Pedagang Tabriz

Seorang pedagang kaya dari Tabriz singgah di Qonya, Turki. Ia bertanya kepada para wakilnya, siapa orang yang paling faqih dan salih di negeri itu. Ia ingin berkunjung kepadanya untuk memberikan penghormatan. “Saya bepergian jauh ke setiap negeri bukan hanya untuk cari uang. Saya ingin juga berkenalan dengan orang-orang mulia di setiap kota.” Wakilnya membawa dia kepada Syaikh al-Islam, yang terkenal karena ilmu dan kesalihannya. Ia memilih barang-barang berharga di tokonya seharga tiga puluh sequin. Rombongannya segera pergi menuju alim besar itu. Sang saudagar menemukan ulama itu tinggal di istana yang megah. Ada pengawal di pintu gerbang dan sejumlah besar pelayan, petugas, dan pembantu di ruang tengahnya. Sambil melirik ke para pengantarnya, ia menanyakan apakah mereka tidak membawanya ke istana raja. Ia sangat tidak suka dengan apa yang dilihatnya. Ia mempersembahkan hadiahnya. Kemudian ia bertanya, apakah sang ulama berkenan mengatasi keraguan yang mengusik hatinya. Ia berkata, “Beberapa waktu lalu, saya menderita kerugian besar. Dapatkah Anda menunjukkan jalan bagaimana saya menghindari posisi sulit ini? Saya selalu membayar dua setengah persen zakat mal setiap tahun. Selain itu, saya juga membagikan sedekah semampu saya. Saya tak mengerti mengapa saya mengalami kerugian.”

Ulama besar itu tidak memberikan jawaban memuaskan. Akhirnya, saudagar itu meninggalkan tempat tanpa memperoleh jawaban. Pada hari berikutnya, ia bertanya kepada kawan- kawannya apakah di kota itu ada alim miskin yang kesalihannya menjadi teladan orang. Ia ingin memberikan penghormatan kepadanya. Mungkin ia bisa memperoleh pelajaran yang telah lama diinginkannya, berikut nasihat yang berguna baginya. Mereka menjawab, “Orang yang Anda cari seperti yang Anda gambarkan adalah pemimpin kami, Jalaluddin Rûmî. Ia sudah meninggalkan segala kenikmatan, kecuali kecintaanya kepada Tuhan. Bukan saja sudah tidak memperhatikan masalah duniawi, ia juga sudah tak merisaukan apa yang akan terjadi nanti. Ia menghabiskan malam dan siangnya untuk beribadat kepada Allah. Ia sudah menjadi lautan ilmu, baik pengetahuan lahiriah maupun pengetahuan rohaniah.”

Pedagang Tabriz sangat tertarik dengan informasi itu. Ia mohon dipertemukan dengan orang suci itu. Sekadar penyebutan akhlaknya saja sudah membahagiakan hatinya. Lalu, mereka membawanya ke pesantren Jalâl. Sebelumnya, ia sudah mempersiapkan hadiah seharga lima puluh sequin dalam bentuk emas, untuk diberikan kepada sang wali. Ketika ia sampai di pesantrennya, Jalâl sedang duduk sendirian di tempat mengajar, asyik membaca kitab. Rombongan tamu itu membungkuk dengan penuh hormat. Pedagang itu betul-betul terpukau melihat guru yang sangat berwibawa itu. Ia begitu terpesona sehingga tak sanggup membendung tangisannya dan tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Jalâl menyapanya, “Lima puluh sequin yang telah kau sediakan untukku, kuterima. Tetapi, lebih baik lagi dari itu adalah dua ratus sequin kerugianmu. Allah telah menentukan untuk memberikan kepadamu keputusan yang pahit dan ujian yang berat. Dengan kunjunganmu ke sini, Tuhan telah mengampunimu dan cobaan itu telah dihilangkan darimu. Jangan berduka. Setelah ini selanjutnya kamu tak akan menderita kerugian lagi. Apa yang telah kau derita akan diganti Tuhan.”

Pedagang itu sangat takjub mendengarkan kata-kata Jalal dan sekaligus bahagia. Lebih bahagia lagi, ketika Jalâl menerusan pembicaraannya: “Penyebab kerugian dan kemalangan yang kamu derita akan kuceritakan. Kamu pernah berada di sebelah barat Firengistan (Eropa). Di situ kamu pergi ke salah satu bagian kota. Kamu melihat seorang Firengi yang miskin, salah seorang di antara wali Allah yang besar dan sangat dicintai-Nya. Ia berbaring di sudut pasar. Ketika kamu melewatinya, kamu meludahinya, menunjukkan kebencianmu kepadanya. Hatinya terluka karena tindakan dan perilakumu. Inilah peristiwa yang menyebabkan semua musibah yang menimpamu. Pergilah kamu sekarang. Sambungkan silaturahmi dengan dia. Mintakan maaf kepadanya serta sampaikan salam kami.” Saudagar Tabriz terpaku membisu. Jalâl kemudian bertanya kepadanya, “Maukah aku tunjukkan kepadamu keadaan dia sekarang?” Sambil berkata begitu, ia meletakkan tangannya pada dinding pesantren. Ia menyuruh saudagar melihatnya. Tiba-tiba, jalan keluar terbuka. Saudagar itu melihat orang di Firengistan, terbaring masih di sudut pasar. Setelah menyaksikan semua itu, ia bersujud dan menyobek-nyobek jubahnya. Ia meninggalkan tempat Jalâl dalam keadaan galau, Segera sesudah itu, tanpa berlama-lama, ia berangkat menuju kota yang dimaksud. Ia menanyakan lokasi kota yang di situ ada orang miskin berbaring. Ia menemukan dia masih berbaring persis seperti diperlihatkan Jalâl kepadanya, Saudagar itu turun dari kudanya, merebahkan dirinya di hadapan orang Firengi, (meminta maaf atas kelakuannya sebelumnya).

Kisah di atas diceritakan oleh Syamsuddin Ahmad Al-Aflaki dalam Manaqib al-Arifin. Ia membawa kita bukan saja kepada dunia Sufi yang mengherankan, tetapi juga membuat kita mempertanyakan cara kita memandang berbagai kejadian di dunia ini. Kita adalah makhluk yang selalu diusik untuk mencari jawaban tentang sebab di balik berbagai peristiwa. Biasanya kita mencarinya pada rangkaian sebab-akibat yang paling dekat. Mengapa terjadi musibah moneter? Pengaruh berita yang kita dengar, kebijakan pemerintah yang setengah-setengah, ulah spekulan yang tidak bertanggung jawab, atau apa? Seringkali berbagai penjelasan itu tetap membingungkan kita. Dalam situasi seperti itu kita berkata, “Ini sudah tidak masuk akal.” Profesor Mohammad Sadali, pakar ekonomi, berkata jujur, “Ini tidak bisa diterangkan secara ekonomi, karena penyebabnya bukan faktor ekonomi.”

Mungkin kita harus bertanya kepada orang seperti Jalaluddin Rumi. Jangan-jangan sebabnya sama: Kita pernah melewati rakyat miskin dan meludahi mereka. Rebahkan dirimu di hadapan mereka. Bersihkan tubuh mereka yang kumuh dengan air matamu. Mudah-mudahan Allah mengganti kerugianmu selama ini dengan anugerah-Nya. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *