
Hari itu, Rasulullah saw. berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang kebanyakan orang-orang kecil dan miskin. Yang duduk paling dekat dengan Nabi hampir semua bekas budak: Salman, Ammar bin Yasir, Bilal, Suhaib, Khabab bin Al-Arat. Pakaian mereka lusuh, berupa jubah bulu yang kasar. Tetapi, mereka adalah sahabat senior Nabi, para perintis perjuangan Islam.
Serombongan mualaf, al-muallafat qulubuhum (mereka yang hatinya masih dijinakkan), datang ke majelis. Kebanyakan para pembesar Quraisy: Al-Aqra’ bin Habis, ‘Uyainah bin Hishn, Harits bin ‘Amir, Umayyah bin Khalaf, dan lain-lain. Ketika melihat orang-orang itu di sekitar Nabi, mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya.
Mereka berkata, “Kami mengusulkan kepada Anda agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabi- lah Arab akan datang menemui Anda. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan kami sudah selesai, bolehlah Anda duduk bersama mereka sesuka Anda.”
‘Uyainah bin Hishn menegaskan lagi, “Bau Salman Al-Farisi menggangguku (Ia menyindir bau jubah bulu yang dipakai oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin). Buatlah majelis khusus bagi kami sehingga kami tidak berkumpul bersama mereka. Buatlah juga majelis bagi mereka sehingga mereka tidak berkumpul bersama kami.”
Tiba-tiba turunlah malaikat Jibril menyampaikan Al-An’am 52-54:
وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدُوةِ وَالْعَشِي
يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ
وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّلِمِينَ
Jangan kauusir mereka yang menyeru Tuhannya pagi dan petang mengharapkan keridaan Allah. Engkau tidak memikul tanggung jawab atas mereka sedikit pun. Begitu pula mereka tidak memikul tanggung jawabmu sedikit pun. Apabila kauusir mereka, kamu akan termasuk orang-orang yang zalim (QS. Al-An’am [6]: 52-54).
Nabi saw. segera menyuruh kaum fukara duduk lebih dekat lagi sehingga lutut-lutut mereka merapat dengan lutut Rasulullah saw.. “Salam ‘alaikum”, kata Nabi dengan keras, seakan-akan memberikan jawaban kepada usul para pembesar Quraisy. Setelah itu, turunlah ayat (QS. Al-Kahfi [18]: 28):
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ
بِالْعَدُوةِ وَالْعَشِي يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعدُ
عَيْنَكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَلَا
تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَونَهُ وَكَانَ
آمَرُهُ فُرُطًا
Dan tabahkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di waktu pagi dan sore, mencari keridaan Allah. Jangan kamu palingkan wajahmu dari mereka karena menghendaki perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah kamu ikuti orang-orang yang Kami lalaikan hatinya dari berzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta pekerjaannya melanggar batas.
Sejak itu, apabila kaum fukara ini berkumpul bersama Nabi, beliau tidak meninggalkan tempat sebelum orang-orang miskin itu pergi. Apabila beliau masuk ke majlis, beliau memilih duduk bersama kelompok mereka, dan seringkali beliau berkata, “Alhamdulillah, terpujilah Allah yang menjadikan di antara umatku kelompok yang aku diperintahkan bersabar bersama mereka. Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum fukara Muslim dengan cahaya paripurna pada hari kiamat. Mereka mendahului masuk surga sebelum orang-orang kaya setengah hari (di akhirat), yang ukurannya 500 tahun (di dunia). Mereka bersenang-senang di surga sementara orang-orang kaya diperiksa” (Hayat Al-Shahabah 2; Al-Durr al-Mantsur 3:273-274, 5:382).4)
Seperti para pembesar Quraisy, kita sering melihat kaum fukara sebagai gangguan. Kita terganggu dengan bau tubuh mereka. Kita merasa terhina dengan kehadiran mereka. Apabila tetamu datang, kita usir mereka dari panggung terbuka. Kota baru gemerlap apabila mereka disingkirkan. Pemandangan baru indah apabila rumah-rumah kumuh digusur. Kefakiran telah menjadi sinonim dari kekasaran, keburukan, dan kehinaan.
Kepada mereka, Nabi merapatkan lututnya dan mengucapkan “Salam ‘alaikum”. Dan ketika Sa’ad Al-Anshari memperlihatkan tangannya yang melepuh karena kerja kasar, Nabi mencium tangan itu, seraya berkata, “Ini tangan yang dicintai Allah.” Ah, betapa dekatnya kita dengan perilaku pembesar Quraisy dan betapa jauhnya kita dari akhlak Rasulullah saw.! JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).