WAFATNYA FATIMAH AZ-ZAHRA

Tidak lama setelah Nabi Muhammad mengerjakan haji perpisahan, ia jatuh sakit. Sakitnya makin parah setelah ia pergi di malam hari, berkunjung ke pekuburan Baqi’. Fatimah kembali menjadi ummu abiha — ibu yang merawat ayahnya. Hampir setiap saat Fatimah menunggui ayahnya, mendampinginya dan melayani keperluannya. Rumah tangganya sendiri hampir tidak mendapat perhatian. ia meratap di samping ayahandanya yang tercinta. Tidur dan makannya kurang. Fatimah terbawa sakit karena cemas memikirkan kesehatan Rasulullah.

Pada suatu hari, Rasulullah meminta Fatimah duduk di sebelah kanannya. Ia menarik tangan Fatimah supaya lebih mendekat lagi. Kelihatan ia membisikkan sesuatu pada putrinya. Fatimah tidak dapat lagi menahan air matanya. Ia menangis terisak-isak. Ketika itu juga Rasulullah berbisik lagi untuk kedua kalinya. Aneh, Fatimah kelihatan tertawa. ‘Aisyah, istri Nabi, heran melihat perilaku ayah dan anak ini. Ia mendekati Fatimah, “Beritahukan padaku apa yang dibisikan Rasulullah?” Fatimah menjawab, “Aku tidak akan menyampaikan apa yang dibisikkan ayahku kepadaku,”

Tetapi kelak setelah Rasulullah meninggal dunia, Fatimah membukakan juga peristiwa hari itu. “Pada bisikan yang pertama,” kata Fatimah, “Rasulullah berkata: Setiap tahun Jibril mengulangi bacaan Alquran sekali; tetapi tahun ini ia mengulangi bacaan Alquran sampai dua kali. Itu pertanda ajalku sudah dekat. Bersabarlah engkau dan bertaqwalah pada Allah. Mendengar itu aku tidak sanggup menahan tangisan. Kemudian Rasulullah berbisik lagi: Fatimah, apakah engkau tidak senang kalau engkau menjadi wanita yang paling utama di seluruh dunia? Aku bertanya: Bagaimana dengan Maryam. Ayahku menjawab: Maryam adalah wanita paling utama di zamannya.”

Fatimah menyaksikan ayahnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jiwa Fatimah berguncang. Sejak saat itu, Fatimah menjadi pemurung. Suaminya tidak berhasil menghiburnya. Rasulullah terlalu berarti buat Fatimah. Kesehatannya makin menurun. Sering ia berziarah ke pusara ayahandanya. Pernah suatu hari, ia mengambil sekepal tanah pekuburan Nabi. Ia mengusapkan tanah itu ke wajahnya, sementara air mata mengalir di pipinya yang mulai memucat.

Sambil menangis ia lukiskan deritanya dalam untaian syair:

Apatah bagi yang telah mencium tanah pusara Ahmad

takkan mencium lagi semerbak sepanjang masa

Telah menimpa daku bencana

yang membuat siang menjadi malam gelita

Pernah Fatimah mendatangi Anas bin Malik dan menegurnya, “Ah, mengapa engkau bisa tentram setelah menguburkan Rasulullah ke dalam tanah”. Dan sambil menangis Fatimah meratap:

Telah mendung ufuk di langit

telah terbenam mentari siang

siang dan malam gelap semata

Setelah Nabi tiada bumi berduka

getar gemetar menanggung lara

Tangisilah dia, dunia Timur dan Barat

Tangisilah dia, Mudhar dan Yaman

Tangisilah dia, bukit tinggi

Dan Baitullah yang bertiang berkelambu

Wahai Rasul penutup yang bersinar penuh berkat

Semoga Yang Menurunkan Alquran memberimu rahmat

Sejak kematian ayahnya, Fatimah tidak pernah kelihatan tertawa lagi. Matanya cekung dan sembab. Tubuhnya makin kurus. Air mukanya menampakkan kesedihan yang hampir tidak dapat ditahan. Sering ia tidak sadarkan diri. Kepada kedua putranya, Al-Hasan dan Al-Husain, ia selalu berkata: “Mana dia ayah kalian yang mencintai kalian? Aku tidak pernah lagi melihat beliau membuka pintu rumah ini. Kalian tidak pernah lagi naik ke atas punggungnya”. Memang Fatimah tidak lagi melihat ayahnya datang. Ia tidak lagi mendengar panggilan mesra di waktu subuh, “Shalat, shalat!” Ia tidak mendengar lagi kalimah suci yang keluar dari bibir Nabi, “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan segala kenistaan dari kalian, hai ahli bait, dan mensucikan kalian sebersih-bersihnya.” Yang sedih ditinggalkan wafat Rasulullah memang bukan hanya Fatimah. Bilal juga, misalnya. Setelah Nabi wafat ia tidak mau lagi mengumandangkan azan. Ia tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” tanpa menangis.

Lama suara Bilal tidak terdengar. Tetapi atas desakan Fatimah, suatu dini hari Bilal kembali memecahkan waktu fajar dengan suara azannya. Mendengar itu, Fatimah mulai teriak-isak. Segala kenangan bersama Rasulullah terulang kembali. Ketika Bilal sampai pada “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah“, Fatimah tidak sadarkan diri.

Ali pernah berbicara tentang kesedihan istrinya, “Dahulu aku memandikan jenazah Rasulullah dalam keadaan berpakaian. Kemudian pakaian itu aku simpan. Pada saat tertentu Fatimah minta agar aku memperlihatkan pakaian beliau kepadanya. Tetapi, tiap kali Fatimah menciumnya, ia jatuh pingsan. Sejak itu, pakaian Rasulullah aku sembunyikan.”

Fatimah sering mengasingkan diri. Ia lebih banyak mengadukan segala goncangan batinnya kepada Allah yang Mahakuasa. Ali menyediakan tempat khusus baginya, yang diberi nama “Baitul Huzni” atau “Rumah duka”. Sekarang rumah itu dibuat mesjid dan diberi nama Mesjid Fatimah.

Pada suatu hari Fatimah kelihatan sehat. Ia tidak lagi mengeluhkan sakit kepala dan demam. Ia mengapit tangan kedua putranya dan membawa mereka ziarah ke makam Rasulullah. Al- Hasan dan Al-Husain didudukkan. Kemudian ia menunaikan shalat sunat dua rakaat di Raudhah, sebuah tempat antara mimbar dan makam Rasulullah. Setelah shalat, ia mendekati putra-putranya: “Anakku sayang, tunggulah kalian di sini.”

la masuk ke dalam rumah yang terletak di samping mesjid dan makam ayahnya. Ia mandi dengan air yang bercampur wewangian yang biasa dipakai dalam memandikan jenazah. Kemudian ia membungkus diri dengan kain kafan sisa pembungkus jenazah ayahnya. Kepada Asma binti Umaisy, Fatimah berkata, “Asma, aku hendak berbaring sebentar. Jika lewat satu jam, aku belum juga keluar, panggillah aku tiga kali. Kalau aku tidak menjawab, itu berarti aku telah berangkat menyusul Rasulullah, ayahku.” Satu jam kemudian, Asma memanggil-manggil. Tidak ada jawaban. Asma segera masuk dan ia melihat Fatimah sudah wafat. Putri Rasulullah, wanita yang paling utama, ummu abiha sekarang sudah tiada. Ia wafat meninggalkan empat orang putra: Al-Hasan, Al-Husain, Zainab Al-Kubra, dan Zainab As-Sughra. Fatimah dimakamkan di Baqi’, Madinah. Tiap tahun, ribuan jemaah haji menyempatkan berkunjung ke situ, walau pun tidak jelas di pusara mana Fatimah disemayamkan. Hampir tiap hari Ali menjenguk makam istrinya. Di situ, pahlawan Islam yang terkenal tabah ini sering menangis sendiri sambil mendendangkan puisi cintanya:

Kujenguk makam dengan ucapan salam makam istri tersayang,

tetapi mengapa engkau tidak menyahut

Oh makam, mengapa engkau tak menjawabseruan,

jemukah engkau karena aku jauh dari kekasih hatiku?

JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *