
Pada kesempatan ini kita akan membicarakan doa al-i’tidzar. Al-i’tidzar artinya ialah permohonan maaf karena kita melakukan suatu kesalahan. Doa ini diajarkan oleh Imam Ali Zainal Abidin, cucu Rasulullah Saw. Doa ini bukan hanya berisi permohonan tetapi juga pelajaran bagi orang yang membacanya dan yang mendengarkannya.
Saya berusaha sedapat mungkin untuk menerjemahkan doa ini sepuitis aslinya:
Apologi kepada Tuhan
Ya Allah,
aku mohon ampun kepada-Mu
di hadapanku ada orang yang dizalimi
aku tidak menolongnya
kepadaku ada orang berbuat baik
aku tidak berterima kasih kepadanya
orang bersalah meminta maaf kepadaku
aku tidak memaafkannya
orang susah memohon bantuan kepadaku
aku tidak menghiraukannya
ada hak orang Mukmin dalam diriku
aku tidak memenuhinya
Tampak di depanku aib Mukmin
aku tidak menyembunyikannya
dihadapkan kepadaku dosa
aku tidak menghindarinya
Ilahi,
aku mohon ampun
dari semua kejelekan itu
dan yang sejenis dengan itu
aku sungguh menyesal
biarlah itu menjadi peringatan
agar aku tidak berbuat yang sama sesudahnya
Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya
Penyesalanku atas segala kemaksiatan
Tekadku untuk meninggalkan kedurhakaan
jadikan itu semua
tobat yang menarik kecintaan-Mu
Wahai Zat yang Mencintai
orang-orang yang bertobat!
Doa ini saya ambil dari kitab Fi Rihab Al-Shahifah Al-Sajjadiyyah, yang ditulis oleh Sayyid Abbas Ali Al-Musawi. Al-Musawi adalah tokoh dan pemimpin Hizbullah di Lebanon yang beberapa bulan yang lalu beserta seluruh keluarganya ̶ istri dan anak-anaknya ̶ dibom oleh Israel dalam kendaraannya. Konon, ketika istrinya menyadari bahwa suaminya adalah pejuang yang seluruh hidupnya digunakan untuk membela agama Allah, istrinya sering berdoa bahwa kalau suaminya syahid dia juga ingin syahid bersamanya. Dan doanya terkabul.
Sebelum meninggal dunia, Sayyid Abbas Ali Al-Musawi menulis sebuah buku berjudul Fi Rihab Al-Shahifah Al-Sajjadiyyah, yang mengomentari doa-doa dalam Al-Shahifah Al-Sajjadiyyah; antara lain, doa al-i’tidzar yang akan kita bahas sekarang ini.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang doa al-i’tidzar ini, ada baiknya saya kemukakan terlebih dahulu motif saya untuk membahas doa ini. Beberapa waktu yang lalu kita menyaksikan peristiwa-peristiwa kezaliman di negeri ini. Peristiwa kezaliman yang sangat menyentuh hati saya adalah, pertama, pembunuhan seorang buruh kecil perempuan yang bernama Marsinah di Sidoarjo, Jawa Timur. Kedua, yang menyentuh hati saya adalah adanya seorang anak muda yang berusaha membela orang yang tidak mempunyai pembela. Dia menolong orang yang tidak memiliki penolong kecuali Allah Swt. Anak muda itu bernama Budi Santosa. Dia “dibunuh” atau “terbunuh” karena berjuang membela orang kecil.
Dua peristiwa itu sangat menyentuh hati saya. Kita mendengar dan menyaksikan berbagai perbuatan itu, tetapi kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita telah berbuat zalim karena membiarkan kezaliman. Karena itu, kita memohon maaf kepada Allah.
Doa ini adalah doa mohon maaf kita kepada Allah karena sering kali kita menyaksikan kezaliman di sekitar kita, dan kita tidak (mampu) berbuat apa-apa. Kita sudah menjadi orang-orang yang kehilangan keberanian. Karena itu kita mulai doa ini dengan “Ya Allah, aku mohon ampun kepada-Mu. Di hadapanku ada orang yang dizalimi, aku tidak menolongnya.” Bahkan membicarakannya pun kita tidak mau karena khawatir mendapat risiko yang sama. Padahal seharusnya, paling tidak, hati kita ikut merasakan penderitaan orang-orang yang teraniaya itu.
Karena itu, pada malam Jumat yang lalu (merujuk kepada kegiatan rutin pembacaan Surah Yasin pada malam Jumat dan pembacaan doa Kumail yang selalu diadakan di Yayasan Muthahhari), saya meminta kepada para hadirin untuk mengirimkan doa khusus buat Marsinah dan Budi Santosa sebagai ungkapan iman kita yang paling lemah. Karena kalau bicara pun tidak, dan kita tidak memerhatikan semua kejadian itu, maka menurut sebuah hadis, kita sudah tidak dihitung sebagai orang yang beriman lagi.
Karena saya khawatir kita di sini dikeluarkan dari rombongan orang-orang yang beriman, maka kita bicarakanlah persoalan itu di sini.
Ada pelbagai hadis yang membicarakan kezaliman. Kezaliman yang berbentuk menganiaya orang, merampas hak hidupnya, memotong gaji, mengambil tanah, (lebih-lebih tentu) mengambil nyawanya atau seperti istilah yang sering dipakai sekarang ini, yaitu “melanggar hak asasi orang lain” termasuk dosa besar. Karena begitu besarnya dosa ini, maka pelaku dosa ini bukan hanya akan disiksa, tetapi juga akan dihapuskan amal salehnya. Sehingga, menurut sebuah riwayat, disebutkan bahwa pada Hari Kiamat nanti orang yang paling merugi adalah orang yang sering melakukan kezaliman, karena semua amal salehnya akan terhapus dan dia akan memperoleh siksa dari Allah Swt.
Di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, hadis nomor 8.862, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Antara surga dan seorang hamba terdapat tujuh siksaan. Siksaan yang paling ringan adalah al-maut. “Anas mengatakan: “Ya Rasulullah, siksa apa yang paling berat?” Rasulullah Saw. bersabda: “Yang paling berat adalah berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla sementara orang yang kita zalimi bergantung di tangan kita mengadukan kezaliman yang pernah kita lakukan kepadanya.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw. bersabda: “Pada Hari Kiamat nanti, ada orang datang di hadapan Allah dan merasa sangat senang melihat kebaikan yang pernah dia lakukan. Tiba- tiba datang orang lain berkata: ‘Ya Rabb, dahulu orang ini pernah menzalimi aku. ‘Lalu diambillah kebaikan dari orang yang telah melakukan kezaliman itu. Akhirnya, kebaikan orang ini ditempatkan kepada kebaikan orang yang dizalimi itu. Tidak henti-hentinya orang yang menuntutnya. Padahal orang ini adalah orang yang banyak melakukan kebaikan. Habislah kebaikannya dipakai untuk membayar orang yang dizalimi. Ketika sudah habis kebaikan untuk membayar dia, maka orang yang dizalimi itu mulai melihat dosa-dosa yang dia lakukan. Orang yang dizalimi itu melihat dosanya dan memindahkan dosa itu kepada orang yang menzaliminya. Terus-menerus begitu sampai dia dilemparkan ke neraka.” (Al-Nihaiyah, 2:55)
Pada suatu hari ada seseorang mendatangi Nabi Saw., kemudian berkata: “Ya Rasulullah, ingin sekali saya pada Hari Kiamat nanti dikumpulkan dalam cahaya.” Lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah engkau menzalimi seorang pun. Engkau akan dikumpulkan di Hari Kiamat nanti di dalam cahaya” (Kanzul ‘Ummal, hadis ke-44.134).
Kita pun berharap agar di Hari Kiamat nanti kita memperoleh cahaya. Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa setiap orang punya cahaya. Cuma ada yang sangat lemah dan ada yang terang. Sampai ada yang cahayanya sangat tinggi sehingga mata telanjang pun dapat melihatnya. Maksudnya, mata orang awam yang jauh dari Allah pun bisa melihatnya. Para sahabat sendiri pernah bercerita bahwa wajah Rasulullah Saw. yang mulia bersinar-sinar.
Al-Quran Al-Karim sendiri bercerita tentang orang-orang yang beriman yang cahayanya bersinar-sinar, sampai orang munafik dan orang kafir di situ berkata, “Tolong tengok kami sebentar saja supaya kami memperoleh secercah cahayamu.”
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil secercah dari cahayamu.” Dikatakan kepada mereka, “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya untukmu”… (QS 57: 13).
Berdasarkan hadis-hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa kalau kita ingin memperoleh cahaya di Hari Kiamat nanti, kita tidak boleh sekali-kali melakukan kezaliman kepada seorang pun. Artinya, kita jangan menistakan kehormatannya, menjelek-jelekkannya, atau mempunyai hati yang tidak bersih kepada seseorang. Apalagi sampai mengambil hak dan nyawanya.
Masih dalam kitab Kanzul ‘Ummal, hadis nomor 7.605, disebutkan bahwa Rasululah Saw. bersabda, “Sangat besar kemurkaan Allah kepada orang yang menzalimi seseorang yang tidak mempunyai penolong selain Allah Swt.” Artinya, ke murkaan yang besar adalah menzalimi orang yang lemah. Sayidina Ali k.w. mengatakan, “Menganiaya orang yang lemah adalah penganiayaan yang paling buruk.” Dan memang, sepanjang sejarah, yang paling banyak dizalimi adalah orang- orang yang lemah. Memang, bagi orang yang zalim, yang paling enak untuk dizalimi adalah orang yang lemah, karena dia mengetahui bahwa orang yang dizaliminya tidak akan mungkin membalasnya. Termasuk kezaliman jenis ini adalah kalau ada orangtua yang menyiksa anaknya.
Pada hakikatnya ada keuntungan buat orang yang dizalimi. Dia akan ditolong oleh Allah Swt. Doanya pun akan dijawab oleh Allah. Rasulullah yang mulia pernah bersabda, “Ketika seorang hamba dizalimi kemudian dia tidak mampu membela diri dan dia tidak memiliki penolong, apabila dia mengangkat matanya ke langit kemudian berdoa kepada Allah Swt., maka Allah akan segera menjawab, ‘Aku datang memenuhi seruanmu, Aku akan menolongmu segera atau kemudian’” (Kanzul ‘Ummal, hadis ke-7.648).
Karena itu, tidak mengherankan kalau kuburan Marsinah jadi harum. Saya yakin dia termasuk dalam lindungan Allah. Sebelum ini, di suatu tempat di Kabupaten Bandung ini ada jenazah yang sudah puluhan tahun hendak dipindahkan. Ketika digali, telah habis semua jasadnya, tulang belulangnya pun sudah tiada. Yang ditemukan para penggali hanyalah tanah yang berbau harum. Akhirnya, dibungkuslah tanah itu untuk dipindahkan. Saya menduga bahwa orang ini tadinya termasuk salah seorang yang dizalimi. Wallahu ‘alam.
Kalau Anda dizalimi, Anda akan mendapatkan keuntungan, karena Anda mempunyai simpanan di hari akhirat. Jadi, kalau kepala kantor Anda, misalnya, memotong gaji Anda dengan tak semena-mena, maka sudah jelas Anda memiliki tabungan di hari akhirat. Jika ada orang yang menjelek-jelekkan Anda tanpa alasan yang tepat, Anda punya tabungan juga di Hari Kiamat. Tetapi walaupun begitu, kita tidak boleh menerima kezaliman itu, karena kita punya tugas untuk menentangnya.
Menentang kezaliman, atau menolong orang yang dizalimi, pahalanya lebih besar daripada shaum dan ibadah haji. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis, “Kalau seorang Mukmin, siapa saja, membela seorang Mukmin yang teraniaya, maka perbuatan itu lebih utama daripada puasa satu bulan dan i’tikaf sebulan di Masjidil Haram. Kalau seorang Mukmin membela seorang yang dizalimi dan dia mampu membela, maka Allah akan membelanya di dunia dan di akhirat. Kalau seorang Mukmin membiarkan saudaranya padahal dia mampu menolongnya, maka Allah akan membiarkan mereka di dunia dan di akhirat” (Biharul Anwar, 75: 20).
Oleh karena itu, kita mempunyai kewajiban membela orang yang dizalimi. Ada tiga tanda orang zalim; pertama, berlaku sewenang-wenang kepada orang yang di bawahnya; kedua, kepada orang yang berada lebih di atasnya dia melakukan pembangkangan; dan ketiga, dia secara terang-terangan menunjukkan kezalimannya (Biharul Anwar, 77: 64). JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).