Dakwah dalam Transformasi Sosial

“Kita memerlukan cinta. Selama lebih dari jutaan tahun dalam perkembangan spesies kita, cinta telah ditanamkan ke dalam diri kita. Seperti monyet dan kera yang memerlukan induk yang mencintai dan kelompok keluarga kecil atau besar, seperti mereka, kita memerlukan kehadiran orang lain. Kita memerlukan perawatan ibu untuk merangsang kecerdasan kita. Tanpa orang-orang yang ramah, baik dalam keluarga maupun sahabat yang akrab, kita tidak bisa bahagia. Sebagian di antara kita malah mati. Tanpa cinta, manusia tidak dapat hidup sehat dan bahagia. Cinta sama pentingnya bagi kesehatan fisik dan mental sama seperti vitamin, makanan bergizi, olah raga, dan lingkungan hidup yang sehat. Di Barat, masyarakat telah berusaha keras dan mengatur sebaik-baiknya agar tercipta situasi yang lebih baik bagi semua orang-sistem pembuangan yang baik, air minum yang bersih, perawatan kesehatan, jaminan kesejahteraan sosial, tunjangan khusus untuk ibu-ibu bagi kepentingan anak, sekolah, rumah bagi lansia, rumah sakit. Sebuah struktur organisasi negara yang besar diciptakan untuk menjamin agar kebu tuhan pokok manusia bisa dipenuhiꟷtetapi kita tidak menemukan cinta di dalamnya. (Celia Haddon, 1990).

Celia Haddon sebetulnya menceritakan keadaan masyarakat yang lazim disebut ‘developed countries’, negeri yang berhasil membangun. Pembangunan telah memberikan berbagai fasilitas. Kebutuhan pokok telah terpenuhi. Orang-orang yang lemahꟷorang tua, orang sakit, anak-anak, orang miskin, penganggurꟷdiberikan santunan untuk hidup layak sebagai manusia. Rakyat diberikan kebebasan untuk memilih gaya hidupnya, menyatakan pendapatnya, ikut serta dalam pemerintahan, dan mengembangkan potensi mereka. Pemerintah hadir untuk berkhidmat bagi kepentingan masyarakat. Hukum dibuat untuk melindungi, bukan untuk menindas. Tetapi dengan segala kemudahan itu, negara-negara maju telah kehilangan cinta.

Haddon memberi contoh pendidikan, “Banyak dana dan energi telah dihabiskan untuk membiayai pendidikanꟷmembangun gedung baru, kolam renang, kelas-kelas yang lebih kecil, metoda pengajaran yang baru. Tetapi, penelitian telah membuktikan bahwa sebagian besar ternyata sia-sia. Gedung, ukuran sekolah, perbedaan administrasi di dalamnya tidak berpengaruh pada kualitas lulusan. Yang ternyata berpengaruh adalah hal lain yang lebih tidak kentara, sesuatu yang dapat saya sebut sebagai ‘kehangatan institusional’. Penelitian membuktikan bahwa suasana sekolah bukan bentuk luar bangunan atau organisasi yang mempengaruhi murid. Suasana itu tampak pada moril keseluruhanꟷguru yang bersedia memberi waktu ekstra dan perhatian tambahan kepada siswa, yang menekankan dorongan dan pujian alih-alih mengecam, memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada siswa, beserta staf pengajar yang menjadi teladan yang baik.”

Kita dapat memberikan gambaran yang sama pada politik dan agama. Struktur politik boleh jadi dibangun untuk menegakkan demokrasi. Tetapi, para penguasa dipilih dengan memanipulasi simbol dan informasi. Politik jadi panggung sandiwara yang tidak menghibur. Mereka memasuki gelanggang politik dengan membawa topeng-topeng. Mereka ‘membujuk rakyat dengan sejumlah janji. Mereka melihat rakyat sebagai tumpukan suara yang bisa dibeli. Pemimpin tidak lagi memimpin, tetapi memerintah. Sementara itu, agama juga menjadi sejumlah ritus dan upacara. Dalam metafora Nabi Saw. “Masjid-masjid mereka ramai tetapi kosong dari petunjuk.” Kesalehan tidak jarang digunakan untuk menyembunyikan keangkuhan dan menutupi penyelewengan. Lembaga-lembaga agama menjadi lembaga-lembaga keuangan yang memperlakukan kasih hanya sebagai komoditas. Teks-teks kitab suci dijadikan amunisi untuk ‘menembaki’ orang-orang yang dianggap sesat. Sebagaimana politik, agama telah kehilangan cinta. “Agama adalah kecintaan yang tulus. Tidak ada agama kalau sudah kehilangan kecintaan yang tulus,” sabda Nabi Saw.

Walaupun cerita di atas berkenaan dengan masyarakat yang sudah berhasil membangun, secara perlahan dan pasti masyarakat kita pun menuju ke sana. Banyak orang yang mendefinisikan pembangunan sebagai ‘mengantarkan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern’. Pembangunan bukan saja pertumbuhan ekonomi; ia juga transformasi sosial. Bersamaan dengan modernisasi dan kemakmuran, pembangunan membawaꟷapa yang disebut sosiolog Lyman dengan the Seven Deadly Sins, tujuh dosa maut: ketidakpedulian, nafsu, angkara murka, kesombongan, iri hati, lahap, dan kerakusan. Begitu besarnya dosa modernisasi ini, sehingga sebagian penulis menyamakan kemodernan dengan skizoprenia (Louis A. Sass, 1992). Modernitas menjadi sejenis kepribadian yang dingin, kaku, tanpa arah, dan tidak manusiawi (dehumanized).

Akan tetapi, modernitas bukan hanya membawa dosa, ia juga menabur jasa. Agar sistem modern berjalan efektif diperlukan jenis kepribadian yang khas. Alex Inkeles pernah merincinya. Kita hanya menyebutkan sebagian saja. Orang modern siap menjelajah pengalaman baru; terbuka untuk menerima inovasi dan perubahan. Ia siap membentuk dan mempertahankan pendapatnya sambil menghargai perbedaan pendapat. Ia tidak kaku berpegang pada gagasannya. Ia tidak takut berbeda pendapat; juga tidak membencinya. Orang modern berorientasi kepada masa kini dan masa yang akan datang. Ia bersedia menangguhkan pemuasan saat ini untuk masa depan yang lebih baik (delayed gratification).

Dengan kedua sisi kepribadian modern ini, marilah kita lihat apa yang dapat dilakukan oleh kegiatan dakwah Islamiah. Transformasi sosial karena pembangunan sudah terjadi. Karakteristik masyarakat modern sudah kita saksikan di negeri kita. Apa peran dakwah dalam transformasi sosial ini? Apa kontribusi dakwah dalam menyelamatkan manusia bukan saja dari tujuh dosa maut tetapi juga dari proses dehumanisasi yang sekarang tengah berlangsung?

Apa yang Harus Didakwahkan?

Berdasarkan banyak ayat dakwah, kita dapat menyimpulkan bahwa dakwah adalah upaya apa saja untuk membawa manusia ke jalan Allah. Dakwah adalah proses transformasional ketika orang-orang ꟷda’i dan sasaran dakwahꟷ bertukar informasi dan pengaruh. Informasi adalah hal-hal yang bersifat faktual, logis, dan terbuka untuk berbagai penafsiran. Pengaruh adalah upaya untuk memotivasi, mendorong, dan atau mengendalikan orang lain.

Da’i menyampaikan informasi tentang Islam. Ia juga berusaha memotivasi, mendorong, dan mengarahkan orang untuk mengamalkan ajaran Islam. Informasi tentang Islam berasal dari Al-Qur’an, Sunnah dan warisan peradaban Islam sepanjang sejarah. Apa yang disebut dengan ajaran Islam tidaklah murni ilahi (divine). Yang kita sebut sebagai ajaran Islam adalah penafsiran kita pada Al-Qur’an dan Sunnah dan pelajaran yang kita peroleh dari pendahulu kita. Kita tidak pernah mengamalkan Islam. Kita hanya mengamalkan apa yang kita pahami sebagai ajaran Islam. Salah satu kekuatan Islam ialah terbukanya Islam untuk interpretasi baru, reinterpretasi, sesuai dengan kondisi sejarah. Dalam setiap babakan sejarah, Islam tampil dalam wajah bermacam-macam. Islam hadir dalam dua visi: temporal dan universal. Yang universal berlaku sepanjang masa. Yang temporal adalah wajah Islam yang lahir ketika menghadapi cabaran semasa. Saya sepakat dengan Dr. Shoroush, yang mengatakan bahwa:

Now, since presuppositions are age-bound, can change and do change in fact, religious knowledge, or the science of religion, which is the product of understanding (comprehending) will be in a continous change (flux), and since it is only through those presuppositions that one can hear the voice of revelation, hence the religion itself is silent, and since the interpretation of the text is social by nature and depending on the community of experts, like all learned activities it will an independent dynamic entity; abstracting from individual interpreters, containing right and wrong, certain and dubious ideas, the wrong ones being as important as the right ones from the evolutionary point of view. It is a branch of knowledge, no less no more. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *