Doa, Perantara, dan Perampok di Jalan Tuhan

Islam tidak mengenal sekat antara Tuhan dan hamba-Nya. Jika kita mau berdoa, langsung saja. Tidak perlu seorang perantara untuk bisa mencapai-Nya. Dalam dunia tasawuf, seorang mursyid hanya memberitahu jalan, bukan mengantar. Namun, belakangan ini muncul orang atau kelompok yang menjanjikan bisa mempertemukan kita dengan Tuhan atau Nabi Muhammad. Berhati-hatilah, merekalah yang saya sebut sebagai para perampok di jalan Tuhan.

Dalam keseharian sekarang ini kita melihat, terutama di kota-kota besar, banyak orang yang ingin kembali ke jalan keruhanian. Orang haus akan spiritualitas. Pada saat orang-orang haus spiritualitas, muncullah para penipu. Mereka seakan-akan menawarkan spiritualitas, padahal sebetulnya halusinasi, delusi, tipuan, atau jebakan. Banyak cara yang dilakukan para perampok di jalan Tuhan. Dalam sosiologi agama, peristiwa semacam ini disebut sebagai cult, diterjemahkan sebagai kelompok pemujaan.

Tentang hal ini, saya diingatkan Imam Ghazali. Dalam Ihya Ulum al-Din Imam Ghazali memberi judul salah satu kitabnya dengan dzam al-ghurur (tercelanya penipuan). Kitab itu masuk ke dalam seperempat yang merusak (rub’u al-muhlikât). Dalam kitab itu, Imam Ghazali bercerita tentang para penipu di jalan Tuhan, yang menipu orang yang sedang merintis di jalan Tuhan. Jadi, orang yang sedang berjalan di jalan Tuhan itu dicegat di tengah jalan dan dibelokkan.

Mengenali perampok di jalan Tuhan

Agar tidak kemalingan, kita harus tahu cara kerja seorang maling. Namun, pengetahuan itu kita kuasai bukan untuk maling, melainkan sebagai cara mempertahankan diri, sebagai antisipasi. Dalam hal perampok di jalan Tuhan pun, demikian. Makanya, kita harus mengenali ciri-ciri mereka supaya tidak terjebak. Kelompok pemujaan itu memiliki beberapa ciri. Pertama, mereka memiliki upacara-upacara yang aneh dan tidak sesuai dengan praktik agama kebanyakan. Kalau ritusnya membaca subhanallah, alhamdulillah, atau salawat itu masuk akal, masih mengikuti jalur yang dikenal dalam ajaran agama. Tapi, kalau untuk masuk ke kelompok tersebut anggota yang direkrut harus mengikuti pembaiatan; jenis pembaiatannya pun aneh. Ada yang mulai harus puasa terus-menerus dari pagi sampai malam atau dinamakan puasa wishal, padahal puasa jenis ini dilarang secara tegas oleh Rasul. Bahkan, ada ritual yang mengharuskan seorang pengikutnya itu dikubur hidup-hidup, dimandikan air kembang tujuh macam, dan ada juga yang dibungkus kain kafan, dan ada juga yang disuruh telanjang bulat.

Kedua, imamnya atau pimpinannya menuntut kepatuhan mutlak. Jadi, orang harus patuh kepadanya tanpa kritis. Tidak boleh kritis. Dan, itu juga yang menjadi ciri ketiga: kelompok ini tidak mengajarkan sikap kritis. Anggota kelompok itu harus sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami patuh). Puncaknya, guru itu tidak pernah salah dan harus meyakini bahwa guru tidak pernah salah.

Keempat, biasanya organisasi seperti ini membatasi informasi, mengontrol informasi. “Kalau Anda sudah mengaji sama saya tidak boleh mengaji dengan orang lain, karena orang lain itu sesat.” Begitu pendapat yang sering diungkapkan. Hanya kelompok mereka yang berhak menyelamatkan manusia. Itu doktrinnya. Selain itu, masih ada dua lagi ciri utama kelompok yang merampok di jalan Tuhan itu yang harus diwaspadai. Pertama UUD, ujung-ujungnya duit. Seorang anggota harus menginfak dalam jumlah sekian, harus berkorban untuk gurunya sekian, harus menyumbangkan hartanya sekian. Tapi, semuanya itu hanya untuk kepentingan guru dan kelompoknya.

Kedua, dan ini sangat berbahaya, UUS, ujung-ujungnya seks. Saya mengenal seseorang yang terjebak ke dalam kelompok seperti ini. Ia seorang wanita karir bernama, katakanlah, Helen. Ia masuk ke kelompok seperti itu sudah lama, saking lamanya ia tidak bisa melepaskan diri dari bayangan sang guru. Helen menceritakan pengalamannya kepada saya:

“Aku tidak bisa melepaskan diri dari bayangan guruku. Ia masuk dalam  mimpi-mimpiku. Pada suatu malam aku pernah terbangun. Aku duduk dalam lingkaran. Di situ ada guruku, Nabi Muhammad, Tuhan, dan Yesus. Guruku menyebutku Hafshah, salah seorang istri Nabi Muhammad. Aku pernah melihat Nabi Muhammad datang kepadaku; memanggilku dengan mesra. Pendeknya, kemudian terjadilah pergaulan suami-istri antara Hafshah dan Nabi Muhammad. Beberapa saat setelah itu, aku baru sadar bahwa Hafshah itu aku dan Nabi Muhammad itu adalah guruku itu.”

Helen sarjana dan profesional. Ia cerdas dan kaya. Ketika ia mulai tertarik pada hal-hal spiritual, kawannya membawanya ke pengajian tasawuf. Ia diperkenalkan kepada seorang ustad. Bukan ustad terkenal. Tampaknya ustad itu tidak mengisi pengajian umum. Ia memusatkan pengajarannya pada komunitas khusus dengan tema khusus. Di seluruh alam semesta, hanya dia yang mempunyai pengetahuan khusus, ilmu makrifat. Ia mau berbagi ilmu makrifat itu hanya kepada manusia- manusia pilihan yang ingin berjumpa dengan Tuhan. Dengan mengamalkan ritus-ritus tertentu—berzikir, berpuasa, dan bersemadi—Helen berhasil melihat Tuhan. Berkali-kali sesudah itu, ia mengalami “trans”. Ia bukan hanya berjumpa dengan Tuhan. Ia juga dapat berkencan dengan para nabi.

Makin “dalam” pengalaman rohaniahnya, makin bergantung dia kepada sang ustad. Helen yang cerdas kehilangan daya kritisnya ketika ia mendengar kalimat-kalimat gurunya. Ia berikan apa pun yang dimintanya, mulai waktu, uang, kendaraan, rumah, sampai kehormatannya. Ia sudah menjadi `sujet’ di hadapan juru hipnotis. Semua dilakukannya di bawah sadar, sampai ia disentakkan oleh salah satu kuliah psikologi. Sebuah buku dengan judul “Saints and Madmen” menyadarkan dia bahwa gurunya dan juga dia bukan orang suci, tapi orang gila. Ia bukan mengalami pengalaman rohaniah, tapi gangguan mental. Sayangnya, kesadaran itu muncul setelah ia kehilangan banyak.

Tentu tak terhitung banyak orang seperti Helen. Manusia modern yang jenuh dengan materialisme gersang. Ia merindukan pengalaman rohaniah. Ada yang kosong dalam jiwanya. Kekosongan itu tidak bisa diisi dengan seks, hiburan, kerja, bahkan ajaran-ajaran agama yang dianut oleh kebanyakan masyarakat. Ia ingin `getting connected’ dengan Yang Ilahi. Ia sudah kecapaian dengan logika dan angka. Ia ingin meninggalkan dunia yang dingin dan kusam menuju alam yang hangat dan cemerlang. Ia ingin mendapat—sebut saja—pencerahan rohaniah. Ia tidak mendapatkannya dalam institusi-institusi agama yang ada.

Di seluruh dunia, sebenarnya ini barang baru. Gejala ini baru terjadi setelah orang meninggalkan agama dan spiritualitas. Abad ke-18 merupakan abad ateisme dan abad pemujaan terhadap sains. Lalu, pada abad ke-19 ada sejumlah ilmuwan meramalkan bahwa abad 20 orang tak lagi tertarik kepada agama. Agama akan ditinggalkan. Meski banyak yang meyakini pendapat para ilmuwan ini, ajaibnya hingga kini, abad 21, agama tak juga mati. Alih-alih mati, muncullah gelombang baru untuk menengok kembali kepada agama. Di barat sana mulai muncul gerakan New Age. Ada yang menyebut gerakan seperti itu dengan Aquarian Conspiracy, konspirasi aquarius. Yaitu seakan-akan dunia spiritual sedang mengumpulkan tenaganya untuk menarik umat manusia agar kembali kepada spiritualitas.

Saat ini juga orang mulai jenuh dengan sains yang ger-ang, yang tanpa emosi. Orang ingin menikmati hidup; kita bisa menikmati hidup dengan kembali kepada suasana yang emosional. Dunia modern tidak bisa menggantikan kelezatan beragama. Memang, di dunia serba digital ini kita memiliki pengganti. Misalnya, untuk acara agama yang mengharukan, kita punya televisi. Televisi itu sebenarnya agama manusia modern, yang isi khutbah-khutbahnya diikuti banyak orang. Tapi, lama kelamaan televisi juga membosankan. Lalu, pada saatnya acara hiburan dan olahraga itu juga menjadi teater besar untuk ritus-ritus sosial dalam mengekspresikan posisi seseorang di dalam masyarakat. Tapi, pada akhirnya olahraga pun tidak bisa memuaskan banyak orang.

Lalu, mereka pun mulai menengok kepada hal-hal yang spiritual. Nah, untuk Indonesia yang memang punya kecenderungan spiritual sejak dahulu, kebangkitan dunia untuk hal-hal spiritual itu seperti mendorong kembali macan yang sedang tidur. Dalam pepatah Jawa dikenal istilah ngusik-ngusik ulo mandi, ngubah-ngubah macan turu (mengusik ular sedang mandi, menganggu macan tidur). Jadi, spiritulitas di Indonesia ini pernah tidur. Ketika dunia sedang diserang New Age, ular itu menggeliat kembali dan muncul dalam gerakan-gerakan spiritual yang aneh-aneh. Selain itu, kita orang Indonesia memiliki kecenderungan untuk bisa dirampok di jalan Tuhan. Pasalnya, kita sangat percaya kepada yang gaib-gaib. Ketika ada batu yang bisa langsung menyembuhkan, banyak orang percaya dan yang memiliki batu itu langsung menjadi selebriti. Sekarang ini bagi mereka yang mau menjadi selebriti mudah, tinggal mengaku saja punya kekuatan gaib. Dengan begitu, dia akan mudah memiliki pengikut.

Dalam kerinduan spiritual itulah muncul ustadz atau guru yang menawarkan pengalaman rohaniah “instan”. Untuk memudahkan, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman, sejak semula mesti saya terangkan: di sini saya menggunakan istilah “guru” sebagai pengganti seorang perampok di jalan Tuhan, bukan guru dalam artian umum.

“Kalau kamu sudah kecapaian dengan logika dan angka, masuklah bersama guru ke dalam dunia rasa dan percaya. Bunuh rasionalitas dan tumbuhkan spiritualitas (seakan-akan keduanya bertentangan).” Begitu diktum mereka. Dengan memanipulasi ajaran-ajaran esoterik dalam setiap agama, guru itu menegaskan—sambil mengutip Rumi—”di negeri cinta, akal digantung”.

Kalau akal sudah digantung, terbukalah peluang bagi seorang guru untuk memanipulasi pikiran para pengikutnya. Saya menemukan bahwa teknik-teknik menggantung akal yang dilakukan para guru itu sepenuhnya melaksanakan nasihat Dostoyevsky dalam novel The Brother of Karamazov: ada tiga kekuatan, dan hanya tiga, yang dapat menaklukkan dan melumpuhkan semangat para pemberontak ini. Ketiga kekuatan itu adalah mukjizat, misteri, dan otoritas. Tentu saja di antara para perampok di jalan Tuhan hampir tidak ada yang membaca Dostoyevsky, tapi mereka memakai resepnya.

Jika mukjizat di tangan para nabi berarti pertolongan yang Allah turunkan untuk meneguhkan kenabian atau kerasulan mereka, di tangan para perampok di jalan Tuhan mukjizat lebih berarti kumpulan dari halusinasi, ilusi, dan delusi. Seorang guru menciptakannya dengan “merusak” otak pengikutnya melalui ritual aneh-aneh. Salah satu teknik yang yang paling populer dan paling efektif adalah pengurangan waktu tidur (sleep deprivation), apalagi bila dibarengi dengan tidak makan (food deprivation). Dalam keadaan normal, otak kita menyintesiskan “pil tidur alamiah” sepanjang waktu bangun kita. Sesuai dengan ritme biologis, kita tidur pada waktu malam. Karena deprivasi tidur, pil tidur alamiah itu berakumulasi dan bermetabolasi menjadi produk-produk beracun. Akibatnya, mula-mula timbullah gangguan mood-pergantian antara euforia dan depresi. Kemudian menyusul gangguan mata yang menimbulkan halusinasi (melihat cahaya dan benda-benda bergerak), delusi, dan puncaknya disorganisasi pikiran (sederhananya, gangguan jiwa). Seperti pengurangan tidur, guru juga menciptakan pengalaman rohaniah dengan upacara, seperti latihan masuk kubur, gerakan kolektif yang berulang-ulang, atau penggunaan obat-obat kimiawi. Murid mengira mereka mengalami pengalaman gaib. Ahli neurologi menyebutnya sebagai kerusakan otak (brain damage).

Karena pengalaman rohaniah yang mereka alami, mereka merasa dibawa ke alam gaib. Di sekitar kehidupan guru berkumpul berbagai misteri. Guru pemilik ilmu-ilmu yang sangat rahasia. Guru malah mengembangkan bahasa sendiri. Istilah-istilah agama diberi makna baru. Perjalanan bersama guru adalah perjalanan menyingkap tirai-tirai kegaiban. Murid tidak bisa menyingkap rahasia itu tanpa bimbingan guru. Seperti kata Dostoyevsky, dengan menggabungkan mukjizat, misteri, dan otoritas, bertekuklah jiwa-jiwa kritis ke kaki sang Pembawa Pencerahan.

Jika kita memiliki teman atau saudara yang mulai terjebak oleh para perampok di jalan Tuhan, kita mesti mengingatkannya, mesti mengobatinya. Kalau dia tenggelam sampai ke dalam batas psikopatologi, gangguan kejiwaan, hanya dokter jiwa yang mampu mengobatinya. Kalau agak ringan, mungkin melalui dialog-dialog dan membebaskan mereka dari pergaulan organisasinya. Sebab, kalau mereka sudah masuk ke dalam organisasi serupa itu susah untuk bergaul dengan kelompok lain. Kita harus membukakan seluas-luasnya untuk dialog dengan orang banyak. Karena dengan dialog, terbuka segala kemungkinan. Apalagi berdialog dengan Tuhan melalui doa. Dan, karena Islam tidak mengenal sekat antara hamba dan Tuhannya, langsung saja seorang hamba mendirikan salat dan berdoa. Jika doa Anda tidak segera terkabul, ingatlah kisah dua raja, dua nabi mulia: Zakaria dan Musa a.s. JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *