NASIHAT SUFI UNTUK MENDAPATKAN SENTUHAN NABI

Pada bagian ini akan dibahas mengenai nasihat sufi berkenaan dengan Rasulullah. Kita harus melihat setiap puisi sufi dari perspektif batiniah kita. Rasulullah datang ke dunia ini untuk mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya. Kita akan mendapatkan sentuhan Rasulullah apabila kita mengeluarkan kotoran-kotoran duniawi, kotoran-kotoran ragawi.

Tubuh kita yang tambun ini, kita campakkan; seperti apel yang tidak akan berbuah sebelum dedaunannya berguguran pada musim gugur. Di Indonesia, ada seorang penemu, yang tidak dikenal namanya, menanam apel. Karena di Indonesia tidak ada musim gugur, dia memangkas daun-daun apel itu. Ternyata apel itu kemudian berbuah. Jadi, rupanya, kalau di negeri-negeri Barat apel itu menunggu musim gugur, di Indonesia dengan sengaja daun-daun apel digugurkan pada musim apa pun.

Seorang sufi yang ingin merintis jalan menuju Tuhan adalah seperti penanam apel di negeri kita. Dia tidak boleh menunggu musim gugur. Pangkaslah dedaunan hawa nafsumu dari tubuhmu itu supaya nanti taman Tuhan tumbuh dalam hatimu. Dari cerita raksasa Gusy pada bab sebelumnya, ada satu hal yang sangat menyentuh: Jangan malu datang menemui Rasulullah walaupun kita membawa seluruh dosa di seluruh punggung kita, walaupun kita penuh kotoran. Doa yang dibaca orang ketika memasuki Kota Madinah, sangat bagus: “Ya Rasulullah, kami datang dari negeri jauh dengan memikul dosa di punggung kami. Salam bagimu, ya Rasulullah!”

Orang-orang yang berziarah ke makam Rasulullah adalah seperti orang kafir yang saya ceritakan pada bab sebelumnya, yang sebetulnya sudah malu karena meninggalkan kotoran di rumah Nabi yang mulia, tetapi dia datang juga ke rumah Nabi. Orang kafir itu menangis luar biasa karena menyaksikan tangan yang mulia membersihkan kotorannya. Kita bisa membayangkan diri kita berada di alam malakut, lalu berziarah ke makam Rasulullah sambil membawa dosa-dosa di punggung kita.

Kita tidak saja membawa kotoran, tetapi juga mengotori rumah Rasulullah yang mulia. Islam ini rumah kita. Karena akhlak kita yang buruk, kita sudah mencemari rumah Al- Islam. Seperti kata Iqbal dalam doanya menjelang kematiannya. Dalam doa yang diceritakan Abu A’la Al-Maududi dalam Lawami’ Iqbal, Iqbal berdoa begini, “Ya Tuhanku, jika engkau bangkitkan nanti aku pada hari kiamat, janganlah Kau dampingkan aku dengan Al-Mushthafâ. Aku malu mengaku sebagai umatnya, sementara hidupku bergelimang dosa!”

Iqbal malu, kita juga malu terhadap Rasulullah, pada hari kiamat nanti. Kita juga harus merasa malu karena sepanjang hidup ini kita mengotori rumah Rasulullah dengan akhlak kita yang buruk, dengan kejahatan yang kita lakukan, dengan maksiat, dengan fitnah, dengan kata-kata yang keluar dari mulut kita. Kita telah mengotori rumah Rasulullah. Tapi, bayangkanlah ketika Anda kembali menemui Rasulullah, berziarah kepadanya. Di alam sana, tangan-tangan Rasulullah yang mulia membersihkan kotoran-kotoran itu.

Al-Quran mengatakan, Sudah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu sendiri, berat hatinya melihat penderitaan kalian, yang sangat ingin kalian ini memperoleh keba hagiaan, yang sangat pengasih dan penyayang kepada kaum Mukmin (QS Al-Taubah [9]: 128).

Tidak henti-hentinya Rasulullah memohon ampun kepada Allah untuk kita, sebagaimana kata Jalaluddin Rumi: “Tidak henti-hentinya tangan yang mulia itu membersihkan kotoran yang kita lakukan di rumahnya yang mulia, karena kasih sayang Rasulullah kepada umatnya.” Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengucapkan terima kasih atas doa Rasulullah kepada kita?

Yang pertama ialah mencintainya, berusaha menanamkan kecintaan kita kepada Nabi yang mulia. Ketika dibacakan hadis Nabi, “La yu’minu ahadukum hatta akuna ahabba ilaihi min nafsihi wa walidihi wannasi ajma’ în(Tidak beriman kamu sebelum aku lebih kamu cintai daripada dirimu, daripada anakmu, dan daripada seluruh umat manusia),” di sebuah pengajian di Jakarta, salah seorang ustad bertanya, “Ketika mendengar hadis itu, saya merasa tidak enak, kenapa Rasulullah egois betul, sampai dia ingin dicintai lebih daripada diri kita, daripada seluruh umat manusia.”

Akan tetapi, kemudian saya ingat, mencintai Nabi berarti menaatinya. Ketaatan kita kepada Nabi harus lebih daripada ketaatan kepada diri kita, anak kita, dan seluruh umat manusia. Lalu saya berkata, “Dulu saya punya kawan yang sangat sederhana. Dia tidak bisa bahasa Arab, tidak bisa baca kitab, tidak pernah belajar di pesantren ꟷ mungkin SD pun tidak tamat. Dia tidak pernah membaca kisah Nabi; boleh jadi dia tidak mendengar hadis itu. Tetapi, dia mencintai Rasulullah tanpa menafsirkan hadis itu.

“Dia tidak menafsirkan kecintaan dengan ketaatan. Dia mengungkapkan kecintaannya itu dengan perilakunya sendiri. Setiap bulan Maulid, saya selalu mengenang orang ini. Kalau saya ditanya oleh wartawan, siapa saja yang memengaruhi hidup saya di dunia ini, mungkin mereka akan terkejut, karena di antara mereka yang memengaruhi saya di dunia ini adalah orang kecil yang saya sebut itu. Namanya Mas Darwan. Begitu hormatnya saya kepada beliau, karena beliau mengubah hidup saya, saya mengangkatnya ke punggung nasional dengan menulisnya di majalah. Saya tulis juga dalam Rindu Rasul. Saya ingin mengulanginya sedikit.

“Mas Darwan tinggal di sebelah rel kereta api. Dia orang yang taat beribadah. Bunyi terompah kayunya membangunkan saya menjelang subuh. Dia selalu shalat berjamaah di masjid. Setelah pensiun dari perusahaannya, dia mengisi waktunya dengan berkhidmat kepada tetangganya, khususnya kepada guru ngajinya, yaitu saya. Dia sering memperbaiki genting rumah saya yang bocor. Dia jarang bicara sehingga saya mengira dia tidak punya dosa dari kata-kata yang dia ucapkan.

“Dia mengisi waktu luangnya dengan berkebun; membuat petak-petak ubi di antara rel-rel kereta api. Pendengarannya kurang begitu baik sehingga saya kira dia tidak punya dosa-dosa dari telinganya. Begitu kurang baiknya pendengaran dia sehingga ketika dia keasyikan bekerja di dekat rel, dia tidak mendengar suara kereta api datang. Dia pun tersenggol kereta api dan terluka parah. Dia dibawa ke ICU. Saya datang dan melihat Mas Darwan dipenuhi kabel-kabel infus. Sebagian masuk melalui hidungnya dan sebagian lagi masuk melalui mulutnya.

“Ketika saya datang bersama istrinya, dia memberi isyarat agar kabel-kabel infus itu dicabut. Rupanya dia ingin membisikkan sesuatu kepada istrinya. Sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir, Mas Darwan membisikkan sesuatu kepada istrinya. Setelah itu, saya tahu yang dibisikkannya hanya dua kalimat: ‘Bulan ini bulan Maulid. Jangan lupa melakukan selametan buat Kanjeng Nabi.’ Itulah ucapannya yang terakhir.”

Ketika Mas Darwan masih hidup, saya termasuk orang yang membid’ahkan peringatan Maulid Nabi. Banyak orang menentang saya dengan mengatakan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan bid’ah. Saya bergeming. Saya berubah hanya dengan ucapan Mas Darwan yang dibisikkan kepada istrinya. Sekarang kalau ditanya tentang dalil peringatan Maulid Nabi itu, saya punya banyak. Tetapi, sebetulnya saya mengemukakan dalil-dalil itu setelah saya takluk dulu terhadap pentingnya peringatan Maulid Nabi. Sebenarnya, bukan karena dalil itu saya menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi, melainkan karena bisikan Mas Darwan kepada istrinya itu. Karena kecintaan kepada Rasulullah, dia penuhi hak Rasulullah dengan mencintainya. Di akhir hayatnya, dia tidak teringat kepada istrinya; yang dia ingat adalah selametan buat Kanjeng Nabi.

Saya kira, kecintaan orang-orang yang sederhana lebih tulus daripada kecintaan para intelektual. Sebab, para intelektual itu langsung ngomong, “Rasanya, Rasulullah itu egois. Kok, mau kecintaan itu untuk dirinya sendiri.” Sedangkan, orang sesederhana Mas Darwan mencurahkan kecintaannya kepada Rasulullah dengan kecintaan yang tulus seperti itu.

Di kalangan sufi, ada cerita bahwa orang-orang bodoh banyak menjadi pengisi surga. Dengan kata lain, mungkin, sebenarnya orang-orang pintar banyak mengisi neraka. Orang-orang bodoh itu, karena kesederhanaannya, lebih tulus. Di kalangan orang-orang sufi, sebenarnya itu mempunyai makna yang sangat dalam. Maksudnya, bukan berarti kita semua harus menjadi bodoh. Kalau kita ingin mencintai dengan tulus, bersihkan arogansi yang ada dalam diri kita, kepongahan-kepongahan karena intelektual kita, sebab cinta tidak menggunakan bahasa intelektual. Cinta itu menggunakan bahasa hati. Hindarkan berbagai penafsiran tentang hadis mengenai kecintaan kepada Rasulullah. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *