Ayat untuk Sang Pembunuh

Siapa yang belajar sejarah Islam tentu mengenal Wahsyi. Dia budak belian hitam yang bertubuh kekar dan mahir lempar lembing. Ia menghamba kepada Abu Sofyan, ketua kelompok elit Quraisy yang berkuasa. Tetapi, ia terkenal bukan karena penghambaannya. Ia masyhur karena menjadi tokoh sejarah. Ia telah menjadi tonggak kebengisan Bani Umayyah. Di Perang Uhud, ia mengendap-endap di belakang Hamzah, singa kaum Muslim, dengan tombak tajam di tangannya. Kemudian, secara cepat, ia melemparkan tombaknya dan menembus jantung Hamzah dari belakang. Hamzah pun gugur. Hindun, istri Abu Sofyan, berteriak gembira. Ia memotong telinga dan hidung Hamzah, membelah perutnya, mengalungkan ususnya ke lehernya, dan mencoba menelan hatinya.

Hari itu hari amat bahagia bagi Wahsyi. Hindun membebaskannya. Hari itu juga hari yang paling kelabu bagi Rasulullah saw.. Air matanya deras mengalir ketika ia melihat tubuh sang paman tercinta dalam keadaan mengenaskan. Dadanya menggelegak karena marah. Ketika pulang ke Madinah, ia mendengar banyak orang menangis. Dengan sendu, Nabi yang mulia berkata, “Sayang, tak seorang pun menangisi Hamzah.” Nabi tahu Hamzah berhijrah ke Madinah sebatang kara.

Delapan tahun kemudian, Nabi menaklukkan Madinah. Sebagian dari pembunuh kaum Muslim melarikan diri. Sebagian lagi berkumpul di Makkah menunggu hukuman Rasul. Di hadapan tengkuk-tengkuk yang merunduk, Nabi berkata, “Pergilah, aku maafkan kalian.” Kepada yang lari, Nabi menawarkan ampunan.

Wahsyi, yang lari ke Thaif, mendengar berita itu. la menemui Rasulullah saw., “Ya Muhammad, mengapa Anda memanggilku. Bukankah menurut Anda, siapa yang membunuh, musyrik, atau berzinah, ia sudah melakukan dosa besar dan akan dilipatgandakan siksa baginya pada hari kiamat, kekal di sana dalam keadaan hina. Padahal aku melakukan semuanya. Masih adakah maaf bagiku?”

Kemudian turunlah ayat

الَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فأوليك يُبَدِّلُ اللهُ سَيَاتِهِمْ حَسَنَةٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Kecuali orang yang telah tobat dan mengerjakan perbuatan baik, hendaklah kejahatan orang-orang itu diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah itu pengampun dan penyayang. (QS. Al-Furqan [25]: 70).

Wahsyi berkata, “Ya Muhammad, ini syarat yang berat kecuali orang yang tobat dan mengerjakan perbuatan baik. Aku mungkin tidak sanggup melakukannya”. Turunlah ayat lain:

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ

لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah itu tidak mengampuni dosa jika Dia dipersekutukan, tetapi Dia mengampuni selain dari itu bagi siapa yang disukainya. (QS. An-Nisa [4] 48).

Wahsyi berkata, “Ya Rasulullah, ini kalau Allah menyukainya. Saya tidak tahu apakah Allah mengampuniku atau tidak. Adakah yang lain?” Allah swt. menurunkan ayat lagi untuk menjawabnya:

قُلْ يُعِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: Hai hamba-hambaku yang melampaui batas kecelakaan dirinya sendiri. Janganlah kamu putus harapan dari kasih-sayang Allah. Sesungguhnya Allah itu mengampuni segenap dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Penyayang. (QS. Az-Zumar [39]: 53).

Wahsyi berkata, “Hadza na’am.” Mendengar itu, orang-orang berkata, “Ya Rasul, kami juga mengalami apa yang dialami Wahsyi”. Nabi yang mulia berkata, “Ayat ini berlaku bagi semua kaum Muslim” (Hayat al-Shahabat 1:42; Tafsir Al-Durr al-Mantsur 6:278).

Alangkah besarnya ampunan Allah. Bayangkan Anda berada dalam perjalanan pulang di padang pasir, lalu kehilangan unta yang mengangkut perbekalan Anda. Ketika Anda risau, tiba-tiba Anda melihat unta itu berjalan kembali kepada Anda, lengkap dengan perbekalan yang dipikulnya. Anda tentu akan senang sekali. “Ketahuilah”, kata Rasulullah saw., “Tuhan lebih senang lagi daripada itu apabila Ia melihat hamba-Nya kembali berjalan kepada-Nya”. Marilah kita kembali lagi kepada-Nya. Seperti Wahsyi, kita datang kepada-Nya dengan dosa yang tidak terbilang. Tuhan, ampuni hamba! JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *