
Pada suatu hari, Umar bin Khatab melihat Jabir bin Abdullah membawa daging. Umar bertanya, “Apakah ini, hai Jabir?” Jabir menjawab, “Ini daging yang saya beli karena saya menginginkannya.” Umar menukas, “Apakah semua yang kamu inginkan kamu beli? Tidakkah sebaiknya kamu mengosongkan sebagian perut kamu untuk memberikan makanan kepada tetanggamu dan keponakanmu. Tidakkah kamu perhatikan firman Tuhan “Kesenanganmu telah kamu habiskan dalam kehidupanmu di dunia dan kamu telah bersenang-senang dengannya?”
Maksud Umar, orang yang terus-menerus memenuhi keinginannya, pada hakikatnya tidak menyisakan sebagian dari kenangan itu untuk hari akhirat. Sekiranya ia mengurangi kenikmatan itu dan membagikannya kepada orang lain, ia telah menyisakan untuk Hari Kemudian.
Hafsh, orang yang sangat dekat dengan Umar semasa menjabat khalifah, selalu menolak makan bersamanya. Ia mengkritik makanan khalifah yang terlalu sederhana. Ia mengatakan bahwa makanan keluarganya lebih baik daripada makanan Umar. Umar berkata, “Kalau aku mau, aku dapat menikmati makanan yang terbaik dan terindah, tetapi aku sisakan kesenanganku untuk Hari Akhir. Astahqi thayyibati.” (Tafsir Al-Quran-Durr al-Mantsur 7:446-447, Hayat al-Shabah 2-367).
Umar berlaku demikian karena mencontoh Sunnah Rasulullah saw.. Ia bercerita, “Aku pernah meminta izin menemui Rasulullah. Aku mendapati beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisanku.”
“Mengapa engkau menangis, hai putra Khatab?” Rasulullah bertanya. Aku berkata, “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Engkau ini Nabi Allah, kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal di tempat sana, kisra dan kaisar duduk di atas katil emas berbantalkan sutra.” Nabi yang mulia berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk Hari Akhir kita. Perumpamaan hubunganku dengan dunia adalah seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya (Hayat al- Shahabah 2:352).
Kalau perumpamaan Nabi itu diberi konteks kekinian, bayangkanlah Anda berada di luar negeri. Anda hanya akan tinggal di sana beberapa bulan saja untuk urusan bisnis. Anda tidak akan memenuhi tempat tinggal Anda di perantauan dengan segala macam yang Anda inginkan. Anda akan menyisakan sebagian untuk Anda bawa pulang ke tanah air Anda.
Kesadaran bahwa dunia ini hanyalah perantau adalah kesadaran spiritual para Nabi, para sahabat yang mulia, dan aulia (kekasih Tuhan) sepanjang zaman. Kesadaran ini tidak menafikan kesenangan dunia. Ia hanya tidak menghabiskan seluruh kesenangan itu di dunia, sedangkan sebagian kesenangan ditangguhkan untuk Hari Akhir.
Seperti dinyatakan ayat yang dikutip Umar, orang-orang kafir menghabiskan semua kesenangan itu di dunia:
وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ اذْهَبْتُمْ طَيْنِكُمْ في حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَونَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَاكُتُم نَفْسُقُونَ
Dan di hari orang-orang kafir itu dibawa ke neraka (dikatakan kepada mereka): Kesenanganmu telah kamu habiskan dalam kehidupanmu di dunia dan kamu telah bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini, kamu dibalas dengan siksaan kehinaan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi dengan tiada menurut kebenaran dan karena kamu melakukan kemaksiatan (QS. Al-Ahqaf [46]:20).
Jalaluddin Al-Suyuthi menutup riwayat-riwayat yang berkaitan dengan ayat di atas dengan hadis riwayat Ahmad dan Baihaqi:
Apabila Rasulullah saw. bepergian, manusia yang paling terakhir beliau temui adalah Fatimah. Begitu pula, apabila ia kembali, rumah yang pertama beliau masuki adalah rumah Fatimah. Ketika beliau kembali dari suatu peperangan, beliau bermaksud masuk ke rumah Fatimah. Tiba-tiba dilihatnya ada tirai pada pintu rumah Fatimah dan gelang perak pada tangan Hasan dan Husain. Nabi tidak jadi masuk.
Ketika melihat Rasul kembali, Fatimah tahu bahwa beliau tidak masuk karena apa yang dilihatnya. Fatimah segera menyobek tirai dan mengambil gelang dari kedua putranya. Ia mematahkan gelang itu hingga keduanya menangis. Hasan dan Husain datang kepada Nabi sambil menangis. Beliau mengambil potongan gelang itu dan berkata kepada salah seorang sahabat- nya, “Hai Tsauban, berangkatlah dengan potongan ini ke rumah Fulan, salah seorang penduduk Madinah. Belilah untuk Fatimah kalung dari kayu dan dua belah gelang dari tulang. Aku tidak ingin keluargaku menghabiskan kesenangan mereka dalam kehidupan dunia ini.” (Tafsir Al-Durr al-Mantsur 7:448).” JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).