Skemata Juha

Siapa saja yang pernah mempelajari sastra Arab pasti mengenal Juha. Ia, seperti si Kabayan di Jawa Barat, adalah tokoh kocak tetapi bijak, lucu tapi serius, bodoh tetapi pintar. Pada suatu hari Juha berangkat ke pasar mengendarai keledainya. Tidak jauh dari pasar, ia menambatkan keledainya dengan seutas tali. Tanpa ia ketahui, di belakangnya ada dua orang pencuri. Begitu Juha masuk ke pasar, salah seorang di antara mereka melepaskan keledai dari tali pengikatnya dan membawanya pergi. Kawannya mengikatkan tali keledai itu ke lehernya sendiri.

Kembali dari pasar, Juha terkejut. Ia mendapatkan keledainya hilang. Sebagai gantinya, ia melihat orang tidak dikenal terikat dengan tali keledainya. “Siapa Anda?” tanya Juha. Orang itu merunduk seperti sedih dan malu, “Saya ini keledai yang Bapak miliki. Dahulu saya durhaka kepada orang tua. Saya diubah Tuhan menjadi keledai. Hari ini orang tua saya sudah memaafkan saya. Dan, Tuhan mengembalikan saya kepada bentuk semula.” Juha jatuh iba. Ia melepaskan orang itu. Sambil memberi uang untuk bekal pulang, ia memberi nasihat, “Jadikan kehidupan yang lalu sebagai pelajaran berharga. Jangan sekali-kali menyakiti hati orang tua.”

Keesokan harinya Juha ke pasar lagi. Ia terkejut, seorang tak dikenal lainnya sedang menawarkan keledainya. Juha, yang telah memiliki keledai itu bertahun-tahun, tentu saja mengenalnya dengan baik. Segera ia mendekati keledainya. Ia berbisik di telinganya, “Sudah kuperingatkan kamu jangan durhaka kepada orang tua. Baru sehari aku bebaskan kamu sudah melakukan dosa yang sama. Sekarang rasakan saja hukuman kamu.” Juha pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Banyak orang seperti Juha. Ia mudah ditipu, tetapi sulit disadarkan bahwa ia ditipu. Bukti-bukti yang menunjukkan penipuan malah dipertahankan untuk menunjukkan kebenaran. Salah satu teknik menipu yang paling efektif adalah membuat cerita. Cerita menjadi kerangka berpikir kita untuk memandang dan menafsirkan dunia. Dalam istilah teknis psikologi kognitif, cerita menjadi “skemata,” yakni kerangka teori untuk meletakkan berbagai peristiwa yang disaksikan. Para ahli ilmu politik menyebutnya mitos atau ideologi.

Dalam dunia politik, para pencuri—negara, kekayaan, atau kemenangan selalu menipu kita dengan cerita. Orde Baru membuat cerita tentang kejahatan PKI. Semua hal yang buruk—memfitnah, membuat kerusuhan, mengadu-domba, merekayasa, menyiksa dengan kejam—dinisbatkan kepada PKI. Tragedi Tanjung Priok pada 1984, menurut salah seorang petinggi militer waktu itu, digerakkan oleh gerombolan G-30- S/PKI. Buruh yang berdemonstrasi menuntut haknya didalangi PKI. Setiap orang yang membela rakyat kecil dan menyuarakan keberanian disebut PKI.

Pada suatu waktu terbukti bahwa ada pentolan pembela rakyat kecil yang seorang anak haji dan sangat taat beragama. PKI tidak mungkin beragama. Bagaimana menjelaskan ini? Dengan cepat kita mengambil kesimpulan: telah terjadi penyusupan PKI pada kalangan umat beragama. Kita memberi nasihat: Hati-hati bahaya PKI. Orde Baru anti-PKI; tetapi kita menemukan para tokoh Orde Baru yang memfitnah, merekayasa, atau mengadu domba. Kita tidak menyalahkan Orde Baru. Kita berkata bahwa ada praktik-praktik PKI.

Namun, yang suka menipu kita bukan hanya politisi. Para tokoh agama menipu kita juga dengan cerita. Menurut kisah yang ramai pada satu kalangan, Bapak Fulan, pemimpin kalangan itu, adalah wali Allah. Wali Allah tentu sangat taat beribadah. Seorang pengikutnya memergoki dia sepanjang hari tidak salat. Ia bingung dan melaporkan kejadian itu kepada gurunya. Sang Kiai segera menjelaskan, “Kamu itu apa, sih? Dia itu wali, salatnya tidak kelihatan orang. Ia tidak terikat lagi dengan syariat.”

Tidak salat yang sepatutnya menjadi tanda bukan wali malah makin mempertegas kewalian. Yang baru disebut mungkin dimensi positif dari mitos gerakan keagamaan. Kesetiaan kepada pemimpin dapat dipertahankan—apa pun yang dilakukan pemimpin itu. Pada kelompok yang tidak punya mitos ini, kesalahan anak kiai saja dapat menghancurkan seluruh reputasinya. Pada konflik antar kelompok, mitos menampilkan dimensi negatifnya. Katakanlah, satu kelompok Islam dianggap sesat, fasik, tukang maksiat. Pada suatu waktu diketahui bahwa kelompok itu mendakwahkan hal-hal yang baik, berakhlak mulia, dan menjaga diri mereka dari perbuatan dosa. Kejadian ini seharusnya menyadarkan orang bahwa kelompok itu tidak seperti yang mereka gambarkan.

Tetapi, seperti Juha, kita berkata, “Hati-hati dengan mereka. Mereka pandai berpura-pura. Akhlaknya yang baik hanyalah cara yang halus untuk menjerumuskan kita ke dalam kesesatan.” Satu-satunya cara untuk menghindarkan tipuan ialah membuang kebiasaan untuk mudah percaya kepada orang, hanya karena orang itu berstatus tinggi. Kita harus melatih berpikir kritis, terutama setelah terlalu lama kita dijejali dengan doktrin-doktrin yang tidak boleh dipertanyakan. Kita harus mengubah mitos bahwa orang baik ialah orang yang patuh tanpa reserve.

“Ketika kita memikirkan malaikat,” kata Dr Jeffrey Lang dalam Even Angels Ask, “kita membayangkan makhluk yang damai, bersih, suci dalam penyerahan yang sempurna dan bahagia kepada Tuhan. Merekalah teladan kita, yang ingin kita tiru. Namun, malaikat dalam Alquran mirip manusia biasa. Mereka bertanya, “Mengapa Engkau jadikan di bumi orang yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih kepada-Mu dengan puji-Mu dan mensucikan-Mu.” Malaikat yang sudah sangat patuh kepada Tuhan masih mempertanyakan rencana Tuhan; padahal Tuhan Mahasempurna dan Mahatahu. Bukankah wajib bagi kita mempertanyakan cerita siapa pun di antara makhluk-Nya yang sudah pasti mempunyai kekurangan dan ketidaktahuan? JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *