Sa’di

“Balaghal ‘ula bi kamâlihi, kasyafad dujâ bi jamâlihi, hasunat jami’u hishâlihi, shallû ‘alayhi wa âlihi.” Saya menemukan kuplet-kuplet yang indah ini pada haji saya yang pertama. Karena bergabung dengan rombongan ONH biasa, saya tinggal berdesakan dalam ruang sempit. Ruang itu tidak mempunyai hiasan dinding apa pun selain tulisan kaligrafi dengan kuplet-kuplet itu. Syair yang sangat indah dan gampang dihapal. Penyair melukiskan sifat Nabi saw. dengan singkat: “Ia sudah mencapai kemuliaan dengan kesempurnaannya. Ia telah menyingkapkan kegelapan dengan keindahannya. Cemerlang semua perilakunya. Sampaikan shalawat kepadanya dan keluarganya.”

 

Sekian puluh tahun sesudah itu saya berkenalan dengan penulisnya. Ternyata, ia bukan orang Arab, walaupun menurut penulis biografinya ia berasal dari keturunan ‘Ali bin Abî Thâlib. Ia juga lebih banyak menulis puisi dalam bahasa Persia. Hampir setiap orang Iran sekarang menghapal paling tidak satu kupletnya. Para pembicara dan penulis menaburkan syair-syairnya dalam pembicaraan dan tulisan mereka. Sa’dî, yang punya lakon dalam perbincangan kita ini, memang hanya dapat ditandingi oleh Firdawsî, Nizhâmî, dan Anwârî.

 

Sa’di mengikuti tarekat Naqsyabandi; ia sempat naik haji bersama Syaikh Abdul Qadir al-Jilânî, pendiri tarekat Qadiriyah. Puluhan tahun ia menjalani kehidupan sebagai sufi, yang berkelana ke berbagai negeri, menjajakan kearifan perenial. Sufisme yang diajarkannya bukanlah sufisme ritual. Lewat puisi-puisinya, Sa’di mengkritik para tiran dan orang-orang kaya di zamannya. Walaupun amat dihormati oleh para raja, ia hidup sederhana. Ia mempraktikkan apa pun yang ia khutbahkan. Seperti kakeknya, Muhammad saw., ia menyebarkan kasihnya kepada semua manusia, apa pun agama dan keyakinannya. Ia berusaha untuk menebarkan rahmat ke seluruh alam.

 

Bani Adam semuanya anggota badan yang sama

Karena pada awalnya berasal dari jauhar yang sama

Jika satu anggota sakit karena kemalangan

Anggota-anggota yang lain tak kan menikmati ketenangan

Jika kamu tidak merasakan apa yang orang lain derita

Tidak pantas kamu menyebut dirimu manusia

 

Puisi di atas diambil dari salah satu master piece-nya, Gulistan (Taman Bunga Mawar). Sa’di sedang berziarah ke kuburan Nabi Yahyâ di Damaskus. Ia memberikan nasihat kepada seorang tiran, yang meminta doa darinya untuk mengalahkan musuh-musuhnya: Bar ra’yat-e zhaif rahmat kun, ta az dusyman-e qawiyy zahmat nabini (Perlihatkan kasih sayangmu kepada rakyat yang lemah, supaya kamu dilepaskan dari gangguan musuhmu yang kuat). Dalam Gulistan, ia mempersembahkan 40 cerita untuk mengkritik para penguasa. Kita akan memperkenalkan sebagian di antaranya.

 

Seorang sufi, yang doanya selalu dikabulkan Tuhan, datang ke Baghdad. Hajjaj bin Yusuf, seorang penguasa yang sangat kejam, memanggilnya. “Tolong doakan yang baik buat saya,” kata Hajjaj kepadanya. Sang sufi berdoa, “Tuhan, ambillah nyawanya.” “Demi Allah, doa macam apa ini?” kata Hajjaj. Ia menjawab, “Inilah doa yang baik buat kamu dan seluruh kaum Muslim.”

 

Hai penindas! Penindas rakyat tak berdaya

Betapa cepatnya pasarmu akan binasa

Apa untungnya kerajaan bagimu

Ketimbang menindas lebih baik kematianmu

 

Seorang raja yang tidak adil bertanya kepada seorang salih, “Bagiku, apa ibadat yang paling baik?” Ia menjawab, “Bagimu ibadat yang paling baik adalah tidur siang hari. Dengan begitu, kamu berhenti sejenak dari menindas manusia.”

 

Pada waktu siang hari seorang tiran berbaring

Kataku, lebih baik bencana ini tetap terbaring

Siapa saja yang tidurnya lebih baik dari bangunnya

Lebih baik memilih mati orang yang jahat hidupnya

 

Alkisah, ada seorang zalim mengambil kayu bakar dari orang miskin dengan paksa. Kemudian, ia memberikannya kepada orang kaya. Seorang salih lewat di hadapannya dan memberi nasihat: “Apakah kamu ular yang menggigit siapa pun yang kamu lihat, ataukah kamu burung hantu, di mana pun kamu duduk kamu mematuknya? Sekiranya kekerasan kamu itu lewat begitu saja di hadapan kami, ia tidak akan luput dari pengamatan Tuhan. Hati-hati, penduduk bumi yang kamu zalimi akan melawanmu dengan doa mereka ke langit.” Orang zalim itu tidak menghiraukan ucapannya. Pada suatu malam, api menjalar dari dapur, membakar bongkah-bongkah kayu, melalap seluruh kekayaannya, melemparkan dia dari ranjang yang empuk ke tumpukan debu. Pada saat itu orang salih lewat lagi di hadapannya. Ia sempat nguping pembicaraan si zalim itu kepada kawan-kawannya, “Aku tidak tahu dari mana asal api yang membakar rumahku ini?” Orang salih itu berkata, “Dari hati orang-orang miskin.”

 

Hati-hatilah pada jeritan hati yang terluka

Karena deritanya yang tersembunyi akan terlambat kauamati

Jika mampu, jangan buat siapa pun menderita

Karena jeritan derita dapat mengguncang dunia

 

Sa’di tidak hanya bercerita tentang para tiran. Ia juga berkisah tentang Nusyirwan, tokoh yang terkenal adil, atau Hatim ath-Thay, orang kaya yang terkenal dermawan. Sekali waktu, Nursyirwan berburu. Pejabat rumah tangganya mempersiapkan ayam bakar untuk makannya. Namun, garam tidak ada. Mereka mengutus seorang budak untuk mencari garam di desa yang berdekatan. Nursyirwan berkata, “Bayarlah garam yang kamu ambil, supaya pengambilan garam begitu saja tidak menjadi kebiasaan, nanti desa itu akan hancur.” Mereka berkata, “Apa ruginya? Kita hanya akan mengambil sedikit saja.” Raja berkata, “Semua kezaliman bermula dari yang sedikit. Kemudian setiap orang sesudah itu menambahnya, sehingga akhirnya menjadi sangat besar.”

 

Jika raja makan sebutir apel dari kebun rakyat

Anak buahnya akan mencabuti semua pohonnya

Orang zalim tidak selalu abadi

Tetapi laknatnya akan terus lestari

  

JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

 

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

 

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *