Prajurit Hati Nurani

Waktu: Muharam, seribu tiga ratus lima puluh enam tahun yang lalu. Lokasi: sebuah padang pasir di Irak. Ikhtisar peristiwa: serombongan kafilah datang, terdiri dari beberapa keluarga dekat. Di samping laki-laki dewasa, terdapat juga perempuan dan anak-anak. Sebutlah rombongan itu demonstran, delegasi, utusan, atau kafilah saja. Mereka datang atas undangan orang Kufah untuk memimpin reformasi. Kepala rombongan tidak lain dari Husayn bin ‘Alî, cucu Nabi saw. Mereka baru saja melakukan ibadah haji, yang hanya sempat mereka lakukan sampai wuquf. Ibadah haji penting, tetapi menegakkan keadilan jauh lebih penting. Hampir di ujung padang pasir, mereka −yang jumlahnya sekitar 70 orang−dihadang oleh ribuan prajurit. Mereka disuruh kembali. Pasukan bersenjata mendesak mereka sehingga terpuruk pada sebuah tempat yang sangat gersang, kering, dan panas. Di antara mereka dan Sungai Furat berdiri berlapis-lapis pasukan. Sehari sebelum sepuluh Muharam, lapisan itu bertambah dengan pasukan bala bantuan yang baru datang.

Komandan pasukan yang pertama adalah al-Hurr, sebuah nama yang tidak lazim dan berarti sang Merdeka. Dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa Husayn sedang memperjuangkan rakyat yang tertindas. Perjuangan Husayn adalah perjuangan dirinya juga. Tetapi, ia terikat pada sumpah prajuritnya. Ia diperintahkan untuk mengembalikan Husayn ke tempat asalnya. Perintah itu ia patuhi. Kini, ia melihat pasukan yang baru datang, di bawah pimpinan Jenderal Ibn Sa’ad, bermaksud lebih jauh. Mereka bukan hanya ingin melokalisasi gerakan Husayn, tetapi juga ingin membunuhnya. Ia bertanya kepada atasannya yang baru, “Apakah akan kau bunuh mereka?” Ibn Sa’ad berkata, “Demi Allah, akan kami bantai mereka, walaupun kepala-kepala harus berguguran dan tangan-tangan bertebaran.”

Al-Hurr tersentak. Tubuhnya berguncang, hatinya bimbang. Ia harus memilih antara suara hati nurani dan suara tugasnya sebagai prajurit. Tiba-tiba ia menghardik kudanya dan melonjak ke arah Husayn. Di depan Husayn, ia turun dari kudanya. Ia menundukkan mukanya karena malu.

Ia rebahkan wajahnya ke kaki Husayn, “Wahai putra Rasulullah, inilah orang yang telah menzalimi engkau. Inilah orang yang telah menggiringmu ke tempat ini dan menyebabkan begitu banyak penderitaan kepadamu. Sudilah engkau memaafkan orang durhaka sepertiku. Demi Allah, aku tidak menduga orang-orang ini akan bergerak sampai menumpahkan darah keluarga Rasulullah saw. Sekarang, jalan damai sudah tertutup. Aku tidak mau membeli neraka dengan kesenangan dunia. Maafkan kesalahanku. Izinkan aku berkorban sebagai tebusan atas dosa-dosaku yang telah aku lakukan kepadamu.” “Insya Allah, Tuhan menerima tobatmu. Engkau seperti dinamakan ibumu al-Hurr, manusia merdeka.”

Manusia merdeka memang gelar yang tepat buat orang yang memilih hati nuraninya. Ia tahu, sebagai prajurit, ia harus melaksanakan tugas yang diberikan atasannya. Tetapi sebagai manusia merdeka, ia harus mengikuti hati nuraninya. Al-Hurr memilih yang kedua. Ia menjadi syahid yang pertama di Padang Karbala.

Peristiwa sejarah yang luar biasa ini tidak banyak diketahui orang. Sejarah selalu dibuat oleh pihak yang menang. Pada peristiwa itu, Husayn kalah. Seperti kata Ibn Sa’ad, banyak kepala berguguran-kepala-kepala rombongan Husayn. Selama berabad-abad, kita dilarang meriwayatkan peristiwa ini. Begitu kita berbicara sedikit saja tentang peristiwa ini, kita akan dituding menyebarkan kesesatan. Yang sebenarnya ialah bahwa kita akan menyebarkan kesadaran untuk menentang penindasan. Semua yang sedang mempertahankan status quo akan menentang penyadaran ini.

Ketika saya sedang membaca peristiwa Muharam ini, tiba- tiba saya mendengar empat orang mahasiswa dibunuh aparat−pada bulan Muharam, tidak di padang pasir, tetapi di Ibu Kota, tidak di jalan, tetapi di kampus. Saya kira para mahasiswa marah; karena saya juga marah. Tidak ada satu prosedur pun yang membenarkan penembakan rakyat tak bersenjata dengan peluru, “live ammunition.” Para mahasiswa harus menuntut balas. Aparat harus dilawan.

Segera terlintas di benak saya nama al-Hurr. Kita yakin di antara barisan pasukan bersenjata itu ada orang-orang seperti al-Hurr−manusia-manusia merdeka yang memilih untuk bertindak berdasarkan hati nuraninya. Mereka tahu bahwa derita rakyat adalah derita mereka juga. Yang diperjuangkan mahasiswa adalah tuntutan hati nurani mereka juga. Boleh jadi di antara para penembak itu ada yang kembali ke rumahnya yang sempit dan berhadapan dengan kenyataan yang pahit. Ia pasti tidak akan bisa tidur. Tubuhnya pasti berguncang. Ia harus memutuskan apakah mereka harus ditembaki seperti petunjuk atasan yang diterimanya, bukan yang didengarnya di televisi, ataukah ia harus menerima uluran tangan yang simpatik, bahkan kecupan sayang dari para mahasiswa. Sebagian di antara mereka adalah anak, saudara, atau sahabatnya.

Jadi, tidak boleh kita membalas dendam kepada mereka dengan kekerasan lagi. Mereka juga menderita seperti kita. Mereka menderita lebih parah karena harus melawan jeritan hati nuraninya. Ketimbang memusuhi mereka, marilah kita bantu mereka dengan doa kita. Mudah-mudahan banyak di antara mereka yang melakukan transformasi spiritual dari sekadar robot menjadi manusia merdeka: dari manusia yang tidak punya pikiran dan perasaan menjadi al-Hurr, sang Merdeka.

Selamat datang, al-Hurr! Tuhan akan menerima tobatmu. Sekiranya nanti engkau tumpahkan darahmu−bukan darah rakyat−untuk menebus dosa-dosamu, maka bidadari (al-hur) akan mengantar ruhmu ke haribaan Tuhan Yang Mahakasih dan Mahasayang. Percayalah, air mata yang tercurah dari saudara-saudaramu sebangsa dan setanah air sekarang bukan saja diperuntukkan bagi yang telah engkau tembak, tetapi juga untuk al-Hurr, siapa saja namanya. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *