WASIAT RASULULLAH KEPADA IMAM ALI

Dalam kitab Madinat Al-Balaghah fi Khutb Al-Nabi 1 h. 403 disebutkan wasiat Rasulullah kepada Imam Ali. Kalau menceritakan hadis, saya perkenalkan keutamaan sahabat yang menyampaikan hadis itu kepada kita. Menceritakan keutamaan-keutamaan sahabat merupakan bab tersendiri dalam kitab-kitab hadis. Biasanya, bab tentang keutamaan para sahabat itu disebut “Kitab Fadhâ’il” atau “Kitab Manaqib“. Di Indonesia, kata manakib biasanya ditujukan untuk kisah-kisah Syaikh Abdul Qadir Jailani; misalnya, ada yang disebut manakiban, yaitu kumpul-kumpul seminggu sekali pada malam Jumat dan membaca keutamaan-keutamaan Syaikh Abdul Qadir Jailani.

Saya tidak akan menguraikan manakib Imam Ali secara terperinci; karena para ulama dari berbagai mazhab sudah banyak menulis kitab yang tebal, khusus tentang manakib Imam Ali. Misalnya, ulama dari mazhab Syafi’i, Ibn Magha bin Al-Syafi’i, menulis satu kitab khusus tentang keutamaan Imam Ali. Ada kitab lain yang disebut Yanrabiul Mawadah karya seorang ulama dari mazhab Hanafi, juga berkenaan dengan keutamaan Imam Ali.

Dalam Al-Isti’ab, juz II, h. 466-kitab yang berkenaan dengan para sahabat, para perawi hadis; kitab yang isinya berupa apa dan siapa para perawi hadis, ini biasanya harus dipelajari oleh para pelajar hadis-disebutkan juga tentang keutamaan Imam Ali. Saking banyaknya, kita tidak akan menyebutkan keutamaan Imam Ali ini. Tetapi sebagai penutup, saya akan menguraikan salah satu keistimewaan beliau yang berhubungan dengan doanya yang mustajab; orang sering menyebutnya “karamah“.

Saya akan menjelaskan karamah berdasarkan apa yang saya kutip dari kitab-kitab Ahlu Sunnah-supaya orang tidak mengira bahwa riwayat ini versi bukan Ahlu Sunnah. Ini diriwayatkan oleh Al-Fakhr Al-Razi dalam tafsirnya, Al-Kabir. Ketika menafsirkan ayat-ayat suci Surah Al-Kahfi, Al-Fakhr Al-Razi bercerita tentang Imam Ali. Ia menceritakan salah seorang pencinta Imam Ali yang mencuri. Seorang hamba sahaya berkulit hitam datang kepada Ali. Ali berkata, “Kamu mencuri?” “Betul,” jawabnya. Kemudian Ali memotong tangannya. Hamba sahaya itu lalu meninggalkan Ali dan berjumpa dengan Salman Al-Farisi dan Ibn Kura’. Ibn Kura’ berkata, “Siapa yang memotong tanganmu?” Dia menjawab, “Amirul Mukminin, seorang yang paling mulia, pemimpin kaum Mukmin yang menyerupai Rasul, dan suami Al-Batul (gelar Sayyidah Fathimah Al-Zahra).” “Dia memotong tangan kamu dan kamu memujinya,” kata Ibn Kura”. Orang itu berkata, “Bagaimana aku tidak memujinya; dia sudah memotong tanganku karena kebenaran dan membebaskan aku dari neraka.” Mendengar ucapan orang itu, Salman Al-Farisi lalu menyampaikannya kepada Imam Ali. Beliau memanggil kembali orang itu, lalu meletakkan tangannya pada siku orang itu (karena tangannya sudah dipotong) dan menutupnya dengan kain. Setelah itu, beliau berdoa. Tiba-tiba terdengar suara dari langit, “Angkatlah kain itu dari tangan!” Maka diangkatlah kain itu. Dan tangan itu sudah sembuh kembali dengan izin Allah Swt.; alangkah bagusnya ciptaan Dia. Seperti biasa, saya akan katakan, “Percaya atau tidak?”

Saya akan menceritakan satu kisah lagi. Ketika berada di Ghadir Khum, Rasulullah memanggil manusia untuk berkumpul. Beliau kemudian mengambil tangan Ali dan berkata, “Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, hendaklah mengambil Ali sebagai pemimpinnya.” Maka menyebarlah berita itu ke seantero negeri; sampai juga kepada Al-Haris Al-Nukman, Al-Fihri. Dia kemudian datang kepada Rasulullah sambil menunggang unta. Setelah menambatkan untanya, dia berkata, “Ya Muhammad, kau perintahkan kami shalat lima waktu, kami terima itu. Kau perintahkan zakat, kami pun menerimanya. Tapi, engkau tidak merasa puas dengan itu semua sampai engkau angkat tangan Ibn ‘Ammik (anak pamanmu) dan kau istimewakan dia di atas kami semua, lalu engkau berkata, ‘Siapa yang menjadikan aku pemimpinnya, hendaklah mengambil Ali sebagai pemimpinnya.’ Aku mau tanya, ‘Apa ini berasal dari engkau sendiri atau dari Allah Azza wa Jalla?”” Nabi bersabda, “Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain Dia, ini semua dari Allah Azza wa Jalla.” “Ya Allah, jika apa yang diomongkan Muhammad itu benar, hujanilah aku dengan batu dari langit dan timpakan kepadaku azab yang berat.” Sebelum sampai dia ke tunggangannya, Allah mendatangkan batu dari langit. Batu itu masuk ke dalam ubun-ubunnya dan keluar dari duburnya; dia pun mati (Lihat Tafsir Al-Manar 6: 464). Itulah dua dari beberapa keutamaan Imam Ali.

Kini saya sertakan beberapa wasiat Rasulullah kepada Imam Ali, “Hai Ali, aku wasiati engkau dengan suatu wasiat yang kalau engkau jaga ini, engkau selalu berada dalam kebaikan.” Wasiat itu berlaku juga bagi Anda yang mencintai Imam Ali. “Peliharalah wasiat itu, nanti Anda akan berada dalam kebaikan.” Wasiat-wasiat itu memang panjang. Saya akan menyampaikan sebagiannya saja. Dalam memilihnya, tentu saja saya akan menghindari wasiat yang tidak begitu saya pahami.

“Ya Ali, siapa yang sanggup mengendalikan amarahnya, padahal dia sanggup melepaskannya, Allah akan memberikan kepadanya, pada hari kiamat, rasa aman dan iman yang akan dia temukan manisnya di dalam hatinya.” Perhatikan, dalam wasiat itu disebutkan, “siapa yang sanggup menahan amarahnya, padahal dia sanggup melepaskan amarah itu”. Ada orang yang sanggup menahan amarahnya karena tidak sanggup melepaskannya. Misalnya, ketika Anda marah kepada atasan, sebenarnya Anda mau marah, tetapi Anda menahannya; bukan karena apa-apa, tetapi memang Anda tidak berani marah kepada atasan Anda. Bukan seperti itu yang dimaksud wasiat di atas, karena yang seperti itu bukanlah fadhâ’il. Sebab, dalam kondisi seperti itu, bagaimanapun, Anda memang tidak bisa marah. Contoh lain, marahnya seorang menteri kepada presiden. Kalaupun ada, dia tidak bisa melepaskan marahnya; dia hanya akan menahan amarahnya sambil berkata, “Alhamdulillah. Saya termasuk orang yang pandai menahan amarah.”

Dalam wasiat itu, yang dimaksud dengan orang yang bisa menahan amarah ialah orang yang sanggup melepaskannya, seperti seorang suami terhadap istrinya meskipun ada juga suami yang tidak bisa marah terhadap istrinya; dia lebih takut terhadap kemarahan istrinya daripada kemurkaan Allah Azza wa Jalla.

Ada cerita di antara para pemimpin Islam Indonesia tempo dulu, di antaranya Pak Natsir, Pak Roem, Pak Prawoto, dan lain-lain. Suatu saat, para tokoh Islam itu berkumpul. Mereka berbicara tentang poligami. Pembicaraan itu terjadi di rumah Pak Prawoto. Waktu itu Pak Prawoto berkata, “Ini laki-laki yang tidak mau poligami karena takut kepada istrinya. Sebtulnya dia musyrik, karena dia lebih takut kepada istrinya daripada kepada kemurkaan Allah Azza wa Jalla.” Salah seorang yang hadir di situ lalu memanggil Ibu Prawoto, “Bu, Bu, Bu,” katanya. Maksudnya, ingin menceritakan bahwa Pak Prawoto mau poligami. Pak Prawoto langsung berkata, “Jangan, jangan, saya termasuk yang musyrik itu.”

Jadi, kalau seorang suami dapat menahan amarahnya karena memang tidak sanggup melepaskannya, ia tidak termasuk dalam kelompok tadi. Namun, kalau Anda sudah sanggup memarahi istri Anda dan mulai mengerti keterangan ini, Anda akan tahan amarah Anda terhadap istri. Untuk itu, Allah akan memberikan rasa aman kepada Anda pada hari kiamat, dan Allah akan memberi iman yang akan Anda temukan manisnya di dalam hati.

Wasiat yang lain, “Ya Ali, siapa yang tidak baik dalam berwasiat menjelang matinya, dia termasuk ahli neraka.” Jadi, kita dianjurkan memberikan wasiat kepada keluarga. Dalam Al-Quran memang ada perintah memberikan wasiat kepada keluarga. Artinya, sebelum meninggal dunia, Anda harus berwasiat. Kita juga kalau mau pergi haji ke Makkah, dianjurkan memberi wasiat dulu kepada keluarga; mungkin di situlah kita meninggal dunia.

“Ya Ali, orang yang paling jelek adalah orang yang dimuliakan oleh manusia.” Kalau hadisnya hanya sampai di situ, kita akan terkejut, sebab orang yang kita muliakan berarti orang yang jelek. Kalau saya termasuk orang yang Anda muliakan, saya termasuk orang yang paling jelek. Wasiat itu ada terusannya: “Hai Ali, orang yang paling jelek adalah orang yang dimuliakan manusia karena takut kejelekannya.” Jadi, sejelek-jeleknya manusia ialah orang yang dimuliakan orang lain karena orang itu takut akan kejelekannya. Misalnya, seorang penguasa yang sangat kejam, yang dihormati karena orang merasa takut semata. Inilah orang yang dimuliakan karena kejelekannya. Namun, kalau orang dimuliakan orang lain karena akhlaknya, karena amal salehnya, atau karena ilmunya, itu orang yang paling baik.

Kejelekan itu, misalnya, orang memiliki kekuasaan untuk memberikan sanksi kepada Anda ketika dia memegang jabatan; sehingga karena terkenal sangat keras mengeluarkan sanksi, lalu Anda sangat hormat kepadanya. Begitu jabatan dia hilang, orang tidak menghormatinya lagi karena sudah tidak takut. Ini khususnya untuk para pemimpin yang zalim: orang memuliakannya karena menghindari kejelekan yang ditimbulkannya.

Wasiat Rasulullah selanjutnya adalah, “Hai Ali, orang yang paling jelek adalah orang yang menjual akhiratnya untuk kepentingan dunianya. “ Dengan kata lain, karena ingin memiliki dunia, ingin memenuhi kepentingan diri sendiri, dijuallah akhiratnya. Dia menjual agamanya untuk menguntungkan dunia orang lain. Kalau seseorang menjual akhiratnya untuk memperoleh kepentingan sendiri, walaupun itu jelek, tetapi lumayan: artinya, masih untung, paling tidak di dunia. Dan yang paling malang ialah orang yang menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia orang lain.

Wasiat beliau selanjutnya adalah, “Hai Ali, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai kebohongan yang mendatangkan kemaslahatan dan membenci kejujuran yang mendatangkan kemudaratan.” Saya akan terangkan lagi ini karena boleh jadi akan mengejutkan di antara Anda: “Allah mencintai kebohongan yang mendatangkan kemaslahatan. “Ini menunjukkan bahwa bohong yang mendatangkan maslahat itu amal saleh. Kebohongan seperti itu bukan saja diperbolehkan, melainkan juga dianjurkan. Misalnya, suatu saat kita melihat suami tetangga berduaan dengan perempuan (yang kita anggap) bukan muhrim. Karena ingin berlaku jujur, kita sampaikan kejadian itu kepada istri tetangga kita itu, sehingga ter jadilah pertengkaran antarmereka. Allah membenci kejujuran semacam itu karena mendatangkan kemudaratan. Sebaliknya, ketika berita tentang kelakuan suami tetangga kita itu sudah menyebar dan kita mengetahuinya, kita tidak memberitahukan hal itu, maksudnya supaya timbul kemaslahatan. Usaha kita adalah usaha yang dicintai Allah Swt.

Imam Al-Ghazali menyebutkan beberapa bohong yang dibolehkan; salah satunya bohong untuk menjaga kerukunan rumah tangga. Bohong di dalam peperangan adalah sia- sat. Kalau Anda jujur dalam peperangan sehingga pasukan Anda akan hancur, itu malah dibenci oleh Allah; itu tidak diperbolehkan. Contoh lain, Anda punya pendapat yang bertentangan dengan pendapat kebanyakan orang di kampung Anda, kemudian Anda menyembunyikan pendapat itu. Kalau ditanya tentang paham yang berkembang di kampung itu, Anda menjawab, “Saya setuju pendapat mereka.” Anda melakukannya karena ingin memelihara ukhuwah Islamiyah di kampung itu. Kebohongan seperti ini dicintai Allah. Kalau Anda mengatakan kebenaran yang Anda yakini, walaupun pahit, akan timbul keguncangan sekampung itu. Bisa saja terjadi keributan dan pertengkaran di masjid. Kejujuran Anda seperti itu dibenci Allah.

Jadi, saya sedang mengajarkan kepada Anda berbohong pada waktu yang tepat dan jujur pada tempatnya juga. Ada saat-saat ketika kita harus jujur dan ada pula saat-saat ketika kita harus berbohong. Dalam etika komunikasi, itu disebut white lies, bohong putih. Jadi, ada black lies dan white lies.

Selanjutnya, Rasulullah berwasiat, “Ya Ali, siapa yang meninggalkan minuman keras bukan karena Allah, Allah akan memberinya nanti minuman dari minuman surga; anggur yang terpelihara.” Imam Ali bertanya, “Diberi pahala, orang yang meninggalkan minuman keras bukan karena Allah?” Rasulullah bersabda, “Betul, demi Allah, dia meninggalkan minuman keras karena memelihara dirinya.” Artinya, memelihara kesehatan dirinya, menjaga dirinya dengan meninggalkan minuman keras. Contoh lain, orang yang meninggalkan rokok bukan karena kata mubalig bahwa rokok itu haram, melainkan karena dia tahu bahwa rokok itu merusak kesehatan.

“Ya Ali, semua dosa ditempatkan di dalam sebuah rumah dan kuncinya ialah minuman khamar.” Jadi, kalau Anda ingin membuka pintu seluruh kemaksiatan, teguklah minuman keras, entah bir, wiski, dan lain-lain.

Ada sebuah hadis tentang khamar di kalangan Bani Israil. Ada seorang yang sangat saleh. Setan ingin menyesatkannya dengan cara yang sangat istimewa. Mungkin, setan itu mengetahui bahwa kunci segala kemaksiatan adalah minum minuman keras. Suatu saat, orang yang saleh itu diundang makan di sebuah rumah. Ketika tiba di rumah yang dituju, pintu-pintunya dikunci. Di dalamnya ada seorang perempuan dan anak kecil. Si perempuan minta supaya si laki-laki itu berzina dengannya dan membunuh anak itu. Tentu saja maksiat besar permintaan wanita itu dia tolak. “Kalau begitu, engkau boleh pilih di antara dosa ini: berzina dan minum minuman keras.” Rupanya dia ditekan. Kemudian dia berpikir, “Berzina itu berat. Tetapi, minuman keras kalau cuma setengah, tidak apa-apa.” Dia akhirnya minum minuman keras itu. Tidak lama kemudian, dia mulai mabuk dan kehilangan kesadarannya. Kendali moral pun mulai lepas. Setelah itu, dia pun berzina, kemudian membunuh anak itu. Semua dibuka kuncinya oleh minum minuman keras.

Anak-anak muda di beberapa tempat, kadang-kadang di kampung-kampung, sudah sangat menyedihkan. Mereka bahkan merasa bangga kalau mabuk, sempoyongan; merasa bahwa diri mereka sudah modern. Kini, di kampung-kampung banyak yang seperti itu; dan dari mabuk itu, akhirnya terbukalah kemaksiatan yang lain.

“Hai Ali, menyingkirkan bukit-bukit yang kokoh lebih mudah daripada menyingkirkan sebuah kekuasaan yang sudah Allah tentukan akhirnya.” Jadi, kalau Anda ingin mengadakan revolusi, menggulingkan kekuasaan, padahal hari runtuhnya kekuasaan itu sudah Allah tentukan, Anda akan banyak mendapatkan kesulitan dibanding menyingkirkan bukit.

“Hai Ali, kalau ada orang yang engkau tidak memperoleh manfaat dari orang itu, dari agamanya, dan dari dunianya (Anda tidak memperoleh manfaat), tidak ada baiknya engkau duduk bersamanya.” Jadi, kalau bergaul, pilihlah orang yang dapat membawa manfaat kepada Anda, baik dalam hal dunia maupun agama. Kalau tidak ada manfaatnya, berarti Anda menyia-nyiakan waktu. Ada sebuah hadis yang mengatakan: “Hendaklah engkau bakhil dengan kekayaanmu.” Maksudnya, hematlah umur Anda; jangan dibuang begitu saja. Jangan bergaul atau duduk dengan orang-orang yang tidak mendatangkan manfaat bagi dunia atau agama.

“Hai Ali, sepatutnya orang Mukmin itu memiliki delapan perkara. Pertama, dia berwibawa, penuh kehormatan ketika berjalan; dalam gerakannya tampak kemuliaan. Kedua, sabar menerima ujian. Ketiga, bersyukur ketika mendapat keberuntungan. Keempat, merasa puas dengan rezeki Allah yang diberikan kepadanya. Kelima, tidak menganiaya musuh-musuhnya. Keenam, kalau memperoleh kekuasaan, dia tidak berbuat zalim. Ketujuh, kalau bergaul, dia tidak membebani sahabat-sahabatnya. Dan yang terakhir, kedelapan ꟷini yang paling indah, menurut sayaꟷ tubuhnya dalam kecapaian demi ketenteraman dan kesenangan masyarakat secara keseluruhan.” Jadi, dia berpayah-payah dalam kehidupan supaya kaum Muslim secara keseluruhan mendapatkan ketenteraman dan kesejahteraan. Ini mirip ajaran Kristus. Kata orang Kristen, Yesus itu mati di tiang salib untuk menjadi juru selamat; “Jadilah seperti Kristus yang menderita untuk kebahagiaan orang lain.” Anda lelah supaya orang lain mendapat kebahagiaan. Seorang dai, misalnya, rela berpayah-payah mengkaji kitab, membaca berbagai buku supaya orang lain mendapat petunjuk.

Dalam bahasa Sunda, ada peribahasa yang bermakna jelek, tetapi akan saya beri makna yang baik. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, makna peribahasa itu ialah “seperti lilin menerangi orang lain, tetapi membakar dirinya”. Pakailah ilmu lilin itu, yaitu Anda berpayah-payah supaya orang lain mendapat hidayah. Anda kelelahan supaya orang lain mendapatkan kebahagiaan. Itu ciri Mukmin, kata Rasulullah. Dia bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk kebahagiaan masyarakat.

Misalnya, Anda menjadi ketua RW. Ketua RW itu tidak digaji. Kadang-kadang, tengah malam dibangunkan karena ada pertengkaran, atau ada urusan. Dia capai supaya masyarakat tenteram, aman. Karena itu, ketua RW di Indonesia mempunyai salah satu ciri Mukmin. Dia berpayah-payah untuk kebahagiaan orang lain.

Terakhir, Rasulullah berwasiat, “Ya Ali, ada empat hal (orang) yang tidak pernah ditolak doanya. Pertama, imam yang adil. Kedua, doa kedua orangtua kepada anaknya. Ketiga, doa seseorang kepada saudaranya yang Mukmin tanpa diketahui. Jadi, kalau saya mendoakan Anda, tetapi Anda tidak tahu kalau saya mendoakan Anda, doa itu adalah doa yang diterima. Atau, Anda memberikan bantuan kepada orang yang kesusahan hidupnya. Ketika dia mengenang pertolongan Anda dan mendoakan Anda dengan berurai air mata, “Ya Allah, sebagaimana dia berbuat baik kepadaku, berbuat baiklah kepadanya; sebagaimana dia menolong kehidupanku, tolonglah dia dari kesulitan hidupnya.” Doa seperti itu doa yang mustajab. Karena itu, saya yakin, kalau kita menolong orang lain dengan tulus, dia akan menolong kita. Keempat, doa yang diterima adalah doa orang yang teraniaya, karena Allah bersabda kepada orang yang teraniaya, “Demi kekuasaan-Ku dan kemuliaan-Ku, Aku akan membela kamu walaupun nanti.” Jadi, doa orang yang teraniaya juga pasti diterima Allah Swt. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *