Abu Dzar yang Kontroversial

Abu Dzar termasuk sahabat yang sangat kontroversial. Karena kesederhanaannya, kaum sufi memandangnya sebagai salah seorang zahid generasi awal. Karena keberaniannya menentang penguasa, orang-orang revolusioner menjadikannya sebagai teladan. Karena pembelaannya kepada orang kecil, banyak penulis menyebutnya sosialis, bahkan komunis.

Beredarlah tulisan bahwa komunisme mempunyai dasar dalam Islam. Pada tahun 1367 Hijriah, kementrian dalam negeri Mesir meminta fatwa Syaikh Al-Azhar: apakah Abu Dzar komunis? Kemudian dibentuklah panitia (lajnah) peneliti di bawah pimpinan Syaikh Abdul Majid Salim. Hasilnya, secara singkat, menjelaskan bahwa Abu Dzar memang mempunyai pendapat mirip komunisme. Tetapi, para sahabat yang lain tidak seorang pun mendukung pendapatnya.

Ulama lain menulis buku menentang pendapat Al-Azhar. Ja’far Murtazha Amili menulis buku dengan judul Abu Dzar: musalman ya Sosialist. Kontroversi ini terjadi karena banyaknya riwayat dari Abu Dzar yang membela orang miskin. Abu Dzar sedikit meriwayatkan hadis. Sebagian besar hadis-hadis yang diriwayatkannya juga berkenaan dengan orang miskin.

“Kekasihku, Rasulullah saw., mewasiatkan aku untuk mencintai orang miskin dan bergaul akrab dengan mereka”, ujar Abu Dzar.

“Pada suatu hari”, kata Abu Dzar dalam suatu hadis, “Aku shalat zhuhur bersama Rasulullah saw.. Mendadak datanglah seorang peminta ke mesjid. Tidak ada seorang pun yang memberinya. Peminta itu mengangkat tangannya dan berdoa: Tuhanku, saksikan, aku meminta pertolongan di mesjid Nabi-Mu Muhammad saw., tetapi tak seorang pun membantuku. Waktu itu, Ali sedang ruku. Ali memberi isyarat dengan kelingking kanannya yang bercincin. Si peminta mengambil cincin dari jari Ali.

Peristiwa ini terjadi di depan Nabi saw, dan kemudian beliau berdoa: Ya Allah, saudaraku Musa berdoa kepada-Mu,

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

 وَيَسَرْ لِي أَمْرِي

وَاحْلُلْ عُقْدَةٌ مِنْ لِسَانِي

يَفْقَهُوا قَوَلي

وَاجْعَلْ لَيْ وَرَيْرًا مِنْ أَهْلَى

Tuhanku legakan dadaku, mudahkan urusanku, lepaskan ikatan lidahku sehingga mereka memahami ucapanku. Berikan kepadaku pembantu dari keluargaku. Harun saudaraku. Aku teguhkan dengan dia kekuatanku. Dan aku sertakan dia dalam urusanku (QS. Thaha [20]: 25-29).

Kemudian engkau menjawab doa Musa:

قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطنًا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيْكُمَا بِابْتِنَا أَنْتُمَا وَمَن العَكُمَا الْغَلِبُونَ

Kami akan menguatkan tanganmu dengan saudaramu. Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan. Sebab itu mereka tidak akan sampai (merusakkan) kamu berdua (QS. Al-Qashash [28]: 35).

“Tuhanku, inilah aku Muhammad, nabi-Mu, pilihan-Mu. Legakan dadaku, mudahkan urusanku, berikan kepadaku pembantu dari keluargaku, Ali, supaya aku teguhkan dengannya kekuatanku.”

Belum selesai Nabi berdoa, turunlah Jibril, menyampaikan wahyu:

اِنَّهَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلوةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكُوةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang mengerjakan shalat dan membayarkan zakat dalam keadaan ruku (QS. Al-Maidah [5]: 55).

Riwayat Abu Dzar ini mengundang beragam komentar para mufasir. Karena riwayat ini, sebagian memandang ayat ini sebagai  dalil bahwa gerakan sedikit dalam shalat tidak membatalkan; bahwa sedekah disebut zakat. Sebagian lagi menunjukkan bahwa kita harus segera menolong orang miskin, walaupun dalam keadaan shalat. Sebagian lagi menafsirkan bahwa yang berhak menjadi pemimpin Islam adalah mereka yang membela orang-orang kecil (Tafsir Thabari 4:288; Tafsir Al-Kasyaf 1:624; Tafsir Al-Durr al-Mantsur 3:104; Tafsir Al-Jashsah 2:542). Abu Dzar memang kontroversial. JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *