
Kali ini akan membahas tentang tafsir alhamdulillahi rabbil aalamiin. Kita akan menguraikan makna katanya satu per satu. Yang sudah kita ketahui, al-hamd artinya pujian; lillaah milik Allah.
Orang-orang yang belajar bahasa Arab, biasanya meng-i’rab (menjelaskan) kata-kata satu demi satu untuk menganalisa kalimat ini. Mereka mengatakan bahwa al-hamd adalah mubtada’ (subjek). Pujian itulah yang menjadi mubtadaa, Lillaah disebut khabar, penjelasan dari subjek. Rabb ‘al-aalamiin disebut sifat (sifat Allah). Siapakah Allah itu? Dia adalah Rabb al-‘aalamiin (Tuhan seluruh alam). Dengan demikian, ada yang menyebutkan bahwa Allah menjadi mubtadaa dan rabb al-‘aalamiin menjadi khabar. Itu pembahasan menurut tata bahasa Arab.
Tafsir Al-Quran tidak hanya membicarakan i’rab, tetapi juga balaghah (keindahan tata bahasa) bahasa Arab. Ada beberapa aliran dalam menafsirkan Al-Quran: (1) aliran lughawi, yaitu aliran yang mencoba menjelaskan kata-kata secara tata bahasa atau semantik; (2) aliran fikih, yaitu aliran mencoba memahami ayat-ayat Al-Quran dengan mencari hukum-hukum fikih yang terdapat di dalamnya; (3) aliran falsafi, yakni aliran yang menjelaskan ayat- ayat Al-Quran dari segi filsafat; (4) aliran sufi, yaitu aliran yang menjelaskan ayat-ayat Al-Quran dari tasawuf. Pada tulisan ini saya akan membahas hamdallah menurut aliran sufi.
Makna Al Hamd
Apa yang dimaksud dengan Al Hamd atau pujian? Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang digunakan untuk memuji, yaitu (1) al-hamd, dari kata hamida-yahmadu-hamdan; (2) al-tsana, altsaniyyah-bentuk jamak; (3) al-syukr; dan (4) al-madh.
Apa perbedaan keempat kata tersebut dalam bahasa Arab? Semuanya memang memiliki arti pujian. Perbedaannya, al-hamd berarti memuji sesuatu atau seseorang untuk sifat-sifat baik yang bersifat ikhtiyari (berdasarkan ikhtiar); sedangkan al-madh berarti memuji sesuatu atau seseorang untuk sifat-sifat yang ghair ikhtiyari (bukan berdasarkan ikhtiar). Kita bisa memberikan contoh yang menjelaskan ikhtiyari dan ghair ikhtiyari. Menguji bunga mawar karena warnanya yang merah dan indah adalah suatu pujian tentang sesuatu yang ghair ikhtiyari. Artinya, mawar itu merah bukan karena ikhtiari-Nya,bukan karena kehendaknya. Memuji seseorang yang tampan atau cantik pun bukan termasuk pujian ikhtiyari. Sebab, ketampaanan atau kecantikan itu terjadi bukan karena kehendak seseorang melainkan sudah tercipta sebelumnya. Ia tidak berusaha keras untuk menjadi cantik. Jika ada orang yang sebenarnya tidak cantik, lalu berusaha keras untuk menghias dirinya — misalnya dengan memakai kosmetik — dan kita memujinya, pujian itu disebut al-hamd.
Sekali lagi, pujian kita kepada seseorang ada dua macam. Pertama, pujian yang terjadi karena perbuatan orang itu. Pujian ini disebut al-hamd. Memberikan award kepada yang berprestasi adalah al-hamd. Terkadang kita memuji seseorang bukan karena hasil usaha orang itu. Inilah pujian kedua, yang dinamakan al-madh.
Adapun al-tsana adalah pujian yang bersifat umum, baik yang ikhtiyari maupun yang ghair ikhtiyari. Sedangkan al-syukr lebih khusus lagi, yaitu pujian terhadap kebaikan orang lain kepada diri kita. Bila kita memuji kebaikan seseorang secara umum, itu dinamakan al-hamd. Tapi bila kita memuji karena kebaikannya yang khusus kepada kita, itu dinamakan al-syukr.
Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata al-hamd. Alif lam di situ menunjukkan li al-istighraq, yakni meliputi segala sesuatu. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, alif lam itu adalah the. Berarti, kata al-hamd merupakan isim ma’rifat (yang menunjukkan sesuatu yang tertentu). Tapi, alif lam juga bisa menunjukkan arti semua. Al-hamd berarti semua pujian. Dengan demikian, kata ini mencakup segala pujian, baik yang ikhtiyari, ghair ikhtiyari (madh) maupun syukr.
Namun, Allah menggunakan kata al-hamd bukan al-madh. Juga tidak digunakan-Nya kata al-syukr. Hal ini karena sifat-sifat yang terdapat pada Allah atau kebaikan-kebaika-Nya bukanlah kebaikan yang ghair ikhtiyari. Kita memuji Alah karena Dia berbuat baik kepada kita, karena sesuatu yang ikhtiyari. Allah sudah memilih untuk berbuat baik kepada kita. Karena itulah kita mengucapkan alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Huruf lam dalam kata lillah amat sulit kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia hanya dalam satu kata saja. Sebab, bila kita menerjemahkan dalam satu kata saja, berarti kata-kata yang lain hilang. Di situlah sulitnya menerjemahkan. Belum lagi dengan adanya manipulasi; kita masukkan paham kelompok kita dalam terjemahan.
Makna Lam
Pertama lam berarti lil-milki atau kepunyaan. Jadi, al-hamd (pujian) itu kepunyaan Allah. Tidak seorang pun yang berhak untuk dipuji, yang indah kecuali Allah saja. Manusia tidak berhak. Mawar yang indah pun tak berhak. Seluruh pujian itu kepunyaan Allah. Kedua, li al-ghyah, yakni untuk menunjukkan tujuan. Kita menerjemahkannya dengan kata “untuk”. Lillah di situ maksudnya adalah “untuk Allah”. Berarti, kepada siapapun kita memuji, tujuan akhirnya adalah untuk Allah. Kalau kita memuji orang yang cantik, ujung-ujungnya pujian itu adalah untuk Allah. Karena Allah-lah membuat dia cantik. Atau kalau kita memuji sesuatu, hendaklah tujuan kita membuat dia cantik. Atau kalau kita memuji sesuatu, hendaklah tujuan kita pada akhirnya adalah pujian untuk Allah.
Oleh karena itu, menurut penulis kitab tafsir Al-Amtsal, Syaikh Makarim Shirazi, pada hamdallah terdapat petunjuk tentang tauhid yang disebut tauhid zat, tauhid sifat, dan tauhid perbuatan.
Makna Rabb Al-alamin
Kata rabb, biasa berarti ” yang mengurus sesuatu” atau “pemilik sesuatu”. Rabb al-bait berarti yang mengurus, merawat, dan memelihara rumah. Rabbibah berarti perempuan yang kita pelihara atau kita rawat. Sebagian ulama mengatakan bahwa rabb juga biasa berarti al-sayyid, pimpinan, junjungan, atau tuan. Budak belian menyebut majikannya dengan kata rabbana (tuan kami).
Karena itu pula, pimpinan agama di kalangan Yahudi disebut rabbi. Menurut penulis kitab Majma’ Al-bayan, kata rabb biasa berarti al-mutha atau orang yang ditaati. Marilah kita memahami makna yang paling dasar. Rabb al-alamin artinya Tuhan yang memelihara, mengurus, dan menciptakan seluruh alam semesta ini. Al-alam diartikan sebagai dunia; ‘alam diartikan sebagai dunia; al-alamin artinya internasional.
Dengan demikian, alam adalah kelompok selain Allah yang kita kategorikan dalam kategori yang sama karena mmpunyai sifat-sifat yang sama. Misalnya, alam jin, manusia, tetumbuhan, dan benda padat. Rabb al-alamin sekaligus menjelaskan dua hal, yakni rabb (Allah) dan selain Allah. Rabb al-alamin adalah selain-Nya. Allah-lah yang memelihara, mengurus, dan mengatur seluruh alam ini.
Ada macam-macam pembagian alam. Banyaknya pembagian alam bergantung pada kategorinya. Bila pembedaan itu didasarkan pada kemampuan mengindera, maka orang membaginya ke alam jasmani, ruhani, cahaya dan kegelapan. Bila diukur berdasarkan ukuran ahli tasawuf, alam dibedakan ke dalam empat alam; nasut, malakut, jabarut, dan lahut. Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa jumlah alam ini ribuan, ada juga yang menyebutnya ratusan. Sebetulnya perbedaan itu tidak bertentangan satu sama lain. Sebab hal itu bergantung pada kategori yang digunakan. Mari kita ambil definisi yang umum; alam adalah apa saja selain Alah. Itulah pembahasan dari segi bahasa.
Selanjutnya adalah pembahasan yang besifat filosofis. Al Fakhr Al-Razi berkata, “Ketahuilah, ketika berfirman alhamdulillah, seakan-akan Allah sedang menjelaskan dua hal untuk menjawab dua pertanyaan. Pertama, Allah sedang menjelaskan adanya wujud Tuhan. Segala pujian itu kepunyaan Allah dan wujud Allah itu ada di sini. Kedua, dalam kalimat alhamdulillah terkandung makna bahwa Alah saja yang berhak dipuji.” Pertanyaan berikutnya: “Mengapa hanya Allah yang berhak mendapat pujian?” Al-Fakhr Al-Razi berkata, “Untuk menjawab pertanyaan yang menunjukkan Allah itu ada, hal itu dijawab masih dalam kalimat itu, rabb al-alamin.” Mengapa segala pujian itu hanya untuk Allah?” Karena, seluruh alam semesta ini dipelihara-Nya dengan teratur dan tertib. Saya tidak ingin mengulangi argumentasi yang sudah klasik tentang ketertiban di alam semesta yang kemudian dibantah oleh sebagian filosof. Menurut mereka, tidak selamanya alam semesta ini tertib atau teratur. Kadang-kadang musim hujan datang di musim kemarau. Kadang-kadang salju turun di Saudi Arabia. Kadang angin badai menghancurkan seluruh sistem ini. Kalau begitu, di mana pemeliharaan Tuhan?
Argumentasi Klasik tentang Adanya Allah
Sebelum menjawab masalah-masalah filosofis di atas, marilah kta mengulangi argumentasi klasik tentang adanya Allah dengan melihat keteraturan alam semesta ini: bahwa semua ini mesti ada yang mengurusnya. Amat sulit sebenarnya menjelaskan seluruh peristiwa ini tanpa menjelaskan adanya sesuatu di baliknya.
Saya ingin menceritakan kembali sebuah cerita. Dahulu, pada zaman keemasan Islam, ketika kebebasan berpendapat sangat dihormati, dan secara bersamaan orang Yahudi dikejar-kejar, serta orang-orang Nasrani tidak bisa menjalankan agamanya dengan baik, mereka semua berlindung di balik perlindungan Islam, dan mereka bisa mengembangkan pemahamannya. Yang dilindungi bukan saja orang Yahudi dan Nasrani, tetapi juga orang yang tidak percaya kepada Tuhan atau Ateis.
Pada zaman keemasan Islam, terjadilah perdebatan yang sangat menarik di antara para ateis dengan para ulama. Kalau tidak salah, salah satu ulama yang dimaksud adalah Hasan Al- Bashri. Ditentukanlah satu hari di mana the great debate (perdebatan besar) akan dilaksanakan di kota Bagdad. Semua orang boleh hadir tanpa harus membayar. Pembicara dari kalangan Zindiq (orang yang tidak percaya kepada Tuhan) sudah berdiri di atas mimbar. la sudah membuktikan kesalahan tentang adanya Tuhan. Katanya, “Tuhan tidak ada.” Waktu itu Hasan Al- Bashri belum kunjung datang. Si Zindiq semakin berkacak pinggang di atas mimbar. la mengatakan bahwa Hasan Al-Bashri tidak mempunyai Hujjah yang kuat dan karenanya tidak berani berdebat. Konon, perdebatan itu dilangsungkan dengan persetujuan raja dengan konsekuensi; yang kalah harus dipotong kepalanya. Sehingga orang-orang berkata, “Wah, mungkin Hasan al-Bashri takut kepalanya dipotong karena kalah dalam berdebat.”
Menjelang zuhur, Hasan Al-Bashri datang tergopoh-gopoh. la ditanya dan dimaki oleh Zindiq itu di atas mimbar. “Mengapa kamu terlambat?” Hasan Al-Bashri menjawab, “Saya berangkat pagi dari rumah. Seperti Anda ketahui, antara rumah saya dan tempat ini dihalangi oleh sungai Dajalah, sungai yang sangat besar. Waktu saya datang ke sungai itu, tidak ada kendaraan yang dapat memberangkatkan saya. Saya juga tidak bisa berenang. Jadi, saya menunggu di tepi sungai. Setelah sekian lama berdoa agar bisa datang tepat pada waktunya, tiba-tiba saya melihat pecahan-pecahanitu berkumpul satu sama lain, dan akhirnya membentuk sebuah perahu. Dan saya pun menaikinya.” Segera si Zindiq berteriak, “Takhayul! Mana mungkin pecahan-pecahan papan dapat berkumpul dan dapat membentuk perahu dengan sendirinya?” Al-Bashri menjawab, “Mana mungkin juga seluruh alam semesta ini berkumpul satu sama lain dengan sendirinya membentuk seluruh sistem yang sangat menakjubkan? Mana mungkin darah, daging, dan tulang dapat berkumpul menjadi kamu?”
Dengan jawaban itu, terputuslah argumentasi si Zindiq yang sudah ia pertahankan sejak pagi karena ia membantah tidak mungkin perahu dapat terjadi dengan sendirinya, padahal apalah artinya perahu dibandingkan alam semesta. Bila perahu yang amat kecil saja perlu ada pembuatnya, apalagi seluruh alam semesta. Itulah argumentasi yang pertama yang bisa dipahami siapa pun.
Ada seorang ahli geologi. Salah seorang nenek moyangnya bernama Pascal, seorang ilmuwan besar. Salah seorang kakeknya juga ada yang menjadi ahli agama. Nama ahli geologi itu adalah Theilhard de Chadrine. Ia melakukan penelitian-penelitian alam. la pun orang yang amat taat beragama. Ia habiskan waktunya untuk dua hal: meneliti dan berzikir. Ia juga ternyata seorang pendeta yang tidak menikah. Seluruh hidupnya ia persembahkan untuk kemanusiaan. Hasil penelitiannya ia kumpulkan dalam sebuah buku yang amat mengesankan. Ia menulis “Jika memerhatikan seluruh alam semesta ini, kita melihat seakan-akan seluruh alam ini bergerak menuju satu tujuan tertentu”. Kita sebut pemikiran itu sebagai pemikiran teleologis. De Chardine meneliti bebatuan. Ia mengatakan bahwa bebatuan itu mempunyai ruh dan bergerak menuju tujuan tertentu. Apa tujuannya? Ke arah kesempurnaan. Inilah yang disebut evolusi progresif.
Dalam dunia Islam, ada dua pandangan tentang evolusi. Ada evolusi regresif, yang umumnya dianut oleh Ahlu Sunnah. Menurut paham ini, perkembangan di alam semesta semakin lama semakin jelek. Ada juga yang berpendapat bahwa revolusi bergerak ke arah kesempurnaan, atau evolusi progresif. Paham ini banyak dipegang oleh filosof-filosof syiah. Mereka beralasan: “(Dialah) yang telah menciptakan kemudian menyempurnakan. Alladzi khalaqa fasawwa. (QS Al-A’laa:2)
De Chardine mengatakan bahwa seluruh semesta ini bergerak menuju kesempurnaan secara menakjubkan. Artinya, ada sesuatu yang menggerakkan semua itu. “Sesuatu” itu adalah Allah Swt.
Apa bukti bahwa Allah itu ada? Jawabannya: “Rabb ‘al-alamin”. Karena Dia-lah yang mengurus, memelihara, dan menyusun seluruh alam semesta ini; seperti terdapat dalam sebuah doa Ahlul Bait: Tuhan, Engkau pelihara aku. Di waktu kecil, Kau besarkan aku, Kau urus aku, Kaulimpahi aku dengan seluruh anugerah dan nikmat- Mu. Dan inilah aku yang memeroleh nikmat-Mu setiap hari tetapi tidak mensyukuri-Mu.
Kapan Rasa Syukur Timbul?
Rasa syukur timbul bila kita merasa Tuhan memelihara kita sepanjang perjalanan hidup kita. Dalam ilmu kedokteran, diketahui bahwa kita mempunyai dua buah ginjal yang berfungsi untuk membersihkan darah. Bila ginjal yang satu hancur, ginjal yang lain masih berfungsi. Manusia dapat hidup dengan satu ginjal tersebut. Bila kedua ginjal kita rusak, kita harus mengalami proses cuci darah di rumah sakit yang ongkosnya jutaan rupiah, sekali seminggu. Ginjal kita adalah sistem pembersihan darah yang paling mudah dan paling murah, tak perlu membayar sepeser pun.
Empat Surat yang Dimulai dengan Alhamdulillah
- Surat Al-An’am: alhamdulillahilladzi khalaqas samawati wal ardh wa ja’alazh zhulumat wan nur (Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya). Kita memuji Allah karena Dia menciptakan alam langit, alam bumi, alam kegelapan dan alam cahaya.
- Surat Al-Kahfi: Alhamdulillahilladzi anzala ‘ala abdihil kitab wa lam yaj’al lahu ‘iwaja (Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Kitab kepada hamba-Nya). Kita memuji Allah karena dengan kitab itu Dia telah mendidik, mengembangkan, dan memelihara manusia agar selamat di dunia dan akhirat.
- Surat Al-Saba: Alhamdulillahilladzi lahu ma fis samawati wal ardh (Segala puji bagi Allah. Kepunyaan-Nya laha apa-apa yang ada di langit dan di bumi).
- Surat Fathir: Alhamdulillahi fathiris samawati wal ardh …(Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi). Yang menjadikan malaikat sebagai Rasul yang memiliki dua, tiga, atau empat sayap, dan menambah apa yang dikehendaki. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi ini sebagai makhluk-makhluk material atau jasmaniah. Dia juga menciptakan malaikat sebagai makhluk-makhluk ruhani.
Mensyukuri-Nya Karena Dia Memelihara Kita
Kita hanya bisa betul-betul bersyukur kepada Allah Swt apabila kita merasakan pemeliharaan Allah kepada kita. Yang menjadi persoalan adalah: “Jika Alah memelihara kita, mengapa hidup kita banyak mengalami penderitaan? Mengapa kita sering menemui penghalang dalam menegakkan kebenaran? Mengapa kita ditipu ketika kita berbisnis? Di mana pemeliharaan Allah?”
Satu hal yang harus kita ingat, Allah memelihara kita bukan saja melalui kegembiraan tetapi juga melalui kesedihan. Allah mengurus kita tidak hanya melalui kesedihan. Allah mengurus kita tidak hanya melalui kenikmatan tetapi juga melalui penderitaan. Tujuannya, supaya kita mencapai perkembangan yang baik. Orang-orang yang tidak dipelihara oleh penderitaan biasanya tidak berkembang ke arah kesempurnaan. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).