
Siapa di antara kita yang tak kenal Nabi Khidhir a.s.? Mûsâ a.s. menemuinya pada mata air kehidupan, yang membuat ikan yang sudah dimasak meloncat hidup. Khidir mulai membimbing Mûsâ dari tempat bertemunya dua lautan, majma’ al-bahrayn, a twilight zone ̶ suatu medan di antara lautan material dan samudera spiritual. Ia disebut Khidhir, yang berarti hijau, karena ke mana pun ia melangkah, dari bumi yang dipijaknya tumbuh rumput kehidupan yang hijau. Khidhir hidup abadi dan membimbing manusia sepanjang sejarah. Ia berada di samping para putra Nabi Adam a.s., merintis kehidupan masyarakat yang pertama. Ia juga berada pada zaman Nabi Muhammad saw., mengajarkan doa cinta kepada ‘Alî di Madinah dan pensucian batin kepada ‘Uways al-Qarânî di Yaman.
‘Uways hidup sezaman dengan Nabi saw., tetapi tak sempat berjumpa dengan beliau. Kepada para sahabatnya, beliau berpesan untuk menyampaikan salam kepada ‘Uways, yang keharuman spiritualnya dipuji Nabi. Yang mengajar ‘Uways adalah juga Khidhir. Sejak itu, siapa saja yang diajar Khidhir dianggap mengikuti tarekat ‘Uwaysiah. Misalnya, Abû Sa’id Abû al-Khayr dan Hâkim Tirmidzî. Khidhir setiap saat mencari murid yang tepat di tengah-tengah manusia.
Saya ingin Anda juga menjadi murid Khidhir melalui kisah berikut ini. Setelah anak-anak Adam menyebar di bumi, terjadilah macam-macam bencana-karena penyakit, ketololan manusia, atau karena sebab-sebab yang tidak diketahui. Khidhir berusaha membantu manusia mengatasi bencana itu sesuai dengan tugasnya yang abadi. Ia berkelana ke setiap sudut bumi untuk menemukan orang yang mau mendengar nasihatnya. Hanya ada tiga orang dari seluruh penduduk yang mau mendengarnya.
Kepada orang yang pertama, Khidhir berkata, “Marilah kita menempuh perjalanan bersama. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagimu.” Keduanya sampai di tepi sungai. Seraya melihat sungai itu, Khidhir bertanya, “Apa yang kamu inginkan dari sungai itu?” Ia menjawab, “Saya ingin sungai itu mematuhi perintah saya, sehingga sungai itu bekerja untuk saya. Dengan begitu, saya mendatangkan manfaat bagi diriku dan juga bagi yang lain.”
“Bagus,” kata Khidhir sambil meneruskan perjalanan. Mereka sampai pada kaki gunung. Khidhir bertanya, “Apa yang kamu inginkan dari gunung ini?” Orang itu menjawab, “Saya ingin gunung ini memberikan pengetahuannya kepadaku. Ia sudah berada di sini lebih lama dariku. Saya akan menyampai- kan pengetahuan yang diberikannya kepada yang lain.”
“Bagus,” kata Khidhir. Mereka meneruskan perjalanan dan sampai di sebuah desa yang subur dengan pohon-pohon yang rindang dan berbuah. “Apa yang kamu inginkan dari desa ini?” tanya Khidhir. “Saya ingin memiliki negeri ini. Saya dapat hidup di sini dan mengisi sisa hidup saya untuk menyebarkan kearifan yang sudah saya peroleh kepada orang lain,” jawab murid yang pertama. “Bagus,” kata Khidhir. Sang Guru kemudian pergi meninggalkan muridnya. Apa yang dikehendaki murid itu terjadi.
Khidhir menemukan manusia kedua yang mau mendengarnya. Ia juga membawa murid yang kedua ini mengembara. Ditengah perjalanan, keduanya berjumpa dengan seorang bijak yang sedang mengajarkan kearifan. “Apa yang kamu inginkan dari orang ini?” Murid berkata, “Saya ingin ia berkenan menerima saya sebagai pelanjutnya. Jika ia mati, saya dapat melanjutkan ajarannya.”
“Bagus,” kata Khidhir. Mereka meneruskan perjalanan dan tiba di suatu tempat ketika sekelompok orang sedang menzalimi orang-orang yang tidak bersalah. “Apa yang kamu inginkan. dari orang-orang ini?” tanya Khidhir. “Saya ingin menghilangkan penindasan dan menghukum orang yang berbuat zalim,” jawab murid yang kedua.
“Bagus,” kata Khidhir. Mereka meneruskan perjalanan dan tiba di sebuah kota. Penduduknya pintar-pintar, tetapi berpikiran sempit. Mereka tak mau meninggalkan kotanya untuk membagikan kepintaran mereka kepada penduduk di kota yang lain. “Apa yang mampu kamu lakukan untuk mereka?”
“Saya ingin meyakinkan mereka bahwa mereka punya kewajiban untuk membagikan apa yang mereka ketahui kepada semua orang di dunia ini,” ujar sang murid. Seperti biasa, Khidhir memujinya. Setelah itu, ia meninggalkan murid kedua. Semua yang diinginkannya terjadi, dengan kehendak Allah.
Akhirnya Khidhir berjumpa dengan orang terakhir di seluruh dunia yang mau mendengarkan nasihatnya. Ia juga dibawa berjalan jauh. Setelah lama berkelana, mereka sampai ke sebuah tempat. Di situ macam-macam orang bercampur, yang mulia dan hina, bangsawan dan budak. “Apa yang ingin kamu lakukan dalam situasi seperti ini?” tanya guru rohaniah itu. “Saya ingin bisa bertindak benar, sungguh-sungguh benar.”
“Bagus,” kata Khidhir. Mereka melanjutkan perjalanan dan sampai ke sebuah negeri. Penduduk kampungnya kelaparan karena panen gagal. Khidhir bertanya kepada sahabatnya, “Dengan apa ingin kamu beri makan mereka?” Sahabatnya menjawab, “Saya ingin mereka puas menerima kemiskinan jika itu paling baik bagi mereka. Tetapi saya ingin juga mereka tidak puas dengan kemiskinan mereka bila mereka memang patut untuk kecewa.”
“Sangat bagus,” kata Khidhir. Akhirnya mereka sampai pada suatu negeri. Orang-orang kelihatannya salih dan taat. Mereka patuh kepada hukum. Mereka menjalankan tugasnya dengan baik. Semua orang tampaknya bahagia. “Apa yang ingin kamu lakukan pada orang-orang ini?” tanya sang Guru. “Saya ingin mereka mampu memahami dengan tepat apa yang baik buat mereka dan apa yang dapat mereka lakukan dan rasakan.”
“Bagus sekali,” kata Khidhir. Setelah memenuhi keinginan murid yang ketiga ini, Khidhir pergi lagi. Untuk mencapai ke inginan tiga murid Khidhir inilah manusia sepanjang sejarah bekerja keras. Tetapi yang sangat disukai Khidhir adalah keinginan murid yang ketiga. Paling tidak, begitulah kata Idries Shah, guru sufi kontemporer, dalam The Dermis Probe. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).