
Dia lahir di tengah bangsa yang menjadikan kezaliman aturan hidupnya. Orang kaya memeras orang miskin. Orang kuat menindas orang lemah. Orang pandai memintari orang bodoh. Hukum telah digantikan oleh kekuatan otot. Might is right (Kekuasaan adalah kebenaran).
Sejak kecil ia menyaksikan budak-budak yang diperlakukan lebih dari binatang. Mereka dipaksa bekerja dengan upah sekadar makan saja. Jika salah seorang di antara mereka melarikan diri ̶ yang disebut ‘âbiq ̶ dan ditemukan tuannya, berbagai siksaan akan diterimanya. Ia tentu melihat kesedihan dan ketakutan pada wajah para abiq. Karena itulah, ketika ia berdoa ia membayangkan dirinya sebagai ‘abiq yang dihempaskan di hadapan tuannya. Kelak setelah menjadi Rasul, ia menyebut dirinya budak Allah. Ia memanggil Tuhan seperti budak memanggil tuannya, “Anta Mawlânâ!”
Sejak ditinggalkan orang-tuanya, ia akrab dengan derita. Ia tahu kelemahan posisi anak yatim dan orang miskin di tengah masyarakat yang ganas. Kehormatan mereka dicampakkan; penderitaan mereka dinafikan; tangisan mereka dibungkamkan. Karena itu, setelah diangkat menjadi Nabi saw., ia mengecam orang yang menganiaya anak yatim. “Tangisan anak yatim mengguncang Arasy,” katanya mengingatkan umatnya. Ia juga memperingatkan orang kaya yang mengabaikan kesengsaraan orang miskin. Ia bersabda, “Tidaklah orang miskin lapar dan telanjang, kecuali karena ulah orang-orang kaya. Ketahuilah, Tuhan akan mengadili orang kaya seperti itu dengan pengadilan yang berat dan menyiksa mereka dengan siksa yang pedih.”
Sejak muda ia menyaksikan penguasa yang menyalah-gunakan kekuasaannya. Ia melihat kekuasaan selalu bersamaan dengan kezaliman. Begitu geramnya dengan kekuasaan yang zalim, utusan Tuhan ini bersabda, “Jauhilah pintu-pintu penguasa dan kaki-tangannya. Karena, orang yang paling dekat dengan pintu penguasa dan kaki-tangannya adalah yang paling jauh dari Tuhan.” Tetapi ia juga memuji penguasa yang adil. Ia berkata, “Di antara yang dilindungi Tuhan pada hari ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, adalah penguasa yang adil. Penguasa adalah bayangan Tuhan di bumi. Dengan kekuasaannya orang lemah dilindungi dan orang tertindas dibela.”
Pendeknya, ia hadir untuk membasmi kezaliman, termasuk kezaliman suami terhadap istri, kezaliman orang tua terhadap anak atau anak terhadap orang tua, majikan terhadap buruh, bahkan manusia terhadap binatang. Ia marah ketika mendengar sebagian sahabatnya memukuli istri-istrinya. Di ‘Arafah, pada haji Wada, ia menyampaikan khutbah terakhir. Di antara sabdanya waktu itu, “Wahai manusia, dengarkan pembicaraanku dan renungkan baik-baik. Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada istri-istri kalian. Kalian tidak memiliki mereka dan mereka tidak memiliki kalian.”
Ia menyampaikan firman Tuhan: Orang-orang beriman dan tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kezaliman, maka bagi mereka kedamaian dan merekalah yang mendapat petunjuk (QS 6:82); Tuhan tidak suka kepada orang zalim (QS 3:547); Sesungguhnya ti dak akan beruntung orang-orang yang zalim (QS 12:23); Bahkan orang zalim itu berada dalam kesesatan yang nyata (QS 31:11).
Ketika ia naik ke langit, Tuhan menyapanya, “Wahai saudara para utusan! Wahai saudara pemberi peringatan! Peringatkan kaummu agar mereka tidak memasuki rumah-Ku kecuali dengan hati yang tulus, lidah yang jujur, tangan yang bersih, kehormatan yang suci. Jangan biarkan orang yang berbuat zalim kepada orang lain di antara hamba-hamba-Ku untuk masuk ke rumah-Ku, karena Aku akan terus-menerus melaknat dia selama dia berdiri shalat di hadapan-Ku, sampai ia mengembalikan hak orang yang dizaliminya.”
Ketika kembali di bumi, ia berkata, “Ada tujuh siksa di antara hamba dengan surga. Yang paling ringan adalah kematian.” Anas bertanya, “Apa yang paling berat, ya Rasulullah.” Ia menjawab, “Berada di hadapan Allah ketika orang-orang yang dizalimi bergantungan pada tangan orang-orang yang menzaliminya. Takutilah olehmu doanya orang yang dizalimi, sekalipun kafir, karena tak ada lagi penghalang antara dia dan Tuhan.”
Berbuat zalim adalah merampas atau menghilangkan hak-hak orang lain. Menteror adalah menghilangkan hak orang untuk memperoleh rasa aman. Menyiksa secara fisik adalah merampas hak orang lain untuk memelihara keselamatan dirinya. Membungkam dengan kekerasan adalah mencabut hak orang untuk menyatakan pendiriannya. Mengambil harta orang lain dengan tidak halal adalah memberangus hak miliknya. Makin banyak hak yang dirampas, makin banyak orang yang menjadi korban, makin zalimlah pelakunya. Karena perbuatan zalim itu hanya berlangsung bila tidak ada perlawanan kepadanya, membiarkan kezaliman juga termasuk kezaliman.
Karena itu, sepanjang risalahnya, tidak henti-hentinya ia berjuang menegakkan keadilan. Ia bukan hanya mengutuk kezaliman, ia juga mengecam orang-orang yang apatis terhadap kezaliman. Ia bersabda, “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Bila tidak sanggup, ubahlah dengan lidahnya. Bila tidak sanggup juga, ubahlah dengan hatinya. Tetapi, yang terakhir itu adalah iman yang paling lemah.”
Kira-kira setengah abad setelah ia meninggal dunia, salah seorang yang paling salih dari keluarganya berdoa, “Ya Allah, aku mohon ampun kepada-Mu, sekiranya ada orang dizalimi dihadapanku, lalu aku tidak menolongnya; atau ada orang berbuat baik kepadaku, tapi aku tidak berterima-kasih kepadanya, atau ada orang yang berbuat salah kepadaku, tetapi aku tidak memaafkannya.” Ia menggemakan kembali pesan kakeknya, Rasulullah saw. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).