
Kita akan berbicara tentang doa dalam perspektif kecintaan. Di dalamnya kita akan membicarakan hakikat doa, macam-macam doa, dan adab berdoa. Karena berhubungan dengan mahabbah (kecintaan), kita akan berbicara tentang doa dalam kaitannya dengan kiat-kiat meraih cinta Tuhan. Belajar mencintai Allah. Kiat ini ada kaitannya juga dengan Tombo Ati-nya Emha Ainun Najib; mengurangi makan, banyak bergaul dengan orang saleh, dan lain-lain. Ada lagi sebenarnya yang tak kalah penting, yaitu menjauhi banyak bicara.
Dalam bahasa Arab, banyak bicara disebut dengan fudhúl al-kalâm. Fudbûl artinya kelebihan. Fudhúl al-mál artinya kelebihan harta. Fudhul al-kalâm artinya kelebihan pembicaraan, yaitu memanjang-manjangkan perkataan tetapi isinya sedikit; penyakit yang diderita oleh orang seperti saya dan para mubalig. Sangat sulit mendekati Tuhan dengan adanya fudhúl al-kalâm ini. Nabi saw. bersabda, “Janganlah kalian memperbanyak pembicaraan tanpa ada dzikrullah di dalamnya. Banyak berbicara tanpa zikir kepada Allah akan memperkeras hati. Manusia yang paling jauh dari Allah ialah yang hatinya keras. Salah satu penyebab hati menjadi keras adalah berbicara tanpa dzikrullah di dalamnya.”
Di dalam Alquran Allah Swt. berfirman, “Tidak ada baiknya obrolan kalian itu kecuali kalau dalam obrolan itu ada perintah untuk beramal saleh (untuk bersedekah) dan untuk amar makruf nahi mungkar. Di luar itu, tidak ada kebaikannya obrolan tersebut.”
Di antara tanda para muhibbin (pencinta Allah) adalah muhasabah (mengoreksi diri). Imam Mûsâ al-Kâzhim a.s. berkata, “Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menghisab (mengoreksi) dirinya sendiri setiap hari. Kalau beramal baik, dia mengharapkan kelebihannya dari Allah; kalau beramal jelek, dia meminta ampunan kepada Allah, dan dia bertobat kepada-Nya.”
Rasulullah saw. pernah menasihati Abu Dzar, “Abu Dzar, seseorang belum menjadi orang yang bertakwa sebelum dia memeriksa dirinya lebih keras daripada seorang pedagang kepada mitra dagangnya, sehingga dia harus tahu dari mana dia memperoleh makanannya; dari mana dia memperoleh pakaiannya; dan dari mana dia memperoleh minumannya: apakah halal atau haram.”
Muhasabah adalah proses pemeriksaan diri yang dilakukan secara teratur. Jadi, setiap hari kita harus muhasabah. Waktu terbaik dalam melakukan muhasabah adalah sebelum tidur pada malam hari. Kita memikirkan apa yang kita lakukan pada hari ini; kita periksa, kita timbang-mana yang lebih baik: amal baik atau amal buruk? Dalam sebuah hadis Nabi saw. bersabda, “Siapa saja yang sudah mencapai umur 40 tahun namun kebaikannya tidak melebihi kejelekannya, setan menciumnya di antara kedua dahinya.” (Dalam riwayat lain Nabi saw. berkata, “Siapkan tempat tinggalnya di neraka.”)
Saya sudah mencapai 40 tahun lebih, dan mestinya saya harus menghitung-hitung, apakah kebaikan saya sama dengan kejelekan saya? Kalau sama, berarti saya sudah dicium setan setiap hari. Kalau lebih jelek lagi, mungkin sudah tidak dicium setan lagi, tetapi sudah menjadi setan sekaligus.
Cukupkah muhasabah? Tidak. Ada tingkatan berikutnya: muraqabah. Namun, ada dua macam muraqabah di kalangan para muhibbin: (1) Kita mengabdi kepada Allah seakan-akan kita melihat Allah, atau kalau kita tidak merasa melihat-Nya, Allah memperhatikan kita. Kita membayangkan bahwa Tuhan selalu mengawasi kita. Mengawasi, dalam bahasa Arabnya, râqaba. Dalam Alquran ada kalimat: Wakanallahu ‘alá kulli syay’in raqiba (Allah mengawasi segala sesuatu). Yang jadi persoalan ialah kita tidak merasa diawasi Allah Swt. Oleh karena itu, teruslah berlatih bahwa kita selalu diperhatikan, selalu diawasi oleh Allah Swt. pada setiap saat, bahkan setiap kali kita menarik napas.
Ada hadis yang indah ketika Allah berbicara kepada Rasulullah saw. pada malam Mikraj. Hadis ini sering dijadikan rujukan para sufi karena mengajarkan bagaimana kita mencintai Allah. Hadis ini juga merupakan percakapan antara Tuhan dengan kekasih-Nya. Terjemahan hadis itu sebagai berikut:
Tuhan berfirman, “Ahmad, tahukah engkau tentang hidup yang paling bahagia dan yang paling kekal?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya Allah, tidak.” Allah berfirman, “Hidup yang paling bahagia adalah kehidupan seseorang yang tidak melupakan zikir kepada-Ku, yang tidak melupakan nikmat-Ku, dan yang tidak jahil dari-Ku. Dia menggunakan siang dan malamnya untuk mencari rida-Ku. Sementara hidup yang abadi adalah kehidupan seseorang yang memandang dunia itu dengan rendah, sehingga dunia kecil di hadapan kedua matanya. Pada saat yang sama, ia membesarkan akhirat. Orang itu juga mendahulukan kehendak-Ku daripada kehendaknya. Dia mencari rida-Ku, membesarkan hak-hak-Ku, dan melakukan muraqabah siang dan malam dari setiap perbuatan jelek dan kemaksiatan yang dilakukannya. Dari hatinya dia menafikan apa yang Aku benci. Dia membenci setan dan segala godaannya. Dia tidak memberikan jalan bagi iblis dalam hatinya sebagai penguasa. Bahkan, dia memberikan jalan masuk dalam hatinya untuk cinta, sehingga Aku menjadikan seluruh hatinya terpaut kepada-Ku; sibuk dengan diri-Ku; dan lidahnya bergumam dengan segala anugerah-Ku yang Aku berikan kepada setiap kecintaan-Ku di antara makhlukKu. Aku membukakan mata hati dan pendengarannya, sampai dia mendengar dan melihat dengan mata hatinya pada kebesaran-Ku….”
Yang terakhir, yang ada hubungannya dengan doa, ialah adab kita kepada Allah. Kita harus mempunyai adab tertentu di hadapan Allah. Nabi ‘Isâ a.s. diriwayatkan pernah bersabda:
Janganlah kamu berkata bahwa ilmu itu ada di langit, sehingga yang naik ke langit pasti mendapat ilmu itu; janganlah pula kamu berpikir ilmu itu ada di perut bumi, siapa saja yang masuk ke dalamnya akan memperoleh ilmu itu. Ilmu itu tersembunyi di dalam hati nuranimu. Beradablah di hadapan Allah dengan adab kaum rúhaniyyin. Berakhlaklah di hadapan Allah dengan akhlak kaum shiddiqin. Kelak ilmu akan memancar dari hatimu. Allah akan memberikan ilmu kepadamu dan memenuhi hatimu dengan ilmu.
Melihat riwayat di atas, secara tidak langsung adab adalah perintah Allah. Beradablah di hadapan Allah Swt. Apa tanda beradab di hadapan Allah? Ada sebuah hadis qudsi yang mengejutkan saya ketika saya membacanya, “Hamba-Ku, apakah memang perbuatan kamu, menyuruh Aku tetapi perhatianmu ke kanan dan ke kiri. Kemudian kamu berbicara dengan sesama hamba-Ku yang lain, mengarahkan seluruh perhatianmu kepadanya dan meninggalkan Aku?”
Adab kepada Allah ialah sebagaimana kita beradab dalam berbicara dengan sesama manusia. Ketika berbicara dengan sesama, kita akan memusatkan perhatian kita kepadanya dan tidak melirik ke kanan dan ke kiri. Sebaliknya, ketika kita bermunajat kepada Allah Swt. perhatian kita ke mana-mana, perhatian kita tercurah kepada makhluk lain dan lupa kepada Sang Khâlik yang kita hadapi. Elokkah kita ketika menghadap Tuhan sementara perhatian kita ke sana kemari?
Diriwayatkan bahwa pada suatu saat Nabi keluar untuk meninjau ternak dan gembalanya. Ada seorang gembala di situ yang melepaskan pakaiannya. Begitu melihat Nabi datang, dia buru-buru memakai bajunya kembali. Lalu Nabi berkata, “Teruskan saja. Kami ini Ahlul Bait. Kami tidak akan mempekerjakan orang yang tidak beradab di hadapan Allah dan tidak malu dalam kesendiriannya di hadapan Allah.”
Bagi orang itu, malu itu kalau ada orang saja; sementara di hadapan Allah dia tidak malu. Hal itu juga ada hubungannya dengan yang kita bicarakan di sini, yakni adab dalam berdoa.
Alquran memberikan contoh adab dalam berdoa. Misalnya, doa Nabi Ayyû a.s. ketika menderita sebuah penyakit. Doa Nabi Ayyûb a.s., “Tuhanku, kesengsaraan menimpaku sekarang ini, sementara Engkau Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.”
Itulah doa Nabi Ayyûb. Lihatlah, dalam doa itu Nabi Ayyûb tidak mengatakan, “Tuhanku, Engkau menimpakan kepadaku penderitaan ini. Sayangilah aku.”
Tidak ada kata perintah dalam doa itu. Itulah adab berdoa. Tidak ada kalimat perintah kepada Allah Swt. Tidak ada fi’l amr di situ, tetapi yang disebut adalah nama Allah. Walaupun yang menguji itu Allah, Nabi Ayyûb tidak langsung berdoa dengan menuduh, “Tuhanku, Engkau menimpakan penderitaan kepadaku.”
Ada juga doa Nabi Ibrâhim, “Apabila aku sakit, Dialah yang memberikan kesembuhan.” Ibrâhim tidak mengatakan, “Kalau Engkau yang menimpakan sakit kepadaku, Engkaulah yang menyembuhkanku.”
Dia hanya menyebutkan, “Kalau aku sakit..”
Lihat juga doa Nabi Adam a.s., “Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni kami dan tidak menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
Tidak ada kalimat perintah dalam doa-doa para panutan kita itu. Dan, itulah doa yang beradab. Di Indonesia, kita sering mendengar doa-doa resmi dalam acara di kantor-kantor yang seluruhnya berisi perintah kepada Tuhan. Maklum, yang berdoa para pejabat di kantor, sehingga dia menganggap Tuhan anak buahnya yang harus diperintah. “Tuhan, lunakkanlah hati para inspektur, sehingga Bandung dapat memperoleh Satya Purna Karya Nugraha.” Kita akan segera membahas hal ini.
Salahkah doa seperti itu? Tidak. Itu tidak salah, tetapi kurang beradab.
Termasuk adab dalam berdoa ialah tidak meminta hal-hal yang sangat spesifik, mendikte Tuhan bahwa itulah yang paling baik bagi kita. Misalnya, jangan dikatakan, “Tuhan, sembuhkanlah saya,” tetapi katakanlah, “Duhai Sang Maha Penyembuh.”
Bahkan, katanya, lebih beradab lagi kalau kita berdoa dengan hal-hal yang bersifat umum dan kita memasukkan ke dalam doa itu bukan saja diri kita sendiri, tetapi juga kaum muslim dan muslimah seluruhnya.
Kata doa berasal dari kata da’â, yad’û, du’a’an atau da’watan. Da’wah dalam bahasa Arab berarti doa. Dalam Alquran, kata da’wah juga artinya doa, karena baik doa maupun dakwah artinya panggilan, seruan, atau bisa juga berarti undangan. Karena hubungan kita dengan Allah itu sama-hal ini pernah diceritakan bahwa Tuhan memanggil kita dan kita pun memanggil Dia-maka hakikat doa adalah saling memanggil di antara dua kekasih.
Macam-Macam Doa
Ada beragam tingkatan dalam doa. Yang paling awal, tentu saja, doa orang-orang awam. Doa ini ditandai dengan perintah-perintah, seperti yang kita lihat di muka. Yang diharapkan dari doa itu isinya: (1) agar diberi sesuatu, mengharapkan sesuatu, atau takut pada sesuatu; (2) agar dilindungi. Doa macam ini berbunyi, kurang lebih, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Mu surga dan berlindung kepada-Mu dari api neraka.”
Doa pada tingkat ini mengharapkan ganjaran dan dijauhkan dari siksaan; mengharapkan keberuntungan dan dijauhkan dari bencana; mengharapkan harta yang banyak dan depositonya diselamatkan. Jadi, seluruhnya berada di antara ganjaran dan hukuman.
Beribadah dengan mengharapkan ganjaran atau takut siksa sebetulnya boleh-boleh saja (Al-quran dan hadis juga sering mengiming-imingi kita dengan pahala dan siksa). Misalnya, barang siapa membaca surah Yå sin, dia akan memperoleh penjagaan dan keberuntungan; barang siapa yang berangkat dari rumah dalam keadaan wudhu, kemudian salat dua rakaat di masjid Quba, maka nilai ibadahnya sama dengan orang yang umrah bersama Rasulullah saw. Dan dalam surah Ali Imran ayat 133 Allah menawarkan surga kepada kita:
وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموث والأرض أعدت للمتقين
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertakwa.
Namun, semua itu tidak lebih sebagai pemantik. Sebagaimana usia dan mental seseorang yang terus mengalami pendewasaan, sikap keberagamaan kita pun mestinya meningkat. Jika pada tingkat awam semula apa yang kita kerjakan karena tergiur ganjaran, maka di tingkat selanjutnya kita melakukan sesuatu karena sadar dan mengharapkan lebih dari sekadar ganjaran atau hukuman. Bahkan, pada tingkat khawas atau tingkat spiritual paling tinggi, semua bentuk amal yang kita lakukan untuk melayani kepentingan sendiri adalah kemusyrikan. Istilah musyrik di sini tidak mengerikan seperti musyrik yang biasa kita sebutkan. Biasanya kita menggunakan kata musyrik untuk mengeluarkan orang yang berbeda paham dengan kita.
Musyrik berasal dari kata syaraka yang berarti menyekutukan. Ketika kita meletakkan apa pun selain Allah di dalam ibadah-ibadah kita, maka kita telah melakukan perbuatan syirik. Begitu juga ketika mengikutsertakan kepentingan-kepentingan lain dalam ibadah kita, seperti kepentingan untuk mendapatkan pahala atau surga. Dalam buku Imam Khomeini mereka disebut sebagai orang yang belum keluar dari “rumah”nya. Pada bab pertama buku itu dikutip, man yakhruju min baitihi, muhajiran ila Allahi wa rasulihi; barang siapa yang keluar dari rumahnya menuju Allah dan rasul-Nya. (An-Nisa, 100)
“Rumah” yang paling berat kita tinggalkan adalah ego kita. Kepentingan-kepentingan keakuan kita. Dalam ibadah pun egoisme kita tampak dengan sangat jelas, sebagaimana tampak pada penggunaan kata-kata perintah, fiil amar, dalam doa-doa kita.
Ada seorang pengajar Tasawuf di Tel Aviv, Israel. Sara Sviri, namanya. Ia menulis buku berjudul The Taste of Hidden Thing. Buku itu menceritakan bagaimana merasakan hal-hal yang tersembunyi. Dia bercerita bahwa dalam perjalanan kita menuju Allah Swt, pada saat kita sudah masuk pintu untuk masuk ke rumah Dia, kita selalu bertubrukan dengan ego kita di pintu itu. Setelah bekerja keras untuk menggapai pintu itu, kita sampai di situ, namun kita bertubrukan dengan ego kita, dan kita terpental lagi dari sana. Jadi, ego kita itu selalu menyertai kita ke mana pun. Kita sangat sulit untuk meninggalkannya. Jika masih tetap seperti itu, kita tidak bisa berjumpa dengan Allah Swt. Egoisme dalam ibadah muncul ketika kita beribadah untuk memenuhi keinginan-keinginan kita. Tetapi syirik dalam arti ini merupakan salah satu perjalanan yang harus kita lewati. Jadi, kita juga harus melewati pola beribadah untuk memperoleh pahala dan menghindari siksa itu. Namun, seiring perjalanan usia dan kematangan pola pikir seyogianya sikap kita dalam beribadah pun meningkat.
Dalam doa tawaf, ada doa yang berbunyi “Allahumma inni as’aluka ridhâka wal jannah. Aku mohonkan kepadamu rida-Mu dan surga.” Hanya saja, kita melupakan bahwa rida Allah mesti didahulukan dari surga. Semestinya surga menjadi tujuan kedua; tujuan utamanya adalah rida Allah. Dan jika yang kita harapkan hanya rida Allah, maka hubungan kita dengan Allah menjadi hubungan cinta. Inilah doa macam kedua, doa yang sudah tidak memikirkan lagi pemberian Tuhan, tidak memikirkan lagi ancaman Tuhan. Karena itu, doa itu berbunyi, “Aku berlindung dengan rida-Mu dari kemurkaan-Mu.” Jadi, sekarang bukan masalah surga dan neraka lagi, tetapi masalah rida dan kemurkaan Tuhan.
Yang berada di tingkatan puncak adalah doa, “Aku berlindung kepada-Mu dari diri-Mu.” Dalam salah satu doa Imam ‘Ali Zaynal ‘Âbidin ditutur kan, “Aku melarikan diri dari-Mu menuju-Mu.”
Doa jenis ini adalah doa yang lebih berisi pengakuan akan kehinaan dan kekecilan diri kita. Jadi, ia hanya merupakan obrolan kepada Allah yang menceritakan betapa lemahnya diri kita. Kita mengadukan diri kita kepada Allah Swt., seperti contoh doa Nabi Adam a.s., “Ya Allah, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni kami, pasti kami menjadi orang yang rugi.” Semua itu adalah pengaduan. Kita tentu saja boleh mengadu kepada Allah Swt.; mengadukan kehinaan kita di hadapan-Nya.
Saya sering membayangkan, doa-doa seperti itu agak sulit diaminkan. Tapi, doa yang menggunakan kata perintah atau berisi perintah mudah sekali diaminkan. Sebab, doa yang isinya perintah itu ditujukan hanya untuk diri sendiri, sangat egois. “Tuhanku, ampunilah aku, sayangi aku, tingkatkan derajatku, dan beri aku rezeki.” Ujungnya aku semua. Tentu saja, doa seperti itu tidak salah, tetapi itu adalah jenis doa orang awam. Namun kita jangan sombong. Merasa diri sudah tinggi, padahal masih awam. Yang saya maksudkan, kita meningkatkan seluruh daya kita untuk menjalin hubungan dengan Allah sebagai hubungan cinta.
Sementara itu, doa yang berisi pengakuan sangat sulit untuk diaminkan. Misalnya, Imam ‘Ali Zaynal ‘Âbidin berdoa, “Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri,” lalu, “Amin,” misalnya, agak sulit. Tampaknya kita hanya mendengarkan saja doa itu, kita ikuti saja dalam hati, tidak usah diaminkan dengan verbal. Mengaminkannya cukup dengan cara mengikuti seluruh hati kita. “Tuhanku, kepada diri-Mu kuadukan diriku, yang memerintahkan kejelekan; yang bergegas melakukan kesalahan; yang tenggelam dalam kemaksiatan kepada-Mu; yang menjadikan aku orang yang celaka; yang terhina….”
Doa yang paling tinggi adalah doa yang merupakan bisikan cinta. Doa itu berisi rayuan seorang pencinta kepada kekasihnya. Dia merayu kekasihnya supaya tetap memelihara cintanya. Munajat Imam ‘Ali Zaynal ‘Âbidin dipenuhi rayuan-rayuan. Jadi, misalnya, walaupun ada kata perintah, ia berisi rayuan, berisi ungkapan cinta. Seperti perintah Majnun kepada Laylâ, “Aku turut berbahagia atas pernikahanmu. Aku tidak meminta apa pun kecuali engkau mengenang bahwa di satu tempat ada seseorang yang sekiranya tubuhnya dicabik-cabik oleh binatang buas, dia masih tetap menyebut namamu.”
Itu perintah juga, tetapi perintah sangat halus, perintah yang sangat beradab. Kita pernah membaca salah satu doa Imam ‘Ali Zaynal ‘Âbidin yang merupakan ungkapan cinta:
Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku
Pertemuan dengan-Mu kecintaanku
Kepada-Mu kerinduanku
Cinta-Mu tumpuanku
Pada Kekasihku gelora rinduku
Rida-Mu tujuanku
Melihat-Mu keperluanku
Mendampingi-Mu keinginanku
Mendekat kepada-Mu puncak permohonanku
Doa-doa Rabi’ah al-‘Adawiyah kepada Tuhan juga berisikan cinta. Doanya terkenal. Satu doa sudah diterjemahkan Taufiq Ismail dan menjadi puisi. Rabi’ah bertutur:
Tuhanku, kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka,
masukkanlah aku ke dalam neraka itu, dan besarkan tubuhku di neraka itu,
sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba-Mu yang lain.
Kalau aku menyembah-Mu karena menginginkan surga-Mu,
berikan surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain,
bagiku Engkau saja sudah cukup.
Itu terjemahan Taufiq Ismail. Sangat bagus. Sekali lagi, itulah doa yang sampai pada tingkat cinta. Doa itu isinya hanya bisikan cinta. Karenadoa itu menjadi bisikan cinta, orang merasa enak. Kita sedang merayu orang yang kita cintai. Ketika kita mengungkapkan ungkapan cinta kita kepada-Nya, berbicara yang panjang pun enak. Jadi, salah satu ukuran bahwa doa kita sudah berisi bisikan cinta ialah apakah kita tahan berdoa dengan doa yang panjang, yang isinya ungkapan cinta? Bagi saya, saya akan menjawab pertanyaan itu, “Tidak.” Saya belum bisa, belum dapat merasakan nikmatnya membaca doa panjang seperti itu. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).