
Pada akhir tahun 1980-an, saya diundang Taufiq Ismail untuk membacakan puisi di Taman Ismail Marzuki. Menurut Taufiq, para mubalig dan tokoh agama adalah orang-orang yang banyak bermain dengan bahasa, Sama seperti penyair. Mereka piawai mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan bahasa yang bukan saja baik dan benar tetapi juga dalam dan menyentuh. Maka, ia pun membuat pagelaran mubalig sebagai penyair.
Waktu itu saya baru pulang haji. Selama haji saya mengungkapkan pengalaman spiritual” saya dalam buku kecil. Saya menuliskannya dalam Dentuk puisi, bukan karena saya penyair, tetapi karena puisi adalah “the horthand of ideas,” stenografinya gagasan. Akan tetapi, puisi-puisi dadakan itu tidak cukup untuk saya tampilkan. Saya kemudian membacakan terjemahan Doa Kumail, dengan segala akal budi saya. Doa itu ternyata sangat menyentuh. Tidak lama setelah itu, Motinggo Busye meminta saya untuk membacakannya alam seminar tentang sastra di Universitas Parahiyangan.
Doa Kumail adalah doa pertama yang saya kenal sebagai warisan Ahlulbait Nabi Saw. Ternyata, setelah itu, saya menemukan mazhab Ahlulbait sebagai satu-satunya mazhab dalam Islam yang paling kaya dengan doa. Doa-doa mereka yang panjang terasa pendek, karena kata-katanya dirangkai seperti untaian bunga yang saling bertaut satu sama lain. Bukan hanya sejenis doa. Bukan juga sekadar doa.
Doa-doa Ahlulbait harus dibaca dengan latar belakang krisis manusia pada tingkat personal dan individual. Dilihat dari sudut ini, doa-doa itu pada hakikatnya ditujukan pada masalah batiniah manusia setiap era dan zaman, setiap daerah dan ras, setiap aliran dan agama. Di sinilah kita menyaksikan seseorang, satu individu, yang berhadapan dengan kekuatan buas yang muncul dari dalam dan dari luar, yang menyadari keterbatasannya, yang merintih dengan penuh perasaan dalam doa-doa pengabdiannya, yang berusaha bergabung dengan Tuhan, dan memercayakan rahasia hidupnya yang paling dalam kepada Dia. Di sinilah kita menyaksikan seseorang yang terperangkap dalam hiruk-pikuknya kehidupan, dalam benturan perasaan dan kepentingan, dalam desakan dan tekanan impuls-impuls yang muncul, dalam ketegangan dan bencana eksistensi, dan di atas semuanya, dalam pencarian kepuasan ruhaniah, seorang manusia yang kesepian dan tidak berdaya, yang berdiri di hadapan Penciptanya dalam hubungan langsung, dan menyapa Dia dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Belajar Doa dari Psikologi Agama
Dalam studi-studi agama, seperti didefinisikan oleh James, doa adalah “segala macam komunikasi ke dalam atau percakapan dengan Kekuasaan yang dikenal bersifat Ilahi” (1936: 454). Semua agama mengajarkan dan mempraktikkan doa. Dalam psikologi agama, ada disebutkan macam-macam doa: “Petitions, memohon sesuatu untuk diri sendiri; intercession, memohonkan sesuatu untuk orang lain; confession, bertobat atas kesalahan dan memohonkan ampunan; lamentation, merintih dalam kesedihan dan memohonkan pertolongan; adorations, memberikan pujian dan pujaan; invocation, memohonkan kehadiran Tuhan Yang Mahakuasa; dan thanksgiving, ungkapan syukur” (Dossey, 1993:5).
Untuk meneliti pengaruh doa pada kesehatan jiwa, Poloma dan Peddleton (1989, 1991) membagi doa hanya pada empat kategori saja: (1) contemplative meditative prayer, doa yang mengandung renungan tentang kebesaran dan kasih sayang Tuhan, serta ungkapan berbagai perasaan ketika pendoa berada bersama Tuhan; (2) ritualistic prayer, doa yang sudah baku, yang dibacakan atau diucapkan berdasarkan hafalan; (3) petitionary prayer, doa yang berisi permohonan untuk diri sendiri atau untuk orang lain yang dekat dengan pendoa (significant others); (4) colloquial prayer, doa yang berbentuk percakapan dengan Tuhan, dengan permohonan-permohonan yang tidak spesifik.
Termasuk tipe apakah Doa Kumail? Doa Kumail mencakup semuanya. Kalau harus dipaksakan untuk masuk satu kategori saja, mungkin kita harus menyebutnya doa kontemplatif-meditatif, yang di dalamnya terkandung semua yang terdapat pada semua tipe doa! Atau tipologi doa, yang dibuat ilmuwan untuk penelitian efek doa dalam kehidupan bumi, mungkin tidak relevan untuk membahas Doa Kumail, yang diajarkan Imam Ali untuk menerbangkan ruh kita ke langit. Kalau begitu, mari kita lihat Doa Kumail dalam tradisi Islam tentang doa.
Doa dalam Tradisi Islam
Doa dalam bahasa Arab berasal kata du’â-yad’û-du’a’an wa da’wa wa da’watan. Orang Indonesia tidak menerjemahkan kata itu tetapi menyalinnya langsung, Mungkin karena menerjemahkan berarti menghilangkan makna-makna yang kaya dalam bahasa aslinya.
Pertama, doa adalah permohonan. Kata ad’-da’autu berarti aku berdoa, bermohon, meminta dengan penuh kerendahan, menginginkan untuk memperoleh kebaikan dari apa yang harus Dia anugerahkan. Bergantung kepada kata depan sesudahnya, permohonan kita itu bisa berupa kebaikan atau keburukan. Da’autu lahu berarti aku mendoakan kebaikan untuknya, misalnya mendoakan agar orang itu memperoleh rezeki yang banyak, ilmu yang bermanfaat. Aku memberkati dia, I blessed him. Da’autu ‘alaihi berarti aku mendoakan dia dengan doa-doa yang mendatangkan keburukan baginya, misalnya, aku berdoa agar ia mendapat kecelakaan, kemiskinan atau penyakit. Aku melaknat dia, I cursed him.
Sambil menggendong Hasan dan Husain dengan tangan-tangannya yang mulia, Rasulullah Saw berdoa di mimbarnya, “Ya Allah, aku mencintai keduanya. yang memusuhi Cintailah orang yang mencintai mereka, dan musuhilah mereka.” Beliau berdoa untuk keduanya da’â lahumâ. Ketika muncul Marwan dan bapaknya, Hakam, yang tidak henti-hentinya menyakiti Nabi Saw, beliau melaknat keduanya da’a ‘alaihima. Setelah peristiwa Bir Ma’unah, ketika suatu kabilah ramai-ramai membantai sahabat-sahabat Nabi Saw yang berdakwah di situ, Nabi Saw melaknat kabilah itu selama tiga bulan dalam doa qunutnya: da’a ‘alaihim. Kedua, doa berarti seruan, panggilan, ajakan.
Ada beberapa pengertian doa dalam Islam, Anda akan menemukannya dalam penjelasan Sayyid Fadhlullah di dalam bukunya ini, Fi Rihab Du’a’ Kumail. Rihab dalam bahasa Arab adalah dataran rendah, lembut, dan subur. Tanahnya subur dan menghijau, karena menampung air dan menyimpannya.
Sayyid Fadhlullah membawa kita kepada keindahan taman Doa Kumail, seperti membawa para pengembara di padang pasir ke oase yang hijau dan sejuk. Di situ kita melepaskan dahaga ruhaniah dan mereguk anggur Ilahiah yang dialirkan dalam setiap untaian doa dan munajat Imam ‘Ali bin Abi Thalib.
Yang paling penting kita catat ialah bahwa Doa Kumail merupakan karya suci dari manusia suci, ‘Ali bin Abi Thâlib. Inilah doa dari seorang wali Allah, yang bukan saja menyampaikan keperluan kita dengan bahasa yang indah, tetapi juga membimbing Anda ke haribaan-Nya. Doa ini akan membersihkan batin Anda dari berbagai penyakit hati, menyobekkan tirai-tirai yang menghalangi Anda melihat keindahan Tuhan, dan memberikan kepada Anda kelezatan bermunajat.
Ya sabighan-ni’am
Ya dafi’an-niqâm
Ya niral-mustauhisyîna fizh-zhalam
Ya ‘aliman lâ-yu’allam
Shalli alâ Muhammadin wa Ali Muhammad
Waf’al bi må anta ahluh
Wa shallallahu ‘ala Rasûlihi wal-A’immatil-mayâmin
min Alihi wa sallama tasliman katsîrâ.
JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).