BUKAN SEKADAR RETORIKA

“Cedant arma togae, concedat laurea laudi Biarkan senjata menyerah pada toga,

Biarkan mahkota pasrah pada puja.”

-Marcus Tullius Cicero (106 SM-43 SM)

Pada periode awal Republik Romawi, sebuah keluarga elit lokal di kota kecil, Arpinum, pindah ke ibukota, Roma. Walaupun orangtuanya dan bahkan nenek moyangnya tidak pernah menduduki jabatan penting dalam pemerintahan, Cicero perlahan-lahan naik ke atas panggung politik, bergabung dalam barisan tokoh politik besar seperti Crassus, Pompey, Caesar, Antonius, dan Octavianus.

Pada waktu itu, Cicero adalah satu-satunya yang naik ke atas bukan karena mewarisi darah biru. Ia dikenal sebagai orang baru, novus hommo, di forum pemerintahan. Cicero menulis:

Aku tidak punya hak-hak istimewa seperti orang-orang yang berdarah biru. Sekiranya mereka itu tidur saja, mereka akan menyaksikan rakyat Romawi meletakkan segala macam kehormatan di bawah kakinya. Tidak begitu bagiku, aku harus hidup pada situasi yang jauh berbeda dan harus ikut hukum (kehidupan) yang sangat berbeda. (In Verren 2.5.180)

Melalui kerja keras, karakter yang baik, dan ketekunan, melalui labor, virtus, industria, karier Cicero terus-menerus menanjak. Sekiranya ia mau menerima tawaran Caesar, ia menjadi anggota keempat setelah tiamvitat Pompey, Caesar. dan Crassus. Apa modal utamanya sehingga orang baru ini dengan latar-belakang keturunan yang tidak mendukungnya berhasil menjulang ke atas? Kekuatan apa yang dimilikinya sehingga ia mengalahkan kekuatan senjata yang popular kata di zaman itu (juga zaman sekarang)? Kekuatan kata-kata. Ada dua penguasa, kata Cicero. Yang satu berkuasa dengan kekuatan senjata. Ia menyebutnya imperator militaris. Yang lainnya berkuasa dengan kekuatan kata. Ia menyebutnya imperator togatus.

Ucapan di atas adalah satu bait puisi yang ditulis Cicero. Sepanjang hidupnya ia memperjuangan kebebasan berbicara. Ia ingin agar masyarakat memilih memecahkan persoalan dengan kata, bukan dengan senjata. Lebih baik “talk it out” daripada “shoot it out.” Tampaknya, masyarakat masih menyukai yang kedua. Penguasa menganggap lidah Cicero terlalu berbahaya. Antonius mengirimkan orang untuk memburunya ke tempat pengasingannya. Kepala dan tangannya dibawa ke ibukota. Kepalanya ditaruh di atas mimbar, yang dahulu pernah dipergunakannya. Agar kepala itu tidak jatuh, ke tengah-tengah lidahnya ditancapkan paku yang menembus sampai ke tubuh mimbar. Konon, Cicero pernah berkata, “Aku ingin mati di negeri yang berulang kali aku selamatkan.”

la sudah mati lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Kepalanya sudah tidak kita saksikan lagi. Akan tetapi, sekarang kita bisa menikmati “isi kepalanya” dalam buku teks pertama—yang ditulis secara sistematis—tentang retorika: De Inventione. la menulisnya pada usia belasan tahun. Jika kita minta Cicero untuk menjelaskan pokok-pokok keberhasilan retorika dalam tiga kata, ia akan menjawabnya “natura, ars, et exercitatio“—bakat, latihan, dan ketekunan. Seluruh hidup Cicero adalah perwujudan dari ketiga unsur utama ini.

Banyak orang keberatan untuk menyebut “De Inventione” sebagai buku pertama retorika. Bukankah ada De Arte Rhetorica, yang ditulis Aristoteles? Tapi, seperti diakui Aristoteles, buku itu dimaksudkan untuk mengkritik kumpulan teknik retorika yang diwariskan oleh tokoh-tokoh Sophis sebelumnya. Buku itu merupakan catatan kuliah yang dikumpulkan oleh para mahasiswanya (persis seperti buku saya Retorika Modern, yang dikumpulkan dari catatan kuliah mahasiswa saya).

Bila Hippocrates dianggap bapak ilmu kedokteran, siapakah yang harus kita tunjuk atau “jadikan” Bapak atau Ibu (kalau ada) Ilmu Komunikasi? Jika Anda menunjuk Aristoteles, maka Anda menunjuk bapak semua ilmu. Mungkin kita harus melacak pada Synagoge Technon, rujukan Aristoteles untuk kuliah-kuliah retorikanya. Di situ ia menyebut nama Corax, sebagai Bapak Retorika. Anehnya, Plato dalam Phaedrus menyebut Tisias. Dalam riwayat lain, Corax dan Tisias adalah dua orang Sicilia yang pertama mengajarkan retorika sebagai profesi. Mereka konon mewariskan buku tentang “seni kata,” hêlogôntechnê. Kepada mereka dinisbahkan teknik berargumentasi dengan menggunakan “teori kemungkinan” (eikos). “Teori kemungkinan” ini ditunjukkan ketika keduanya bertengkar di pengadilan.

Tisias belajar retorika kepada Corax. Tisias baru mau membayar kursusnya jika ia sudah memenangkan kasus pertamanya di pengadilan. Setelah satu tahun, Tisias ternyata belum membayar sepeser pun. Corax membawanya ke pengadilan. Menurut Corax, jika dirinya menang, Tisias harus membayar. Jika Corax kalah, Tisias tetap harus membayar, karena Tisias berhasil menang berkat ilmu yang diajarkan Corax. Namun, di pihak lain, Tisias berargumen bahwa jika dirinya menang, ia memang berhak dibayar; jika Tisias kalah, ia tetap harus dibayar. Soalnya, kekalahan Tisias menunjukkan bahwa ia telah dirugikan oleh ilmu yang diajarkan Corax. Pengadilan bingung. Keduanya diusir. Salah seorang hakim berkata, “Telur busuk dari gagak busuk”: “Gagak” dalam bahasa Yunaninya “korax.”

Anda mungkin bertanya mengapa saya harus menulis pengantar yang sepanjang dan “sebagus” ini? (Maaf. Seperti kata Muhammad Ali, “It is hard to be humble when you are as great as I am“). Ketika Fitriana meminta saya menulis pengantar untuk bukunya tentang public speaking, saya diingatkan pada masa muda saya. Waktu itu, pada usia sekitar 20-an, saya diberi tugas untuk mengajar Retorika. Saya tidak tahu apa yang harus saya ajarkan. Saya mengumpulkan bahan dari perpustakaan sederhana yang saya miliki. Tidak ada internet dan tidak ada Amazon.com. Dengan bahasa sederhana saya menyampaikan kuliah sederhana. Rupanya salah seorang mahasiswa saya menyimpan catatan kuliah saya dalam bentuk stensilan. Deddy Djamaluddin Malik—kelak mengikuti Cicero dengan menjadi anggota legislatif—menerbitkannya, setelah diedit sedikit-sedikit.

Kini saya tidak mengajarkan Retorika lagi. Fitriana mengusik hati saya. Saya baca, ia juga banyak mengutip dari buku saya yang sederhana itu, terutama tentang sejarah Retorika. Kekurangan dalam pembahasan sejarah itu saya tutupi dengan kata pengantar ini. Saya baca, buku ini juga kaya dengan contoh-contoh praktis, dengan merujuk pada para praktisi dan pengalaman praktis penulisnya.

Membaca hal-hal yang praktis menarik perhatian kita; terlalu banyak contoh praktis menurunkan abstraksi kita. Buku ini bisa berubah dari buku ilmiah menjadi semacam “buku resep.” Kesulitan kita ialah menyimpulkan dengan beberapa kalimat (jika diperlukan) isi buku ini.

Masih sebagai dosen, saya ingin menjadikan pengantar ini sebagai pengantar penulis dan pembaca kepada pembahasan yang lebih teoretis dengan memperkenalkan asal-usul Retorika. Sekadar untuk merangsang rasa ingin tahu saja. Sungguh, swear!, membaca sejarah Retorika itu menarik lho! Kita perlu dasar-dasar teoretis dan juga model. Banyak model pembicara yang digerakkan karena uang. Mereka bisa mengisi perutnya, tetapi tidak bisa mengubah dunia. Kita merindukan model juru-pidato yang digerakkan oleh hati-muraninya seperti Cicero, yang menggunakan kemampuan berbicaranya untuk membela orang yang tertindas dan menegakkan keadilan. “Mea mihi conscientia pluris est quam omnium sermo,” ujar Cicero. “Hati-nuraniku jauh lebih berarti dari pidato itu sendiri.”

Walhasil, jadikanlah buku ini sebagai pengantar dan pembimbing Anda untuk menjelajah dunia Retorika yang indah dan menggerakkan. Bukan sekadar retorika, yang sudah direduksi sebagai public speaking. Jika Fitriana adalah mahasiswa saya dan ia berhasil meyakinkan Anda tentang pentingnya buku ini, maka ia harus membayar saya. Berarti ilmu saya itu memang baik dan benar. Jika Fitriana gagal, maka ia tetap harus membayar saya. Pasalnya, dialah yang meminta saya untuk menulis pengantar ini. Anyway, buku ini sangat layak dibaca. Selamat berkarya lagi kepada Fitriana Utami Dewi. JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

Bandung, 17 Januari 2012

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *