab kejatuhan satu generasi pada perilaku mereka yang melalaikan salat dan mengikuti hawa nafsunya (QS 19:59). Pada surah al-A’râf ayat 96, Tuhan menisbahkan terbukanya keberkahan dari langit dan bumi pada perilaku bangsa yang beriman dan bertakwa. Pada surah al-Anfal ayat 53-54, Tuhan mencabut kenikmatan pada satu bangsa karena bangsa itu sudah menjadi keluarga. besar Fir’aun (ali Fir’aun): (Siksaan) yang demikian itu terjadi karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu bangsa sehingga bangsa itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Keadaan bangsa itu sama dengan keadaan keluarga Firaun serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya. Maka kami binasakan mereka dengan dosa-dosa mereka dan kami tenggelamkan keluarga Fira’un. Semuanya adalah orang-orang yang zalim (QS 8:53-54).

Jangan-jangan langit kelabu yang menimpa kita tahun ini terjadi karena seluruh bangsa ini sudah menjadi keluarga besar Fir’aun. Jangan-jangan para pemegang kekuasaan di antara kita sudah menjadi Fir’aun-Fir’aun kecil, yang menggunakankekuasaan untuk memeras yang lemah, menindas yang rendah, dan merampas hak orang yang tidak berdaya.

Jangan-jangan orang-orang berduit kita sudah menjadi Qârun, yang rakus mengumpulkan dunia dengan tidak peduli halal dan haram. Demi duit, kita tak ragu-ragu menghantam, menyakiti, bahkan membunuh sesama saudara kita. Kita sudah menjadi binatang-binatang buas. Zamrud Khatulistiwa sudah kita ubah menjadi rimba raya yang menakutkan. Jangan-jangan para cerdik pandai kita sudah menjadi Haman, yang mempersembahkan kecerdasannya untuk mengabdi kepada kezaliman. Kecerdikan kita pergunakan untuk meliciki orang banyak. Kepintaran kita manfaatkan untuk me-minter-i orang-orang bodoh.

Jangan-jangan para ulama kita sudah menjadi Bal’am bin Ba’ura. Kita menjual ayat-ayat Allah untuk memenuhi hawa nafsu kita. Kita mengemas ambisi duniawi dengan ritus-ritus kesalihan. Seharusnya kita melangkahkan kaki kita ke gubuk- gubuk orang miskin dan mengetuk pintu mereka untuk memberikan bantuan kita. Tetapi kini, kita mengayunkan langkah ke istana para penguasa, menundukkan kepala kita di hadapan mereka, seraya menggumamkan ayat-ayat Allah untuk membenarkan kezaliman mereka.

Jangan-jangan kita semua sudah tidak peduli lagi dengan perintah-perintah Tuhan. Kita semua sudah menjadi budak- budak dunia. Di masjid, kita membesarkan Allah. Di luar masjid, kita menyepelekan Dia. Di masjid, seluruh anggota badan kita pergunakan untuk beribadah kepada Tuhan. Di luar masjid, kita menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Tangan- tangan yang kita angkat dalam doa-doa kita adalah juga tangan- tangan yang bergelimang dosa. Lidah-lidah yang kita getarkan untuk menyebut asma Allah yang suci adalah juga lidah-lidah yang berlumuran kata-kata kotor. Kepala yang kita rebahkan dalam sujud adalah juga kepala yang kita dongakkan dengan sombong di hadapan hamba-hamba Allah. Marilah kita ubah musibah yang kita alami sekarang menjadi nikmat lagi, dengan mengubah perilaku kita. Tinggalkan arogansi Fir’aun, kerakusan Qârun, kelicikan Haman, dan kemunafikan Bal’am.

Tuhan kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau berbuat dosa. Tuhan kami, jangan timpakan kepada kami beban seperti Engkau timpakan kepada umat sebelum kami. Rabbana, jangan timpakan kepada kami siksa yang kami tidak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampuni kami, sayangi kami. Engkau sajalah Pelindung kami. Tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *