Sesal Kemudian Masih Berguna (1)

Pada tahun ke-9 Hijrah, Nabi saw. mendengar bahwa kerajaan Bizantium bermaksud menyerang Madinah. Nabi segera memobilisasi kekuatan. Waktu itu tepat di pertengahan musim panas. Udara terik membakar. Sementara, kebun-kebun tengah berbuah dan siap dipanen. Musuh yang dihadapi adalah pasukan Romawi yang terkenal perkasa dengan pengalaman perang puluhan tahun. Jarak yang harus ditempuh oleh pasukan Nabi saw. sangat jauh dan tidak pasti. Al-Quran menyebut perang waktu itu sa’at al-‘usrah, masa kesulitan (QS. At-Taubah [117]). Para ahli tarikh menyebutnya Perang Tabuk, ghazwah Tabuk.

Ketika Nabi saw. mengumumkan pengerahan dana dan daya, banyak sahabat merasa berat memenuhinya. Allah me- negur mereka,

يَايُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ انَّا قَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيوةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلَيْلُ

Hai orang-orang beriman! Mengapa ketika kepada kamu dikatakan: Berangkatlah di jalan Allah, kamu merasa berat (karena terpaut kepada kenikmatan) dunia. Apakah kamu lebih senang dengan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat. Kesenangan hidup di dunia ini dibandingkan dengan akhirat hanyalah sedikit saja (QS. At-Taubah [9]: 38).

Pada waktu itu, ada sebagian sahabat yang sengaja tidak ikut, bukan karena tidak ada bekal, bukan juga karena sakit. Mereka tidak menghadap Nabi untuk mengajukan keberatan. Bahkan mereka tidak muncul ketika Nabi saw. mengerahkan pasukan. Ketika ekspedisi Nabi sudah tiba di Tabuk, mereka tertinggal (atau ditinggalkan) di Madinah. Di antara merek,a ada tiga sahabat Anshar: Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, Mararah bin Rabi’ah.

Ka’ab, sang penyair, menceritakan kejadian itu.

“Ketika sampai kepadaku berita bahwa Rasulullah saw. kembali dari Tabuk, terpikir dalam hatiku untuk berdusta. Aku berpikir bagaimana supaya selamat dari kemurkaan Nabi. Aku bermusyawarah dengan keluargaku. Ketika Nabi sudah hampir tiba di Madinah, aku pikir aku tidak akan selamat sedikit pun. Aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.

Kemudian Nabi saw. datang. Seperti biasa, setiap kali beliau kembali dari perjalanan, beliau datang terlebih dahulu ke masjid dan melakukan shalat dua rakaat. Orang-orang yang sengaja meninggalkan diri dari berperang, menghadap beliau dan sambil bersumpah mengajukan berbagai alasan. Ada kira-kira 80 orang. Rasulullah menerima urusan lahiriah mereka dan memohonkan ampunan buat mereka, tetapi menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah.

Ketika aku datang, kuucapkan salam. Beliau tersenyum, senyum marah. ‘Ke sini’ ujar Nabi. Aku duduk di dekat beliau. ‘Apa yang menyebabkanmu tidak ikut, padahal telah kaubeli perbekalanmu?’ Aku berkata, ‘Ya Rasul Allah, seandainya aku menghadap penduduk dunia selain engkau, tentulah aku akan sanggup menyelamatkan diri dari kemurkaannya dengan berdalih. Aku telah diberi kemampuan untuk berbicara dengan lihai. Tetapi, demi Allah, sekiranya aku berdusta kepada engkau hari ini supaya engkau rida, mungkin Allah segera membuatmu marah kepadaku. Demi Allah, tidak ada alasan apa pun. Demi Allah, aku meninggalkan diri, dan aku berada dalam kemudahan dan kesenangan. “Rasulullah saw. bersabda, “Orang ini berkata benar. Pergilah, hingga Allah memberikan keputusan tentang kamu.”

Nabi saw. mengekskomunikasikan Ka’ab dan dua orang kawannya. Kaum Muslim dilarang berbicara dengan mereka. Bahkan, istri-istri mereka pun kemudian dilarang mendekati mereka. Wajah-wajah kaum Muslim berubah melihat Ka’ab. Mereka memalingkan wajahnya.

Kita lanjutkan pembicaraan Ka’ab:

“Aku shalat berjamaah bersama kaum Muslim. Aku berkeliling di pasar. Tidak seorang pun sudi menegurku. Aku mendatangi Rasululluah sesudah shalat. Aku ucapkan salam kepadanya. Aku ingin tahu apakah beliau menggerakkan bibirnya untuk membalas salamku. Aku shalat di dekatnya dan mencuri-curi pandang kepadanya. Usai shalat, beliau melihat kepadaku, tetapi segera memalingkan wajahnya ke arah lain.

Aku meninggalkan Nabi. Aku berjalan dan berjalan, hingga tiba di rumah Abu Qatadah, saudara misanku. Aku sangat menyukainya. Kuucapkan salam, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku. Aku berkata, “Hai Abu Qatadah, demi Allah, tahukah engkau bahwa aku mencintai Allah dan rasul-Nya? Aku ulangi berkali-kali. la diam. Aku ulangi lagi, ia berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Air mata menggelegak di pelupuk mataku. Aku tinggalkan rumahnya.

Kejadian ini berlangsung selama 50 hari. Ka’ab dan kedua kawannya mengasingkan diri di sebuah bukit. Keluarganya mengantarkan makanan kepada mereka. Pada suatu hari Ka’ab berkata: “Orang-orang dilarang berbicara kepada kita. Kita pun sepatutnya tidak saling berbicara di antara kita. Setelah itu, me- reka tinggal berjauhan. Setiap hari mereka beribadat, berzikir dan bertaubat, menangis memohon ampunan Allah.”

Setelah lima puluh hari, Allah menurunkan ayat:

وعَلَى الثَّلَثَةِ الَّذِينَ خُلِفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْاَرْضُ

بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَن لَّا مَلْجَا مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ

عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

(Dan Allah juga mengampuni) tiga orang yang meninggalkan diri di belakang. Ketika bumi yang luas terbentang terasa sempit bagi mereka dan mereka rasakan nafas mereka sesak. Mereka tahu bahwa tidak ada tempat berlindung kecuali Allah. Kemudian mereka kembali kepada Tuhan. Sesungguhnya Allah Penerima Taubat dan Maha Penyayang (QS. At-Taubah [9]: 118).

Ka’ab mendengar berita pengampunan itu setelah subuh. Ia memeluk pembawa berita. Ia rebah bersujud syukur. Saking bahagianya, ia melepaskan pakaiannya dan memberikannya kepada pembawa berita. Untuk menghadap Rasulullah, ia meminjam pakaian orang lain.

“Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah saw.,” kata Ka’ab, ‘Beliau menyambutku dengan wajah yang bersinar gembira, dan berkata, “Berbahagialah engkau karena (inilah) hari terbaik yang kaualami setelah ibumu melahirkanmu.” Aku bertanya, “Apakah berita gembira ini darimu, Ya Rasul Allah, atau dari Allah?” Kata Nabi, “Dari Allah.” Seperti biasa, kalau mendapat kebahagiaan, wajah Rasul cemerlang seperti serpihan bulan.

Ketika melihat sambutan Rasul seperti itu, Ka’ab tidak dapat menahan airmatanya. Ia mencium tangan dan kaki Rasul yang mulia. la mau menyerahkan seluruh hartanya, tetapi Nabi menyuruhnya untuk memberikan sepertiganya saja. Karena ia mendapat ampunan itu berkat kejujurannya, ia berjanji bahwa sejak itu lidahnya tidak akan pernah mengucapkan kebohongan (Tafsir Al-Durr al-Mantsur 4:309-315; Al-Quran-Fakhr al-Razi 16:218; Mizan 9:313).23 Ka’ab betul-betul menyesal karena tidak memenuhi panggilan Rasul. Ia menyesal kemudian. Sesal kemudian ternyata sangat berguna. Tidak ada waktu terlambat untuk menyesali kesalahan dan memperbaikinya. JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *