Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang pemuka mazhab Ahlussunnah yang besar. Ia terkenal sebagai muhaddits (periwayat hadis). Kedalaman ilmunya dan keluasan pengaruhnya di kalangan kaum Muslim sangat disegani Khalifah al-Mutawakkil. Imam Ahmad sering dimintai nasihat dalam menunjuk hakim-hakim (qadhi) kerajaan. Ketika Al-Mutawakkil hendak mengangkat Ats-Tsaljî sebagai qadhi, Imam Ahmad merasa keberatan. “Jangan angkat dia, karena dia pembuat bid’ah dan penurut hawa nafsu,” kata Imam Ahmad. Al-Mutawakkil memperhatikan sarannya.
Karena ketinggian martabatnya di hadapan raja, para ulama lain merasa iri hati terhadapnya (ah, betapa sering orang menutupi kerendahan akhlaknya dengan jubah ulama!). Mereka mencari jalan untuk mendiskreditkan Imam Ahmad. Dikatakan kepada Al-Mutawakkil bahwa Imam Ahmad itu Syi’ah, membaiat pengikut ‘Alî, dan melindungi seorang Alawî di rumahnya. Waktu itu, tidak ada tuduhan yang lebih berat daripada itu. Al-Mutawakkil mengirim tentara. Rumah Imam Ahmad dikepung. “Tuduhan ini dibuat-buat. Aku tidak tahu-menahu,” kata Imam Ahmad, “Aku menaati raja dalam suka dan duka.” Lalu ia disuruh bersumpah bahwa ia tidak melindungi pengikut pengikut ‘All di rumahnya. Rumah Imam Ahmad kemudian digeledah-kamar anak-anak, kamar wanita, bahkan sumur. Tidak ada bukti apa pun tentang ke-Syi’ah-an Imam Ahmad.
Sejarah memang tidak pernah mencatat Imam Ahmad sebagai Syi’ah. la adalah pemuka Mazhab Hanbali. Lalu apa salahnya? “Salah”-nya sedikit: dalam Musnad-nya, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang Ahlulbait Nabi Saw dan keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib (karramallahu wajhah). Abdullah, putra Imam Ahmad, pernah berkata: Aku mendengar ayahku berkata, “Tidak ada seorang pun di antara para sahabat yang memiliki berbagai keutamaan (fadha’il) dengan sanad-sanadnya yang sahih seperti ‘Ali bin Abi Thalib.”
Menganggap ‘Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat paling utama adalah keyakinan Syi’ah. Begitu anggapan umum waktu itu. Orang membuktikan ke-Syi’ah-an seseorang dengan menanyakan siapa yang paling utama di antara para sahabat. Ahlussunnah akan menyebut dengan urutan Abû Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan seterusnya. Sementara itu, Syi’ah akan memulai urutan sahabat itu dari ‘Ali. Pada suatu kali, ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menanyai ayahnya, “Bagaimana pendapat Ayah tentang tafidhil (urutan keutamaan) sahabat?” Ahmad bin Hanbal menjawab, “Dalam kekhalifahan: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman.”
“Lalu bagaimana dengan ‘Ali?” tanya ‘Abdullah
“Wahai anakku,” kata Ahmad bin Hanbal, “Ali bin Abi Thalib termasuk Ahlulbait Nabi Saw dan tidak ada orang yang dapat diperbandingkan dengan mereka!”
Pada kali yang lain, serombongan orang datang menyelidik, “Hai Abû ‘Abdullah, bagaimana pendapat Anda tentang hadis: Alî adalah pembagi neraka?”.”
Ahmad : Lalu apa yang kalian tolak? Bukankah Nabi Saw pernah berkata kepada Ali: tidak mencintaimu kecuali Mukmin dan tidak membencimu kecuali munafik.
Orang-orang : Betul (Nabi Saw berkata begitu). Ahmad : Di mana orang Mukmin menetap?
Orang-orang : Di surga.
Ahmad : Di mana orang munafik menetap?
Orang-orang : Di neraka.
Ahmad : Kalau begitu, ‘Ali adalah pembagi neraka.
Pernyataan-pernyataan Imam Ahmad inilah yang memperkuat tuduhan Syi’ah kepadanya. Bukankah Syi’ah adalah mazhab yang mengikuti Ahlulbait Nabi Saw dengan ‘Ali sebagai rujukannya? Lagi pula, Ahmad bin Hanbal banyak meriwayatkan hadis dari perawi-perawi yang bermazhab Syi’ah. Salah seorang gurunya yang dihormatinya adalah ‘Abdur-Rahmân bin Shâlih, seorang Syi’ah. Ahmad bin Hanbal diperingatkan untuk tidak bergaul dengannya. Tetapi ia membentak, “Subhanallah, kepada orang yang mencintai keluarga suci Nabi kita berkata—jangan mencintainya? ‘Abdur-Rahmân bin Shâlih adalah tsiqat (orang yang dapat dipercaya).”
Tuduhan Syi’ah terhadap Imam Ahmad bin Hanbal itu untungnya tidak berakibat parah. Rumahnya digeledah dan ditinggalkan. Ahmad bin Hanbal tetap mengajar seperti biasa. Lain dengan Imam Syafi’î. Beliau beserta tiga ratus orang Quraisy diseret dalam keadaan terbelenggu dari Yaman (menurut suatu riwayat, dari Makkah) ke Baghdad. Mereka dihadapkan kepada Khalifah Hârûn ar-Râsyid. Seorang demi seorang dipancung di depan khalifah. Imam Syafi’î selamat setelah ia mengucapkan salam kepada Hârûn ar-Râsyid. Ia sempat menasihati raja dan membuatnya menangis. Begitu, kata sahibul-hikayat. Kita tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi, karena riwayat mihnah Imam Syafi’î ini bermacam-macam. Yang disepakati ialah kenyataan bahwa salah satu tuduhan kepada Imam Syafi’i ialah bahwa ia adalah Syi’ah. Sebagian penyair mengejek Imam Syafi’î:
Mati Syafi’i dan ia tidak tahu
apakah Tuhannya Ali atau Allah.
Imam Syafi’î tentu saja tidak menganggap Alî sebagai Tuhan. Kalau Syi’ah dianggap sebagai mazhab yang menganggap khilafah adalah hak Alî, maka Imam Syafi’i bukanlah Syi’ah. “Jika Syi’ah berarti mencintai keluarga Muhammad,” kata Imam Syafi’î dalam salah satu bait syairnya, “maka hendaknya kedua kelompok menjadi saksi bahwa aku ini Syi’ah.” Imam Syafi’î menggunakan kata “Râfidhi” untuk menyebut Syi’ah—gelaran yang lazim diberikan orang di zaman itu bagi pengikut Syi’ah. Imam Syafi’i banyak menulis syair yang mengungkapkan kecintaannya kepada Ahlulbait Nabi Saw. Beberapa di antaranya kita kutipkan di sini:
Kalau kulihat manusia
mazhab mereka tenggelam dalam samudera kesesatan dan kebodohan
dengan nama Allah aku naiki perahu keselamatan
yakni Keluarga Al-Musthafa, penutup para rasul
kupegang tali Allah tempat bergantung mereka
sebagaimana kita pun diperintah berpegang pada tali itu
Hai Keluarga Rasulullah
kecintaan kepadamu diwajibkan Allah
dalam Al-Quran yang diturunkan
cukuplah bukti ketinggian sebutanmu
tidak sempurna shalat tanpa shalawat bagimu
Inilah sebagian syair Imam Syafi’î, yang menyebabkannya dituduh Syi’ah. Ahli jarh hadis, Ibn Mu’în, ketika ditanya oleh Imam Ahmad mengapa ia menuduh Imam Syâfi’i sebagai Syi’ah, menjawab, “Aku memperhatikan tulisannya tentang ahlul-baghiy (kaum pemberontak), dan aku melihat ia berhujjah dari awal sampai akhir dengan ‘Alî bin Abî Thâlib.” Rupanya, ini juga sebabnya mengapa di tempat lain—menurut Al-Khathîb—Yahya bin Mu’în berkata, “Syafi’i tidak tsiqat!”
Celaan-celaan demikian tidak mengurangi kecintaan Imam Syafi’î kepada Ahlulbait Nabi Saw. Suatu hari ia mengemukakan masalah agama. Seseorang berkata, “Engkau bertentangan dengan ‘Ali bin Abî Thâlib.” Imam Syafi’i berkata, “Buktikan ucapanmu dari Alî bin Abî Thâlib agar aku ratakan pipiku di atas tanah dan aku berkata aku telah salah.” Begitu cintanya Imam Syafi’i kepada ‘Alî bin Abî Thâlib, sehingga ia tidak mau berbicara di dalam suatu majelis yang di situ ada keturunan ‘Alî (lihat Ibn an-Nadim, Al-Fihrist, hlm. 295).
Kita tidak ingin menguraikan lebih lanjut kecintaan para imam Ahlussunnah kepada Ahlulbait Nabi Saw. Tidak perlu juga kita sebut bagaimana Abû Hanîfah membantu pemberontakan Ahlulbait Nabi Saw yang dipimpin Imam Zaid bin ‘Alî sehingga para ulama mengatakan, “Secara fiqih, Abû Hanifah Sunni, tetapi secara politik, ia Syi’ah.” Tentu saja, label (gelaran) Syi’ah lebih sering digunakan untuk mendiskreditkan orang ketimbang mendeskripsikannya. Indikator yang dipergunakan seringkali sangat sederhana; kecintaan kepada keluarga Rasulullah Saw.
Al-Hâkim, penulis Al-Mustadrak, dituding oleh Adz-Dzahabî sebagai Syi’ah, karena meriwayatkan keutamaan ‘Alî dan hadis Ghadir Khum. ‘Abdur Razzaq bin Hamam, ahli hadis, dituduh Syi’ah karena mencintai ‘Ali dan membenci pembunuhnya. Ibn Jarîr ath-Thabarî, penulis sejarah Islam abad ketiga, menurut Ibn Atsîr (Al-Kâmil, 8:49), dilempari dengan batu dan dikuburkan malam-malam. Ia juga dituduh Syi’ah karena dalam tarikhnya ia meriwayatkan hadis ‘Ali bin Abi Thâlib sebagai washî (pembawa wasiat) dan khalifah Nabi Saw. Yang paling menarik, Ibn ‘Abd al-Barr, yang sangat memusuhi Ahlulbait Nabi Saw, dituding oleh Ibn Katsir sebagai Syi’ah karena meriwayatkan hadis yang mengecam Mu’awiyah.
Buku ini, Teladan Suci Keluarga Nabi, terjemahan dari Is’af ar-Raghibin, ditulis oleh seorang ‘alim yang bermazhab Syafi’i dan Ahlussunnah-wal- Jama’ah. Dalam buku ini ia meriwayatkan keutamaan keluarga Rasulullah Saw dari hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlussunnah. Boleh jadi ia—dan juga penulis pengantar ini—akan didiskreditkan sebagai Syi’ah hanya karena meriwayatkan Ahlulbait Nabi Saw. Namun, kita yakin, zaman ini adalah zaman ilmu pengetahuan, zaman keterbukaan. Hanya orang-orang yang sempit pikirannya yang akan menyederhanakan persoalan dalam prasangka dan fanatisme mazhab.
Kecintaan pada Ahlulbait Nabi Saw bukan monopoli Syi’ah. Seluruh kaum Muslim diperintahkan untuk itu—apa pun mazhabnya. Seperti diriwayatkan Muslim dan dituliskannya juga dalam buku ini—keluarga Rasulullah Saw adalah pusaka yang kedua (setelah Al-Quran) yang ditinggalkan Rasulullah Saw untuk kaum Muslim. Rasulullah Saw bersabda, “Tidak akan bergeser telapak kaki anak Adam pada Hari Kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal: usianya, untuk apa ia habiskan; tubuhnya, untuk apa ia rusakkan; hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia infaqkan; dan kecintaan kepada kami, Ahlulbait” (Kanz al-Ummal, 7:212) dan diriwayatkan oleh Ath-Thabrânî dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.
Ibn Khallikan dalam Wafayat al-A’yin-bercerita tentang An-Nasa’i, penulis Sunan an-Nasa’î. An-Nasâ’î tiba di Damaskus. Ia didesak orang untuk meriwayatkan keutamaan Mu’awiyah. Kata An-Nasâ’î, “Aku tidak menemukan keutamaan Mu’awiyah kecuali sabda Rasul Saw tentang dirinya: ‘Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya.”.” Banyak orang marah. Mereka mengeroyoknya, memukulinya, sampai babak belur. Dalam keadaan parah, ia dibawa ke Ar-Ramlah dan meninggal dunia di sana. Dalam Tahdzib at-Tahdzib, Ibn Hajar bercerita tentang Nashr bin ‘Ali. Ia meriwayatkan hadis tentang keutamaan Hasan dan Husain: “Barangsiapa mencintai aku, mencintai keduanya, mencintai kedua orangtua mereka, ia bersamaku dalam derajat yang sama di Hari Kiamat.” Al-Mutawakkil mencambuknya seribu kali. Ja’far bin ‘Abdul Wahid berulang kali mengingatkan khalifah, “Hädzå min Ahlis-Sunnah!” Barulah khalifah menghentikan hukuman cambuknya.
Hari ini, umat Islam telah demikian maju dan terbuka, sehingga—saya berharap penulis, pengantar, penerbit, dan pembaca buku ini tidak mengalami nasib seperti An-Nasâ’i dan Nashr bin ‘Ali. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).