Mulla Nasrudin

Mulla Nasrudin terkenal karena lelucon-leluconnya. Ia mengajarkan kearifan lewat keluguan atau, dengan kata yang lebih jelas, ketololan. Di kalangan sufi, Nasrudin dijadikan rujukan untuk mengajarkan makrifat. Ia lucu, tolol, lugu, dan sekaligus bijak. Perilakunya yang sulit dipahami dipandang sebagai misteri mistikal yang mempesona.

 

Banyak bangsa mengklaim Nasrudin sebagai bangsanya. Orang Turki setiap tahun memperingati festival Nasrudin, dengan memperagakan dagelannya di Eskishensir, yang diduga tempat kelahirannya. Pada zaman Uni Soviet, Nasrudin adalah tokoh Soviet yang membabat habis kaum kapitalis. Orang Arab mengubah Nasrudin menjadi Joha. Masih dengan nama yang sama, orang Iran menganggapnya sebagai orang Persia. Kisah- kisah Nasrudin, dengan sedikit modifikasi, masuk ke dalam Don Quixote, Fables dari Marie de France, sampai Baldakiev dalam sastra Rusia.

 

Lelucon Nasrudin harus kita terima dengan hati yang terbuka-karena ia bersifat terbuka. Ia mengundang banyak penafsiran, dan tak ada interpretasi yang paling benar. Karena sifatnya yang terbuka, kisah Nasrudin bukan hanya milik orang Turki, Arab, atau Iran. Ia milik seluruh umat manusia yang masih mempunyai hati nurani. Tidak boleh ada yang tersinggung. Nasrudin tidak mencemooh Anda secara partikular. Ia menyindir manusia secara universal.

 

Orang seperti Nasrudin ada di mana-mana. Ia bisa bernama Si Kabayan di Jawa Barat, Si Lebai Malang di Sumatera Barat, atau Bahlul di negara-negara Timur Tengah. Pesan mereka sama: Tertawalah melihat ketololan-ketololan yang Anda lakukan sebelum ditertawakan orang lain. “Mulla Nasrudin,” tulis Ablahi Mutlaq-nama ini berarti kebodohan mutlak dalam Ajaran Nasrudin, “adalah penghulu para darwis dan pemilik perbendaharaan rahasia, manusia sempurna. Banyak orang berkata, ‘Aku ingin belajar, tetapi di sini aku hanya menemukan kegilaan.’ Tetapi, sekiranya mereka mencari kearifan yang dalam di tempat lain, mereka tidak akan menemukannya.”

 

Pada saat-saat krisis seperti sekarang, marilah kita mencari kearifan yang dalam dari kegilaan Nasrudin. Bacalah sebagai hiburan ringan. Tak lebih dari itu. Saya akan mengisahkan kepada Anda kisah Nasrudin seperti diceritakan Idries Shah dalam The Subtleties of the Inimitable Mulla Nasrudin:

 

“Jika tidak ada di antara kalian seseorang yang dapat mengatakan sesuatu yang menghiburku,” teriak seorang raja yang tiranis dan kecapaian, “aku akan memotong leher semua orang yang berada di istanaku hari ini.” Mulla Nasrudin segera menghadap, “Baginda, jangan potong kepalaku; hamba akan mela- kukan sesuatu.” “Apa yang dapat kamu lakukan?” “Hamba dapat, eh, mengajari keledai membaca dan menulis.” Raja berkata, “Sebaiknya kamu mengerjakannya. Jika tidak, aku akan menguliti kamu hidup-hidup.” “Hamba akan melakukannya,” kata Nasrudin, “tetapi perlu waktu sepuluh tahun.” “Tidak apa,” kata raja, “kamu punya waktu sepuluh tahun.” Ketika pertemuan di istana itu sudah selesai, para pembesar mengerumuni Nasrudin. “Mulla,” kata mereka, “betulkah Anda dapat mengajar keledai membaca dan menulis.” “Tidak,” kata Nasrudin. “Kalau begitu,” kata pembesar yang paling bijak, “Anda hanya mendatangkan ketakutan dan kecemasan selama satu dasa- warsa. Sebab, pada akhirnya, Anda akan dihukum mati. Ah, betapa tololnya, lebih menyukai sepuluh tahun penderitaan dan memikirkan kematian ketimbang satu tebasan kilat pedang algojo.” “Anda lupa satu hal,” kata Mulla, “Raja kita sekarang berusia tujuh puluh lima tahun dan aku berumur delapan puluh tahun. Lama sebelum waktu itu habis, unsur-unsur lain akan masuk dalam cerita.”

 

Berikut ini satu cerita Nasrudin lagi dari buku Idries Shah yang sama, tetapi berjudul The Exploits of the Incomparable Mulla Nasrudin:

 

Di seluruh negeri terjadi keresahan. Raja mengirim delegasi kebudayaan ke setiap desa untuk mententeramkan rakyat. Ke mana pun mereka datang, rakyat sangat terkesan. Dari mereka orang dapat belajar ilmu pengetahuan dan keahlian. Salah se orang di antara mereka pengarang, yang lainnya ulama, yang ketiga anggota keluarga kerajaan. Ada ahli hukum, prajurit, saudagar, dan banyak lagi. Pada setiap tempat yang mereka datangi, mereka mengadakan pertemuan di ruang yang terbuka. Orang-orang berkumpul dan mengajukan pertanyaan. Ketika sampai ke desa Nasrudin, pertemuan besar yang dikepalai oleh wali kota menyambut rombongan tersebut. Pertanyaan diajukan dan dijawab. Setiap orang terkesan atau setidak-tidaknya terpengaruh oleh kebesaran delegasi. Nasrudin datang terlambat. Sebagai tokoh lokal, ia didesak untuk duduk di depan. “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanya Nasrudin. Ketua rombongan tersenyum ramah, “Kami ini serombongan ahli. Kami datang ke sini untuk menjawab semua pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh rakyat sendiri. Dan Anda sendiri, maaf, siapakah Anda?” “Oh, saya,” kata Nasrudin tanpa berpikir panjang, “Anda harus mempersilakan saya ke mimbar.” la naik menuju tempat para tamu penting. “Saya datang ke sini untuk menjawab pertanyaan yang tidak Anda ketahui jawabannya. Bisakah kita mulai dari hal-hal yang membingungkan Anda, wahai para ahli yang terkemuka?”

 

Saya mengakhiri tulisan ini setelah mendengarkan diskusi yang menarik dari para ahli dalam televisi tentang penerapan CBS di Indonesia. Saya tidak akan berpretensi bahwa kisah Mulla Nasrudin relevan dengan diskusi itu. Ia relevan dengan apa pun yang kita pikirkan. JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

 

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

 

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *