Wali Allah dalam Al-Quran dan As-Sunnah

Wali Allah artinya kekasih Allah. Bentuk jamaknya awliya’ Allah. Karena dia kekasih Allah, maka tentu saja ia orang yang sangat dekat dengan Dia; begitu dekatnya, sehingga ia menyerap sifat-sifat Dia sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya. Bukankah kalau kita dekat dengan sesuatu, kita akan menyerap sifat-sifatnya? Ketika Anda sangat dekat dengan api, tubuh Anda akan panas (seperti sifat api). Ketika Anda terbenam dalam salju, tubuh Anda akan dingin (seperti dinginnya salju). Banyak sifat Allah itu, sebanyak asma-Nya. Kita tidak mungkin memerincinya di sini. Untuk menyederhanakan pembicaraan, marilah kita mengenal awliya’ Allah dari beberapa sifat Allah yang sudah diserapnya.

Dialah Allah, Sang Pencipta Yang Menjadikan Yang Membentuk. Bagi-Nya asma yang baik. (QS 59:24)

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah,” maka ia pun menjadi. (QS 36: 82)

Wali Allah Menurut Al-Quran

Seorang wali Allah akan bersifat kreatif, karena menyerap asma Al-Khaliq Al-Bari’ Al-Mushawwir. Dalam proses kreatifnya, apa yang dikehendakinya terjadi seizin Allah. Orang Sunda mengatakannya “satuduh metu sakecap nyata“; yang ditunjuknya keluar, yang dikatakannya terbukti. Inilah salah satu keistimewaan wali Allah.

Keistimewaan kedua, kehadirannya mendatangkan berkah kepada orang-orang di sekitarnya. Makin dekat dengan Allah, makin besar kecintaan Allah kepadanya, makin luas medan berkahnya. Nabi Muhammad Saw. adalah makhluk yang paling dicintai Allah, karena itu kehadirannya mendatangkan rahmat bagi seluruh alam. Bila Anda ingin “mengambil berkah” (tabarruk), ambillah dari Nabi Muhammad Saw.. dan orang-orang yang berakhlak seperti akhlaknya. Kepada wali Allah, Anda boleh mengambil berkah.

Tentu ada banyak keistimewaan lainnya. Tapi, seandainya kita memiliki yang dua itu saja, itu sudah lebih besar daripada dunia dan segala isinya. Bila kita ingin menjadi wali Allah, apa yang harus kita lakukan? Atau siapakah sebenarnya wali Allah atau orang yang dicintai Allah itu? Al-Quran menjawabnya, Sesungguhnya wali-wali Allah itu hanyalah orang-orang yang takwa. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya (QS 8:34). Jadi, bila ingin menjadi wali Allah, jadilah orang yang takwa. Lakukan semua ciri orang takwa seperti dicantumkan dalam Al-Quran. Setelah beriman kepada Allah, dan rukun iman yang lain, dan setelah melakukan semua kewajiban syariat, maka orang takwa mempunyai-antara lain-ciri-ciri di bawah ini:

  1. Dermawan, yaitu suka menginfakkan apa saja yang yang paling disukainya-baik dalam keadaan lapang maupun susah kepada kerabat dekat, anak yatim, orang miskin, orang dalam perjalanan, orang yang memohon pertolongan, dan para tawanan (QS 2: 3,177; 3: 17,134; 51: 19).
  2. Mampu mengendalikan diri ketika marah, mudah memaafkan orang yang berbuat salah kepadanya, dan suka meminta maaf bila ia berbuat salah kepada orang lain (QS 3: 134).
  3. Melazimkan shalat malam dan memperbanyak istighfar pada waktu dini hari (QS 51: 18; QS 3: 17).

Di samping itu, dengan memerhatikan kalimat kunci “Allah yuhibbu” (Allah mencintai), maka kita menemukan bahwa yang dicintai Allah adalah mereka yang pertama suka berbuat baik (QS 2: 95; 3: 137, 148; 5: 13, 93); kedua berlaku adil (QS 5: 42; 49:9; 60: 8); ketiga bersabar (QS 3: 146); keempat bertawakal (QS 3: 159); kelima bertobat (QS 2: 222); dan keenam mencintai kesucian (QS 9: 108; 2: 222).

Wali Allah Menurut As-Sunnah

(1) Dermawan

Kita tahu bahwa As-Sunnah menjelaskan Al-Quran. Rasulullah Saw. memberikan perincian tentang karakteristik kekasih Allah, seperti secara singkat digambarkan dalam Al-Quran. Dari penjelasan Nabi inilah para ulama merumuskan apa yang kemudian dikenal sebagai ilmu tasawuf. Tidak mungkin kita menyajikan semua penjelasan Nabi Saw.; karena itu berarti kita mengungkap tasawuf seluruhnya.

Marilah kita ambil dua hal saja. Pertama, Al-Quran mengatakan bahwa salah satu ciri mutlak yang mesti ada pada kekasih Allah ialah sifat dermawan (al-sakha). Di tempat lain dalam buku ini diriwayatkan sabda nabi Saw. tentang abdal. Mereka adalah kekasih-kekasih Allah, yang sangat dekat dengan Dia, yang menjadi sebab bagi Allah untuk menghidupkan dan mematikan. Nabi Saw. menyatakan bahwa mereka mencapai derajat itu karena kedermawanan dan hati yang bersih terhadap sesama kaum Muslim.

Abu Abdurrahman Sulami adalah tokoh besar tasawuf pada abad kelima Hijri. la menulis banyak kitab tentang tasawuf. Salah satu di antaranya, Al-Muqaddimah fi Al-Tashawwuf wa Haqiqatuh, menjadi khazanah klasik bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejak para ‘arifin. Dalam kitab itu disebutkan akhlak pokok yang harus dimiliki seorang sufi. Salah satu di antaranya adalah al-sakha. Marilah kita kutipkan sebagian dari bab tentang al-sakha:

“Sesungguhnya al-sakha telah disebut dalam kitab Allah- dan mereka mengutamakan orang lain lebih dari dirinya sendiri, walaupun mereka sendiri dalam kesulitan (QS 59:9). Abu Hafsh Al-Nisaburi ditanya tentang ayat ini. Ia berkata: ‘Engkau dahulukan bagian orang lain sebelum bagianmu, baik dalam urusan akhirat maupun dunia. Bukankah Allah sudah memuji kedermawanan dengan firman-Nya, Mereka memberikan makanan yang mereka sukai (QS 76: 8). Allah mencela kebakhilan dengan firman-Nya, Mereka akan dipasung dengan apa yang mereka bakhilkan itu pada hari kiamat (QS 3: 10).

“Rasulullah Saw. bersabda, ‘Kedermawanan adalah pohon yang kukuh di surga. Tidak akan masuk surga kecuali orang yang dermawan. Kebakhilan adalah pohon neraka. Tidak akan masuk neraka kecuali karena kebakhilannya. ‘Dalam riwayat Abu Hurairah, Nabi Saw. diriwayatkan berkata, ‘Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Orang bakhil jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih Allah cintai daripada ahli ibadah, yang bakhil.’ Beliau juga bersabda, ‘Tidak akan masuk surga orang yang memberi sambil menggerutu.’ Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, ‘Surga adalah kampung orang dermawan.’ Allah berfirman, ‘Apa telah datang kepadamu berita tamu Ibrahim yang dimuliakan itu?’ (QS 51: 24). Tahukah kalian dengan apa Ibrahim memuliakan tamunya? la melayani mereka dengan tangannya sendiri.

Nabi Saw. bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya membaguskan jamuan tamunya.” Aisyah berkata, ‘Tidak henti-hentinya malaikat mendoakan kalian sepanjang makanan untuk tamu dihidangkan.’ Abu Al-Abbas Al-Zuzani meriwayatkan, ‘Telah sampai kepadaku kisah tentang Ibrahim. Allah bertanya kepadanya: “Tahukah kamu kenapa aku mengambil kamu sebagai kekasih-Ku (khalili).” Ibrahim menjawab, “Tidak, ya Rabbi. “Tuhan berfirman, “Aku menengok hati nuranimu. Aku temukan di sana ternyata kamu lebih senang memberi daripada mengambil” (Majmuah-ye Atsar-e Abu Abdirrahman Sulami, 2: 497-498).

“Tidaklah Allah menarik seorang kekasih ke haribaan-Nya kecuali karena kedermawanannya,” sabda Nabi Saw. (Kanzul ‘Ummal hadis ke-16.204). Mengapa orang lebih cepat dekat dengan Allah melalui kedermawanan daripada lewat zikir dan doa? Perjalanan menuju Allah adalah upaya untuk hijrah dari kungkungan dirinya menuju rumah Tuhan, dari perhatian kepada kepentingan pribadi menuju perhatian sepenuhnya kepada Allah, dari keterikatan pada materi kepada kebergantungan kepada Allah. Orang dermawan adalah orang yang tidak meletakkan kebahagiaannya pada pemilikan harta. la bahagia bukan karena bisa mengambil banyak. Ia bahagia karena bisa memberi banyak. Hidupnya ditegakkan di atas “giving“, bukan “taking“.

Pada suatu hari, Abu Abdillah sedang thawaf mengitari Ka’bah sejak awal malam sampai subuh. Tidak henti-hentinya orang suci ini berdoa, “Tuhanku, lindungilah diriku dari kebakhilan.” Muridnya bertanya, “Semoga aku dijadikan tebusanmu. Belum pernah aku mendengar doa seperti itu.” Abu Ja’far menjawab, “Apa lagi yang lebih dahsyat daripada kebakhilan. Bukankah Allah berfirman, Siapa yang terjaga dari kebakhilan dirinya merekalah yang berbahagia (QS 59: 9; 64: 16).

Kata kebakhilan dalam riwayat (dan ayat Al-Quran tersebut) adalah terjemahan dari syuhhu nafsih. Mungkin lebih baik kita terjemahkan pelit. Masih kata Abu Abdillah, “Pelit lebih jelek dari bakhil. Kalau orang bakhil, ia bakhil dengan apa yang dimilikinya. Orang pelit, selain bakhil dengan apa yang dimilikinya, ia juga bakhil dengan apa yang dimiliki orang lain. Bila ia melihat sesuatu pada orang lain, ia ingin mengambilnya, baik dengan halal maupun haram. Ia tidak pernah kenyang dan rezeki yang diterimanya tidak mendatangkan manfaat” (Tuhaf Al-‘Uqul 274).

Abu Abdillah adalah gelar Imam Ja’far Al-Shadiq, salah seorang di antara rangkaian (silsilah) para wali Allah, cucu Rasulullah Saw. Ia bercerita tentang ayahnya, Muhammad Al- Baqir, “Ayahku adalah orang yang paling sedikit hartanya di kalangan keluargaku, namun beliau adalah orang yang paling banyak memberi kepada orang lain.” Salma, mawla perempuan Musa Al-Kazhim bercerita tentang majikannya, “Setiap kawan beliau datang ke rumah beliau, beliau tidak memperbolehkan mereka pergi sebelum mereka makan makanan yang lezat, menghadiahkan pakaian yang bagus-bagus, dan membekali mereka sejumlah uang. Melihat itu aku pun menyarankan agar beliau jangan terlalu banyak memberikan hadiah. Akan tetapi beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Salma, yang disebut dengan kebaikan dunia ini tidak lain daripada menghubungkan tali persaudaraan dengan kawan-kawan kita dan beramal yang baik.”

Memang itulah tradisi keluarga Rasul, yang kemudian menjadi bintang-bintang indah dalam kafilah ruhani menuju Allah. Ayah Al-Baqir adalah Ali Zainal Abidin, yang terkenal senang memikul gandum di malam hari dan membagikannya kepada fakir miskin Madinah tanpa diketahui orang. Bila orang datang ke rumahnya meminta tolong, ia berkata, “Selamat datang wahai orang yang berkenan memikul bekalku untuk hari akhirat.” Dari Imam Zainal Abidin terkenal ucapan, “Kami Ahli Bait, bila telah memberikan sesuatu tidak pernah mengambilnya kembali.”

Ali putra Husayn putra Ali bin Abi Thalib dan putra Fatimah putri Rasulullah Saw. Semua orang dalam rangkaian nasab ini adalah orang-orang suci, yang terkenal karena kedermawanannya. Ketika Ali bertanya kepada putranya, Hasan, tentang syuhh (pelit), beliau berkata, “Pelit itu ialah memandang apa yang kamu miliki sebagai kemuliaan dan apa yang kamu infakkan sebagai kecelakaan.” Kedermawanan, kalau begitu, adalah memandang harta yang engkau tahan sebagai kecelakaan dan harta yang engkau berikan sebagai kemuliaan. Bila begitu pandanganmu tentang harta, maka bersiaplah engkau untuk diantarkan ke haribaan Tuhan dengan cepat. Rasulullah Saw. bersabda, “Anak muda yang dermawan dan baik akhlaknya lebih dicintai Allah daripada orang tua yang bakhil ahli ibadah dan jelek akhlaknya” (Kanzul-Ummal hadis ke-16.061).

(2) Pemuda Saleh

Kedua, kekasih Allah yang hidupnya mendatangkan berkat kepada orang di sekitarnya adalah pemuda yang saleh. Allah berfirman, “Sesungguhnya mereka itu para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka; dan Kami menambahkan kepada mereka petunjuk (QS 18: 13).” Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya makhluk yang paling dicintai Allah adalah pemuda yang berusia muda dengan tubuh yang cantik, lalu ia menjadikan kemudaannya dan kecantikannya untuk Allah dan menaatinya. Itulah orang yang dibanggakan Allah Yang Mahakasih di hadapan para malaikat-Nya seraya berfirman, ‘Inilah hamba-Ku yang sejati” (Kanzul-Ummal, hadis ke-43.103).

Dalam riwayat lain, Nabi Saw. bersabda, “Keutamaan pemuda yang taat beribadat di masa mudanya dibandingkan dengan orang tua yang beribadat pada masa tuanya seperti keutamaan para Rasul dibandingkan dengan seluruh manusia yang lain” (Kanzul-Ummal, hadis ke-43.059); “Tidak ada sesuatu yang paling dicintai Allah selain pemuda yang kembali kepada-Nya. Dan tidak ada yang paling dibenci Allah selain orang tua yang betah dalam kemaksiatan” (Kanzul-Ummal, hadis ke-43.057).

Mengapa pemuda yang saleh dijadikan kekasih Allah? Kita tahu bahwa dalam pandangan Islam hidup adalah perjalanan menuju Allah, dari lempung yang kotor dan air yang hina menuju Allah Yang Mahasuci. Umur adalah masa yang kita ambil dalam perjalanan itu. Keberhasilan kita dalam perjalanan diukur dari jumlah kilometer yang telah kita tempuh dalam masa (umur) tertentu. Bayangkanlah berbagai macam mobil melaju di jalan tol menuju Jakarta. Ada mobil yang jalannya lambat sekali sehingga dalam waktu satu jam baru menempuh 40 km, masih sangat jauh dari tujuan. Ada mobil yang berjalan sangat cepat. Dalam waktu satu jam ia sudah menempuh 100 km, sudah hampir mencapai tujuan. Mobil jenis yang kedua itulah pemuda. Umur mereka masih sedikit, tapi perjalanan mereka sudah dekat dengan Tujuan (Allah Swt.). Mereka itulah wali-wali Allah.

Bila kini Anda mencari wali Allah untuk memohon doa atau mengambil berkah, carilah pemuda-pemuda yang saleh, yang menghabiskan sebagian malam dalam ruku’ dan sujud di hadapan Allah, yang mempersembahkan kemudaan dan kecantikannya untuk berbakti kepada Allah, yang mengendalikan hawa nafsunya dan menjaga kesucian dirinya di tengah-tengah godaan di sekitarnya. Atau carilah orang-orang yang dermawan, yang mudah memberikan pertolongan, yang mengutamakan orang lain walaupun dirinya mendapat kesusahan, yang menjadi tempat berlindung siapa saja yang menderita kesusahan. Duduklah bersama mereka, bergabunglah dengan mereka. Anda akan terciprati cahaya ruhaniah mereka. Anda akan dibasahi oleh pancaran kecintaan Tuhan melalui kehadiran mereka. Saya teringat cerita Emha Ainun Nadjib tentang orang miskin yang datang ke salah satu masjid. la bermaksud beribadat di situ. Tetapi melihat pakaiannya yang kumal, pengurus masjid menghardiknya. Orang miskin pergi meninggalkan masjid; dan Tuhan pun pergi bersamanya. Artinya, Tuhan tidak suka berdiam di tengah-tengah manusia yang mengaku beribadat kepadanya tetapi tidak mau membantu saudara-sudaranya. Seperti sufi yang mencari kekasih Allah di masjid-masjid dan tidak menemukannya, kita pun sebaiknya tidak mencari wali di masjid. Carilah wali di tengah-tengah himpunan anak muda yang saleh; atau di tengah- tengah mereka yang hancur hatinya. JR

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *