Puisinya Mukmin Hatinya Kafir

Pada masa Bani Israil, ada suatu negeri yang diperintah oleh penguasa zalim. Musa a.s. beserta pengikutnya bermaksud menggulingkan kekuasaannya dan menggantikannya dengan pemerintahan yang adil. Di negeri itu, ada seorang ulama, namanya Bal’am bin Ba’ura. Ia telah banyak mempelajari ayat-ayat Allah. Konon, ia mengetahui asma Allah yang agung. Apabila ia berdoa dengan asma itu, doanya pasti makbul.

Ketika sampai berita bahwa Musa a.s akan menyerang, elit penguasa datang menemui Bal’am. Mereka berkata, “Musa itu orang baru. Tetapi, ia mempunyai pasukan yang besar. Ia mungkin menghancurkan kami. Tolong sampaikan doa kepada Allah supaya kami dapat mengalahkan Musa dan para pengikutnya.”

Dalam urusan kenegaraan, spesialisasi Bal’am memang berdoa. Ia berdoa untuk kesejahteraan raja. Ia berdoa untuk kejayaan tentara. Ia berdoa untuk keberhasilan delegasi ke luar negeri. Tetapi kali ini, ia keberatan, “Musa dan para pengikutnya itu orang-orang saleh. Aku terlarang mendoakan kecelakaan atas mereka.”

Orang-orang mendesak juga. Mereka mendesak dengan jaminan hadiah yang besar dan ancaman kehilangan posisi penting. Bal’am kalah. Ia mulai menyampaikan doa. Tetapi, setiap kali berdoa untuk kekalahan Musa, dari mulutnya keluar doa untuk kemenangan Musa. Ketika berdoa untuk kejayaan kaumnya, yang keluar malah doa untuk kehancuran mereka.

Akhirnya, ia berkata, “Lidahku tidak dapat berdoa selain yang tadi. Kalau aku berdoa untuk kekalahan mereka, doaku tidak akan diterima. Aku punya nasihat. Aku tunjukkan kepada kalian cara untuk menghancurkan mereka. Allah membenci zina. Karena zina, mereka akan binasa. Kirimkan perempuan-perempuan kepada mereka. Mereka dalam perjalanan. Mudah-mudahan mereka berzina dan sesudahnya mereka akan binasa.” Seperti yang direncanakan Bal’am, banyak di antara tentara Musa a.s berbuat zina. Tuhan menurunkan penyakit kepada mereka. Ribuan binasa. Boleh jadi, inilah biochemical warfare (perang kimia) yang pertama.

Tentang tokoh Bal’am inilah, Allah berfirman,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَا الَّذِي أَتَيْنَهُ أَيْتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَاتَّبَعَهُ الشَّيْطَنُ فَكَانَ مِن الْغُويْنَ

 وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَهُ بِهَا وَلَكِنَّةٌ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوْنَهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوا بِايْتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Bacakan kepada mereka berita seseorang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat kami. Lalu, ia membuangnya. Kemudian setan menjadikan dia pengikutnya dan jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami kehendaki, tentu Kami angkat dia karena ilmunya itu, tetapi dia menetap di bumi dan mengikuti hawa nafsunya. Perumpamaan mereka seperti anjing. Kalau kamu serang, dia mengulurkan lidahnya. Kalau kamu biarkan, dia mengulurkan lidahnya juga. Itulah perumpamaan orang- orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka berpikir (QS. Al-A’raf [7]: 175-176).

Bal’am, dalam literatur Islam, menjadi simbol alim yang bekerja sama dengan tiran. Ia menggunakan agama untuk menopang penindasan. Ia mengetahui ayat-ayat Allah, tetapi sangat mencintai dunia, sehingga ruhaninya tidak melesat ke tempat tinggi, dan cuma menetap di bumi.

Sebagian mufasir mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan Abu ‘Amir bin Nu’man, seorang rahib di Madinah. Ia menjalankan kesederhanaan dan kesalehan. Ketika Nabi datang ke Madinah, ia merasa posisinya tersaingi. Di Madinah, ia mengorganisasi kaum munafik. Ia sendiri lari ke Syam dan mencoba menghimpun kekuatan untuk menyerang Madinah. Upayanya gagal. Ia tahu Kitab Suci, tetapi terpedaya karena bernafsu mempertahankan posisinya di tengah kaumnya.

Sebagian mufasir lagi menyebutkan bahwa ayat ini merujuk kepada Umayyah bin Ubay Al-Tsaqafi. Ia banyak membaca kitab suci yang lama. Ia tahu bahwa di Negeri Arab akan dibangkitkan seorang Rasul. Ia berharap dirinyalah rasul itu. Ketika berjumpa dengan Nabi, Nabi membacakan surat Yasin kepadanya.

Ketika orang Quraisy menanyakan pendapatnya, ia berkata, “Aku akan selidiki dahulu perkara ini.” Lalu, ia pergi ke Syam. Ketika kembali lagi, ia memutuskan untuk masuk Islam. Waktu ia pulang bertepatan dengan Perang Badar, ia mengurungkan maksudnya. Ia berkata, “Kalau betul ia Nabi, mengapa ia membunuhi saudara-saudaranya.” Ia tidak bisa menerima seorang Nabi yang melakukan peperangan.

Ia banyak menulis puisi yang memuja kebesaran Allah, menceritakan Hari Pembalasan dan mengajarkan kebaikan. Ketika puisi-puisi itu dibacakan di depan Nabi, beliau bersabda, “Puisinya mukmin, hatinya kafir” (Tafsir Al-Durr al-Mantsur 3:611; Al-Fakhr al-Razi 15-58; Al-Mizan 8:342-345; Majma’al-Bayan 4:769). JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *