
Seorang wisatawan Barat singgah di Tokyo. Ketika ia antri untuk membeli tiket kereta bawah tanah, ia melihat tumpukan uang tak bertuan di dekat loket. Ia melihat dengan heran; setiap orang yang mengambil tiket tidak menghiraukan uang itu. “Akhirnya,” lapor wisatawan itu, “saya senang ketika melihat seorang perempuan berjalan mendekati dan mengambil uang itu. Tetapi, ia membawanya kepada seseorang. Ia bertanya apakah uang itu miliknya. Ketika orang itu menjawab, “Tidak,’ ia mengembalikan uang itu ke tempat semula.” Ketika wisatawan itu ditanya mengapa ia senang melihat ada yang mengambil uang, ia menjawab, “Ya, paling tidak, masih ada orang yang normal.”
Wisatawan itu menganggap bahwa orang-orang yang membiarkan uang itu sebagai abnormal, karena seharusnya mereka mengambilnya. Jadi, Anda normal kalau Anda mengambil uang orang lain untuk kepentingan Anda. Manusia normal hanya memikirkan dirinya sendiri. Egoisme adalah sifat asli manusia. Hati Anda pasti menginginkan uang itu. Kalau Anda tidak mengambilnya, Anda hipokrit.
Kawan saya ̶ yang dibesarkan dalam lembaga pendidikan Islam, tetapi sangat “modern” ̶ sependapat dengan wisatawan itu. “Egoisme itu ‘fitrah,” katanya. Ketika komunisme jatuh di Eropa, ia berkata, “Lihat, hanya Barat yang berhasil mendatangkan kesejahteraan dan perdamaian. Komunisme jatuh karena tidak sesuai dengan fitrah manusia. Komunisme mengajarkan orang untuk menghilangkan kepentingan dirinya. Kapitalisme Barat bertahan karena berpijak pada fitrah. Fitrah manusia adalah kepentingan diri. Manusia hanya melakukan sesuatu untuk keuntungan dirinya.”
Teori “manusia egois” menjadi dasar falsafah dan paradigma sains modern. George Santayana menyimpulkan pandangan ini dalam kalimat singkat, “Dorongan untuk berbuat baik … hanyalah kemunafikan yang menipu diri…. Galilah sedikit di bawah permukaan, Anda akan mendapatkan manusia yang rakus, kepala batu, dan benar-benar mementingkan diri.” Jeremy Bentham bercerita tentang manusia yang perilakunya hanya dikendalikan oleh prinsip mengejar kesenangan sendiri.
Dari sinilah dirumuskan prinsip ekonomi. “Prinsip pertama dalam ekonomi ialah setiap agen hanya digerakkan oleh kepentingan dirinya,” tulis Francis Edgeworth tahun 1880-an. Seratus tahun kemudian, Dennis Mueller menulis, “Satu-satunya asumsi yang mendasari ilmu perilaku manusia yang deskriptif dan prediktif adalah egoisme.” Ekonomi tampaknya tidak membuat kemajuan yang berarti. Seluruh teori ekonomi ditegakkan di atas prinsip yang dikemukakan seratus tahun yang lampau.
Ahli ekonomi mengambil homo economicus dari biologi. Dalam alam, makhluk berebut hidup. Seluruh mekanisme evolusi dimaksudkan untuk membela kepentingan diri. Hanya yang kuat yang akan menang. Dalam alam, kata para biolog, tidak ada tindakan yang dilakukan untuk menguntungkan pihak lain. Tidak ada sedekah atau amal sosial. Dari para biolog, ilmuwan sosial memungut konsep ini. Berbagai teori sosial dirumuskan. Seluruh teori psikologi yang berkaitan dengan motivasi ̶ hampir tanpa kecuali ̶ didasarkan pada egoisme.
Kalau filosof sudah sependapat dengan ilmuwan, orang banyak meyakini pendapat itu sebagai realitas, rujukan moral, dan perspektif untuk memandang dunia. Di dunia, kita hanya melihat kerakusan, perampokan, penindasan, dan kebakhilan. Manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain. Homo homini lupus. Sekiranya kita “memergoki” manusia yang berbuat baik, kita berusaha melacaknya pada motifmotif kepentingan diri itu. Pokoknya, tidak pernah ada orang yang beramal dengan ikhlas.
Namun, belakangan, orang meragukan teori “manusia egois” ini. Setiap hari kita menemukan orang yang dengan ikhlas mengorbankan kepentingan dirinya, orang yang tidak memperhatikan keselamatan dirinya ketika menolong orang lain, orang kaya yang mendermakan hartanya untuk membantu orang miskin, atau beberapa orang pejabat ̶ betapapun sedikit jumlahnya ̶ yang hidup sederhana dan tidak mau diajak kolusi.
Alfie Kohn, dalam The Brighter Side of Human Nature, mendaftarkan sejumlah besar penelitian yang menolak teori ini.. Teori ini salah secara logis dan lemah secara empiris. Berbeda dengan kawan saya di atas dan sesuai dengan Kohn, Islam memandang manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat baik. Menurut Alquran, fitrah manusia adalah cenderung (hanif) kepada ajaran Islam: Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); fitrah Allah yang telah menciptakan manusia pada fitrah itu (QS 30: 30).
Dalam tasawuf Islam, egoisme adalah penyakit hati dan tirai baja yang menghalangi manusia untuk melihat Tuhan. Ego adalah rumah sempit yang harus ditinggalkan bila manusia ingin mendekati dan bergabung dengan Dia. Siapa yang keluar dari rumahnya berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya… (QS 4: 100). Dalam psikologi Islam, manusia lebih mudah berbuat baik daripada berbuat jahat. Karena itu juga, manusia, secara psikologis, akan lebih sehat bila ia melakukan kebaikan. Ia berjalan di atas fitrahnya. Ia berperilaku yang “alamiah.” Berbuat baiklah, Anda menjadi manusia. Albert Camus, dalam novelnya yang terkenal Wabah, bercerita tentang seorang dokter yang berusaha menolong korban-korban wabah dengan membahayakan keselamatannya sendiri. Dokter itu berkata, “Aku tak tahu apa yang sedang menanti aku atau apa yang akan terjadi sekiranya ini semua berakhir. Untuk saat ini, yang aku ketahui hanya ini: ada orang-orang sakit yang perlu diobati… tak ada perkara heroisme di sini. Hanya masalah kesopanan yang biasa… Aku kira, heroisme dan kesucian tidak menarik hatiku. Yang menjadi kepentinganku hanyalah menjadi manusia, being a man.” JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).