Nubuwwah: Tinjauan Syariat dan Tarekat

Para ahli syariat dan ahli tarekat memandang setiap persoalan dengan cara yang berbeda. Ahli syariat melihat sesuatu berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari guru-gurunya dan dengan merujuk kepada dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah, atau yang lebih dikenal dengan dalil naqli. Selain itu, ia juga mengamati sesuatu dengan perantaraan akalnya (‘aqli). Adapun ahli tarekat memandang setiap hal dari ilmu kasyaf. Artinya, pengetahuan itu tidak diperoleh melalui akal atau tidak merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah secara lahiriah. Mereka memahami setiap hal dari penjelasan yang diberikan Allah Swt. kepada mereka.

Ilmu yang dimiliki para ahli syariat diperoleh sebelum mereka melakukan proses penyucian diri (tazkiyatun nafs) sementara ilmu yang dimiliki ahli tarekat diperoleh setelah mereka melakukan proses penyucian diri. Perbedaan pandangan antara ahli syariat dan ahli tarekat dapat kita lihat misalnya dalam masalah tauhid. Ahli syariat meyakini keesaan Allah dengan melihat perbuatanNya di alam semesta (tawhidul af ål). Sedangkan ahli tarekat melihat keesaan Allah dengan menyerap sifat-sifat-Nya yang dicerminkan di seluruh alam semesta (tauhidus sifat). Demikian pula halnya dengan masalah kenabian (nubuwwah). Ahli syariat dan ahli tarekat melihat hal ini dari sudut pandang yang berlainan.

Secara umum, istilah kenabian digunakan untuk mengungkapkan proses penerimaan makrifat dari Allah Swt. kepada jiwa yang disucikan melalui malaikat Jibril. Menurut Sayyid Haidar Amuli dalam Jami’ul Asrar, istilah kenabian juga ditujukan untuk menyatakan proses penerimaan makrifat dari Allah Swt. kepada siapa saja yang mau mendengarkan dan mengambil faidah daripadanya; kepada siapa saja yang menjadi pengikut nabi.

Nubuwwah Menurut Syariat

Para ahli syariat mendefinisikan nabi sebagai orang yang diutus Allah kepada para hamba-Nya. Ia diutus untuk menyempurnakan mereka dengan memberi petunjuk kepada mereka tentang cara-cara menyembah Dia. Ia juga diutus untuk mengajarkan bagaimana menghindari kemaksiatan kepada-Nya.

Kenabian bisa diketahui dari tiga hal; Pertama, kenabian itu tidak menegakkan sesuatu yang bertentangan dengan akal. Bila ada seseorang yang mengaku sebagai nabi, kita dapat membuktikan kebenaran pengakuannya dengan menguji apakah ajarannya bertentangan dengan akal atau tidak. Nabi menjelaskan: “Agama itu akal dan tidak ada agama bagi orang yang tak berakal.” Al-Quran memberikan argumentasi kepada orang- orang yang membantah Nabi dengan argumentasi ‘aqliyyah.

Ciri kenabian yang kedua ialah seorang nabi harus mengajak kita untuk mematuhi Allah dan melarang kita untuk bermaksiat kepada-Nya. Kita tak boleh menerima seseorang sebagai Nabi bila ia menyuruh kita ke arah yang sebaliknya.

Tanda yang ketiga, nubuwwah dibuktikan kebenarannya dengan mukjizat, yang terjadi ketika ada orang yang menentangnya. Sepanjang sejarah, setiap kali ada orang yang mengaku sebagai nabi, ada pula orang yang menolaknya. Untuk menaklukkan musuh-musuh itu, Allah membekali seorang nabi dengan mukjizat.

Sayyid Haidar Amuli mendefinisikan mukjizat sebagai suatu tindakan yang melanggar pola yang normal dan tidak mampu dilakukan oleh manusia biasa. Dengan mukjizat, nabi seakan ingin mengatakan kepada umatnya, “Jika kamu tidak mau menerima pesanku, maka sesuatu akan terjadi kepadamu.” Apabila ada orang yang menolak apa yang dikatakan nabi, terjadilah mukjizat.

Nabi sering mengajak orang masuk Islam dengan memakai dalil ‘aqli. Seperti yang pernah beliau lakukan ketika berceramah di depan keluarganya di bukit Shafa, “Bagaimana reaksi kalian, jika aku kabarkan bahwa di balik bukit itu ada musuh yang akan menyerbu kalian?” Orang yang mendengarkan langsung menjawab, “Kami akan beriman. Kami percaya karena engkau orang yang terpercaya”. Nabi lalu bersabda, “Aku adalah seperti orang yang membawa kabar tentang musuh yang akan datang menyerbumu. Aku membawa berita tentang api neraka.” Nabi berdakwah dengan menggunakan dalil ‘aqli untuk menjelaskan kenabiannya.

Namun bila cara ini tidak bisa berhasil, barulah Nabi menggunakan mukjizat. Suatu waktu, beliau bertemu dengan seseorang dan mengajaknya untuk beriman. Orang itu menolak dan berkata, “Aku takkan beriman kecuali kau mampu menyuruh pohon kurma itu datang ke sini dan mengucapkan syahadat di depanmu.” Ia berkata seraya menunjuk sebatang pohon kurma di kejauhan. Nabi lalu memanggil pohon kurma itu. Dengan berjalan terseok-seok, datanglah pohon kurma itu. Ia lalu bersujud di hadapan Nabi dan mengucapkan syahadat. Orang kafir itu takjub dan segera masuk Islam.

Mukjizat juga terjadi pada waktu Nabi menunjuk seorang imam sepeninggalnya. Imam Ali kw, orang yang ditunjuk sebagai imam, ialah keluarga dekat Nabi. Seseorang datang kepada Nabi dan memprotes pengangkatan itu. Ia berkata, “Muhammad, engkau betul-betul mendahulukan kepentinganmu dan keluargamu! Allah telah berikan kau kemenangan dan sekarang engkau malah mengangkat menantumu sebagai imam sesudahmu.” Nabi lalu menjawab, “Aku melakukannya karena perintah dari Tuhan.” Orang itu masih tetap membantah, “Jika benar itu perintah dari Tuhan, turunkan azab kepadaku!” Tak lama setelah itu, ketika orang itu berjalan pulang, halilintar menyambar dan membelah tubuhnya menjadi dua.

Pancaran dari mukjizat juga diberikan Allah Swt. kepada para imam dan wali. Hal ini disebut dengan karamah. Karamah diberikan Tuhan untuk membuktikan imamah atau wilayah orang tersebut. Contoh karamah ialah seperti apa yang terjadi di zaman Imam Ali menjadi khalifah. Saat itu, Imam mengumpulkan orang-orang untuk mengingat kembali sabda Nabi. Imam bertanya, “Siapa di antara kalian yang mengingat ucapan Nabi tentang penunjukkanku sebagai imam sesudahnya?” Semua yang ada di sana berdiri dan bercerita tentang riwayat pengangkatan Ali menjadi Imam di Ghadir Khum, kecuali seorang sahabat yang tetap duduk di tempatnya. “Mengapa kau tak berdiri? Apakah kau tak ingat peristiwa itu?” Imam Ali bertanya. Orang itu menjawab, “Aku lupa. Aku sudah terlalu tua dan tak ingat apakah Nabi pernah bersabda seperti itu atau tidak.” Imam Ali lalu berdoa, “Ya Allah, sekiranya orang ini berdusta, berilah tanda di wajahnya, yang takkan bisa ditutupi dengan serbannya.” Segera setelah itu, muncullah tanda di sebelah wajah orang itu. Bentuknya sedemikian rupa sehingga serban pun tak bisa menyembunyikannya.

Karamah yang dimiliki wali juga ditunjukkan pada peris- tiwa yang dialami Bahauddin Walid, ulama besar yang juga ayah dari Maulana Jalaluddin Rumi. Suatu saat, Bahauddin masuk ke masjid. Ia melihat seseorang salat dengan cara yang amat buruk. Pakaian yang dikenakannya untuk salat pun acak-acakan. Bahauddin berkata kepadanya, “Bereskanlah pakaianmu! Kau tengah menghadap Yang Mahasuci.” Orang itu malah membangkang, “Bagaimana kalau aku tak mau?” Bahauddin menjawab, “Jika engkau tak mau, aku akan menyuruh ruhmu untuk meninggalkan tubuhmu.” Orang itu masih menolak. Lalu Bahauddin berkata, “Hai ruh Fulan ibnu Fulan, tinggalkan jasadmu!” Orang itu meninggal dunia seketika. Semua orang yang melihat kejadian itu langsung menyatakan diri menjadi pengikut Bahauddin Walid. Seorang nabi, imam, atau wali ti- dak hanya meyakinkan orang untuk percaya akan ajakannya melalui argumentasi, melainkan juga dengan mukjizat atau karamah.

Alasan Tuhan Mengutus Nabi

Al-Quran menyatakan bahwa Tuhan telah mewajibkan diri-Nya untuk melimpahkan rahmat dan kasih sayang kepada umatnya, “Dia telah menetapkan atas diri-Nya rahmat,” (QS. Al- An’am [6]: 12). Karena rahmat dan kasih sayang-Nya lah, Allah ingin hamba-hambanya sampai kepada tingkat kesempurnaan, sesuai kemampuan yang ada dalam diri mereka.

Allah telah membekali diri manusia dengan perlengkapan untuk mencapai kesempurnaan itu. Potensi untuk bergerak ke arah itu telah ditanamkan Allah ke dalam seluruh makhluk- Nya. Kecenderungan kepada kesempurnaan merupakan fitrah seluruh makhluk. Al-Quran menyebutkan, “(Allah) Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),” (QS. Al-A’la[87]: 2). Ketika manusia menempuh jalan kepada kesempurnaan, ia memerlukan bimbingan Allah Swt. Dia ingin menun- jukkan arah agar manusia tidak salah jalan.

Untuk itulah, Allah utus para nabi; untuk mengarahkan manusia mencapai tujuan yang sebaik-baiknya. Pengiriman nabi kepada manusia adalah ungkapan dari rahmat dan anugrah Allah. Sebuah karunia yang berasal dari sifat Lathif Allah Swt.

Masih dalam Jami’ul Asrar, Sayyid Haidar Amuli menulis, “Anugerah Allah ini adalah wajib bagi-Nya karena kasih sayang-Nya, dan Allah telah menetapkan kasih-sayang bagi diri- Nya. Selain itu, karena Allah tak bisa dicerap dengan indra kita, tak seorang pun mempunyai kemampuan untuk memperoleh pemahaman dari Allah. Pengajaran langsung dari Allah kepada semua hamba-Nya adalah tidak mungkin, maka wajiblah bagi Allah untuk menunjuk sekelompok utusan sebagai penghubung antara diri-Nya dengan mereka. Karena itulah para utusan memperoleh wahyu dari Allah dan menyampaikannya kepada hamba-hamba-Nya.”

Tuhan memilih orang-orang di antara hambanya sebagai perantara. Tuhan mengajar langsung para rasul agar mereka lalu mengajarkannya kepada manusia yang lain. Dalam Ilmu Komunikasi, hal ini dikenal sebagai Two-Step-Flow of Commu nication, Dua Langkah Arus Komunikasi. Teori ini menjelaskan bahwa dalam setiap kelompok masyarakat, terdapat sekumpulan orang yang memengaruhi orang yang lain. Kumpulan ini disebut sebagai opinion leaders. Ketika kita meneliti pengaruh media massa terhadap orang kebanyakan, kita menemukan bahwa media massa tidak memengaruhi orang secara langsung namun melalui opinion leaders. Para tokoh massa ini membaca media lalu menyampaikannya kepada masyarakat umum yang tidak membaca media.

Secara syariat, nubuwwah adalah seperti teori di atas. Tuhan menyampaikan risalah kepada para nabi dan para nabi lalu menyebarkannya kembali kepada umat manusia. Tapi berbeda halnya dengan nubuwwah, sistem komunikasi dalam teori ini memiliki kelemahan. Para tokoh masyarakat, yang menjadi opinion leaders, kerap kali menyampaikan kembali informasi dengan menambahkan kepentingan pribadi mereka di dalamnya.

Untuk menjamin kesucian risalah yang disampaikan para rasul, Allah menetapkan ishmah sebagai salah satu syarat rasul. Seorang utusan Allah tidak pernah berdosa, ia haruslah seorang yang ma’shum. Apabila seorang rasul tidak dilindungi dengan ishmah, besar kemungkinan risalah yang disampaikan itu ditambahi dan dibumbui dengan kepentingannya sendiri.

Nubuwwah Menurut Tarekat

Sayyid Haidar Amuli menulis, “Kenabian menurut orang yang menempuh jalan keruhanian berarti pengetahuan tentang hakikat Ilahiah dan rahasia ketuhanan. Ada dua macam nubuwwah; nubuwwah yang berkaitan dengan makrifat dan nubuwwah yang berkaitan dengan hukum-hukum.”

Nubuwwah yang pertama adalah penyampaian pengetahuan tentang zat, nama, dan sifat Allah. Nubuwwah yang kedua adalah penyampaian hukum, aturan moral, sopan santun, dan aturan masyarakat. Tarekat membicarakan nubuwwah yang pertama; penyampaian makrifat yang diterima Nabi Saw. dari Allah Swt.

Para ahli syariat merujuk kepada nabi untuk memperoleh aturan dan petunjuk hidup di tengah masyarakat. Sementara para ahli tarekat merujuk kepada nabi untuk memperoleh pengetahuan cara mengenal Allah. Seorang nabi ialah sumber segala makrifat. Banyak kitab tarekat yang ditulis berdasarkan bimbingan langsung Nabi Saw. Kitab Futûhâtul Makiyyah, misalnya, diakui Ibn ‘Arabi ditulis dengan arahan langsung dari Nabi Muhammad Saw.

Menurut ahli tarekat, alasan para nabi diutus kepada umat manusia ialah untuk menyampaikan pengetahuan makrifat atau pengenalan Allah itu kepada hamba-hamba-Nya.

Allah mempunyai dua aspek; aspek zat dan aspek sifat. Dari segi zat, tidak akan ada seorang pun yang mampu mengetahui zat Allah. Kita tak mungkin mengenal zat-Nya. Karena itu, jika kita berbicara tentang zat Allah, kita harus melakukan tanzîh; membersihkan Allah dari apa pun yang kita bayangkan.

Zat Allah sangat berbeda dengan kita semua, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia,” (QS. Asy-Syura’ [26]: 11). Namun sebagian sifat Allah boleh jadi sama dengan hamba- hamba-Nya. Kita bisa lebih mengenal Allah dari aspek sifat- sifat-Nya. Berkenaan dengan sifat, yang harus kita lakukan ialah tasybih; menyamakan sifat Allah dengan menyerapnya. Dari mana kita bisa mengetahui sifat-sifat Allah? Lewat asma- Nya.

Salah satu asma Allah, umpamanya, adalah Ar-Rahmân, Yang penuh kasih sayang. Asma ini sekaligus menunjukkan sifat pengasih dan penyayang Allah. Sifat Allah yang berbeda-beda ini dicerminkan-Nya dalam semesta. Tuhan menampakkan sifat-sifatnya (tajaliyyat) dalam berbagai hal. Gelegar halilintar menampakkan sifat keperkasaan Tuhan, sementara tetes-tetes hujan mencerminkan sifat kelembutan-Nya.

Allah menampakkan asma-Nya dalam bentuk yang bermacam-macam. Karena itu, Allah perlu mengutus seseorang untuk menghimpun seluruh asma-Nya dan membimbing manusia untuk turut menyerap asma-asma Allah di dalam diri mereka.

Para nabi yang diutus Tuhan, menurut ahli tarekat, ialah para insan kamil yang mampu menangkap seluruh sifat Allah yang dicerminkan dalam seluruh alam semesta.

JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *